3. 1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam (P3H&KA) Bogor, Jawa Barat, pada bulan Februari 2007 sampai dengan bulan Mei 2007.
3. 2. Bahan dan Alat
Bahan penelitian yang digunakan adalah bibit stek S. balangeran berumur 12 bulan dan 18 bulan masing - masing sebanyak 135 bibit, insektisida, Rootone-F, media sekam padi dan media serbuk kulit kelapa.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian antara lain: gunting stek, cawan petri, pot-tray, gembor atau selang air, penggaris, ember, sprayer, oven, timbangan analitik, rak pembiakan, sungkup propagasi, kertas label, spidol dan alat tulis.
3. 3. Metode Penelitian
3.3.1. Pengaruh tahap pemangkasan terhadap pertumbuhan tunas bibit stek pangkas S. balangeran
Metode kerja untuk mengetahui pengaruh tahap pemangkasan bibit stek S. balangeran terhadap petumbuhan tunas adalah sebagai berikut :
1. Pemilihan bibit stek
Bibit balangeran berasal dari bibit stek yang belum pernah dilakukan pemangkasan berumur 12 bulan dan bibit stek yang pernah 1 kali dilakukan pangkas berumur 18 bulan. Bibit yang dipilih adalah yang segar, kokoh, seragam, tidak terserang hama dan penyakit dan tingginya ± 50 cm. Jumlah bibit stek yang diperlukan adalah sebanyak 270 bibit. Kemudian bibit stek terseleksi ditempatkan di persemaian. Hasil pemilihan bibit stek dapat dilihat pada Gambar 3.a.
2. Pemangkasan bibit stek
Pemangkasan dilakukan pada bibit stek terseleksi dengan menyisakan minimal 2-3 helai daun yang segar dan sehat agar dapat mencegah kematian pada bibit tersebut. Gambar berikut menunjukkan keadaan bibit stek S. balangeran di
lokasi persemaian. Keadaan bibit stek setelah pemangkasan dapat dilihat pada Gambar 3.b.
Gambar 3.a Gambar 3.b Gambar 3. Keadaan bibit stek S. balangeran di lokasi persemaian
Keterangan: 3.a: Bibit stek S. balangeran dari hasil pemilihan sebagai bahan stek sebelum dilakukan pemangkasan.
3.b: Kondisi bibit stek S. balangeran setelah dilakukan pemangkasan. 3. Pemeliharaan bibit stek pangkas
a. Penyiraman
Penyiraman bibit stek pangkas dilakukan setiap hari dengan intentitas 2 kali (pagi dan sore)
b. Penyiangan
Penyiangan dilakukan 1 bulan sekali dengan membersihkan gulma dan tanaman pengganggu lainnya yang tumbuh di dalam media atau sekitar tanaman.
c. Pemupukan
Pemupukan dilakukan 1 minggu sekali untuk menambah nutrisi yang diperlukan oleh bibit stek pangkas. Pupuk yang digunakan vitabloom dengan dosis 10 g/ 8 l air.
d. Pencegahan serangan hama
Pencegahan serangan hama dilakukan 1 minggu sekali pada bibit stek pangkas dengan menggunakan insektisida (regent) dengan dosis 1,5 ml/1 l air.
3.3.2. Pengaruh tahap pemangkasan terhadap kemampuan berakar stek S. balangeran
Metode kerja untuk mengetahui pengaruh tahap pemangkasan terhadap kemampuan berakar stek S. balangeran adalah sebagai berikut :
1. Persiapan media tumbuh stek
Media yang digunakan adalah campuran media serbuk kulit kelapa dan sekam padi dengan perbandingannya 2 : 1. Campuran kedua media tersebut diaduk secara merata kemudian dimasukan ke dalam ember dan direndam dengan air sampai jenuh (Gambar 3.a), setelah itu dimasukkan ke dalam pot-tray pembiakan (Gambar 3.b). Gambar berikut mununjukkan kondisi pencampuran media stek S. balangeran.
Gambar 3.a Gambar 3. b Gambar 2. Kondisi pencampuran media tumbuh stek S. balangeran
Keterangan: 3.a: Media pencampuran sabut kulit kelapa dan sekam padi di tempatkan pada ember dengan perbandingan 2:1 dilakukan perendaman air.
3.b: Media tumbuh stek setelah dimasukkan ke dalam potray sungkup pembiakan
2. Pemotongan bahan stek
Bahan stek S. balangeran diambil dari tunas orthotrop. Pemotongan bahan stek tersebut menggunakan gunting stek yang tajam dan dilakukan tepat atau sedikit pada bagian yang disebut nodum (ketiak daun). Pada potongan bahan stek disisakan 2-3 helai daun kemudian dipotong 1/3 atau 1/2 bagian (Gambar 4.b).
Bentuk pemotongan dibuat miring 450. Bahan stek yang telah terpotong daunnya itu kemudian direndam dalam ember plastik yang berisi air bersih dan hindarilah dari sengatan sinar matahari secara langsung. Gambar berikut menunjukkan metode pemotongan bahan stek S. balangeran.
