SUBSTITUSI HARA MINERAL ORGANIK TERHADAP
HARA MINERAL ANORGANIK UNTUK PERTUMBUHAN
DAN PRODUKSI TANAMAN SELADA (Lactucca sativa L.)
PADA SISTEM HIDROPONIK
D E D E N
SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2008
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis Substitusi Hara Mineral Organik terhadap Hara Mineral Anorganik untuk Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Selada (Lactucca sativa L.) pada Sistem Hidroponik adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, September 2008
Deden G 351060511
ABSTRACT
DEDEN. (The Substitution of Organic Mineral Nutrient to Anorganic for Growth and Production of Lettuce (Lactucca sativa. L) by Hydroponik System). Under the direction of Muhadiono and Miftahudin.
The increase of organic vegetable demand and unavailablity of organic mineral nutrient for production of lettuce by hydroponic leads an attempt to produce and use organic mineral nutrient that can be used for hydroponic system. The aim of this research was to analyze possibility of substitution of organic mineral nutrient to anorganic mineral nutrient for production of lettuce in hydroponic system. This research was conducted at Hydroponic Amazing Farm green house Karakal Cibedug Bogor from November to December 2007.
This research was a factorial experiment with 3 factors that arranged in complete blok design with 3 replication. Those factors were Fertilizers (P1= organic mineral nutrient Nd; P2= anorganic mineral nutrient AB mix); Nutrient Concentration (A1= 1.5 mS-1 ; A2= EC 2.25 mS-1; A3 = EC 3.00 mS-1), and the Frequency of watering ( T1= every 5 minutes and T2 = every 10 minutes).
The results showed that Nd organic mineral nutrient with EC 2.25 mS-1 and 3.00 mS-1 and frequency of watering every 5 minutes gave the highest value
to all parameters except the plant height plant fresh weight, dry leaves, and the chlorophyl content. This research also showed that Nd organic mineral nutrient with either EC 1.50 mS-1 or EC 2.25 mS-1 could substitute anorganic mineral nutrient.
Key words: Substitution, organic mineral nutrient, anorganic mineral nutrient, growth, production, lettuce, hydroponic system
RINGKASAN
DEDEN
.
Substitusi Hara Mineral Organik terhadap Hara Mineral Anorganik untuk Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Selada (Lactucca sativa.L) pada Sistem Hidroponik. dibimbing oleh MUHADIONO dan MIFTAHUDIN.Permasalahan yang dihadapi oleh petani saat ini mengenai terbatasnya ketersediaan hara mineral organik untuk tanaman yang dibudidayakan secara hidroponik. Jika dilihat saat ini kebutuhan pasar akan sayuran organik belum tercukupi, hal ini terjadi akibat dari belum adanya sayuran organik hidroponik yang produksinya melebihi dari produksi sayuran dengan menggunakan hara mineral anorganik. Penggunaan hara mineral organik Nd diharapkan dapat menggantikan hara mineral anorganik AB Mix terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman selada. Penelitian ini bertujuan mengatahui peranan dan kemampuan substitusi hara mineral organik Nd terhadap hara mineral anorganik AB Mix pada pertumbuhan dan produksi tanaman selada secara hidroponik.
Hidroponik merupakan satu teknik budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tumbuhnya tetapi menggunakan media inert seperti gravel, pasir, peat, vermiekulite, pumice atau sawdust yang diberi larutan nutrisi yang mengandung semua elemen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan normal tanaman (Resh 1998). Teknologi hidroponik ini memberikan alternatif bagi petani yang memiliki lahan sempit untuk dapat melaksanakan kegiatan usaha yang dijanjikan sebagai sumber penghasilan yang memadai (Wardi et al. 1998). Menurut Harjadi (1989) terdapat empat metode hidroponik yaitu sistem hidroponik kultur pasir, sistem terbuka agregat, sistem hidroponik mengapung dan selaput hara (NFT). Metode selaput hara atau NFT banyak digunakan secara komersial untuk budidaya tanaman secara hidroponik. Pada teknik ini tanaman diletakkan secara teratur di sepanjang talang, sebagian akar terendam pada aliran hara dangkal setebal 3mm yang mengalir lambat, sedang sebagian akar lain mampu melakukan pertukaran udara dengan lingkungan sekitar (Resh 1999). Keistimewaan sistem hidroponik NFT antara lain produk yang dihasilkan bersih, kaya mineral, bebas pestisida dan jumlah air yang diperlukan hanya 1/10 bagian dari sistem hidroponik biasa. Teknik ini berkembang seiring dengan perkembangan teknologi hidroponik, sehingga hidroponik sistem NFT banyak digunakan untuk tanaman sayuran terutama selada. Dengan menggunakan sistem hidroponik NFT tanaman selada dapat dipanen 8 – 10 kali dalam satu tahun.
Pada sistem hidroponik sistem NFT kebutuhan hara tanaman diberikan bersama dengan irigasi atau dikenal dengan fertigasi (penyiraman). Pengaturan fertigasi pada budidaya sayuran secara hidroponik sistem NFT perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air dan hara. Jika pasokan air terhambat atau berkurang, maka pertumbuhan dan produksi tanaman berkurang. Untuk mendapatkan hasil yang opimum untuk pertumbuhan dan produksi selada, perlu mengetahui ketepatan komposisi larutan hara dan frekuensi penyiraman, maka dilakukan percobaan tentang substitusi hara mineral organik Nd terhadap hara mineral anorganik AB MIX pada 3 konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman 5 menit dan 10 menit.
Penelitian dilaksanakan pada bulan November sampai Desember 2007 di green house Hidroponik Amazing Farm Karakal Cibedug Bogor. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (faktorial RAK) 3 faktor terdiri dari dua jenis pupuk, dua frekuensi penyiraman dan 3 konsentrsi hara dengan tiga ulangan sehingga terdapat 36 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan terdiri dari 10 tanaman pertalang, maka jumlah total tanaman yang ditanam sebanyak 360 tanaman.
Hasil penelitian menunjukkan perlakuan hara mineral organik pada konsentrasi 2.25 dengan frekuensi penyiraman 10 menunjukkan hasil tertinggi untuk bobot basah tanaman, bobot basah daun, kandungan hara K dan kandungan Abu.
Parameter korelasi karl pearson yang memiliki arah positif ditunjukkan perlakuan parameter tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, luas daun, bobot basah tanaman bobot kering tanaman, bobot basah akar, bobot kering akar, bobot basah daun, bobot kering daun, bobot basah tajuk dan bobot kering tajuk. klorofil, serat kasar, kadar abu, kadungan hara N, P, K, Ca, Mg dan S mempunyai nilai korelasi dengan arah negatif. Nilai substitusi tertinggi ditunjukkan parameter kandungan hara S pada perlakuan A2T1 (90,48 %), A3T1 (96,67 %) dan A3T2 (70%). Sedang nilai substitusi terrendah ditunjukkan parameter klorofil pada perlakuan A1T2 (-39,38 %), A2T1 (-29,67 %) dan A3T1 (26,93 %).
Efisiensi unsur N untuk hasil kandungan N tanaman yang sama hara 4,5%, mineral organik Nd mempunyai nilai substitusi sebesar 54,52% terhadap hara mineral anorganik AB Mix.
Kata Kunci: Substitusi, hara mineral organik, hara mineral anorganik, pertumbuhan, produksi, selada, hidroponik.
© Hak Cipta milik IPB tahun 2008
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.
SUBSTITUSI HARA MINERAL ORGANIK TERHADAP
HARA MINERAL ANORGANIK UNTUK PERTUMBUHAN
DAN PRODUKSI TANAMAN SELADA (Lactucca sativa L.)
PADA SISTEM HIDROPONIK
D E D E N
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Biologi
SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2008
Judul Tesis : Substitusi Hara Mineral Organik terhadap Hara Mineral Anorganik untuk Pertumbuhan dan Produksi Tanaman
Selada
(Lactucca sativa L.) pada Sistem Hidroponik
Nama : D e d e n
NRP : G 351060511
Disetujui Komisi Pembimbing
Dr.Ir. Muhadiono, M.Sc Dr.Ir. Miftahudin, M.Si
Ketua Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi Biologi Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr.Ir. Dedy Duryadi Solihin, DEA Prof. Dr.Ir.Khairil A. Notodiputro, M.S
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala Rahmat dan Karunia-Nya sehingga karya tulis ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober 2007 - Januari 2008 dengan judul Substitusi Hara Mineral Organik terhadap Hara Mineral Anorganik untuk Pertumbuhan dan Produksi Selada (Lactucca sativa L.) pada Sistem Hidroponik.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr.Ir. Muhadiono, M.Sc dan Bapak Dr.Ir. Miftahudin, M.Si selaku pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan nasehat, arahan dan bimbingannya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan ini. Kepada Bapak Dr.Ir. Dedy Duryadi, DEA dan Bapak Prof. Dr.Ir. H. Dede Setiadi sebagai ketua Program Studi Biologi dan Sub Program Ekologi yang telah banyak memberi saran dan dorongannya. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Departemen Agama RI di Jakarta yang telah memberikan dana penddikan lewat program Bea Siswa BUD untuk Guru Madrasah. Kepada Bapak Kepala Madrasah dan dewan guru serta staf tata usaha Madrasah Aliyah Negeri Cijeruk Kabupaten Bogor, penulis mengucapkan banyak tarima kasih atas semua dorongan dan saran yang telah diberikan selama mengikuti perkuliahan. Untuk teman-teman BUD penulis mengucapkan banyak tarima kasih atas semua bantuannya.
Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada isteri tercinta Wahdahniah Munawarah, S.Ag serta anak-anakku tersayang Qatrunnida
Fatimatuzzahrah dan Muhammad Haikal Azril Kamil, Ibunda tersayang Hj. Zaenab beserta keluarga atas dukungan dan kasih sayangnya.
Insya Allah karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, September 2008.
Penulis
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Sukabumi pada tanggal 06 September 1972 sebagai anak ke-6 dari delapan bersaudara dari pasangan H. Jaenudin dan Hj. Zaenab. Pendidikan sarjana ditempuh di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin Jurusan Pendidikan Agama Islam, lulus tahun 1997 dan tahun 2003 lulus pada Perguruan Tinggi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati Bandung Jurusan Tadris Biologi. Kesempatan untuk meneruskan ke program Magister Sains IPB program studi Biologi diperoleh tahun 2006 dengan program beasiswa BUD Departemen Agama RI.
Penulis bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil pada Madrasah Aliyah Negeri Cijeruk Kabupaten Bogor dari tahun 2005 sampai sekarang sebagai guru mata pelajaran Biologi, kemudian menjadi guru honorer pada SMP Cibogo
Islamic Boarding School dari tahun 2004 sampai sekarang. Selama perkuliahan penulis membantu dosen pembimbing pada perkuliahan praktikum Pertanian
DAFTAR ISI
Halaman DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1 Tujuan Penelitian ... 3 Hipotesis ... 3 TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Tanaman Selada ... 4Unsur Hara ... 5
Hidroponik Sistem NFT ... 7
Faktor yang Menentukan Keberhasilan Tekhnik Hidroponik ... 8
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat ... 11
Bahan dan Alat ... 11
Rancangan Percobaan ... 11
Pelaksanaan Percobaan ... 13
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum ... 18
Pertumbuhan Vegetatif Tanaman ... 19
Panjang Akar dan Luas Daun ... 22
Biomasa Tanaman ... 24
Kandungan Serat Kasar, Klorofil dan Kadar Abu ... 26
Kandungan Hara Makro Tanaman... 28
Korelasi Antar Parameter ... 31
Nilai Substitusi ... 32
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan ... 34
Saran ... 34
DAFTAR PUSTAKA ... 35
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Perdagangan Ekspor-Impor selada di Indonesia tahun 2002-2006 ... 1
2. Kebutuhan unsur hara tanaman selada (Lactuca sativa L.) ... 6
3. Perlakuan percobaan ... 13
4. Parameter yang diamati dan frekuensi pengamatan... 17
5. Pengaruh jenis hara mineral terhadap rerata tinggi tanaman 1 MST – waktu panen ... 19
6. Perlakuan frekuensi penyiraman terhadap rerata tinggi tanaman 1MST – waktu panen ... 19
7. Pengaruh jenis pupuk dan perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata jumlah daun ... 20
8. Perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata jumlah daun ... 21
9. Pengaruh hara mineral terhadap rerata panjang akar ... 22
10. Pengaruh hara mineral dan perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata bobot basah akar dan bobot kering akar ... 24
11. Perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata bobot basah tajuk ... 24
12. Pengaruh jenis pupuk terhadap rerata serat kasar ... 27
13. Rerata kandungan hara makro tanaman setiap hara mineral ... 29
14. Pengaruh hara mineral terhadap rerata kandungan hara Ca dan Mg ... 30
15. Perlakuan frekuensi penyiraman terhadap kandungan Hara P ... 30
DAFTAR GAMBAR
Halaman 1. Susunan satu set alat percobaan hidroponik sistem NFT ... 16 2. Tanaman Selada setelah panen dengan memakai hara mineral organik Nd
Dan hara mineral anorganik AB Mix ... 18 3. Interaksi antara jenis pupuk dengan frekuensi penyiraman terhadap tinggi
tanaman 2MST (A); Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman terhadap tinggi tanaman 2MST (B), 3MST (C) dan waktu
panen (D) ... 20 4. Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman pada jumlah
daun 3MST (A), 4MST (B) dan waktu panen (C) ... 21 5. Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman pada
jumlah daun 2MST ... 22 6. Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman
pada luas daun ... 23 7. Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman pada bobot
basah tajuk (A), bobot kering tajuk (B) dan bobot kering akar (C) ... 25 8. Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman pada
bobot basah tanaman (A) dan bobot basah daun (B) ... 25 9. Interaksi antara hara mineral organik Nd dengan konsentrasi hara terhadap
bobot basah tanaman ... 26 10. Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman terhadap
serat kasar ... 27 11. Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman
terhadap kandungan klorofil (A) dan kadar abu (B) ... 28 12. Interaksi antara jenis pupuk dengan frekuensi penyiraman terhadap
Kandungan hara Mg (13A) dan Ca (13B). Interaksi antara pupuk
dengan konsentrasi hara terhadap kandungan Ca (13C) ... 30 13. Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman
Terhadap kandungan N (A), S (B) dan K (C)... 31 14. Rerata kandungan hara N tanaman selada (Lactucca sativa L.) ... 33
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. 1a. Kandungan unsur 2 jenis hara mineral ... 38
1b. Prosedur Pembuatan hara mineral organik Nd ... 39
2. Data suhu udara dikebun hidroponik Amazing Farm dari tanggal 5 November 2007 – 6 Desember 2007 ... 40
3. 3a. Data suhu larutan pagi jam 09.00 dari tanggal 5 November 2007 – 6 Desember 2007 ... 41
3b. Data suhu larutan siang jam 14.00 dari tanggal 5 November 2007 – 6 Desember 2007 ... 42
4. 4a. Data pH larutan pagi jam 09.00 dari tanggal 5 November 2007 – 6 Desember 2007... 43
4b. Data pH larutan siang jam 14.00 dari tanggal 5 November 2007 – 6 Desember 2007... 44
5. 5a. Data Elektron Conductivity (EC) larutan hara mineral pada pagi jam 09.00WIB dari tanggal 5 Nopember – 6 Desember 2007... 45
5b. Data Elektron Conductivity (EC) larutan hara mineral pada siang jam 14.00WIB dari tanggal 5 Nopember – 6 Desember 2007 ... 46
6. Sidik ragam tinggi tanaman 1MST – waktu panen ... 47
7. Sidik ragam jumlah daun 1MST – waktu panen ... 48
8. Sidik ragam tanaman setelah panen ... 49
9. Sidik ragam biomasa ... 50
10. Sidik ragam kandungan klorofil, serat kasar, kadar abu, kadar air ... 52
11. Sidik ragam kandungan hara makro ... 53
12. Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata jumlah daun tanaman pada 2 MST ... 55
13. Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata luas daun ... 55
14. Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata bobot basah Tanaman ... 56
15. Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata bobot basah daun ... 56
16. Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata kandungan hara N ... 57 17. Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata kandungan
hara K ... 57 18. Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata kandungan
hara S ... 58 19. Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata kadar abu
... 58 20. Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata klorofil ... 59 21. Rekapitulasi Nilai Korelasi Kart Pearson antar parameter pertumbuhan
selada (Lactuca sativa L.) ... 60 22. Nilai substitusi antara hara mineral organik Nd terhadap hara mineral
AB Mix pada parameter pengamatan tanaman selada (Lactucca sativa L.) . ... 61 23. Nilai rerata parameter untuk setiap sumber hara mineral ... 62 24. Kosa kata ... 62
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kecenderungan akan tingginya permintaan sayuran organik dan belum banyak tersedianya hara mineral yang berasal dari sisa kotoran makhluk hidup (organik) untuk produksi selada secara hidroponik (NFT), mendorong upaya untuk mengembangkan teknik hidroponik dengan hara mineral organik sebagai sumber hara. Selain itu juga masalah tingginya harga hara mineral anorganik menyebabkan biaya produksi hidroponik menjadi mahal, harga untuk satu liter hara mineral anorganik mencapai Rp 20.000,- untuk larutan A dan B. Untuk mendorong pengembangan produk sayuran hidroponik organik, juga mengatasi tingginya harga hara mineral anorganik, maka dapat dikembangkan hara mineral organik yang dibuat dari kotoran ternak. Hasil percobaan yang dilakukan Nichols dan Atkins (2004) pada hidroponik organik tanaman selada menggunakan campuran organik dari larutan ikan “Bette-Crops” dan larutan ganggang laut dengan perbandingan 3 : 2, memperlihatkan hasil bahwa produksi tanaman selada menunjukkan hasil yang lebih baik dari hara mineral anorganik. Dermawati (2006) telah membuktikan bahwa hara mineral organik dapat mensubstitusi hara mineral anorganik pada produksi tanaman pakchoy secara hidroponik sistem NFT. Departemen Perdagangan dan Perindustrian tahun 2002-2006 melaporkan bahwa kegiatan ekspor (volume sebesar 732,256 ton) melebihi kegiatan impor yang mencapai 30,770 ton (Tabel 1). Besarnya volume ekspor dan potensi devisa menjadikan selada termasuk salah satu komoditi sayuran yang besar untuk dikembangkan di Indonesia.
