Tambak Silvofishery
Penelitian ini dilakukan di 3 desa, yaitu Desa Percut, Desa Tanjung Rejo, dan Desa Tanjung Selamat yang terletak di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Ketiga desa ini merupakan kawasan yang masih mendapatkan pengaruh salinitas, namun letaknya tidak dekat dengan pesisir pantai. Pada umumnya mangrove ditanam secara intensif oleh masyarakat untuk tujuan tertentu, misalnya untuk keperluan tambak dan penggunaan komersial lainnya dari tanaman mangrove. Hutan mangrove dapat menjadi pelindung bagi ekosistem yang ada di sekitarnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Kustanti (2011) yang menyatakan bahwa tanaman mangrove mampu melindungi kehidupan penduduk di sekitarnya dari kerusakan-kerusakan yang dapat ditimbulkan dari gelombang besar maupun angin kencang.
Wilayah tambak dipengaruhi oleh proses pasang surut air laut, oleh karena itu warga yang mengelola tambak tersebut melakukan penanaman mangrove di sekitar pematang tambak yang tujuannya adalah untuk menguatkan struktur tanah pematang tambak agar tidak tergerus oleh pasang surut, sedangkan mangrove yang ditanam dalam area tambak dimaksudkan untuk mengembalikan kesuburan dan memberi ruang lindung pada benih yang telah disebar oleh petani tambak dan perangkap racun yang ada pada kegiatan budidaya perikanan produksi sebelumnya. Tambak yang dimiliki oleh masing-masing kelompok tani dahulunya merupakan tambak intensif, namun seiring berjalannya waktu dengan adanya penyuluhan dari Dinas Kehutanan dan Dinas Perikanan maka kelompok tani tersebut mulai menanam mangrove di guludan/tanggul yang dikondisikan
tergenang pada saat pasang dan tidak terendam air pada saat surut. Tambak silvofishery yang berada di Desa Percut, Desa Tanjung Selamat, dan Desa Tanjung Rejo memiliki ciri-ciri yakni tambak dikelilingi oleh vegetasi mangrove dan mangrove ditanam di tepian guludan dengan antar jarak guludan 30-50 m.
Menurut Sofiawan (2000) bahwa model kao-kao adalah salah satu dari 5 macam pola dari bentuk tambak silvofishery dengan ciri-ciri mangrove ditanam pada guludan-guludan tersebut. Lebar guludan 1-2 m dengan jarak antar guludan 5-10 m atau sesuai dengan lebar tambak dan mempunyai variasi seperti jarak tanam.
Identitas Petani
Identitas petani memberikan gambaran tentang keadaan petani sebagai salah satu faktor penting dalam usaha tani. Petani dalam suatu usaha tani adalah sebagai pengelola yang merencanakan, mengorganisasi, melaksanakan serta mengevaluasi suatu proses produksi. Identitas petani dalam penelitian ini meliputi umur, lama pendidikan, jumlah anggota keluarga, jumlah anggota keluarga yang aktif dalam usaha tani, dan luas lahan garapan. Identitas dari petani dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Identitas petani pada usaha tani tambak di Kecamatan Percut Sei Tuan
No. Uraian Rata-rata
1. Umur petani (th) 43,52
2. Lama pendidikan (th) 7
3. Jumlah anggota keluarga 5,25
4. Jumlah anggota keluarga yang aktif dalam usaha tani 2,35
5. Luas lahan untuk usaha tani 0,75
Hasil analisis data pada tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata umur petani adalah 43,77 tahun yang berarti masih termasuk dalam usia produktif. Lama
pendidikan yang mereka peroleh rata rata adalah selama 7 tahun. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani adalah tamatan SD hingga SMP. Tingkat pendidikan ini mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan seseorang untuk menerima teknologi baru yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas hidup. Seperti yang dikemukakan oleh Brown (2006) bahwa kerusakan ekosistem mangrove sering disebabkan oleh aktivitas manusia yang berada di dalam dan sekitar kawasan hutan mangrove yang dikarenakan akses masyarakat yang tinggi berinteraksi dengan hutan tersebut.
Rata-rata jumlah anggota keluarga petani sampel yang mengusahakan tambak berbasis silvofishery adalah 5,25 orang. Sedangkan rata-rata jumlah anggota keluarga yang aktif dalam usaha tani adalah 2,35 orang. Data ini menunjukkan bahwa anggota keluarga yang aktif dalam usaha tani merupakan setengah dari jumlah anggota keluarga para petani tambak. Lahan merupakan faktor produksi yang mutlak diperlukan dalam melakukan usaha tani. Lahan merupakan media pengelolaan usaha tani, tanpa adanya lahan maka usaha tani akan sulit untuk dilakukan. Rata-rata lahan usaha tani yang dimiliki petani adalah 0,75 ha. Kepemilikan lahan yang sempit menjadi tidak efisien sehingga pendapatan yang diperoleh tidak begitu tinggi bagi para petani tambak.