Gambar 4.a Gambar 4.b Gambar 4. Metode pemotongan bahan stek S. balangeran Keterangan: 4.a:Bahan stek S. balangeran sebelum pemotongan
4.b:Bahan stek S. balangeran setelah dilakukan pemotongan
3. Pemberian Zat Pengatur Tumbuh
Zat pengatur tumbuh yang digunakan adalah Rootone–F dengan dosis 100 mg/stek dilakukan dengan sistem oles yaitu dengan mengoleskan pada bagian bawah stek yang terluka.
4. Penanaman stek
Sebelum stek ditanam, terlebih dahulu dibuat lubang dengan menggunakan batang kayu atau bahan lain dengan cara menusuknya pada media stek perakaran. Hal ini dimaksudkan agar zat pengatur tumbuh yang menempel pada pangkal stek tidak akan pindah/hilang dan menempel pada media stek. Selanjutnya menekan dengan ibu jari untuk memadatkan dengan maksud agar stek setelah ditanam tidak goyang karena gerakan angin atau sewaktu melakukan penyiraman.
Setelah pot-tray tertanam seluruhnya, stek disiram dengan air secukupnya. Untuk menghindari air yang berlebihan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan gembor. Selanjutnya pot-tray ditempatkan pada sungkup propagasi ditutup rapat di dalam rumah kaca dengan sistem KOFFCO. Di dasar sungkup propagasi diberi zeolit berfungsi sebagai insulasi agar udara tidak dapat keluar masuk melalui lubang dan sebagai saluran pembuangan air siraman.
5. Pemeliharaan stek
Kegiatan pemeliharaan stek adalah sebagai berikut: a. Penyiraman
Tahap penyiraman dilakukan berdasarkan umur stek yaitu 2 kali per minggu untuk umur stek 1 minggu, 1 kali per minggu untuk umur stek 3- 4 minggu dan 1 kali per bulan untuk umur stek 2 – 3 bulan. Penyiraman menggunakan mesin pompa yang dihubungkan dengan selang air. Agar hasil siraman menghasilkan butiran-butiran air halus maka ujung selang ditekan/dimampatkan dengan jari tangan. Lebih jelasnya mengenai ilustrasi jadwal penyiraman dapat dilihat Tabel 3.
Tabel 3. Jadwal penyiraman stek S. balangeran
Penyiraman Tanggal ke-1 7 Februari 2007 ke-2 9 Februari 2007 ke-3 16 Februari 2007 ke-4 23 Februari 2007 ke-5 2 Maret 2007 ke-6 9 Maret 2007 ke-7 10 April 2007 ke-8 2 Mei 2007
Pada Tabel 3 menggambarkan serangkaian kegiatan penyiraman stek, walaupun demikian kegiatan pengecekan stek S. balangeran tetap dilakukan setiap hari, hal itu dilakukan untuk mengantisipasi apabila media stek kering maka perlu disiram atau sebaliknya bila media masih terlampau basah, maka meskipun dijadwalkan untuk disiram melihat kondisi seperti itu maka tidak dilakukan penyiraman
dengan intensitas air yang banyak, karena semakin basah menyebabkan media jenuh yang akan mengakibatkan terjadi akar busuk.
b. Penyiangan
Penyiangan dilakukan setiap bulan sekali dengan mencabut gulma dan membuang daun - daun stek yang kering dan stek yang mati sekitar sungkup propagasi stek.
3. 4. Pengamatan Parameter
3.4.1. Pengaruh tahap pemangkasan terhadap pertumbuhan tunas bibit stek pangkas S. balangeran
Parameter yang diamati untuk mengetahui pengaruh tahap pemangkasan terhadap pertumbuhan tunas bibit stek pangkas S. balangeran adalah sebagai berikut:
a) Tinggi tunas bibit stek pangkas
Pengukuran tinggi tunas bibit stek pangkas dilakukan setiap 2 minggu setelah dilakukan pemangkasan. Tinggi tunas bibit stek pangkas diukur dari tempat munculnya tunas pada batang bibit stek pangkas sampai dengan titik ujung tunas. Agar diperoleh data pertumbuhan tunas yang optimal pada masing-masing bibit stek yang dipangkas dipilih tunas bibit stek pangkas yang tertinggi.
b) Jumlah tunas bibit stek pangkas
Penghitungan jumlah tunas bibit stek pangkas dilakukan setiap 2 minggu setelah dilakukan pemangkasan bibit stek. Jumlah tunas dihitung adalah tunas yang muncul pada batang bibit stek pangkas dan diberi tanda agar memudahkan dalam proses penghitungan jumlah tunas bibit stek pangkas setiap periode pengamatan.