Tabel 1 Perdagangan ekspor dan impor selada di Indonesia tahun 2002-2006
Tahun Volume (ton)
Ekspor Impor 2002 2003 2004 2005 2006 Total 23,050 66,775 214,847 239,532 201,052 732,256 14,786 19,063 43,639 132,169 97,113 306,770
Hidroponik merupakan satu teknik budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tumbuhnya tetapi menggunakan media inert seperti gravel, pasir, peat, vermiekulite, pumice atau sawdust yang diberi larutan nutrisi yang mengandung semua elemen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan normal tanaman (Resh 1998). Teknologi hidroponik ini memberikan alternatif bagi petani yang memiliki lahan sempit untuk dapat melaksanakan kegiatan usaha yang dijadikan sebagai sumber penghasilan yang memadai (Wardi et al. 1998). Menurut Harjadi (1989) terdapat empat metode hidroponik yaitu sistem hidroponik kultur pasir, sistem terbuka agregat, sistem hidroponik mengapung dan selaput hara (NFT). Metode selaput hara atau NFT banyak digunakan secara komersial untuk budidaya tanaman secara hidroponik. Pada teknik ini tanaman diletakkan secara teratur di sepanjang talang, sebagian akar terendam pada aliran hara dangkal setebal 3 mm yang mengalir lambat, sedang sebagian akar lain mampu melakukan pertukaran udara dengan lingkungan sekitar (Resh 1999). Keistimewaan sistem hidroponik NFT antara lain produk yang dihasilkan bersih, kaya mineral, bebas pestisida dan jumlah air yang diperlukan hanya 1/10 bagian dari sistem hidroponik biasa. Teknik ini berkembang seiring dengan perkembangan teknologi hidroponik, sehingga hidroponik sistem NFT banyak digunakan untuk tanaman sayuran terutama selada. Dengan menggunakan sistem hidroponik NFT tanaman selada dapat dipanen 8 – 10 kali dalam satu tahun.
Terdapat beberapa faktor penting yang harus diperhatikan dalam budidaya hidroponik antara lain unsur hara, suplai oksigen, media tanam dan suplai air. Unsur makro adalah unsur yang diperlukan oleh tanaman dalam jumlah banyak seperti N, P, K, Ca, Mg, S dan unsur mikro dibutuhkan dalam jumlah sedikit yaitu B, Cu, Fe, Mn, Mo dan Zn (Marschner 1986).
Larutan hara merupakan bagian penting dalam sistem hidroponik NFT, setiap jenis tanaman memerlukan tingkat konsentrasi hara yang berbeda. Konsentrasi hara (EC) rendah atau terlalu tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman (Roan 1998). Tanaman yang dibudidayakan pada larutan hara dengan konsentrasi tinggi (melebihi konsentrasi optimum) akan menyebabkan stress dan tanaman tidak dapat menyerap cukup air untuk pertumbuhannya (Morgan 2000).
Hasil penelitian Nurfinayati (2004) menunjukkan bahwa selada tumbuh baik pada kisaran konsentrasi EC 0.3 mS -1–1.55 mS -1 dengan teknologi hidroponik sistem terapung.
Pada sistem hidroponik sistem NFT kebutuhan hara tanaman diberikan bersama dengan irigasi atau dikenal dengan fertigasi (penyiraman). Pengaturan fertigasi pada budidaya sayuran secara hidroponik sistem NFT perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air dan hara. Jika pasokan air terhambat atau berkurang, maka pertumbuhan dan produksi tanaman berkurang. Untuk mendapatkan hasil yang opimum untuk pertumbuhan dan produksi selada, perlu mengetahui ketepatan komposisi larutan hara dan frekuensi penyiraman, maka dilakukan percobaan tentang substitusi hara mineral organik Nd terhadap hara mineral anorganik AB Mix pada 3 konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman 5 menit dan 10 menit. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Izzati (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan dan produksi selada dihasilkan oleh kombinasi larutan hara mineral dengan fertigasi terputus-putus pada sistem hidroponik agregat media arang sekam.
Tujuan Penelitian Penelitian bertujuan mengetahui:
1. Peranan hara mineral organik Nd yang berasal dari hara mineral organik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman selada pada hidroponik sistem NFT.
2. Kemampuan substitusi hara mineral organik Nd terhadap penggunaan hara mineral anorganik pada hidroponik sistem NFT tanaman selada.
Hipotesis Penelitian
1. Pengaruh hara mineral organik Nd terhadap pertumbuhan dan produksi selada tidak berbeda dengan hara mineral anorganik pada hidroponik sistem NFT tanaman selada.
2. Hara mineral organik Nd mampu mensubstitusi hara mineral anorganik pada hidroponik sistem NFT tanaman selada.
TINJAUAN PUSTAKA
Selada (Lactucca sativa.L)
Selada adalah tanaman setahun polimorf (memiliki banyak bentuk) khususnya daun. Daun selada berjumlah banyak dan berposisi duduk (sessile), tersusun berbentuk spiral dalam roset padat. Bentuk yang berbeda-beda sangat beragam warna dan tekstur. Daun tidak berambut, mulus, berkeriput (savoy), atau kusut berlipat. Warna beragam mulai dari hijau muda hingga hijau tua. Kultivar tertentu berwarna merah atau ungu. Daun bagian dalam pada kultivar yang tidak membentuk kepala cenderung berwarna lebih cerah sedang pada kultivar yang membentuk kepala lebih pucat. Tanaman berakar tunggang dalam diiringi penebalan dan perkembangan ekstensif akar lateral yang kebanyakan horizontal. Sistem perakaran dangkal dan kecil sehingga memerlukan pasokan hara mudah terjangkau (Rubatzky & Yamaguchi 1998). Dalam taksonomi tumbuhan, tanaman selada diklasifikasikan dalam:
Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Class : Dicotyledonae Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Lactuca
Spesies : Lactuca sativa (Grubben & Sukprakarn, 1994)
Grubben & Sukprakarn (1994) mengatakan bahwa selada dikelompokkan dalam lima macam tipe yaitu selada kepala renyah dan kepala mentega (Lactucca sativa var. capitata), cos atau romain (Lactucca sativa var. longifolia), daun longgar atau loose leaf (Lactucca sativa var. crispa), batang (Lactucca sativa var. asparagina) dan latin (Lactucca sativa). Selada kultivar Grand Rapids termasuk dalam tipe loose leaf. Selada jenis ini memiliki helaian daun lepas dan pada tepian berombak atau bergerigi, berwarna hijau atau merah dan tidak membentuk krop. Selada ini berumur genjah dan toleran terhadap kondisi dingin, dipanen hanya helaian daun saja sehingga selada ini dapat dipanen beberapa kali.
Sejumlah besar selada diproduksi dalam bangunan pelindung seperti rumah kaca. Pada suhu dan lingkungan pertumbuhan terkendali maka peluang produksi di luar musim meningkat. Selada kualitas baik dihasilkan pada batas suhu pertumbuhan awal bibit sekitar 130C pada malam hari dan 160C siang hari
(Rubatzky & Yamaguchi 1998). Nurfinayati (2004) menyebutkan bahwa suhu tinggi selama pertumbuhan selada menyebabkan kelayuan sementara pada siang hari akibat meningkatnya transpirasi, selain itu suhu mempengaruhi kelarutan gas di dalam air.
Selada hidroponik tumbuh optimal pada pH sekitar 6.0 sampai 6.5 (Resh 1999). Percobaan dilakukan Nurfinayati (2004) pada pH tinggi mencapai 7.9 menyebabkan menurunnya pertumbuhan dan produksi tanaman, yaitu diameter batang dan bobot dipasarkan per tanaman.
Umumnya kualitas selada dibagi ke dalam dau kategori yaitu: (1) sifat yang mudah diamati (fisik) meliputi penampilan, warna, kerenyahan, keseragaman ukuran, bobot, tekstur dan rasa; (2) sifat kurang teramati (kimia) meliputi aroma dan nilai gizi (Ware 1980).
Waktu panen selada berbeda tergantung varietas dan kondisi cuaca (Nurfinayati 2004). Umumnya waktu panen berkisar 35 hari sampai 45 hari setelah pindah tanam. Menunda panen untuk mencapai bobot tanaman lebih tinggi menjadi kurang menguntungkan dan lebih menguntungkan apabila memulai penanaman baru (Rubatzky & Yamaguchi 1999).
Unsur Hara
Unsur hara tanaman adalah bahan-bahan yang diserap oleh tanaman yang berisi satu atau lebih unsur esensial yang dibutuhkan tanaman (Jansen 1997). Pada sistem pertanian hidroponik pemakaian hara mineral diberikan dalam bentuk pupuk cair, hal ini dilakukan agar unsur hara terdapat dalam hara mineral mudah untuk diserap oleh tanaman. Dermawati (2006) telah membuktikan bahwa hara mineral organik dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun untuk tanaman pakchoy secara hidroponik sistem NFT.
