• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemangkasan 1 kali 0.0 0.0 0.2 1.4 5.4 8.6 10.8 12.4 14.3 Pemangkasan 2 kali 0.0 0.2 0.3 1.4 5.6 10.0 11.5 12.9 14.3 0 Minggu 2 Minggu 4 Minggu 6 Minggu 8 Minggu 10 Minggu 12 Minggu 14 Minggu 16 Minggu

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4. 1. Hasil

4. 1.1. Pengaruh tahap pemangkasan terhadap pertumbuhan tunas bibit stek pangkas S. balangeran

4.1.1.1. Tinggi tunas bibit stek pangkas S. balangeran

Pengamatan pertumbuhan tinggi tunas bibit stek pangkas dilakukan setiap dua minggu setelah pemangkasan bibit stek di persemaian. Pertumbuhan tinggi tunas bibit stek pangkas setiap periode pengamatan dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Grafik pertumbuhan tinggi tunas bibit stek pangkas S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali

Gambar 6 memperlihatkan pola pertumbuhan tinggi tunas bibit stek pangkas S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan setelah dilakukan pemangkasan 2 kali, menunjukkan kecenderungan kenaikan tinggi tunas yang relatif sama yaitu mengalami peningkatan tinggi tunas mulai minggu ke-4 sampai minggu ke-16.

12.3 14.3 11.9 14.3 17.1 12.6 13.2 18.8 0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0 14.0 16.0 18.0 20.0 Rata-rata Rata-rata T ingg i T u na s (cm )

Rata-rata tinggi tunas bibit stek pangkas S. balangeran setiap tahap pemangkasan dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Histogram rata-rata tinggi tunas bibit stek pangkas S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali

Gambar 7 diketahui bahwa tinggi tunas bibit stek pangkas S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali berkisar antara 12,6 - 17,1

cm dengan rata - rata sebesar 14,3 cm dan setelah dilakukan pemangkasan 2 kali berkisar antara 11,9 - 18,8 cm dengan rata - rata sebesar 14,3 cm.

Contoh tunas bibit stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali dapat dilihat pada Gambar 8.

Pemangkasan 1 kali Pemangkasan 2 kali

Gambar 8.Tunas bibit stek pangkas S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali

1 2 3 1 2 3

Pemangkasan 2 kali Pemangkasan 1 kali

Ulangan Ulangan

Gambar 8 menunjukkan bahwa tinggi tunas bibit stek pangkas S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali menunjukkan pertumbuhan tunas yang baik dengan tinggi rata-rata sama sebesar 14,3 cm dan layak dijadikan sebagai bahan stek. Hal ini sesuai dengan pendapat Yasman dan Smits (1988) dan Wudianto (1993), bahan stek untuk jenis - jenis Dipterocarpaceae umumya mempunyai kriteria yang baik adalah tunas yang tumbuh vertikal, sedikit berkayu, tinggi stek ± 10 cm, mempunyai 2 – 3 nodum dan sudah memiliki 2 - 3 helai daun.

Hasil uji kenormalan galat untuk data tinggi tunas bibit stek pangkas dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Grafik uji kenormalan galat untuk data tinggi tunas bibit pangkas S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali

Gambar 9 menunjukkan bahwa data tinggi tunas bibit stek pangkas S. balangeran mengikuti sebaran normal karena nilai P = 0,062 lebih besar dari α = 0,05.

Sidik ragam pengaruh tahap pemangkasan terhadap tinggi tunas bibit pangkas S. balangeran dapat dilihat pada Tabel 1.

