• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perum Perhutani

Perum Perhutani sebagai salah satu perusahaan negara yang berkecimpung di bidang kehutanan mempunyai tugas untuk mengadakan usaha-usaha produktif dalam rangka meningkatkan pendapatan nasional, yang berarti secara aktif turut membangun ekonomi nasional untuk mewujudkan masyarakat adil makmur, materil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Disamping tugas-tugas yang bersifat rutin seperti reboisasi, pemeliharaan tanaman, penjarangan tanaman, penebangan/pemungutan hasil hutan keamanan dan lain-lain juga tugas-tugas sosial masyarakat tetap mendapat perhatian.

Tanaman jati di Pulau Jawa kondisinya sangat menurun, sifat fisik tanahnya padat karena penggembalaan berlebihan, lapisan humusnya hilang karena terbakar, tegakannya tidak lagi terisi penuh, dan yang paling parah, penyebaran kelas umurnya tidak lagi normal. Luas kelas umur muda lebih banyak dari umur tua. Hal ini terjadi karena tanaman dipaksa untuk berproduksi disamping karena adanya pencurian kayu. Diawal proses terjadinya kemerosotan kualitas hutan tanaman jati karena tekanan masalah sosial ekonomi dari masyarakat disekitar hutan, pemerintah mengubah status pengelola hutan jati dari jawatan ke perusahaan negara (Sagala, 1994).

Perum perhutani sebagai pengelola hutan di Jawa terus melakukan upaya pembenahan dalam berbagai aspek untuk mengembalikan hutan sesuai dengan fungsi dan manfaatnya serta memberi nilai tambah yang besar bagi kemakmuran rakyat. Maka Perum Perhutani melakukan sebuah program pemuliaan pohon yang

dengan dibentuknya team pemuliaan pohon Perum Perhutani yang terdiri dari para pejabat struktural. Tetapi pada saat potensi sumber daya hutan jati yang menjadi tulang punggung Perum Perhutani terus mengalami penurunan dan tuntutan untuk mempercepat pengembalian potensinya tidak bias ditawar lagi maka didirikan pusat jati pada tahun 1998.

Untuk meningkatkan produktivitas hutan dalam rangka memenuhi permintaaan pasar kayu jati yang lebih besar dibanding dengan kemampuan penawaran serta untuk memulihkan sumber daya hutan di dalam kawasan, Perum Perhutani mulai menerapkan silvikultur intensif. Upaya yang dilakukan antara lain pengembangan Jati Plus Perhutani (JPP). Dengan dikembangkannya JPP diharapkan dapat diwujudkan tegakan jati cepat tumbuh (daur lebih pendek), volume hasil kayu panen (m3/ha) maksimal, kualitas serta nilai ekonomis kayu yang tinggi.

JPP adalah tanaman jati unggul produk Perhutani yang diperoleh melalui program pemuliaan pohon. JPP didapat dari seleksi terhadap koleksi 600 pohon plus pada populasi hutan jati di Indonesia. Dan ini adalah salah satu bentuk tanggung jawab yang dilakukan oleh Perum Perum Perhutani dalam mengelola kawasan hutan jati yang ada di Pulau Jawa dengan melakukan berbagai upaya untuk melestarikan hutan jati yang salah satunya adalah kegiatan pemuliaaan pohon.

Kegiatan Pemuliaan Pohon di Perum Perhutani Unit II Jawa Timur KPH Madiun

Kegiatan-kegiatan pemuliaan pohon yang terdapat di Perum Perhutani KPH Madiun meliputi: kebun pangkas, APB (Areal Produksi Benih) dan pohon

plus. Kebun pangkas merupakan pertanaman yang dibangun untuk tujuan khusus sebagai penghasil bahan stek. Kebun pangkas dikelola untuk meningkatkan produkasi bahan stek. Sehingga kebun pangkas dan persemaian harus dibangun di dalam satu lokasi.

