Hasil
Eksplorasi dan Perlakuan Cendawan Endofit asal Rumput dan Teki dalam Menekan Penyakit Akar Gada
Cendawan endofit yang diisolasi dari rumputan Paspalum longifolium, Setaria laxa, Cyperus rotundus ditemukan 15 isolat, kemudian diseleksi lagi dengan cara benih brokoli ditumbuhkan pada cawan petri yang berisi isolat murni cendawan endofit yang telah diinkubasi selama 7-10 hari. Benih-benih yang menunjukan pertumbuhan yang baik kemudian dipilih untuk dilakukan uji dalam menekan perkembangan penyakit akar gada. Dari hasil seleksi diketahui ada 10 isolat yang diduga dapat berasosiasi dengan tanaman brokoli, hal ini ditandai dengan benih brokoli yang ditanam pada isolat tersebut dapat tumbuh dengan baik bahkan lebih baik dibanding kontrol yaitu benih ditanam pada media PDA steril (tanpa koloni cendawan). Sedangkan benih yang tidak dapat tumbuh dengan baik (benih tidak berkecambah, kecambah mati) dinyatakan tidak bersifat endofit pada tanaman brokoli dan tidak dapat digunakan untuk uji selanjutnya (Gambar 1).
Dari 10 isolat yang dihasilkan dari seleksi tersebut kemudian diuji untuk melihat apakah isolat tersebut dapat membantu pertumbuhan tanaman yakni dengan cara isolat cendawan endofit tersebut diaplikasikan ke tanaman tanpa inokulasi patogen P. brassicae. Dari hasil percobaan tersebut diketahui yang menghasilkan pertumbuhan yang baik yakni dengan pengukuran bobot tajuk tanaman terpilih 7 isolat yang terbaik (nilai bobot tajuknya lebih tinggi dibanding kontrol).
Cendawan yang berhasil diisolasi dari ketiga jenis akar rumput dan teki yang potensial sebagai endofit dari seluruh hasil isolasi berjumlah tujuh isolat (Tabel 1), dimana secara mikroskopik cendawan endofit tersebut terdiri dari cendawan yang berspora dan tidak berspora (Lampiran 3). Selanjutnya isolat yang terpilih tersebut digunakan dalam pengujian terhadap penyakit akar gada.
Kontrol Monilia sp. F. oxysporum Miselia merah steril
Curvularia lunata F. solani Nigrospora sp. Miselia gelap steril Gambar 1 Perkecambahan benih brokoli pada isolat murni cendawan endofit asal
rumput dan teki.
Tabel 1 Jenis cendawan endofit hasil seleksi yang ditemukan pada rerumputan Jenis cendawan
endofit Cyperus rotundus Setaria laxa longifolium Paspalum Monilia sp.
Fusarium oxysporum Fusarium solani Nigrospora sp. Curvularia lunata Miselia merah steril Miselia gelap steril
+ + - - - + + - + + - - + - - + - + + + - Keterangan:
+ = ada cendawan endofit - = tidak ada cendawan endofit
Dalam seleksi cendawan endofit pengamatan dilakukan berdasarkan frekuensi akar terinfeksi dengan cara re-isolasi dan pewarnaan yang diamati pada 30 hst (dipersemaian sebelum pindah tanam). Dengan cara re-isolasi dari akar brokoli, cendawan endofit Fusarium oxysporum menunjukan kemampuan infeksi tertinggi yakni 80%, sedangkan terendah ditunjukan oleh cendawan endofit
Miselia gelap steril (cendawan tanpa spora) yakni 10%. Dengan cara pewarnaan akar, yang menunjukan infeksi akar tertinggi dan terendah masing-masing ditunjukan oleh cendawan endofit F. oxysporum yakni 64% dan Miselia merah steril yakni 50% (Tabel 2).
Tabel 2 Frekuensi akar terinfeksi terhadap tanaman brokoli yang diinokulasi cendawan endofit asal rumput dan teki pada umur 30 hari setelah semai. Perlakuan
Frekuensi akar terinfeksi (%) Re-isolasi Pewarnaan akar Kontrol
Monilia sp.