0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 Periode Pengamatan J um la h tu na s ( b u ah ) Pemangkasan 1 kali 0.0 0.3 1.2 2.7 3.7 3.9 4.2 4.1 4.1 Pemangkasan 2 kali 0.0 1.2 1.8 3.5 4.1 4.2 5.0 5.1 5.1 0 Minggu 2 Minggu 4 Minggu 6 Minggu 8 Minggu 10 Minggu 12 Minggu 14 Minggu 16 Minggu

Tabel 1. Sidik ragam pengaruh tahap pemangkasan terhadap tinggi tunas bibit stek pangkas S. balangeran

Sumber keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Tengah Kuadrat

Tengah F- hitung P-value Pemangkasan 1 0,00167 0,00167 0,0002ns 0,99

Galat 4 41,94667 10,48667

Total 5 41,94833

Keterangan : ns = Tidak berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95%

Tabel 1 menunjukkan bahwa tahap pemangkasan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tunas bibit stek pangkas S. balangeran pada tingkat kepercayaan 95 %. Hal ini dapat dilihat dari nilai P lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,99.

4.1.1.2. Jumlah tunas bibit stek pangkas S. balangeran

Perkembangan jumlah tunas bibit stek pangkas S. balangeran setiap periode pengamatan dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10. Grafik perkembangan jumlah tunas bibit stek pangkas S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali

4.9 4.1 4.9 5.1 4.4 4.2 3.8 5.5 0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 Rata-rata Rata-rata J um la h T u na s ( b u ah )

Gambar 10 memperlihatkan bahwa perkembangan jumlah tunas bibit stek pangkas S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 2 kali menunjukkan jumlah tunas yang lebih banyak dibanding setelah dilakukan pemangkasan 1 kali.

Rata - rata jumlah tunas bibit stek pangkas S. balangeran setiap tahap pemangkasan dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11. Histogram rata - rata jumlah tunas bibit stek pangkas S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali

Gambar 11 diketahui bahwa rata - rata jumlah tunas bibit stek pangkas setelah dilakukan pemangkasan 1 kali berkisar antara 3,8 - 4,4 buah dengan rata - rata umum sebesar 4,1 buah dan setelah dilakukan pemangkasan 2 kali berkisar antara 4,9 - 5,5 buah dengan rata – rata umum sebesar 5,1 buah.

Hasil uji kenormalan galat untuk data jumlah tunas bibit stek pangkas dapat dilihat pada Gambar 12.

1 2 3 1 2 3

Pemangkasan 1 kali Pemangkasan 2 kali

Gambar 12. Grafik uji kenormalan galat untuk data jumlah tunas bibit pangkas S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali

Gambar 12 menunjukkan bahwa data jumlah tunas bibit stek pangkas S. balangeran mengikuti sebaran normal karena nilai P = 0,150 lebih besar dari α = 0,05.

Sidik ragam pengaruh tahap pemangkasan terhadap jumlah tunas bibit pangkas S. balangeran dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Sidik ragam pengaruh tahap pemangkasan terhadap jumlah tunas bibit stek pangkas S. balangeran

Sumber Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Tengah Kuadrat

Tengah F- hitung P -value Pemangkasan 1 1,40167 1,40167 13.14* 0,022

Galat 4 0,42666 0,10666

Total 5 1,82833

Keterangan : * = berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95%

Tabel 2 menunjukkan bahwa tahap pemangkasan memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah tunas bibit stek pangkas S. balangeran pada tingkat kepercayaan 95%. Hal ini dapat dilihat dari nilai P lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,022.

60.0 51.1 53.9 53.3 60.0 46.7 62.2 28.9 51.1 57.8 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 Rata-rata Rata-rata P er s en be ra k ar st e k ( % )

Hasil uji Duncan pengaruh tahap pemangkasan terhadap jumlah tunas bibit stek pangkas dapat dilhat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil uji Duncan pengaruh tahap pemangkasan terhadap jumlah tunas bibit stek pangkas S. balangeran

Perlakuan Rata-rata jumlah tunas

Pemangkasan 1 kali 4.1 A Pemangkasan 2 kali 5.1 B Keterangan: Rata - rata sekolom diikuti huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata

pada tingkat kepercayaan 95%

Tabel 3 memperlihatkan bahwa setelah dilakukan pemangkasan 2 kali bibit stek pangkas S. balangeran mampu memproduksi jumlah tunas yang lebih banyak (5,1 buah) dibanding setelah dilakukan pemangkasan 1 kali (4,1 buah).