3.4.2. Pengaruh tahap pemangkasan terhadap kemampuan berakar stek S. balangeran
Parameter yang diamati untuk mengetahui pengaruh tahap pemangkasan terhadap kemampuan berakar stek S. balangeran adalah sebagai berikut:
a) Persen berakar stek
% 100 X penelitian awal pada Stek penelitian akhir sampai berakar Stek stek berakar Persen
∑∑
=b) Panjang akar stek
Panjang akar stek yang diukur adalah akar yang terpanjang yang tumbuh pada pangkal sampai dengan titik ujung akar dengan tujuan untuk memperoleh data panjang akar stek yang optimal dari masing-masing stek yang berakar.
c) Berat kering akar stek
Berat kering akar stek dilakukan pada akhir penelitian dengan cara menimbang akar stek S. balangeran yang telah dikeringkan dalam oven pada suhu 750C selama 72 jam.
3. 5. Rancangan Percobaan
3.5.1. Pengaruh tahap pemangkasan terhadap pertumbuhan tunas bibit stek pangkas S. balangeran
Penelitian untuk mengetahui pengaruh tahap pemangkasan terhadap pertumbuhan tunas bibit stek pangkas S. balangeran dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (Randomized Completely Design) dengan 2 taraf perlakuan yaitu
Perlakuan 1: pemangkasan 1 kali Perlakuan 2: pemangkasan 2 kali
Model rancangan acak lengkap menurut Matjik dan Sumertajaya (2000) adalah sebagai berikut;
Y
ij=μ
+τ
i +ε
ijDimana ; Yij = Pengamatan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j μ = Rataan umun
τ
i = Pengaruh perlakuan ke-i
ε
ij = Pengaruh acak pada perlakuan ke-i , ulangan ke-jSetiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali, terdiri atas 45 bibit per ulangan. Dengan demikian, unit percobaan yang digunakan sebanyak 6 unit perlakuan dengan jumlah bibit stek yang dipangkas 270 bibit. Layout pengacakan bibit stek tunas pangkas sebagai berikut;
A21 A22 A13
A11 A23 A12
Keterangan : Aij = Perlakuan ke-i, ulangan ke-j
Sebelum dilakukan sidik ragam, data tinggi tunas dan jumlah tunas bibit stek pangkas diuji kenormalannya dengan menggunakan uji kenormalan galat Kolmogorof-Smirnov yang terdapat pada software minitab 14. Apabila data parameter tersebut menunjukkan sebaran normal, langsung dilakukan uji sidik ragam, namun apabila sebarannya tidak normal maka perlu dilakukan transformasi data.
Pengolahan data untuk sidik ragam menggunakan program SAS Release version 6.12, apabila perlakuan berpengaruh nyata dilakukan uji lanjut menggunakan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dengan tingkat kepercayaan 95%.
3.5.2. Pengaruh tahap pemangkasan terhadap kemampuan berakar stek S. balangeran
Penelitian untuk mengetahui pengaruh tahap pemangkasan terhadap kemampuan berakar stek S. balangeran dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (Randomized Completely Design) dengan 2 taraf perlakuan yaitu
Perlakuan 1: pemangkasan 1 kali Perlakuan 2: pemangkasan 2 kali
Model rancangan acak lengkap menurut Matjik dan Sumertajaya (2000) adalah sebagai berikut;
Y
ij=μ
+τ
i +ε
ijDimana ; Yij = Pengamatan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j μ = Rataan umun
τ
i = Pengaruh perlakuan ke-i
ε
ij = Pengaruh acak pada perlakuan ke-i, ulangan ke-jSetiap perlakuan diulang sebanyak empat kali, terdiri atas 45 stek per ulangan. Dengan demikian, unit percobaan yang digunakan sebanyak 8 unit
perlakuan dengan jumlah stek sebanyak 360 batang stek. Layout pengacakan batang stek sebagai berikut;
A14 A22 A11 A23
A21 A13 A24 A12
Keterangan : Aij= Perlakuan ke-i, ulangan ke-j
Sebelum dilakukan sidik ragam, data persen berakar stek, panjang akar stek dan berat kering akar stek diuji kenormalannya dengan menggunakan uji kenormalan galat Kolmogorof-Smirnov yang terdapat pada software minitab 14. Apabila data parameter tersebut menunjukkan sebaran normal, langsung dilakukan uji sidik ragam, namun apabila sebarannya tidak normal maka perlu dilakukan transformasi data.
Pengolahan data untuk sidik ragam menggunakan program SAS Release version 6.12, apabila perlakuan berpengaruh nyata dilakukan uji lanjut menggunakan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dengan tingkat kepercayaan 95%.
0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0 14.0 16.0 Periode Pengamatan T ing g i tu na s (c m ) Pemangkasan 1 kali 0.0 0.0 0.2 1.4 5.4 8.6 10.8 12.4 14.3 Pemangkasan 2 kali 0.0 0.2 0.3 1.4 5.6 10.0 11.5 12.9 14.3 0 Minggu 2 Minggu 4 Minggu 6 Minggu 8 Minggu 10 Minggu 12 Minggu 14 Minggu 16 Minggu