Fusarium oxysporum Miselia merah steril Miselia gelap steril Fusarium solani Nigrospora sp. Curvularia lunata 0 20 80 50 10 60 60 50 14 55 64 50 52 60 59 61
Perlakuan cendawan endofit asal rumput dan teki tidak berpengaruh nyata terhadap kejadian penyakit akar gada. Tanaman yang diperlakukan dengan cendawan endofit Nigrospora sp. dan C. lunata menunjukkan kejadian penyakit yang lebih rendah dibandingkan dengan kontrol yakni sebesar 100% (Tabel 3).
Tabel 3 Pengaruh perlakuan cendawan endofit asal rumput dan teki terhadap kejadian penyakit akar gada pada tanaman brokoli.
Perlakuan Kejadian Penyakit (%)1)
Kontrol 100,00 0,00 a
Monilia sp. 87,50 14,43 a
Fusarium oxysporum 93,75 12,50 a Miselia merah steril 81,25 12,50 a Miselia gelap steril 93,75 12,50 a Fusarium solani 87,50 25,00 a Nigrospora sp. 68,75 37,50 a Curvularia lunata 68,75 23,94 a
1)
- rataan simpangan baku
- angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap perlakuan tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5%
Pengaruh perlakuan cendawan endofit terhadap penyakit akar gada dapat juga dilihat dari gejala luar yakni akar tanaman, dimana terdapat perbedaan antara akar tanaman kontrol yang hanya diinokulasi patogen dengan akar tanaman yang diinokulasi dengan cendawan endofit. Gejala akar tanaman yang tidak diinokulasi dengan cendawan endofit terlihat adanya pembengkakan atau puru pada akar utama, akar-akar sekunder dan bahkan pada keseluruhan akar selanjutnya terjadi pembusukan. Sedangkan gejala pada akar yang diinokulasi dengan cendawan endofit memperlihatkan morfologi akar yang masih utuh walaupun terjadi pembengkakan atau puru oleh patogen dengan ukuran puru yang bervariasi. Tanaman yang diinokulasi dengan cendawan endofit C. lunata memberikan indeks penyakit yang rendah ini dapat dilihat pada akar yang terjadi pembengkakan hanya rambut-rambut akar, dibanding kontrol akar yang terinfeksi adalah akar primer dan keseluruhan akar (Gambar 2).
Gambar 2 Gambar gejala penyakit akar gada pada akar dengan perlakuan jenis cendawan endofit asal rumput dan teki.
Berdasarkan uji non parametrik dengan Chi-Square diketahui bahwa secara umum perlakuan jenis cendawan endofit asal rumput dan teki berpengaruh nyata terhadap indeks penyakit akar gada (P=0,05). Indeks penyakit terendah yakni 0,88 terjadi pada perlakuan cendawan endofit C.lunata, sedangkan indeks penyakit tertinggi yakni 2,88 terjadi pada perlakuan kontrol (Gambar 3).
Gambar 3 Indeks penyakit akar gada pada berbagai jenis cendawan endofit asal rumput dan teki.
Bobot basah tanaman tertinggi dicapai oleh tanaman yang diberi perlakuan cendawan endofit C. lunata yakni 33,56 g dibandingkan dengan kontrol yakni 28,98 g. meskipun tidak berbeda nyata secara statistik, dan berbeda nyata dengan pelakuan cendawan endofit lainnya. (Tabel 4).
Tabel 4 Pengaruh perlakuan cendawan endofit asal rumput dan teki terhadap bobot basah tanaman
Perlakuan Bobot Basah (g/tanaman)2)
Kontrol 28,98 0,46 abcd
Monilia sp. 24,78 4,56 cd
Fusarium oxysporum 31,10 3,34 abc
Miselia merah steril 26,09 7,31 bcd
Miselia gelap steril 23,76 4,74 d
Fusarium solani 29,29 3,10 abcd Nigrospora sp. 32,27 0,41 ab Curvularia lunata 33,56 1,70 ab 2)
- rataan simpangan baku
- angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap perlakuan tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5%
Eksplorasi dan Perlakuan Cendawan Endofit asal Tanah Perakaran Bambu dalam Menekan Penyakit Akar Gada
Cendawan yang terpilih dan berpotensi sebagai cendawan endofit dari seluruh hasil isolasi dari tanah perakaran bambu berjumlah empat isolat. Selanjutnya isolat yang terpilih dan berpotensi sebagai cendawan endofit digunakan dalam pengujian terhadap penyakit akar gada. Dalam seleksi cendawan endofit terpilih pengamatan dilakukan berdasarkan frekuensi akar terinfeksi dengan cara re-isolasi dan pewarnaan yang diamati pada 30 hari setelah semai. Dengan cara re-isolasi, tanaman yang diberi perlakuan dengan cendawan endofit Paecilomyces sp. menunjukan frekuensi akar terinfeksi tertinggi yakni 60% dan terendah ditunjukan pada tanaman yang diberi perlakuan cendawan endofit Aspergillus sp. dan Mortierella sp. yakni masing-masing 10%. Sedangkan dengan cara pewarnaan akar, cendawan endofit C. globosum menunjukan kemampuan infeksi akar tertinggi yakni 79% sedangkan terendah ditunjukan oleh cendawan endofit Mortierella sp. 49% (Tabel 5).
