Tinggi tanaman
Perlakuan dosis pupuk lengkap NPK 29+10+10+3 berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada 19 dan 21 MST dan perbedaan tinggi tanaman antara P0 – P5 terlihat berbeda nyata dengan kontrol hanya pada 21 MST (Tabel3).
Tabel 3 Pengaruh dosis pupuk terhadap tinggi tanaman
Tinggi Tanaman (cm) Perlk 5 MST 7 MST 9 MST 11 MST 13 MST 15 MST 17 MST 19 MST 21 MST P0 15.903a 37.415a 52.473a 61.523a 69.935a 72.610a 73.295a 74.028a 72.395b P1 15.470a 33.940a 52.320a 65.335a 76.093a 83.320a 87.225a 92.148a 96.698a P2 13.058a 31.508a 53.580a 66.515a 77.728a 84.640a 89.885a 96.240a 98.733a P3 16.960a 35.010a 52.265a 66.873a 76.058a 81.160a 87.765a 93.220a 99.895a P4 16.203a 34.240a 48.578a 60.298a 67.358a 76.230a 80.803a 85.620a 86.545a P5 9.040a 30.940a 27.520a 61.145a 69.958 76.680a 85.658a 95.453a 96.120a
Ket : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada taraf 5%.
Respon pertumbuhan tinggi tanaman jahe pada 21 MST menunjukkan P0 berbeda nyata dengan P1 – P5. Hal ini disebabkan tanaman P0 tidak menerima asupan pupuk tambahan sehingga hanya bergantung pada cadangan makanan di dalam benih rimpang. Menurut Addai dan Scott (2011), pertumbuhan tanaman dari perbanyakan vegetatif (umbi dan rimpang) dipengaruhi oleh cadangan makanan pada umbi dan rimpang tersebut, khususnya karbohidrat. Dalam proses metabolisme enzim amilase merombak karbohidrat menjadi energi yang ditransfer ke titik tumbuh digunakan untuk pertumbuhan.
Respon pertumbuhan tinggi tanaman terhadap pemupukan pada awal pertumbuhan terlihat jelas pada dosis P5, pada 5 MST tinggi tanaman 9.040 cm paling rendah di antara seluruh perlakuan tetapi meningkat drastis pada 7 MST menjadi 30.940 cm setara dengan perlakuan lain (Tabel 3). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Attoe dan Osodeke (2009), jahe merupakan tanaman yang responsif terhadap ketersediaan unsur hara N, P, dan K.
Tanaman dengan dosis pupuk P1, P2, dan P3 pada 19 dan 21 MST masih menunjukkan pertumbuhan sebanyak 2 – 6 cm, sedangkan tanaman dengan dosis pupuk P4 dan P5 hanya bertumbuh 1 cm dari 19 MST ke 21 MST. Hal ini mengindikasikan
13
adanya perlambatan kecepatan tumbuh pada tanaman jahe dosis tinggi (P4 dan P5) dan apabila diteruskan ada kemungkinan tanaman akan layu dan mengering akibat kelebihan dosis (Lampiran 4). Tinggi tanaman jahe putih menurut Xizben, et al. (2004) yaitu 70 – 90 cm. Menurut Bermawie dan Susi (2011), tinggi tanaman jahe pada umumnya mencapai 75 cm, sedangkan tinggi tanaman yang dihasilkan pada penelitian ini yaitu 72 – 99 cm pada usia 5 bulan.
Jumlah daun
Hasil analisis terhadap jumlah daun berbeda nyata terhadap kontrol sejak 13 MST (Tabel 4). Perlakuan P2 berbeda nyata terhadap kontrol pada 13 MST, tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan lainnya. Seperti hal nya tinggi tanaman, pada fase tersebut tanaman masih dapat menggunakan cadangan makanan yang terkandung di dalam rimpang. Pada 15 – 21 MST semua perlakuan berbeda nyata terhadap kontrol.
