Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kabupaten Karawang berada di bagian utara Provinsi Jawa Barat yang secara geografis terletak pada posisi 5º56’ - 6º34’ LS dan 107º02’ - 107º40’ BT.
Secara administratif, Kabupaten Karawang mempunyai batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah utara : Laut Jawa
Sebelah selatan : Kabupaten Purwakarta Sebelah timur : Kabupaten Subang Sebelah barat : Kabupaten Bekasi
Sebelah tenggara : Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur.
Luas wilayah Kabupaten Karawang 1 753.27 km² atau 3.73% dari luas Provinsi Jawa Barat dan terbagi menjadi 30 (tiga puluh) kecamatan dengan jumlah desa sebanyak 297 dan 12 kelurahan (Karawang Dalam Angka 2012).
Kabupaten Karawang berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara sehingga secara umum kondisi fisiografi didominasi oleh daerah yang relatif datar, dengan variasi ketinggian 0–5 m diatas permukaan laut. Wilayah Kabupaten Karawang sebagian besar berupa dataran pantai yang luas, yang terhampar di bagian pantai utara dan terbentuk dari batuan sedimen yang terdiri dari bahan-bahan lepas terutama endapan laut dan aluvium vulkanik (Karawang Dalam Angka 2012).
Keadaan hidro-oceanografi Kabupaten Karawang yaitu dilalui oleh aliran sungai yang melandai ke utara. Sungai Citarum merupakan pemisah antara Kabupaten Karawang dengan Kabupaten Bekasi, sedangkan Sungai Cilamaya merupakan batas wilayah dengan Kabupaten Subang. Kabupaten Karawang mempunyai panjang pantai sekitar 84.32 km (RDTR Tanjung Baru 2003) yang membentang di sembilan wilayah kecamatan (Cilamaya Kulon, Cilamaya Wetan, Tempuran, Pedes, Cilebar, Cibuaya, Tirtajaya, Batujaya, dan Pakisjaya). Laut teritorial kabupaten sesuai Undang- Undang Otonomi Daerah seluas 4 mil dari pasang surut terendah, dengan demikian dapat diketahui luas laut keseluruhan Kabupaten Karawang adalah ± 621.27 km². Pantai Karawang termasuk ke dalam Pantai Utara yang memiliki kondisi topografi laut/batimetri yang relatif mendatar/landai. Secara umum perairan Kabupaten Karawang mempunyai kedalaman berkisar antara 0-20 meter. Pada bagian pinggir pantai mempuyai kedalaman antara 0-5 meter (Karawang Dalam Angka 2012).
Lahan di Kabupaten Karawang dibedakan menjadi lahan sawah dan lahan non-sawah, dimana lahan sawah dibagi menjadi lahan berpengairan teknis, setengah teknis dan berpengairan sederhana. Lahan non-sawah terdiri dari lahan untuk bangunan dan halaman sekitarnya, tegal/kebun/ladang/huma, padang rumput, tambak, kolam/tebet/empang, lahan yang sementara tidak diusahakan,
11 lahan untuk tanaman kayu-kayuan dan perkebunan negara/swasta. Luas seluruh lahan di Kabupaten Karawang adalah 175 327 ha dengan perincian sebagai berikut: lahan sawah seluas 94 311 ha dan lahan kering seluas 81 016 ha. Dari jumlah tersebut sebesar 33.14% digunakan untuk bangunan dan halaman sekitarnya (DCK Kabupaten Karawang 2004).
Jumlah penduduk Kabupaten Karawang pada tahun 2008 tercatat berjumlah 2 094 408 jiwa. Jumlah ini meningkat sebesar 38 939 jiwa atau 1.89%
dari tahun 2007, yang pada saat itu jumlah penduduknya berjumlah 2 055 469 jiwa. Pembagian jumlah penduduk antara pria dan wanita tidak terlalu jauh berbeda, yaitu 1 060 919 jiwa pria dan 1 033 489 jiwa wanita. Dengan demikian, sex ratio penduduk Kabupaten Karawang adalah 102.65 yang artinya penduduk laki-laki hampir sebanding dengan penduduk perempuan. Luas Kabupaten Karawang sebesar 1 759.27 km², maka dari itu kepadatan penduduk per km² sebesar 1 103 jiwa (Karawang Dalam Angka 2012).
