TESIS
EFEKTIVITAS PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN PERKOTAAN (P2KP) DI KECAMATAN TANJUNG MORAWA
KABUPATEN DELI SERDANG
Oleh :
SLAMET WIDODO NIM : 057024043
SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
2 0 0 8
ABSTRACT
As we know, that in this time theme of enableness socialize it is true often become the this topic of warmness in a lot of discussion and even the enableness socialize it is true have come to governmental target in general as effort of development of area and national. P2KP become to draw because this P2Kp assumed government as precise solution to reply problem of poorness specially in urban area.
In powered of the people with refer to activity which aim to powered of them, what in this time represent weak group. Process this enableness is conducted to be powered socialize in order to can fulfill requirement of his life so that the expectation to the fore bring back belief of society, able to submit and have living representing of their production, can participate in social activity and important is society become self- supporting in life.
Problem of Poorness in Indonesia not only knock over rural region, but also the urban. Special in urban region, one of common characteristic of condition of society is impecunious inexistence of elementary medium and adequate settlement and housing, and also quality of dirty environment and improper dwell. Poorness represent structural problem and multi-dimensional including politics, social, asset, and others. characteristic of the Poorness, and also the economic crisis that happened, have awaked all party that approach and way of selected in penanggulangan of poorness during the time require to be improve at institute socialize.
Pursuant to poorness characteristic in the urban area, P2KP in expecting able to give contribution for solving of poorness problem having the character of multi-dimensional and structural, related specially with political dimension, social, and economic. On a long term, P2KP in expecting able to provide better asset for impecunious society in improving earnings and or voice aspirasinya in course of decision making. Thereby, program P2KP represent program poorness in urban from, by, and to society itself. To measure effectiveness of P2KP hence will be utilized by a indicator which have been specified P2Kp itself.
Result of research indicate that first, adult resident participating to chosen in election BKM have reached goals more than 30%. Second, woman participating in election BKM have reached goals 30%. Third, chosen woman as member BKM more than goals 3 people. Fourth, sum up ready to [in] kelurahan/desa reach goals more than 25 people.
Equally, effective execution P2Kp (it) is true in implementation
Key Words : P2KP, People Empowerment.
ABSTRAK
Sebagaimana kita ketahui, bahwa saat ini tema pemberdayaan masyarakat memang sering menjadi topik hangat dalam banyak diskusi dan bahkan pemberdayaan masyarakat memang telah menjadi tujuan pemerintah secara umum sebagai upaya pembangunan daerah dan nasional. P2KP menjadi menarik karena P2KP ini dianggap pemerintah sebagai solusi tepat untuk menjawab persoalan kemiskinan khususnya di daerah perkotaan.
Dalam memberdayakan mayarakat ada serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memberdayakan mereka, yang saat ini merupakan kelompok lemah. Proses pemberdayaan ini dilakukan untuk memberdayakan masyarakat agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga harapan kedepannya untuk mengembalikan kepercayaan diri masyarakat, mampu menyampaikan aspirasinya dan mempunyai mata pencaharian yang merupakan seumber penghasilan mereka, dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan yang penting adalah masyarakat menjadi mandiri dalam kehidupan sehari-harinya.
Masalah kemiskinan di Indonesia tidak hanya melanda wilayah pedesaan, tetapi juga perkotaan. Khusus di wilayah perkotaan, salah satu ciri umum kondisi masyarakatnya yang miskin adalah tidak adanya prasarana dan sarana dasar perumahan dan pemukiman yang memadai, serta kualitas lingkungan yang kumuh dan tidak layak huni. Kemiskinan merupakan persoalan struktural dan multi-dimensional yang mencakup politik, sosial, aset, dan lain-lain. Karakteristik kemiskinan tersebut, serta krisis ekonomi yang terjadi, telah menyadarkan semua pihak bahwa pendekatan dan cara yang dipilih dalam penanggulangan kemiskinan selama ini perlu diperbaiki ke arah pengokohan kelembagaan masyarakat.
Berdasarkan karakteristik kemiskinan di kawasan perkotaan tersebut, model P2KP di harapkan mampu memberikan kontribusi bagi penyelesaian persoalan kemiskinan yang bersifat multi-dimensional dan struktural, khususnya yang terkait dengan dimensi-dimensi politik, sosial, dan ekonomi. Dalam jangka panjang, model P2KP di harapkan mampu menyediakan aset yang lebih baik bagi masyarakat miskin dalam meningkatkan pendapatannya ataupun menyuarakan aspirasinya dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, program P2KP merupakan program penanggulangan kemiskinan di perkotaan dari, oleh, dan untuk masyarakat itu sendiri.
Untuk mengukur efektivitas P2KP maka akan dipergunakan indikator yang telah ditetapkan P2KP itu sendiri
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, penduduk dewasa yang berpartisipasi memilih dalam pemilihan BKM sudah mencapai target lebih dari 30%.
Kedua, perempuan yang berpartisipasi dalam pemilihan BKM sudah mencapai target 30%. Ketiga, perempuan yang terpilih sebagai anggota BKM lebih dari target 3 orang.
Keempat, jumlah relawan di kelurahan/desa mencapai target lebih dari 25 orang. Dengan kata lain, pelaksanaan P2KP memang efektif dalam implementasinya
Kata Kunci : Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), Pemberdayaan Masyarakat.
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ……… 1
1.1. Latar Belakang ………... 1
1.2. Perumusan Masalah ………. 4
1.3. Tujuan Penelitian ………... 4
1.4. Manfaat Penelitian ………... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………... 6
2.1. Pemberdayaan Masyarakat ...……….…... 6
2.2. Pemberdayaan Masyarakat dan Proses Pembangunan …... 11
2.3.Penerapan Pemberdayaan dalam Penanggulangan Kemiskinan... 17
2.4.Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat... 31
2.5. Model Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP)... 36
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ………. 40
3.1 Jenis Penelitian ... 40
3.2. Definisi Konsep ... 40
3.3. Lokasi Penelitian ... 41
3.5. Informan Kunci ……… 41
3.6. Teknik Pengumpulan Data ……… 41
3.7. Teknik Analisis Data ... 41
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ………. 42
4.1 Latar Belakang P2KP ... 42
4.2. Langkah-langkah Pelaksanaan Program P2KP ... 53
4.3. Efektivitas Program P2KP di Kecamatan Tanjung Morawa ... 61
4.4. Korelasi Program P2KP dengan Pembangunan…... 77
4.5. Dampak Program P2KP Terhadap Pembangunan ... 78
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 80
DAFTAR PUSTAKA ... 84
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Tiga Tahapan Pemberdayaan………. 28Gambar 4.1 Struktur Organisasi P2KP ... 44
Gambar 4.2. Tahapan Kegiatan P2KP Tingkat Masyarakat di Lokasi Baru .... 58
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Indikator Hasil Dari Komponen Program Pemberdayaan Masyarakat ……….. 36Tabel 4.1. Jumlah penduduk menurut kelompok umur ……… 62
Tabel 4.2. Indikator dan Hasil Dari Komponen Program Pemberdayaan Masyarakat ……… 65
Tabel 4.3. Daftar Nama Relawan Kelurahan Tanjung Morawa Pekan ... 69
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sebagaimana kita ketahui, bahwa saat ini tema pemberdayaan masyarakat memang sering menjadi topik hangat dalam banyak diskusi dan bahkan pemberdayaan masyarakat memang telah menjadi tujuan pemerintah secara umum sebagai upaya pembangunan daerah dan nasional. P2KP menjadi menarik karena P2KP ini dianggap pemerintah sebagai solusi tepat untuk menjawab persoalan kemiskinan khususnya di daerah perkotaan.
Kita ketahui pula bahwa persoalan kemiskinan memang bukan hal baru dalam pembangunan di Indonesia. Banyak kebijakan yang telah dihasilkan orde baru untuk penanggulangan kemiskinan di Indonesia sebagai upaya menciptakan dan melanjutkan pembangunan di Indonesia. Namun yang terjadi adalah kebijakan pembangunan yang diterapkan oleh Pemerintah Orde Baru pada dasarnya mencerminkan dinamika pergulatan pemikiran mengenai ekonomi politik pembangunan yang berkembang dalam komunitas politik negeri ini. Karena itu, untuk memahami kebijakan yang diterapkan pemerintah kita perlu menelaah berbagai pemikiran yang berkembang di kalangan para intelektual, pemimpin politik dan tokoh dunia bisnis Indonesia.
Untuk menyederhanakan pembahasan, berbagai pemikiran mengenai pembangunan itu diringkas dalam suatu tipologi yang dirumuskan berdasar beberapa
kriteria isu yaitu makna yang diberikan pada pembangun, siapa aktor utamanya, mekanisme apa yang dipergunakan dan ideologi apa yang mendasarinya. Sistem klasifikasi ini kemudian dipergunakan untuk menganalisis dinamika kebijakan ekonomi politik pembangunan Indonesia. Dengan kata lain, ketika berbicara model pembangunan di Indonesia akan sangat tergantung pada siapa dan ideologi apa yang sedang berkuasa. Yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah faktor apakah yang paling menentukan penerapan kebijakan pembangunan Indonesia khususnya di era Orde Baru. Seperti lazimnya argumen ilmu sosial, ada beberapa kemungkinan.
