• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadaan Umum

Pertumbuhan tanaman selada hingga akhir panen menunjukkan kondisi cukup baik. Selama pelaksanaan penelitian terdapat perbedaan suhu, pH dan

konsentrasi hara. Suhu ruangan pada pukul 07.00 WIB berkisar antara 23 oC - 25 oC sedang pada pukul 15.00 WIB berkisar antara 25 oC – 28 oC. Suhu

larutan pada jam 07.00 WIB berkisar antara 21 oC – 23 oC, sedang pada pukul 15.00 WIB berkisar antara 24 oC – 27 oC. pH larutan pada pukul 07.00 WIB berkisar antara 4.3 - 6.9, sedang pada pukul 15.00 WIB berkisar antara 4.8 - 7.1. Konsentrasi hara pada 1 sampai 9 hari setelah tanam dibuat sama berkisar antara 0,80 mS-1 sampai 1,30 mS -1, tetapi mulai 10 hari sampai panen konsentrasi hara disesuikan dengan rencana penelitian 1,50 mS-1, 2,25 mS -1 dan 3,00 mS -1 (Lampiran 2 - 5B).

Gambar 2 Tanaman Selada (Lactucca sativa L) setelah panen dengan memakai hara mineral organik Nd dan hara mineral anorganik AB Mix.; (P1:hara mineral organik; P2: hara mineral anorganik; A1: konsentrasi

P2A3T1 P1A1T2 P2A1T2 P1A3T1 P1A2T2 P2A2T2 P1A3T2 P2A3T2 P2A2T1 P1A2T1 P2A1T1 P1A1T1

hara 1,50; A2 : konsentrasi hara 2,25; A3 : konsentrasi hara 3,00; T1 frekuensi penyiraman 5 menit; T2 : frekuensi penyiraman 10 menit). Selama pelaksanaan penanaman dilakukan pengukuran setiap hari untuk derajat kemasaman (pH) dan konsentrasi hara (EC) serta tinggi tanaman dan banyaknya jumlah daun dilakukan pada setiap minggu setelah tanam. Pada Gambar 2 tinggi dan jumlah daun menunjukkan perbedaan untuk setiap perlakuan. Perlakuan hara mineral anorganik AB Mix umumnya menunjukkan batang yang panjang dan jumlah daun sedikit dibandingkan dengan perlakuan hara mineral organik Nd. Penampakkan fisik tanaman selada dengan perlakuan hara mineral organik Nd lebih menarik dengan ditandai bentuk daun yang membuka lebar, tinggi, warna daun hijau dan banyak, hal ini dapat menambah bobot basah tanaman sekaligus menguntungkan bagi pembudidaya tanaman selada.

Pertumbuhan Vegetatif Tanaman

Hasil pengamatan untuk tinggi tanaman dan jumlah daun 1 MST hingga waktu panen nilai tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan konsentrasi hara 1.50 mS -1 dengan frekuensi penyiraman 5 menit, kecuali konsentrasi hara pada tinggi tanaman 2 MST (Tabel 5).

Tabel 5 Perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata tinggi tanaman 1 MST - waktu panen

Konsentrasi Hara (mS -1) 1 MST 2 MST Tinggi Tanaman (cm) 3 MST 4 MST Waktu Panen 1.50 2.25 3.00 2.69 a 2.75 a 2.72 a 5.64 a 5.89 a 4.60 b 8.36 a 8.17 a 6.61 b 11.28 a 11.01 a 8.860 b 15.83 a 15.26 a 11.64 b

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%

Frekuensi penyiraman 5 menit menghasilkan tanaman lebih tinggi dibanding dengan frekuensi penyiraman 10 menit untuk tinggi tanaman (Tabel 6).

Tabel 6 Perlakuan frekuensi penyiraman terhadap rerata tinggi tanaman 1 MST–waktu panen

Frekuensi penyiraman

(menit) 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST Waktu Panen Tinggi Tanaman (cm) 5

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.