Kegiatan stek pucuk untuk penanaman pucuk, yang harus dilakukan adalah:

1. Menyiapkan larutan hormon perangsang atau hormon IBA (Indole-3 Butryic Acid) yaitu sebanyak 0,02 gr dilarutkan dalam 1 liter air (20 ppm) untuk 1.000 pucuk.

2. Memotong daun dengan menggunakan gunting menyisakan 1/3 nya yang bertujuan untuk menghindari penguapan dan persaingan cahaya di dalam bedeng induksi akar serta merapikan potongan melintang batang stek dengan menggunakan cutter yang tajam agar penyerapan hormon ke pangkal batang bisa merata, setelah itu pangkal batang yang sudah dirapikan tadi direndam dalam larutan hormon perangsang akar selama ± 5 - 10 menit.

3. Sambil menunggu masa perndaman, media yang sudah tertata di bedeng induksi akar disiram sampai jenuh sehingga waktu penanaman pucuk bahan stek tidak luka.

4. Penanaman pucuk, dalam hal ini pucuk bahan stek langsung ditanam ke polybag yang sudah disiapkan (disajikan pada Gambar 1).

5. Penanaman sedalam 2 cm dan pucuk harus lurus ke atas, setelah itu dilakukan penyiraman. Penyiraman harus menggunakan sprayer, sehingga butiran air siraman mengkabut.

6. Penyiraman bibit yang masih di bedeng induksi akar (disajikan pada Gambar 2) tidak boleh langsung disemprotkan tetapi cukup diuapi saja sebab untuk menghindari bibit roboh atau bahkan lepas dari polybag.

7. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari atau melihat kondisi kelembaban di bedeng induksi akar.

8. Setelah berumur 3 minggu bibit sudah mulai ada yang berakar, sehingga mulai umur 1-2 bulan harus dilakukan seleksi bibit yang berakar secara periodik.

Gambar 1. Media penanaman stek pucuk pada polybag

Gambar 2. Bedeng Induksi Akar

Kegiatan stek pucuk di KPH Madiun ini merupakan salah satu kegiatan pemuliaan pohon yang sampai saat ini sudah dapat dikatakan berhasil untuk tahap awal. Karena kegiatan ini masih harus dilihat keberhasilannya di lapangan hingga

tahap pemanenan dilakukan. Hal ini didukung oleh literatur yang ada pada Perum Perhutani, (2003) yang menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan bibit tanaman, KPH Madiun telah membangun persemaian (nursery) pusat permanen yang berlokasi di BKPH Dagangan, Brumbun, Dungus, Sumoroto, Sampung, dan Sukun pada total areal seluas + 10,2 Ha. Dengan kapasitas produksi mencapai 3.842.145 juta bibit/tahun. Bibit tanaman yang dikembangkan di persemaian KPH Madiun seluruhnya berasal dari Areal Produksi Benih (APB) KPH Madiun sendiri dan Jati Plus Perhutani (JPP) dari pusbanghut Cepu. Seiring semakin meningkatnya kebutuhan benih, dan semakin meningkatnya teknologi tentang perbanyakan tanaman. KPH Madiun juga menyediakan kebun pangkas yang disajikan pada Gambar 3, sebagai alternatif perbanyakan tanaman jati. Kebun pangkas tersebut di buat dalam suatu areal petak tanaman dengan jarak tanam1 x 1 m. Jumlah tanaman adalah berjumlah 10.000 pohon dalam suatu areal petak tanam..

Gambar 3. Kebun pangkas yang berada di lokasi BKPH Dungus, KPH Madiun

Untuk memenuhi kebutuhan benih, KPH Madiun memiliki kebun benih sendiri, yang biasa disebut sebagai APB. Benih – benih tersebut di produksi di suatu areal petak yang terdapat di BKPH Dungus, RPH Kuwiran yang terdapat di petak 300a dengan luas sebesar 28,6 Ha. Biasanya benih jati yang berasal dari

Areal Produksi Benih ini dipanen dengan cara pengumpulan biji. Pengumpulan biji dilakukan pada saat bulan Juli s/d September. Sebelum dilakukan pemungutan buah / biji lantai hutan harus benar – benar bersih. Selain itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengumpulan biji yakni :

1. Tidak semua biji yang jatuh pada lantai hutan berkualitas baik (ada yang kurang matang, kosong/tidak padat, terserang hama, penyakit).