Penanaman selada secara hidroponik memerlukan unsur hara dalam konsentrasi yang akurat. Dalam pemakaian hara mineral organik harus
memperhatikan unsur hara diperlukan tanaman. Menurut Adam et al. (1995) untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang baik, tanaman harus dipenuhi kebutuhan unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, S) dan unsur mikro (Mn, Mo, B, Fe, Cl, Cu) dengan cukup (Tabel 2).
Tabel 2 Kebutuhan Unsur Hara Tanaman Selada
NO NAMA UNSUR KONSENTRASI (ppm)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kalium (K) Kalsium (Ca) Nitrogen (N) Magnesium (Mg) Fosfor (P) Besi (Fe) Mangan (Mn) Boron (B) Seng (Zn) Kopper Molibdenum (Mo) 200 175 160 50 45 5 0.8 0,3 0,1 0,07 0,003
Sumber: Chalcheedas, Conductivity of Nutrient Simplified
Pada dasarnya budidaya hidroponik lebih memfokuskan pada pengaturan komposisi larutan hara sesuai kebutuhan tanaman. Tanaman memperoleh unsur hara larutan garam mineral yang langsung diberikan ke akar tanaman, sehingga tanaman lebih memfokuskan energi untuk pertumbuhan tidak digunakan untuk kompetisi memperoleh unsur hara (Pranis 1998). Sebagaimana telah kita ketahui bersama penggunaan hara mineral organik pada pertanian dilahan media tanah dapat memberikan tambahan organik, hara, memperbaiki sifat tanah dan mengembalikan unsur hara yang terangkut tanaman hasil panen (Nugroho et al. 1999).
Hara mineral anorganik AB Mix adalah hara mineral hidroponik lengkap yang mengandung semua unsur hara makro dan hara mikro yang diperlukan oleh tanaman dan diformulasikan sesuai kebutuhan. Berdasarkan hasil penelitian Izzati (2006) hara mineral AB Mix dapat mengkatkan hasil bobot panen selada yang lebih baik dari jumlah daun dan tinggi tanaman jika dibanding dengan hara mineral anorganik hyponex dan saprodap pada hidroponik sistem agregat dengan media sekam.
Dalam budidaya hidroponik semua unsur esensial diberikan pada tanaman dengan cara mencampur unsur hara kedalam air sehingga menjadi suatu larutan hara. Menurut Turon dan Perez (1999) dalam pembuatan larutan hara untuk budidaya hidroponik yang utama adalah konsentrasi tepat dan mengandung semua unsur dibutuhkan. Formulasi larutan diberikan tergantung jenis tanaman, tahap pertumbuhan, musim, serta keadaan iklim seperti suhu, kelembaban dan cahaya (Resh 1999).
Hidroponik Sistem NFT
Hidroponik berasal dari kata Hydroponos terdiri dari dua kata yaitu Hydro artinya air dan ponos artinya bekerja dengan air, sehingga hydroponik dapat diartikan sebagai kegiatan budidaya tanaman pertanian dengan menggunakan air sebagai media tanam utama (Nicholls 1996). Hidroponik merupakan metode menumbuhkan tanaman dalam larutan hara (air yang mengandung pupuk) dengan memakai media inert seperti pasir, vermiekulite, rockwoll, perlite dan sawdust sebagai penunjang mekanik (Jansen 1997). Di Amerika pada awal tahun 1900, kata hidroponik digunakan untuk menggambarkan sebuah metode budidaya tanaman dengan akar menggantung di dalam wadah air yang mengandung nutrisi (Smith 1999).
Pada dasarnya budidaya hidroponik lebih memfokuskan pada pengaturan komposisi larutan hara hara sesuai kebutuhan tanaman. Tanaman memperoleh unsur hara larutan garam mineral yang langsung diberikan ke akar tanaman, sehingga tanaman lebih memfokuskan energi untuk pertumbuhan tidak digunakan untuk kompetisi memperoleh unsur hara (Pranis 1998).
Menurut Harjadi (1989) terdapat empat metode hidroponik yaitu hidroponik kultur pasir, sistem terbuka agregat, sistem hidroponik terapung (THST) dan sistem selaput hara (NFT). Pada sistem hidroponik kultur pasir, pasir bertindak sebagai media tumbuh permanen dan pada sistem terbuka agregat, bibit dipindahkan ke wadah yang diisi dengan substrat inert dan disiram larutan hara. Menurut Susila (2003) pada sistem hidroponik terapung tanaman diletakkan pada panel stryofoam yang mengapung pada kolam hara dengan ukuran dan volume larutan besar sehingga dapat menekan fluktuasi larutan hara.
Metode selaput hara atau NFT banyak digunakan secara komersial sebagai budidaya tanaman secara hidroponik. Teknik ini pertama kali dikembangkan di Inggris oleh Cooper pada akhir tahun 1970. Tanaman diletakkan secara teratur di sepanjang talang, sebagian akar terendam pada aliran hara dangkal yang mengalir lambat, sedang sebagian akar lain mampu melakukan pertukaran udara dengan lingkungan sekitar. Larutan hara yang mengalir sangat tipis, ketebalannya hanya 3 mm (Resh 1999).
Menurut Resh (1999) budidaya hidroponik memiliki kelebihan dibanding budidaya konvensional di atas tanah. Kelebihan tersebut antara lain :
1. Hara tanaman homogen dan dapat dikendalikan.
2. Tidak dibatasi ketersediaan unsur hara oleh tanah, sehingga memungkinkan penambahan populasi per unit area.
3. Tidak memerlukan pengolahan tanah dan penanganan masalah gulma.
4. Penggunaan hara minerallebih efisien karena diberikan seragam pada semua tanaman.
5. Media tanam lebih permanen, dapat digunakan jangka waktu lama. 6. Hama dan penyakit cenderung berkurang.
Faktor yang Menentukan Keberhasilan Teknik Hidroponik
Keberhasilan dalam budidaya tanaman dengan menggunakan sistem hidroponik NFT ditentukan oleh derajat kemasaman, konsentrasi hara (EC) dan frekuensi penyiraman.
Derajat Kemasaman (pH) Larutan Hara
Menurut Diatloff (1999) Pandus hydrogenii (potential hydrogen) kepanjangan dari pH yaitu nilai (dari 1 sampai 14) yang menunjukkan asam atau basa suatu larutan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan asal Belanda Sorensen pada tahun 1909 untuk menjelaskan konsentrasi ion-ion hidrogen yang berukuran sangat kecil. Kemasaman larutan (pH) mempengaruhi pertumbuhan tanaman dengan dua cara yaitu mempengaruhi persediaan hara dan mempengaruhi penyerapan hara oleh akar tanaman.
Nilai rata-rata tertinggi tersedia semua hara penting tanaman berada pada pH kisaran 5.4 sampai 6.0 untuk media tanpa tanah. Rendahnya pH menyebabkan peningkatan kandungan Fe, Mg, dan Al terlarut, selain itu ketersediaan Ca, Mg, S, dan Mo menurun. Pada pH tinggi sebaliknya menyebabkan penurunan P, Fe, Mg, Zn, Cu, dan B (Nelson 1998). Soepardi (1983) menambahkan pH merupakan hal yang harus diperhatikan karena berhubungan dengan Ca dan Mg dipertukarkan, kelarutan alumunium dan unsur mikro dan ketersediaan fosfor.
Pada budidaya tanaman secara hidroponik, larutan hara dipertahankan pada kisaran pH 5.5-6.5 dengan menambahkan larutan asam atau basa (Adam et al. 1995). Mengingat pentingnya pH bagi ketersediaan bagi tanaman hidroponik, maka pH larutan hara perlu senantiasa dijaga agar tidak keluar dari kisaran yang dibutuhkan tanaman (Subiyanto 2000). Pada Lampiran 4 kisaran pH untuk hara mineral organik Nd dan hara mineral anorganik AB Mix cukup stabil sehingga proses penyerapan kandungan nurisi dalam hara mineral tersebut mencukupi. Nilai pH larutan hara mudah berubah seiring dengan ketidakseimbangan antara kation dan anion yang diserap oleh tanaman (Harjadi 1989).
Konduktivitas Listrik (EC)
Konduktivitas listrik (EC, Electrical Conductivity) dikenal sebagai faktor konduktivitas (CF, Conductivity Factor) atau daya hantar listrik (DHL) yaitu pengukur kadar garam dalam larutan hara. Konduktivitas listrik memberi indikasi mengenai hara yang terkandung pada larutan dan yang diserap oleh akar. Larutan kaya hara akan mempunyai konduktivitas listrik yang lebih besar dari pada larutan yang mempunyai sedikit ion garam. Nilai EC tergantung dari jenis ion yang terkandung di dalam larutan hara, konsentrasi ion, dan suhu larutan (Morgan 2000).