Tanaman memberikan respon tinggi tanaman terbaik ketika mendapat perlakuan hara mineral organik Nd dengan frekuensi penyiraman 5 menit atau hara mineral dengan konsentrasi hara 1,50 mS-1 dengan frekuensi penyiraman 5 menit pada 2 MST (Gambar 3B), 3 MST (Gambar 3C), waktu panen (Gambar 3D). 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 T1 Perlakuan T2 T in g g i T a n a m a n (c m ) P1 P2 0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 A1 A2 A3 Perlakuan T in g g i T a n a m a n 2 M S T ( c m ) T1 T2 A B 0,00 5,00 10,00 15,00 A1 A2 A3 Perlakuan T in g g i T a n a m a n 3 M S T ( c m ) T1 T2 0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 A1 A2 A3 Perlakuan T in g g i T an a m a n W a k tu P an e n (c m ) T1 T2 C D

Gambar 3 Interaksi antara jenis hara mineral dengan frekuensi penyiraman terhadap tinggi tanaman (3A); Interaksi antara Konsentrasi dengan frekuensi penyiraman terhadap tinggi tanaman 2 MST (3B); 3 MST (3C); waktu panen (3D). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (P1.hara mineral organik Nd; P2.hara mineral anorganik AB Mix) (A1: konsentrasi hara 1,50 mS -1; A2. konsentrasi hara 2,25 mS -1; A3; konsentrasi hara 3.00 mS -1). (I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Jumlah daun selada dipengaruhi oleh jenis hara mineral dan konsentrasi hara. Jenis hara mineral organik Nd menghasilkan rerata jumlah daun lebih banyak dari hara mineral anorganik AB Mix kecuali pada ke 1 MST (Tabel 7). Tabel 7 Pengaruh jenis hara mineral dan perlakuan konsentrasi hara terhadap

rerata jumlah daun

Jenis Hara Mineral 1 MST 2 MST Jumlah Daun 3 MST 4 MST Waktu Panen Organik Nd

Anorganik AB Mix 3.02 a 3.00 a 3.70 b 3.96 a 5.54 a 4.94 b 6.44 b 7.59 a 10.5 a 8.7 b

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.

Konsentrasi hara 1.50 mS -1 maupun 2.25 mS -1 menghasilkan jumlah daun yang lebih banyak dari tanaman yang mendapat perlakuan hara mineral dengan konsentrasi 3.00 mS -1 kecuali pada 2 MST (Tabel 8).

Tabel 8 Perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata jumlah daun

Konsentrasi Hara (mS -1) Jumlah Daun

1 MST 2 MST 3 MST 4 MST Waktu Panen 1.50 2.25 3.00 3.03 a 3.00 a 3.00 a 3.83 a 3.89 a 3.78 a 5.34 a 5.41 a 4.97 b 7.39 a 7.19 ab 6.47 ab 10.8 a 10.0 a 8.7 b Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata

dengan uji DMRT pada taraf 5%.

Interaksi antara konsentrasi hara (EC) dengan frekuensi penyiraman berpengaruh nyata terhadap jumlah daun selada. Konsentrasi hara 1.50 mS-1

dengan frekuensi penyiraman 5 menit menghasilkan rerata jumlah daun tertinggi pada 3 MST (Gambar 4A), 4 MST (Gambar 4B) dan waktu panen (Gambar 4C).

0 2 4 6 8 A1 A2 A3 Perlakuan J u m la h D a u n 3 M S T T1 T2 0 2 4 6 8 10 A1 A2 A3 Perlakuan J u m la h D a u n 4 M S T T1 T2 0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 14,0 A1 A2 A3 Perlakuan J u m la h D a u n W a k tu P a n e n T1 T2 A B C

Gambar 4 Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman pada

jumlah daun 3MST (4A); 4 MST (4B); Waktu Panen (4C); (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (A1.konsentrasi hara 1,50 mS -1; A2. konsentrasi hara 2,25 mS -1; A3. konsentrasi hara 3.00 mS -1). (I. SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.

Penggunaan hara mineral organik Nd pada konsentrasi 2.25 mS -1 dengan frekuensi penyiraman 10 menit menunjukkan jumlah daun terbanyak pada jumlah daun 2 MST (Gambar 5).

0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5 5,0 T1 T2 Perla kuan J u m la h D a u n 2 M S T P1A 1 P2A 1 P1A 2 P2A 2 P1A 3 P2A 3

Gambar 5 Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman pada Jumlah daun. 2 MST. (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (P1A1. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 1.50 mS -1; P2A1. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 1.50 mS -1; P1A2 hara mineral organik Nd konsentrasi hara 2.25 mS -1; P2A2 hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara

2.25 mS -1; P1A3. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 3.00 mS -1; P2A3. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara

3.00 mS -1). (I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.

