Faktor-faktor Risiko Produksi Bayam Hijau Organik dan Kangkung Organik
Budidaya sayuran organik lebih sulit dibandingkan dengan sayuran konvensional/ non-organik. Perlu pengawasan dan perawatan yang extra (lebih) dalam mengusahakan sayuran tersebut. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi produksi bayam hijau organik dan kangkung organik, diantaranya adalah:
1. Curah hujan
Berdasarkan hasil wawancara dengan petani, sulitnya memprediksi cuaca merupakan kendala yang dihadapi ketika membudidayakan bayam hijau organik maupun kangkung organik. Saat ini, kondisi cuaca sering berubah-ubah dan terkadang tidak sesuai dengan siklus normalnya. Padahal kondisi cuaca mempengaruhi pertumbuhan bagi bayam hijau organik dan kangkung organik.
Ketika curah hujan tinggi, petani bayam hijau organik dan kangkung organik mengalami penurunan produktivitas. Hal serupa ditemukan juga pada penelitian Cher 2011 yang menyebutkan demikian. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, maka sering kali terjadinya pembusukkan akar tanaman pada bayam hijau organik maupun kangkung organik. Hal ini dikarenakan semakin tinggi curah hujan maka akan semakin rendah derajat kemasaman (pH) pada tanah. Sementara pertumbuhan bayam hijau organik yang baik berada pada pH tanah 6-7 (Susila 2006). Curah hujan yang tinggi juga dapat menyebabkan kelebihan air pada tanah sebagai media tanam. Hal ini dapat membusukkan akar tanaman kangkung organik karena jenis kangkung organik yang ditanam petani adalah kangkung organik darat yang tidak dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang menggenang.
Selain itu, akibat dari curah hujan yang tinggi dapat merusak daun pada sayuran hijau secara fisik. Jika terjadi hujan yang lebat disertai angin, daun dari bayam hijau organik dan kangkung organik dapat sobek dan membuat tampilan daun menjadi tidak sempurna. Kemudian, akibat curah hujan yang tinggi juga dapat memicu muncul dan berkembangnya hama dan penyakit.
2. Serangan hama dan penyakit
Berdasarkan hasil wawancara dengan petani, curah hujan yang tinggi dapat memicu muncul dan berkembangnya hama dan penyakit. Jika bayam hijau organik dan kangkung organik sudah terserang hama dan penyakit maka sering kali petani membiarkannya. Hal ini karena petani beranggapan bahwa pemakaian pestisida organik hasil buatan sendiri hanya berfungsi sebagai pencegah bukan
52
mengobati. Padahal menurut SOP ADC-UF IPB penyemprotan pestisida organik itu penting, guna mengantisipasi dan mengobati sayuran organik yang rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Beberapa jenis hama dan penyakit berdasarkan temuan di lapangan yang biasa menyerang bayam hijau organik dan kangkung organik serta cara pengendaliannya disajikan pada Tabel 18.
Tabel 18 Jenis hama dan penyakit serta pengendaliannya
Jenis Hama dan Penyakit Tanaman Jenis
Obat Alami Cara Penanggulangan Obat Sumber Peroleha n 1. Belalang Bayam hijau organik, kangkung organik Daun nangka + daun sirsak + daun picung + daun sereh 20 ml / L air Petani secara swadaya/ mandiri/ sendiri
2. Jamur Putih Bayam
hijau organik, kangkung organik Daun sereh/ buah gadung 20 ml / L air Petani secara swadaya/ mandiri/ sendiri 3. Ulat Kangkung organik Daun sereh/ buah gadung 20 ml / L air Petani secara swadaya/ mandiri/ sendiri
Sumber : Unit Lapangan Sayuran Organik ADC-UF IPB (2012)
Hama yang biasa menyerang bayam hijau organik adalah belalang. Serangan belalang terhadap bayam hijau organik dicirikan dengan adanya lubang pada daun tanaman. Sementara batas sortasi pada satu tanaman maksimal ditemukan lima lubang pada daun. Sedangkan penyakit yang sering menyerang bayam hijau organik adalah jamur putih dan spinach blight. Ciri bayam hijau organik yang terserang jamur putih adalah timbulnya noda-noda putih pada daun tanaman. Bayam hijau organik yang sudah terserang spinach blight ditandai dengan daun menyempit, mengecil, menggulung dan bekerut. Apabila terihat daun yang berbecak putih dan daun berbentuk tidak normal, sudah dipastikan tidak lolos tahap sortasi dan hal itu mempengaruhi produksi dari bayam hijau
53 organik.
