BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Langkah-langkah Pelaksanaan Program P2KP
Tahap persiapan ini pada dasarnya adalah menyiapkan para pelaku terkait, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar lebih memahami P2KP dan mendorong integrasi serta sinkronisasi kegiatan-kegiatan terkait di pusat maupun daerah.
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pada tahap persiapan ini adalah :
1. Orientasi P2KP untuk internal Ditjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum.
2. Lokakarya orientasi P2KP tingkat Pusat.
3. Pencanangan P2KP mulai dilaksanakan.
4. Pelatihan dasar P2KP bagi Konsultan Manajemen Pusat (KMP).
5. Pelatihan dasar P2KP bagi Konsultan Manajemen Wilayah (KMW).
6. Pelatihan dasar P2KP bagi Tim Pelatih P2KP.
7. Lokakarya orientasi P2KP tingkat nasional.
8. Lokakarya orientasi P2KP tingkat propinsi.
9. Serangkaian lobby-lobby, silaturahmi sosial dan sosialisasi awal kepada perangkat pemkot/pemkab dan kelompok strategis di tingkat kota/kabupaten.
10. Pelatihan dasar P2KP bagi Pemerintah Daerah Tingkat Kota/Kabupaten. (Tim Koordinasi Kota/Kab. , PJOK-PJOK dan KPK-D bila sudah terbentuk)
11. Lokakarya orientasi P2KP tingkat kota/kabupaten.
12. Lokakarya orientasi P2KP tingkat kecamatan.
4.2.2 Tahap Pelaksanaan
Prinsip dasar keseluruhan pelaksanaan kegiatan di tingkat masyarakat kelurahan hingga ke tingkat kota/kabupaten tidak boleh dipahami hanya sebagai suatu proses yang dilakukan secara administratif formal/mekanisme prosedural semata, namun yang lebih penting adalah ”dinamika proses” dari pelaksanaan kegiatan dalam mencapai keberhasilan program. Pembobotan substansi pada dinamika proses menuntut tumbuhnya kesadaran kritis masyarakat dan para pihak terkait dalam
melakukan setiap langkah kegiatan, yakni pemahaman tentang mengapa, apa, untuk apa, dan bagaimana suatu kegiatan tersebut dilakukan.
Hal ini sesuai dengan hakekat partisipasi masyarakat yang tidak berarti hanya menyerahkan keputusan dan segala sesuatunya kepada masyarakat, tetapi justru harus mendorong serta menumbuh-kembangkan ”kesadaran kritis masyarakat”. Dimana masyarakat telah paham terhadap resiko, tanggung jawab, hak dan kewajiban yang timbul dari segala konsekuensi atas keputusan yang akan diambilnya. Karena itu, seluruh pihak yang terkait pada pelaksanaan P2KP, yakni masyarakat, pemerintah kota/kabupaten, kelompok peduli dan pihak lainnya, diharapkan senantiasa mampu mengambil keputusan dan melaksanakan kegiatan yang lebih adil, berpihak pada masyarakat miskin, lebih arif, lebih jujur, dan lebih berorientasi pada kemandirian serta pembangunan berkelanjutan.
Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar strategi pendampingan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di P2KP akan bertumpu pada strategi pelaksanaan kegiatan di tingkat kelurahan dan kecamatan sasaran, yang dikoordinir oleh tim fasilitator setempat. Adapun rangkaian kegiatan-kegiatan pokok komponen pengembangan masyarkat dalam pelaksanaan P2KP secara umum adalah :
1. Serangkaian lobby – lobby, silaturahmi sosial dan sosialisasi awal kepada perangkat kelurahan dan kelompok strategis di tingkat kelurahan.
2. Rembug warga tingkat desa/kelurahan untuk menyatakan kesiapan warga melaksanakan P2KP sesuai proses dan ketentuan P2KP.
3. Sosialisasi intensif substansi P2KP sebagai proses pembelajaran serta pelembagaan prinsip dan nilai di P2KP serta peran strategis relawan masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan, dan ditindaklanjuti dengan pendaftaran relawan-relawan warga sebagai Anggota Tim RK (Refleksi Kemiskinan).