Menurut Salisbury dan Ross (1995) nitrogen mendorong pembentukan daun, karena demikian banyak senyawa penting tidaklah mengherankan kalau pertumbuhan akan lambat tanpa nitrogen. Tumbuhan yang mengandung nitrogen untuk sekedar tumbuh saja akan menunjukan gejala kekahatan, yakni klorosis terutama pada daun tua. Hasil uji laboratorium yang dapat dilihat pada Lampiran 1A jumlah kandungan nitrogen pada hara mineral organik cukup tinggi sebesar 260.6 ppm sehingga hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun

Panjang Akar dan Luas Daun

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan panjang akar dipengaruhi oleh jenis pupuk. Jenis hara mineral organik Nd menghasilkan rerata tertinggi untuk panjang akar (Tabel 9).

Tabel 9 Pengaruh jenis hara mineral terhadap rerata panjang akar

Jenis Hara Mineral Panjang Akar (cm)

Organik Nd

Anorganik AB Mix

27.06 a 22.03 b

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.

Akar merupakan bagian tanaman yang berfungsi menyerap air dan unsur mineral yang diperlukan oleh tanaman. Sulisbury (1998) menyatakan tanaman yang cukup mendapatkan air dan nitrogen 3 sampai 5% biomassa tanaman berada di akar. Menurut Resh (1983) tingginya kandungan unsur P dalam tanaman dapat mandorong pertumbuhan akar yang sehat.

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pengaruh Interaksi antara hara mineral organik Nd, konsentrasi hara 1.50 mS -1 dengan frekuensi penyiraman 5 menit menunjukkan hasil tertinggi untuk luas daun (Gambar 6).

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00 180,00 200,00 T1 T2 Perlakuan L u a s D a u n ( m m ) P1A1P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3

Gambar 6 Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman pada Luas daun. (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (P1A1.hara mineral organik Nd konsentrasi hara 1.50 mS -1; P2A1. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 1.50 mS -1; P1A2. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 2.25 mS -1; P2A2 hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 2.25 mS -1; P1A3. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 3.00 mS -1;P2A3. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 3.00 mS -1). ((I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.

Daun merupakan organ tanaman yang paling penting. Perbandingan total luas daun terhadap area yang ditutupi oleh tajuk tanaman dinyatakan dengan luas daun. Luas daun mempunyai peran dalam menentukan tingkat laju fotosintesis maupun besarnya asimilasi dan produksi yang dihasilkan. Menurut Noor dan Wahyudi (1996) hingga batas tertentu peningkatan luas daun akan menyebabkan semakin besarnya radiasi matahari yang ditangkap oleh tajuk dan lebih lanjut dapat meningkatkan laju fotosintesis yang menghasilkan asimilat untuk pertumbuhan dan produksi tanaman. Hasil penelitian Heuvelink dan Marcelis (1996) menunjukkan bahwa asupan asimilat yang tinggi berperan untuk meningkatkan bobot kering organ vegetatif. Haris (1978) menyatakan untuk meningkatkan luas daun diperlukan unsur hara dan air yang cukup.

Menurut Salisbury dan Ross (1995) tumbuhan yang banyak mendapatkan konsumsi nitrogen biasanya mempunyai daun berwarna hijau tua dan lebat. Sumarni dan Rosliani (2001) dalam penelitiannya menyatakan tanaman untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangannya harus melakukan fotosintesis dan respirasi sel. Daun memiliki peranan yang sangat penting sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis, semakin besar luas daun yang dimiliki maka semakin tinggi fotosintat atau karbohidrat yang akan dihasilkan. Fotosintat dalam tanaman digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, seperti pertambahan ukuran tinggi/panjang tanaman. Karena dengan luas daun yang memadai makin tinggi bobot kering tanamannya.

Biomasa Tanaman

Menurut Sitompul dan Guritno (1995) hubungan antara berat segar dan berat kering tanaman tidak linier, karena kandungan air dari suatu jaringan atau keseluruhan tubuh tanaman dipengaruhi oleh lingkungan yang jarang konstan, hasil produksi tanaman biasanya lebih akurat dinyatakan dalam ukuran bobot kering. Berdasar hasil analisis sidik ragam hara mineral organik Nd menghasilkan bobot basah akar dan bobot kering akar yang lebih tinggi dari hara mineral anorganik AB Mix (Tabel 10).