Hama dan penyakit yang sering menyerang kangkung organik adalah belalang, ulat dan jamur. Ciri yang ditimbulkan dari hama tersebut sama yaitu membuat lubang pada daun tanaman. Sedangkan ciri yang ditimbulkan dari jamur adalah membuat daun kangkung organik menjadi berbecak kuning dan menonjol. Pengaruhnya sama seperti pada bayam hijau organik yang tidak lolos tahap sortasi dan dampak akhirnya pada produksi kangkung organik menjadi rendah.
Gambar 8 Bayam hijau organik dan kangkung organik yang terserang jamur
3. Tingkat kesuburan tanah
Berdasarkan kondisi di lapangan, hampir semua petani hanya melakukan satu kali per produksi pemakaian pupuk yang dicampurkan dengan sekam yaitu pada saat benih mulai ditebar. Padahal menurut SOP ADC-UF IPB selama masa perawatan, perlu juga dilakukan pemupukan untuk meningkatkan unsur hara pada tanah. Karena unsur hara tersebut berfungsi sebagai nutrisi/ makananan bagi tanaman. Hal ini juga disarankan oleh Susila (2006) dalam melakukan pemupukan lanjutan.
Hasil dari kurangnya perhatian petani dalam pemupukan berdampak pada rendahnya produksi bahkan bisa saja meningkatkan tingginya sortasi karena kualitas buruk. Ciri bayam hijau organik dan kangkung organik yang kekurangan unsur hara, biasanya ukuran batang lebih kecil dari ukuran normal serta membuat daun menjadi berwarna kuning.
4. Sumberdaya Manusia
Keterampilan dan kedisiplinan petani dalam membudidayakan bayam hijau organik dan kangkung organik merupakan hal yang diutamakan. Terlebih, ketika petani mengajukan dirinya untuk mendaftar sebagai calon mitra ADC-UF IPB, salah satu syarat adalah mempunyai kemampuan untuk membudidayakan sayuran organik.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan, secara keseluruhan petani mitra baik petani bayam hijau organik maupun kangkung organik tidak disiplin dengan SOP yang pihak ADC-UF IPB berlakukan. Hal tersebut dapat mempengaruhi produksi dan produktivitas yang dihasilkan. Perbandingan aktivitas produksi
54
antara yang dijalankan oleh petani mitra dengan SOP ADC-UF IPB dapat disajikan pada Tabel 19.
Tabel 19 Aktivitas produksi antara petani mitra dengan sop ADC-UF IPB
No Aktivitas Produksi Petani Mitra SOP ADC-UF
1 Penyebaran benih
bayam hijau organik dan kangkung organik
Rata-rata petani menggunakan benih bayam hijau organik 0.003 kg/m² dan kangkung 0.03 kg/m²
Kebutuhan benih optimal agar mendapatkan hasil yang maksimal adalah 0.00125 kg/m² untuk bayam hijau organik dan 0.01 kg/m² untuk kangkung organik
2 Pemupukan Melakukan sekali
pemupukan per produksi pada saat benih ditebar
Selama masa perawatan perlu dilakukan juga dilakukan pemupukan yaitu satu minggu sekali
3 Penggunaan paranet Tidak memasang
paranet
Pemasangan paranet berguna untuk mengurangi paparan sinar matahari dan mengontrol air yang masuk serta mencegah hama penyakit masuk
4 Pengendalian hama
dan penyakit
Apabila ditemukan hama dalam jumlah kecil maka
pemberantasan dilakukan secara manual yakni dengan membuang hama tersebut. Namun, apabila hama dan penyakit banyak yang menyerang sayuran maka petani akan membiarkannya
Sedikit dan banyaknya jumlah hama dan penyakit yang menyerang sayuran atau bahkan tidak ada, sebaiknya petani membuat pestisida organik sebagai bentuk aktivitas pengendalian hama dengan formulasi yang sudah diberikan (Tabel 18). Mekanisme pengendalian dilakukan dengan cara penyemprotan rutin dua kali seminggu. Saat
melakukan penyemprotan, petani harus menggunakan alat pelindung berupa masker dan sarung tangan serta berjalan mundur. Hal ini untuk mengurangi risiko terhirupnya partikel pestisida organik melewati hidung.
