APLIKASI SISTEM SILVOFISHERY DALAM PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENDAPATAN
MASYARAKAT DI KECAMATAN PERCUT SEI TUAN, KABUPATEN DELI SERDANG
SKRIPSI
Oleh : EMIR NALDI
131201029 BUDIDAYA HUTAN
PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2017
APLIKASI SISTEM SILVOFISHERY DALAM PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENDAPATAN
MASYARAKAT DI KECAMATAN PERCUT SEI TUAN, KABUPATEN DELI SERDANG
SKRIPSI
Oleh :
EMIR NALDI 131201029 BUDIDAYA HUTAN
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan Di Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2017
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Penelitian : Aplikasi Sistem Silvofishery dalam Pemanfaatan Hutan Mangrove dan Pengaruhnya Terhadap Pendapatan Masyarakat di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.
Nama : Emir Naldi NIM : 131201029
Program Studi : Kehutanan / Budidaya Hutan
Disetujui Oleh Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Yunasfi, M.Si Mohammad Basyuni, S.Hut, M.Si, Ph.D
Ketua Anggota
Mengetahui
Mohammad Basyuni, S.Hut, M.Si, Ph.D Ketua Departemen Budidaya Hutan
Tanggal lulus :
ABSTRAK
EMIR NALDI. Aplikasi Sistem Silvofishery dalam Pemanfaatan Hutan Mangrove dan Pengaruhnya Terhadap Pendapatan Masyarakat di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Di bawah Bimbingan YUNASFI dan MOHAMMAD BASYUNI.
Ekosistem pesisir memiliki peranan sangat penting bagi berbagai organisme yang berada di sekitarnya. Fungsi ekosistem pesisir bagi organisme antara lain sebagai daerah pemijahan, daerah pemeliharaan, dan daerah pencarian makan. Silvofishery atau sering disebut sebagai wanamina adalah suatu bentuk kegiatan yang terintegrasi (terpadu) antara budidaya air payau dengan pengembangan mangrove pada lokasi yang sama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dampak pendapatan masyarakat terhadap penggunaan hutan mangrove berbasis silvofishery di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Metode yang digunakan adalah metode analisis data dengan menghitung biaya usaha tani, menghitung pendapatan usaha tani, dan mengetahui efisiensi usaha tani. Pengumpulan data dilakukan dengan kegiatan wawancara, observasi lapangan, dan kuisioner yang ditujukan langsung kepada masyarakat.
Penelitian mengambil sampel di tiga desa yang memanfaatkan mangrove untuk penggunaan tambak berbasis silvofishery. Ketiga desa tersebut menggunakan tipe model silvofishery empang parit tradisional dan kao-kao. Pemanfaatan mangrove melalui silvofishery ini sangat berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat, terlebih bagi pengelola tambak tidak memerlukan pangan untuk tambak dalam jumlah yang besar, karena asupan pangan untuk tambak telah terpenuhi oleh tanaman mangrove.
Kata kunci : Silvofishery, mangrove, tambak, pendapatan masyarakat.
ABSTRACT
EMIR NALDI. Application of Silvofishery System in Utilization of Mangrove Forest and Impact of People’s Income in the Percut Sei Tuan District, Deli Serdang Regency. Under Academic Supervision by YUNASFI and MOHAMMAD BASYUNI.
Coastal ecosystem play an very important role for the organism in the surrounding area. The function of coastal ecosystem such as spawning ground, nursery ground, and feeding ground. Silvofishery or often referred as wanamina is a form of integrated activities between brackish water aquaculture and mangrove development on the same location. The purpose of this research are to identify the impact of people’s income against the use of mangrove forests based on silvofishery at Percut Sei Tuan District, Deli Serdang regency. The method that use is method of data analytical by calculating the cost of farming, calculating of farm income, and calculate the efficiency of farming. Data was collected is through from interviews, place observations, and directly questionnaires to the community. The research sample was taken from three villages which utilizes mangrove as embankment based silvofishery. Third of villages using silvofishery model kao-kao and traditional empang parit.
Utilization of mangrove forests based on silvofishery very influenced of people’s income, especially embankment management didn’t require a large amount of food, because food intake for the embankment has been provided by mangrove forests.
Keywords : Silvofishery, mangrove, fish pond, people’s income.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta, 10 November 1995 dari pasangan Bapak Nazman Yahya dan Ibu Asrah. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara, dengan saudara laki-laki bernama Hilal Akbar.
Penulis menempuh pendidikan di MIN Medan dan tamat tahun 2007, MTs Negeri 2 Medan tamat tahun 2010, dan MAN 1 Medan tamat tahun 2013.
Selanjutnya penulis melanjutkan kuliah di Universitas Sumatera Utara sebagai mahasiswa di Program Studi Kehutanan Fakultas Kehutanan melalui jalur SNMPTN dan memilih minat Budidaya Hutan.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis merupakan anggota BKM Baytul
Asyjaar pada tahun 2013-2016, anggota Rain Forest pada tahun 2013-2017, dan
anggota JIMMKI pada tahun 2013-2015. Penulis pernah mendapatkan beasiswa
PPA pada tahun 2016. Penulis melaksanakan Praktik Pengenalan Ekosistem
Hutan di BPK Aek Nauli, Kabupaten Simalungun pada tahun 2015. Penulis
melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di BDH Paliyan
Kabupaten Gunung Kidul, Balai KPH Yogyakarta, Kota Yogyakarta pada tanggal
1 Februari 2017 - 2 Maret 2017.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat waktu.
Adapun skripsi ini berjudul “Aplikasi Sistem Silvofishery dalam Pemanfaatan Hutan Mangrove dan Pengaruhnya Terhadap Pendapatan Masyarakat di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada komisi pembimbing, yaitu Dr. Ir. Yunasfi, M.Si dan Mohammad Basyuni, S.Hut, M.Si, Ph.D atas kesediaannya untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan satu tim penelitian dan semua pihak yang turut membantu penulis secara langsung maupun tidak langsung dalam menyelesaikan skripsi ini.
Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya pada bidang kehutanan. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Medan, Mei 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PENGESAHAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACK ...
iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
PENDAHULUAN Latar Belakang... 1
Tujuan Penelitian ... 3
Manfaat Penelitian ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Fungsi dan Manfaat Hutan Mangrove ... 4
Tambak ... 5
Silvofishery ... 6
Tipe Empang Parit Tradisional ... 8
Tipe Komplangan ... 9
Tipe Kao-Kao ... 9
Tipe Empang Terbuka ... 10
Tipe Tasik Rejo ... 10
Sosial Ekonomi ... 12
Alur Penelitian ... 14
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ... 15
Alat dan Bahan Penelitian ... 15
Metode Dasar ... 16
Metode Analisis Data ... 16
Populasi dan Sampel Penelitian ... 17
Metode Pengumpulan Data ... 18
Pengumpulan Data ... 18
Data Primer ... 18
Data Sekunder ... 19
Pengolahan Data ... 19
HASIL DAN PEMBAHASAN Tambak Silvofishery ... 20
Identitas Petani ... 21
Silvofishery Desa Percut, Tanjung Rejo, Tanjung Selamat ... 22
Desa Percut ... 22
Desa Tanjung Rejo ... 26
Desa Tanjung Selamat ... 29
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan... 33
Saran ... 33
DAFTAR PUSTAKA ... 34
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Kuisioner yang digunakan pada penelitian ... 16 2. Identitas petani pada usaha tani tambak Percut Sei Tuan ... 21 3. Biaya usaha tani untuk 1 ha dalam waktu 4 bulan Desa Percut ... 23 4. Penerimaan usaha tani untuk 1 ha dalam waktu 4 bulan Desa Percut .. 24 5. Biaya usaha tani untuk 1 ha dalam waktu 4 bulan Desa Tanjung Rejo 26 6. Penerimaan usaha tani untuk 1 ha dalam waktu 4 bulan Desa Tanjung
Rejo ... 27 7. Biaya usaha tani untuk 1 ha dalam waktu 4 bulan Desa Tanjung
Selamat ... 29 8. Penerimaan usaha tani untuk 1 ha dalam waktu 4 bulan Desa Tanjung
Selamat ... 30
DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
1. Tipe dan model sistem silvofishery ... 7
2. Tipe empang parit ... 8
3. Tipe komplangan... 9
4. Alur Penelitian ... 14
5. Peta Lokasi Penelitian ... 15
6. Model tambak Desa Percut ... 25
7. Model tambak Desa Tanjung Rejo ... 28
8. Model tambak Desa Tanjung Selamat ... 31
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang terdiri atas organisme (tumbuhan dan hewan) yang berinteraksi dengan faktor lingkungannya di dalam suatu habitat mangrove. Mangrove merupakan ekosistem hutan yang unik karena merupakan perpaduan antara ekosistem darat dan ekosistem perairan. Hutan mangrove mempunyai peran yang sangat penting terutama bagi kehidupan masyarakat sekitarnya dengan memanfaatkan produksi yang ada di dalamnya, baik sumber daya kayunya maupun sumberdaya biota air (udang, kepiting, dan
ikan) yang biasanya hidup dan berkembang biak di hutan mangrove (Santono, et al., 2005).
Pesisir sebagai wilayah peralihan antara daratan dan lautan mempunyai keanekaragaman sumberdaya yang melimpah. Pesisir memiliki peran yang sangat penting bagi berbagai organisme yang berada di sekitarnya. Kawasan pesisir terdapat beberapa ekosistem vital seperti ekosistem terumbu karang, ekosistem padang lamun dan ekosistem hutan mangrove. Ketiga ekosistem tersebut memiliki peran yang sangat penting bagi organisme baik di darat maupun di laut. Fungsi ekosistem wilayah pesisir bagi organisme antara lain sebagai daerah pemijahan (spawning ground), daerah pemeliharaan (nursery ground) dan daerah pencarian makan (feeding ground) (Supriharyono, 2009).
Upaya merehabilitasi daerah pesisir pantai dengan penanaman mangrove
sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 90 - an. Data penanaman mangrove oleh
Departemen Kehutanan sejak tahun 1995 hingga 2003 baru terealisasi seluas
7.890 ha (Departemen Kehutanan, 2004) dan dari 2003 hingga 2007 telah
mencapai 70.185 ha (Departemen Kehutanan, 2008), namun tingkat keberhasilannya sangat rendah. Di samping itu, masyarakat juga tidak sepenuhnya terlibat dalam upaya rehabilasi mangrove, dan bahkan dilaporkan adanya kecenderungan gangguan terhadap tanaman mengingat perbedaan kepentingan.
Beberapa hasil penelitian pendukung rehabilitasi mangrove dalam teknik rehabilitasi hutan mangrove berupa teknik pesemaian, teknik penanaman dan kajian silvofishery telah dikemukakan dalam sintesis hasil penelitian teknologi dan kelembagaan rehabilitasi hutan mangrove (Anwar, 2007).
Walaupun ekosistem mangrove tergolong sumberdaya yang dapat pulih
(renewable resources), namun bila pengalihan fungsi atau konversi dilakukan
secara besar-besaran dan terus menerus tanpa pertimbangan kelestariannya, maka
kemampuan ekosistem tersebut untuk memulihkan dirinya tidak hanya terhambat,
tetapi juga tidak dapat berlangsung, karena beratnya tekanan akibat perubahan
tersebut. Akibat dari tekanan berbagai kepentingan tersebut, terjadi kerusakan
hutan mangrove karena melebihi kapasitas daya dukungnya. Lebih dari lima
puluh persen hutan mangrove mengalami kerusakan atau bahkan hilang sama
sekali akibat berbagai faktor berikut : konversi hutan mangrove untuk peruntukan
lainnya, pencemaran pesisir oleh sampah, bahan bakar minyak, industri,
pertumbuhan dan perkembangan kota-kota pantai (beach city), dan kurangnya
kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan mangrove sebagai penyangga
kehidupan daratan dan lautan (Kustanti, 2011).
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aplikasi sistem silvofishery dalam pemanfaatan hutan mangrove, menganalisis apakah usaha yang dilakukan masyarakat sekitar sudah efisien serta bagaimana pengaruhnya terhadap pendapatan masyarakat di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Diperoleh informasi tentang kombinasi aplikasi sistem silvofishery dan dampak pemanfaatan ekosistem mangrove di Kecamatan Percut Sei Tuan sehingga dapat bermanfaat bagi pengguna tambak model silvofishery dan masyarakat luas.
2. Menambah wawasan baru dan referensi bagi penelitian lebih lanjut tentang
upaya-upaya pelestarian dan pemanfaatan ekosistem mangrove sebagai salah
satu komponen pengembangan wilayah baik dari segi ekologi maupun
perekonomian suatu wilayah.
TINJAUAN PUSTAKA
Fungsi dan Manfaat Hutan Mangrove
Mangrove biasanya berada di daerah muara sungai atau estuarin sehingga merupakan daerah tujuan akhir dari partikel-partikel organik ataupun endapan lumpur yang terbawa dari daerah hulu akibat adanya erosi. Dengan demikian, daerah mangrove merupakan daerah yang subur, baik daratannya maupun perairannya, karena selalu terjadi transportasi nutrien akibat adanya pasang surut.
Mangrove mempunyai berbagai fungsi. Fungsi fisiknya yaitu untuk menjaga kondisi pantai agar tetap stabil, melindungi tebing pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya abrasi dan intrusi air laut, serta sebagai perangkap zat pencemar. Fungsi biologis mangrove adalah sebagai habitat benih ikan, udang, dan kepiting untuk hidup dan mencari makan, sebagai sumber keanekaragaman biota akuatik dan nonakuatik seperti burung, ular, kera, kelelawar, dan tanaman anggrek, serta sumber plasma nutfah. Fungsi ekonomi mangrove yaitu sebagai sumber bahan bakar (kayu, arang), bahan bangunan (balok, papan), serta bahan tekstil, makanan, dan obat-obatan (Gunarto, 2004).
Mangrove mengangkut nutrien dan detritus ke perairan pantai sehingga
produksi primer perairan di sekitar mangrove cukup tinggi dan penting bagi
kesuburan perairan. Dedaunan, ranting, bunga, dan buah dari tanaman mangrove
yang mati dimanfaatkan oleh makrofauna, misalnya kepiting sesarmid, kemudian
didekomposisi oleh berbagai jenis mikroba yang melekat di dasar mangrove dan
secara bersama-sama membentuk rantai makanan. Detritus selanjutnya
dimanfaatkan oleh hewan akuatik yang mempunyai tingkatan lebih tinggi seperti
bivalvia, gastropoda, berbagai jenis juvenil ikan dan udang, serta kepiting.