Tabel 10 Pengaruh jenis hara mineral terhadap rerata bobot basah akar dan bobot kering akar

Jenis Hara Mineral Bobot Basah Akar (g) Bobot Kering Akar (g) Organik Nd

Anorganik AB Mix) 25.31 b 49.22 a 4.08 b 8.11 a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.

Konsentrasi hara 2,25 mS-1 menghasilkan bobot basah tajuk tertinggi, walaupun tidak berbeda nyata dengan konsentrasi hara 1,50 mS-1 (Tabel 11).

Tabel 11 Perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata bobot basah tajuk Konsentrasi Hara (mS -1) Bobot BasahTajuk (g)

1.50 2.25 3.00 262.44 a 263.94 a 152.12 b

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.

Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman terhadap bobot basah dan bobot kering tajuk serta bobot kering akar. Nilai rerata tertinggi pada bobot basah tajuk, bobot kering tajuk dan bobot kering akar dihasilkan oleh kombinasi perlakuan hara mineral dengan konsentrasi hara 1.50 mS-1 dan frekuensi penyiraman 5 menit (Gambar 7).

0,00 100,00 200,00 300,00 400,00 500,00 600,00 700,00 800,00 A1 A2 A3 Perlakuan B o b o t B a s a h T a ju k (g ) T1 T2 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 A1 A2 A3 Perlakuan B o b o t K e ri n g T a ju k (g ) T1 T2 0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 A1 A2 A3 Perlakuan B o b o t K e ri n g A k a r (g ) T1 T2 A B C

Gambar 7 Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman pada Bobot basah tajuk (7A); Bobot kering tajuk (7B); Bobot kering akar (7C). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (A1: konsentrasi hara 1,50 mS -1; A2. konsentrasi hara 2,25 mS -1; A3. konsentrasi hara 3.00 mS -1). (I.SE). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.

Demikian pula pemberian hara mineral organik Nd dengan konsentrasi 2,25 mS-1 selama frekuensi penyiraman 10 menit menghasilkan nilai tertinggi untuk bobot basah tanaman (Gambar 8A) dan bobot basah daun (Gambar 8B).

0,0 100,0 200,0 300,0 400,0 500,0 600,0 700,0 800,0 900,0 1000,0 T1 T2 Perlakuan B o b o t B a s a h T a n a m a n (g ) P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 0,0 100,0 200,0 300,0 400,0 500,0 600,0 700,0 800,0 900,0 T1 T2 Perlakuan B o b o t B a s a h D a u n ( g ) P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 A B

Gambar 8 Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman pada Bobot basah tanaman (8A); Bobot basah daun (8B). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (P1A1.hara mineral organik Nd konsentrasi hara 1.50 mS -1; P2A1. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 1.50 mS -1; P1A2 hara mineral organik Nd konsentrasi hara 2.25 mS -1; P2A2 hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 2.25 mS -1; P1A3. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 3.00 mS -1;P2A3. hara mineral anorganik

AB Mix konsentrasi hara 3.00 mS -1). ((I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.

Diduga perlakuan antara jenis pupuk, konsentrasi dan frekuensi penyiraman dapat memacu pertumbuhan tanaman, meningkatkan laju fotosintesis tanaman sehingga mengakibatkan peningkatan jumlah fotosintat. Akumulasi fotosintat tersebut menentukan biomasa tanaman.

Hasil analisis respond polynomial orthogonal konsentrasi hara mineral organik Nd menunjukkan hasil berbeda nyata pada respon kuadratik untuk Bobot basah tanaman dengan pertumbuhan optimum sebesar 8.23 g dengan konsentrasi 2.19 mS -1 Gambar 9). y = -704,74x2 + 3089,7x - 2562,6 R2 = 0,7311 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 0 0,25 0,5 0,75 1 1,25 1,5 1,75 2 2,25 2,5 2,75 3 3,25 Perlakuan B o b o t B a s a h T a n a m a n ( g ) P1 P2 8,23 2,19 2,96 1,51

Gambar 9 Interaksi antara hara mineral organik Nd dengan konsentrasi hara terhadap bobot basah tanaman (P1. hara mineral organik Nd; P2. hara mineral anorganik AB Mix). (A1.konsentrasi hara 1,50 mS -1; A2. konsentrasi hara 2,25 mS -1; A3. konsentrasi hara 3.00 mS -1). (I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.

