Rendemen Ekstrak Akar Tuba (Derris elliptica (Roxb.) Benth)
Rendemen ekstrak akar tuba (Derris elliptica (Roxb.) Benth) merupakan persen zat ekstrak yang dikandung akar tuba. Rendemen ekstrak akar tuba lebih jelas disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Rendemen ekstrak akar tuba.
Rendemen basah ekstrak (%) Rendemen kering ekstrak (%)
Pelarut MeOH 17.8668 3.4154
Pelarut CHCl3 22.1663 3.9145
Total 40.0331 7.3299
Dari Tabel 2 dapat dijelaskan bahwa total rendemen kering yang diperoleh adalah 7,3299% dengan perincian seperti Tabel 2. Rendemen yang diperoleh dengan pelarut CHCl3 lebih banyak dari rendemen dengan pelarut MeOH. Hal ini bisa diterima karena ketika proses pembagian ekstrak pekat metanol berbentuk gel (seperti disajikan pada Lampiran 27) tidak terbagi secara merata. Pembagian dilakukan berdasarkan volume dan bukan berdasarkan massa partikel ekstraksi sehingga rendemen kering ekstrak CHCl3 memiliki persen rendemen lebih banyak karena memiliki bobot lebih banyak. Rendemen kering ekstrak akar tuba berupa serbuk seperti disajikan pada Gambar 5 di bawah ini.
Gambar 5 a) Rendemen kering ekstrak akar tuba hasil ekstraksi dengan pelarut metanol; b) Rendemen kering ekstrak akar tuba hasil ekstraksi dengan pelarut kloroform.
Mortalitas Rayap
Mortalitas rayap merupakan salah satu indikator dalam penentuan keaktifan bahan racun dengan menghitung persentase jumlah rayap yang mati setelah diberikan perlakuan pada waktu tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak akar tuba pada konsentrasi tinggi dapat membunuh rayap secara efektif. Secara lengkap hasil penelitian disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Rata-rata mortalitas rayap untuk contoh uji dengan ekstrak akar tuba masing-masing pelarut dan perlakuan konsentrasi.
Konsentrasi Ekstrak MeOH (%) Ekstrak CHCl3 (%)
0% (tanpa perlakaun) 8,00 e 28,00 d
4% 57,20 c 56,40 c
5% 74,40 b 88,00 a
6% 79,20 b 90,80 a
Simbol yang sama berarti tidak berbeda nyata pada uji DMRT (Duncan Multiple Range Test).
Rata-rata mortalitas rayap untuk contoh uji dengan ekstrak akar tuba masing-masing pelarut dan perlakuan konsentrasi pada Tabel 3 diatas dijelaskan bahwa mortalitas rayap terendah pada perlakuan ekstrak metanol 0% dengan persentase mortalitas sebesar 8%. Mortalitas tertinggi ditunjukkan pada perlakuan ekstrak kloroform 6% dengan persentase mortalitas sebesar 90,80%. Analisis sidik ragam mortalitas rayap yang disajikan pada Lampiran 5, pada faktor pelarut, faktor konsentrasi dan korelasi faktor pelarut dan faktor konsentrasi menunjukkan pengaruh yang signifikan, sehingga dilanjutkan dengan uji Duncan. Pengaruh yang ditimbulkan untuk kenaikan konsentrasi dan perlakuan ekstrak pelarut adalah berpengaruh nyata.
Kondisi LD50 (lethal dosis 50%) artinya adalah kondisi mortalitas lebih dari 50% dengan pemberian dosis tertentu. Kondisi LD50 dicapai pada perlakuan konsentrasi 4% baik ekstrak metanol maupun kloroform dengan persentase mortalitas masing-masing 57,20% dan 56,40%. Hal ini berarti bahwa konsentrasi ekstrak sebesar 4%, jumlah rayap yang mati mencapai 50% dari total populasi rayap. Menurut Tarumingkeng (1992) kondisi LD50 merupakan kondisi dimana insektisida/pestisida sudah dianggap efektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas daya racun akar tuba dengan ekstrak metanol dan kloroform terjadi pada
konsentrasi 4% ke atas. Insektisida dikatakan efektif apabila konsentrasi yang diberikan dapat membunuh rayap (Hasan, 1984).