Karakteristik Contoh
Anak sekolah merupakan aset negara yang sangat penting sebagai sumber daya manusia bagi keberhasilan pembangunan bangsa. Anak sekolah adalah anak yang berusia 7-12 tahun, memiliki fisik lebih kuat mempunyai sifat individual serta aktif dan tidak bergantung dengan orang tua. Contoh dalam penelitian ini merupakan siswa kelas 5 dan 6 SD dari enam SD yang terletak di tiga kecamatan di daerah Kabupaten Karawang. Contoh berjumlah 142 siswa dengan usia berkisar antara 9 sampai 14 tahun yang dibagi menjadi 2 kategori menurut Hurlock (2004), yaitu masa akhir kanak-kanak/late chilhood (6-12 tahun) dan masa remaja awal (13-14 tahun). Sebaran contoh berdasarkan umur, kelas dan jenis kelamin disajikan dalam Tabel 8 .
Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan umur, kelas dan jenis kelamin
Karakteristik contoh n %
Kelompok umur (th)
Kanak-kanak (9-12) 132 93.0
Remaja awal (13-14) 10 7.0
Total 142 100
Kelas
5 117 82.4
6 25 17.6
Total 142 100
Jenis Kelamin
Laki-laki 65 45.8
Perempuan 77 54.2
Total 142 100
Hampir seluruh contoh (93%) berada pada masa kanak-kanak, sedangkan (7%) contoh sudah memasuki masa remaja awal. Sebagian besar contoh (82.4%)
12
merupakan kelas 5 dan sisanya yaitu 17.6% adalah kelas 6. Contoh perempuan (54.2%) lebih banyak dibandingkan dengan contoh laki-laki (45.8%).
Karakteristik Keluarga
Selain karakteristik contoh, karakteristik keluarga yang diamati meliputi besar keluarga, tingkat pendidikan ayah dan ibu, pekerjaan ayah dan ibu, dan tingkat pendapatan keluarga.
Besar Keluarga
Besar keluarga akan mempengaruhi pengeluaran rumah tangga. Besar keluarga mempengaruhi jumlah pangan yang dikonsumsi dan pembagian ragam yang dikonsumsi dalam keluarga. Kualitas maupun kuantitas pangan secara langsung akan menentukan status gizi keluarga dan individu. Data sebaran besar/jumlah anggota keluarga dapat dilihat dalam Tabel 9. Dari tabel diketahui bahwa besar keluarga contoh umumnya tergolong kategori kecil (48.6%) dan kategori sedang (43.0%).
Tabel 9 Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga
Kategori n %
Kecil 69 48.6
Sedang 61 43.0
Besar 12 8.5
Total 142 100
Pendidikan Orang Tua
Keluarga inti terdiri atas orang tua dan anak, dimana orang tua berperan sebagai pendidik dan menjadi panutan bagi anak-anaknya. Tingkat pendidikan orangtua merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pola asuh anak termasuk pola pemberian makan, konsumsi pangan dan status gizi. Selain itu, tingkat pendidikan orang tua akan mempengaruhi kemampuan orang tua dalam mendorong dan memotivasi anaknya dalam meningkatkan prestasi belajar.
Semakin tinggi pengetahuan orangtua semakin banyak pula pengetahuan yang diberikan kepada anaknya (Agustina 2003). Berikut adalah sebaran contoh berdasarkan pendidikan orang tua.
Tabel 10 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan orang tua
Pendidikan terakhir
Ayah Ibu/pengasuh
n % n %
Tidak sekolah 15 10.6 8 5.6
Tidak tamat SD 70 49.3 80 56.3
SD 39 27.5 40 28.2
SMP 9 6.3 11 7.7
SMA 7 4.9 3 2.1
D3/PT 2 1.4 0 0
Total 142 100 142 100
13 Berdasarkan pada tabel diatas, dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan orang tua contoh pada umumnya rendah. Persentase tertinggi yaitu berada pada kategori tidak sekolah dan tidak tamat SD baik pada ayah sebanyak 59.9%
maupun ibu atau pengasuh contoh sebanyak 61.9%. Hanya sebagian kecil orang tua contoh yang mencapai jenjang pendidikan tamat SMP, SMA atau D3/Perguruan Tinggi.