4. 1. 2. Pengaruh tahap pemangkasan terhadap kemampuan berakar stek S. balangeran

4.1.2.1. Persen berakar stek S. balangeran

Rata – rata persen berakar stek S. balangeran setiap tahap pemangkasan dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13. Histogram rata - rata persen berakar stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali

1 2 3 4 1 2 3 4

Pemangkasan 1 kali Pemangkasan 2 kali

Gambar 13 diketahui bahwa persen barakar stek S. balangeran setelah pemangkasan 1 kali berkisar antara 28,9 – 62,2 % dengan rata - rata sebesar 51,1% dan setelah pemangkasan 2 kali berkisar antara 46,7 – 60,0% dengan rata - rata sebesar 53,9%.

Hasil uji kenormalan galat untuk data persen berakar stek S. balangeran dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14. Grafik uji kenormalan galat untuk data persen berakar stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali

Gambar 14 menunjukkan bahwa data persen berakar stek S. balangeran mengikuti sebaran normal karena nilai P = 0,150 lebih besar dari α = 0,05.

Sidik ragam pengaruh tahap pemangkasan terhadap persen berakar stek S. balangeran dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Sidik ragam pengaruh tahap pemangkasan terhadap persen berakar stek S. balangeran Sumber keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Tengah Kuadrat

Tengah F- hitung P- value Perlakuan 1 15,68000 15,68000 0,12ns 0,75

Galat 6 812,20000 135,36667 Total 7 827,88000

Tabel 4 menunjukkan bahwa tahap pemangkasan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persen berakar stek S. balangeran pada tingkat kepercayaan 95%. Hal ini dapat dilihat dari nilai P lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,75.

Keberhasilan stek S. balangeran membentuk akar setiap tahap pemangkasan dapat dilihat pada Gambar 15.

Gambar 15.a Gambar 15.

Gambar 15. Keberhasilan stek S. balangeran dalam membentuk akar

Keterangan :15. a: Penampang akar stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali 15. b: Penampang akar stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 2 kali

Gambar 15 memperlihatkan bahwa stek S. balangeran masing –masing tahap pemangkasan memiliki kemampuan yang sama dalam membentuk perakaran stek, sehingga kedua asal bibit stek tersebut masih layak digunakan sebagai bahan stek. Lebih lanjut menurut Hartmann dan Kester (1983) menyatakan bahwa tingkat keberhasilan pembiakan tanaman dengan stek sangat bergantung pada kemampuan tanaman untuk dapat menghasilkan sistem perakaran baru.

4.1.2.2. Panjang akar stek S. balangeran

Rata panjang akar stek S. balangeran setiap tahap pemangkasan dapat dilihat pada gambar 16.

9.9 8.6 8.9 8.6 8.6 7.8 7.7 9.4 6.8 10.9 0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0 Rata-rata Rata-rata P an jan g a k ar st e k (c m)

Gambar 16. Histogram rata - rata panjang akar stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali

Gambar 16 menunjukkan bahwa panjang akar stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali berkisar antara 7,7 – 9,4 cm dengan rata - rata sebesar 8,6 cm dan setelah dilakukan pemangkasan 2 kali berkisar antara 6,8–10,9 cm dengan rata - rata sebesar 8,9 cm.

Hasil uji kenormalan galat untuk data panjang akar stek S. balangeran dapat dilihat pada Gambar 17.

Gambar 17. Grafik uji kenormalan galat untuk data panjang akar stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali

Pemangkasan 2 kali Pemangkasan 1 kali

1 2 3 4 1 2 3 4 Ulangan Ulangan

0.062 0.068 0.069 0.064 0.149 0.076 0.077 0.065 0.068 0.090 0.000 0.020 0.040 0.060 0.080 0.100 0.120 0.140 0.160 0.180 0.200 rata-rata rata-rata B er a t k er ing a k ar st e k ( gr a m)

Gambar 17 menunjukkan bahwa data panjang akar stek S. balangeran mengikuti sebaran normal karena nilai P = 0,150 lebih besar dari α = 0,05.