Tanaman dosis P0 mengalami gugur daun pada 17 MST sehingga jumlah daun berkurang sedangkan tanaman lain yang diberi pupuk terus mengalami pertambahan jumlah daun. Jumlah daun terbanyak terdapat pada tanaman yang diberi dosis 2 g/l (P2) yaitu sebanyak 141 daun dan yang terendah tanaman kontrol (P0) yaitu 22 daun (Tabel 4).
Tabel 4 Pengaruh dosis pupuk terhadap jumlah daun
Jumlah Daun Perlk 5 MST 7 MST 9 MST 11 MST 13 MST 15 MST 17 MST 19 MST 21 MST P0 1.000a 5.000a 9.500a 14.250a 17.500b 23.000b 22.250b 23.250b 22.500b P1 1.500a 5.250a 12.000a 24.000a 34.500ab 56.500a 77.500a 100.000a 109.000a P2 1.500a 5.250a 11.000a 25.500a 38.000a 61.000a 84.250a 114.750a 141.000a P3 1.500a 4.500a 10.250a 23.250a 32.250ab 53.000a 74.250a 103.750a 129.000a P4 1.500a 4.250a 10.500a 21.250a 32.250ab 58.750a 80.000a 108.250a 122.750a P5 0.500a 4.250a 10.000a 19.750a 30.000ab 46.000a 68.250a 93.500a 112.750a
Ket : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada taraf 5%.
Panjang daun
Perlakuan dosis pupuk tidak berbeda nyata pada 5 – 17 MST, tetapi berbeda nyata pada 19 dan 21 MST (Tabel 5). Tanaman P0 menghasilkan panjang daun terpanjang dibandingkan dengan perlakuan lain, akan tetapi daun dari tanaman yang diberi dosis P0 tersebut lebih tipis kekuningan dan mudah patah (Gambar 5).
Tabel 5 Pengaruh dosis pupuk terhadap panjang daun
Panjang Daun (cm)
Perlk 5 MST 7 MST 9 MST 11 MST 13 MST 15 MST 17 MST 19 MST 21 MST
P0 1.870a 11.315a 16.780a 18.985a 19.725a 20.233a 20.750a 21.738a 20.910a
14
Tabel 5 Pengaruh dosis pupuk terhadap panjang daun (lanjutan).
Panjang Daun (cm) Perlk 5 MST 7 MST 9 MST 11 MST 13 MST 15 MST 17 MST 19 MST 21 MST P2 1.913a 6.663a 14.788a 17.668a 19.778a 20.088a 20.190a 20.348ab 20.010ab P3 3.835a 10.033a 14.965a 17.728a 18.113a 18.648a 18.968a 19.125ab 19.060ab P4 1.910a 9.503a 14.405a 17.000a 17.303a 17.660a 18.155a 18.010b 16.748b P5 0.863a 7.133a 14.085a 16.358a 17.258a 17.715a 17.998a 17.833b 15.920b
Ket : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada taraf 5%.
Gambar 5 Daun tanaman dosis P0
Pada 19 dan 21 MST tanaman P4 dan P5 berbeda nyata terhadap kontrol tetapi tidak berbeda nyata terhadap P1, P2, dan P3. Penurunan pertumbuhan daun terjadi pada P0, P2, P3, P4 dan P5 pada 21 MST. Hal ini disebabkan oleh tanaman yang mulai mengering akibat kelebihan unsur hara yang mengakibatkan efek toksik. Respon terhadap kelebihan unsur hara terlihat lebih jelas pada P4 dan P5 yaitu berkurang sebanyak 2 cm, sedangkan pada P0, P2, P3 dan P4 hanya kurang dari 1 cm.
Tanaman dengan perlakuan 1 g/l (P1) tidak mengalami penurunan panjang daun, diduga karena dosis yang diberikan masih sesuai dengan kapasitas tanaman menyerap hara. Panjang daun jahe pada umumnya sekitar 5 – 25 cm (Bermawie dan Susi, 2011), sedangkan panjang daun yang dihasilkan pada penelitian ini yaitu 15 – 21 cm pada umur 5 bulan masih sesuai dengan kriteria standar tanaman jahe pada umumnya (Tabel 5).