Karenakeberadaan mangrove sangat penting maka pemanfaatan mangrove untuk budi daya perikanan harus rasional (Ahmad dan Mangampa, 2000).
Komoditas perikanan yang sesuai untuk budidaya di air payau kawasan mangrove adalah Kepiting Bakau (Scylla serrata), Ikan Bandeng (Chanos chanos), Udang Windu (Penaeus monodon), Udang Vanamei (Penaeus vannamei), Ikan Patin (Pangasius pangasius), Ikan Kakap (Lates calcarifer), dan rumput laut. Sedangkan komoditas perikanan yang sesuai untuk budidaya silvofishery di kawasan mangrove adalah kepiting bakau. Kepiting bakau mempunyai karakteristik yang sedikit berbeda dengan komoditas lainnya karena kemampuannya untuk bertahan hidup dalam kondisi kurang air. Oleh karena itu membudidayakan kepiting tidak memerlukan tambak yang luas (Triyanto et al, 2012).
Tambak
Tambak merupakan bangunan air yang dibangun pada daerah pasang surut yang diperuntukkan sebagai wadah pemeliharaan ikan/udang dan memenuhi syarat yang diperlukan sesuai dengan sifat biologi hewan yang dipeliharan.
Pembangunan tambak pada umumnya dipilih di daerah sekitar pantai, khususnya yang mempunyai atau dipengaruhi oleh sungai besar, sebab banyak petambak beranggapan, bahwa dengan adanya air payau akan memberikan pertumbuhan ikan/udang yang lebih baik ketimbang air laut murni (Ditjen Perikanan, 1985).
Budidaya tambak merupakan salah suatu bentuk kegiatan usaha
pemeliharaan dan pembesaran ikan maupun udang di tambak yang dimulai dari
ukuran benih sampai menjadi ukuran yang layak dikonsumsi. Penggunaan tambak
secara terus menerus untuk budidaya akan menyebabkan menurunnya
produktivitas udang karena daya dukung lingkungan yang tidak mampu lagi menopang pertumbuhan (Abubakar, 2008).
Silvofishery
Silvofishery merupakan pola pemanfaatan hutan mangrove yang dikombinasikan dengan dengan tambak/empang. Pola ini dianggap paling cocok untuk pemanfatan hutan mangrove bagi perikanan saat ini. Dengan pola ini diharapkan kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan sedangkan hutan mangrove masih tetap terjamin kelestariannya. Silvofishery atau tambak tumpangsari merupakan suatu bentuk “agroforestry” yang pertama kali diperkenalkan di Birma dimana bentuk tersebut dirancang agar masyarakat dapat memanfaatkan hutan bagi kegiatan perikanan tanpa merusak hutan mangrove (Dewi, 1995).
Silvofishery atau sering disebut sebagai wanamina adalah suatu bentuk kegiatan yang terintegrasi (terpadu) antara budidaya air payau dengan pengembangan mangrove pada lokasi yang sama. Konsep silvofishery ini dikembangkan sebagai salah satu bentuk budidaya perikanan berkelanjutan dengan input yang rendah. Pendekatan antara konservasi dan pemanfaatan kawasan mangrove ini memungkinkan untuk mempertahankan keberadaan mangrove yang secara ekologi memiliki produktivitas relatif tinggi dengan keuntungan ekonomi dari kegiatan budidaya perikanan (Bengen, 1998).
Perairan tambak merupakan ekosistem perairan payau, salinitasnya ada di
antara salinitas air laut dan air tawar. Perakaran jenis Rhizophora sp. pada
umumnya hanya terendam pada saat air pasang berlangsung. Idealnya untuk
kegiatan silvofishery tersebut perlu dibuatkan guludan sebagai area penanaman
khusus di dalam tambak. Guludan tersebut dikondisikan agar tanaman tidak selalu tergenang di mana tanaman hanya akan terendam pada saat terjadinya air pasang, sedangkan pada saat air surut tanaman tidak terendam air. Sementara itu untuk current area atau area pemeliharaan ikan, dilakukan pada tempat yang lebih rendah sehingga pada saat air surut pun tetap dalam keadaan terendam air.
(Raswin, 2003).
Silvofishery telah berkembang di berbagai negara, seperti Indonesia, Hong Kong, Thailand, Vietnam, Pilipina, Kenya dan di Indonesia lebih dikenal dengan sistem empang parit dan telah dikembangkan oleh Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Ditjen Perikanan dalam berbagai research project di Sulawesi Selatan, Cikalong dan Blanakan di Jawa Barat. Silvofishery telah berhasil dikembangkan di Indonesia antara lain di Sinjai (Sulawesi), Cikeong (Jawa Barat), Pemalang (Central Java), dan Bali (Nuryanto, 2003). Beberapa tipe dan model sistem silvofishery dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Beberapa tipe dan model sistem silvofishery (Sofiawan, 2000)
Pada umumnya jarak tanam yang digunakan adalah 5 x 5 m dengan jumlah bibit per hektar 320 batang, menurut Sofiawan (2000) bentuk tambak silvofishery terdapat 5 macam pola yaitu tipe empang parit tradisonal, tipe komplangan, tipe empang parit terbuka, tipe kao-kao serta tipe tasik rejo.
Tipe Empang Parit Tradisional
Model Empang Parit Tradisional ini penanaman bakau dilakukan merata di pelataran tambak dengan jarak tanam 2 x 3 m atau 1 x 1 m sehingga tanaman terkonsentrasi di tengah-tengah pelataran tambak. Luas daerah penanaman mangrove pada sistem ini bisa mencapai 80% dari keseluruhan luas tambak.
Tempat mangrove tumbuh dikelilingi oleh saluran air dan berbentuk sejajar dengan pematang tambak. Saluran ini biasanya memiliki lebar 3-5 m dan tinggi muka air berada 40-80 cm di bawah pelataran tanah tempat tumbuhnya mangrove.
Ada beberapa variasi lain dari model dasar ini, misalnya dengan membuat wilayah yang dialiri air sampai 40-60%. Ikan, udang, dan kepiting dibudidayakan secara ekstensif pada saluran air ini. Gambaran tipe empang parit dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Tipe empang parit (Kordi, 2012)
Tipe Komplangan
Model ini merupakan modifikasi dari model empang parit tradisional.
Pepohonan mangrove ditanam pada daerah yang terpisah dengan empang tempat memelihara ikan atau udang, di mana di antara keduanya terdapat pintu air penghubung yang mengatur keluar masuknya air. Tipe Komplangan dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Tipe komplangan (Kordi, 2012)
Tipe Kao-Kao
Pada model Kao-Kao ini mangrove ditanam pada guludan-guludan. Lebar guludan 1-2 m dengan jarak antara guludan adalah 5-10 m (disesuaikan dengan lebar tambak). Variasi yang lain adalah mangrove ditanam di sepanjang tepian guludan/kao-kao dengan jarak tanam 1 meter.
Tipe Empang Terbuka
Bentuk model empang terbuka ini tidak berbeda jauh dengan model empang tradisional. Bedanya hanya pada pola penanaman tanaman mangrove.
Pada model ini mangrove ditanam pada tanggul yang mengelilingi tambak.
