BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Model Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP)
Model program pemberdayaan di perkotaan dapat mengambil contoh program penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP) yang memandang bahwa masalah kemiskinan di kawasan perkotaan sangat mendesak untuk ditangani. Salah satu ciri umum kondisi fisik masyarakat miskin tersebut adalah tidak memiliki akses ke
prasarana dan sarana dasar lingkungan yang memadai dengan kualitas perumahan dan pemukiman yang jauh dari standar kelayakan dan mata pencaharian yang tidak menentu.
Dalam perjalanannya sejak dilaksanakannya tahun 1999, proses pendampingan masyarakat oleh P2KP telah menghasilkan perkembangan yang positif, khususnya dalam hal terwujudnya kelembagaan masyarakat lokal yang mandiri yakni Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Badan ini dipercaya sebagai pengelola dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) dan sebagai pemeduli terhadap kemiskinan di komunitasnya. Membangun kelembagaan masyarakat yang mengakar perlu dilakukan agar setelah masa program P2KP berakhir, upayapenanggulangan kemiskinan di perkotaan dapat dijalankan sendiri oleh masyarakat. Konsekuensi logis dari hal tersebut, banyak Kabupaten/Kota yang mengusulkan keberlanjutan program ini ataupun ingin mengadopsi program ini untuk memperluas capaian upaya penanggulangan kemiskinan di wilayah-wilayah yang belum tersentuh P2KP.
P2KP memandang bahwa akar penyebab persoalan kemiskinan yang sebenarnya adalah karena kondisi masyarakat yang belum berdaya dengan indikasi kuat yang tercerminkan oleh prilaku/sikap/cara pandang masyarakat yang tidak dilandasi nilai-nilai universal kemanusiaan dan tidak bertumpu pada prinsip-prinsip universal kemasyarakatan (transparansi, akuntabilitas, partisipasi, demokrasi, dan lain-lain).
Perubahan prilaku/sikap dan cara pandang masyarakat merupakan fondasi kokoh bagi terbangunnya lembaga masyarakat yang mandiri melalui pemberdayaan
para pelakunya agar mampu bertindak sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia luhur yang mampu menerapkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Kelembagaan masyarakat yang mandiri mampu menjadi wadah perjuangan kaum miskin yang mandiri dan berkelanjutan dalam menyuarakan aspirasi serta kebutuhan mereka dan mampu mempengaruhi proses pengambilan keputusan agar lebih berorientasi pada masyarakat miskin dan mewujudkan tata pemerintahan yang baik.
Menurut P2KP, pendekatan yang lebih efektif untuk mewujudkan proses perubahan prilaku masyarakat adalah melalui pendekatan pemberdayaan atau proses pembelajaran masyarakat dan penguatan kapasitas untuk mengedepankan peran pemerintah daerah dalam mengapresiasi dan mendukung kemandirian masyarakatnya. Kedua substansi tersebut sangat penting sebagai upaya proses transformasi P2KP dari ”tataran Proyek menjadi tataran program oleh masyarakat bersama pemerintah daerah setempat”.
Substansi P2KP sebagai proses pemberdayaan dan pembelajaran masyarakat dilakukan secara terus-menerus untuk menumbuhkembangkan kesadaran kritis masyarakat terhadap nilai-nilai universal kemanusiaan, prinsip-prinsip kemasyrakatan dan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan sebagai landasan yang kokoh untuk membangun masayrakat mandiri dan sejahtera. Proses pembelajaran di tingkat masyarakat ini berlangsung selama masa Program P2KP ataupun pasca Program
P2KP oleh masyarakat sendiri dengan membangun dan melembagakan Komunitas Belajar Kelurahan (KBK).