Kandungan Serat Kasar, Klorofil dan Kadar Abu

Nilai substitusi untuk kandungan serat kasar dan kadar abu, merupakan nilai tertinggi yang ditunjukkan oleh perlakuan hara mineral organik sehingga mempunyai nilai positif terhadap AB Mix. Pemakaian hara mineral organik dibanding AB Mix mempunyai nilai positif yang cukup besar seperti tercantum pada Lampiran 21.

Tingginya kandungan unsur makro yang terdapat dapat pada hara mineral organik (Lampiran 1A) dapat merangsang terhadap pertumbuhan dan produksi yang optimal. Seperti yang dikemukakan oleh Handayanto dan Ismunandar (1999) bahwa bila kandungan organik rendah, masam, kahat unsur N, P, K, Ca, Mg, S

dan kandungan Al serta Mn yang tinggi, kapasitas kation dan kejenuhan basa rendah, serta rentan terhadap erosi. Harris (1994) juga menyatakan N adalah komponen penting dari semua protein dimana dapat dijumpai di klorofil dan sitoplasma.

Pemakaian hara mineral organik Nd mempunyai kelebihan serat yang cukup tinggi (Tabel 11) dan rerata besarnya luas daun yang dimiliki oleh selada (Gambar 6). Kedua parameter ini merupakan patokan untuk tanaman sayur. Konsumen akan lebih banyak memilih sayuran dengan luas daun yang lebih besar serta ditambah dengan serat yang tinggi.

Jenis hara mineral berpengaruh nyata terhadap kandungan serat kasar pada selada. Hara mineral organik Nd menghasilkan kandungan serat kasar tertinggi (Tabel 12).

Tabel 12 Pengaruh jenis hara mineral terhadap rerata serat kasar

Jenis Hara Mineral Serat Kasar (g)

Organik Nd

Anorganik AB Mix 1.40 a 1.18 b

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.

Selain pengaruh dari jenis hara mineral interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman berpengaruh terhadap kandungan serat kasar. Kandungan serat kasar tertinggi dihasilkan oleh perlakuan konsentrasi hara 1,50 mS -1dengan frekuensi penyiraman 5 menit (Gambar 10). Konsentrasi dan frekuensi penyiraman yang rendah menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding dengan perlakuan dan konsentrasi yang tinggi pada penelitian ini.

0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 A1 A2 A3 Perlakuan S e ra t K a s a r ( % ) T1 T2

Gambar 10 Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman

terhadap serat kasar (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (A1.konsentrasi hara 1,50 mS -1; A2. konsentrasi hara 2,25 mS -1; A3. konsentrasi hara

3.00 mS -1). (I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.

Berdasarkan hasil penelitian interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman berpengaruh terhadap kandungan klorofil serta kadar abu pada tanaman selada. Perlakuan hara mineral anorganik AB Mix pada konsentrasi hara 1.50 mS -1 konsentrasi 2.25 mS -1 pada frekuensi penyiraman 10 menit menunjukkan kandungan klorofil tertinggi (Gambar 12A). Sedangkan kadar abu tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan hara mineral organik Nd dengan konsentrasi hara 2.25 mS-1 dan frekuensi penyiraman 10 menit, yaitu sebesar 36.35% (Gambar 12B). 0,0 0,2 0,4 0,6 0,8 1,0 1,2 1,4 1,6 1,8 2,0 T1 Perlakuan T2 K a n d u n g a n K lo ro fi l ( % ) P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0 35,0 40,0 45,0 T1 Perlakuan T2 K a n d u n g a n K a d a r A b u ( % ) P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 A B

Gambar 11 Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman terhadap kandungan klorofil (11A); kandungan kadar abu (11B). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (P1A1.hara mineral organik Nd konsentrasi hara 1.50 mS -1; P2A1. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 1.50 mS -1; P1A2 hara mineral organik Nd konsentrasi hara 2.25 mS -1; P2A2 hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 2.25 mS -1; P1A3. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 3.00 mS -1;P2A3. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 3.00 mS -1). ((I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.