Pertama, salah satu kemungkinan diajukan oleh pendukung teori kelompok kepentingan, yaitu bahwa kebijakan pemerintah Orde Baru sangat dipengaruhi oleh aliansi kepentingan utama. Karena itu perubahan konstelasi kelompok kepentingan itu akan tercermin dalam perubahan kebijakan. Jadi, penyebab dari suatu kebijakan harus dicari dalam dinamika pergulatan politik diantara kelompok-kelompok kepentingan yang menjadi anggota aliansi utama. Kalau yang menang dalam pertarungan itu adalah kelompok kepentingan yang pendukung pendekatan ekonomi maka pendekatan itulah yang akan dipergunakan.
Kedua, bisa dimunculkan dari teori mengenai otonomi relatif negara. Teorisasi ini menggambarkan negara Orde Baru sebagai aktor yang relatif otonom, tidak sekedar mencerminkan kepentingan kelas tertentu.misalnya walaupun industrialis tidak suka dengan kebijakan pemerintah mengenai industri, pemerintah mampu berjalan terus mengejar kepentingan jangka panjangnya sendiri. Yaitu kepentingan
kelompok yang berkuasa. Disini, variabel penyebabnya adalah kepentingan kelompok dominan yang berkuasa. Kalau kelompok dominan itu pendukung pendekatan politik maka pendekatan itulah yang dipergunakan. Ketiga, diajukan oleh teori “power” yaitu kebijakan pembangunan sebenarnya tida asli dari pemerintah Indonesia. Kebijakan itu dipaksakan pada Indonesia oleh negara donor sebagai syarat untuk memperoleh bantuan asing. Jadi penyebabnya adalah kekuatan asing itu. Kekuatan asing itu lebih menyukai pendekatan Ekonomi maka pendekatan itulah yang akan diterapkan.
Dengan kata lain, ketiga teori diatas didasarkan pada asumsi bahwa dukungan terhadap suatu kebijakan pembangunan muncul dari adanya kepentingan terhadap kebijakan tersebut dan dominasi aktor dan ideologi tertentu. Sehingga pada era Orde Baru, kata pemberdayaan masyarakat memang jauh dari telinga kita. Justru yang terjadi adalah memperdayai masyarakat dengan program-program yang tidak partisipatif. Dan kini, ketika Orde Baru telah berganti dengan Orde Reformasi dimana masyarakat sangat diberikan kebebasan untuk berbicara sehingga tuntutan untuk partisipatif sangat diperlukan oleh masyarakat. Salah satu tuntutan masyarakat adalah mengurangi kemiskinan di Indonesia. Dan dari alasan inilah muncul P2KP yang digulirkan sejak tahun 1999 hingga sekarang sebagai suatu upaya pemerintah untuk membangun kemandirian masyarakat dan pemerintah daerah dalam menanggulangi kemiskinan secara berkelanjutan. Program ini sangat strategis karena mempersiapkan landasan kemandirian masyarakat yang representative, mengakar dan menguat bagi perkembangan modal sosial masyarakat di masa mendatang serta menyiapkan
kemitraan masyarakat dengan pemerintahdaerh dan kelompk peduli setempat. Oleh karena itu, penelitian P2KP sangat menarik untuk melihat bagaimana efektivitas dari implementasi P2KP itu sendiri dengan mengambil studi kasus di Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang. Daerah Tanjung Morawa dijadikan objek penelitian melihat bahwa 30% penduduk daerah tersebut berada dalam kondisi kemiskinan. Padahal, sebagaimana kita ketahui daerah Tanjung Morawa merupakan kawasan industri besar di Medan.
1.2 Perumusan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut bagaimana efektivitas program penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP) di Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang?
1.3. Tujuan penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui implementasi program penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP) di Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang.
2. Untuk mengetahui efektivitas dari implementasi program penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP) di Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
a. Bagi pemerintah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumbangan pemikiran kepada Pemerintah Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang, sebagai masukan dalam penyusunan kebijakan khususnya terkait dengan penanggulangan kemiskinan di Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang.
b. Bagi Program Studi Magister Studi Pembangunan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, akan melengkapi ragam penelitian yang telah dibuat oleh para mahasiswa dan dapat menambah bahan bacaan dan referensi bahan bacaan dari suatu karya ilmiah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pemberdayaan adalah konsep yang paling sering kita gunakan dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini. Namun demikian, kita sering kali tidak benar-benar memahami maknanya bahkan mempersalinggantikan kedua kata tersebut. Memang tidak ada pemahaman yang benar secara absolut, tetapi upaya untuk memahami suatu konsep dengan baik merupakan langkah awal sebuah program pembangunan yang baik.
2. 1 Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan berasal dari penerjemahan bahasa Inggris “empowerment” yang bermakna pemberian kekuasaan karena power bukan sekadar daya, tetapi juga kekuasaan, sehingga kata daya tidak saja bermakna mampu tetapi juga mempunyai kuasa. Pemberdayaan adalah “proses menjadi” bukan sebuah “proses instan”.
Sebagai proses, pemberdayaan mempunyai tiga tahapan yaitu penyadaran, pengakapasitasan dan pendayaan.
Tahap pertama adalah penyadaran. Pada tahap ini target yang hendak diberdayakan diberi “pencerahan” dalam bentuk pemberian penyadaran bahwa mereka mempunyai hak untuk mempunyai “sesuatu”. Program yang dapat dilakukan pada tahap ini misalnya memberikan pengetahuan yang bersifat kognisi, belief dan
healing. Prinsipnya adalah membuat target mengerti bahwa mereka perlu diberdayakan dan proses pemberdayaan itu dimulai dari dalam diri mereka.
Setelah menyadari maka selanjutnya ke tahap pengakapasitasan. Inilah yang disebut capacity building. Pengkapasitasan manusia dalam arti memampukan manusia baik dalam konteks individu maupun kelompok. Kita tidak asing dengan konsep ini karena sudah amat sering melakukan training, workshop, seminar. Arti dasarnya adalah memberikan kapasitas kepada individu dan kelompok manusia untuk mampu menerima daya atau kekuasaan yang akan diberikan.
Langkah selanjutnya adalah tahapan pendayaan atau empowerment. Pada tahap ini target diberikan daya, kekuasaan, otoritas atau peluang. Pemberian ini sesuai dengan kualitas kecakapan yang telah dimiliki. Prosedur tahap ketiga ini cukup sederhana, namun kita sering kali tidak cakap menjalankannya karena mengabaikan bahwa dalam kesederhanaan pun ada ukuran. Pokok gagasannya adalah bahwa proses pemberian daya atau kekuasaan diberikan sesuai dengan kecakapan penerima.
Dasar dari proses pemberdayaan adalah pengalaman dan pengetahuan masyarakat tetang keberadaannya dan ini berguna untuk mendorong masyarakat agar menjadi lebih baik, masyarakat dapat meningkatkan taraf hidupnya atau bangkit dari keterpurukan dengan menggunakan dan mengakses sumber daya yang ada, baik sumber daya alam dan sumber daya manusiannya. Seperti pendapat Hikmat (2001:100) yang menyatakan pemberdayaan masyarakat tidak hanya
mengembangkan potensi ekonomi rakyat, tetapi juga peningkatan harkat martabat, rasa percaya diri dan harga dirinya, serta terpelihranya budaya setempat.
Proses pemberdayaan masyarakat ini bertitik tolak untuk memandirikan masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidupnya, mengoptimalkan sumber daya setempat sebaik mungkin, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
Lebih lanjut, harapan dari proses pemberdayaan ini adalah terwujudnya masyarakat yang bermartabat. Dalam proses pemberdayaan perlu juga ditingkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban masyarakat, dengan memegang teguh aturan-aturan mengenai apa yang menjadi hak dan mana yang bukan, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, termasuk menumbuh kembangkan perilaku yang berbudaya.
Masyarakat sebagai individu tidak boleh pasrah pada keadaan yang dihadapi, atas dasar pandangan hidup bahwa segala sesuatu merupakan nasib buruk dirinya, karenanya masyarakat harus didorong untuk dapat bangkit kembali menata kehidupannya setelah mengalami saat-saat yang sulit dalam hidupnya. Menurut Kabeer (1994) dalam Prijono dan Pranarka (1996:61), ketidakberdayaan bukannya menunjuk pada tidak adanya kekuatan sama sekali. Dalam realitas, mereka yang tampaknya hanya memiliki sedikit kekuatan ternyata justru mampu untuk bertahan, menggulingkan dan kadang-kadang mentransformasikan kondisi hidup mereka.