Dalam rangka mengedepankan peran dan tanggung jawab pemerintah daerah, substansi P2KP sebagai penguatan kapasitas pemerintah daerah dilakukan melalui pelibatan intensif Pemda pada pelaksanaan siklus kegiatan P2KP serta penguatan peran dan fungsi Komite Penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPK-D). Dengan demikian, dapat disusun Dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPK-D) berbasis program masyarakat dan pelembagaan komunitas belajar perkotaan (KBP).Yang menjadi permasalahan kemudian adalah bagaimana mengukur efektivitas dari P2KP di Tanjung Morawa tersebut. Oleh karena itu, untuk mengukur tingkat efektivitas program P2KP, digunakan indikator-indikator sebagai berikut :
Tabel 3.1
Indikator Hasil Dari Komponen Program Pemberdayaan Masyarakat
No Indikator
Target
(% dari total jumlah penduduk)
sebagai anggota BKM. 3 orang -
4 Jumlah relawan di
kelurahan/desa. 25 orang -
5
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis studi yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dimana penelitian ini berupaya menggambarkan pemberdayaan masyarakat melalui Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) di Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang
3.2. Definisi Konsep.
1. Masyarakat, dimaksudkan sebagai komunitas Penduduk dalam kehidupan social budaya masyarakat lokal yang berdomisili secara tetap di wilayah Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang.
2. Pemberdayaan Masyarakat adalah proses memberikan kekuasaan atau kekuatan kepada masyarakat yang berada dalam kondisi tidak berdaya. Dalam pemberdayaan penting mendorong motivasi individu atau masyarakat untuk menentukan pilihan hidupnya.
3. Partisipasi Masyarakat adalah berupa keikut sertaan masyarakat dalam program-program Pemerintah baik secara langsung maupun tidak langsung dalam bentuk Fisik, material, ataupun berupa sumbangan-sumbangan pikiran dalam proses pembangunan.
3.4. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian terletak di wilayah Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang.
3. 5. Informan Kunci
Untuk memperdalam analisis data yang berkaitan dengan implementasi P2KP di Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang maka akan dilakukan wawancara secara mendalam dengan Informan kunci seperti Koordinator P2KP Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang, petugas lapangan P2KP dan masyarakat penerima bantuan P2KP
3. 6. Teknik Pengumpulan Data
a. Data sekunder diperoleh melalui: studi kepustakaan yang bersumber pada literatur dokumen-dokumen atau tulisan-tulisan serta studi-studi penelitian sejenis yang ada hubungannya dengan permasalahan penelitian.
b. Data primer diperoleh melalui: Wawancara mendalam (in-depth interview) dengan penggunaan alat penelitian verbal (tape recording), untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian ini menjadi lengkap.
3.7. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari lapangan, baik data sekunder maupun primer akan disusun dan disajikan dan dianalissis dengan menggunakan pendekatan kualitatif berupa pemaparan yang kemudian di analisis dan di narasikan sesuai dengan masalah penelitian.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Latar Belakang P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan)
Masalah kemiskinan di Indonesia tidak hanya melanda wilayah pedesaan, tetapi juga perkotaan. Khusus di wilayah perkotaan, salah satu ciri umum kondisi masyarakatnya yang miskin adalah tidak adanya prasarana dan sarana dasar perumahan dan pemukiman yang memadai, serta kualitas lingkungan yang kumuh dan tidak layak huni. Kemiskinan merupakan persoalan struktural dan multi-dimensional yang mencakup politik, sosial, aset, dan lain-lain. Karakteristik kemiskinan tersebut, serta krisis ekonomi yang terjadi, telah menyadarkan semua pihak bahwa pendekatan dan cara yang dipilih dalam penanggulangan kemiskinan selama ini perlu diperbaiki ke arah pengokohan kelembagaan masyarakat.
Keberdayaan kelembagaan masyarakat ini dibutuhkan dalam rangka membangun organisasi masyarakat yang benar-benar mampu menjadi wadah perjuangan kaum miskin yang mandiri dan berkelanjutan dalam menyuarakan aspirasi serta kebutuhan mereka. Di samping itu, keberdayaan semacam itu diharapkan mampu mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan upaya pemberdayaan warga miskin di tingkat lokal, baik dari aspek sosial, ekonom, maupun lingkungan.