Nilai persentase mortalitas rayap yang sangat tinggi dengan adanya penggunaan ekstrak akar tuba disebabkan oleh senyawa kimia bioaktif rotenone yang meracuni rayap. Ekstrak akar tuba mengandung bahan yang beracun yang dapat mematikan rayap. Penelitian ini mendukung kesimpulan Sitepu (1995) yang mengatakan bahwa rotenone mengakibatkan mortalitas yang tinggi terhadap ikan nila sehingga disimpulkan bahwa uji toksikologi rotenone terhadap ikan nila dari kristal yang diperoleh memberikan uji toksik yang positif. Penelitian ini juga mendukung kesimpulan Shahabuddin (2005) yang menyimpulkan bahwa pemberian ekstrak akar tuba konsentrasi 4% menyebabkan kematian lebih dari 50% (68%) larva Aedes sp.
Gejala keracunan yang diperlihatkan rayap yang terkena racun ekstrak akar tuba adalah tidak agresif, jalannya lemah dan cenderung diam walau masih dalam keadaan hidup. Menurut Tarumingkeng (1992) dan Kardinan (2001) bahwa langkah pertama dalam penilaian efek keracunan insektisida adalah dengan melihat adanya respon fisik dan perilaku hewan uji setelah melakukan kontak dengan insektisida dan cara masuknya ke dalam organisme target rotenone merupakan racun perut dan kontak tetapi tidak bersifat sistemik dan menurut cara kerjanya rotenone merupakan racun pernafasan. Sastrautomo (1992) dan Martin et al. (1990) mengatakan bahwa zat rotenoid aktif menghambat enzim pernafasan yaitu enzim glutamat oksidase. Enzim ini berfungsi dalam katabolisme asam amino maupun biosintesisnya. Tarumingkeng (1992) mengemukakan bahwa rotenone merupakan inhibitor metabolisme respirasi yang bersifat sangat spesifik, yaitu menyerang proses perpindahan elektron antara NADH (nukleotida adenosin difosforidin) dan sitokrom b, sehingga transmisi impuls saraf terhenti. Penghambatan enzim respirasi oleh rotenoid menyebabkan proses metabolisme dalam tubuh terhambat dan pada akhirnya dapat mematikan organisme.
Kehilangan Berat Contoh Uji
Pengurangan berat contoh uji disebabkan oleh serangan rayap. Rata-rata kehilangan berat contoh uji disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Rata-rata kehilangan berat dengan faktor pelarut dan perlakuan konsentrasi pada contoh uji setelah diujikan ke rayap.
Konsentrasi Ekstraksi metanol (%) Ekstraksi kloroform (%)
0% 31,13 a 25,4 a
4% 12,06 a 21,88 a
5% 26,24 b 22,25 a
6% 15,09 b 14,67 a
Simbol yang sama berarti tidak berbeda nyata untuk faktor konsentrasi pada uji DMRT (Duncan
Multiple Range Test).
Dari Tabel 4 dapat dijelaskan bahwa serangan rayap terhadap contoh uji yang tidak direndam dengan ekstrak akar tuba adalah sangat tinggi dibandingkan dengan kehilangan berat contoh uji yang direndam dengan ekstrak akar tuba. Ekstrak akar tuba yang terdapat pada contoh uji menyebabkan pola makan rayap terganggu. Analisis sidik ragam kehilangan berat yang disajikan Lampiran 7 menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi berpengaruh terhadap kehilangan berat sehingga faktor konsentrasi dilanjutkan dengan uji Duncan. Pemberian ekstrak pada berbagai tingkat konsentrasi pada ekstraksi metanol berpengaruh nyata sedangkan pemberian ekstrak pada berbagai tingkat konsentrasi pada ekstraksi kloroform tidak berpengaruh nyata.
Kehilangan berat pada contoh uji yang direndam dengan ekstrak akar tuba konsentrasi 4% untuk masing-masing perlakuan sangat sedikit dibandingkan dengan kehilangan berat contoh uji yang direndam dengan ekstrak akar tuba konsentrasi 5%. Seharusnya semakin tinggi konsentrasi ekstrak akar tuba yang diberikan maka kehilangan berat contoh uji akibat serangan rayap akan semakin sedikit, dalam hal ini tidak demikian. Pola makan rayap yang terganggu akibat tertekan dengan makanan yang beracun menyebabkan kehilangan berat contoh uji yang sedikit. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Nandika et al. (2003) bahwa aktivitas makan rayap secara umum dipengaruhi oleh ketersediaan dan tingkat kesukaan rayap terhadap sumber makanan dan kondisi lingkungan. Pola makan rayap yang terganggu menyebabkan sifat kanibalisme rayap muncul sehingga menyerang rayap yang lemah dan memakan bangkainya. Hal ini menyebabkan serangan rayap terhadap contoh uji berkurang.
Laju Konsumsi Rayap
Laju konsumsi rayap terhadap contoh uji adalah berat contoh uji yang dimakan seekor rayap yang dihitung setiap hari. Rata-rata laju konsumsi rayap terhadap contoh uji disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Rata-rata laju konsumsi rayap pada contoh uji dengan ekstrak akar tuba dengan faktor pelarut dan perlakuan konsentrasi.