Menurut Hermawan (2004) perlakuan EC memberi respon berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman, pertambahan jumlah daun /minggu, bobot basah per tanaman, hasil /kelompok, bobot basah akar dan bobot kering pada akar salada. Salada varietas Bellona dan Paris cos island menggunakan sistem NFT pada kisaran EC 1,5-5,0 mS-1/cm berpengaruh kecil terhadap bobot basah dan meningkatkan bobot kering akar seiring dengan peningkatan taraf EC.
Satuan pengukuran internasional (SI) konduktivitas adalah Siemens. Satuan tersebut diambil dari nama Ernest Siemens yaitu seorang ilmuwan dan industrialis Jerman pada abad ke-19, sehingga simbol untuk konduktivitas adalah S. Pengukuran konduktivitas didasarkan pada jumlah ion yang melayang diantara dua elektroda pada jarak tertentu. Konduktivitas sering dinyatakan dalam dS/m, mS/cm atau µS/cm (Chalcheedas 1998).
Perubahan EC larutan hara berbanding lurus dengan banyak unsur hara terkandung dalam larutan hara. Semakin banyak unsur hara yang terkandung dalam larutan hara maka semakin tinggi nilai EC, yang berarti bahwa kemampuan larutan hara tersebut untuk mengantarkan ion listrik ke akar tanaman semakin tinggi (Permatasari 2001). Chalcheedas (1998) menambahkan bahwa konduktivitas mengukur jumlah total partikel bermuatan listrik dalam larutan, namun tidak dapat membedakan antara satu ion dengan ion lain sehingga konduktivitas tidak dapat mendeteksi ketidakseimbangan hara dalam suatu larutan. Nilai EC semakin menurun dengan bertambahnya umur tanaman karena terjadi penyerapan unsur hara (Roan 1998).
Fertigasi/Penyiraman
Fertigasi adalah singkatan dari fertilizer (pemupukan) dan irrigation (pengairan), suatu sistem pemupukan dan pengairan yang diberikan secara bersamaan atau dikenal dengan istilah penyiraman. Tanaman Hidroponik dalam sistem NFT sangat tergantung pada aliran air yang mengalir pada talang sebagai media tanam. Jika pasokan air terhambat atau berkurang maka pertumbuhan dan produksi tanaman berkurang. Berdasarkan hasil penelitian Dermawati (2006) menyatakan bahwa produksi tanaman pakchoy menunjukkan hasil yang berbeda pada setiap perlakuan frekuensi penyiraman, frekuensi penyiraman 5 menit menunjukkan hasil yang lebih baik dari frekuensi penyiraman 10 menit.
METODOLOGI PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan mulai bulan November sampai Desember 2007 di green house Hidroponik Amazing Farm Karakal Cibedug Bogor. Analisis hara mineraldilakukan di Laboratorium Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Bogor. Analisis kandungan unsur hara dan senyawa lain yang terkandung dalam tanaman selada setelah panen dilakukan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan IPB, Laboratorium Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Bogor, dan Laboratorium Balitro, Bogor.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain bibit selada daun (leaf lettuce L) varietas Grand Rapids produksi Panah Merah, hara mineral organik Nd yang dibuat dengan prosedur seperti pada Lampiran 1B, hara mineral anorganik AB Mix (Lampiran 1). Alat yang digunakan antara lain, talang air untuk NFT berjumlah 36 buah ukuran (2 m x 11 cm x 12 cm), selang PE (polietilen), dua buah timer (produksi hidroponik parung farm), styrofoam sebagai tempat tumbuh tanaman, gabus, baivalve (keran buka tutup) air dan cairan larutan pupuk, backwash (untuk mengaduk/mengagitasi larutan supaya konsentrasi unsur hara merata), green house, pompa air celup (submebsible pump), pH meter dan EC meter mS -1.
Rancangan Percobaan
Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok terdiri 3 faktor (factorial RAK) yaitu jenis sumber pupuk, konsentrasi hara mineral dan frekuensi penyiraman dengan tiga kali ulangan.
Tiga Faktor Rancangan Acak Kelompok Faktorial disajikan dalam model linear berikut ini:
Y ijkl= µ+αi+βj+γk+(αβ)ij +(αγ)ik +(βγ)jk +(αβγ)ijk +εijkl
dengan
Yijkl = Nilai pengamatan pada satuan percobaan ke-1 yang memperoleh
kombinasi perlakuan ijkl (taraf ke-i factor faktor jenis pupuk, taraf ke-j faktor konsentrasi hara, dan taraf ke-k faktor frekuensi
penyiraman); µ = rataan umum;
αi = pengaruh jenis hara mineraltaraf ke-i;
βj = pengaruh konsentrasi hara taraf ke-j;
γk = pengaruh frekuensi penyiraman taraf ke-k;
(αβ)ij = pengaruh interaksi hara mineral taraf ke-i dan konsentrasi hara taraf
ke-j;
(αγ)ik = pengaruh interaksi hara mineral taraf ke-i dan frekuensi penyiraman
taraf ke-k;
(βγ)jk = pengaruh interaksi konsentrasi hara taraf ke-j dan frekuensi
penyiraman taraf ke-k;
(αβγ)ijk = pengaruh interaksi hara mineral taraf ke-i, konsentrasi hara taraf ke-j
dan frekuensi penyiraman taraf ke-k;
εijkl = pengaruh galat dari satuan percobaan ke-l yang memperoleh
kombinasi perlakuan ijk;
Hara mineral yang digunakan dalam penelitian ini memakai dua jenis, terdiri dari 2 taraf perlakukan yaitu:
1. P1 = Hara mineral organik Nd (ramuan Deden) 2. P2 = AB Mix, hara mineral anorganik paket usaha
Konsentrasi hara dalam penelitian ini terdiri dari 3 taraf perlakuan yaitu: 1. A1 = EC 1,50 mS .cm-1
2. A2 = EC 2.25 mS .cm-1 3. A3 = EC 3.00 mS .cm-1
Frekuensi penyiraman terdiri dari 2 macam taraf perlakuan yaitu: 1. T1 = frekuensi penyiraman dilakukan setiap 5 menit
Berdasarkan perlakuan di atas diperoleh 12 kombinasi perlakuan (2x3x2) dan diulang 3 kali, sehingga diperoleh 36 satuan percobaan. Kombinasi perlakuan disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3: Perlakuan Percobaan. Prekuensi
Penyiraman (T)
Hara Mineral Organik Nd (P1)
Hara Mineral Anorganik AB Mix (P2)
Konsentrasi hara (A) Konsentrasi hara (A)
A1 (EC) A2 (EC) A3 (EC) A1 (EC) A2 (EC) A3 (EC)
T1 P1 A1 T1 P1 A2 T1 P1A3 T1 P2A1 T1 P2A2 T1 P2 A3 T1
T2 P1 A1 T2 P1 A2 T2 P1A3 T2 P2 A1 T2 P2A2 T2 P2A3 T2 Keterangan: P1 : Hara mineral organik Nd
P2 : Hara mineral anorganik AB Mix A1 : Konsentrasi hara EC 1.50 mS -1
A2 : Konsentrasi hara EC 2.25 mS -1
A3 : Konsentrasi hara EC 3.00 mS -1
T1 : Frekuensi penyiraman tiap 5 menit T2 : Frekuensi penyiraman tiap 10 menit
Analisis Data
Data yang dihasilkan dianalisis dengan menggunakan analisis ragam Rancangan Acak Kelompok 3 faktor (faktorial RAK) dengan uji F pada taraf kepercayaan 95 %, apabila terdapat pengaruh dari perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan.
Struktur Tabel Analisis Sidik Ragam (ANOVA) Rancangan Acak Kelompok 3 faktor adalah sebagai berikut:
Sumber
Keragaman Derajat Bebas (db) Jumlah Kuadrat (JK) Kuadrat Tengah (KT) F Hitung
A a-1 = 1 JKA KTA KTA / KTG
B b-1 = 2 JKB KTB KTB / KTG
C c-1 = 1 JKC KTC KTC / KTG
AB (a-1) ( b-1) = 2 JKAB KTAB KTAB / KTG
AC (a-1) (c-1) = 1 JKAC KTAC KTAC / KTG
BC (b-1) (c-1) = 1 JKBC KTBC KTBC / KTG
ABC (a-1) (b-1) (c-1)= 2 JKABC KTABC KTABC / KTG
Ulangan r – 1 = 2 JKK KTK KTK / KTG
Galat (Ab-1) ( r-1 ) JKG KTG
Total Abcr – 1 = 35 JKT Keterangan :
1. Faktor A ( jenis hara mineral: P1, P2, ) a-1=1
2. Faktor B (konsentrasi hara mineral: Ec 1.50 mS -1, EC 2.25 mS -1 dan EC 3.00 mS -1)
b-1=3-1=2
r -1=2-1=1 4. Ulangan r-1 = 3 – 1 = 2 5. Galat Ab ( r – 1 ) = 2x2x3x3 (36 – 1 ) = 24 6. Total Abcr – 1 = 2x2x3x3-1 = 35 Sehingga : Sumber
Keragaman Derajat Bebas (db) Jumlah Kuadrat (JK) Kuadrat Tengah (KT) F Hitung
A 1 JKA KTA KTA / KTG
B 2 JKB KTB KTB / KTG
C 2 JKC KTC KTC / KTG
AB 1 JKAB KTAB KTAB / KTG
AC 1 JKAC KTAC KTAC / KTG
BC 2 JKBC KTBC KTBC / KTG
ABC 2 JKABC KTABC KTABC/ KTG
Ulangan 2 JKK KTK KTK / KTG
Galat 24 JKG KTG
Total 35 JKT
Berdasar Analisis Sidik Ragam diatas maka terdapat 3 kesimpulan yaitu:
1. Perlakuan yang memberikan respon sama atau tidak sama dengan memperhatikan nilai peluang pada Tabel ANOVA, jika nilai peluang < α maka terdapat perlakuan memberi respon berbeda.