Berdasarkan karakteristik kemiskinan di kawasan perkotaan tersebut, model P2KP di harapkan mampu memberikan kontribusi bagi penyelesaian persoalan kemiskinan yang bersifat multi-dimensional dan struktural, khususnya yang terkait dengan dimensi-dimensi politik, sosial, dan ekonomi. Dalam jangka panjang, model P2KP di harapkan mampu menyediakan aset yang lebih baik bagi masyarakat miskin dalam meningkatkan pendapatannya ataupun menyuarakan aspirasinya dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, program P2KP merupakan program penanggulangan kemiskinan di perkotaan dari, oleh, dan untuk masyarakat itu sendiri.
4.1.1 Pendekatan dan Tujuan P2KP
Pendekatan P2KP didasarkan pada pendekatan “pembangunan yang bertumpu pada kelompok” (community based development approach). Dengan pendekatan ini, kelompok-kelompok dapat terjadi atau dibangun atas dasar ikatan-ikatan: kesamaan tujuan, kegiatan, dan domisili yang mengarah pada efisiensi, efektifitas, serta mendorong tumbuh dan berkembangnya kapital sosial. Berdasarkan hal tersebut, pendekatan P2KP mencakup:
• Visi P2KP adalah terwujudnya masyarakat madani, yang maju, mandiri, dan sejahtera.
• Misi P2KP adalah memberdayakan masyarakat miskin, melalui pengembangan kapasitas, penyediaan sumber daya, dan membangun masyarakat mandiri yang mampu menjalin kebersamaan dan sinergi dengan
pemerintah maupun kelompok peduli setempat dalam menanggulangi kemiskinan secara efektif, dan berkelanjutan.
• Prinsip-prinsip P2KP adalah demokrasi, partisipasi, transparansi, akuntabilitas, dan desentralisasi.
• Nilai-nilai yang dianut dalam pelaksanaan P2KP yang harus dijunjung tinggi, di tumbuhkembangkan, dan dilestarikan oleh semua pelaku P2KP dalam melaksanakan program adalah dapat dipercaya, ikhlas/kerelawanan, kejujuran, keadilan, kesetaraan, dan kebersamaan dalam keragaman.
Tujuan P2KP secara umum adalah:
• Terbangunnya lembaga masyarakat berbasis nilai-nilai universal kemanusiaan, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan berorientasi pada pemabngunan berkelanjutan, yang aspiratif, representatif, mengakar, mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat miskin, mampu memperkuat aspirasi/suara masyarakat miskin dalam proses pengambilan keputusan lokal, dan mampu menjadi wadah sinergi masyarakat dalam penyelesaian konflik/permasalahan yang ada di wilayahnya.
• Terciptanya organisasi masyarakat (Badan Keswadayaan Masyarakat / BKM) yang memiliki pola kepemimpinan kolektif yang representatif, akseptabel, inklusif, tanggap, dan akuntabel yang mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat miskin perkotaan dan memperkuat suara masyarakat miskin
dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan publik.
• Meningkatnya akses bagi masyarakat miskin ke pelayanan sosial, prasarana dan sarana serta pendanaan (modal), termasuk membangun kerjasama dan kemitraan sinergi ke berbagai pihak terkait, dengan menciptakan kepercayaan pihak-pihak terkait tersebut terhadap masyarakat (BKM).
• Mengedepankan peran pemerintah kota/kabupaten agar mereka makin mampu memenuhi kebutuhan masyarakat miskin, baik melalui pengokohan Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) di wilayahnya, maupun kemitraan dengan masyarakat serta kelompok peduli setempat.
4.1.2 Sasaran P2KP
• Masyarakat. Kelompok sasaran penerima manfaat P2KP adalah warga masyarakat miskin perkotaan, sesuai rumusan kriteria kemiskinan setempat yang disepakati warga, termasuk masyarakat miskin per-kotaan, baik masyarakat yang telah lama miskin ataupun “baru miskin”, masyarakat yang pendapatannya menjadi tidak berarti karena inflasi, maupun masyarakat yang kehilangan sumber nafkah karena krisis ekonomi.