5 Pengairan Jika musim kemarau
pengairan dilakukan dalam kurun waktu 3 hari sekali.
Sedangkan jika musim hujan pengairan tidak rutin karena air telah dikontrol paranet
Setiap hari dikontrol, karena cuaca tidak menentu. Jika waktu sore atau malam hari hujan turun dengan intensitas yang tinggi, maka di pagi hari petani harus langsung menyiram sayuran tersebut. Karena jika telat sedikit saja, bisa terjadi pembusukan pada akar tanaman. Sama halnya dengan intensitas hujan yang tidak dapat diprediksi, dalam artian sebentar hujan sebentar reda, keesokan harinya petani harus langsung segera
menyiram. Karena hal tersebut juga dapat membusukan akar tanaman.
6 Paska panen (distribusi) Petani mengirimkan sayuran ke ADC Cikarawang antara pukul 11.00 - 12.00 WIB. Pendistribusian sayuran, diisi bayam hijau organik dan kangkung organik sebanyak 12 kg/box
Idealnya distribusi dilakukan pagi hari agar sayuran masih dalam keadaan segar. Selain itu, batas maksimal pengisian box/ keranjang pengangkut adalah 8 kg. Jika melebihi dari kapasitas itu, sayuran dapat rusak karena tertumpuk-tumpuk dengan box/ keranjang lainnya.
55 Penyebaran benih bayam hijau organik dan kangkung organik yang dilakukan oleh petani melebihi kapasitas dari SOP ADC-UF IPB yaitu 0.003 kg/m² untuk bayam hijau organik dan 0.03 kg/m² untuk kangkung. Semakin banyak benih yang di sebar per luasan meter, maka semakin banyak benih yang akan memperebutkan makanan per luasan meter tersebut. Apabila benih ditebar per luasan meter melebih dari kapasitas normal (SOP ADC-UF IPB), maka hal tersebut menyebabkan pertumbuhan dari benih menjadi kurang baik.
Pemupukan berfungsi agar tanah menjadi subur dan kaya akan unsur hara sebagai makanan untuk sayuran. Pemupukan yang hanya satu kali per produksi yang dilakukan oleh petani, berdampak bagi pertumbuhan bayam hijau organik dan kangkung organik. Apabila bayam hijau organik dan kangkung organik kekurangan unsur hara, maka batang sayuran organik tersebut akan menjadi lebih kecil dari ukuran normal dan daun menjadi kuning.
Penggunaan paranet dalam sebuah guludan/ bendengan menurut SOP ADC-UF IPB penting dilakukan sebagai pencegah dari masuknya hama penyakit, mengurangi paparan sinar matahari dan mengontrol masuknya air. Bayam hijau organik dan kangkung organik merupakan tanaman sukulen, artinya sayuran tersebut mudah layu jika terlalu banyak menerima sinar matahari dan mudah busuk jika menyerap air yang berlebih. Selain itu, kedua sayuran tersebut merupakan sayuran organik yang rentan terhadap hama dan penyakit.
Bayam hijau organik dan kangkung organik merupakan tanaman yang rentan terhadap hama dan penyakit. Sehingga, menurut SOP ADC-UF IPB pengendalian hama penyakit penting dilakukan mengingat kualitas sayuran adalah hal yang diutamakan oleh pelanggan (pasar modern). Jika bayam hijau organik dan kangkung organik sudah terserang hama dan penyakit, biasanya fisik dari kedua sayuran tersebut menjadi tidak normal (daun berlubang, daun berbintik putih, dsb). Sementara, dari unit packing ADC-UF IPB memiliki batas maksimal penyortiran terhadap kedua sayuran tersebut. Sehingga, sedikit dan banyaknya jumlah hama dan penyakit yang menyerang sayuran atau bahkan tidak ada, sebaiknya petani membuat pestisida organik sebagai bentuk aktivitas pengendalian hama dan penyakit dengan formulasi dan mekanisme yang sudah diberikan ADC-UF IPB (Tabel 18).
Cuaca yang terjadi sulit untuk diprediksi, sehingga setiap hari petani harus mengontrol air di lahan. Jika waktu sore atau malam hari hujan turun dengan intensitas yang tinggi, maka di pagi hari petani harus langsung menyiram sayuran tersebut. Karena jika telat sedikit saja, bisa terjadi pembusukkan pada akar tanaman. Sama halnya dengan intensitas hujan yang tidak dapat diprediksi, dalam artian sebentar hujan sebentar reda, keesokan harinya petani harus langsung segera menyiram. Karena hal tersebut juga dapat membusukkan akar tanaman.