Sidik ragam pengaruh tahap pemangkasan terhadap panjang akar stek S. balangeran dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Sidik ragam pengaruh tahap pemangkasan terhadap panjang akar stek S. balangeran Sumber keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Tengah Kuadrat

Tengah F -hitung P - value Perlakuan 1 0,15125 0,15125 0,08ns 0,79

Galat 6 12,05750 2,00958

Total 7 12,20875 Keterangan : ns = Tidak berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95%

Tabel 5 menunjukkan bahwa tahap pemangkasan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang akar stek S. balangeran pada tingkat kepercayaan 95%. Hal ini dapat dilihat dari nilai P lebih besar dari 0,05 sebesar 0,79.

4.1.2.3. Berat kering akar stek S. balangeran

Rata-rata berat kering akar stek S. balangeran setiap tahap pemangkasan dapat dilihat pada Gambar 18.

Gambar 18. Histogram rata - rata berat kering akar stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali

Pemangkasan 2 kali Pemangkasan 1 kali 3 4 1 2 3 4 2 1 Ulangan Ulangan

Gambar 18 diketahui bahwa berat kering akar stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali berkisar antara 0,064 – 0,149 g dengan rata - rata sebesar 0,090 g dan setelah dilakukan pemangkasan 2 kali berkisar antara 0,062 -0,076 g dengan rata – rata sebesar 0,068 g.

Hasil uji kenormalan galat untuk data berat kering akar stek S. balangeran dapat dilihat pada Gambar 19.

Gambar 19. Grafik uji kenormalan galat untuk data berat kering akar stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali.

Gambar 19 menunjukkan bahwa data berat kering stek S. balangeran mengikuti sebaran normal karena nilai P = 0,122 lebih besar dari α = 0,05.

Sidik ragam pengaruh tahap pemangkasan terhadap berat kering akar stek S. balangeran disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Sidik ragam pengaruh tahap pemangkasan terhadap berat kering akar stek S. balangeran Sumber keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Tengah Kuadrat

Tengah F- hitung P -value Pemangkasan 1 0,0009245 0,0009245 1,13ns 0,33

Galat 6 0,0049190 0,0008198

Total 7 0,0058435 Keterangan : ns = Tidak berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95%

Tabel 6 menunjukkan bahwa tahap pemangkasan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat kering akar stek S. balangeran pada tingkat kepercayaan 95%. Hal ini dapat dilihat dari nilai P lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,33.

4. 2. Pembahasan

4. 2. 1. Pengaruh tahap pemangkasan terhadap pertumbuhan tunas bibit stek pangkas S. balangeran

Hasil pengukuran tinggi tunas bibit stek pangkas dan penghitungan jumlah

tunas bibit stek pangkas S. balangeran sampai dengan akhir penelitian (16 minggu) di lokasi persemaian, secara keseluruhan nampak bahwa bibit stek

jenis S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan menunjukkan kemampuan bertunas yang baik, dimana rata – rata tinggi tunas bibit stek pangkas setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali adalah sama yaitu 14,3 cm. Sementara rata - rata jumlah tunas bibit stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali adalah masing - masing sebesar 4,1 buah dan 5,1 buah.Hal inilah yang mengindikasikan bahwa pertumbuhan tunas bibit stek setelah pemangkasan 2 kali jenis S. balangeran mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan lagi sebagai bahan stek tahap berikutnya. Hal ini karena secara visual tunas yang dihasilkan kedua tahap pemangkasan tersebut memiliki

persamaan meliputi kondisi daun yang segar, banyak nodum dan tinggi lebih dari 10 cm (Gambar 8). Yasman dan Smith (1988) mengungkapkan bahwa

pengambilan bahan stek jenis - jenis Dipterocarpaceae dengan cara memangkas ujung tunas - tunas orthotrop yang memiliki tinggi minimal 10 cm. Selanjutnya, Subiakto et al. (2001) menyatakan bahwa setelah dilakukan pemangkasan bibit stek S. selanica telah berhasil menumbuhkan tunas - tunas baru dengan rata - rata tinggi sebesar 15,8 cm dalam waktu 16 minggu dan dapat dijadikan sebagai bahan stek dengan menyisakan minimal dua helai daun dan 2 nodum.