Silvofishery di Desa Percut, Tanjung Rejo, dan Tanjung Selamat
Desa Percut
Tambak silvofishery di Desa Percut yang tergabung dalam kelompok tani Sepakat dengan luasan tambak 0,5 - 0,6 ha dari total luasan 33,5 ha yang terdiri dari 10 anggota. Kelompok tani ini pada saat dahulu menggunakan sistem tambak intensif, yaitu keseluruhan areal lahan digunakan khusus untuk tambak saja.
Namun dalam beberapa tahun terakhir produksinya menurun drastis dan bisa dikatakan hancur. Pada lahan silvofishery di Desa Percut ini didominasi oleh tanaman Bruguiera gymnorrhiza dan Avicennia marina. Ekosistem alami di kawasan tropika sering kali amat rentan terhadap degradasi oleh kegiatan penebangan, kebakaran, penggembalaan, serta kegiatan budidaya pertanian dan perladangan yang berlebihan menyebabkan vegetasi yang asli sulit untuk pulih kembali. Seperti pada pernyataan Kusmana (1999) bahwa kondisi hutan yang rusak tersebut tidak akan dapat untuk pulih kembali seperti semula. Dalam 1 kolam biasanya terdiri dari 2 petak dengan luasan tambak 0,5 – 0,6 ha. Biaya pengeluaran tambak silvofishery di Desa Percut dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Biaya usaha tani untuk 1 ha dalam jangka waktu 4 bulan di Desa Percut
No. Jenis biaya Satuan
(Rp)
Jumlah Biaya (Rp)
1. Pengelolaaan lahan 500.000
2. Tenaga kerja 1.000.000
Pada tabel 2 di atas terlihat bahwa biaya yang dikeluarkan usaha tani untuk luas lahan 1 ha dalam kurun waktu 4 bulan atau dalam 1 kali masa panen. Di Desa ini petani membudidayakan beberapa jenis ikan, di antaranya ikan nila, ikan bandeng, dan ikan kakap. Total dari biaya usaha tani di Desa Percut adalah Rp 6.650.000 merupakan biaya total yang dikeluarkan oleh usaha tani.
Tabel 4. Penerimaan usaha tani untuk 1 ha dalam jangka waktu 1 tahun Desa
Sebagai tambak yang menggunakan pakan alami tambak desa ini bisa menghasilkan ikan nila sebesar 300 kg, tentu jumlah ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan penelitian Yenny (2007) tentang pelestarian hutan mangrove melalui silvofishery dan pengelolaannya, di mana juga membudidayakan ikan nila dengan pakan alami yaitu sebesar 200 kg/ha (bisa mencapai 400 kg/ha).
Dari hasil penerimaan yang diperoleh petani dalam tabel di atas, dapat dilihat bahwa pendapatan usaha tani dari tambak silvofishery adalah sebagai berikut :
Berikut ini adalah model tambak silvofishery di Desa Percut yang dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Model tambak Silvofishery di Desa Percut (tipe empang parit)
Desa ini menggunakan model silvofishery dengan sistem empang parit tradisional. Model ini menanam bakau dilakukan merata di pelataran tambak dengan jarak tanam 1 x 1 m sehingga tanaman terkosentrasi di tengah-tengah pelataran tambak. Luas daerah penanaman mangrove pada sistem ini bisa mencapai 80% dari keseluruhan luas tambak. Tempat mangrove tumbuh dikelilingi oleh saluran air tambak dan berbentuk sejajar dengan pematang tambak. Ikan bandeng, ikan nila, dan ikan kakap dibudidayakan secara ekstensif di Desa ini. Untuk lebih jelas, model tambak silvofishery di Desa Percut dapat dilihat pada Lampiran 1.
Desa Tanjung Rejo
Desa Tanjung Rejo memiliki lahan tambak silvofishery yang paling luas dibandingkan dengan Desa Percut dan Desa Tanjung Selamat. Di desa ini terdapat kelompok tani yang bernama Tani Hutan Mangrove yang beranggotakan 22 orang. Sebagian besar penduduk di Desa ini berprofesi sebagai Nelayan. Di desa ini didominasi tanaman Rizophora mucronata dan Rizophora apiculata.
Tabel 5. Biaya usaha tani untuk 1 ha dalam waktu 4 bulan di Desa Tanjung Rejo
No. Jenis biaya Satuan
Dapat dilihat bahwa biaya yang dikeluarkan usaha tani untuk luas lahan 1 ha dalam jangka waktu 4 bulan atau sekali masa panen. Total dari biaya usaha tani adalah Rp. 23.450.000 merupakan biaya total yang dikeluarkan oleh usaha tani.
Di Desa ini petani tambak tidak mengeluarkan biaya sewa lahan karena keseluruhan lahan tambak dikelola sendiri secara pribadi.
Tabel 6. Penerimaan usaha tani untuk 1 ha dalam waktu 4 bulan di Desa Tanjung
Jika dilihat dari Tabel 6 di atas, diperoleh hasil panen yang sangat besar.