Pekerjaan Orang Tua
Pekerjaan orang tua sangat berpengaruh terhadap pendapatan suatu keluarga yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan dasar anak-anaknya.
Pekerjaan orang tua contoh dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain petani, nelayan, pedagang, buruh tani, buruh nelayan, buruh non tani, wiraswasta, PNS/ABRI, Ibu Rumah Tangga (IRT), tidak bekerja dan lainnya. Sebaran pendidikan orang tua contoh dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan orang tua
Pekerjaan Ayah Ibu
n % n %
Petani 13 9.2 8 5.6
Nelayan 20 14.1 0 0
Pedagang 22 15.5 35 24.6
Buruh tani 18 12.7 10 7.0
Buruh nelayan 21 14.8 0 0.0
Buruh non tani 11 7.7 3 2.1
PNS/ABRI 1 0.7 1 0.7
Wiraswasta 10 7.0 0 0
IRT 0 0 85 59.9
Tidak bekerja 7 4.9 0 0
Lainnya 19 13.4 0 0
Total 142 100 142 100
Berdasarkan Tabel 11, diketahui bahwa jenis pekerjaan orang tua contoh beragam dan cenderung merata untuk kategori ayah, persentase tertinggi hanya sebanyak 15.5% untuk pekerjaan sebagai pedagang dan diikuti dengan selisih yang sedikit pada pekerjaan buruh nelayan (14.8%) dan nelayan (14.1%). Hal tersebut dikarenakan kondisi geografis kabupaten Karawang yang sebagian besar berupa wilayah pesisir, sehingga sangat mendukung untuk bermata pencaharian sebagai nelayan maupun pedagang hasil laut. Sedangkan untuk kategori ibu sebagian besar (59.9%) merupakan ibu rumah tangga (IRT) dan terdapat 24.6%
ibu/pengasuh contoh bekerja sebagai pedagang hasil laut.
Pendapatan per Kapita Keluarga
Pendapatan per kapita adalah jumlah penerimaan per bulan yang diperoleh setiap anggota rumah tangga, yaitu bapak, ibu atau anggota lainnya yang dinilai dalam bentuk uang (rupiah) setiap satu bulan dibagi dengan besar keluarga (Maharani 2012). Menurut Hardinsyah (1997), pendapatan menentukan daya beli
14
terhadap pangan dan fasilitas lain, seperti pendidikan, perumahan dan kesehatan.
Pendapatan merupakan indikator kesejahteraan ekonomi rumah tangga.
Tingkat kesejahteraan ekonomi keluarga diklasifikasi menurut garis kemiskinan Propinsi Jawa Barat tahun 2012, yaitu Rp242 104 (BPS Jabar 2013).
Sebaran contoh menurut pendapatan per kapita keluarga dapat dilihat pada Tabel 12 di bawah ini.
Tabel 12 Sebaran contoh berdasarkan pendapatan keluarga
Pendapatan keluarga n %
Miskin (< 1GK) 71 50.0
Hampir miskin (1GK-2GK) 36 25.4
Menengah atas (>2GK) 35 24.6
Total 142 100
Min-max (Rp) 17 143 – 4 000 000
Rataan±SD 391 991 ± 485 430
Berdasarkan tabel diatas yang menyajikan besar pendapatan keluarga di atas, sebagian dari keluarga contoh (50%) dikategorikan sebagai keluarga yang miskin karena pendapatan per kapita mereka berada di bawah angka garis kemiskinan. Pendapatan per kapita per bulan keluarga contoh berkisar antara Rp17 143 sampai Rp4 000 000 dengan rata-rata Rp392 000. Menurut Engel et al (1994) pekerjaan memiliki hubungan dengan tingkat pendidikan sehingga nantinya akan mempengaruhi sosial ekonominya. Selain itu, pendapatan suatu keluarga yang rendah akan mempengaruhi penyediaan pangan menjadi tidak beragam dan lebih mengutamakan pangan tinggi karbohidrat. Konsumsi pangan yang tidak seragam secara terus-menerus akan mempengaruhi status gizi individu dalam keluarga (Soekirman 2003).