• Lokasi. Lokasi sasaran P2KP meliputi 1.726 kelurahan/desa di 229 Kecamatan yang tersebar di 96 Kota/Kabupaten. Lokasi sasaran tersebut terletak di Pulau Sumatera, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Propinsi Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Seleksi pemilihan lokasi sasaran
tersebut dilakukan dengan menggunakan data Podes 2003 Biro Pusat Statistik selaku instansi yang berwenang di bidang statistik (UU No.16 tahun 1997).
4.1.3 Strategi P2KP
Strategi P2KP adalah mendorong gerakan masyarakat untuk keberdayaan dan kemandirian dalam penanggulangan kemiskinan dengan jalan:
• Mendorong tumbuh dan berkembangnya prakarsa, partisipasi masyarakat, dan transparansi, sehingga proses transformasi sosial dari masyarakat tidak berdaya/miskin menuju masyarakat berdaya dan mendorong
• Meningkatkan kemampuan kelembagaan dan organisasi yang berakar di masyarakat, khususnya dalam membuka akses bagi masyarakat miskin ke sumber daya kunci yang disediakan P2KP melalui Bantuan Langsung Masyarakat (BLM), secara transparan dan akuntabel.
• Menjalin sinergi penanggulangan kemiskinan sebagai gerakan masyarakat melalui kemitraan antar pelaku pembangunan.
• Mendorong tumbuhnya kepedulian berbagai pihak sebagai upaya pengendalian sosial (kontrol sosial) terhadap keberhasilan program penanggulangan kemiskinan.
4.1.4 Struktur Organisasi P2KP
Berikut ini adalah struktur organisasi P2KP Gambar 4.1
Struktur Organisasi P2KP
Tim Fasilitator 5-10 Kel/Desa
Koord.
Kota/Kab. KPK Kota/Kab.
DEPARTEMEN PU
Pusat
Kota / Kabupaten
Keterangan Gambar 4.1 bahwa :
• Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Inter Departemen adalah tim yang beranggotakan pejabat eselon I & II dari Kantor Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Komite Penanggulangan Kemiskinan, Bappenas, Departemen Keuangan, Departemen Dalam Negeri, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Pekerjaan Umum, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, BPS, yang dibentuk dengan Keputusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
• Tim Pokja Nasional adalah tim yang beranggotakan pejabat eselon III dari Kantor Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Komite Penanggulangan Kemiskinan, Bappenas, Departemen Keuangan, Departemen Dalam Negeri, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Pekerjaan Umum, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, BPS, yang dibentuk dengan Keputusan Direktur Jenderal Cipta Karya Departemen PU, dan yang dalam pelaksanaan tugasnya dibantu oleh Kelompok Kerja Inter Departemen.
• Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan adalah Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen PU.
• Satuan Kerja Sementara P2KP (SKS P2KP) adalah sebuah unit kerja yang bertanggung jawab atas keberhasilan pelaksanaan Program P2KP dengan
tugas pokok melaksanakan koordinasi, pengendalian, monitoring, dan pembinaan teknis P2KP. SKS P2KP dipimpin oleh seorang kepala yang dibantu beberapa staf yang bertugas memberikan dukungan teknis dan administratif guna meningkatkan kelancaran dan ketertiban pelaksanaannya.
• Konsultan Advisory (KA), berkedudukan di Jakarta, bertugas memberikan masukan SKS P2KP dalam mengembangkan konsep-konsep dasar P2KP, menyusun Pedoman Umum dan Buku-buku Pedoman lainnya, serta konsep kebijakan operasional sebagai acuan pelaksanaan pelaku P2KP.
• KMP adalah Konsultan Manajemen Pusat, berkedudukan di Jakarta dan bertugas membantu, program dalam hal perencanaan, monitoring, dan pelaksanaan di lapangan yang dilakukan oleh Konsultan Manajemen Wilayah (KMW).
• KMW adalah Konsultan Manajemen Wilayah berkedudukan di lokasi program, berada di bawah tanggung jawab dan koordinasi KMP, yang berperan sebagai pelaku utama pelaksanaan program di tingkat wilayah (yang mencakup beberapa kota/kabupaten).
• BKM adalah Badan Keswadayaan Masyarakat.
• KSM adalah Kelompok Swadaya Masyarakat.