Dalam ketidakberdayaan masih ada kekuatan untuk mampu bertahan dan bangkit kembali untuk memperbaiki kehidupannya. Jadi kekuatan itu ada, hanya perlu ditampakkan dan dikembangkan. Dasar proses pemberdayaan adalah pengalaman dan
pengetahuan masyarakat tentang keberadaannya yang sangat luas dan berguna serta kemauan mereka untuk menjadi lebih baik.
Selain itu, pemberdayaan juga diartikan sebagai proses memberikan kekuasaan atau kekuatan kepada masyarakat yang berada dalam kondisi tidak berdaya. Dalam pemberdayaan penting mendorong motivasi individu atau masyarakat untuk menentukan pilihan hidupnya. Menurut (Krisdyatmiko, 2003:1) bahwa konsep pemberdayaan (empowerment) dapat dimaknai sebagai upaya memberi power kepada yang powerless. Power diartikan kekuasaan atau kekuatan, sehingga kegiatan pemberdayaan terkandung dua makna, yaitu pertama, proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaaan dan kekuatan dari yang powerfull ke yang powerless.
Kedua, proses memotivasi individu atau kelompok masyarakat agar memiliki kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya.
Proses Pemberdayaan berjalan terus menerus untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya.
Adanya proses perubahan sosial dalam proses pemberdayaan, dari yang pasif akhirnya menjadi lebih aktif dalam menyampaikan aspirasi dan pendapatnya, lebih bersemangat untuk merubah nasibnya. Suharto (2005:60) berpendapat bahwa pemberdayaan adalah proses dan tujuan. Sebagai proses, pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan. Sebagai tujuan, maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil
yang ingin dicapai oleh perubahan sosial, yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik ekonomi, maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.
Dalam memberdayakan masyarakat ada serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memberdayakan mereka, yang saat ini merupakan kelompok lemah. Proses pemberdayaan ini dilakukan untuk memberdayakan masyarakat agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga harapan kedepannya untuk mengembalikan kepercayaan diri masyarakat, mampu menyampaikan aspirasinya dan mempunyai mata pencaharian yang merupakan sumber penghasilan mereka, dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan yang penting adalah masyarakat menjadi mandiri dalam kehidupan sehari-harinya.
Membangun dan memberdayakan masyarakat melibatkan proses dan tindakan sosial dimana penduduk sebuah komunitas mengorganisasikan diri dalam membuat perencanaan dan tindakan kolektif untuk memecahkan masalah sosial atau memenuhi kebutuhan sosial sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki. Inilah yang dilakukan P2KP dengan gerakan awal membentuk relawan yang berasal dari masyarakat itu sendiri.
2.2 Pemberdayaan Masyarakat dan Proses Pembangunan
Dengan P2KP maka masyarakat tidak menjadi objek melainkan subjek dari perubahan. Masyarakat harus menjadi pelaku utama dalam pembangunan ini merupakan prinsip pembangunan berpusat pada rakyat. Perlunya restrukturisasi dalam system pembangunan sosial pada tingkat mikro. (masyarakat lokal), mikro (kelembagaan) dan makro (kebijakan) untuk mendukung prinsip pembangunan yang berpihak pada rakyat. Menurut Adimihardja dan Hikmat (2003 : 23:24) bahwa prinsip pembangunan berpusat pada rakyat menegaskan bahwa mayarakat harus menjadi pelaku utama dalam pembangunan. Hal ini berimplikasi pada perlunya restrukturisasi system pembangunan sosial pada tingkat mikro, meso, dan makro agar masyarakat lokal (tingkat mikro) dapat mengembangkan potensi tanpa mengalami hambatan yang bersumber dari faktor-faktor eksternal pada struktur mikro (kelembagaan) dan makro (kebijakan).
Masyakarakat lokal didorong untuk dapat mengembangkan potensinya sebagai pelaku pembangunan. Hal ini juga harus didukung dengan kelembagaan dan kebijakan yang mendukung terwujudnya prinsip pembangunan yang berpusat pada rakyat. Adanya kelembagaan dan kebijakan yang dapat mendorong mayarakat sebagai pelaku pembangunan.
Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya mempersiapkan masyarakat seiring dengan upaya memperkuat kelembagaan masyarakat, agar mampu mewujudkan kemajuan, kemandirian dan kesejahteraan. Menurut Hikmat (2001:3) konsep pemberdayaan dalam wacana pembangunan masyarakat selalu dihubungkan
dengan konsep mandiri, partisipasi, jaringan kerja dan keadilan. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarkat yang sekarang dalam kondisi tidak mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan ketidak berdayaan.
Dalam program pemberdayaan masyarakat harus diperhatikan bahwa masyarakat setempat yang mempunyai tempat tinggal tetap dan permanent biasanya mempunyai ikatan solidaritas yang tinggi sebagai pengaruh kesatuan tempat tinggalnya, adanya saling memerlukan diantara mereka, perasaan demikian yang pada dasarnya merupakan identifikasi tempat tinggal dinamakan perasaan kumuniti (community sentiment). Menurut Soekanto (1990:150) bahwa unsur-unsur perasaan komuniti antara lain :
a. Seperasaan: Unsur perasaan akibat seseorang berusaha untuk mengidentifikasikan dirinya dengan sebanyak mungkin orang dalam kelompok tersebut sehingga kesemuanya dapat menyebutkan dirinya kelompok kami atau perasaan kami.
Perasaan demikian timbul apabila orang-orang tersebut mempunyai kepentingan yang sama dalam didalam kebutuhan memenuhi kebutuhan hidup. Kepentingan- kepentingan individu disesuaikan dengan kepentingan kelompok.
b. Sepenanggungan : Setiap individu sadar akan peranannya dalam kelompok dan keadaan masyarakat sendiri memungkinkan peranannya; dalam kelompok dijalankan, sehingga dia mempunyai kedudukan dalam kelompoknya.
c. Saling memerlukan ; individu yang tergabung dalam masyarakat setempat merasa dirinya tergantung pada komunitinya yang meliputi kebutuhan fisik maupun kebutuhan-kebutuhan psikologisnya. Kelompok yang tergabung dalam masyarakat setempat tadi, memenuhi kebutuhan- kebutuhan secara fisik seseorang, misalnya atas makanan dan perumahan. Secara psikologis individu akan mencari perlindungan pada kelompoknya apabila ia ketakutan dan lain sebagainya.
Ikatan solidaritas yang tinggi di masyarakat dapat timbul karena adanya rasa seperasaan yang timbul jika terdapat kepentingan yag sama dalam memenuhi kebuthan hidupnya, rasa sepenanggungan karena setiap orang sadar akan perannya dala kelompok dan adanya rasa saling memerlukan diantara masyarakat setempat, mereka tergantung pada kelompoknya dalam memenuhi kebuthan fisik seperti kebuthan atas pangan, sandang, dan sebagainya, maupun kebuthan psikologisnya seperti rasa aman, rasa percaya diri dan sebagainya.
Dalam program pemberdayaan penting juga diperhatikan modal sosial yang dimiliki masyarakat setempat. Seperti yang dinyatakan oleh Fukuyama (2002) dalam Hasbullah (2006 :8), modal sosial adalah segala sesuatu yang membuat masyarakat bersekutu untuk mencapai tujuan bersama atas dasar kebersamaan dan didalamnya diikat oleh nilai-nilai dan norma-norma yang tumbuh dan dipatuhi. Situasi ini akan menjadi kunci bagi keberhasilan program pemberdayaan yang terdapat di wilayah tersebut.
Konsep modal sosial menekankan pada kebersamaan masyarakat untuk mencapai tujuan dan memperbaiki kualitas hidupnya, kerjasama tersebut dengan melalui hubungan timbale balik yang saling menguntungkan, dibangun di atas kepercayaan yang ditopang olen norma-norma dan nilai-nilai sosial yang mendukungnya seperti yang dinyatakan Hasbullah (2006:8) bahwa Inti konsep modal sosial memberikan penekanan pada kebersamaan masyarkat untuk mencapai tujuan memperbaiki kualitas kehidupan dan senantiasa melakukan perubahan da penyesuaian secara terus menerus dalam proses perubahan dan upaya untuk mencapai tujuan masyarakat senantiasa terikat pada nilai-nilai dan norma yang dipedomanisebagai acuan bersikap, bertindak, dan bertingkah laku serta berhubungan dengan pihak lain. Acua nilai dan unsur yang merupakan ruh modal sosial antara lain sikap yang partisipatif, sikap yang saling memperhatikan, saling memberi dan menerima, saling percaya dan diperkuat oleh nilai-nilai dan norma yang mendukungnya. Unsur lain yang memegang peranan penting adalah kemauan masyarakat atau kelompok tersebut untuk terus menerus pro aktif baik dalam mempertahankan nilai, membentuk jaringan kerjasama maupun dengan penciptaan kreasi dan ide-ide baru.