Status Iodium
Status iodium menggambarkan tingkat iodium yang terdapat dalam tubuh, apakah tergolong kurang, cukup atau berlebih. Pengukuran status iodium dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu biokimia dan tanda-tanda klinis. Teknik Thyroid Stimulating Hormones (TSH), kadar kreatinin dalam urin, dan Ekskresi Iodium dalam Urin (EIU), termasuk ke dalam metode biokimia. Sementara itu, metode berdasarkan tanda-tanda klinis dilakukan dengan melihat secara langsung perbesaran kelenjar tiroid. Pada tingkat defisiensi awal, perbesaran kelenjar tiroid belum terlihat sehingga akan lebih tepat jika menggunakan pengukuran status iodium menggunakan metode biokimia (Achadi 2007).
Dalam penentuan status iodium, salah satu metode biokimia yang memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi yaitu mengukur ekskresi iodium dalam urin (EIU).
Hal ini dikarenakan lebih dari 90% asupan iodium yang masuk ke dalam tubuh akan diekskresikan melalui urin (Nat et al. 1992 dalam Gibson 2005). Menurut Arisman (2004), sampel urin di pagi hari atau sewaktu dalam metode EIU dapat menjadi petunjuk yang menggambarkan besaran asupan iodium harian pada suatu populasi.
15 Metode EIU merupakan metode yang banyak digunakan oleh peneliti-peneliti nasional maupun internasional. Menurut Charoensiriwatana et al. (2010) dalam penelitiannya mengenai konsumsi telur yang diperkaya iodium untuk menanggulangi masalah defisiensi iodium di Thailand, bahwa metode EIU dapat digunakan sebagai penilai yang valid dalam melaporkan asupan iodium dalam makanan, dan salah satu metode yang baik untuk memonitor situasi GAKI pada skala besar dan untuk mendukung upaya masyarakat dalam mengeliminasi kejadian GAKI. Hasil laboratorium berupa kadar ekskresi iodium dalam urin selanjutnya dikategorikan menjadi enam untuk menentukan status iodium contoh.
Berikut tabel yang menyajikan sebaran contoh menurut status iodium.
Tabel 13 Sebaran contoh menurut status Iodium Kadar Berdasarkan tabel di atas, median ekskresi iodium urin contoh yaitu berada pada status lebih dari cukup (274 µg/L). Sebagian besar (41.5 %) contoh berada pada status kelebihan (≥ 300 µg/L) dan hanya 2.8 % contoh yang memiliki status iodium defisiensi tingkat sedang. Selanjutnya diikuti dengan status iodium cukup dan lebih dari cukup.
Ekskresi iodium dalam urin contoh laki-laki paling tinggi berada pada status kelebihan (41.5%) dan terendah berada pada status defisiensi tingkat sedang (1.5%). Demikian halnya dengan contoh perempuan, dimana status iodium tertinggi yaitu berada pada status kelebihan (41.6%) dan terendah pada status defisiensi tingkat sedang (3.9%). Median EIU pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan, yaitu 293.5 µg/L pada laki-laki dan 288.8 µg/L pada perempuan. Median EIU keduanya termasuk dalam kategori status iodium lebih dari cukup (200-299 µg/L).
Iodium merupakan salah satu mineral mikro yang diperlukan tubuh dalam jumlah kurang dari 100 mg per hari. Tubuh biasanya mengandung 20 sampai 30 mg iodium, dimana lebih dari 75% berada di kelenjar tiroid dan sisanya didistribusikan ke seluruh tubuh, terutama kelenjar mamae, mukosa lambung, dan darah (Mahan dan Stump 2004). Iodium dibutuhkan oleh hormon tiroid agar dapat menjalankan fungsinya secara optimal, seperti mengatur suhu tubuh, sintesa protein, reproduksi, pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf serta fungsi neuromoskular (Almatsier 2004).
16
Iodium sangat dibutuhkan pada setiap tahap kehidupan, seperti pada saat janin, anak-anak, dewasa maupun saat kondisi fisiologis hamil. Sejalan dengan penelitian Clifton et al. (2013) pada wanita hamil di Australia selatan, dimana pemberian roti yang telah difortifikasi iodium dapat meningkatkan status iodium wanita hamil yang mengalami defisiensi yang diukur melalui EIU, namun tidak mencukupi kebutuhan iodium wanita hamil yang dianjurkan.