4.2.1.1. Tinggi tunas bibit stek pangkas S. balangeran

Hasil sidik ragam (Tabel 1) menunjukkan bahwa tahap pemangkasan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tunas bibit stek pangkas S. balangeran, dimana rata-rata tinggi tunas setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali adalah sama sebesar 14,3 cm. Pada kondisi seperti ini, pengaruh

kedua tahap pemangkasan terhadap tinggi tunas bibit stek pangkas S. balangeran adalah sama.

Perlakuan tahap pemangkasan tidak berpengaruh nyata diduga oleh umur bibit stek S. balangeran. Bibit stek S. balangeran digunakan adalah bibit stek untuk pemangkasan 1 kali berumur 12 bulan dan pemangkasan 2 kali berumur 18 bulan masih mempunyai tingkat juvenilitas yang sama. Menurut Yasman dan Smith (1988), umur bahan tanaman Dipterocarpaceae kurang lebih satu tahun dan maksimal umur 5 tahun masih mempunyai sifat juvenil. Sementara Sakai dan Subiakto (2007) mengungkapkan bahwa bahan tanaman yang baik dalam penyediaan stek meranti adalah tunas orthotrop yang masih bersifat juvenil sampai dengan umur 4 tahun.

4.2.1.2. Jumlah tunas bibit stek pangkas S. balangeran

Hasil sidik ragam (Tabel 2) menunjukkan bahwa perlakuan tahap pemangkasan memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah tunas bibit stek pangkas S. balangeran, dimana pada bibit stek setelah dilakukan pemangkasan 2 kali mampu memproduksi jumlah tunas orthotrop yang lebih banyak (5,1 buah) dibanding setelah dilakukan pemangkasan 1 kali (4,1 buah).

Perlakuan tahap pemangkasan berpengaruh nyata, diduga berkaitan dengan faktor kandungan cadangan karbohidrat dan tunas–tunas yang dorman.

Faktor kandungan cadangan karbohidrat, dimana bibit stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 2 kali telah tersedia cadangan karbohidrat yang cukup banyak dibanding dengan pemangkasan 1 kali. Hal inilah yang sering kali pada bibit stek setelah pemangkasan 2 kali dijumpai dalam satu nodum terdapat dua tunas (Gambar 21.b) dibanding bibit stek S. balangeran yang dilakukan pemangkasan satu kali yang hanya satu tunas dalam satu nodum (Gambar 21.a). Hartmann dan Kester (1983) menyatakan bahwa dengan persediaan cadangan karbohidrat yang cukup banyak, bahan tanaman yang telah dilakukan pemangkasan akan berpotensi menghasilkan jumlah tunas baru lebih banyak pula. Faktor tunas yang dorman berkaitan dengan kandungan auksin tanaman S. balangeran. Kusumo (1984) menyatakan bahwa pemangkasan bahan tanaman berguna untuk merangsang tumbuhnya tunas - tunas baru yang semula dalam keadaan dorman. Sementara menurut Purbiati dan Yuniastuti (2001), tunas yang

dorman berkaitan dengan kandungan cadangan auksin tanaman, dimana kandungan cadangan kadar auksin yang tinggi akan lebih mudah memunculkan tunas lebih banyak bila dibandingkan dengan kadar auksin yang rendah yang selalu lebih sedikit.

Lebih jelasnya tentang kondisi tumbuhnya tunas S. balangeran pada setiap tahap pemangkasan dapat dilihat pada Gambar 20.

Gambar 20. Posisi tunas yang muncul pada bibit stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali.

Keterangan: 20.a. Bibit stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 1 kali pada setiap nodum selalu dijumpai satu tunas yang tumbuh.

20.b. Bibit stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan 2 kali dijumpai satu nodum dijumpai dua tunas yang tumbuh.