Distribusi sayuran organik dari petani kepada ADC-UF IPB dilakukan di unit packing ADC-UF IPB. Sering kali petani mengantarkan sayuran diantara pukul 11.00-12.00 WIB. Sementara unit packing ADC-UF IPB antara pukul 11.00-13.00 WIB adalah waktu istirahat (tutup). Sehingga, petani harus menunggu sampai unit packing ADC-UF IPB buka kembali. Hal tersebut dapat membuat bayam hijau organik dan kangkung organik layu serta mengorbankan waktu petani cukup lama untuk menunggu. Selain itu, box/keranjang yang digunakan petani untuk mengangkut sayuran organik sering kali melebihi kapasitas dari batas pengisian yang diberlakukan oleh ADC-UF IPB. Sehingga hal
56
tersebut dapat membuat bayam hijau organik dan kangkung organik rusak akibat gesekan yang terjadi antara tumpukan box/keranjang.
Gambar 9 Distribusi sayuran organik salah satu petani
Alasan petani tidak menerapkan SOP ADC-UF IPB adalah karena modal, kepercayaan diri yang dimiliki dalam hal budidaya dan teman sesama petani. Menurut petani, apabila menerapkan aktivitas produksi seperti penyebaran benih dan pemupukkan sesuai dengan SOP ADC-UF IPB, akan membutuhkan modal yang cukup besar dan membuat biaya produksi semakin tinggi. Sedangkan dalam hal pemasangan paranet, pengendalian hama penyakit dan penyiraman, petani lebih percaya terhadap pengalamannya dan diskusi dengan teman sesama petani dibandingkan dengan SOP ADC-UF IPB. Menurut petani, apa yang mereka lakukan seperti tidak memasang paranet dan tidak melakukan penyemprotan pestisida organik, membuat proses produksi lebih efisien. Karena memasang paranet dan melakukan penyemprotan pestisida organik, menurut petani belum tentu menghasilkan panen yang maksimal. Sehingga, petani lebih memilih tidak menjalankan SOP ADC-UF IPB berlakukan. Sementara dalam hal distribusi, petani membutuhkan waktu yang cukup lama dari panen (pencabutan sayuran organik kemudian pembersihan) hingga sampai di unit packing ADC-UF IPB. Sehingga, petani tidak dapat mengirimkan sayuran di pagi hari. Box/ keranjang yang digunakan petani merupakan hasil peminjaman dari ADC-UF IPB yang jumlahnya terbatas. Sehingga, petani sering kali mengisi sayuran organik yang melebihi kapasitas dari box dengan alasan agar sayuran terangkat semua dan petani tidak perlu berulang-ulang menggunakan box/keranjang untuk mengantarkan sayuran organik. Berdasarkan hasil obeservasi, keempat sumber risiko tersebut dapat diperinci dan disajikan pada Tabel 20.
Tabel 20 Sumber risiko produksi pada bayam hijau organik dan kangkung organik
No Sumber
Risiko
Keterangan Dampak Ciri-ciri Presentase
kehilangan
1. Cuaca Curah hujan
tinggi a. Pembusukan akar tanaman Akar bayam hijau organik dan kangkung organik busuk bayam hijau organik = 30 persen , kangkung
57 b. Merusak fisik sayuran organik Daun bayam hijau organik dan kangkung organik bisa sobek organik = 20 persen c. Memicu hama dan penyakit Bayam hijau organik : Belalang, jamur putih dan spinach blight. Kangkung organik : belalang, ulat dan jamur 2. Sumberday a Manusia Tidak menerapkan SOP ADC-UF 1. Penyebaran benih melampaui kapasitas per luasan meter Semakin banyak benih bayam hijau organik dan kangkung organik yang saling berebut makanan per luasan meter Pertumbuhan kurang baik 2. Tidak menggunakan paranet a. Masuknya hama dan penyakit b. Paparan sinar matahari berlebih
Daun dapat layu
c.Air yang masuk menjadi berlebih Pembusukan akar tanaman 3. Hanya satu kali pemupukan Tanaman kekurangan unsur hara Batang tanaman lebih kecil dari ukuran normal dan daun menjadi kuning 4. Tidak menggunakan pestisida organik Hama dan penyakit semakin berkembang 5. Menumpuk sayuran melebihi kapasitas keranjang Terjadi gesekan dan tekanan pada sayuran Sayuran dapat layu bahkan tergores akibat gesekan
Keengganan petani menggunakan SOP yang telah diberikan oleh pihak ADC-UF IPB berhubungan dengan umur petani yang cukup tua dengan tingkat pendidikan petani yang rendah. Pihak ADC-UF IPB mengakui kesulitan dalam memberikan arahan kepada petani mitra yang berusia cukup tua. Penyampaian informasi dan SOP oleh pihak ADC-UF IPB kepada petani tidak diserap maksimal. Hal ini disebabkan oleh faktor usia dan tingkat pendidikan petani yang rendah. Petani yang berusia diatas 41 tahun cenderung sulit menerima informasi baru dan lebih mempercayai pengalaman mereka.
