Berdasarkan hipotesis penelitian yang telah disebutkan di bab sebelumnya yaitu peneliti menguji apakah entrepreneurial mindset memiliki pengaruh positif terhadap perilaku inovatif karyawan. Hasil utama dari penelitian ini mendukung hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa entrepreneurial mindset berpengaruh positif terhadap perilaku inovatif karyawan level managerial di PT. Inalum (Persero). Hal ini juga menunjukkan bahwa semakin kuat entrepreneurial mindset maka semakin tinggi perilaku inovatif pada karyawan. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa entrepreneurial mindset dapat menjelaskan tentang keinovatifan dan semangat dalam mengejar peluang serta memfasilitasi tindakan untuk memanfaatkan peluang tersebut (Senges dalam Scheepers, 2008). Dimana hasil dari tindakan perilaku inovatif yang dimiliki karyawan yang berjiwa entrepreneurship menghasilkan efek positif pada inovasi (Hacioglu, dalam Ma’atoofi dan Tajeddini, 2010).
Berdasarkan hasil analisis regresi antara kedua variabel yaitu variabel entrepreneurial mindset dan perilaku inovatif diperoleh persamaan garis regresi , Y = 32,290 + 1,191 X. Berdasarkan persamaan garis regresi tersebut maka dapat diinterpretasikan, apabilai nilai entrepreneurial mindset bertambah satu satuan, maka nilai perilaku inovatif akan mengalami kenaikan sebesar 1,191. Hasil penelitain ini juga mengungkapkan bahwa entrepreneurial mindset memberikan pengaruh sebesar 65,5% kepada perilaku inovatif karyawan. Sedangkan sisanya yaitu sebesar 34,5% perilaku inovatif karyawan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Perusahaan saat ini sangat membutuhkan karyawan yang memiliki inovasi tinggi, khususnya pada masa pandemi, agar perusahaan lebih mudah menanggapi tantangan yang ada saat ini dengan lebih cepat dan lebih baik.
Sehingga keberadaan sumber daya manusia dalam suatu organisasi merupakan aset yang berharga bagi organisasi itu sendiri. (Bukit, 2017). Dengan adanya inovasi, organisasi ataupun perusahaan bisa merepson tantangan dan dapat bertahan dan lebih mudah berkembang (Damanpoot & Gopalakrishnan, 1998).
Perusahaan yang memiliki inovasi tinggi baik dalam inovasi proses maupun produk akan mampu meningkatkan kualitas produk. Dengan meningkatnya kualitas produk akan meningkatkan keunggulan bersaing perusahaan dan akan berdampak pada kinerja perusahaan (Hartini, 2012).
Namun, untuk memunculkan perilaku inovatif tidaklah mudah, faktor internal dari karyawan seperti memiliki rasa ingin tahu yang kuat serta selalu mencari peluang merupakan hal-hal yang diharapkan dari perusahaan.
Pengembangan ide yang bisa menjadi acuan untuk pengembangan dan kemajuan perusahaan merupakan salah satu karakteritik entrepreneurial mindset yaitu seek the opportunitites. Hal ini juga sejalan dengan pernyataan bahwa dengan adanya entrepreneurial mindset, seorang pengusaha akan terdorong untuk terus melakukan inovasi-inovasi untuk menciptakan peluang yang menguntungkan (Suaidy & Lewenussa, 2019). Dalam konteks organisasi, maka bisa dikaitkan bahwa setiap karyawan diharapkan memiliki entrepreneurial mindset untuk mendukung perilaku kerja inovatif karyawan.
Tingkat kekuatan dari entrepreneurial mindset dan pengaruh inovatif pada penelitian ini bisa dilihat pada tingkat kategori variabel entrepreneurial
mindset dan perilaku inovatif. Bisa dilihat dari hasil penelitian bahwa pada variabel entrepreneurial mindset pada karyawan level managerial PT. Inalum (Persero), 38,05% (subjek berada pada kategori cukup kuat, dan selebihnya yaitu 61,95% subjek berada pada kategori sangat kuat. Hal ini disebabkan oleh faktor perusahaan, dimana PT. Inalum (Persero) menerapkan kamus BUMN.