Jumlah anakan
Pengaruh perlakuan pemupukan terlihat berbeda nyata pada jumlah anakan lebih awal dibandingkan dengan variabel lain. Pada 11 MST perlakuan P0 berbeda nyata dengan P1, P2, P3, dan P4 tetapi tidak berbeda nyata dengan P5. Pada 13, 15, 17, dan 19 MST P0 berbeda nyata dengan semua perlakuan sedangkan antara P1 – P4 tidak
15
berbeda nyata. Pada 21 MST perlakuan P0 tetap berbeda nyata dengan semua perlakuan, tetapi P1 berbeda nyata dengan P4 (Tabel 6).
Tabel 6 Pengaruh dosis pupuk terhadap jumlah anakan
Jumlah Anakan Perlk 5 MST 7 MST 9 MST 11 MST 13 MST 15 MST 17 MST 19 MST 21 MST P0 0.250a 0.250a 0.750a 1.000b 1.000b 1.500b 1.750b 2.250b 2.000c P1 0.250a 0.500a 2.250a 3.500a 4.750a 6.500a 7.750a 8.750a 9.000b P2 0.500a 0.500a 2.000a 3.750a 5.500a 7.000a 9.250a 10.750a 13.250ab P3 0.000a 0.250a 1.750a 3.000a 4.750a 7.000a 8.500a 10.250a 11.500ab P4 0.000a 0.750a 1.750a 3.250a 5.500a 7.000a 9.500a 12.000a 15.000a P5 0.250a 0.500a 1.250a 2.750ab 4.000a 6.250a 8.250a 10.250a 12.750ab
Ket : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada taraf 5%.
Jumlah anakan terbanyak dihasilkan oleh tanaman dengan dosis P4 yaitu 15 tunas dan terendah P0 yaitu 2 tunas anakan. Hal ini menunjukkan bahwa dosis 4 g/l mampu menghasilkan jumlah anakan terbanyak dibandingkan perlakuan lain. Menurut Sudiarto dan Gusmaini (2004) jumlah anakan jahe muda berkisar antara 4.53-9.33 anakan/tanaman. Jumlah anakan jahe muda yang dihasilkan pada penelitian ini relatif lebih tinggi dibandingkan penelitian sebelumnya. Jumlah anakan pada umumnya berkorelasi positif dengan hasil rimpang pada fase panen, semakin banyak jumlah anakan/tanaman semakin tinggi hasil rimpang (Rahardjo, 2012).
Tinggi anakan
Peubah tinggi anakan diukur dari anakan tertinggi per rumpun. Pengaruh pemupukan pada tinggi anakan berbeda nyata terhadap kontrol sejak 13 MST. Pertumbuhan tinggi anakan yang optimal dihasilkan pada perlakuan P2 yaitu 90.460 cm pada 21 MST (Tabel 7). Menurut Wasito dan Tedjasawarna (2003), pemberian pupuk yang berimbang disertai dosis yang tinggi lebih meningkatkan jumlah anakan per rumpun.
Pertumbuhan tinggi anakan pada fase awal meningkat drastis untuk P0 – P5, namun pada 13 MST pertumbuhan tinggi anakan pada P0 mulai melambat dan cenderung tidak meningkat sedangkan pada perlakuan lain tinggi anakan terus bertambah. Tanaman dengan dosis P3 belum menunjukkan adanya pertumbuhan pada 5 MST dan baru bertambah 1 cm pada 7 MST namun dapat menghasilkan tinggi anakan yang setara dengan perlakuan lain pada akhir pengamatan.