Tipe Tasik Rejo
Pada model ini mangrove ditanam di sepanjang tepian parit yang berbentuk saluran air tertutup yang langsung berhubungan dengan saluran air utama (saluran air yang menghubungkan tambak dengan laut). Mangrove ditanam cukup rapat dengan jarak tanam 1 x 1 m atau bahkan 50 x 50 cm. Pada model ini tambak hanya berbentuk parit sedalam kurang lebih 1 m yang juga dipakai sebagai tempat pemeliharaan ikan. Pelataran tambak pada umumnya dibudidayakan untuk usaha pertanian tanaman semusim, seperti padi gogo, palawija, atau bunga melati.
Menurut Bengen (2002) Secara umum ada dua model dasar silvofishery yaitu model empang parit dan model komplangan (mangrove yang berselang- seling dengan tambak). Model empang parit selanjutnya ada yang disempurnakan dalam pembuatan paritnya. Model empang parit (menyajikan tingkatan yang lebih besar dalam penanaman mangrove atau mempertahankan keberadaan mangrove dalam area tambak, dengan penutupan mangrove antara 60-80% dalam parit di tambak. Sedangkan model komplangan/berselang-seling merekomendasikan untuk mempertahankan mangrove dengan rasio maksimum yang sama, yaitu tiap 2 ha tambak harus dipertahankan 8 ha mangrove di sekeliling tambak tersebut.
Menurut penelitian Nur (2002) bahwa analisis optimasi rasio wanamina
empang parit dengan lahan berhutan mangrove menunjukkan terdapat hubungan
yang erat antara rasio empang parit dengan lahan berhutan mangrove dengan
parameter ekologi dan ekonomi. Rasio empang parit dengan lahan berhutan mangrove sebesar 50:50 dan 60:40 merupakan nilai optimum bagi pemanfaatan ekosistem hutan mangrove secara lestari untuk tambak tumpangsari. Tahap awal agar terjadi kestabilan ekosistem empang parit adalah produktivitas organisme produsen dalam melakukan proses fotosintesis harus tinggi agar tersedia banyak bahan makanan bagi konsumen, sehingga menyebabkan konsumen hidup dengan baik dan melakukan pertumbuhan secara maksimum. Peningkatan bahan organik diperairan akan meningkatkan kualitas air dan pertumbuhan fitoplankton sehingga produktivitas perairan meningkat. Peningkatan ini mendorong zooplankton, ikan dan krustasea meningkat pula.
Menurut penelitian Hastuti (2010) dari penerapan wanamina (silvofishery) berwawasan lingkungan di pantai utara kota semarang dihasilkan nilai produksi Bandeng yang terbaik adalah pada perlakuan yang ditanami dengan Rhizophora.
Diduga ini disebabkan bahan organik pada Rhizophora lebih tinggi dari Avicennia. Bahan organik total, gula, asam amino dan gula amino dan bahan organik pada tanah yang terdapat pada vegetasi Rhizophora diakumulasikan sebaliknya bahan organik pada vegetasi Avicennia didegradasikan. Hal ini menyebabkan proses pelapukan dari serasah daun yang jatuh diarea tambak tersebut lebih mudah sehingga proses penyediaan unsur hara dan bahan pakan alami bagi Bandeng juga semakin cepat.
Hasil penelitian Riviana, et al (1999) dilaporkan komposisi tegakan
mangrove ternyata berpengaruh terhadap keberadaan jenis plankton. Peranan
hutan manggrove sebagai sumber makanan organisme perairan dapat melalui dua
rantai yang berbeda. Pertama adalah serasah akan memberikan masukan unsur
hara utama bagi pertumbuhan organisme autotrof yaitu fitoplankton. Kedua serasah yang belum mengalami dekomposisi sempurna dan masih dalam bentuk detritus sehingga dapat dimanfaatkan sebagi sumber makanan bagi organisme herbivora dan detrivora.
Penerapan mina hutan dikawasan ekosistem mangrove diharapkan dapat tetap memberikan lapangan kerja bagi petani di sekitar kawasan tanpa merusak hutan itu sendiri dan adanya pemerataan luas lahan bagi masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian di daerah Subang, ketentuan yang harus dipenuhi oleh pengelola tambak antara lain menjaga perbandingan hutan dan tambak sebesar 80% hutan dan 20% tambak. Jika perbandingan antara hutan dan tambak 50-80% : 20-50%, pengelola tambak diberi peringatan dan jika perbandingan hutan dan tambak mencapai 50:50% izin pengelola akan dicabut (Handayani dan Wibowo, 2006).
Sosial Ekonomi
Teknologi budidaya tambak dengan pola silvofishery oleh masyarakat dilakukan terlebih dahulu dengan menanam bakau di wilayah pesisir. Setelah bakau-bakau tersebut tumbuh besar, bakau di tebang dan tanah yang timbul dari kegiatan penanaman bakau tersebut dibuat menjadi tambak. Setelah terbentuk tambak, pada pematang tambak ditanami lagi dengan bibit bakau dan masyarakat biasanya memelihara ikan bandeng (Channos channos), udang windu (Penaus monodon), dan rumput laut (Gracillaria) di dalam tambak tersebut (Primavera, 2000).
Sumberdaya perikanan merupakan sumberdaya yang dapat pulih kembali
tetapi dibatasi oleh faktor pembatas alami dan non-alami. Faktor pembatas alami
adalah faktor-faktor penghambat ketersediaan ikan dari ekosistem, seperti
ketersediaan makanan, predator, persaingan memperoleh makanan, laju pertumbuhan alami, persaingan ruang dan sebagainya. Sedangkan faktor pembatas non-alami adalah faktor-faktor penghambat ketersediaan ikan yang disebabkan oleh kegiatan manusia seperti eksploitasi, pengrusakan habitat dan pencemaran lingkungan (Setyawan, 2002).
Aspek sosial ekonomi masyarakat terpenuhi dari kegiatan silvofishery
dengan melakukan budidaya ikan, kepiting, udang, dan rumput laut dalam
tambak. Sedangkan aspek perlindungan pantai dan konservasi mangrove
dilakukan dengan tetap menjaga vegetasi mangrove di pematang tambak dan
bagian terluar dari tambak yang terbentuk dengan greenbelt sekitar 100-200
meter. Berbagai kegiatan penanaman bakau dan pembuatan tambak dilakukan
sepenuhnya oleh masyarakat sekitar walaupun tanpa adanya bantuan dari
pemerintah dan lembaga lainnya, sehingga konsep social forestry atau community
forestry tercipta dengan sendirinya di sekitar wilayah pesisir tersebut. Aspek
ekonomi, yaitu bentuk pemanfaatan sistem silvofishery secara aktual yang
dilakukan kelompok tani dan pengambilan manfaat ekonomi serta bagaimana
kondisi perekonomian masyarakat pemilik lahan berbasis silvofishery dapat
terbantu setelah mengaplikasikan sistem silvofishery ini.
Gambar 4. Alur Penelitian Persiapan
Survey Lapangan
Pengumpulan Data
Pelaksanaan Penelitian Penelusuran Literatur dan Analisis Deskriptif
Wawancara Kuisioner Observasi Lapangan Data Sekunder
Data Primer
Pengolahan Data
Kesimpulan
Mengidentifikasi Aplikasi Sistem Silvofishery dan Pengaruhnya Terhadap Pendapatan Masyarakat
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Desember 2016. Penelitian ini dilakukan di 3 desa, yaitu Desa Percut, Desa Tanjung Rejo, dan Desa Tanjung Selamat, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Gambar 5. Peta Lokasi Penelitian
Alat dan Bahan Penelitian
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kamera dan alat tulis.
Sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tally sheet,
kuisioner, peta wilayah kabupaten, serta dokumen lain yang berhubungan dengan
lokasi dan kegiatan penelitian. Berikut adalah kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kuesioner yang digunakan pada penelitian
No. Nama Jenis
Kelamin Umur Jenis Mangrove
Luas Tambak
(Ha) Pengeluaran Pemasukan Pendapatan / bulan
1.
2.
3.
Metode Dasar
Metode dasar yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif analitik yaitu suatu metode penelitian yang memusatkan pada masalah-masalah yang ada pada masa sekarang dan masalah-masalah yang aktual dengan cara data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan, kemudian dianalisis. Teknik pelaksanaan pada penelitian ini adalah dengan teknik sampling. Penentuan daerah untuk sampling dipilih dengan sengaja yaitu didasarkan pada ciri-ciri atau sifat yang sudah diketahui sebelumnya sesuai dengan kepentingan penelitian.
Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah : 1. Menghitung biaya usaha tani
Biaya usaha tani yang dimaksudkan adalah biaya yang benar-benar dikeluarkan
oleh petani tambak yang meliputi pengelolaan lahan, tenaga kerja, sewa lahan,
pakan dan pupuk, serta benur ikan yang digunakan dalam tambak silvofishery.
2. Menghitung pendapatan usaha tani
Untuk menghitung pendapatan usaha tani yaitu dengan menghitung selisih penerimaan dan biaya usaha tani, yang dirumuskan :
∏ = TR –TC Keterangan :
∏ = pendapatan usaha tani (Rp)
TR = penerimaan usaha tani tambak (Rp) TC = total biaya usaha tani (Rp)
3. Metode yang digunakan untuk mengetahui efisiensi usaha tani dengan rumus : Penerimaan
R / C =
Biaya
Dari rumus di atas dapat diketahui kriteria dari R/C rasio sebagai berikut :
• Apabila R/C rasio > 1 maka usaha tani dikatakan efisien
• Apabila R/C rasio = 1 maka usaha tani dikatakan impas
• Apabila R/C ratio < 1 maka usaha tani dikatakan tidak efisien
Populasi dan Sampel Penelitian
Pada penilitian ini yang akan diambil adalah data sampel 3 desa, yaitu
Desa Percut, Desa Tanjung Rejo, dan Desa Tanjung Selamat, Kecamatan Percut
Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang karena desa ini menerapkan sistem
silvofishery. Metode pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan
cara purposive sampling (sampel bertujuan).
Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer yang digunakan mengenai lahan silvofishery yang diperoleh yaitu melalui wawancara, observasi lapangan, dan kuesioner yang ditujukan langsung kepada masyarakat setempat atau kelompok tani pengguna lahan silvofishery. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui sumber resmi seperti Badan Pengelolaan Hutan Mangrove (BPHM) Wilayah Sumatera Utara, Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah Sumatera Utara serta instansi atau lembaga pemerintah setempat mengenai informasi lokasi dan kondisi daerah penelitian, dan data-data pendukung lainnya.
Pengumpulan Data 1. Data primer
Pada pengumpulan data primer yang diperlukan antara lain ciri-ciri keluarga yakni nama, umur, identitas, jumlah anggota keluarga, pendidikan, dan mata pencaharian atau profesi. Selain itu, pengumpulan data juga mencakup pendapatan atau penghasilan rumah tangga yakni pendapatan seluruh anggota keluarga dari kegiatan pemanfaatan sistem silvofishery ditambah pendapatan lainnya.
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu : Wawancara
Wawancara dilakukan sebagai upaya untuk melengkapi informasi dan
mengkaji ulang yang berkaitan dengan data dalam penelitian. Keterbukaan dan
kejujuran responden atau narasumber dalam memberikan informasi sangat penting
dan diperlukan untuk kepentingan penelitian ini. Kegiatan wawancara pada penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 5.
Kuisioner
Data yang diambil dari kuisioner kepada seluruh sampel penelitian untuk melengkapi hasil dari wawancara yang dilaksanakan sehingga didapat data yang aktual dan akurat.
Observasi Lapangan
Kegiatan yang dilakukan pada observasi yaitu melihat aktivitas dan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat (kelompok tani), melihat kegiatan masyarakat setempat dalam pemanfaatan ekosistem mangrove dengan tambak dan melakukan interaksi dengan masyarakat lainnnya.
2. Data Sekunder
Data sekunder yang diperlukan adalah data umum pada instansi atau lembaga pemerintahan desa, kecamatan, Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) dan Balai Pengelolaan Hutan Mangrove (BPHM) Wilayah Sumatera Utara yang meliputi letak dan luas desa, kelompok tani, dan data dari sumber lain.
Pengolahan Data
1. Analisis deskriptif, digunakan untuk mengetahui dan menganalisis data yang terkumpul dari hasil kuisioner, wawancara, dan observasi.
2. Penulisan literatur yang dipadukan dengan data-data penelitian, baik data
primer maupun data sekunder yang telah dilakukan analisis data. Penelusuran
literatur akan memperkaya dan memperluas isi dari penelitian yang nantinya
berguna untuk hasil penelitian ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tambak Silvofishery
Penelitian ini dilakukan di 3 desa, yaitu Desa Percut, Desa Tanjung Rejo, dan Desa Tanjung Selamat yang terletak di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Ketiga desa ini merupakan kawasan yang masih mendapatkan pengaruh salinitas, namun letaknya tidak dekat dengan pesisir pantai. Pada umumnya mangrove ditanam secara intensif oleh masyarakat untuk tujuan tertentu, misalnya untuk keperluan tambak dan penggunaan komersial lainnya dari tanaman mangrove. Hutan mangrove dapat menjadi pelindung bagi ekosistem yang ada di sekitarnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Kustanti (2011) yang menyatakan bahwa tanaman mangrove mampu melindungi kehidupan penduduk di sekitarnya dari kerusakan-kerusakan yang dapat ditimbulkan dari gelombang besar maupun angin kencang.
Wilayah tambak dipengaruhi oleh proses pasang surut air laut, oleh karena
itu warga yang mengelola tambak tersebut melakukan penanaman mangrove di
sekitar pematang tambak yang tujuannya adalah untuk menguatkan struktur tanah
pematang tambak agar tidak tergerus oleh pasang surut, sedangkan mangrove
yang ditanam dalam area tambak dimaksudkan untuk mengembalikan kesuburan
dan memberi ruang lindung pada benih yang telah disebar oleh petani tambak dan
perangkap racun yang ada pada kegiatan budidaya perikanan produksi
sebelumnya. Tambak yang dimiliki oleh masing-masing kelompok tani dahulunya
merupakan tambak intensif, namun seiring berjalannya waktu dengan adanya
penyuluhan dari Dinas Kehutanan dan Dinas Perikanan maka kelompok tani
tersebut mulai menanam mangrove di guludan/tanggul yang dikondisikan
tergenang pada saat pasang dan tidak terendam air pada saat surut. Tambak silvofishery yang berada di Desa Percut, Desa Tanjung Selamat, dan Desa Tanjung Rejo memiliki ciri-ciri yakni tambak dikelilingi oleh vegetasi mangrove dan mangrove ditanam di tepian guludan dengan antar jarak guludan 30-50 m.