4.2.2. Pengaruh tahap pemangkasan terhadap kemampuan berakar stek S. balangeran

Hartmann dan Kester (1983) menyatakan bahwa tingkat keberhasilan pembiakan vegetatif tanaman melalui stek sangat bergantung pada kemampuan 20. b 20. a

untuk menghasilkan sistem perakaran baru. Sistem perakaran baru merupakan modal awal pertumbuhan stek yang berfungsi sebagai penyerap unsur hara dan air, sehingga sangat diperlukan dalam proses fisiologis sampai menjadi tanaman sempurna. Sebaliknya, stek yang telah menghasilkan tunas tanpa diikuti pertumbuhan akar, maka dipastikan hidup stek tersebut tidak dapat bertahan lama karena kehabisan cadangan makanan. Rochiman dan Harjadi (1973) menyatakan bahwa keberhasilan proses perakaran stek terbagi dalam 2 faktor yaitu faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (eksternal). Faktor internal meliputi umur bahan stek, jenis tanaman dan cadangan makanan (karbohidrat). Faktor eksternal yaitu suhu, kelembaban, media dan pemberian zat pengatur tumbuh.

Parameter–parameter yang digunakan untuk mengetahui kemampuan berakar stek S. balangeran di rumah kaca KOFFCO selama periode pengamatan 14 minggu, meliputi persen berakar stek, panjang akar stek dan berat kering akar stek. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa tahap pemangkasan terhadap persen berakar stek, panjang akar stek dan berat kering akar stek tidak memberikan pengaruh nyata. Pada kondisi seperti ini berarti perlakuan tahap pemangkasan 1 kali ataupun 2 kali mampu menghasilkan stek dengan kemampuan berakar stek S .balangeran yang relatif sama. Dengan demikian, bahan stek S. balangeran dapat diperoleh bibit stek dari pemangkasan ke-2.

4.2.2.1. Persen berakar stek S. balangeran

Pada akhir periode pengamatan (14 minggu), perlakuan dengan tahap pemangkasan 1 kali dan 2 kali menghasilkan persen berakar stek S. balangeran adalah masing - masing sebesar 51,1% dan 53,9%. Sedangkan sisanya, stek S. balangeran sebagian besar baru berhasil mencapai tahap menumbuhkan kalus dengan kondisi daun yang masih segar dan bertunas. Apabila kondisi stek S. balangeran tersebut diperpanjang periode pengamatan dan didukung oleh faktor lingkungan yang optimal maka akan didapatkan persen berakar steknya lebih tinggi. Menurut Sakai dan Subiakto (2007), penelitian stek meranti di Bogor menunjukkan stek S. balangeran selama 4 bulan terbukti menghasilkan persen berakar stek sebesar 70,7 % sedangkan di Samarinda menghasilkan persen berakar stek sebesar 91,3 %.

Hasil sidik ragam (Tabel 4), menunjukkan bahwa tahap pemangkasan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persen berakar stek S. balangeran. Hal ini berarti bahwa ada kesamaan persen berakar stek S. balangeran antara perlakuan tahap pemangkasan 1 kali dan 2 kali. Perlakuan tahap pemangkasan tidak berbeda nyata diduga oleh faktor jenis tanaman dan faktor pemberian zat pengatur tumbuh (Rootone-F).

Faktor jenis tanaman diketahui bahwa tanaman S. balangeran merupakan salah satu jenis Dipterocarpaceae yang pertumbuhan akar steknya lambat, karena selama 14 minggu setelah tanam, persen berakar stek hanya mencapai 51 - 53,9 %. Kusumo (1984) menyebutkan bahwa keberhasilan stek sangat ditentukan oleh jenis spesies yang digunakan, ada spesies yang mudah berakar cukup dengan air saja, tetapi banyak juga yang susah berakar meskipun dengan perlakuan khusus. Sementara Anonim (1991) mengungkapkan bahwa S. montigena merupakan jenis tanaman yang lambat proses perakarannya bila dibandingkan dengan S. polyandra yang dalam jangka waktu 7-8 minggu dapat berakar mencapai 90 persen dengan memakai media perakaran dan hormon yang sama.