2. Apabila ada perbedaan dari perlakuan diatas, dilanjutkan Uji wilayah berganda Duncan dengan tingkat kepercayaan 95 %.
3. Berdasar hasil perlakuan diatas maka ditentukan perlakuan mana yang memberikan respon tertinggi, hal ini dilihat dari nilai rerata perlakuan atau kombinasi perlakuan.
Analisis kandungan klorofil
Kandungan klorofil daun diukur meliputi kandungan total klorofil dilakukan menggunakana spektrofotometer. Prosedurnya sebagai berikut:
1. Daun segar dipotong kecil-kecil dan ditimbang sebanyak dua gram, kemudian digerus sampai halus dengan mortar dalam aseton 80 % secukupnya.
2. Hasil gerusan kemudian disaring dengan kertas Whatman no. 1 ke dalam labu ukur 100 ml.
3. Tambahkan aseton 80% ke dalam labu ukur sampai mencapai 100 ml, kemudian larutan diambil 5 ml larutan ini dimasukkan kedalam labu ukur 50 ml dan diencerkan dengan aseton 80% sampai volumenya 50 ml.
4. Menggunakan spektrofotometer larutan klorofil tersebut diukur transmitansinya (T) pada panjang gelombang (λ) 645 nm dan 663 nm yang kemudian dikonversikan ke absorban dengan rumus: A = 2 – log T.
5. Untuk menghitung kandungan klorofil digunakan rumus sebagai berikut: Kl a = 0.0127. A663 – 0.00269. A645
Kl b = 0.0229. A645 – 0.00468. A663
Kl total = Kl a + Kl b= 0.0202. A645 + 0.00802. A663
Kla = klorofil a ; Kl b = klorofil b A663 = Absorbansi pada λ 663 nm
Uji Korelasi Karl Pearson
Uji korelasi Karl Pearson untuk mengetahui keeratan hubungan beberapa parameter pengamatan menggunakan program SPSS for window versi 13.0
Rp = q α‘Ѕ‾y Rp = qα‘√KTG⁄r
Rp = Banyaknya nilai tengah yang terlibat pada setiap pengujian. qα‘ = Nilai tabel Duncan pada taraf nyata α
Analisis Respond Polynomial Orthogonal
Analisis Respond Polynomial Orthogonal dilakukan untuk mengetahui respon konsentrasi hara terhadap jenis sumber hara mineral. Uji respon Polynomial Orthogonal menggunakan program SAS for windows versi 1.9
Substitusi
Nilai substitusi untuk setiap parameter di lakukan perhitungan dengan rumus sebagai berikut:
A – B =x 100%
B
Keterangan:
A = Nilai parameter pada perlakuan hara mineral organik Nd B = Nilai parameter pada perlakuan hara mineral anorganik AB Mix
Pelaksanaan Percobaan Penanaman dan Pemilihan tanaman percobaan
Pengacakan perlakuan pada green house diatur sedemikian rupa agar perlakuan mendapatkan kondisi lingkungan yang sama. Pola penanaman diatur memakai 3 instalasi yang masing-masing menggunakan larutan hara berbeda
sesuai konsentrasi telah ditentukan. Setiap instalasi terdiri 2 timer (5 dan 10 menit) dan tangki penyimpan larutan hara berkapasitas 20 liter sesuai
konsentrasi masing-masing (Gambar 1).
Gambar 1 Susunan percobaan substitusi hara mineral organik Nd terhadap hara mineral anorganik AB Mix pada hidroponik sistem NFT.
Bibit selada sebelum ditanam pada unit percobaan disemaikan terlebih dulu dalam baki plastik yang berisi arang sekam dan setelah berumur lebih kurang 13 hari atau telah berdaun 3 helai, akar dibungkus dengan rockwool, baru dipindah ke styrofoam yang sebelumnya telah dilubangi dengan sistem NFT (Nutrient Film Tehnique). Setiap satuan percobaan ditanami 10 tanaman selada, jumlah seluruh tanaman selada menjadi 360.
Jumlah talang NFT yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 32 dengan ukuran panjang 2 m, 32 pompa air celup dan 32 ember sebagai tempat menyimpan campuran hara mineral dengan air. Keadaan derajat kemasaman dan kandungan konsentrasi larutan hara dalam hara mineral menggunakan pH dan EC meter.
Pengamatan
Pengamatan tanaman dilakukan setiap hari dan mencatat data dilakukan 1 kali setiap minggu mulai dari minggu pertama setelah pemindahan bibit dari
semaian sampai minggu terakhir ketika panen 4 minggu setelah tanam (MST). Waktu panen dilakukan pagi hari untuk mengurangi penguapan kandungan air pada bobot basah tanaman. Pengukuran uji kandungan klorofil dilakukan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA IPB Bogor, pengukuran bobot basah, bobot kering, kandungan total unsur serta analisis kandungan kadar abu dan serat kasar dilakukan di laboratorium Penelitian dan Uji Tanah Sindangbarang, Bogor serta Laboratorium Balitro, Bogor.
Faktor kendala yang dihadapi dalam percobaan antara lain disebabkan faktor cuaca, serangan hama dan bibit kurang baik. Untuk menanggulangi cuaca hujan dan suhu panas dan serangan hama, diatasi menggunakan green house dan atap plastik. Bibit kurang baik diatasi dengan persiapan bibit dan penggantian seluruh tanaman serta pemilihan bibit lebih teliti.
Parameter jumlah daun dilakukan pada daun yang telah terbuka penuh setiap minggu. Parameter tinggi tanaman dilakukan setiap minggu pengukuran tinggi tanaman dilakukan mulai pangkal batang sampai ujung pucuk.
Parameter luas daun dilakukan dengan menghitung luas total daun pada umur tanaman 33 hari setelah tanam. Parameter yang dilakukan pada penelitian ini berjumlah 16 (Tabel 4).
Tabel 4. Parameter yang diamati dan frekuensi pengamatan
No Parameter Jumlah pengamatan
1 Tinggi Tanaman 4 kali (1 kali setiap minggu)
2 Jumlah Daun 4 kali (1 kali setiap minggu)
3 Panjang Akar 1 kali setelah panen
4 Luas Daun 1 kali setelah panen
5 Bobot Basah Tanaman 1 kali setelah panen
6 Bobot Basah Akar 1 kali setelah panen
7 Bobot Kering Akar 1 kali setelah panen
8 Bobot Basah Tajuk 1 kali setelah panen
9 Bobot Kering Tajuk 1 kali setelah panen
10 Bobot Basah Daun 1 kali setelah panen
11 Bobot Kering Daun 1 kali setelah panen
12 Kadar Abu 1 kali setelah panen
13 Kadar Air 1 kali setelah panen
14 Kandungan Serat Kasar 1 kali setelah panen 15 Kandungan Klorofil 1 kali setelah panen 16 Kandungan Total Hara 1 kali setelah panen
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum
Pertumbuhan tanaman selada hingga akhir panen menunjukkan kondisi cukup baik. Selama pelaksanaan penelitian terdapat perbedaan suhu, pH dan
konsentrasi hara. Suhu ruangan pada pukul 07.00 WIB berkisar antara 23 oC - 25 oC sedang pada pukul 15.00 WIB berkisar antara 25 oC – 28 oC. Suhu
larutan pada jam 07.00 WIB berkisar antara 21 oC – 23 oC, sedang pada pukul 15.00 WIB berkisar antara 24 oC – 27 oC. pH larutan pada pukul 07.00 WIB berkisar antara 4.3 - 6.9, sedang pada pukul 15.00 WIB berkisar antara 4.8 - 7.1. Konsentrasi hara pada 1 sampai 9 hari setelah tanam dibuat sama berkisar antara 0,80 mS-1 sampai 1,30 mS -1, tetapi mulai 10 hari sampai panen konsentrasi hara disesuikan dengan rencana penelitian 1,50 mS-1, 2,25 mS -1 dan 3,00 mS -1 (Lampiran 2 - 5B).