Konsentrasi Ekstraksi metanol (mg/rayap/hari) Ekstraksi kloroform (mg/rayap/hari) 0% 0,11 a 0,09 a 4% 0,04 c 0,08 a 5% 0,10 a 0,09 a 6% 0,05 b 0,05 a
Simbol yang sama berarti tidak berbeda nyata untuk faktor konsentrasi pada uji DMRT (Duncan
Multiple Range Test).
Dari Tabel 5 dapat dijelaskan bahwa laju konsumsi rayap yang paling tinggi terjadi pada contoh uji yang tidak direndam dengan ekstrak akar tuba. Data yang ditunjukkan tabel laju konsumsi rayap memiliki pola yang sama dengan data yang ditunjukkan tabel kehilangan berat. Kehilangan berat contoh uji tanpa ekstrak akar tuba untuk masing-masing perlakuan tinggi sehingga laju konsumsi rayap terhadap contoh uji tanpa perlakuan ekstrak akar tuba juga tinggi dan sebaliknya semakin tinggi konsentrasi yang diberikan maka kehilangan berat dan laju konsumsi rayap juga semakin kecil. Laju konsumsi rayap yang paling rendah terjadi pada contoh uji yang direndam dengan konsentrasi 4% ekstrak akar tuba yaitu sebesar 0,04 mg/rayap/hari. Hal ini disebabkan oleh kehilangan berat contoh uji sebesar 12,06% seperti yang disajikan pada Tabel 4. Sehingga disimpulkan bahwa laju konsumsi rayap berbanding lurus dengan kehilangan berat contoh uji.
Hubungan rata-rata laju konsumsi rayap dengan mortalitas rayap berbanding terbalik. Konsentrasi ekstrak akar tuba yang semakin tinggi akan menyebabkan mortalitas rayap yang tinggi. Mortalitas rayap yang tinggi akan menurunkan intensitas serangan rayap terhadap contoh uji, sehingga kehilangan berat dan laju konsumsi rayap semakin lama akan semakin kecil.
(a) (b)
Analisis sidik ragam yang disajikan Lampiran 9 menunjukkan bahwa pemberian ekstrak akar tuba pada contoh uji berpengaruh nyata pada berbagai tingkat konsentrasi untuk menurunkan laju serangan rayap. Model serangan rayap terhadap contoh uji disajikan Gambar 6.
Gambar 6 Serangan rayap tanah pada contoh uji dengan konsentrasi 6%
Perbandingan model serangan rayap tanah pada contoh uji yang tidak direndam ekstrak akar tuba dengan contoh uji yang direndam dengan ekstrak akar tuba disajikan pada Gambar 7.
(d) (c)
Gambar 7 a) Model serangan rayap tanah pada contoh uji yang direndam dengan ekstrak dengan pelarut metanol; b) Model serangan rayap tanah pada contoh uji yang direndam dengan ekstrak dengan pelarut kloroform; c dan d) Contoh uji tanpa perlakuan.
Stabilitas Dimensi
Stabilitas dimensi merupakan perbandingan antara volume pengembangan setelah perendaman dengan volume penyusutan setelah pengeringan dengan atau tanpa ekstrak akar tuba. Rata-rata ASE (antiswelling efficiency) disajikan Tabel 6. Tabel 6 Rata-rata ASE (antiswelling efficiency) dengan ekstrak akar tuba faktor
pelarut dan perlakuan konsentrasi.
Faktor Ekstrak metanol (%) Ekstrak kloroform (%)
0% (tanpa perlakuan) 0,0000 0,0000
4% -0,4269 -0,2141
5% 0,0553 0,2306
6% 0,0939 -0,3647
Dari Tabel 6 diatas dijelaskan bahwa stabilitas dimensi contoh uji yang paling baik ditunjukkan oleh nilai yang paling tinggi. Nilai stabilitas paling tinggi terdapat pada konsentrasi 5% ekstrak kloroform yaitu sebesar 0,2306%. Angka-angka yang disajikan pada tabel semakin mendekati nol itu berarti stabilitas dimensinya semakin kecil dan sebaliknya semakin besar nilai persen ASE (antiswelling efficiency) yang muncul maka stabilitas dimensinya semakin tinggi. Nilai negatif yang muncul pada angka-angka yang disajikan pada tabel menunjukkan bahwa koefisien pengembangan setelah pengawetan lebih kecil dibandingkan koefisien pengembangan sebelum
pengawetan sehingga terjadi penyusutan. Penyusutan volume contoh uji terjadi karena perendaman dan pengovenan yang berulang-ulang yang merusak struktur penyusun kayu. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Achmadi (1990) bahwa struktur penyusun kayu seperti lignin, selulosa dan kandungan kimia kayu lainnya akan terurai pada proses hidrolisis sehingga kemampuan kembang susut kayu berkurang.