16
Tabel 7 Pengaruh dosis pupuk terhadap tinggi anakan
Tinggi Anakan (cm)
Perlk 5 MST 7 MST 9 MST 11 MST 13 MST 15 MST 17 MST 19 MST 21 MST
P0 1.045a 7.460a 12.690a 20.403a 27.695b 29.653b 31.178b 32.188b 31.430b
P1 4.115a 8.303a 22.230a 40.810a 58.745a 66.465a 72.678a 80.800a 84.420a
P2 3.275a 7.213a 15.120a 35.465a 54.258a 65.808a 73.865a 86.370a 90.460a
P3 0.000a 1.163a 11.990a 35.960a 52.600a 61.048a 66.933a 75.340a 81.150a
P4 0.813a 3.163a 13.380a 31.808a 47.888a 55.970a 60.735a 68.863a 73.940a
P5 2.020a 8.383a 19.740a 37.870a 54.800a 62.863a 71.608a 78.900a 85.760a
Ket : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada taraf 5%.
Tanaman kontrol P0 membentuk bunga pada 17 MST kemudian tanaman P1 membentuk bunga pada 21 MST (Gambar 6). Bunga jahe terbentuk karena jahe mengalami stress hara, terbukti hanya tanaman dosis P0 yang membentuk bunga, bunga jahe terbentuk langsung dari rimpang (Ajijah et al. 1997) sehingga harus segera di potong karena akan mengurangi bobot hasil rimpang (Gambar 7).
Diameter batang
Berbeda dengan variabel lainnya, variabel diameter batang tidak berbeda nyata dari awal hingga akhir pengamatan. Pengamatan diameter batang dilakukan menggunakan jangka sorong digital pada tinggi 5 cm dari pangkal batang.
Pertumbuhan diameter batang cenderung stabil sejak awal hingga akhir pengamatan, laju pertambahan rata-rata 1 mm per 2 minggu, meskipun pada 13 MST laju pertumbuhan untuk P3, P4, dan P5 mulai melambat. Tanaman kontrol dan tanaman dengan dosis pupuk rendah mengalami penurunan diameter batang pada 19 ke 21 MST. Tanaman kontrol P0 mengalami penurunan sebesar 0.5 mm sedangkan tanaman P1 dan P2 sebesar 0.1 mm (Tabel 8).
Gambar 7 Bunga mekar Gambar 6 Bunga P0 pada 17 MST
17
Tabel 8 Pengaruh dosis pupuk terhadap diameter batang
Diameter batang (mm)
Perlk 5 MST 7 MST 9 MST 11 MST 13 MST 15 MST 17 MST 19 MST 21 MST
P0 4.912a 5.660a 6.882a 7.370a 8.010a 8.235a 8.240a 8.245a 7.690a
P1 5.195a 5.968a 6.990a 7.850a 8.895a 8.895a 9.040a 9.295a 9.168a
P2 5.502a 6.380a 7.343a 8.385a 8.992a 9.147a 9.290a 9.390a 9.240a
P3 5.057a 6.048a 7.073a 7.683a 8.155a 8.385a 8.565a 8.412a 8.682a
P4 5.190a 6.005a 6.888a 7.648a 8.353a 8.637a 8.808a 8.832a 9.055a
P5 5.128a 5.920a 6.985a 7.663a 8.345a 8.620a 8.813a 9.002a 9.020a
Ket : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada taraf 5%.
Pengaruh perlakuan dosis pupuk tidak berbeda nyata terhadap diameter batang disebabkan karena pertumbuhan vegetatif tanaman masih dipengaruhi cadangan makanan yang tersimpan di dalam benih rimpang.
Kondisi Lingkungan
Penelitian dilakukan di Rumah Kaca Balittro pada bulan September 2014 – Februari 2015. Selama pengamatan dilakukan pengukuran terhadap suhu dan kelembaban ruang serta intensitas cahaya.
Suhu rata-rata tertinggi mencapai 350 C pada bulan November dan Desember, sedangkan suhu terendah 220 C pada bulan Januari dan Februari (Lampiran 1). Hal ini kurang sesuai dengan kesesuaian lingkungan tumbuh jahe menurut Rostiana, et al.