Modal sosial akan meningkatkan kesadaran bersama tentang banyaknya kemungkinan peluang yang bsa dimanfaatkan dan juga kesadaran bahwa nasib bersama akan saling terkait dan ditentukan oleh usaha bersama yang dilakukan.
Tumbuhnya sikap partisipatif, sikap saling percaya, saling memberi dan menerima.
Berbagai program pembangunan yang dijalankan oleh pemerintahah akan jauh lebih efektif jika dilakukan di tengah masyarakat yang memiliki modal sosial yang kuat. Program infrastruktur perdesaan misalnya jalan melibatkan partisipasi penduduk desa secara maksimal dan demikian dana pemerintah tidak saja akan terbebas dari kemungkinan disalahgunakan,masyarakat sendiri akan memberikan sumbangan ide, tenaga, maupun sumbangan bentuk lainnya guna memaksimalkan pekerjaan pemerintah di kampung mereka.
Setiap program pemberdayaan yang akan dilaksanakan harusnya terlebih dahulu dengan memetakan situasi masyarakat setempat, setiap wilayah tertentu akan berbeda kebutuhannya. Program pemberdayaan yang diperlukan masyarakat adalah pemberdayaan yang dapat membuat meraka memperoleh manfaat dari program tersebut dan dapat membuat masyarakat pada akhirnya menjadi mandiri, misalnya lewat pemberdayaan ekonomi. Perlu juga mendorong partisipasi masyarakat agar terlibat dalam program pemberdayaan yang terdapat di wilayahnya. Penting juga untuk membangun jaringan kerja untuk mendukung pelaksanaan program pemberdayaan tersebut dan menegakkan prinsip keadilan dalam program pemberdayaan yang ada. Bantuan yang diberikan hendaknya tepat sasaran, diberikan pada orang yang memerlukannya.
Istilah pemberdayaan muncul sebagai kritik terhadap model pembangunan arus utama yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi dan menyakini pendekatan Trickle Down Effect (menetes ke bawah) sebagai formula pembagian kue
pembangunan. Mode pembangunan yang popular saat ini adalah model pembangunan yang mengutamakan peningkatan keberdayaan manusia/masyarakat yang disebut pembangunan yang berpusat pada masyarakat (people centered development). Menurut Korten, at all., (2002 :110) bahwa pembangunan adalah proses dimana anggota- anggota suatu masyarakat meningkatkan kapasitas perorangan dan institusional mereka untuk memobilisasi dan mengelola sumberdaya untuk menghasilkan perbaikan-perbaikan yang berkelanjutan dan merata dalam kualitas hidup sesuai dengan aspirasi mereka sendiri.
Definisi diatas menekankan pada proses pembangunan dan fokus utamanya adalah pada peningkatan kapasitas perorangan dan institusional. Definisi ini mencakup asas keadilan, berkelanjutan dan pemerataan. Diakui bahwa masyrakat sendiri yang bias menentukan apa sebenarnya yang mereka anggap perbaikan dalam kualitas hidup mereka.
Pembangunan sosial merupakan sumber gagasan dari awal konsep pemberdayaan masyarakat, bermaksud membangun keberdayaan yaitu membangun kemampuan manusia dalam mengatasi permasalahan hidupnya. Dalam pembangunan sosial ditekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat sebagai upaya mengentaskan kemiskinan Menurut Hadiman dan Midgley (1995) dalam Suharto (2005:5) model pembangunan sosial menekankan pentingnya pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan kelompok marginal, yakni peningkatan taraf hidup masyarakat yang
kurang memiliki kemampuan ekonomi secara berkelanjutan. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui :
1. Menumbuhkembangkan potensi diri (produktivitas masyarakat) yang lemah secara ekonomi sebagai suatu asset tenaga kerja.
2. Menyediakan dan memberikan pelayanan social, khususnya pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelatihan, perumahan serta pelayanan yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan produktivitas dan partisipasi social dalam kehidupan masyarakatnya.
2.3 Penerapan Pemberdayaan dalam Penanggulangan Kemiskinan a. Konsep dan Indikator Kemiskinan
Kemiskinan merupakan masalah global, sering dihubungkan dengan kebutuhan, kesulitan dan kekurangan di berbagai keadaan hidup. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah "negara berkembang" biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang "miskin".
Kemiskinan banyak dihubungkan dengan penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin. penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga. penyebab sub-budaya, yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan
sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar. penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi, penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial. Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negera terkaya per kapita di dunia) misalnya memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun masih gagal melewati atas garis kemiskinan.
Konsep tentang kemiskinan sangat beragam, mulai dari sekedar ketakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar dan memperbaiki keadaan, kurangnya kesempatan berusaha, hingga pengertian yang lebih luas yang memasukkan aspek sosial dan moral. Misalnya, ada pendapat yang mengatakan bahwa kemiskinan terkait dengan sikap, budaya hidup, dan lingkungan dalam suatu masyarakat atau yang mengatakan bahwa kemiskinan merupakan ketakberdayaan sekelompok masyarakat terhadap sistem yang diterapkan oleh suatu pemerintahan sehingga mereka berada pada posisi yang sangat lemah dan tereksploitasi (kemiskinan struktural). Tetapi pada umumnya, ketika orang berbicara tentang kemiskinan, yang dimaksud adalah kemiskinan material. Dengan pengertian ini, maka seseorang masuk dalam kategori miskin apabila tidak mampu memenuhi standar minimum kebutuhan pokok untuk dapat hidup secara layak. Ini yang sering
disebut dengan kemiskinan konsumsi. Memang definisi ini sangat bermanfaat untuk mempermudah membuat indikator orang miskin, tetapi defenisi ini sangat kurang memadai karena; (1) tidak cukup untuk memahami realitas kemiskinan; (2) dapat menjerumuskan ke kesimpulan yang salah bahwa menanggulangi kemiskinan cukup hanya dengan menyediakan bahan makanan yang memadai; (3) tidak bermanfaat bagi pengambil keputusan ketika harus merumuskan kebijakan lintas sektor, bahkan bisa kontraproduktif.
BAPPENAS (2004) mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar masyarakat desa antara lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Untuk mewujudkan hak-hak dasar masyarakat miskin ini, BAPPENAS menggunakan beberapa pendekatan utama antara lain;
pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach), pendekatan pendapatan (income approach), pendekatan kemampuan dasar (human capability approach) dan pendekatan objective and subjective.
Pendekatan kebutuhan dasar, melihat kemiskinan sebagai suatu ketidakmampuan (lack of capabilities) seseorang, keluarga dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan minimum, antara lain pangan, sandang, papan, pelayanan kesehatan, pendidikan, penyediaan air bersih dan sanitasi. Menurut pendekatan pendapatan, kemiskinan disebabkan oleh rendahnya penguasaan asset, dan alat-alat produktif seperti tanah dan lahan pertanian atau perkebunan, sehingga secara langsung mempengaruhi pendapatan seseorang dalam masyarakat. Pendekatan ini, menentukan secara rigid standar pendapatan seseorang di dalam masyarakat untuk membedakan kelas sosialnya. Pendekatan kemampuan dasar menilai kemiskinan sebagai keterbatasan kemampuan dasar seperti kemampuan membaca dan menulis untuk menjalankan fungsi minimal dalam masyarakat. Keterbatasan kemampuan ini menyebabkan tertutupnya kemungkinan bagi orang miskin terlibat dalam pengambilan keputusan. Pendekatan obyektif atau sering juga disebut sebagai pendekatan kesejahteraan (the welfare approach) menekankan pada penilaian normatif dan syarat yang harus dipenuhi agar keluar dari kemiskinan. Pendekatan subyektif menilai kemiskinan berdasarkan pendapat atau pandangan orang miskin sendiri (Joseph F. Stepanek, (ed), 1985).
Dari pendekatan-pendekatan tersebut, indikator utama kemiskinan dapat dilihat dari; (1) kurangnya pangan, sandang dan perumahan yang tidak layak; (2) terbatasnya kepemilikan tanah dan alat-alat produktif; (3) kuranya kemampuan membaca dan menulis; (4) kurangnya jaminan dan kesejahteraan hidup; (5)
kerentanan dan keterpurukan dalam bidang sosial dan ekonomi; (6) ketakberdayaan atau daya tawar yang rendah; (7) akses terhadap ilmu pengetahuan yang terbatas; (8) dan sebagainya.
Indikator-indikator tersbut dipertegas dengan rumusan yang konkrit yang dibuat oleh BAPPENAS berikut ini:
1. Terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, dilihat dari stok pangan yang terbatas, rendahnya asupan kalori penduduk miskin dan buruknya status gizi bayi, anak balita dan ibu. Sekitar 20 persen penduduk dengan tingkat pendapatan terendah hanya mengkonsumsi 1.571 kkal per hari. Kekurangan asupan kalori, yaitu kurang dari 2.100 kkal per hari, masih dialami oleh 60 persen penduduk berpenghasilan terendah (BPS, 2004).
2. Terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan kesehatan disebabkan oleh kesulitan mandapatkan layanan kesehatan dasar, rendahnya mutu layanan kesehatan dasar, kurangnya pemahaman terhadap perilaku hidup sehat, dan kurangnya layanan kesehatan reproduksi; jarak fasilitas layanan kesehatan yang jauh, biaya perawatan dan pengobatan yang mahal. Di sisi lain, utilisasi rumah sakit masih didominasi oleh golongan mampu, sedang masyarakat miskin cenderung memanfaatkan pelayanan di PUSKESMAS. Demikian juga persalinan oleh tenaga kesehatan pada penduduk miskin, hanya sebesar 39,1 persen dibanding 82,3 persen pada penduduk kaya. Asuransi kesehatan sebagai suatu bentuk sistem jaminan sosial hanya menjangkau 18,74 persen (2001) penduduk, dan hanya sebagian kecil di antaranya penduduk miskin.
3. Terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan pendidikan yang disebabkan oleh kesenjangan biaya pendidikan, fasilitas pendidikan yang terbatas, biaya pendidikan yang mahal, kesempatan memperoleh pendidikan yang terbatas,
tingginya beban biaya pendidikan baik biaya langsung maupun tidak langsung.
4. Terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha, lemahnya perlindungan terhadap aset usaha, dan perbedaan upah serta lemahnya perlindungan kerja terutama bagi pekerja anak dan pekerja perempuan seperti buruh migran perempuan dan pembantu rumahtangga.
5. Terbatasnya akses layanan perumahan dan sanitasi. Masyarakat miskin yang tinggal di kawasan nelayan, pinggiran hutan, dan pertanian lahan kering kesulitan memperoleh perumahan dan lingkungan permukiman yang sehat dan layak. Dalam satu rumah seringkali dijumpai lebih dari satu keluarga dengan fasilitas sanitasi yang kurang memadai.
6. Terbatasnya akses terhadap air bersih. Kesulitan untuk mendapatkan air bersih terutama disebabkan oleh terbatasnya penguasaan sumber air dan menurunnya mutu sumber air.
7. Lemahnya kepastian kepemilikan dan penguasaan tanah. Masyarakat miskin menghadapi masalah ketimpangan struktur penguasaan dan pemilikan tanah, serta ketidakpastian dalam penguasaan dan pemilikan lahan pertanian.
Kehidupan rumah tangga petani sangat dipengaruhi oleh aksesnya terhadap tanah dan kemampuan mobilisasi anggota keluargannya untuk bekerja di atas tanah pertanian.
8. Memburuknya kondisi lingkungan hidup dan sumberdaya alam, serta terbatasnya akses masyarakat terhadap sumber daya alam. Masyarakat miskin yang tinggal di daerah perdesaan, kawasan pesisir, daerah pertambangan dan daerah pinggiran hutan sangat tergantung pada sumberdaya alam sebagai sumber penghasilan.
9. Lemahnya jaminan rasa aman. Data yang dihimpun UNSFIR menggambarkan bahwa dalam waktu 3 tahun (1997-2000) telah terjadi 3.600 konflik dengan korban 10.700 orang, dan lebih dari 1 juta jiwa menjadi pengungsi. Meskipun
jumlah pengungsi cenderung menurun, tetapi pada tahun 2001 diperkirakan masih ada lebih dari 850.000 pengungsi di berbagai daerah konflik.
10. Lemahnya partisipasi. Berbagai kasus penggusuran perkotaan, pemutusan hubungan kerja secara sepihak, dan pengusiran petani dari wilayah garapan menunjukkan kurangnya dialog dan lemahnya pertisipasi mereka dalam pengambilan keputusan. Rendahnya partisipasi masyarakat miskin dalam perumusan kebijakan juga disebabkan oleh kurangnya informasi baik mengenai kebijakan yang akan dirumuskan maupun mekanisme perumusan yang memungkinkan keterlibatan mereka.
11. Besarnya beban kependudukan yang disebabkan oleh besarnya tanggungan keluarga dan adanya tekanan hidup yang mendorong terjadinya migrasi.
Menurut data BPS, rumahtangga miskin mempunyai rata-rata anggota keluarga lebih besar daripada rumahtangga tidak miskin. Rumahtangga miskin di perkotaan rata-rata mempunyai anggota 5,1 orang, sedangkan rata- rata anggota rumahtangga miskin di perdesaan adalah 4,8 orang.
Dari berbagai definisi tersebut di atas, maka indikator utama kemiiskinan adalah; (1) terbatasnya kecukupan dan mutu pangan; (2) terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan kesehatan; (3) terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan pendidikan; (4) terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha; (5) lemahnya perlindungan terhadap aset usaha, dan perbedaan upah; (6) terbatasnya akses layanan perumahan dan sanitasi; (7) terbatasnya akses terhadap air bersih; (8) lemahnya kepastian kepemilikan dan penguasaan tanah; (9) memburuknya kondisi lingkungan hidup dan sumberdaya alam, serta terbatasnya akses masyarakat terhadap sumber daya alam; (10) lemahnya jaminan rasa aman; (11) lemahnya partisipasi; (12) besarnya beban kependudukan yang disebabkan oleh besarnya tanggungan keluarga;
(13) tata kelola pemerintahan yang buruk yang menyebabkan inefisiensi dan inefektivitas dalam pelayanan publik, meluasnya korupsi dan rendahnya jaminan sosial terhadap masyarakat.
Menurut Bank Dunia (2003), penyebab dasar kemiskinan adalah: (1) kegagalan kepemilikan terutama tanah dan modal; (2) terbatasnya ketersediaan bahan kebutuhan dasar, sarana dan prasarana; (3) kebijakan pembangunan yang bias perkotaan dan bias sektor; (4) adanya perbedaan kesempatan di antara anggota masyarakat dan sistem yang kurang mendukung; (5) adanya perbedaan sumber daya manusia dan perbedaan antara sektor ekonomi (ekonomi tradisional versus ekonomi modern); (6) rendahnya produktivitas dan tingkat pembentukan modal dalam masyarakat; (7) budaya hidup yang dikaitkan dengan kemampuan seseorang mengelola sumber daya alam dan lingkunganya; (8) tidak adanya tata pemerintahan yang bersih dan baik (good governance); (9) pengelolaan sumber daya alam yang berlebihan dan tidak berwawasan lingkungan.
Indikator utama kemiskinan menurut Bank Dunia adalah kepemilikan tanah dan modal yang terbatas, terbatasnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan, pembangunan yang bias kota, perbedaan kesempatan di antara anggota masyarakat, perbedaan sumber daya manusia dan sektor ekonomi, rendahnya produktivitas, budaya hidup yang jelek, tata pemerintahan yang buruk, dan pengelolaan sumber daya alam yang berlebihan.
b. Pemberdayaan sebagai Solusi Penanggulangan Kemiskinan
Salah satu solusi pengentasan kemiskinan adalah melalui skema pemberdayaan masyarakat. Penerapan Pemberdayaan paling banyak digunakan dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Upaya penanggulangan kemiskinan secara konseptual dapat dilakukan melalui empat jalur strategis yaitu perluasan kesempatan, pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas dan perlindungan sosial. Strategi perluasan kesempatan ditujukan menciptakan kondisi dan lingkungan ekonomi, politik dan sosial yang memungkinkan masyarakat miskin baik laki-laki mapun perempuan dapat memperoleh kesempatan seluasnya dalam pemenuhan kebutuhan dasar dan peningkatan taraf hidup secara berkelanjutan. Strategi pemberdayaan masyarakat dilakukan untuk memperkuat kelembagaan sosial, politik, ekonomi dan budaya masyarakat dan memperluas partisipasi masyarakat miskin baik laki-laki maupun perempuan dalam pengambilan keputusan kebijakan publik yang menjamin penghormatan, perlindungan dan pemenuhan kebutuhan dasar. Strategi peningkatan kapasitas dilakukan untuk mengembangkan kemampuan dasar dan kemampuan berusaha masyarakat miskin agar dapat memanfaatkan perkembangan lingkungan.
Strategi perlindungan sosial dilakukan untuk memberikan perlindungan dan rasa aman bagi kelompok rentan dan masyarakat miskin yang disebabkan oleh bencana alam, krisis ekonomi dan konflik.
Upaya penanggulangan kemiskinan secara praktis dapat berlangsung dalam dua variasi berikut, pertama, adanya satu program yang mengadopsi lebih dari satu
strategi tersebut secara paralel dan berkaitan. Misalnya program pengembangan kecamatan, program penanggulangan kemiskinan perkotaan, program pemberdayaan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil, dan program peningkatan pendapatan petani dan nelayan kecil.