Menurut Sofiawan (2000) bahwa model kao-kao adalah salah satu dari 5 macam pola dari bentuk tambak silvofishery dengan ciri-ciri mangrove ditanam pada guludan-guludan tersebut. Lebar guludan 1-2 m dengan jarak antar guludan 5-10 m atau sesuai dengan lebar tambak dan mempunyai variasi seperti jarak tanam.
Identitas Petani
Identitas petani memberikan gambaran tentang keadaan petani sebagai salah satu faktor penting dalam usaha tani. Petani dalam suatu usaha tani adalah sebagai pengelola yang merencanakan, mengorganisasi, melaksanakan serta mengevaluasi suatu proses produksi. Identitas petani dalam penelitian ini meliputi umur, lama pendidikan, jumlah anggota keluarga, jumlah anggota keluarga yang aktif dalam usaha tani, dan luas lahan garapan. Identitas dari petani dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Identitas petani pada usaha tani tambak di Kecamatan Percut Sei Tuan
No. Uraian Rata-rata
1. Umur petani (th) 43,52
2. Lama pendidikan (th) 7
3. Jumlah anggota keluarga 5,25
4. Jumlah anggota keluarga yang aktif dalam usaha tani 2,35
5. Luas lahan untuk usaha tani 0,75
Hasil analisis data pada tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata umur petani
adalah 43,77 tahun yang berarti masih termasuk dalam usia produktif. Lama
pendidikan yang mereka peroleh rata rata adalah selama 7 tahun. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani adalah tamatan SD hingga SMP. Tingkat pendidikan ini mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan seseorang untuk menerima teknologi baru yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas hidup. Seperti yang dikemukakan oleh Brown (2006) bahwa kerusakan ekosistem mangrove sering disebabkan oleh aktivitas manusia yang berada di dalam dan sekitar kawasan hutan mangrove yang dikarenakan akses masyarakat yang tinggi berinteraksi dengan hutan tersebut.
Rata-rata jumlah anggota keluarga petani sampel yang mengusahakan tambak berbasis silvofishery adalah 5,25 orang. Sedangkan rata-rata jumlah anggota keluarga yang aktif dalam usaha tani adalah 2,35 orang. Data ini menunjukkan bahwa anggota keluarga yang aktif dalam usaha tani merupakan setengah dari jumlah anggota keluarga para petani tambak. Lahan merupakan faktor produksi yang mutlak diperlukan dalam melakukan usaha tani. Lahan merupakan media pengelolaan usaha tani, tanpa adanya lahan maka usaha tani akan sulit untuk dilakukan. Rata-rata lahan usaha tani yang dimiliki petani adalah 0,75 ha. Kepemilikan lahan yang sempit menjadi tidak efisien sehingga pendapatan yang diperoleh tidak begitu tinggi bagi para petani tambak.
Silvofishery di Desa Percut, Tanjung Rejo, dan Tanjung Selamat
Desa Percut
Tambak silvofishery di Desa Percut yang tergabung dalam kelompok tani
Sepakat dengan luasan tambak 0,5 - 0,6 ha dari total luasan 33,5 ha yang terdiri
dari 10 anggota. Kelompok tani ini pada saat dahulu menggunakan sistem tambak
intensif, yaitu keseluruhan areal lahan digunakan khusus untuk tambak saja.
Namun dalam beberapa tahun terakhir produksinya menurun drastis dan bisa dikatakan hancur. Pada lahan silvofishery di Desa Percut ini didominasi oleh tanaman Bruguiera gymnorrhiza dan Avicennia marina. Ekosistem alami di kawasan tropika sering kali amat rentan terhadap degradasi oleh kegiatan penebangan, kebakaran, penggembalaan, serta kegiatan budidaya pertanian dan perladangan yang berlebihan menyebabkan vegetasi yang asli sulit untuk pulih kembali. Seperti pada pernyataan Kusmana (1999) bahwa kondisi hutan yang rusak tersebut tidak akan dapat untuk pulih kembali seperti semula. Dalam 1 kolam biasanya terdiri dari 2 petak dengan luasan tambak 0,5 – 0,6 ha. Biaya pengeluaran tambak silvofishery di Desa Percut dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Biaya usaha tani untuk 1 ha dalam jangka waktu 4 bulan di Desa Percut
No. Jenis biaya Satuan
(Rp)
Jumlah Biaya (Rp)
1. Pengelolaaan lahan 500.000
2. Tenaga kerja 1.000.000
3. Sewa lahan 1.000.000
4. Pakan dan pupuk 2.000.000
5. Benur ikan nila 100 10.000 1.000.000
6. Benur ikan bandeng 100 10.000 1.000.000
7. Benur ikan kakap 500 300 150.000
Total 6.650.000
Pada tabel 2 di atas terlihat bahwa biaya yang dikeluarkan usaha tani untuk
luas lahan 1 ha dalam kurun waktu 4 bulan atau dalam 1 kali masa panen. Di Desa
ini petani membudidayakan beberapa jenis ikan, di antaranya ikan nila, ikan
bandeng, dan ikan kakap. Total dari biaya usaha tani di Desa Percut adalah Rp
6.650.000 merupakan biaya total yang dikeluarkan oleh usaha tani.
Tabel 4. Penerimaan usaha tani untuk 1 ha dalam jangka waktu 1 tahun Desa Percut
No. Jenis Satuan kg (Rp) Jumlah (kg) Jumlah harga (Rp)
1. Ikan nila 18.000 300 5.400.000
2. Ikan bandeng 18.000 450 8.100.000
3. Ikan kakap 40.000 60 2.400.000
Total 15.900.000
Sebagai tambak yang menggunakan pakan alami tambak desa ini bisa menghasilkan ikan nila sebesar 300 kg, tentu jumlah ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan penelitian Yenny (2007) tentang pelestarian hutan mangrove melalui silvofishery dan pengelolaannya, di mana juga membudidayakan ikan nila dengan pakan alami yaitu sebesar 200 kg/ha (bisa mencapai 400 kg/ha).
Dari hasil penerimaan yang diperoleh petani dalam tabel di atas, dapat dilihat bahwa pendapatan usaha tani dari tambak silvofishery adalah sebagai berikut :
∏ = TR –TC
∏ = Rp. 15. 900.000 – Rp. 6.650.000
∏ = Rp. 9.250.000
Efisiensi Usaha Tani Penerimaan R / C =
Biaya
Rp. 15. 900.000 R / C =
Rp. 6.650.000
R / C = 2,3 (efisien)
Berikut ini adalah model tambak silvofishery di Desa Percut yang dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Model tambak Silvofishery di Desa Percut (tipe empang parit)
Desa ini menggunakan model silvofishery dengan sistem empang parit
tradisional. Model ini menanam bakau dilakukan merata di pelataran tambak
dengan jarak tanam 1 x 1 m sehingga tanaman terkosentrasi di tengah-tengah
pelataran tambak. Luas daerah penanaman mangrove pada sistem ini bisa
mencapai 80% dari keseluruhan luas tambak. Tempat mangrove tumbuh
dikelilingi oleh saluran air tambak dan berbentuk sejajar dengan pematang
tambak. Ikan bandeng, ikan nila, dan ikan kakap dibudidayakan secara ekstensif
di Desa ini. Untuk lebih jelas, model tambak silvofishery di Desa Percut dapat
dilihat pada Lampiran 1.