Tabel 5 Pengamatan frekuensi akar terinfeksi terhadap tanaman brokoli yang diinokulasi cendawan endofit asal tanah perakaran bambu pada umur 30 hari setelah semai.
Perlakuan Frekuensi akar terinfeksi (%)
Re-isolasi Pewarnaan akar Kontrol Chaetomium globosum Paecilomyces sp. Aspergillus sp. Mortierella sp. 0 40 60 10 10 27 79 76 66 49
Inokulasi dengan cendawan Paecilomyces sp. memberikan kejadian penyakit akar gada yang nyata lebih rendah yakni 81,25% dibandingkan dengan kontrol, meskipun tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (Tabel 6). Perlakuan media semai tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kejadian penyakit, dimana perlakuan media semai yang disterilkan maupun yang tidak disterilkan adalah sama, yakni 88,75% (Tabel 6).
Tabel 6 Pengaruh perlakuan cendawan endofit asal tanah perakaran bambu dan perlakuan media semai terhadap kejadian penyakit akar gada.
Perlakuan Kejadian penyakit (%)1)
Jenis Cendawan Endofit Kontrol Chaetomium globosum Paecilomyces sp. Aspergillus sp. Mortierella sp Media Semai Disterilkan Tidak Disterilkan 100 0 a 84,38 18,60 ab 81,25 17,68 b 87,50 13,36 ab 90,63 12,94 ab 88,75 15,12 a 88,75 15,12 a 1)
- rataan simpangan baku
- angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap faktor tunggal tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5%
Gejala pembengkakan akar yang disebabkan oleh patogen bervariasi terhadap berbagai perlakuan cendawan endofit asal tanah perakaran bambu (Gambar 4).
Gambar 4 Gambar gejala penyakit akar gada di akar pada perlakuan cendawan endofit asal tanah perakaran bambu. [1 (kontrol, dimana tanpa inokulasi patogen atau endofit), 2 (inokulasi patogen tanpa inokulasi endofit), 3 (C. globosum), 4 (Paecilomyces sp.), 5 (Aspergillus sp.), 6 (Mortierella sp.)] dan media semai yang disterilkan (a) dan tidak disterilkan (b)
Berdasarkan uji non parametrik Chi-Square diketahui bahwa secara umum perlakuan jenis cendawan endofit asal tanah perakaran bambu berpengaruh nyata terhadap indeks penyakit akar gada (P=0,05). Indeks penyakit terendah yakni 1,03 terjadi pada tanaman yang diberi perlakuan cendawan endofit Paecilomyces sp., sedangkan indeks penyakit tertinggi yakni 2,22 terjadi pada perlakuan kontrol (Gambar 5). Perlakuan media semai juga berpengaruh nyata terhadap indeks penyakit akar gada, dimana indeks penyakit terendah adalah pada perlakuan dengan menggunakan media semai yang tidak disterilkan yakni 1,34 (Gambar 5).
Gambar 5 Indeks penyakit akar gada pada perlakuan berbagai jenis cendawan endofit asal tanah perakaran bambu dan pada dua media semai
Perlakuan cendawan endofit Paecilomyces sp. memberikan bobot basah tanaman yang tertinggi yakni 49,38 g dibandingkan dengan kontrol yakni 32,59 g. Perlakuan antar cendawan endofit tidak berbeda nyata terhadap bobot basah tanaman.(Tabel 7). Sedangkan perlakuan media semai berpengaruh nyata terhadap bobot basah tanaman, perlakuan pada media semai yang tidak disterilkan menunjukan bobot basah tanaman tertinggi 37,79 g (Tabel 7).