2. Buah yang pertama kali jatuh secara alami, jangan ikut dipungut (seringkali kualitasnya rendah)

3. Induk benih tidak diketahui dengan pasti

Selain kebun pangkas dan stek pucuk, juga terdapat kegiatan pemuliaan pohon lainnya yaitu Areal Produksi Benih (APB), merupakan tegakan yang mutunya ditingkatkan menjadi tegakan plus melalui penebangan pohon-pohon yang berfenotip jelek dan perlakuan-perlakuan lain, dalam usaha menghasilkan benih bermutu baik dengan jumlah banyak dan dalam waktu singkat. Jadi dalam pembuatannya APB tidak terlepas dari pohon plus, yang merupakan individu pohon yang memiliki fenotip terbaik dalam suatu tegakan hutan agar dapat menghasilkan benih yang berkualitas tersebut. Untuk dapat menentukan suatu APB harus dipenuhi beberapa persyaratan, yaitu persyaratan lokasi yang mana sesuai dengan kondisi ekologis jenis yang bersangkutan agar dapat berbunga / berbuah dengan baik, topografi yang relatif datar, terlindung dari angin keras dan banjir, aksesibilitas tinggi, tanah subur dan tenaga kerja mudah. Selain itu juga terdapat persyaratan tegakan, yaitu calon APB dipilih pada hutan tanaman di petak atau anak petak yang baik kondisi tegakannya, daur tegakan pada KU (Kelas Umur) III - IV, ditinjau tegakannya secara menyeluruh sebagai satu

kesatuan calon APB dan luas minimal 5 Ha, agar pengelolaannya lebih efisien (luas APB tidak perlu sesuai dengan luas baku).

Seluruh kegiatan pemuliaan pohon yang ada di Perum Perhutani Unit II Jawa Timur merupakan bagian dari kegiatan persemaian, yang mana hasil dari kegiatan pemuliaan pohon ini adalah untuk memenuhi kebutuhan benih maupun bibit untuk seluruh KPH Madiun. Hal ini sesuai dengan literatur yang dikemukakan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur Kesatuan Pemangkuan Hutan, (2009) yang menyatakan bahwa sebagian kegiatan pemuliaan pohon sendiri termasuk ke dalam kegiatan persemaian, yang mana kegiatan pemuliaan pohon yang dilakukan oleh KPH Madiun antara lain: kebun pangkas, APB dan pohon plus adalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan bibit di KPH Madiun.

Karakteristik Responden Umur

Kelompok umur responden pelajar dan guru berada antara 14 – 55 tahun, disajikan pada Tabel 3. Dominan umur responden adalah kelompok umur 17 - 19 tahun yaitu sebesar 28,3% didominasi oleh pelajar. Hal tersebut dikarenakan rata-rata umur pelajar yang berada pada kisaran umur 16-18 tahun. Selain itu lebih banyak pelajar yang saat itu sedang duduk di bangku kelas 2 ataupun kelas 3 yang dijumpai sewaktu wawancara dilakukan.

Tabel 3. Kelompok Umur Responden Pelajar dan Guru

Umur (tahun) Frekunesi Persen (%)

14 – 16 16 17,4 17 – 19 26 28,3 20 – 22 0 0 23 – 25 0 0 26 – 28 0 0 29 – 31 0 0 32 – 34 0 0 35 – 37 2 2,2 38 – 40 5 5,4 41 – 43 11 11,9 44 – 46 9 9,8 47 – 49 10 10,9 50 – 52 9 9,8 53 – 55 4 4,3 Jumlah 92 100

Kelompok umur responden pegawai Perhutani berada antara 23 – 55 tahun, disajikan pada Tabel 4. Dominan umur responden untuk pegawai Perhutani adalah kelompok umur 38 – 40 tahun yaitu sebesar 25%. Hal ini diduga karena dominasi pegawai Perhutani yang bekerja di sana merupakan pegawai yang telah lama bekerja dan pada usia tersebut merupakan usia produktif yang ada pada saat ini. Selain itu belum adanya penambahan pegawai yang baru dalam KPH sehingga masih didominasi oleh para pegawai lama.