(2007), kisaran suhu optimal untuk tumbuh jahe yaitu 250 – 300 C. Menurut Xizben, et al. (2004) jahe dapat berkecambah pada suhu dibawah 200 C tetapi sangat lambat, suhu yang tepat yaitu 22-250 C, jika suhu diatas 300 C perkecambahan akan terjadi secara cepat tetapi tunasnya akan menjadi lemah. Suhu yang dibutuhkan pada masa pembibitan dan pertumbuhan awal yaitu 22- 280 C, sedangkan selama masa pembentukan rimpang suhu optimum yaitu 250 C. Menurut Rahardjo (2013), pada periode perkecambahan jahe memerlukan suhu ± 300C, namun setelah perkecambahan memerlukan suhu kurang dari 300 C. Suhu rumah kaca tertinggi selama periode perkecambahan jahe mencapai 32.750 C dan setelah perkecambahan mencapai 340 C, sedangkan suhu tertinggi pada fase akhir pengamatan (21 MST) yaitu 31.50 C dan terendah 23.250 C (Lampiran 1). Kelembaban rumah kaca minimum selama pengamatan yaitu 55% pada bulan Desember dan maksimum 97% pada bulan November dan Desember (Lampiran 1).
Intensitas cahaya berpengaruh terhadap aktivitas pertumbuhan, perubahan morfologi dan karakter fisiologis, serta aktivitas metabolisme metabolit primer dan sekunder. Apabila budidaya jahe di maksudkan untuk menghasilkan metabolit sekunder yang tinggi maka jahe ditanam dibawah naungan, dan sebaliknya apabila ingin mendapatkan produksi rimpang tinggi jahe tanpa mengindahkan bahan bioaktif maka jahe ditanam di tempat yang mendapat penyinaran penuh (Rahardjo, 2013). Pengukuran
18
intensitas cahaya di dalam rumah kaca selama periode penelitian dilakukan menggunakan light meter pada tujuh titik di setiap ulangan.
Intensitas cahaya tertinggi pada pagi, siang dan sore hari terdapat pada bulan November dan terendah pada bulan Februari. Tercatat pada beberapa hari pengamatan intensitas cahaya siang lebih rendah dibandingkan intensitas cahaya pagi, hal tersebut disebabkan perubahan cuaca yang semula cerah menjadi mendung (Lampiran 5).
Hal penting yang berkaitan dengan intensitas cahaya yaitu laju fotosintesis, konduktansi stomata, dan laju transpirasi yang berbanding lurus dengan peningkatan intensitas cahaya (Rahardjo, 2013). Laju fotosintesis pada jahe berkaitan dengan proses pembentukan metabolit primer yaitu karbohidrat dan metabolit sekunder yaitu produk bioaktif. Produk bioaktif yang terakumulasi di dalam rimpang jahe dimanfaatkan oleh manusia untuk kesehatan. Molekul-molekul bioaktif jahe di antaranya 6-gingerol, flavonoid, dan asam fenolat (Ghasemzadeh et. al, 2010).
Pengukuran kondisi media tanam derajat kemasaman (pH) dan kelembaban media (RH) dilakukan setiap satu bulan saat sebelum dan sesudah perlakuan. Pengukuran dilakukan pada dua titik yaitu 10 dan 20 cm di setiap polybag. Menurut Rahardjo (2013) kondisi pH optimal untuk tumbuh jahe berkisar antara 5.5 – 6.5. Secara umum pH pada titik 20 cm cenderung lebih asam dibanding pH pada titik 10 cm, pada masa sebelum tanam pH di titik 20 cm mencapai 4.5 yang kemudian meningkat seiring dengan perlakuan pemupukan.
Peningkatan pH media yang signifikan terjadi pada P5 (Gambar 14) sedangkan peningkatan yang tidak terlalu signifikan terjadi pada P0 (Gambar 9). Sebelum perlakuan pemupukan, dilakukan pencatatan terhadap pH air yang digunakan untuk penyiraman, tercatat pH air yaitu 6.31(Gambar 8).