Cendawan Endofit Inde k s P enya kit Chaetomium globosum Mortierella sp. Aspergillus sp. Paecilomyces sp. Kontrol
Tabel 7 Pengaruh perlakuan cendawan endofit asal tanah perakaran bambu dan perlakuan media semai terhadap bobot basah tajuk tanaman brokoli.
Perlakuan Bobot Basah Tajuk (g/tanaman)2)
Jenis Cendawan Endofit
Kontrol 32,59 8,29 c Chaetomium globosum 46,57 14,39 ab Paecilomyces sp. 49,38 10,57 a Aspergillus sp. 44,23 14,25 ab Mortierella sp 38,41 8,94 bc Media Semai Disterilkan 37,79 9,31 b Tidak Disterilkan 48,16 12,37 a 2)
- rataan simpangan baku
- angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap faktor tunggal tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5%
Pada pengamatan tinggi tanaman, perlakuan dengan cendawan endofit Paecilomyces sp. dan C. globosum berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman brokoli yakni masing-masing 21,58 cm dan 20,18 cm dibandingkan dengan kontrol yang lebih rendah yakni 16,97 cm dan tidak berbeda nyata dengan cendawan endofit Aspergillus sp. dan Mortierella sp. (Tabel 8). Perlakuan media semai berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, dimana perlakuan dengan media semai yang tidak disterilkan lebih tinggi dibandingkan dengan media semai yang disterilkan (Tabel 8).
Tabel 8 Pengaruh perlakuan cendawan endofit asal tanah perakaran bambu dan perlakuan media semai terhadap tinggi tanaman brokoli.
Perlakuan Tinggi Tanaman (cm)3)
Jenis Cendawan Endofit Kontrol Chaetomium globosum Paecilomyces sp. Aspergillus sp. Mortierella sp Media Semai Disterilkan Tidak Disterilkan 16,97 1,94 b 20,18 1,97 a 21,58 1,94 a 17,76 1,94 b 17,99 0,86 b 18,05 2,11 b 20,22 2,18 a 3)
- rataan simpangan baku
- angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap faktor tunggal tidak berbeda nyata berdasarkan uji jak berganda Duncan pada taraf nyata 5%
Perlakuan dengan cendawan endofit Paecilomyces sp., C. globosum dan Aspergillus sp. memberikan pengaruh nyata terhadap diameter batang tanaman yakni masing-masing 21,58 cm; 20,18 cm dan 17,76 cm lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol yakni 16,97 cm meskipun tidak berbeda nyata dengan perlakuan cendawan endofit Mortierella sp. (Tabel 9). Perlakuan media semai yang disterilkan berpengaruh nyata terhadap diameter batang tanaman tertinggi dibanding dengan media semai yang tidak disterilkan (Tabel 9).
Tabel 9 Pengaruh perlakuan cendawan endofit asal tanah perakaran bambu dan perlakuan media semai terhadap diameter batang tanaman brokoli.
Perlakuan Diameter Batang Tanaman (cm)4)
Jenis Cendawan Endofit Kontrol Chaetomium globosum Paecilomyces sp. Aspergillus sp. Mortierella sp Media Semai Disterilkan Tidak Disterilkan 0,45 0,045 b 0,52 0,048 a 0,53 0,073 a 0,51 0,082 a 0,45 0,074 b 0,53 0,054 a 0,47 0,075 b 4)
- rataan simpangan baku
- angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap faktor tunggal tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5%
Pengendalian Hayati Penyakit Akar Gada dengan Aplikasi Cendawan Endofit asal Rumput, Teki dan tanah Perakaran Bambu
Ada enam jenis cendawan endofit yang digunakan dalam percobaan ini dimana merupakan hasil seleksi cendawan endofit terbaik dilihat dari kemampuan dalam menurunkan persentase kejadian dan indeks penyakit serta meningkatkan bobot basah tanaman. Cendawan endofit tersebut adalah 2 jenis dari isolat asal tanah perakaran bambu (Chaetomium globosum dan Paecilomyces sp.) dan 4 jenis dari isolat asal rumput dan teki (Fusarium oxysporum, F.solani, Nigrospora sp. dan Curvularia lunata).
Gejala pembengkakan akar yang disebabkan oleh patogen bervariasi terhadap berbagai perlakuan cendawan endofit asal rumput, teki dan tanah perakaran bambu (Gambar 6).