Tabel 4. Kelompok Umur Responden Pegawai Perhutani

Umur (tahun) Frekunesi Persen (%)

23 – 25 1 5 26 – 28 1 5 29 – 31 0 0 32 – 34 0 0 35 – 37 0 0 38 – 40 5 25 41 – 43 3 15 44 – 46 4 20 47 – 49 2 10 50 – 52 2 10 53 – 55 2 10 Jumlah 20 100

Tingkat pendidikan

Tingkat pendididkan responden pelajar SMA didominasi oleh pelajar yang sedang duduk dibangku kelas XI atau klas 2 SMA yaitu sebanyak 35,7%. Sedangkan untuk guru rata-rata memiliki latar pendidikan S1(Strata 1) dari berbagai macam jurusan dengan jumlah sebanyak 70% sisanya berlatar belakang pendidikan Diploma III dan S2 (Strata 2) yang disajikan pada Gambar 4. Karena untuk guru sudah ada peraturan yang menyebutkan bahwa minimal latar pendidikan guru saat ini adalah S1. Untuk pegawai Perhutani sendiri hanya 15% saja yang memiliki latar belakang pendidikan Sarjana dan yang paling dominan adalah berlatar pendidikan setingkat SMA, yaitu sebanyak 65% (disajikan pada Gambar 5). Hal ini diduga disebabkan karena kebanyakan pegawai Perhutani yang bekerja merupakan pegawai yang sudah lama bekerja dan sewaktu dulu belum banyak pegawai yang mampu untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Frekuensi (%) 26% 70% 4% Dimploma III Strata 1 Strata 2

Frekuensi (%) 65% 15% 20% SMA/Sederajat Dimploma III Strata 1

Gambar 5. Tingkat Pendidikan Pegawai Perhutani

Tingkat Pemahaman Responden Terhadap Kegiatan Pemuliaan Pohon Manfaat hutan

Sebanyak 42 pelajar atau 100% dari total keseluruhan pelajar mengetahui manfaat hutan bagi kehidupan. Begitu pula pada guru sebanyak 50 guru atau 100% dari total keseluruhan guru menyatakan mengetahui hal yang sama seperti pelajar. Hal ini dapat dikarenakan lokasi sekolah tersebut yang berada disekitar hutan milik Perum Perhutani. Seperti data sekunder yang didapat dari Perum Perhutani bahwa jarak sekolah terhadap lokasi hutan milik Perhutani hanya berjarak ± 300 meter saja. Jadi secara tidak langsung para pelajar maupun guru mengetahui dan mengerti manfaat hutan bagi kehidupan. Dikarenakan lokasi sekolah yang berada dekat disekitar lokasi hutan milik Perum Perhutani, para pelajar dapat melihat secara langsung bagaimana para masyarakat sekitar memanfaatkan hutan yang ada untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Biasanya masyarakat sekitar menggunakan lahan dibawah tegakan jati yang diijinkan oleh Perum Perhutani. Lahan dibawah tegakan ini digunakan oleh masyarakat untuk menanami tanaman pangan. Hal ini merupakan sistem

tumpangsari yang diterapkan oleh pihak Perum Perhutani sebagai salah satu upaya pemberdayaan masyarakat sekitar hutan (PHBM: Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) dalam pelestarian hutan.

Mayoritas responden secara umum menjawab “ya” terhadap pertanyaan – pertanyaan yang diajukan dalam kuisioner (Lampiran 4) yang disajikan pada Tabel 5. Dapat dilihat bahwa baik guru maupun pelajar dapat mengerti dan memahami dengan baik tujuan dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tersebut. Dari hasil analisis data yang disajikan pada Lampiran 2 dan Lampiran 3 menunjukkan bahwa nilai Q hitung = 62,60 lebih besar daripada nilai chi square tabel = 21,026 untuk guru dan nilai Q hitung = 161,35 lebih besar daripada nilai chi square tabel = 21,026 untuk pelajar. Hal ini menunjukkan tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat sasaran (pelajar dan guru) yang baik terhadap adanya kegiatan pemuliaan pohon yang ada di Perum Perhutani Unit II KPH Madiun.