Desa Tanjung Rejo
Desa Tanjung Rejo memiliki lahan tambak silvofishery yang paling luas dibandingkan dengan Desa Percut dan Desa Tanjung Selamat. Di desa ini terdapat kelompok tani yang bernama Tani Hutan Mangrove yang beranggotakan 22 orang. Sebagian besar penduduk di Desa ini berprofesi sebagai Nelayan. Di desa ini didominasi tanaman Rizophora mucronata dan Rizophora apiculata.
Tabel 5. Biaya usaha tani untuk 1 ha dalam waktu 4 bulan di Desa Tanjung Rejo
No. Jenis biaya Satuan
(Rp)
Jumlah Biaya (Rp)
1. Pengolahan lahan 1.500.000
2. Tenaga kerja 2.000.000
3. Sewa lahan 0
4. Pakan dan pupuk 2.000.000
5. Benur ikan nila 100 100.000 10.000.000
6. Benur ikan bandeng 150 40.000 6.000.000
7. Benur udang tiger 60 20.000 1.200.000
8.
Total
Kepiting bakau 1.500 500 750.000
23.450.000
Dapat dilihat bahwa biaya yang dikeluarkan usaha tani untuk luas lahan 1 ha dalam jangka waktu 4 bulan atau sekali masa panen. Total dari biaya usaha tani adalah Rp. 23.450.000 merupakan biaya total yang dikeluarkan oleh usaha tani.
Di Desa ini petani tambak tidak mengeluarkan biaya sewa lahan karena
keseluruhan lahan tambak dikelola sendiri secara pribadi.
Tabel 6. Penerimaan usaha tani untuk 1 ha dalam waktu 4 bulan di Desa Tanjung Rejo
No. Jenis Satuan kg
(Rp)
Jumlah (kg)
Jumlah Harga (Rp)
1. Ikan nila 18.000 3.000 54.000.000
2. Ikan bandeng 12.000 1.500 18.000.000
3. Udang tiger 80.000 200 16.000.000
4. Kepiting bakau 30.000 150 4.500.000
Total 92.500.000
Jika dilihat dari Tabel 6 di atas, diperoleh hasil panen yang sangat besar.
Hal ini sesuai dengan penelitian Wibowo (2006) di mana dengan pengembangan sistem wanamina secara lebih tertata dan perbandingan antara hutan dan tambak 80% : 20% diharapkan dapat meningkatkan persatuan luas. Harapan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa tanaman di sekitar kolam yang lebih baik akan meningkatkan kesuburan dengan banyak detritus, yang secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap produksi suatu tambak. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Yenny (2007) di mana dengan perbandingan tambak dengan hutan 80 : 20 membuktikan hasil panen yang tinggi. Untuk hasil panen tambak silvofishery dapat dilihat pada Lampiran 4. Dari hasil penerimaan yang diperoleh pada Tabel 6 di atas, dapat dilihat bahwa pendapatan usaha tani adalah sebagai berikut :
∏ = TR –TC
∏ = Rp. 92.500.000 – Rp. 23.450.000
∏ = Rp. 69.050.000
Efisiensi usaha tani Penerimaan R / C =
Biaya
Rp. 92.500.000 R / C =
Rp. 23.450.000 R / C = 3,9 (efisien)
Berikut adalah model tambak silvofishery di Desa Tanjung Rejo yang terdapat pada Gambar 7.
a b
c
d
e
f
g h
i
Gambar 7. Model Tambak Silvofishery di Desa Tanjung Rejo (tipe kao-kao)
Keterangan :
a. Pintu air d. Bedengan b. Mangrove e. Tambak c. Pipa paralon f. R.apiculata
Model tambak yang terdapat di Desa ini adalah model kao-kao. Pada model ini mangrove ditanam di atas guludan tambak, biasanya ukuran guludan disesuaikan dengan luas tambak. Di mana sistem kao-kao adalah sistem wanamina dengan kolam di tengah dan hutan mengelilingi kolam (Maryani, 2009). Keuntungan model ini adalah ruang pemeliharaan ikan cukup lebar serta intensitas matahari yang tinggi. Model kao-kao ini merupakan modifikasi dari model tambak empang parit tradisional. Model kao-kao pada lahan tambak silvofishery Desa Tanjung Rejo juga dapat dilihat pada Lampiran 2.
Desa Tanjung Selamat
Silvofishery yang ada di Desa Tanjung Selamat. Kelompok tani yang terdapat di Desa ini bernama kelompok Tani Permai Sejahtera yang beranggotakan 8 orang. Di desa ini tambak silvofishery relatif lebih kecil dibandingkan dengan Desa Tanjung Rejo dan Desa Percut. Di Desa ini memiliki luas lahan tambak masing-masing kolam 0,7 ha dengan total keseluruhan 17,5 ha.
Tabel 7. Biaya usaha tani dalam 1 ha dalam waktu 4 bulan di Desa Tanjung Selamat
No Jenis biaya Satuan
(Rp)
Jumlah Biaya (Rp)
1. Pengelolaaan lahan 1.000.000
2. Tenaga kerja 1.500.000
3. Sewa lahan 0
4. Pakan dan pupuk 1.500.000
5. Benur ikan nila 60 20.000 1.200.000
6. Benur ikan kakap 500 300 150.000
7. Benur udang tiger 60 20.000 1.200.000
Total 6.550.000
Dapat dilihat bahwa biaya yang dikeluarkan usaha tani untuk luas lahan 1 ha dalam jangka waktu 4 bulan atau sekali masa panen. Total dari biaya usaha tani adalah Rp. 6.650.000 merupakan biaya total yang dikeluarkan oleh usaha tani.
Tabel 8. Penerimaan usaha tani dalam 1 ha dalam waktu 4 bulan di Desa Tanjung Selamat
No. Jenis Satuan kg
(Rp)
Jumlah (kg)
Jumlah Harga (Rp)
1. Ikan nila 17.000 1.000 17.000.000
2. Ikan kakap 40.000 60 2.400.000
3. Udang tiger 100.000 200 20.000.000
Total 39.400.000
Dari hasil penerimaan yang diperoleh pada Tabel 6 di atas, dapat dilihat bahwa pendapatan usaha tani adalah sebagai berikut :
∏ = TR –TC
∏ = Rp. 39.400.000 – Rp. 6.550.000
∏ = Rp. 32.850.000
Efisiensi usaha tani Penerimaan R / C =
Biaya
Rp. 39.400.000 R / C =
Rp. 6.550.000
R / C = 6,0 (efisien)
Berikut adalah model tambak yang digunakan di Desa Tanjung Selamat yang terdapat pada Gambar 8 dan Lampiran 3.
a
b c d
e f
g h
Gambar 8. Model tambak Silvofishery di Desa Tanjung Selamat (tipe kao-kao)
Keterangan :
a. Jalan desa f. Bedengan b. Pipa paralon g. E.guineensis c. R.mucronata h. R.stylosa d. Tambak
e. Paluh (aliran sungai)
Dari data ketiga Desa yang mengaplikasikan tambak silvofishery ini, terlihat jelas bahwa mangrove memberikan pengaruh yang sangat signifikan bagi pendapatan masyarakat yang terutama memanfaatkan mangrove yang dikombinasikan dengan tambak. Oleh karena itu secara langsung petani juga diuntungkan dengan kondisi tambak yang berada di antara mangrove. Selain dapat meminimalisir kebutuhan pakan pada tambak, lahan mangrove juga bisa menjadi tempat perlindungan untuk ekosistem tambak yang dibudidayakan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wibowo (2006) yaitu fungsi dan peran ekosistem hutan mangrove sangat penting sebagai tempat untuk memijah, mengasuh anak, berlindung, serta mencari makan bagi berbagai jenis ikan. Oleh karena itu maka kelestariannya harus dijaga dan tidak boleh dieksploitasi secara berlebihan.