Kandungan unsur Ca yang terdapat pada hara mineral organik cukup besar (3073.87 ppm). Menurut Sutiyoso (2003) unsur Ca dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan hasil tanaman terasa manis, begitu juga dengan kandungan unsur S (363.69 ppm) membuat hasil tanaman akan terasa renyah jika dimakan. Hal ini merupakan nilai positif bagi tanaman sayur, sehingga sayuran selada dengan memakai hara mineral organik layak untuk dikonsumsi dan menyehatkan tubuh manusia.

Kandungan Hara Makro Tanaman

Kandungan hara yang diamati dalam penelitian ini dianalisis oleh Laboratorium Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Bogor antara lain unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Sulfur (S). Berdasar Tabel perlakuan hara mineral organik Nd memberikan nilai yang tinggi untuk kandungan hara makro (Tabel 13).

Nilai subtitusi untuk total unsur tanaman setelah panen mempunyai nilai substitusi positif dan negatif antar kedua macam hara mineral (Lampiran 21). Dari kedua macam hara mineral yang digunakan menghasilkan tanaman yang mengandung kandungan unsur yang berbeda-beda. Adapun unsur yang diukur dalam hal ini adalah N, P, K, Ca, Mg dan S.

Tabel 13 Nilai hasil rerata kandungan hara makro tanaman selada pada setiap jenis pupuk

No Jenis Unsur Hara Hara Mineral Organik Nd (%) Hara Mineral Anorganik AB Mix (%)

1 NH4+, NO3- 0.88 0.75 2 H2PO4-, HPO42- 0.47 0.36 3 K+ 0.78 0.57 4 Ca2+ 0.54 0.32 5 Mg2+ 0.84 0.53 6 SO42- 0.11 0.07

Sumber : Hasil Analisa Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah tahun 2008 Jl. Sindangbarang No 62 Bogor.

Kandungan N (Lampiran 1A) dalam hara mineral organik (260.6 ppm) kalau di banding dengan AB Mix (142.27 ppm) mempunyai nilai 91.92%. Hara mineral organik Nd mempunyai nilai substitusi positif terhadap AB Mix yaitu sebagai hara mineral dan dapat menggantikan hara mineral anorganik industri (AB Mix).

Nichols dan Atkins (2004) menyatakan pH adalah suatu ukuran kadar keasaman atau ukuran basa yang mempengaruhi aktivitas ion hidrogen di dalam air, yaitu dari 0 -14 dengan 7 netral. Sebagian besar tumbuhan dapat tumbuh baik jika pH mediumnya 5.6 – 6.2, pH pada tanaman akan mengendalikan ketersediaan hara pada pertumbuhan. Pada pH rendah sebagai akibat dari respon kelebihan Fe dan ketersediaan Mn yang mendorong kearah toksik atau Ca dan Mg yang tak

mencukupi. Pada pH tinggi adalah lebih buruk yang menyebabkan kekurangan dari banyak hara. Hara harus terlarut dalam air supaya dapat diserap oleh akar. Proses kondensasi (kelebihan dari kelarutan) menghasilkan bentuk padat dalam larutan hara, yang membuat hara tidak dapat diserap oleh tanaman. Nilai pH yang tinggi dapat menyebabkan kondensasi dari hara tertentu (Diatloff 1998). Morgan (1999) lebih lanjut juga menyatakan jika pH meningkat dari 6.5 menjadi 7.5 atau 8.0, sebagian elemen seperti unsur hara Fe, Mn dan P akan berkurang dan ciri-ciri kekurangan hara akan mulai terlihat, walaupun hara ini tersedia dengan tingkatan yang cukup di dalam larutan. Jika kondisi pH dalam larutan terlalu tinggi, dapat menurunkan kadar Fe dalam larutan hidroponik dan menjadikannya sama sekali tidak dapat diserap oleh tanaman dan menyebabkannya klorosis pada bagian atas daun.

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam jenis hara mineral organik Nd menghasilkan nilai yang lebih tinggi pada kandungan hara Ca dan Mg dibanding hara mineral anorganik AB Mix (Tabel 14).