58
Analisis Risiko Produksi
Bisnis pertanian merupakan sebuah kegiatan yang berisiko tinggi. Risiko produksi adalah salah satu contohnya. Hal ini dibuktikan dari adanya fluktuasi produktivitas dari komoditas yang dihasilkan. Fluktuasi produktivitas ini yang kemudian mempengaruhi perolehan pendapatan dari tiap-tiap petani. Tingkat produktivitas dari bayam hijau organik dan kangkung organik pada petani mitra ADC-UF IPB disajikan pada Tabel 21.
Tabel 21 menunjukkan bahwa pada budidaya bayam hijau organik dan kangkung organik mengalami fluktuasi produktivitas selama 13 periode yakni dari Juni 2011 hingga Juni 2012. Selain itu, selama 13 periode tersebut produktivitas dari bayam hijau organik dan kangkung organik tidak pernah mencapai produktivitas optimum. Produktivitas optimum menurut ADC-UF IPB adalah 1.4 kg/m² untuk bayam hijau organik dan 1.6 kg/m² untuk kangkung organik. Hal ini membuktikan bahwa budidaya kedua sayuran organik tersebut mengalami risiko produksi yang disebabkan oleh berbagai faktor eksternal secara teknis.
Tabel 21 Tingkat produktivitas (kg/m²) bayam hijau organik dan kangkung organik dari petani mitra ADC-UF IPB selama 13 periode tanam Bulan
Produktivitas Bayam Hijau Organik (kg/m²) Produktivitas Kangkung Organik (kg/m²) Jun '2011 0,97 1,29 Jul 0,96 1,54 Ags 0,89 1,50 Sep 1,02 1,49 Okt 0,96 1,34 Nov 0,96 1,20 Des 0,86 1,20 Jan 0,98 1,36 Feb 0,89 1,21 Mar 0,87 1,24 Apr 0,93 1,56 Mei 1,07 1,26 Jun '2012 0,93 1,48
Responden penelitian ini merupakan petani aktif yang berjumlah 13 orang petani bayam hijau organik dan 12 orang petani kangkung organik. Petani aktif tersebut dapat dikatakan mewakili petani mitra ADC-UF IPB secara keseluruhan. Maka dari itu, untuk mendapatkan tingkat risiko produksi yang ada pada ADC-UF IPB dapat diketahui dengan melakukan penilaian risiko produksi berdasarkan produktivitas dari petani aktif tersebut.
Risiko produksi dapat dianalisis dengan mengetahui seberapa besar peluang yang muncul dari setiap kejadian yang dianalisis. Perhitungan peluang dihasilkan dari jumlah terjadinya suatu kejadian dibagi dengan banyaknya kejadian yang dianalisis. Banyaknya kejadian yang dianalisis merupakan total penjumlahan dari kejadian yang dialami masing-masing petani selama 13 periode tanam.
59 Banyaknya kejadian yang dianalisis selama 13 periode tanam untuk petani bayam hijau organik adalah 130 kejadian (Lampiran 3). Sedangkan untuk petani kangkung organik adalah berjumlah 136 kejadian (Lampiran 4). Sementara jumlah terjadinya suatu kejadian untuk bayam hijau organik dan kangkung organik dianggap sama yaitu satu. Hal ini dikarenakan terdapat perbedaan periode tanam yang dialami masing-masing petani dari data historis dengan selang waktu Juni 2011-Juni 2012. Maka dari itu agar semua periode tanam dapat dianalisis, jumlah kejadian yang dialami petani dianggap sama
Nilai peluang yang telah diketahui dari produktivitas bayam hijau organik dan kangkung organik, selanjutnya digunakan untuk mencari nilai expected return. Perhitungan expected return adalah peluang dikalikan dengan total tingkat produktivitas masing-masing komoditas. Tabel 22 menunjukkan hasil perhitungan peluang dan expected return pada komoditas bayam hijau organik dan kangkung organik.