Sebagian besar status iodium contoh berada pada kategori lebih dari cukup, hal ini sesuai dengan keadaan geografis Kabupaten Karawang yang sebagian besar berupa wilayah pantai dan mata pencaharian sebagian besar penduduknya nelayan.
Kabupaten Karawang memiliki sumberdaya alam pangan kaya iodium seperti hasil perikanan. Kondisi geografis inilah yang mengindikasikan kebiasaan makan contoh akan hasil laut yang kaya akan iodium lebih sering dan mencukupi dibandingkan dengan kebiasaan makan masyarakat di daerah non pesisir. Namun sangat ironi, bila di daerah pesisir masih ditemukan kejadian GAKI.
Menurut Bitjoli et al. (2009), rendahnya konsumsi garam beriodium dan tingginya konsumsi makanan yang mengandung zat goitrogenik berpeluang besar berpengaruh atau menjadi penyebab terjadinya GAKI atau gondok di kawasan pesisir kabupaten Halmahera Utara. Jika konsumsi garam iodium dianggap konstan, maka konsumsi zat goitrogen akan meningkatkan peluang terjadinya gondok atau GAKI sebesar 0.010. Sebaliknya jika konsumsi zat goitrogenik dianggap konstan, maka konsumsi garam iodium akan menurunkan peluang terjadinya gondok sebesar 0.027. Hal tersebut didukung pula dengan hasil penelitian Madanijah dan Hirmawan (2007), yaitu tingkat kecukupan energi, protein, konsumsi pangan goitrogenik dan kadar iodium dalam garam yang digunakan diduga mempunyai hubungan dengan kejadian gondok pada murid SD di Kabupaten Tasikmalaya.
Perlu diperhatikan nilai EIU pada penelitian ini yang berada pada kategori kelebihan. Kelebihan iodium pada contoh dapat menyebabkan terjadinya pembesaran kelenjar gondok. Median EIU yang tinggi dapat beresiko terjadi iodine-induce hyperthyroidsm dan penyakit autoimun pada kelenjar tiroid, rentan terhadap radiasi nuklir, dan beresiko terjadi hipertiroid yang sama bahayanya dengan hipotiroid (Susiana 2011)
Status Gizi
Menurut Supariasa et al. (2001) status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu. Adapun Gibson (2005) mendefinisikan status gizi sebagai keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan (absorbsi), dan utilitas zat gizi makanan. Penilaian terhadap status gizi seseorang atau sekelompok orang akan menentukan apakah orang atau sekelompok orang tersebut memiliki status gizi yang baik atau tidak (Riyadi 2001).
Status gizi optimal dapat tercapai jika tubuh memperoleh cukup zat-zat yang digunakan secara efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja, dan kesehatan umum secara maksimal.
Baik gizi kurang maupun lebih dapat menghambat optimalisasi pencapaian hal
17 tersebut (Almatsier 2004). Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Berdasarkan hasil penelitian Amare et al. (2012), micronutrient yang berkorelasi signifikan terhadap status gizi anak-anak di sekolah Meseret, Gondar, Ethiopia yaitu mineral seng dan besi yang diukur berdasarkan indeks TB/U dan IMT/U. Pada penelitian ini, pengukuran status gizi menggunakan indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U) dan tinggi badan menurut umur (TB/U). Sebaran contoh menurut status gizi dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14 Sebaran contoh menurut status gizi
Indeks Z-skor Kategori
Jenis kelamin
Total Laki-laki Perempuan
n % n % n %
IMT/U z skor < -3 Sangat kurus 4 6.2 0 0 4 2.8 -3 ≤ z skor ≤ -2 Kurus 10 15.4 9 11.7 19 13.4 -2 ≤ z skor ≤ +1 Baik 43 66.2 58 75.3 101 71.1 +1 ≤ z skor ≤ +2 Lebih 4 6.2 9 11.7 13 9.2
z skor≥ +2 Obese 4 6.2 1 1.3 5 3.5
Total 65 100 77 100 142 100
Rata-rata ± SD -0.8 ± 1.5 -0.4 ± 1.2 -0.6 ± 1.4 TB/U z skor< -3 Sangat pendek 6 9.2 3 3.9 9 6.3
-3 ≤ z skor ≤ -2 Pendek 15 23.1 15 19.5 30 21.1 z skor ≥ -2 Normal 44 67.7 59 76.6 103 72.5
Total 65 100 77 100 142 100
Rata-rata ± SD -1.6 ± 1.1 -1.2 ± 1.1 -1.4 ± 1.1 Tabel 14 menggambarkan status gizi contoh berdasarkan indeks IMT/U dan TB/U. Pengukuran status gizi menggunakan indeks IMT/U memberikan gambaran status gizi saat ini. Status gizi pada contoh berdasarkan indeks IMT/U tertinggi (71.1%) berada pada kategori baik, dan hanya sebagian kecil (2.8%) contoh berada pada kategori sangat kurus. Berdasarkan jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan, persentase tertinggi contoh berada pada kategori normal.