Tabel 14 Pengaruh jenis hara mineral terhadap rerata kandungan hara Ca dan Mg Jenis Hara Mineral Kandungan Hara Ca (%) Kandungan Hara Mg (%) Organik Nd

Anorganik AB Mix 1.76 b 2.50 a 3.82 a 2.91 b

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.

Frekuensi penyiraman 10 menit menghasilkan kandungan P lebih tinggi dari frekuensi penyiraman 5 menit (Tabel 15).

Tabel 15 Perlakuan frekuensi penyiraman terhadap rerata kandungan hara P Frekuensi Penyiraman (menit) Kandungan Hara P (%)

5 10

1.83 b 2.31 a

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.

Perlakuan hara mineral organik Nd dengan frekuensi penyiraman 10 menit menghasilkan nilai kandungan tertinggi pada hara Mg (Gambar 12A) dan Ca (Gambar 12B), sedangkan hara mineral organik Nd pada konsentrasi

2.25 mS -1 menunjukkan nilai yang lebih tinggi pada kandungan Ca (Gambar 12C). 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5 T1 T2 Waktu Siram K a n d u n g a n H a ra M g ( % ) P1 P2 0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 T1 Waktu Siram T2 K a n d u n g a n H a ra C a (% ) P1 P2 0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 A! A2 A3 Waktu Siram K a n d u n g a n H a ra C a (% ) P1P2 A B C

Gambar 12 Interaksi antara jenis hara mineral dengan frekuensi penyiraman terhadap kandungan hara Mg (12A); Ca (12B). Interaksi antara hara mineral dengan konsentrasi hara terhadap kandungan Ca (12C). (P1. hara mineral organik Nd; P2. hara mineral anorganik AB Mix). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (A1. konsentrasi hara 1,50 mS -1; A2. konsentrasi hara 2.25 mS -1; A3. konsentrasi hara 3.00 mS -1 ) (I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.

Sedangkan kombinasi antara jenis hara mineral organik Nd, konsentrasi 3.00 mS -1 menghasilkan kandungan N tertinggi (Gambar 13A), sedang jenis hara mineral organik Nd, konsentrasi hara 2.25 mS -1 dengan frekuensi penyiraman 5 menit menghasilkan kandungan hara S tertinggi (Gambar 14B). Kombinasi antara jenis hara mineral organik Nd dengan konsentrasi hara 2,25 mS -1 pada frekuensi penyiraman 10 menit menghasilkan kandungan hara K tertinggi (Gambar 13C). 0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 T1 Perlakuan T2 K a n d u n g a n H a ra N ( % ) P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 T1 T2 Perlakuan K a n d u n g a n H a ra S (% ) P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 0,0 0,2 0,4 0,6 0,8 1,0 1,2 1,4 1,6 T1 T2 Perlakuan K a n d u n g a n H a ra K ( % ) P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 A B C

Gambar 13 Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman terhadap kandungan N (13A); S (13B); K (13C). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2 frekuensi penyiraman 10 menit). ((P1A1.hara mineral organik Nd konsentrasi hara 1.50 mS -1; P2A1. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 1.50 mS -1; P1A2 hara mineral organik Nd konsentrasi hara 2.25 mS -1; P2A2 hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 2.25 mS -1; P1A3. hara

mineral organik Nd konsentrasi hara 3.00 mS -1;P2A3. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 3.00 mS -1). ((I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Korelasi antar parameter

Korelasi antara parameter tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, luas daun, bobot basah tanaman bobot kering tanaman, bobot basah akar, bobot kering akar, bobot basah daun, bobot kering daun, bobot basah tajuk dan bobot kering tajuk merupakan korelasi dengan arah positif sedang pada klorofil, serat kasar, kadar abu, kadungan hara N, P, K, Ca, Mg dan S mempunyai nilai korelasi dengan arah negatif (Lampiran 21).

Bobot basah tanaman mempunyai korelasi yang sangat tinggi terhadap bobot kering tanaman (90%), bobot basah daun (95%), bobot basah tajuk (96%) dan bobot kering tajuk (85%) nilai korelasi mempunyai arah positif dengan kisaran tertinggi dan terendah 59% - 96%. Pemakaian hara mineral organik Nd lebih efektif dari AB Mix untuk bobot basah tanaman dimana sangat erat korelasi

Dokumen terkait