Hal ini sesuai dengan penelitian Wibowo (2006) di mana dengan pengembangan sistem wanamina secara lebih tertata dan perbandingan antara hutan dan tambak 80% : 20% diharapkan dapat meningkatkan persatuan luas. Harapan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa tanaman di sekitar kolam yang lebih baik akan meningkatkan kesuburan dengan banyak detritus, yang secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap produksi suatu tambak. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Yenny (2007) di mana dengan perbandingan tambak dengan hutan 80 : 20 membuktikan hasil panen yang tinggi. Untuk hasil panen tambak silvofishery dapat dilihat pada Lampiran 4. Dari hasil penerimaan yang diperoleh pada Tabel 6 di atas, dapat dilihat bahwa pendapatan usaha tani adalah sebagai berikut :
∏ = TR –TC
∏ = Rp. 92.500.000 – Rp. 23.450.000
∏ = Rp. 69.050.000
Efisiensi usaha tani Penerimaan R / C =
Biaya
Rp. 92.500.000 R / C =
Rp. 23.450.000 R / C = 3,9 (efisien)
Berikut adalah model tambak silvofishery di Desa Tanjung Rejo yang terdapat pada Gambar 7.
a b
c
d
e
f
g h
i
Gambar 7. Model Tambak Silvofishery di Desa Tanjung Rejo (tipe kao-kao)
Keterangan :
a. Pintu air d. Bedengan b. Mangrove e. Tambak c. Pipa paralon f. R.apiculata
Model tambak yang terdapat di Desa ini adalah model kao-kao. Pada model ini mangrove ditanam di atas guludan tambak, biasanya ukuran guludan disesuaikan dengan luas tambak. Di mana sistem kao-kao adalah sistem wanamina dengan kolam di tengah dan hutan mengelilingi kolam (Maryani, 2009). Keuntungan model ini adalah ruang pemeliharaan ikan cukup lebar serta intensitas matahari yang tinggi. Model kao-kao ini merupakan modifikasi dari model tambak empang parit tradisional. Model kao-kao pada lahan tambak silvofishery Desa Tanjung Rejo juga dapat dilihat pada Lampiran 2.
Desa Tanjung Selamat
Silvofishery yang ada di Desa Tanjung Selamat. Kelompok tani yang terdapat di Desa ini bernama kelompok Tani Permai Sejahtera yang beranggotakan 8 orang. Di desa ini tambak silvofishery relatif lebih kecil dibandingkan dengan Desa Tanjung Rejo dan Desa Percut. Di Desa ini memiliki luas lahan tambak masing-masing kolam 0,7 ha dengan total keseluruhan 17,5 ha.
Tabel 7. Biaya usaha tani dalam 1 ha dalam waktu 4 bulan di Desa Tanjung Selamat
No Jenis biaya Satuan
(Rp)
Jumlah Biaya (Rp)
1. Pengelolaaan lahan 1.000.000
2. Tenaga kerja 1.500.000
Dapat dilihat bahwa biaya yang dikeluarkan usaha tani untuk luas lahan 1 ha dalam jangka waktu 4 bulan atau sekali masa panen. Total dari biaya usaha tani adalah Rp. 6.650.000 merupakan biaya total yang dikeluarkan oleh usaha tani.
Tabel 8. Penerimaan usaha tani dalam 1 ha dalam waktu 4 bulan di Desa Tanjung Selamat
Dari hasil penerimaan yang diperoleh pada Tabel 6 di atas, dapat dilihat bahwa pendapatan usaha tani adalah sebagai berikut :
∏ = TR –TC
Berikut adalah model tambak yang digunakan di Desa Tanjung Selamat yang terdapat pada Gambar 8 dan Lampiran 3.
a
b c d
e f
g h
Gambar 8. Model tambak Silvofishery di Desa Tanjung Selamat (tipe kao-kao)
Keterangan :
a. Jalan desa f. Bedengan b. Pipa paralon g. E.guineensis c. R.mucronata h. R.stylosa d. Tambak
e. Paluh (aliran sungai)
Dari data ketiga Desa yang mengaplikasikan tambak silvofishery ini, terlihat jelas bahwa mangrove memberikan pengaruh yang sangat signifikan bagi pendapatan masyarakat yang terutama memanfaatkan mangrove yang dikombinasikan dengan tambak. Oleh karena itu secara langsung petani juga diuntungkan dengan kondisi tambak yang berada di antara mangrove. Selain dapat meminimalisir kebutuhan pakan pada tambak, lahan mangrove juga bisa menjadi tempat perlindungan untuk ekosistem tambak yang dibudidayakan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wibowo (2006) yaitu fungsi dan peran ekosistem hutan mangrove sangat penting sebagai tempat untuk memijah, mengasuh anak, berlindung, serta mencari makan bagi berbagai jenis ikan. Oleh karena itu maka kelestariannya harus dijaga dan tidak boleh dieksploitasi secara berlebihan.
Masyarakat sekitar hutan mangrove harus memahami pentingnya mangrove, karena tambak merupakan sumber penghasilan bagi mereka.
Pengetahuan masyarakat terhadap hutan mangrove tersebut dapat dikategorikan sebagai pengetahuan local mengenai peranan hutan mangrove sebagai suatu kesatuan bagi kehidupan mereka, yang diperoleh dari nteraksi kehidupan mereka di dalam dan sekitar hutan mangrove.