Gambar 2 Tanaman Selada (Lactucca sativa L) setelah panen dengan memakai hara mineral organik Nd dan hara mineral anorganik AB Mix.; (P1:hara mineral organik; P2: hara mineral anorganik; A1: konsentrasi
P2A3T1 P1A1T2 P2A1T2 P1A3T1 P1A2T2 P2A2T2 P1A3T2 P2A3T2 P2A2T1 P1A2T1 P2A1T1 P1A1T1
hara 1,50; A2 : konsentrasi hara 2,25; A3 : konsentrasi hara 3,00; T1 frekuensi penyiraman 5 menit; T2 : frekuensi penyiraman 10 menit). Selama pelaksanaan penanaman dilakukan pengukuran setiap hari untuk derajat kemasaman (pH) dan konsentrasi hara (EC) serta tinggi tanaman dan banyaknya jumlah daun dilakukan pada setiap minggu setelah tanam. Pada Gambar 2 tinggi dan jumlah daun menunjukkan perbedaan untuk setiap perlakuan. Perlakuan hara mineral anorganik AB Mix umumnya menunjukkan batang yang panjang dan jumlah daun sedikit dibandingkan dengan perlakuan hara mineral organik Nd. Penampakkan fisik tanaman selada dengan perlakuan hara mineral organik Nd lebih menarik dengan ditandai bentuk daun yang membuka lebar, tinggi, warna daun hijau dan banyak, hal ini dapat menambah bobot basah tanaman sekaligus menguntungkan bagi pembudidaya tanaman selada.
Pertumbuhan Vegetatif Tanaman
Hasil pengamatan untuk tinggi tanaman dan jumlah daun 1 MST hingga waktu panen nilai tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan konsentrasi hara 1.50 mS -1 dengan frekuensi penyiraman 5 menit, kecuali konsentrasi hara pada tinggi tanaman 2 MST (Tabel 5).
Tabel 5 Perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata tinggi tanaman 1 MST - waktu panen
Konsentrasi Hara (mS -1) Tinggi Tanaman (cm)
1 MST 2 MST 3 MST 4 MST Waktu Panen 1.50 2.25 3.00 2.69 a 2.75 a 2.72 a 5.64 a 5.89 a 4.60 b 8.36 a 8.17 a 6.61 b 11.28 a 11.01 a 8.860 b 15.83 a 15.26 a 11.64 b
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%
Frekuensi penyiraman 5 menit menghasilkan tanaman lebih tinggi dibanding dengan frekuensi penyiraman 10 menit untuk tinggi tanaman (Tabel 6).
Tabel 6 Perlakuan frekuensi penyiraman terhadap rerata tinggi tanaman 1 MST–waktu panen
Frekuensi penyiraman
(menit) 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST Waktu Panen Tinggi Tanaman (cm) 5
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.
Tanaman memberikan respon tinggi tanaman terbaik ketika mendapat perlakuan hara mineral organik Nd dengan frekuensi penyiraman 5 menit atau hara mineral dengan konsentrasi hara 1,50 mS-1 dengan frekuensi penyiraman 5 menit pada 2 MST (Gambar 3B), 3 MST (Gambar 3C), waktu panen (Gambar 3D). 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 T1 Perlakuan T2 T in g g i T a n a m a n (c m ) P1 P2 0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 A1 A2 A3 Perlakuan T in g g i T a n a m a n 2 M S T ( c m ) T1 T2 A B 0,00 5,00 10,00 15,00 A1 A2 A3 Perlakuan T in g g i T a n a m a n 3 M S T ( c m ) T1 T2 0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 A1 A2 A3 Perlakuan T in g g i T an a m a n W a k tu P an e n (c m ) T1 T2 C D
Gambar 3 Interaksi antara jenis hara mineral dengan frekuensi penyiraman terhadap tinggi tanaman (3A); Interaksi antara Konsentrasi dengan frekuensi penyiraman terhadap tinggi tanaman 2 MST (3B); 3 MST (3C); waktu panen (3D). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (P1.hara mineral organik Nd; P2.hara mineral anorganik AB Mix) (A1: konsentrasi hara 1,50 mS -1; A2. konsentrasi hara 2,25 mS -1; A3; konsentrasi hara 3.00 mS -1).
(I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.
Jumlah daun selada dipengaruhi oleh jenis hara mineral dan konsentrasi hara. Jenis hara mineral organik Nd menghasilkan rerata jumlah daun lebih banyak dari hara mineral anorganik AB Mix kecuali pada ke 1 MST (Tabel 7).
Tabel 7 Pengaruh jenis hara mineral dan perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata jumlah daun
Jenis Hara Mineral 1 MST 2 MST Jumlah Daun 3 MST 4 MST Waktu Panen Organik Nd
Anorganik AB Mix 3.02 a 3.00 a 3.70 b 3.96 a 5.54 a 4.94 b 6.44 b 7.59 a 10.5 a 8.7 b
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.
Konsentrasi hara 1.50 mS -1 maupun 2.25 mS -1 menghasilkan jumlah daun yang lebih banyak dari tanaman yang mendapat perlakuan hara mineral dengan konsentrasi 3.00 mS -1 kecuali pada 2 MST (Tabel 8).
Tabel 8 Perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata jumlah daun
Konsentrasi Hara (mS -1) Jumlah Daun
1 MST 2 MST 3 MST 4 MST Waktu Panen 1.50 2.25 3.00 3.03 a 3.00 a 3.00 a 3.83 a 3.89 a 3.78 a 5.34 a 5.41 a 4.97 b 7.39 a 7.19 ab 6.47 ab 10.8 a 10.0 a 8.7 b Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata
dengan uji DMRT pada taraf 5%.
Interaksi antara konsentrasi hara (EC) dengan frekuensi penyiraman berpengaruh nyata terhadap jumlah daun selada. Konsentrasi hara 1.50 mS-1
dengan frekuensi penyiraman 5 menit menghasilkan rerata jumlah daun tertinggi pada 3 MST (Gambar 4A), 4 MST (Gambar 4B) dan waktu panen (Gambar 4C).
0 2 4 6 8 A1 A2 A3 Perlakuan J u m la h D a u n 3 M S T T1 T2 0 2 4 6 8 10 A1 A2 A3 Perlakuan J u m la h D a u n 4 M S T T1 T2 0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 14,0 A1 A2 A3 Perlakuan J u m la h D a u n W a k tu P a n e n T1 T2 A B C
Gambar 4 Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman pada
jumlah daun 3MST (4A); 4 MST (4B); Waktu Panen (4C); (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (A1.konsentrasi hara 1,50 mS -1; A2. konsentrasi hara 2,25 mS -1; A3. konsentrasi hara 3.00 mS -1). (I. SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.
Penggunaan hara mineral organik Nd pada konsentrasi 2.25 mS -1 dengan frekuensi penyiraman 10 menit menunjukkan jumlah daun terbanyak pada jumlah daun 2 MST (Gambar 5).
0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5 5,0 T1 T2 Perla kuan J u m la h D a u n 2 M S T P1A 1 P2A 1 P1A 2 P2A 2 P1A 3 P2A 3
Gambar 5 Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman pada Jumlah daun. 2 MST. (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (P1A1. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 1.50 mS -1; P2A1. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 1.50 mS -1; P1A2 hara mineral organik Nd konsentrasi
hara 2.25 mS -1; P2A2 hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara
2.25 mS -1; P1A3. hara mineral organik Nd konsentrasi hara
3.00 mS -1; P2A3. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 3.00 mS -1). (I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.
Menurut Salisbury dan Ross (1995) nitrogen mendorong pembentukan daun, karena demikian banyak senyawa penting tidaklah mengherankan kalau pertumbuhan akan lambat tanpa nitrogen. Tumbuhan yang mengandung nitrogen untuk sekedar tumbuh saja akan menunjukan gejala kekahatan, yakni klorosis terutama pada daun tua. Hasil uji laboratorium yang dapat dilihat pada Lampiran 1A jumlah kandungan nitrogen pada hara mineral organik cukup tinggi sebesar 260.6 ppm sehingga hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun
Panjang Akar dan Luas Daun
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan panjang akar dipengaruhi oleh jenis pupuk. Jenis hara mineral organik Nd menghasilkan rerata tertinggi untuk panjang akar (Tabel 9).
Tabel 9 Pengaruh jenis hara mineral terhadap rerata panjang akar
Jenis Hara Mineral Panjang Akar (cm)
Organik Nd
Anorganik AB Mix
27.06 a 22.03 b
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.
Akar merupakan bagian tanaman yang berfungsi menyerap air dan unsur mineral yang diperlukan oleh tanaman. Sulisbury (1998) menyatakan tanaman yang cukup mendapatkan air dan nitrogen 3 sampai 5% biomassa tanaman berada di akar. Menurut Resh (1983) tingginya kandungan unsur P dalam tanaman dapat mandorong pertumbuhan akar yang sehat.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pengaruh Interaksi antara hara mineral organik Nd, konsentrasi hara 1.50 mS -1 dengan frekuensi penyiraman 5 menit menunjukkan hasil tertinggi untuk luas daun (Gambar 6).
0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00 180,00 200,00 T1 T2 Perlakuan L u a s D a u n ( m m ) P1A1P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3
Gambar 6 Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman pada Luas daun. (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (P1A1.hara mineral organik Nd konsentrasi hara 1.50 mS -1; P2A1. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 1.50 mS -1; P1A2. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 2.25 mS -1;
P2A2 hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 2.25 mS -1; P1A3. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 3.00 mS -1;P2A3. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 3.00 mS -1). ((I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.