Faktor pemberian konsentrasi zat pengatur, dimana kedua tahap pemangkasan tersebut masing-masing stek S. balangeran diberi dosis Rootone-F 100 mg/stek. Pemberian zat pengatur tumbuh (Rootone-F) yang dilakukan telah berhasil merangsang stek S. balangeran walaupun pada akhir pengamatan ada beberapa stek baru sampai tahap pembentukan kalus di dalam rumah kaca KOFFCO. Hal ini disebabkan zat Rootone–F memiliki kekuatan menembus dinding sel yang selanjutnya merangsang stek S. balangeran untuk membentuk akar. Menurut Heddy (1986), senyawa Rootone-F dapat memasuki dinding sel dengan baik sehingga merangsang berlangsungnya pembentukkan kalus, primordia akar dan akar. Dari hasil penelitian Hidayat et al. (2007), pemberian dosis Rootone-F yang sama pada jenis H. odorata menghasilkan persen berakar berakar stek diatas 92%. Sementara menurut Nasrun et al. (2001) dalam penelitian juga pada jenis S. javanica mampu menghasilkan persen berakar stek sebesar 94,4%.

4.2.2.2. Panjang akar stek S. balangeran

Hasil sidik ragam (Tabel 5) menunjukkan bahwa tahap pemangkasan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang akar stek S. balangeran, dimana rata–rata panjang akar stek setelah dilakukan pemangkasan 1 kali dan 2 kali adalah berturut-turut sebesar 8,6 dan 8,9 cm. Hal ini menunjukkan adanya kesamaan antara panjang akar stek S. balangeran baik terhadap pemangkasan 1 kali dan 2 kali.

Tidak berbengaruh nyata perlakuan tahap pemangkasan terhadap panjang akar stek S. balangeran diduga oleh faktor umur bahan stek, dimana bahan stek (tunas) pemangkasan 1 kali berasal dari bibit stek berumur 12 bulan dan pemangkasan 2 kali berasal dari bibit stek yang berumur 18 bulan masih bersifat juvenilitas. Menurut Diana et al. (1988), umur bahan stek tanaman masih bersifat juvenilitas untuk jenis-jenis Dipterocarpaceae berumur kurang dua tahun, karena stek dengan berbahan stek juvenil memiliki sel dalam jaringan yang senantiasa aktif membelah dan cukup banyak cadangan makanannya.

4.2.2.3. Berat kering akar stek S. balangeran

Berat kering akar stek merupakan salah satu indikator yang menunjukkan tingkat pertumbuhan stek. Dari hasil sidik ragam (Tabel 6), tahap pemangkasan

tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat kering akar stek S. balangeran, dimana rata-rata berat kering akar stek terhadap pemangkasan 1

kali sebesar 0,090 gram dan pemangkasan 2 kali sebesar 0,068 gram. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh tahap pemangkasan relatif sama terhadap berat kering akar stek S. balangeran.

Tidak berpengaruh nyata tahap pemangkasan terhadap berat kering akar stek diduga yaitu pemotongan bahan stek S. balangeran yang dilakukan tepat atau sedikit dibagian yang disebut nodum (Gambar 21). Yasman dan Smith (1988) mengungkapkan bahwa dengan pemangkasan bahan stek Dipterocarpacae yang tepat atau sedikit dibawah nodum lebih disebabkan cadangan karbohidrat di bagian nodum cukup banyak untuk pertumbuhan akar stek, dimana awal terbentuknya akar dimulai adanya proses metabolisme yang berupa karbohidrat yang menghasilkan energi dan selanjutnya mendorong pembelahan sel dan membentuk sel-sel baru dalam jaringan. Sementara menurut Wudianto (1993),

karbohidrat merupakan bahan dasar pembentukan akar sehingga stek yang diambil dekat nodum memberi kesempatan lebih besar dibanding stek dari bagian tengah atau jauh dari nodum.

Lebih jelasnya tentang pemotongan bahan stek S. balangeran dan penampang akar stek dapat dilihat pada Gambar 21.

Gambar 21.a Gambar 21. b

Gambar 21. Penampang stek S. balangeran dalam peningkatan biomassa akar

Dokumen terkait