4. Focussed Group Discussion (FGD) Refleksi Kemiskinan guna mendorong masyarakat mampu merefleksi masalah kemiskinan di wilayahnya dan terutama menumbuhkan kesadaran kritis warga bahwa akar persoalan kemiskinan berkaitan erat dengan lunturnya nilai-nilai kemanusiaan (aspek moral), prinsip-prinsip kemasyarakatan, dan pembangunan berkelanjutan.
5. Pelaksanaan kegiatan Pemetaan Swadaya (CSS/Community Self Survey) oleh Tim Pemetaan Swadaya yang merupakan relawan-relawan masyarakat dan perangkat pemerintah kelurahan setempat, melalui serangkaian kegiatan analisis sosial dan rembug-rembug warga masyarakat.
6. Serangkaian FGD kepemimpinan moral dan rembug warga masyarakat untuk menetukan lembaga masyarakat yang menangani P2KP sebagai Badan Keswadayaan masyarakat (BKM) dengan pilihan: memampukan lembaga yang yang ada atau membentuk/membangun lembaga baru.
7. Pelaksanaan Kegiatan Perencanaan Partisipatif untuk Menyusun Dokumen Strategi Penanggulangan kemiskinan Kelurahan dan Program Jangka Menengah (PJM) serta Program Tahunan Penanggulangan Kemiskinan oleh masyarakat setempat (PJM Pronangkis dan Program Tahunan).
8. Pembangunan dan pembinaan KSM/panitia dan/atau pemanfaatan kelompok masyarakat yang ada sebagai KSM/Panitia untuk pelaksanaan kegiatan P2KP.
Beberapa Kegiatan pokok dari kegiatan pengembangan kapasitas pemerintah kota/kabupaten dan KPK-D, adalah sebagai berikut:
1. Sosialisasi insentif P2KP dan membangun serta mengembangkan Komunitas Belajar Perkotaan (KBP) yang mendorong proses belajar dari lapangan serta kajian reflektif tentang penerapan prinsip dan nilai-nilai universal dan lain-lain kepada para pihak terkait di tingkat kota/kabupaten, melalui serangkaian FGD, pemutaran VCD-VCD P2KP, belajar dari lapangan, forum diskusi reflektif, lokakarya, sarasehan, dan kegiatan lain yang mendukung.
2. Membangun relawan Kemiskinan Tingkat Kota berdasarkan intensitas keterlibatan dan peran aktif dalam KBP, dan serangkain FGD atau rembug kota tentang kemiskinan dan pembangunan kota dan kabupaten.
3. Refleksi Kemiskinan Tingkat Kota/Kabupaten melalui serangkaian FGD dan Lokakarya Refleksi di tingkat kota/kabupaten berdasarkan masukan hasil-hasil releksi kemiskinan di tingkat kelurahan.
4. Pemetaan Swadaya di tingkat Kota/Kabupaten melalui serangkaian FGD dan rembug kota membahas dan menyepakati Peta Masalah, Potensi dan Kebutuhan dalam penggulangan kemiskinan di Kota/Kabupaten setempat berdasarkan masukan hasil-hasil pemetaan swadaya di tingkat kelurahan.
5. Membangun/Mengokohkan KPK-Kota/Kabupaten melalui serangkaian FGD dan rembug kota berdasarkan proses pembelajaran FGD kepemimpinan moral dan ’konsep’ pembentukan BKM.
6. Penyusunan/Review Dokumen strategi Penanggulangan Kemiskinan di tingkat Kota/Kabupaten secara partisipatif, demokratis, transparan, akuntabel, dan berbasis kebutuhan masyarakat melalui serangkaian rembug para pihak di tingkat Kota/Kabupaten.
7. Penyusunan Program Penanggulangan Kemiskinan (Pronangkis) tingkat Kota/Kabupaten pro poor dan berbasis PJM Pronangkis masyarakat untuk mendorong program-program dan anggaran pemerintah daerah yang lebih berpihak pada masyarakat miskin.
8. Review program serta APBD Pemda yang berpihak pada masyarakat miskin oleh pemerintah Kota/Kabupaten.
Adapun Kegiatan-kegiatan pokok komponen dana BLM secara umum adalah sebagai berikut:
1. Coaching Administrasi Pencairan dana BLM P2KP oleh KMW.
2. Pengajuan penairan BLM tahap I ke PJOK.
3. Pencairan dana BLM tahap I ke rekening BKM dan pemanfaatannya untuk kegiatan yang bersifat kolektif.
4. Proses penyusunan usulan kegiatan oleh SKM berdasarkan PJM Pronangkis dan Program Tahunan untuk Pengajuan pencairan dana BLM tahap II atau tahap III.