Berat badan berkorelasi linier dengan tinggi badan, artinya dalam kondisi normal perkembangan berat badan akan mengikuti pertumbuhan tinggi badan pula.
Dengan demikian, berat badan yang normal akan proporsional dengan tinggi badannya. Anak-anak dan remaja merupakan kelompok usia yang masih mengalami masa pertumbuhan fisik sangat cepat seiring dengan pertambahan umur. Oleh karena itu, indikator IMT/U merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat kini, yang disesuaikan dengan umur (Supariasa et al. 2001).
Berdasarkan indeks TB/U, sebaran contoh sebagian besar (72.5%) berada pada kategori normal dan sebagian kecil (6.3%) berada pada kategori sangat pendek. Pengukuran status gizi menggunakan indeks TB/U memberikan gambaran status gizi masa lalu. Hal ini dikarenakan dalam keadaan normal, tinggi badan tumbuh bersamaan dengan bertambahnya umur. Pertambahan tinggi badan relatif kurang sensitif terhadap defisiensi zat gizi dalam waktu yang singkat.
18
Kecerdasan Kognitif
Pada usia tujuh tahun, seorang anak memasuki tahap operasional konkret, karena pada saat ini anak sudah mulai dapat berpikir lebih logis daripada tahap sebelumnya (praoperasional) sehingga telah dapat menggunakan logika untuk memecahkan masalah secara konkret (Papalia et al. 2008). Proses pematangan otak tidak terhenti pada usia 10 tahun, namun berlanjut hingga usia remaja, bahkan sampai usia 20 tahun. Pada usia 10 tahun, berat otak anak sudah mencapai 95% berat otak dewasa. Kecerdasan atau intelligence didefinisikan sebagai bentuk kemampuan seseorang dalam memperoleh pengetahuan (mempelajari dan memahami), mengaplikasikan pengetahuan (memecahkan masalah), serta berfikir abstrak (Giedd 2002).
Menurut Boeree (2003), Kecerdasan seorang anak dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor genetik, faktor gizi dan faktor lingkungan.
Faktor gizi merupakan salah satu faktor yang paling penting. Hal tersebut didukung oleh Belachew et al. (2011), yang menyatakan bahwa perkembangan kognitif dan emosional yang optimal dan fungsi fisiologi pada anak-anak dan remaja memerlukan akses makanan yang cukup dalam hal kuantitas dan kualitas pada semua tahap kehidupan.
Selain itu, menurut Gani (1984) dalam Agustina (2003), cara mengukur kecerdasan anak dapat dilakukan dengan beberapa alternatif, yaitu pengukuran langsung dan tidak langsung. Pengukuran langsung dapat dilakukan dengan psikotes yang menghasilkan taraf kecerdasan (IQ). Pengukuran tidak langsung dapat dilakukan dengan memantau prestasi belajar di sekolah.
Tingkat Intelligence Quotient (IQ)
Intelligence Quotient atau IQ adalah skor yang diperoleh dengan tes intelegensi. Kecerdasan ini diatur oleh bagian korteks otak yang dapat memberikan kemampuan untuk berhitung, beranalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi (Boeree 2003). Tinggi rendahnya IQ seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain 1) faktor genetik; 2) faktor gizi, gizi yang baik sangat penting untuk pertumbuhan sel-sel otak terutama pada saat hamil dan pada waktu bayi, dimana sel otak sedang berkembang dengan pesatnya.