Gambar 6 Gambar gejala penyakit akar gada di akar pada perlakuan jenis dan cara inokulasi cendawan endofit. Inokulasi dengan penyiraman media (a) dan pelapisan benih (b). 1 (kontrol, tanpa inokulasi patogen atau endofit), 2 (inokulasi patogen tanpa inokulasi endofit), 3 (F. oxysporum), 4 (Paecilomyces sp.), 5 (F. solani), 6 (Nigrospora sp.), 7 (C. globosum), 8 (C. lunata)
Berdasarkan uji non parametrik Chi-Square diketahui bahwa secara umum perlakuan jenis cendawan endofit berpengaruh nyata terhadap indeks penyakit akar gada (P=0,05). Indeks penyakit terendah yakni 0,69 terjadi pada perlakuan cendawan endofit C. globosum, sedangkan indeks penyakit tertinggi yakni 2,13 terjadi pada perlakuan kontrol (Gambar 7). Secara umum perlakuan cara inokulasi cendawan endofit tidak berbeda nyata terhadap indeks penyakit akar
gada, dimana perlakuan secara pelapisan benih indeks penyakit lebih rendah yakni 1,13 dibanding perlakuan penyiraman media (Gambar 7).
Gambar 7 Indeks penyakit akar gada pada berbagai jenis cendawan endofit dan perlakuan cara inokulasi cendawan endofit pada tanaman.
Perlakuan cendawan endofit berpengaruh nyata terhadap persentase kejadian penyakit, dimana cendawan endofit C. globosum, C. lunata dan F. oxysporum menurunkan secara nyata kejadian penyakit yakni masing-masing 59,38%; 65,63% dan 71,88% dibandingkan kontrol yang mencapai 100%. Perlakuan cara inokulasi cendawan endofit tidak berpengaruh nyata terhadap persentase kejadian penyakit, dimana perlakuan inokulasi dengan penyiraman media terendah dibandingkan perlakuan pelapisan benih (Tabel 10).
Cendawan Endofit
Inde
ks P
enya
Tabel 10 Pengaruh perlakuan cendawan endofit dan cara inokulasi terhadap kejadian penyakit akar gada.
Perlakuan Kejadian Penyakit (%)1)
Jenis Cendawan Endofit Kontrol Fusarium oxysporum F. solani Nigrospora sp. Curvularia lunata Chaetomium globosum Paecilomyces sp. Cara inokulasi Penyiraman media Pelapisan benih 100.00 0 a 71,88 20,86 bc 84,38 18,60 ab 81,25 25,88 ab 65,63 18,60 bc 59,38 18,60 c 93,75 11,57 a 78,57 23,29 a 80,36 20,81 a 1)
- rataan simpangan baku
- angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap faktor tunggal tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5%
Bobot basah tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan cendawan endofit C. lunata yakni 52,98 g dibanding kontrol yakni 30,56 g dan berbeda nyata untuk semua perlakuan (Tabel 11). Sedangkan perlakuan cara inokulasi cendawan endofit pada tanaman tidak berbeda nyata antara perlakuan, meskipun cara inokulasi secara pelapisan benih memberikan bobot basah tanaman tertinggi (Tabel 11).
Tabel 11 Pengaruh perlakuan cendawan endofit dan cara inokulasi terhadap bobot basah tajuk tanaman brokoli.
Perlakuan Bobot Basah Tajuk (g/tanaman)2)
Jenis Cendawan Endofit Kontrol Fusarium oxysporum F. solani Nigrospora sp. Curvularia lunata Chaetomium globosum Paecilomyces sp. Cara inokulasi Penyiraman media Pelapisan benih 30,56 3,89 d 45,86 5,78 b 50,61 6,15 a 52,86 5,27 a 52,98 4,97 a 35,73 4,79 c 41,71 4,77 b 42,13 8,41 a 44,13 10,76 a 2)
- rataan simpangan baku
- angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap faktor tunggal tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5%
Perlakuan cendawan endofit C. lunata memberikan pengaruh nyata tertinggi terhadap tinggi tanaman brokoli yakni 24,16 dibandingkan dengan kontrol yakni 18,32 cm (Tabel 12). Perlakuan cara inokulasi cendawan endofit berbeda nyata terhadap tinggi tanaman brokoli, dimana inokulasi dengan pelapisan benih menunjukan tinggi tanaman tertinggi dibanding inokulasi dengan penyiraman media (Tabel 12).