19
Gambar 9 Peningkatan pH pada P0
Gambar 11 Peningkatan pH pada P2
Gambar 13 Peningkatan pH pada P4
Keterangan : P.a= titik kedalaman 10 cm sebelum perlakuan, P.a.1= titik kedalaman 10 cm sesudah perlakuan, P.b= titik kedalaman 20 cm sebelum perlakuan, P.b.1= titik kedalaman 20 cm sesudah perlakuan
Perubahan pH pada P2 (Gambar 11) dan P4 (Gambar 13) tidak terlihat berbeda antara sebelum dan sesudah perlakuan, sedangkan pada P3 (Gambar 12) pH media sebelum perlakuan pada titik 20 cm lebih tinggi dibandingkan pH media sesudah perlakuan pada titik kedalaman yang sama.
Gambar 10 Peningkatan pH pada P1
Gambar 12 Peningkatan pH pada P3
20
Secara keseluruhan pH tertinggi dan terendah sebelum perlakuan yaitu 5.55 -6.45 dan setelah perlakuan 5.67 – 6.73, sedangkan kelembaban media yang diukur sebelum perlakuan berkisar antara 86% - 100% dan setelah perlakuan kelembaban media keseluruhan yaitu 100%.
Panjang, Jumlah, Bobot Segar dan Bobot Kering Akar
Setelah tanaman berumur 21 MST dilakukan panen muda untuk mengetahui ukuran generatif tanaman yaitu akar dan rimpang, serta variabel vegetatif pasca panen yaitu bobot biomassa.
Tabel 9 Pengaruh pemupukan terhadap panjang dan jumlah akar jahe
P0 P1 P2 P3 P4 P5
Panjang akar 51.15a 40.35ab 34.63ab 36.75ab 29.28b 30.85b
Jumlah akar 11.00b 20.50ab 27.25a 14.75ab 11.25b 11.50b
Ket : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam baris yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada taraf 95%.
Panjang akar diukur dari akar terpanjang per rumpun tanaman. Panjang akar jahe pada dosis P0 berbeda nyata dengan dosis P4 dan P5 tetapi tidak berbeda nyata dengan dosis P1, P2 dan P3. Akar terpanjang terdapat pada tanaman dengan dosis P0 dan menurun bersamaan dengan penambahan dosis. Menurut Xizben, et al. (2004) akar jahe dibedakan menjadi dua yaitu akar serabut dan akar berdaging. Setelah penanaman banyak akar serabut yang tumbuh dari dasar benih yang jumlahnya terus bertambah seiring dengan pertumbuhan benih dan setiap akar memiliki banyak akar lateral lain. Akar serabut tipis, berambut dan berfungsi menyerap hara sehingga disebut juga dengan akar penyerapan. Pada fase pertumbuhan selanjutnya akar berdaging tumbuh dari benih indukan dan buku-buku utama. Akar berdaging ini memiliki ketebalan 0.5 cm dengan panjang 10-25 berwarna putih susu dan sedikit berambut.
Tanaman kontrol P0 hanya membentuk akar serabut tanpa ada akar berdaging, hal ini mengindikasikan adanya proses bertahan hidup pada tanaman dalam mencari area serapan hara, sedangkan akar tanaman P4 dan P5 terdiri atas akar serabut dan akar berdaging (Lampiran 2) yang akar terpanjangnya hanya mencapai 30.85 cm (Tabel 9), hal tersebut karena adanya asupan pupuk berlebih yang membuat tanaman tidak perlu mencari area untuk menyerap hara. Jahe memerlukan jumlah pupuk yang seimbang, apabila terjadi kelebihan pupuk, akar akan kesulitan dalam menyerap hara dan mineral karena tingginya konsentrasi ion akibatnya pertumbuhan tunas udara akan terhambat, kemampuan fotosintesis melemah dan hasil panen berkurang (Xizben, et al. 2004).
Jumlah akar per rumpun tanaman P0 berbeda nyata dengan P2. Jumlah akar terbanyak dihasilkan dari tanaman dosis P2, dan jumlah akar terendah dihasilkan tanaman dosis P0 (Tabel 9). Pemberian pupuk yang terlalu sedikit akan membentuk akar serabut dan meningkatkan panjang akar karena akar tanaman terus bergerak mencari asupan hara untuk diserap, sedangkan pemberian pupuk yang terlalu banyak akan membentuk akar berdaging.