• Relawan adalah warga masyarakat yang peduli dan ingin membantu warga miskin di wilayahnya tanpa pamrih dengan cara mendaftar sebagai Relawan Masyarakat.
Berhubung fokus penelitian ini adalah P2KP di Kecamatan Tanjung Morawa yang dilaksanakan oleh Fasilitator P2KP, maka disini saya akan menjabarkan tugas dan tanggung jawab dari tim fasilitator tersebut.
Tugas utama tim Fasilitator adalah melaksanakan tugas KMW di tingkat komunitas/masyarakat :
• Sebagai pelaksana program termasuk mencatat dan mendokumentasikan setiap perkembangan program dan melaporkannya ke KMW sebagai masukan untuk data SIM (Sistem Informasi Manajemen); dan
• Sebagai pemberdaya masyarakat termasuk mensosialisasikan masyarakat tentang P2KP, melakukan intervensi dalam rangka pemberdayaan masyarakat dan membantu masyarkat merumuskan serta melaksanakan kegiatan penanggulangan kemiskinan.
Para fasilitator ini akan bekerja dalam satu Tim dan dipimpin oleh seorang fasilitator senior. Rincian tugas-tugas Tim Fasilitator sebagai agenda pemberdayaan masyarakat adalah sebagai berikut :
1. Melaksanakan kegiatan-kegiatan sosialisasi penyadaran masyarakat, termasuk :
• Menyebarluaskan informasi mengenai P2KP sebagai Program Pemberdayaan Masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan kepada seluruh lapisan masyarakat dimana mereka bertugas.
• Menyebarluaskan visi, misi, tujuan, strategi, prinsip, dan nilai P2KP.
• Bersama relawan masyarakat, melalui serangkaian FGD, membangun kesadaran kritis masyarakat agar mampu mengidentifikasikan masalah kemiskinan mereka secara terorganisasi dan sistematis.
• Mendorong peran serta dan keterlibatan seluruh komponen masyarakat umumnya dan masyarakat miskin khususnya, di seluruh kegiatan P2KP.
• Membangkitkan tumbuhberkembangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan sosial kontrol pelaksanaan P2KP di kelurahannya.
• Memfasilitasi pembangunan dan pengembangan sosial kapital (nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan) sebagai kondisi yang dibutuhkan bagi upaya penanggulangan kemiskinan.
2. Melaksanakan kegiatan-kegiatan pelatihan (training), termasuk :
• Memperkuat dan mengembangkan kapasitas relawan-relawan masyarakat sebagai agen pemberdayaan masyarakat. Termasuk diantaranya pelatihan dasar dan lanjutan dalam bentuk pelatihn kelas, praktek atau on the job training dan latihan serta pendampingan intensif.
• Memperkuat dan mengembangkan kapasitas BKM sebagai badan perwakilan masyarakat terpilih. Dalam hal ini difokuskan pada pelatihan dasar serta pendampingan dan on the job training intensif.
• Memperkuat dan mengembangkan kapasitas KSM sebagai kelompok dinamik. Termasuk diantaranya membangun tim, mengenali peluang usaha, atau mengembangkan usaha yang ada, menyusun proposal usaha,
dan pengelolaan keuangan secara sederhana. Pelatihan dilaksanakan dalam bentuk kelas maupun praktek dalam kelompok.
3. Melaksanakan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat, termasuk :
• Pengorganisasian masyarakat. Bersama relawan masyarakat memfasilitasi proses penilaian lembaga masyarakat yang ada dan/atau membentuk baru lembaga masyarkat sebagai BKM, sesuai kesepakatan bersama masyarakat. BKM harus merupakan badan perwakilan perwakilan masyarakat terpilih yang dibentuk dan dikelola secara partisipatif dan demokratis. Termasuk fasilitasi pengorganisasian KSM-KSM dalam rangka menggalang potensi masyarakat serta memanfaatkan peluang yang ditawarkan P2KP.
• Memfasilitasi Penyusunan Rencana Program Jangka Menengah Penangulangan Kemiskinan (PJM Pronangkis). Bersama relawan masyarakat, memfasilitasi BKM untuk mengkoordinir pelaksanaan perencanaan partisipatif masyarakat menyusun PJM Pronangkis.