Tabel 12 Pengaruh perlakuan cendawan endofit dan cara inokulasi terhadap tinggi tanaman brokoli.
Perlakuan Tinggi Tanaman (cm)3)
Jenis Cendawan Endofit Kontrol Fusarium oxysporum F. solani Nigrospora sp. Curvularia lunata Chaetomium globosum Paecilomyces sp. Cara inokulasi Penyiraman media Pelapisan benih 18,32 1,17 d 20,42 0,32 c 21,97 0,71 b 24,15 1,15 a 24,16 0,68 a 21,89 0,74 b 21,95 0,59 b 21,18 0,69 b 22,19 0,87 a 3)
- rataan simpangan baku
- angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap faktor tunggal tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5%
Perlakuan cendawan endofit C. lunata menunjukan pengaruh yang nyata lebih tinggi terhadap diameter batang yakni 0,66 cm dibanding kontrol yakni 0,47 cm. Sedangkan perlakuan cara inokulasi cendawan endofit tidak berbeda nyata antar perlakuan (Tabel 13).
Tabel 13 Pengaruh perlakuan cendawan endofit dan cara inokulasi terhadap diameter batang tanaman brokoli.
Perlakuan Diameter Batang Tanaman (cm)4)
Jenis Cendawan Endofit Kontrol Fusarium oxysporum F. solani Nigrospora sp. Curvularia lunata Chaetomium globosum Paecilomyces sp. Cara inokulasi Penyiraman media Pelapisan benih 0,47 0,04 c 0,56 0,02 b 0,65 0,03 a 0,64 0,03 a 0,66 0,05 a 0,55 0,05 b 0,58 0,05 b 0,58 0,07 a 0,57 0,09 a 4)
- rataan simpangan baku
- angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap faktor tunggal tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5%
Pengaruh perlakuan ini juga dapat diamati secara langsung pada pertumbuhan tanaman di lapangan, dimana perlakuan dengan cendawan endofit memperlihatkan pertumbuhan yang lebih baik dibanding kontrol baik tanaman yang diberi perlakuan inokulasi cendawan endofit dengan cara penyiraman media maupun pelapisan benih (Gambar 8 dan 9).
Gambar 8 Pertumbuhan tanaman dengan perlakuan cendawan endofit yang diinokulasi melalui cara penyiraman media. Kontrol + (inokulasi patogen), kontrol – (tanpa inokulasi patogen dan tanpa endofit)
Gambar 9 Pertumbuhan tanaman dengan perlakuan cendawan endofit yang diinokulasi dengan cara pelapisan benih. Kontrol + (inokulasi patogen), kontrol – (tanpa inokulasi patogen dan tanpa endofit)
Pembahasan
Eksplorasi dan Pengaruh Cendawan Endofit asal Rumput dan Teki dalam Menekan Penyakit Akar Gada
Hasil eksplorasi cendawan endofit pada rumput dan teki ditemukan tujuh isolat, dimana dua isolat cendawan endofit yang ditemukan pada ketiga jenis rumput yang diisolasi yaitu F. oxysporum dan Miselia merah steril. Cendawan endofit Monilia sp, F. oxysporum, Miselia merah steril dan Miselia gelap steril diisolasi dari teki Cyperus rotundus; F. oxysporum, F. solani dan Miselia merah steril diisolasi dari rumput Setaria laxa; dan F. oxysporum, Nigrospora sp., Curvularia lunata, dan Miselia merah steril berhasil diisolasi dari rumput Paspalum longifolium. Cendawan endofit Miselia merah steril dan gelap steril tidak membentuk spora atau konidia pada media PDA, Martin Agar dan S-Media. F. oxysporum dan Miselia merah steril dapat diisolasi dari ketiga jenis rumput, ini diduga bahwa kedua jenis cendawan ini memiliki inang yang sangat luas. Menurut Istikorini (2008), F. oxysporum dan F. solani dapat diisolasi dari dari akar, batang dan daun tanaman cabai dan teki. Keberadaan cendawan endofit sangat berlimpah dan beragam, serta dapat ditemukan pada seluruh famili tanaman, baik tanaman pertanian maupun rumput-rumputan (Faeth 2002).