Kedua, adanya satu program yang hanya mengadopsi salah satu dari strategi tersebut. Misalnya Program Bantuan Langsung Tunai kepada Rumah Tangga Miskin sebagai instrumen strategi perlindungan sosial. Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak kepada Rumah Tangga Miskin melalui komponen pendidikan (BOS) dan kesehatan untuk keluarga miskin (ASKESKIN) untuk menjalankan instrumen strategi peningkatan kapasitas.
Masalah kemiskinan seakan tidak akan pernah berhenti dibahas dan diperhatikan banyak cendikiawan, politisi, bahkan pemuka agama. Berbagai aspek kemiskinan dibahas dan berbagai cara mengentaskan kemiskinan dicarikan strateginya. Namun kemiskinan terus saja hidup. Kemiskinan akan musnah jika semua umat manusia mengalami pencerahan, namun sulit dijelaskan kapan waktunya.
Dalam rangka menjawab pertanyaan ini maka berikut akan dipaparkan sebagian teori tentang pembangunan, penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan.
Berbagai kebijakan Pemerintah Pusat dan beberapa pemerintah daerah bahkan ditemukan pula pada beberapa pelaku dunia usaha dalam 15 tahun terakhir ini banyak bersendikan pada konsep pemberdayaan masyarakat. Konsep pemberdayaan masyarakat dalam pengimplementasiannya dimaknai beragam oleh para pelaksana
kebijakan dalam berbagai bentuk program dan proyek pembangunan. Pembangunan pada hakekatnya bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Meski dimensi pembangunan menunjuk pada setiap gerak dan aktivitas demi perbaikan kualitas hidup manusia secara luas, dalam realitas keseharian maknanya kerapkali menyempit menjadi sekedar upaya perbaikan fisik dan ekonomi suatu masyarakat.
Pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan dengan cara menumbuhkan potensi diri dari masyarakat yang lemah secara ekonomi sebagai suatu asset tenaga kerja, dalam setiap kegiatan pemberdayaan menggunakan tenaga kerja yang diambil dari masyarakat setempat. Pemberdayaan dengan adanya pelayanan sosial mencakup pelayanan kesehatan, pendidikan, pelatihan, dan perumahan serta pemberdayaan yang membuat masyarakat dapat meningkatkan produktivitasnya dan dapat berpartisipasi dala kehidupan masyarakatnya.
Pembangunan dalam arti luas didefinisikan sebagai proses perubahan yang sengaja dan terukur. Pembangunan dalam pandangan pembangunan manusia dianggap sebagai upaya meningkatkan kualitas manusia sebagai manusia. Intinya, manusia menjadi subjek pembangunan.
Dalam paradigma pembangunan manusia, konsep penanggulangan kemiskinan mendapatkan akar sejarah teorinya meskipun beberapa pemikir neo klasik juga berhasil menempatkan konsep penanggulangan kemiskinan dalam rumpun kajiannya. Pendekatan pembangunan negara berkembang pada perkembangannya mendapat muatan konsep pengembangan wilayah yang memberikan perhatian pada
aspek kesenjangan wilayah sebagai faktor penyebab ketimpangan pembangunan dan kemiskinan. Salah satu kasus klasik adalah kesenjangan antara kota dengan desa.
Masalah pembangunan di Indonesia sebagaimana disebutkan diatas coba dituntaskan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Mengapa harus pemberdayaan masyarakat? Untuk menjawabnya, paling tidak ada 5 argumentasi dasar berikut. Pertama, demokratisasi proses pembangunan. Konsep pemberdayaan dipercaya mampu menjawab tantangan pelibatan aktif setiap warganegara dalam proses pembangunan, mulai dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasinya. Salah satu pendekatan untuk mendemokratisasikan proses pembangunan adalah memberikan peluang sebesar-besarnya kepada lapisan masyarakat paling bawah untuk terlibat dalam pengalokasian sumber daya pembangunan. Inilah hakikat konsep pembangunan yang diarahkan oleh rakyat atau dalam istilah lain disebut pembangunan yang digerakkan oleh masyarakat (community driven development). Proses ini diyakini mampu menjadi wahana pembelajaran pencerdasan bagi rakyat untuk mengenali kebutuhannya sendiri serta melaksanakan dan melestarikan upaya untuk memenuhi kebutuhannya itu. Penerapan konsep pemberdayaan dengan demikian mempunyai efek samping dalam bentuk mampu memberikan jalan terlaksananya penyelenggaraan ketatanegaraan secara baik.
Kedua, penguatan peran organisasi kemasyarakatan lokal. Konsep pemberdayaan dipercaya mampu menjawab tantangan bagaimana melibatkan organisasi kemasyarakatan lokal berfungsi dalam pembangunan. Organisasi
kemasyarakatan lokal merupakan pemegang peran sentral terjadinya perubahan sosial karena merekalah yang paling mengerti karakter lapisan masyarakat paling bawah.
Dalam mekanisme manajemen pembangunan modern, peran mereka harus diorganisasikan secara hirarkis agar informasi tentang situasi terkini dapat dijalin secara baik. Peran organisasi kemasyarakatan dalam mendampingi rakyat miskin sangat bervariatif mulai sebagai inisiator, katalisator, hingga fasilitator.
Ketiga, penguatan modal sosial. Konsep pemberdayaan diyakini mampu menggali dan memperkokoh ikatan sosial antara warga negara. Penguatan modal sosial mengandung arti pelembagaan nilai-nilai luhur yang bersifat universal, yaitu kejujuran, kebersamaan dan kepedulian. Pengutan modal sosial merupakan motivasi dasar setiap kegiatan yang dapat menjadi spirit perwujudan tujuan pemberdayaan itu sendiri. Proses pemberdayaan dengan sendirinya mampu menciptakan kultur masyarakat yang mandiri, menciptakan hubungan harmonis diantara rakyat serta antar rakyat dengan pamong praja.
Keempat, penguatan kapasitas birokrasi lokal. Konsep pemberdayaan secara khusus diyakini mampu meningkatkan fungsi pelayanan publik dan pemerintahan khususnya kepada penduduk setempat. Konsep pemberdayaan memaksa jajaran pemerintah lokal memberikan perhatian lebih besar kepada rakyatnya agar dapat memperoleh dan memenuhi kebutuhan hidupnya baik fisik maupun non fisik secara mudah.
Kelima, mempercepat penanggulangan kemiskinan. Konsep pemberdayaan dalam bentuknya yang paling menonjol diyakini dapat mempercepat tujuan penanggulangan kemiskinan yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat miskin karena dalam pendekatan pemberdayaan ini para penyelenggara pembangunan, baik pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan dituntut memberikan pemihakan dan perlindungan kepada rakyat miskin. Pemihakan dilakukan dengan senantiasa mengalokasikan sumber daya pembangunan untuk rakyat miskin. Karakterk lokal harus menjadi landasan dalam pemihakan agara antara peluang dan aspirasi dapat terartikulasikan secara baik. Perlindungan dilakukan dengan senantiasa membela rakyat miskin dalam berbagai aspeknya yang positif. Rakyat miskin harus senantiasa dilindungi dan didampingi agar memiliki kekuatan untuk meraih sumber daya ekonomi. Oleh karena itu, pendampingan sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan ini.
Dengan kata lain, pemberdayaan pada dasarnya menempatkan masyarakat sebagai pusat perhatian dan sekaligus pelaku utama pembangunan (people centered development). Program-program pembangunan di era 1990-an yang dimulai dari IDT (Inpres Desa Tertinggal) telah menunjukkan tekad pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan dan sekaligus sebagai bagian dari perwujudan pembangunan alternatif yang melihat pentingnya manusia, tidak lagi sebagai objek tetapi subjek pembangunan. Dalam konteks ini ”partisipasi masyarakat sepenuhnya” dianggap sebagai penentu keberhasilan pembangunan. Selama ini keterlibatan masyarakat
hanya dilihat dalam konteks yang sempit. Artinya manusia cukup dipandang sebagai tenaga kasar untuk mengurangi biaya pembangunan sosial. Dengan kondisi ini, peran serta masyarakat terbatas pada implementasi atau penerapan program untuk menjadi kreatif, daya masyarakat tidak dikembangkan dari dalam dirinya dan harus menerima keputusan yang sudah diambil pihak luar. Partisipasi mencapai bentuknya yang pasif.
2.4. Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Menurut Craig and Mayo bahwa partisipasi mensyaratkan adanya proses pemberdayaan terlebih dahulu. Dengan kata lain, mustahil kita berbicara partisipasi masyarakat tanpa diawali dengan diskusi pemberdayaan. Inilah yang dilakukan melalui P2KP yaitu memberdayakan masyarakat terlebih dahulu melalui pembentukan relawan dan pendampingan yang terus menerus yang pada akhirnya masyarakat bisa mandiri. Ada banyak konsep partisipasi. Partisipasi bisa diartikan keterlibatan seseorang secara sadar kedalam interaksi sosial tertentu. Menurut Rostika (2003 :51) seseorang bisa berparitisipasi bila menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok, melalui proses berbagi dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggung jawab bersama
Agar mampu berpartisipasi seseorang perlu berproses dan prose situ ada dalam dirinya dan dengan orang lain. Kemampuan setiap orang jelas akan berbeda- beda dalam berpartisipasi. Dengan upaya yang sungguh-sungguh dan terencana, partisipasi seseorang dan pada akhirnya muncul partisipasi kelompok akan bisa
ditumbuhkan dengan dorongan dari dalam dirinya atau dengan dorongan orang lain yang selalu berinteraksi dengan orang tersebut atau dengan kelompok tersebut.