Masyarakat sekitar hutan mangrove harus memahami pentingnya mangrove, karena tambak merupakan sumber penghasilan bagi mereka.
Pengetahuan masyarakat terhadap hutan mangrove tersebut dapat dikategorikan
sebagai pengetahuan local mengenai peranan hutan mangrove sebagai suatu
kesatuan bagi kehidupan mereka, yang diperoleh dari nteraksi kehidupan mereka
di dalam dan sekitar hutan mangrove.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pemanfaatan lahan mangrove berbasis silvofishery oleh petani berpengaruh terhadap pendapatan dari anggota kelompok tani dan masyarakat baik itu dalam jumlah kecil ataupun dalam jumlah besar.
2. Biaya usaha tani yang dikeluarkan di Kecamatan Percut Sei Tuan rata-rata adalah Rp. 12.216.000 per hektar dengan rata-rata pendapatan dari usaha tani tambak rata-rata adalah Rp. 49.226.000 per hektar.
3. Perhitungan R/C rasio di Desa Percut sebesar 2,3 Desa Tanjung Rejo sebesar 3,9 dan Desa Tanjung Selamat sebesar 6,0.
4. Hasil perhitungan R/C rasio di tiga desa >1 menunjukkan bahwa usaha tani tambak silvofishery yang dilakukan oleh petani sudah efisien.
Saran
Perlu dilakukan pengembangan tentang pemanfaatan lahan mangrove
berbasis silvofishery ini agar hasil yang didapat petani lebih tinggi, dan
penambahan vegetasi mangrove di tambak untuk mengurangi biaya pakan pada
lahan tambak silvofishery.
DAFTAR PUSTAKA
Abubakar. 2008. Efisiensi Pengelolaan Kawasan Tambak Udang Dan Dampaknya Terhadap Aspek Ekonomi Sosial dan Ekologi di Wilayah Pesisir Kabupaten Dompu NTB. IPB. Bogor.
Ahmad, T. and M, Mangampa, 2000. The use of mangrove stands for bioremediation in a close shrimp culture system. Proceeding of International Symposium on Marine Biotechnology. Bogor Agricultural University, Bogor.
Anwar, C. 2007. Sinthesis Hasil Penelitian Teknologi dan Kelembagaan Rehabilitasi Hutan Mangrove. Draft awal. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor.
Bengen, G. B. 1998. Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Pelestarian Hutan Mangrove . Makalah Lokakarya Jaringan Kerja Pelestarian Mangrove, Instiper. Yogyakarta.
Brown, B. 2006. Lima Tahap Rehabilitasi Mangrove. Petunjuk Teknis Rehabilitasi Hutan Mangrove. Mangrove Action Project dan Yayasan Akar Rumput Laut Indonesia. Yogyakarta
Dewi, R. H. 1995. Pengaruh Kerapatan Tegakan Mangrove Terhadap Aspek Ekologis Tambak Tumpangsari (Silvofishery) (Studi Kasus di KPH Cibuaya Besar Pengembangan Budidaya Air Payau). [Tesis]. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ditjen Perikanan, 1985. Pedoman Budidaya Tambak. Balai Budidaya Air Payau Jepara. Jakarta.
Gunarto, 2004. Konservasi Mangrove Sebagai Pendukung Sumber Hayati Perikanan Pantai. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau. Litbang Pertanian.
Handayani, T dan Wibowo, K. 2006. Pelestarian Hutan Mangrove Melalui Pendekatan Mina Hutan (Silvofishery). Pusat Teknologi Lingkungan BPPT. Jakarta.
Hastuti, R. B. 2010. Penerapan Wanamina (Silvofishery) Berwawasan Lingkungan Di Pantai Utara Kota Semarang. Lingkungan Tropis.
Kordi, M. G. H. 2012. Ekosistem Mangrove. Rineka Cipta. Jakarta
Kustanti, A. 2011. Manajemen Hutan Mangrove. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Maryani. E. 2009. Model Sosialisasi Mitigasi Pada Masyarakat Daerah Rawan Bencana di Jawa Barat. Penelitian Hibah Dikti. Bandung.
Nur, S. H. 2002. Pemanfaatan Ekosistem Hutan Mangrove Secara Lestari Untuk Tambak Tumpangsari di Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Program Pasca Sarjana. IPB. Bogor.
Nuryanto, A. 2003 Silvofishery (Mina Hutan) : Pendekatan Pemanfaatan Mangrove Secara Lestari. IPB. Bogor.
Primavera, J. H. 2000. Integrated Mangrove Aquaculture Systems in Asia.
Integrated Coastal Zone Management. Autumn ed. Pp. 121-130
Raswin, M. 2003. Pembesaran Ikan Bandeng. Modul : Pengelolaan Air Tambak.
Direktorat Jakarta : Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Nasional.
Riviana, J., Kusmana, C., dan Agus, P. 1999. Komposisi Jenis Hayati Di Ekosistem Tambak Tumpangsari Pola Empang Parit : Studi Kasus di RPH Tegal Tangkil, BKPH Ciasem. KPH Purwakarta. Jawa Barat. V : 2.
Santono, N., Bayu, C.N., Ahmad, F.S, dan Ida, F. 2005. Resep Makanan Berbahan Baku Mangrove dan Pemanfaatan Nipah. Lembaga Pengembangan dan Pengkajian Mangrove.
Setyawan, A. D. 2002. Ekosistem Mangrove Sebagai Kawasan Peralihan Ekosistem Perairan Tawar dan Perairan Laut. Enviro 2 (1) : 25-40.
Sofiawan, A. 2000. Pemanfaatan Mangrove yang Berkelanjutan : Pengembangan Model-Model Silvofishery dalam Warta Konservasi lahan Basah, Vol. 9 No. 2 November 2000. Wetlands International – Indonesia. Bogor.
Supriharyono, 2009. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati. Penerbit Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Triyanto, Wijaya, N. I., Widiyanto, T., Yuniarti, I., Setiawan, F. dan Lestari, F. S.
2012. Pengembangan Silvofishery Kepiting Bakau (Scylla serrata) dalam Pemanfaatan Kawasan Mangrove di Berau. Kalimantan Timur.
Wibowo. K. 2006. Pelestarian Hutan Mangrove Melalui Pendekatan Mina Hutan (Silvofishery). Pusat Peneliti Teknologi Lingkungan. Jakarta
Yenny. 2007. Pelestarian Hutan Mangrove Melalui Silvofishery dan
Pengelolaannya. Kalimantan Barat
LAMPIRAN
Lampiran 1. Silvofishery di Desa Percut
Lampiran 2. Silvofishery di Desa Tanjung Rejo
Lampiran 3. Silvofishery di Desa Tanjung Selamat
Lampiran 4. Hasil panen pada tambak silvofishery