5. Proses analisis kelayakan usulan KSM.
6. Proses penetapan prioritas usulan yang layak melalui rembug warga dimana yang berkepentingan diundang.
7. Verifikasi KMW terhadap kinerja tahap sebelumnya untuk rekomendasi pencairan BLM tahap II (50%) atau potensi keberlanjutan (kelembagaan, dana, dan kegiatan serta penerapan prinsip dan nilai P2KP oleh BKM) untuk rekomendasi pencairan BLM tahap III (30%).
8. Pengajuan pencairan BLM tahap II atau tahap III ke PJOK.
9. Pencairan dan BLM tahap II atau tahap III ke rekening BKM.
10. Pencairan dana ke KSM/Panitia.
11. Pemanfaatan dana oleh KSM/anggota sesuai usulan.
4.2.3 Tahap-Tahap Yang Menerus Atau Berkala
Pada pelaksanaan P2KP terdapat serangkaian kegiatan, baik sebagi bagian dari siklus pokok P2KP maupun kegiatan khusus, yang dilaksanakan secara berkala dan secara terus menerus atau berkelanjutan selama masa Program P2KP. Meskipun demikian, harus disadari agar kegiatan ini dilaksanakan secara cermat, sistematis dan terarah agar tidak menjadi siklus tersendiri yang justru akan memperlambat proses dinamika kegiatan Program P2KP di lapangan, sehingga menimbulkan dampak kejenuhan dan ketidakpercayaan masyarakat.
Beberapa kegiatan yang termasuk dalam kategori kegiatan yang terus menerus atau berkala, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Monitoring (pemantauan).
2. Penanganan pengaduan dan manajemen konflik.
3. Inventarisasi dan penyebarluasan contoh kasus sukses (Best Practice) P2KP.
4. Penyiapan tahap terminasi (penghetian hubungan kerja program).
5. Sosialisasi P2KP secara terus menerus selama masa program ke berbagai kelompok sasaran diberbagai tataran.
6. Pelatihan (in class, coaching, on the job training, magang, dll).
7. Pendampingan serta Penguatan Forum dan lembaga masyarakat dalam P2KP (Relawan Masyarakat, Panitia, BKM, UP-UP, KSM, Forum BKM dll) dan pengembangan jaringan diantara mereka dan berbagai lembaga lainnya.
8. Pendampingan serta Penguatan Kapasitas Pemerintah Kota/Kabupaten dan KPK-D setempat sebagai forum komunikasi stakeholder untuk upaya-upaya penanggulangan kemiskinan di Kota/Kabupaten setempat.
4.2.4 Tahap Penyiapan Keberlanjutan Program
Selain kegiatan di atas, P2KP juga mendorong dua kegiatan yang dilaksanakan sebagai proses penyiapan keberlanjutan program oleh masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Artinya, kegiatan kegiatan jenis ini diharapkan dapat terus dikembangkan lebih lanjut oleh pemerintah kota/kabupaten dan masyarakat, meskipun masa program P2KP telah berakhir. Maksud utama dari kegiatan ini pada intinya adalah mendorong masyarakat dan pemerintah daerah untuk mempertahankan dan meningkatkan proses pembelajaran di antara mereka, khususnya dalam
menerapkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip universal yang telah mulai dibangun selama masa Program P2KP.
Beberapa kegiatan yang dilaksanakan pada tahapan ini, yaitu : 1. Pendampingan serta Penguatan Komunitas Belajar Kelurahan (KBK).
2. Pendampingan serta Penguatan Komunitas Belajar Perkotaan (KBP).
3. Serangkaian rembug BKM-BKM untuk pembentukan Forum BKM Kota/Kabupaten secara organik, partisipatif, domokratis, transparan dan akuntabel.
4. Penguatan UPK,UPL dan UPS dalam rangka optimalisasi pelayanan dan akses sumber daya masyarakat serta akses channeling program.
5. Penyiapan LKM-Koperasi melalui fasilitas BKM.
6. Penyiapan dan Pelaksanaan Program Neighbourhood Development.
7. Penyiapan dan Pelaksanaan Replikasi Program P2KP oleh Pemerintah Kota/Kabupaten.