Latar belakang pemikiran partisipasi adalah program atau kegiatan pembangunan masyarakat yang datang dari atas atau dari luar sering gagal dan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal. Proses perencanaan dan pengambil keputusan dalam program pembangunan kerapkali dilakukan dari atas ke bawah.
Rencanan program pemberdayaan masyarakat biasanya dibuat ditingkat pusat dan dilaksanakan oleh instansi terkait oleh instansi propinsi dan kabupaten, dan biasanya defenisi pemberdayaan sendiri sangat beragam. Masyarakat sering kali diikutkan tanpa diberikan pilihan dan kesempatan untuk memberikan masukan. Hal ini biasanya disebabkan oleh adanya anggapan untuk mencapai efisiensi dalam pembangunan, masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk menganalisa kondisi dan merumuskan persoalan serta kebutuhan kebutuhannya. Dalam hal ini, masyarakat ditempatkan pada posisi yang membutuhkan bantuandari luar. Sebenarnya jika masyarakat dilibatkan secara penuh, mereka juga mempunyai potensi tersendiri, seperti yang dikemukakan oleh Adimihardja dan Hikmat (2003:23-24) bahwa masyarakat sebenarnya memiliki banyak potensi baik dilihat dari sumber daya alam maupun dari semuberdaya sosial dan budaya. Masyarakat memiliki kekuatan bila digali dan disalurkan akan menjadi energi besar untuk pengentasan kemiskinan. Cara menggali dan mendayagunakan sumber-sumber yang ada pada masyarakat inilah yan menjadi inti dari pemberdayaan masyarakat. Didalam pemberdayaan masyarakat yang penting adalah bagaimana menjadikan masyarakat pada posisi pelaku
pembangunan yang aktif dan bukan penerima pasif. Konsep gerakan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan, mengutamakan inisiatif dan kreasi masyarakat, dengan startegi pokok memberi kekuatan (power) kepada masyarakat.
Program pemberdayaan sering tidak berhasil dan kurang memberi manfaat kepada masyarakat, karena masyarakat kurang terlibat sehingga mereka merasa kurang bertanggung jawab terhadap program dan keberhasilannya, program tersebut akan menjadi sia-sia.
Gagasan tentang pelibatan peran warga dalam masalah pembangunan, terutama melalui model pemberdayaan bukan topik yang baru. Semenjak tumbuhnya kesadaran bahwa perspektif pertumbuhan ekonomi meninggalkan permasalahn kesenjangan, ketidak adilan dan ketidak merataan dalam pembagian manfaat. Strategi pembangunan kemudian berubah menjadi participatory development, pembangunan dirancangdari bawah dengan melibatkan warga dan menempatkan mereka sebagai subjek dalam proses pebangunan. (Edi Suharto, 2005 : 60) menyatakan sebagai tujuan pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hal yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial, yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi, maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.
Pemberdayaan kemudian menjadi pendekatan bagi pembangunan alternatif yang lebih menitik beratkan pada pendekatan bottom up dengan menempatkan rakyat miskin sebagai prioritas serta memberikan ruang partisipasi yang besar bagi masyarakat. Pembangunan yang berpusat pada rakyat (people center development) dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan serta menakar kebuthan dari perspektif masyarakat.
Dalam proses pemberdayaan masyarakat penting dalam melibatkan masyarakat lokal. Strategi dasar yang dapat digunakan untuk pemecahan masalah adalah mengembangkan partisipasi yang lebih luas dari masyarakat. Untuk memberikan semangat kepada masyarakat agar terlibat aktif dalam kegiatan, baik dalam penetapan kebijakan, perumusan kebutuhan, maupun dalam pemecahan masalah mereka sendiri. Merupakan salah satu cara untuk menuju keberdayaan masyarakat. Menurut Cohen dan Uphoff (1980) dalam Prijono dan Pranarka (1996:61) menyatakan partisipasi mendukung masyarakat untuk mulai sadar akan situasi dan masalah yang dihadapinya serta berupaya mencari jalan-jalan keluar yang dapat dipakai untuk mengatasi masalah mereka. Partisipasi membantu mesyarakat miskin untuk melihat realitas ekonomi yang mengelilingi mereka.
Jika masyarakat dari awal sudah dilibatkan dalam suatu program pemberdayaan, maka akan berdampak positif bagi masyarakat dan juga kepada lembaga yang memberikan bantuan. Adanya proses musyawarah dalam menentukan bagaimana proses perencanaan dan pelaksanaan program, dengan demikian
masyarakat turut berpartisipasi dan dapat menyuarakan aspirasi mereka. Ini merupakan proses dari pemberdayaan masyarakat.
Kemampuan masyarakat untuk mewujudkan dan mempengaruhi arah serta pelaksanaan suatu program ditentukan dengan mengandalkan power yang dimilikinya sehingga pemberdayaan merupakan jiwa partisipasi yang sifatnya aktif dan kreatif.
Curtis, et all., (1978) dalam Rostika (2003 : 54). Partisipasi bersangkutan dengan pembagian kekuatan dalam masyarakat, untuk itu memungkinkan kelompok- kelompok untuk menentukan kebutuhannya dimana kebutuhannya akan dipenuhi dengan pendistribusian sumber daya yang ada.
Adanya kelompok menjadi penting dan perlu dalam mengembangkan partisipasi. Kelompok merupakan suatu yang strategis, sehingga pembentukan kelompok menjadi suatu keharusan dalam upaya mengembangkan partisipasi setiap individu dalam kelompok adalah pelaku, yang berhak menetapkan segala sesuatu berdasarkan pada tata nilai tradisi, kemampuan, tujuan, dan bagaimana mencapai tujuan. Proses untuk menetapkan kesepakatan itu dikenal dengan nama musyawarah.
Musyawarah menjadi media strategis dalam mengembangkan partisipasi kelompok, musyawarah sebagai latihan bagi setiap kelompok untuk berpartisipasi. Bila ada orang luar yang terlibat mereka hanya pendamping saja yang perannya adalah memfasilitasi atau membantu untuk memperlancar proses musyawarah.
Kaitannya dengan pemberdayaan, partisipasi masyarakat sepenuhnya dianggap sebagai penentu keberhasilan pembangunan. Pemberdayaan pada akhirnya mengarah pada tujuan terbentuknya partisipasi yang penuh dari setiap anggota
komunitas serta terwujudnya masyarakat yang aktif. Menurut Pranarka (1996 : 132- 134) Selama ini keterlibatan masyarakat hanya dilihat dalam konteks sempit, artinya manusia dipandang sebagai tenaga kasar dalm konteks sempit, artinya manusia dipandang sebagai tenaga kasa untuk mengurangi biaya pembangunan sosial. Dengan kondisi ini, peran serta masyarakat terbatas pada implementasi atau pada saat penerapan program saja. Masyarakat tidak berkembang daya kreatifnya dari dalam dirinya dan harus menerima keputusan yang sudah diambil pihak luar. Partisipasi yang ada hanya dalm bentuk pasif. Terkesan partisipasi hanya sekedar formalitas saja tidak dalam arti yang sebenarnya. Tujuan akhir dari pemberdayaan adalah terciptanya masyarakat yang berdaya sehingga masyarakat tersebut dapat menjadi mandiri tidak tergantung pada orang lain. Perlu diketahui pula bahwa menumbuhkan partisipasi masyarakat tidaklah gampang. Partisipasi terlebih dahulu diawali dengan pemberdayaan masyarakat. Dan untuk menumbuhkan pemberdayaan masyarakat sangat dibutuhkan kerjasama, baik masyarakat, LSM, stakeholders maupun pemerintah.
2.5. Model Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP)
Model program pemberdayaan di perkotaan dapat mengambil contoh program penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP) yang memandang bahwa masalah kemiskinan di kawasan perkotaan sangat mendesak untuk ditangani. Salah satu ciri umum kondisi fisik masyarakat miskin tersebut adalah tidak memiliki akses ke
prasarana dan sarana dasar lingkungan yang memadai dengan kualitas perumahan dan pemukiman yang jauh dari standar kelayakan dan mata pencaharian yang tidak menentu.