21
Tabel 10 Pengaruh pemupukan terhadap bobot segar dan bobot kering akar (gr)
P0 P1 P2 P3 P4 P5
BS akar 19.54a 17.02a 33.41a 32.54a 9.37a 9.17a
BK akar 2.39a 3.81a 1.88a 3.94a 0.71a 0.67a
Ket : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam baris yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada taraf 5%. BS = Bobot Segar, BK = Bobot kering.
Bobot segar dan bobot kering akar tidak berbeda nyata antara dosis satu dengan yang lainnya. Hal tersebut disebabkan perbedaan bobot segar akar yang terlalu jauh antara P2 (33.41 g) dan P5 (9.17 g) serta perbedaan bobot kering akar yang tidak signifikan, namun terlihat bahwa dosis P4 dan P5 menghasilkan bobot segar dan bobot kering akar yang rendah (Tabel 10). Berdasarkan hasil penelitian Gonggo, et al. (2006) pemberian pupuk yang melebihi dosis optimal akan menurunkan efisiensi serapan hara oleh akar tanaman yang diikuti penurunan bobot akar dan bobot rimpang jahe.
Bobot Rimpang dan Bobot Biomassa
Pengaruh pemupukan berpengaruh sangat nyata terhadap hasil rimpang dan akumulasi biomassa (Tabel 11). Bobot rimpang P0 berbeda sangat nyata terhadap P1, P2, P3, dan P4 tetapi tidak berbeda nyata terhadap P5. Bobot rimpang segar jahe muda tertinggi pada tanaman P3 yaitu 134.81 g dan terendah P0 yaitu 35.66 g. Menurut Bermawie, et al. (2007) bobot rimpang/rumpun jahe putih kecil Varietas Halina-2 yaitu 371.61 g. Bobot rimpang tertinggi yang dihasilkan pada penelitian ini yaitu 134.81 g dengan masa panen muda (5 bulan) sehingga dapat diperkirakan bobot jahe putih kecil Varietas Halina-2 pada penelitian ini dapat mencapai ukuran maksimumnya pada fase panen 9 bulan (Lampiran 3).
Tabel 11 Pengaruh pemupukan terhadap bobot rimpang dan bobot biomassa (g)
P0 P1 P2 P3 P4 P5
Bobot rimpang 35.66c 109.02a 92.53ab 134.81a 89.55ab 54.87bc
BS biomass 39.79c 187.76b 244.27ab 351.05a 248.31ab 128.63bc
BK biomass 5.17c 34.73bc 45.91ab 83.06a 35.70bc 48.71ab
Ket : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam baris yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada taraf 5%. BS = Bobot Segar, BK = Bobot kering.
Bobot segar biomassa P0 berbeda nyata terhadap bobot segar biomassa P1, P2, P3, dan P4 tetapi tidak berbeda nyata terhadap P5. Terjadi kecenderungan penurunan bobot segar biomassa mulai dari P0 meningkat hingga maksimum pada P3 yaitu 351.05 g dan menurun pada P4 dan P5. Bobot terendah terdapat pada P0 yaitu 39.79 g. Menurut
Li, et al. (2010), akumulasi biomassa pada tanaman jahe fase vegetatif aktif berkorelasi
positif dengan hasil rimpang. Tanaman jahe umur 4-5 bulan sedang berada pada fase vegetatif aktif sehingga bobot biomassa lebih tinggi daripada bobot rimpang.
22
Bobot kering biomassa dihitung setelah pengeringan menggunakan oven suhu 800 C selama tiga hari, sesuai anjuran peneliti Balittro. Bobot kering biomassa P0 berbeda nyata dengan P2, P3, dan P5 tetapi tidak berbeda nyata dengan P1 dan P4. Bobot kering tertinggi pada P3 yaitu 83.06 g dan terendah pada P0 yaitu 5.17 g (Tabel 11).