Daun merupakan organ tanaman yang paling penting. Perbandingan total luas daun terhadap area yang ditutupi oleh tajuk tanaman dinyatakan dengan luas daun. Luas daun mempunyai peran dalam menentukan tingkat laju fotosintesis maupun besarnya asimilasi dan produksi yang dihasilkan. Menurut Noor dan Wahyudi (1996) hingga batas tertentu peningkatan luas daun akan menyebabkan semakin besarnya radiasi matahari yang ditangkap oleh tajuk dan lebih lanjut dapat meningkatkan laju fotosintesis yang menghasilkan asimilat untuk pertumbuhan dan produksi tanaman. Hasil penelitian Heuvelink dan Marcelis (1996) menunjukkan bahwa asupan asimilat yang tinggi berperan untuk meningkatkan bobot kering organ vegetatif. Haris (1978) menyatakan untuk meningkatkan luas daun diperlukan unsur hara dan air yang cukup.
Menurut Salisbury dan Ross (1995) tumbuhan yang banyak mendapatkan konsumsi nitrogen biasanya mempunyai daun berwarna hijau tua dan lebat. Sumarni dan Rosliani (2001) dalam penelitiannya menyatakan tanaman untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangannya harus melakukan fotosintesis dan respirasi sel. Daun memiliki peranan yang sangat penting sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis, semakin besar luas daun yang dimiliki maka semakin tinggi fotosintat atau karbohidrat yang akan dihasilkan. Fotosintat dalam tanaman digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, seperti pertambahan ukuran tinggi/panjang tanaman. Karena dengan luas daun yang memadai makin tinggi bobot kering tanamannya.
Biomasa Tanaman
Menurut Sitompul dan Guritno (1995) hubungan antara berat segar dan berat kering tanaman tidak linier, karena kandungan air dari suatu jaringan atau keseluruhan tubuh tanaman dipengaruhi oleh lingkungan yang jarang konstan, hasil produksi tanaman biasanya lebih akurat dinyatakan dalam ukuran bobot kering. Berdasar hasil analisis sidik ragam hara mineral organik Nd menghasilkan bobot basah akar dan bobot kering akar yang lebih tinggi dari hara mineral anorganik AB Mix (Tabel 10).
Tabel 10 Pengaruh jenis hara mineral terhadap rerata bobot basah akar dan bobot kering akar
Jenis Hara Mineral Bobot Basah Akar (g) Bobot Kering Akar (g) Organik Nd
Anorganik AB Mix) 25.31 b 49.22 a 4.08 b 8.11 a
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.
Konsentrasi hara 2,25 mS-1 menghasilkan bobot basah tajuk tertinggi,
walaupun tidak berbeda nyata dengan konsentrasi hara 1,50 mS-1 (Tabel 11).
Tabel 11 Perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata bobot basah tajuk Konsentrasi Hara (mS -1) Bobot BasahTajuk (g)
1.50 2.25 3.00 262.44 a 263.94 a 152.12 b
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.
Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman terhadap bobot basah dan bobot kering tajuk serta bobot kering akar. Nilai rerata tertinggi pada bobot basah tajuk, bobot kering tajuk dan bobot kering akar dihasilkan oleh kombinasi perlakuan hara mineral dengan konsentrasi hara 1.50 mS-1 dan frekuensi penyiraman 5 menit (Gambar 7).
0,00 100,00 200,00 300,00 400,00 500,00 600,00 700,00 800,00 A1 A2 A3 Perlakuan B o b o t B a s a h T a ju k (g ) T1 T2 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 A1 A2 A3 Perlakuan B o b o t K e ri n g T a ju k (g ) T1 T2 0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 A1 A2 A3 Perlakuan B o b o t K e ri n g A k a r (g ) T1 T2 A B C
Gambar 7 Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman pada Bobot basah tajuk (7A); Bobot kering tajuk (7B); Bobot kering akar (7C). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (A1: konsentrasi hara 1,50 mS -1; A2. konsentrasi hara 2,25 mS -1; A3. konsentrasi hara 3.00 mS -1). (I.SE). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.
Demikian pula pemberian hara mineral organik Nd dengan konsentrasi 2,25 mS-1 selama frekuensi penyiraman 10 menit menghasilkan nilai tertinggi untuk bobot basah tanaman (Gambar 8A) dan bobot basah daun (Gambar 8B).
0,0 100,0 200,0 300,0 400,0 500,0 600,0 700,0 800,0 900,0 1000,0 T1 T2 Perlakuan B o b o t B a s a h T a n a m a n (g ) P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 0,0 100,0 200,0 300,0 400,0 500,0 600,0 700,0 800,0 900,0 T1 T2 Perlakuan B o b o t B a s a h D a u n ( g ) P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 A B
Gambar 8 Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman pada Bobot basah tanaman (8A); Bobot basah daun (8B). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (P1A1.hara mineral organik Nd konsentrasi hara 1.50 mS -1; P2A1. hara
mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 1.50 mS -1; P1A2 hara mineral organik Nd konsentrasi hara 2.25 mS -1; P2A2 hara mineral
anorganik AB Mix konsentrasi hara 2.25 mS -1; P1A3. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 3.00 mS -1;P2A3. hara mineral anorganik
AB Mix konsentrasi hara 3.00 mS -1). ((I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.
Diduga perlakuan antara jenis pupuk, konsentrasi dan frekuensi penyiraman dapat memacu pertumbuhan tanaman, meningkatkan laju fotosintesis tanaman sehingga mengakibatkan peningkatan jumlah fotosintat. Akumulasi fotosintat tersebut menentukan biomasa tanaman.
Hasil analisis respond polynomial orthogonal konsentrasi hara mineral organik Nd menunjukkan hasil berbeda nyata pada respon kuadratik untuk Bobot basah tanaman dengan pertumbuhan optimum sebesar 8.23 g dengan konsentrasi 2.19 mS -1 Gambar 9). y = -704,74x2 + 3089,7x - 2562,6 R2 = 0,7311 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 0 0,25 0,5 0,75 1 1,25 1,5 1,75 2 2,25 2,5 2,75 3 3,25 Perlakuan B o b o t B a s a h T a n a m a n ( g ) P1 P2 8,23 2,19 2,96 1,51
Gambar 9 Interaksi antara hara mineral organik Nd dengan konsentrasi hara terhadap bobot basah tanaman (P1. hara mineral organik Nd; P2. hara mineral anorganik AB Mix). (A1.konsentrasi hara 1,50 mS -1; A2. konsentrasi hara 2,25 mS -1; A3. konsentrasi hara 3.00 mS -1). (I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%.
Kandungan Serat Kasar, Klorofil dan Kadar Abu
Nilai substitusi untuk kandungan serat kasar dan kadar abu, merupakan nilai tertinggi yang ditunjukkan oleh perlakuan hara mineral organik sehingga mempunyai nilai positif terhadap AB Mix. Pemakaian hara mineral organik dibanding AB Mix mempunyai nilai positif yang cukup besar seperti tercantum pada Lampiran 21.
Tingginya kandungan unsur makro yang terdapat dapat pada hara mineral organik (Lampiran 1A) dapat merangsang terhadap pertumbuhan dan produksi yang optimal. Seperti yang dikemukakan oleh Handayanto dan Ismunandar (1999) bahwa bila kandungan organik rendah, masam, kahat unsur N, P, K, Ca, Mg, S
dan kandungan Al serta Mn yang tinggi, kapasitas kation dan kejenuhan basa rendah, serta rentan terhadap erosi. Harris (1994) juga menyatakan N adalah komponen penting dari semua protein dimana dapat dijumpai di klorofil dan sitoplasma.
Pemakaian hara mineral organik Nd mempunyai kelebihan serat yang cukup tinggi (Tabel 11) dan rerata besarnya luas daun yang dimiliki oleh selada (Gambar 6). Kedua parameter ini merupakan patokan untuk tanaman sayur. Konsumen akan lebih banyak memilih sayuran dengan luas daun yang lebih besar serta ditambah dengan serat yang tinggi.
Jenis hara mineral berpengaruh nyata terhadap kandungan serat kasar pada selada. Hara mineral organik Nd menghasilkan kandungan serat kasar tertinggi (Tabel 12).
Tabel 12 Pengaruh jenis hara mineral terhadap rerata serat kasar
Jenis Hara Mineral Serat Kasar (g)
Organik Nd
Anorganik AB Mix 1.40 a 1.18 b
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.
Selain pengaruh dari jenis hara mineral interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman berpengaruh terhadap kandungan serat kasar. Kandungan serat kasar tertinggi dihasilkan oleh perlakuan konsentrasi hara 1,50 mS -1dengan frekuensi penyiraman 5 menit (Gambar 10). Konsentrasi dan
frekuensi penyiraman yang rendah menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding dengan perlakuan dan konsentrasi yang tinggi pada penelitian ini.
0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 A1 A2 A3 Perlakuan S e ra t K a s a r ( % ) T1 T2
Gambar 10 Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman
terhadap serat kasar (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (A1.konsentrasi hara 1,50 mS -1; A2. konsentrasi hara 2,25 mS -1; A3. konsentrasi hara