• Bersama relawan masyarakat memfasilitasi KSM untuk mengidentifikasi peluang usaha, kebutuhan pembangunan infrastruktur dan pelayanan lingkungan dasar, serta menyiapkan mereka agar mampu memformulasikannya dalam bentuk proposal yang layak.
• Memperkenalkan berbagai inovasi sederhana dalam manajemen pinjaman bergulir, termasuk sistem audit, transparansi, proses pengambilan keputusan yang demokratis, tata buku dan lain-lain.
• Memfasilitasi dan membimbing secara intensif agar mampu mengikuti ketentuan Pedoman P2KP dalam seluruh tahapan kegiatan pelaksanaan P2KP.
• Membangkitkan dan mengembangkan masyarkat pembelajar melalui fasilitasi relawan-relawan kelurahan setempat dalam Komunitas Belajar Kelurahan (KBK).
• Advokasi, mediasi, dan membangun jalinan kemitraan strategis (networking) antar semua pelaku yang bermanfaaat bagi masyarakat dn pihak-pihak lainya.
4.2. Langkah-langkah Pelaksanaan Program P2KP 4.2.1 Tahap Persiapan
Tahap persiapan ini pada dasarnya adalah menyiapkan para pelaku terkait, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar lebih memahami P2KP dan mendorong integrasi serta sinkronisasi kegiatan-kegiatan terkait di pusat maupun daerah.
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pada tahap persiapan ini adalah :
1. Orientasi P2KP untuk internal Ditjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum.
2. Lokakarya orientasi P2KP tingkat Pusat.
3. Pencanangan P2KP mulai dilaksanakan.
4. Pelatihan dasar P2KP bagi Konsultan Manajemen Pusat (KMP).
5. Pelatihan dasar P2KP bagi Konsultan Manajemen Wilayah (KMW).
6. Pelatihan dasar P2KP bagi Tim Pelatih P2KP.
7. Lokakarya orientasi P2KP tingkat nasional.
8. Lokakarya orientasi P2KP tingkat propinsi.
9. Serangkaian lobby-lobby, silaturahmi sosial dan sosialisasi awal kepada perangkat pemkot/pemkab dan kelompok strategis di tingkat kota/kabupaten.
10. Pelatihan dasar P2KP bagi Pemerintah Daerah Tingkat Kota/Kabupaten. (Tim Koordinasi Kota/Kab. , PJOK-PJOK dan KPK-D bila sudah terbentuk)
11. Lokakarya orientasi P2KP tingkat kota/kabupaten.
12. Lokakarya orientasi P2KP tingkat kecamatan.
4.2.2 Tahap Pelaksanaan
Prinsip dasar keseluruhan pelaksanaan kegiatan di tingkat masyarakat kelurahan hingga ke tingkat kota/kabupaten tidak boleh dipahami hanya sebagai suatu proses yang dilakukan secara administratif formal/mekanisme prosedural semata, namun yang lebih penting adalah ”dinamika proses” dari pelaksanaan kegiatan dalam mencapai keberhasilan program. Pembobotan substansi pada dinamika proses menuntut tumbuhnya kesadaran kritis masyarakat dan para pihak terkait dalam
melakukan setiap langkah kegiatan, yakni pemahaman tentang mengapa, apa, untuk apa, dan bagaimana suatu kegiatan tersebut dilakukan.
Hal ini sesuai dengan hakekat partisipasi masyarakat yang tidak berarti hanya menyerahkan keputusan dan segala sesuatunya kepada masyarakat, tetapi justru harus mendorong serta menumbuh-kembangkan ”kesadaran kritis masyarakat”. Dimana masyarakat telah paham terhadap resiko, tanggung jawab, hak dan kewajiban yang timbul dari segala konsekuensi atas keputusan yang akan diambilnya. Karena itu, seluruh pihak yang terkait pada pelaksanaan P2KP, yakni masyarakat, pemerintah kota/kabupaten, kelompok peduli dan pihak lainnya, diharapkan senantiasa mampu mengambil keputusan dan melaksanakan kegiatan yang lebih adil, berpihak pada masyarakat miskin, lebih arif, lebih jujur, dan lebih berorientasi pada kemandirian serta pembangunan berkelanjutan.
Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar strategi pendampingan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di P2KP akan bertumpu pada strategi pelaksanaan kegiatan di tingkat kelurahan dan kecamatan sasaran, yang dikoordinir oleh tim fasilitator setempat. Adapun rangkaian kegiatan-kegiatan pokok komponen pengembangan masyarkat dalam pelaksanaan P2KP secara umum adalah :
1. Serangkaian lobby – lobby, silaturahmi sosial dan sosialisasi awal kepada perangkat kelurahan dan kelompok strategis di tingkat kelurahan.
2. Rembug warga tingkat desa/kelurahan untuk menyatakan kesiapan warga melaksanakan P2KP sesuai proses dan ketentuan P2KP.
3. Sosialisasi intensif substansi P2KP sebagai proses pembelajaran serta pelembagaan prinsip dan nilai di P2KP serta peran strategis relawan masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan, dan ditindaklanjuti dengan pendaftaran relawan-relawan warga sebagai Anggota Tim RK (Refleksi Kemiskinan).
4. Focussed Group Discussion (FGD) Refleksi Kemiskinan guna mendorong masyarakat mampu merefleksi masalah kemiskinan di wilayahnya dan terutama menumbuhkan kesadaran kritis warga bahwa akar persoalan kemiskinan berkaitan erat dengan lunturnya nilai-nilai kemanusiaan (aspek moral), prinsip-prinsip kemasyarakatan, dan pembangunan berkelanjutan.
5. Pelaksanaan kegiatan Pemetaan Swadaya (CSS/Community Self Survey) oleh Tim Pemetaan Swadaya yang merupakan relawan-relawan masyarakat dan perangkat pemerintah kelurahan setempat, melalui serangkaian kegiatan analisis sosial dan rembug-rembug warga masyarakat.
6. Serangkaian FGD kepemimpinan moral dan rembug warga masyarakat untuk menetukan lembaga masyarakat yang menangani P2KP sebagai Badan Keswadayaan masyarakat (BKM) dengan pilihan: memampukan lembaga yang yang ada atau membentuk/membangun lembaga baru.
7. Pelaksanaan Kegiatan Perencanaan Partisipatif untuk Menyusun Dokumen Strategi Penanggulangan kemiskinan Kelurahan dan Program Jangka Menengah (PJM) serta Program Tahunan Penanggulangan Kemiskinan oleh masyarakat setempat (PJM Pronangkis dan Program Tahunan).
8. Pembangunan dan pembinaan KSM/panitia dan/atau pemanfaatan kelompok masyarakat yang ada sebagai KSM/Panitia untuk pelaksanaan kegiatan P2KP.
Beberapa Kegiatan pokok dari kegiatan pengembangan kapasitas pemerintah kota/kabupaten dan KPK-D, adalah sebagai berikut:
1. Sosialisasi insentif P2KP dan membangun serta mengembangkan Komunitas Belajar Perkotaan (KBP) yang mendorong proses belajar dari lapangan serta kajian reflektif tentang penerapan prinsip dan nilai-nilai universal dan lain-lain kepada para pihak terkait di tingkat kota/kabupaten, melalui serangkaian FGD, pemutaran VCD-VCD P2KP, belajar dari lapangan, forum diskusi reflektif, lokakarya, sarasehan, dan kegiatan lain yang mendukung.
2. Membangun relawan Kemiskinan Tingkat Kota berdasarkan intensitas keterlibatan dan peran aktif dalam KBP, dan serangkain FGD atau rembug kota tentang kemiskinan dan pembangunan kota dan kabupaten.
2. Membangun relawan Kemiskinan Tingkat Kota berdasarkan intensitas keterlibatan dan peran aktif dalam KBP, dan serangkain FGD atau rembug kota tentang kemiskinan dan pembangunan kota dan kabupaten.