Pengamatan infeksi akar tanaman oleh cendawan endofit F. oxysporum memperlihatkan infeksi akar yang sangat tinggi yakni 80% melalui re-isolasi dan 64% melalui pewarnaan akar. Dengan adanya pengamatan infeksi akar maka diduga bahwa cendawan tersebut bersifat endofit karena diduga bahwa cendawan tersebut dapat hidup dalam jaringan akar tanaman. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Clay (1988), bahwa cendawan endofit adalah cendawan yang terdapat di dalam sistem jaringan tumbuhan, seperti daun, bunga, ranting ataupun akar tumbuhan. Selanjutnya, Sinclair dan Cerkauskas (1996) mendefinisikan bahwa cendawan endofit adalah cendawan yang berasosiasi dengan tanaman sehat dan tidak memperlihatkan gejala. Ini juga terlihat bahwa tanaman yang diinokulasi dengan cendawan yang diduga endofit tidak memperlihatkan gejala penyakit pada tanaman selama pesemaian. Carroll (1988) dan Clay (1988), mengatakan asosiasi yang terjadi antara cendawan endofit dengan tanaman inang bersifat mutualisme. Simbiosis mutualistik ini menyebabkan berkurangnya
kerusakan pada sel atau jaringan tanaman, meningkatkan kemampuan bertahan hidup dan fotosintetis sel jaringan yang terinfeksi oleh patogen tanah, dan dalam simbiotik ini juga membantu tanaman lebih toleran terhadap faktor biotik dan abiotik (Sinclair dan Cerkauskas 1996).
Inokulasi cendawan endofit asal rumput dan teki ke dalam tanah pesemaian berpengaruh nyata terhadap indeks penyakit akar gada. Dalam hal ini inokulasi cendawan endofit C. lunata menghasilkan indeks penyakit yang paling rendah yakni 0,88 dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan cendawan endofit lainnya. Kejadian penyakit akar gada secara statistik tidak berbeda nyata dengan kontrol, akan tetapi perlakuan cendawan endofit C. lunata dan Nigrospora sp. memberikan kejadian penyakit terendah yakni 68,75%, dan kejadian penyakit tertinggi terjadi pada kontrol yakni 100%. Cendawan endofit C. lunata juga memberikan bobot basah tajuk yang tertinggi yakni 33,56 g, tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol yakni 28,98 g dan juga perlakuan lainnya.
Pada tanaman yang diperlakukan dengan cendawan endofit menghasilkan kejadian penyakit yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya, hal ini juga diikuti dengan indeks penyakit yang lebih rendah pula sehingga dapat meningkatkan bobot basah tanamannya. Penekanan terhadap penyakit pada tanaman yang diberi perlakuan cendawan endofit diduga dapat terjadi karena terjadinya kolonisasi jaringan akar tanaman terlebih dahulu oleh cendawan endofit dibanding patogen, adanya mekanisme antibiosis. Cendawan endofit menghasilkan mikotoksin atau metabolit lainnya yang menyebabkan terjadinya perubahan fisiologi dan biokimia tanaman inang (Clay 1988). Salah satu toksin yang dihasilkan oleh cendawan endofit rumput-rumputan adalah alkaloid, yang mana juga dapat melindungi tanaman dari serangan herbivora (Sellose et al. 2004).
Cendawan endofit C. lunata memberikan kejadian penyakit terendah yakni 68,75%, dibandingkan perlakuan kontrol yakni 100% dan indeks penyakit yaitu 0,88 lebih rendah dibandingkan perlakuan kontrol yakni 2,88. Infeksi cendawan endofit C. lunata terhadap tanaman menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis tanaman yang mana dapat melindungi tanaman terhadap stres air atau kekeringan dan suhu yang tinggi. Ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sellose et
al. (2004), bahwa cendawan endofit C. lunata dapat menjadikan tanaman thermotoleran, yakni tanaman yang tidak diinokulasi dengan C. lunata pada suhu 40oC tanaman menjadi mati, sedangkan tanaman yang di inokulasi dengan C. lunata pada suhu 65oC tanaman masih bertahan hidup. Cendawan endofit Curvularia sp. secara morfologi mempunyai ciri-ciri koloni yang berwarna hitam dan cendawan endofit Nigrospora sp. warna koloninya putih keabu-abuan. Henson (2005), mengemukakan cendawan bermelanin sangat membantu tanaman untuk meningkatkan toleransi tanaman terhadap panas dan pada musim kemarau. Selanjutnya, konsentrasi melanin berkorelasi dengan osmolite trehalose.