Sebagian besar peneliti setuju bahwa faktor genetik bukanlah penentu utama kecerdasan. Meskipun dukungan genetik mempengaruhi intelektual seseorang, namun pengaruh lingkungan dan kesempatan yang tersedia bagi anak juga dapat mengubah skor IQ mereka secara signifikan (Santrock 2007). Telah dibuktikan dalam beberapa penelitian, bahwa anak-anak yang diberi suplemen gizi protein selama beberapa tahun, meskipun tingkat sosial ekonomi orang tuanya rendah, menunjukkan peningkatan kinerja dalam tes kecerdasan, dibandingkan dengan kelompok anak yang tidak diberikan suplemen gizi protein (Neisser et al.
1996).
Adapun tes kecerdasan yang digunakan adalah Culture Fairness Intelligence Test (CFIT) 2A. Tes CFIT disusun oleh Cattel sedemikian rupa sehingga pengaruh kelancaran verbal, kondisi budaya dan tingkat pendidikan terhadap hasil tes diperkecil. Untuk itu, dalam CFIT hanya ada gambar sebagai materi yang terdiri dari empat sub tes, yaitu subtes Seri, subtes Klasifikasi, subtes Matriks, dan subtes Persyaratan Topologi. Oleh karena itu, perbedaan tingkat
19 pendidikan contoh (kelas 5 dan 6 SD) dalam penelitian ini tidak mempengaruhi hasil tes kecerdasan (Sukadji 1983 dalam Hawadi 2002). CFIT Skala dua dimaksudkan untuk anak usia 8-14 tahun dan tes ini berfungsi untuk mengukur fluid ability yang dibawa sejak lahir atau kecerdasan hereditas. Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan sebaran contoh berdasarkan tingkat kecerdasan.
Tabel 15 Sebaran contoh menurut tingkat kecerdasan (IQ)
Skor IQ Tingkat Berdasarkan tabel tersebut, sebagian besar contoh (54.9%) berada pada kategori tingkat kecerdasan rata-rata, diikuti dengan kategori bawah rata-rata (39.4%) dan terakhir pada kategori borderline (5.6%). Tidak terdapat contoh dengan tingkat kecerdasan diatas rata-rata, superior, maupun sangat superior.
Demikian juga tidak terdapat contoh yang cacat mental. Tingkat kecerdasan untuk kategori rata-rata contoh laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan contoh perempuan, begitu juga sebaliknya untuk kategori bawah rata-rata dimana persentase pada contoh perempuan lebih tinggi disbanding dengan contoh laki-laki.
Adapun beberapa literatur yang meneliti tingkat kecerdasan anak SD, dimana salah satunya yaitu penelitian Mutalazimah dan Asyanti (2009) yang mengukur tingkat kecerdasan IQ anak SD di daerah Cangkringan, Kabupaten Sleman, didapatkan hasil bahwa sebagian besar responden yakni 66%
mempunyai IQ rata-rata, dan 34% mempunyai IQ dibawah rata-rata. Hal ini menunjukkan daerah endemis GAKI seperti di Desa Kiyaran Kecamatan Cangkringan tidak ditemukan responden yang mempunyai IQ diatas rata-rata dan yang superior.
Tingkat kecerdasan IQ pada masa anak-anak dapat mengalami naik turun, dan menjadi lebih stabil pada masa remaja dan dewasa. Menurut Azwar (1996) naik turunnya IQ pada anak disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam pendidikan, kesiapan secara emosional dalam menerima suatu pendidikan tertentu dan keadaan dalam keluarga. Perpecahan dalam keluarga sering mengakibatkan seorang anak mengalami kemunduran.
Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan cara pengukuran kecerdasan kognitif secara tidak langsung. Prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku karena memperoleh
20
pengalaman belajar berupa pengetahuan. Prestasi belajar menggambarkan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan. Untuk mengetahui seberapa jauh pengalaman belajar telah dipahami siswa, dilakukan evaluasi hasil belajar. Melalui hasil belajar diketahui pula apakah proses belajar sendiri telah
pengalaman belajar berupa pengetahuan. Prestasi belajar menggambarkan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan. Untuk mengetahui seberapa jauh pengalaman belajar telah dipahami siswa, dilakukan evaluasi hasil belajar. Melalui hasil belajar diketahui pula apakah proses belajar sendiri telah