Tabel 5. Tingkat Pengetahuan Responden Terhadap Kegiatan Pemuliaan Pohon NO. Pertanyaan Pelajar Guru Ya (%) Tidak (%) Ya (%) Tidak (%) 1. 100 - 100 - 2. 100 - 100 - 3. 100 - 100 - 4. 52,38 47,62 60 40 5. 92,86 7,14 100 - 6. 100 - 100 - 7. 52,38 47,62 56 44 8. 73,8 26,2 70 30 9. 97,62 2,38 98 2 10. 100 - 50 - 11. 100 - 100 - 12. 85,71 14,29 100 - 13. 97,62 2,38 100 -

dapat dijadikan sebagai alternatif wisata pendidikan dalam prospek minat baru bagi para pelajar. Pelajar juga dapat mengetahui bagaimana cara kerja dalam kegiatan pemuliaan dan bagaimana penerapan teknologi dalam kegiatan pemuliaan pohon ini. Selain menambah ilmu pengetahuan bagi pelajar dalam pelaksanaannya para pelajar juga tidak membutuhkan biaya yang besar dalam melakukan kegiatan ekowisata yang berbasis pendidikan ini.

Hasil produk hutan dan kegiatan pemuliaan pohon

Pemahaman tentang hasil produk hutan sudah dapat diketahui oleh guru maupun pelajar dengan baik. Hal ini disajikan pada Tabel 5. Data ini menunjukkan bahwa seluruh responden mengetahui hasil – hasil produk hutan baik berupa kayu maupun non kayu serta hasil produksi hutan yang telah menyumbangkan devisa negara yang besar bagi negara. Dari hasil wawancara di lapangan sebagian responden menyebutkan hasil hutan berupa produk kayu – kayu apa saja yang terdapat di dalam hutan tersebut, antara lain didominasi oleh kayu jati (Tectona grandis), kesambi (Schleicera oleosa), mahoni (Swietenia mahagoni), dll. Selain itu mereka juga menjelaskan bahwa hasil produk hutan yang didominasi oleh kayu dapat diekspor ke luar negeri sebagai kayu olahan sehingga dapat menambah devisa ngara.

Sebagian besar dari responden dari hasil wawancara yang disajikan pada Tabel 5 bahwa baik pelajar maupun guru juga telah mengerti sebagian besar mengenai kegiatan pemuliaan pohon. Sebagian besar mereka telah mengerti apa – apa saja kegiatan pemuliaan pohon, hanya saja mereka belum terbiasa dengan istilah – istilah ilmiah yang sering kita gunakan. Contohnya mereka mengenal dengan baik kegiatan kebun pangkas dan stek pucuk, bahkan sebagian besar orang

tua dari para murid merupakan pekerja yang membantu Perhutani dalam kegiatan tersebut. Tetapi mereka tidak menyadari dan mengerti bahwa kegiatan kebun pangkas tersebut merupakan salah satu dari kegiatan pemuliaan pohon. Bahkan secara tidak langsung mereka telah mengetahui salah satu cara menghasilkan pohon – pohon yang memiliki sifat – sifat kayu yang berkualitas tinggi ataupun cara – cara melestarikan pohon – pohon yang menghasilkan benih – benih yang berkualitas baik.

Tingkat Kesiapan Perum Perhutani sebagai Fasilitator

Dalam pengelolaan suatu kawasan untuk dijadikan sebuah tempat wisata diperlukan adanya suatu lembaga atau badan yang mengelolanya. Dalam hal ini Perum Perhutani sebagai pemilik lahan yang didalamnya terdapat kegiatan pemuliaan pohon sekaligus sebagai pengelola, maka Perhutani harus dapat bekerja sama dengan stakeholders lainnya agar kegiatan ekowisata pendidikan ini dapat berjalan dengan lancar. Hal ini sesuai dengan literatur yang dinyatakan oleh Fandeli dan Mukhlison (2000) bahwa di dalam pengembangan kepariwisataan alam memerlukan koordinasi dan integrasi yang bagus bagi seluruh stakeholders.