Tabel 22 Perhitungan expected return berdasarkan produktivitas pada kegiatan spesialisasi bayam hijau organik dan kangkung organik
Komoditas Total Tingkat Produktivitas Peluang Expected Return
Bayam Hijau
Organik 128.48 0.0074 0.94471
Kangkung
Organik 178.12 0.0077 1.37015
Berdasarkan Tabel 22, diperoleh nilai expected return dari produktivitas sebesar 0.94471 untuk bayam hijau organik dan 1.37015 kangkung organik. Perolehan nilai expected return kangkung organik lebih tinggi dibandingkan bayam hijau organik. Artinya, nilai tersebut menunjukkan bahwa produktivitas rata-rata kangkung organik lebih tinggi dari pada bayam hijau organik yaitu sebesar 1.37 kg/m². Produktivitas kangkung organik yang tinggi dikarenakan bayam hijau organik lebih rentan terhadap kondisi cuaca serta serangan hama dan penyakit dibandingkan kangkung organik. Hal tersebut terlihat dari ukuran benih kangkung organik yang lebih besar dari pada bayam hijau organik. Artinya, kangkung organik lebih kuat bertahan karena memiliki cadangan makanan yang lebih banyak dari pada bayam hijau organik. Sedangkan peluang dari bayam hijau organik merupakan hasil dari 1 dibagi 130 kejadian yang dianalisis yaitu 0.0074, sementara untuk kangkung organik 1 dibagi 136 kejadian yang dianalisis yaitu 0.0077.
Secara keseluruhan, petani mitra mengelola kegiatan produksinya sendiri. Kegiatan yang dilakukan untuk meminimalisasi risiko produksi adalah dengan cara merawat dan mengontrol bayam hijau organik dan kangkung organik di lahan secara rutin. Selain itu, kegiatan produksi diawasi juga oleh koordinator lapangan dari pihak ADC-UF IPB.
Strategi petani dalam mencegah atau meminimalisasi dari kerugian usahataninya dilakukan dengan cara diversifikasi usaha. Rata-rata petani mitra ADC-UF IPB dalam satu luasan yang dimiliki menanam sebanyak 4-7 jenis komoditas sayuran organik. Akan tetapi pada penelitian ini kajian mengenai risiko diversifikasi usaha dilakukan hanya pada kombinasi dua komoditas saja yaitu bayam hijau organik dengan kangkung organik.
60
Penilaian Risiko Produksi pada Kegiatan Spesialisasi
Penilaian risiko produksi pada kegiatan spesialisasi dilihat berdasarkan atas produktivitas masing-masing komoditas yang dihitung menggunakan variance, standard deviation, dan coefficient variation. Hasil penilaian risiko produksi berdasarkan produktivitas yang dihasilkan masing-masing komoditas disajikan pada Tabel 23.
Tabel 23 Penilaian risiko produksi pada kegiatan spesialisasi bayam hijau organik dan kangkung organik pada petani mitra ADC-UF IPB
Komoditas Ukuran
Variance Standard Deviation Coeff Variation
Bayam Hijau
Organik 0.07768 0.27871 0.29503
Kangkung
Organik 0.10744 0.32779 0.23923
Tabel 23 menunjukkan bahwa penilaian risiko berdasarkan produktivitas diperoleh nilai variance berbanding lurus dengan standard deviation. Artinya, jika nilai variance tinggi maka standard deviation yang dihasilkan akan tinggi. Hal ini ditemukan juga pada penelitian Taringan 2009, Jamilah 2010, dan Cher 2011. Perolehan nilai variance dan standard deviation dari kangkung organik lebih tinggi dibandingkan bayam hijau organik yaitu sebesar 0.10744 dan 0.32779.
Sementara untuk coefficient variation diukur dari rasio standard deviation
dengan expected return. Semakin besar nilai coefficient variation maka akan semakin besar risiko yang dihadapi. Risiko produksi yang paling besar berdasarkan produkivitas adalah pada sayuran bayam hijau organik dengan nilai
coefficient variation sebesar 0.295. Artinya, apabila petani mitra menghasilkan