Pemberian ekstrak akar tuba terhadap contoh uji tidak memberikan kestabilan kembang susut kayu. Ekstrak akar tuba tidak bisa digunakan untuk memodifikasi kimia kayu sehingga derajat kemantapan dimensinya tinggi. Tujuan modifikasi kimia kayu menurut Achmadi (1990) adalah untuk meningkatkan kemantapan stabilitas dimensi kayu. Pemberian zat ekstrak akar tuba terhadap contoh uji pada analisis sidik ragam yang disajikan Lampiran 12 tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap stabilitas dimensi contoh uji kayu.
Retensi Ekstrak Akar Tuba
Retensi ekstrak akar tuba diketahui dari penambahan berat contoh uji setelah direndam dengan ekstrak akar tuba. Rata-rata persen penambahan berat lebih jelas disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Rata-rata persen penambahan berat contoh uji dengan faktor pelarut dan perlakuan konsentrasi.
Faktor Ekstraksi metanol (%) Ekstraksi kloroform (%)
0% 0,00 a 0,00 a
4% 0,21 a 0,26 a
5% 0,22 a 0,24 a
6% 0,32 a 0,25 a
Simbol yang sama berarti tidak berbeda nyata untuk faktor konsentrasi pada uji DMRT (Duncan
Multiple Range Test).
Dari Tabel 7 dapat dijelaskan bahwa penambahan berat paling banyak terdapat pada contoh uji yang direndam dengan ekstrak metanol konsentrasi 6%. Contoh uji yang direndam dengan ekstrak kloroform terjadi penambahan berat paling banyak pada konsentrasi 4%. Penambahan berat contoh uji yang semakin banyak menandakan bahwa retensi ekstrak akar tuba ke dalam contoh uji semakin tinggi.
Penambahan berat dipengaruhi oleh kandungan senyawa yang terdapat pada ekstrak akar tuba. Ekstrak metanol akan mempengaruhi penambahan berat contoh. Ekstrak yang belum murni mengandung senyawa-senyawa pengotor yang akan dipisahkan seperti : terpenoid, steroid, asam lemak dan senyawa-senyawa lainnya (Harborne, 1987). Analisis sidik ragam yang disajikan Lampiran 14 menunjukkan bahwa pemberian ekstrak akar tuba pada berbagai tingkat konsentrasi berpengaruh nyata terhadap penambahan berat contoh uji.
Kepermanenan Ekstrak Akar Tuba
Kepermanenan ekstrak akar tuba dengan contoh uji yang dinyatakan dalam bentuk persen disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8 Rata-rata kepermanenan ekstrak akar tuba dengan faktor pelarut dan perlakuan konsentrasi.
Faktor Ekstraksi metanol (%) Ekstraksi kloroform (%)
0% 0,00 a 0,00 a
4% 0,19 a 0,23 a
5% 0,21 a 0,24 a
6% 0,21 a 0,25 a
Simbol yang sama berarti tidak berbeda nyata untuk faktor konsentrasi pada uji DMRT (Duncan
Multiple Range Test).
Dari Tabel 8 dapat dijelaskan bahwa ekstrak akar tuba konsentrasi 6% menunjukkan kepermanenan yang lebih tinggi. Kepermanenan ekstrak akar tuba berbanding lurus dengan konsentrasi akar tuba. Semakin tinggi konsentrasi akar tuba maka semakin tinggi persen kepermanenannya di dalam contoh uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persen kepermanenan ekstrak akar tuba terhadap contoh uji sangat rendah dikarenakan ekstrak akar tuba mudah tercuci dengan air panas. Hal ini sesuai dengan pendapat Tarumingkeng (1992) yang mengatakan bahwa bahan pengawet organik sangat mudah tercuci dengan air sehingga kepermanenannya sangat rendah.
Hubungan retensi ekstrak akar tuba ke dalam contoh uji dengan kepermanenan ekstrak akar tuba di dalam contoh uji berbanding lurus. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak akar tuba yang diberikan terhadap contoh uji maka
kepermanenan ekstrak di dalam contoh uji akan semakin tinggi. Analisis sidik ragam seperti disajikan Lampiran 17 menunjukkan bahwa pemberian ekstrak akar tuba dengan tingkat konsentrasi memberikan pengaruh nyata terhadap kepermanenan ekstrak akar tuba di dalam contoh uji.