Kompetensi BUMN yang terkait dengan entrepreneurial mindset adalah bussiness acumen. Hal ini juga sesuai dengan perilaku kunci dari bussiness acumen bahwa karyawan harus memiliki cara berpikir seperti mengenali peluang bisnis, mengenali cara-cara efisisen untuk memperoleh perusahaan, khususnya bagi karyawan yang berada di level managerial. Kemampuan karyawan terkait entrepreneurial mindset juga bisa didukung oleh program PT.
Inalum (Persero), dimana perusahaan mewajibkan karyawan, khsususnya level managerial untuk membuat asesmen terkait kenaikan jabatan. Asesmen tersebut akan menjadi salah satu penilaian dalam menguji layak atau tidak diberi kenaikan jabatan.
Tidak berbeda jauh dengan hasil variabel entrepreneurial mindset, subjek pada variabel perilaku inovatif pada karyawan level managerial PT.
Inalum (Persero) secara keseluruhan berada di kategori tinggi, sehingga dapat disimpulkan bahwa 100% subjek berada di kategori tinggi untuk variabel entrepreneurial mindset. Hal ini disebabkan karena PT. Inalum (Persero) menerapkan kompetensi BUMN. Adapun kompetensi yang dimaksud adalah innovation & creativity. Perilaku inovatif yang ada di PT. Inalum (Persero) ditunjukkan oleh beberapa perilaku seperti menggunakan berbagai macam sumber sumber daya untuk membuat ide baru, memperkenalkan sesuatu yang
baru, melihat masalah dari sesuatu yang berbeda, menciptakan gagasan terbaru yang bisa menguntungkan perusahaan dan perilaku inovatif lainnya. Hal ini tergambar dari asesmen yang dibuat oleh karyawan, khususnya karyawan pada level managerial. Adanya gagasan yang menguntungkan bagi perusahaan akan menjadi penilaian baik bagi perusahaan terhadap karyawan yang ingin melakukan kenaikan jabatan.
Adapun karakteristik individu seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan lama bekerja berhubungan dengan perilaku inovatif serta entrepreneurial mindset karyawan. Adapun dari jenis kelamin bahwa keseluruhan subjek berjenis kelamin laki-laki dan memiliki entrepreneurial mindset yang berada di kategori yang sangat kuat. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang berjudul College Students’ Entrepreneurial Mindset:
Educational Experiences Override Gender and Major menyatakan bahwa kelompok pria memiliki skor yang lebih tinggi pada entrepreneurial mindset dari pada kelompok wanita, yang artinya sesuai dengan hasil penelitian bahwa keseluruhan subjek penelitian dengan berjenis kelamin laki-laki memiliki entrepreneurial mindset dengan rata-rata pada kategori cukup dan sangat kuat (Jung & Lee, 2020). Selain itu, pada perilaku inovatif, keseluruhan karyawan berada pada kategori tinggi. Dalam beberapa literatur menyatakan bahwa tidak perbedaan yang signifikan pada perilaku inovatif antara laki-laki dan perempuan. Pada konteks untuk menampilkan perilaku kerja inovatif, karyawan laki-laki atau karyawan perempuan dapat menampilkan kemungkinan perilaku inovatif yang sama. Selain itu, adanya kemungkinan
bahwa jenis kelamin juga berperan sebagai moderator dan bukan sebagai prediktor seperti yang dinyatakan oleh Ng dan Feldman (2009).
Adapun terkait dengan usia, subjek penelitian berada pada tahap dewasa awal dan dewasa madya. Namun berdasarkan beberapa seperti yang dinyatakan oleh Arenius dan deClercq (2005) bahwa usia menjadi tidak signifikan pada intensi terkait dengan enterpreneurship. Namun kegiatan enterpreneurship bisa menjadi salah satu prediktor karena pada karyawan pada dewasa awal dan dewasa madya akan fokus pada pengembangan karirnya, hal ini juga sesuai dengan aktifitas yang dilakukan PT. Inalum (Persero), dimana untuk melakukan kenaikan jabatan, diperlukan peluang-peluang yang bisa memberikan efisiensi bagi perusahaan. Adapun peluang tersebut bisa menjadi perilaku inovatif, sehingga hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa keseluruhan subjek berada pada kaegori tinggi. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Etikariena (2018) dimana usia karyawan pada level managerial memasuki tahap establishment. Pada tahap establishment, individu mulai menstabilkan posisi pekerjaannya sehingga memungkinkannya untuk mengekspresikan diri. Selain itu, pada tahap ini individu juga mulai menunjukkan sikap kerja yang positif, kebiasaan yang produktif dan membangu relasi yang lebih baik dengan rekan kerja dan orang-orang yang terkait dengan pekerjaannya.