Dalam perjalanannya sejak dilaksanakannya tahun 1999, proses pendampingan masyarakat oleh P2KP telah menghasilkan perkembangan yang positif, khususnya dalam hal terwujudnya kelembagaan masyarakat lokal yang mandiri yakni Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Badan ini dipercaya sebagai pengelola dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) dan sebagai pemeduli terhadap kemiskinan di komunitasnya. Membangun kelembagaan masyarakat yang mengakar perlu dilakukan agar setelah masa program P2KP berakhir, upayapenanggulangan kemiskinan di perkotaan dapat dijalankan sendiri oleh masyarakat. Konsekuensi logis dari hal tersebut, banyak Kabupaten/Kota yang mengusulkan keberlanjutan program ini ataupun ingin mengadopsi program ini untuk memperluas capaian upaya penanggulangan kemiskinan di wilayah-wilayah yang belum tersentuh P2KP.
P2KP memandang bahwa akar penyebab persoalan kemiskinan yang sebenarnya adalah karena kondisi masyarakat yang belum berdaya dengan indikasi kuat yang tercerminkan oleh prilaku/sikap/cara pandang masyarakat yang tidak dilandasi nilai-nilai universal kemanusiaan dan tidak bertumpu pada prinsip-prinsip universal kemasyarakatan (transparansi, akuntabilitas, partisipasi, demokrasi, dan lain-lain).
Perubahan prilaku/sikap dan cara pandang masyarakat merupakan fondasi kokoh bagi terbangunnya lembaga masyarakat yang mandiri melalui pemberdayaan
para pelakunya agar mampu bertindak sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia luhur yang mampu menerapkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Kelembagaan masyarakat yang mandiri mampu menjadi wadah perjuangan kaum miskin yang mandiri dan berkelanjutan dalam menyuarakan aspirasi serta kebutuhan mereka dan mampu mempengaruhi proses pengambilan keputusan agar lebih berorientasi pada masyarakat miskin dan mewujudkan tata pemerintahan yang baik.
Menurut P2KP, pendekatan yang lebih efektif untuk mewujudkan proses perubahan prilaku masyarakat adalah melalui pendekatan pemberdayaan atau proses pembelajaran masyarakat dan penguatan kapasitas untuk mengedepankan peran pemerintah daerah dalam mengapresiasi dan mendukung kemandirian masyarakatnya. Kedua substansi tersebut sangat penting sebagai upaya proses transformasi P2KP dari ”tataran Proyek menjadi tataran program oleh masyarakat bersama pemerintah daerah setempat”.
Substansi P2KP sebagai proses pemberdayaan dan pembelajaran masyarakat dilakukan secara terus-menerus untuk menumbuhkembangkan kesadaran kritis masyarakat terhadap nilai-nilai universal kemanusiaan, prinsip-prinsip kemasyrakatan dan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan sebagai landasan yang kokoh untuk membangun masayrakat mandiri dan sejahtera. Proses pembelajaran di tingkat masyarakat ini berlangsung selama masa Program P2KP ataupun pasca Program
P2KP oleh masyarakat sendiri dengan membangun dan melembagakan Komunitas Belajar Kelurahan (KBK).
Dalam rangka mengedepankan peran dan tanggung jawab pemerintah daerah, substansi P2KP sebagai penguatan kapasitas pemerintah daerah dilakukan melalui pelibatan intensif Pemda pada pelaksanaan siklus kegiatan P2KP serta penguatan peran dan fungsi Komite Penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPK-D). Dengan demikian, dapat disusun Dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPK-D) berbasis program masyarakat dan pelembagaan komunitas belajar perkotaan (KBP).Yang menjadi permasalahan kemudian adalah bagaimana mengukur efektivitas dari P2KP di Tanjung Morawa tersebut. Oleh karena itu, untuk mengukur tingkat efektivitas program P2KP, digunakan indikator-indikator sebagai berikut :
Tabel 3.1
Indikator Hasil Dari Komponen Program Pemberdayaan Masyarakat
No Indikator
Target
(% dari total jumlah penduduk)
Pencapaian
1
Penduduk dewasa yang berpartisipasi memilih dalam pemilihan BKM.
30 % -
2
Wanita yang
berpartisipasi di dalam BKM.
30 % -
3
Wanita yang terpilih
sebagai anggota BKM. 3 orang -
4 Jumlah relawan di
kelurahan/desa. 25 orang -
5
PJM Pronangkis yang terealisir /
diimplementasikan.
5 % -
Sumber: Pedoman Umum P2KP.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis studi yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dimana penelitian ini berupaya menggambarkan pemberdayaan masyarakat melalui Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) di Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang
3.2. Definisi Konsep.
1. Masyarakat, dimaksudkan sebagai komunitas Penduduk dalam kehidupan social budaya masyarakat lokal yang berdomisili secara tetap di wilayah Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang.
2. Pemberdayaan Masyarakat adalah proses memberikan kekuasaan atau kekuatan kepada masyarakat yang berada dalam kondisi tidak berdaya. Dalam pemberdayaan penting mendorong motivasi individu atau masyarakat untuk menentukan pilihan hidupnya.
3. Partisipasi Masyarakat adalah berupa keikut sertaan masyarakat dalam program- program Pemerintah baik secara langsung maupun tidak langsung dalam bentuk Fisik, material, ataupun berupa sumbangan-sumbangan pikiran dalam proses pembangunan.
3.4. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian terletak di wilayah Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang.
3. 5. Informan Kunci
Untuk memperdalam analisis data yang berkaitan dengan implementasi P2KP di Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang maka akan dilakukan wawancara secara mendalam dengan Informan kunci seperti Koordinator P2KP Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang, petugas lapangan P2KP dan masyarakat penerima bantuan P2KP
3. 6. Teknik Pengumpulan Data
a. Data sekunder diperoleh melalui: studi kepustakaan yang bersumber pada literatur dokumen-dokumen atau tulisan-tulisan serta studi-studi penelitian sejenis yang ada hubungannya dengan permasalahan penelitian.
b. Data primer diperoleh melalui: Wawancara mendalam (in-depth interview) dengan penggunaan alat penelitian verbal (tape recording), untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian ini menjadi lengkap.
3.7. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari lapangan, baik data sekunder maupun primer akan disusun dan disajikan dan dianalissis dengan menggunakan pendekatan kualitatif berupa pemaparan yang kemudian di analisis dan di narasikan sesuai dengan masalah penelitian.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Latar Belakang P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan)
Masalah kemiskinan di Indonesia tidak hanya melanda wilayah pedesaan, tetapi juga perkotaan. Khusus di wilayah perkotaan, salah satu ciri umum kondisi masyarakatnya yang miskin adalah tidak adanya prasarana dan sarana dasar perumahan dan pemukiman yang memadai, serta kualitas lingkungan yang kumuh dan tidak layak huni. Kemiskinan merupakan persoalan struktural dan multi- dimensional yang mencakup politik, sosial, aset, dan lain-lain. Karakteristik kemiskinan tersebut, serta krisis ekonomi yang terjadi, telah menyadarkan semua pihak bahwa pendekatan dan cara yang dipilih dalam penanggulangan kemiskinan selama ini perlu diperbaiki ke arah pengokohan kelembagaan masyarakat.
Keberdayaan kelembagaan masyarakat ini dibutuhkan dalam rangka membangun organisasi masyarakat yang benar-benar mampu menjadi wadah perjuangan kaum miskin yang mandiri dan berkelanjutan dalam menyuarakan aspirasi serta kebutuhan mereka. Di samping itu, keberdayaan semacam itu diharapkan mampu mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan upaya pemberdayaan warga miskin di tingkat lokal, baik dari aspek sosial, ekonom, maupun lingkungan.
Berdasarkan karakteristik kemiskinan di kawasan perkotaan tersebut, model P2KP di harapkan mampu memberikan kontribusi bagi penyelesaian persoalan kemiskinan yang bersifat multi-dimensional dan struktural, khususnya yang terkait dengan dimensi-dimensi politik, sosial, dan ekonomi. Dalam jangka panjang, model P2KP di harapkan mampu menyediakan aset yang lebih baik bagi masyarakat miskin dalam meningkatkan pendapatannya ataupun menyuarakan aspirasinya dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, program P2KP merupakan program penanggulangan kemiskinan di perkotaan dari, oleh, dan untuk masyarakat itu sendiri.
4.1.1 Pendekatan dan Tujuan P2KP
Pendekatan P2KP didasarkan pada pendekatan “pembangunan yang bertumpu pada kelompok” (community based development approach). Dengan pendekatan ini, kelompok-kelompok dapat terjadi atau dibangun atas dasar ikatan-ikatan: kesamaan tujuan, kegiatan, dan domisili yang mengarah pada efisiensi, efektifitas, serta mendorong tumbuh dan berkembangnya kapital sosial. Berdasarkan hal tersebut, pendekatan P2KP mencakup:
• Visi P2KP adalah terwujudnya masyarakat madani, yang maju, mandiri, dan sejahtera.
• Misi P2KP adalah memberdayakan masyarakat miskin, melalui pengembangan kapasitas, penyediaan sumber daya, dan membangun masyarakat mandiri yang mampu menjalin kebersamaan dan sinergi dengan