Perum Perhutani dalam hal ini sebagai fasilitator bagi para pelajar yang ingin melakukan wisata pendidikan ke Perum Perhutani Unit II KPH Madiun telah siap untuk dikunjungi. Tingkat kesiapan ini didapat dari hasil wawancara dari kuisioner yang ada disajikan pada Lampiran 5 yang disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Tingkat Kesiapan Perum Perhutani Unit II KPH Madiun sebagai Fasilitator NO. Pertanyaan Pegawai Perhutani Ya (%) Tidak (%) 1. 100 - 2. 95 5 3. 70 30 4. 100 - 5. 95 5

Dari hasil analisis data yang disajikan pada Lampiran 1 menunjukkan bahwa nilai Q hitung = 16, 8 lebih besar daripada nilai chi square tabel = 9,488. Hal ini menunjukkan bahwa Perum Perhutani siap sebagai fasilitator dalam menerima kunjungan pelajar untuk kegiatan wisata pendidikan. Hal ini juga dapat dilihat dari data yang disajikan pada Tabel 6, yang sebagian besar dari pertanyan – pertanyaan yang diajukan dalam kuisioner dijawab “ya” oleh para pegawai Perhutani.

Kegiatan pemuliaan pohon yang dimiliki oleh Perum Perhutani Unit II KPH Madiun antara lain APB (Areal Produksi Benih), Kebun Pangkas dan Pohon Plus. Semua kegiatan – kegiatan ini secara umum dapat dikatakan berhasil mencapai tujuannya. Hal ini terbukti dari benih yang dihasilkan dari areal kebun benih yang berada di APB seluas 28,4 Ha saat ini telah mendapatkan pengakuan benih bersertifikat dari Balai Perbenihan Tanaman Hutan, Ditjen Rehabilittasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan. Selain itu bibit tanaman yang dikembangkan di persemaian KPH Madiun seluruhnya berasal dari Areal Produksi Benih (APB) KPH Madiun sendiri dan Jati Plus Perhutani (JPP) dari pusbanghut Cepu.

Menurut hasil observasi di lapangan (Lampiran 6) seluruh kegiatan pemuliaan pohon yang ada di Perhutani KPH Madiun, dapat dijangkau oleh

kunjungan pelajar apabila dilakukan dalam satu kali kunjungan. Karena aksesibilitas yang mudah dijangkau antara satu tempat kegiatan pemuliaan dengan yang lainnya. Selain itu fasilitas pemuliaan pohon seperti plang – plang kegiatan juga sudah lengkap dan tersedia di setiap area kegiatannya (contohnya disajikan pada Gambar 6).

Gambar 6. Plang APB (Areal Produksi Benih) di RPH Kuwiran

Fasilitas lainnya seperti aula, transportasi, pemandu, dll juga dapat disediakan oleh pihak Perhutani jika kunjungan yang akan diadakan tersebut bersifat resmi melalui prosedur yang ada. Perum Perhutani KPH Madiun sendiri sebenarnya telah menjadi tempat pembelajaran bagi para pelajar yang ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai kegiatan yang ada di Perhutani sehingga KPH Madiun memiliki tempat yang dinamakan KPH Wanasiswa. Tetapi dikarenakan hal lain dan sebagainya, salah satu diantaranya adalah penurunan kualitas hutan jati yang ada disekitar KPH Madiun, maka kegiatan wanasiswa tersebut tidak diaktifkan lagi. Oleh karena itu setelah adanya keberhasilan dari kegiatan pemuliaan pohon ini maka diharapkan KPH Madiun dapat dijadikan kembali sebagai salah satu tempat wisata pendidikan bagi para pelajar yang mempunyai minat khusus.

Dokumen terkait