Berdasarkan tingkat pendidikan, seluruh karyawan pada level managerial berada di jenjang pendidikan tinggi, dengan jenjang S1 dan S2 yang berada pada rata-rata tertinggi. Hasil penelitian juga didukung oleh beberapa peneliti yang berpendapat bahwa orang yang lebih berpendidikan lebih
mungkin untuk mengidentifikasi peluang (Arenius dan deClercq, 2005). Selain itu terkait dengan perilaku inovatif yang tinggi, Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Ng dan Feldman (2009) yang dijelaskan bahwa pengalaman individu ketika mengenyam pendidikan memberikan banyak kesempatan untuk mengembangkan diri dan wawasan berpikirnya.
Dapat disimpulkan secara umum semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan cenderung meningkatkan kemampuan sehingga secara tidak langsung akan semakin besar kesempatan memperoleh keterampilan kerja yang baru sebagai bentuk perilaku inovatif.
Berdasarkan lama bekerja, karyawan pada level managerial berada di tahap advancement stage dan maintenance stage. Belum ditemukan penjabaran terkait dengan entrepreneurial mindset dan lama bekerja. Namun pada perilaku inovatif, masa bekerja diyakini sebagai prediktor yang konsisten. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan bahwa masa kerja menggambarkan pengalaman kerja yang dimiliki oleh karyawan sehingga diperkirakan akan menjadi prediktor yang tepat untuk menggambarkan produktivitas kerjanya (Dessler, 1998; Robbins & Judge, 2015). Lama bekerja dapat membedakan munculnya perilaku kerja inovatif sehingga pendapat menyebutkan bahwa semakin lama bekerja akan semakin matang dan memahami pekerjaannya sehingga akan memungkinkan untuk melakukan inovasi.
Adapun salah satu hasil terapan dari entrepreneurial mindset dan perilaku inovatif adalah seperti sistem kerja di pabrik Smelter selama proses pandemi. Pihak level mangerial memutuskan untuk merumahkan pegawai operator pabrik yang berusia di atas 40 tahun dengan pertimbangan bahwa
pegawai dengan usia di atas 40 tahun rentan terkena penularan virus covid-19.
Agar produksi perusahaan dapat tetap berjalan, maka pihak level managerial menyarankan untuk memberikan sistem shift bagi clerk (pegawai yang berada di kantor) untuk bisa menggantikan posisi pegawai operator dengan usia di atas 40 tahun. Dengan adanya inovasi maka produksi tetap berjalan dan tetap bisa menghasilkan penjualan, serta meminimalisir penularan virus covid-19 yang rentan bagi pegawai usia di atas 40 tahun.
Bagi pegawai yang berada di kantor, sistem shift WFH (work from home) dan WFO (work from office) juga diberlakukan dengan ketentuan tetap ada karyawan minimal 1 pada masing-masing level selama hari kerja di kantor.
Selain itu selalu melakukan meeting di pagi hari melalui aplikasi Zoom untuk membicarakan target pekerjaan yang akan ditindaklanjuti pada hari tersebut.
Setelah itu di sore hari akan kembali melakukan meeting untuk laporan progres target pekerjaan yang telah dilakukan.
Walaupun sistem proses kerja berubah dengan cukup signifikan, namun itu merupakan bentuk inovasi dari PT. Inalum (Persero) agar tetap bertahan di masa pandemi covid-19. Dengan tetap memperhatikan dan menjaga protokol kesehatan dengan ketat, maka PT. Inalum (Persero) tetap produktif dan tetap menjaga kelangsungan bisnis.
BAB V KESIMPULAN
Pada bab ini akan di uraikan keseluruhan kesimpulan dan saran-saran yang terkait dengan hasil penelitian. Bagian pertama pada bab ini ini akan menampilkan hasil penelitian, kemudian pada bagian akhir akan mengemukakan saran-saran yang dapat menjadi refrensi bagi penelitian yang akan datang dengan tema yang sama