• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil

Jenis-Jenis Lamun di Perairan Pulau Poncan Gadang

Jenis-jenis lamun yang didapatkan pada perairan Pulau Poncan Gadang, Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara adalah:

Enhalus acoroides

Gambar 8. Enhalus acoroides

Menurut Waycott, et al (2004), klasifikasi dari spesies ini sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Angiospermae Kelas : Liliopsida Ordo : Hidrocharitales Famili : Hydrocharitaceae Genus : Enhalus

Species : Enhalus acoroides

Thalassia hemprichii

Gambar 9. Thalassia hemprichii

Menurut Waycott, et al (2004), klasifikasi dari spesies ini sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Division : Angiospermae Class : Liliopsida Order : Hidrocharitales Family : Hydrocharitaceae Genus : Thalassia

Species : Thalassia hemprichii Cymodocea rotundata

Gambar 10. Cymodocea rotundata

Menurut Waycott, et al (2004), klasifikasi dari spesies ini sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Division : Angiospermae Class : Liliopsida Order : Potamogetonales Family : Potamogetonaceae Genus : Cymodocea

Species : Cymodocea rotundata Halodule uninervis

Gambar 11. Halodule uninervis

Menurut Waycott, et al (2004), klasifikasi dari spesies ini sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Division : Angiospermae Class : Liliopsida Order : Potamogetonales Family : Potamogetonaceae Genus : Halodule

Species : Halodule uninervis

Parameter Fisika-Kimia Perairan

Setiap jenis lamun memiliki kisaran parameter fisika-kimia air yang berbeda, dikarenakan faktor-faktor tersebut merupakan faktor pendukung maupun pembatas untuk hidup lamun itu sendiri. Dari hasil pengukuran parameter Fisika-Kimia air yang dilakukan di Pulau Poncan Gadang, maka hasil pengukuran parameter tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil Pengukuran Fisika-Kimia Air di Pulau Poncan Gadang

Parameter ST I ST II ST III

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 1 Desember 2018 di Pulau Poncan Gadang, didapatkan hasil persentase tutupan lamun pada stasiun I adalah 36,54%, persentase tutupan lamun pada stasiun II adalah 25,57%, dan persentase tutupan lamun pada stasiun III adalah 54,17% dengan rata-rata persentase tutupan lamun satu lokasi/pulau adalah 38,76%. Hasil keseluruhan persentase tutupan lamun dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Persentase Tutupan Lamun di Pulau Poncan Gadang

Tutupan Lamun per Jenis pada Satu Lokasi/Pulau

Pada stasiun I ditemukan dua jenis lamun yaitu Enhalus acoroides dengan persentase tutupan 2,27% dan Thalassia hemprichii dengan persentase tutupan 34,28%. Pada stasiun II ditemukan dua jenis lamun yaitu Halodule uninervis dengan persentase tutupan 22,16% dan Cymodocea rotundata dengan persentase tutupan 3,41%. Pada stasiun III ditemukan dua jenis lamun yaitu Enhalus acoroides dengan persentase tutupan 29,17% dan Thalassia hemprichii dengan persentase tutupan 25,00%. Hasil dari keseluruhan Penutupan lamun per jenis dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil Tutupan Lamun per Jenis di Pulau Poncan Gadang

Lokasi

Rata-rata 10.480000 19.763330 7.386667 1.136667

Kerapatan Lamun

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan kerapatan lamun pada stasiun I dari jenis Enhalus acoroides adalah 5 ind/m2 dan pada jenis Thalassia hemprichii

adalah 99 ind/m2. Pada stasiun II, kerapatan dari jenis Halodule uninervis adalah 76 ind/m2 dan pada jenis Cymodocea rotundata adalah 24 ind/m2 . Pada stasiun III kerapatan dari jenis Enhalus acoroides adalah 69 ind/m2 dan pada jenis Thalassia hemprichii adalah 64 ind/m2. Hasil dari keseluruhan kerapatan lamun dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Hasil Kerapatan Lamun di Pulau Poncan Gadang

Lokasi

Kerapatan Lamun Ind/m²

Ea Th Hu Cr

Stasiun I 5 99 0 0

Stasiun II 0 0 76 24

Stasiun III 69 64 0 0

Rata-rata 24 54 25 8

Pola Pemencaran

Pola pemencaran lamun dapat ditentukan dengan Indeks Dispersi Morista yang hasilnya akan mengelompok atau seragam. Pada jenis Enhalus acoroides hasil penghitungan indeks morista nya adalah -0,06085 yang berarti seragam, pada jenis Thalassia hemprichii adalah -0,10073 yang berarti seragam, pada jenis Halodule uninervis adalah 0,49742 yang berarti seragam, dan pada jenis Cymodocea rotundata adalah 0,17896 yang berarti seragam. Hasil pola pemencaran dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil Pola Pemencaran Lamun di Pulau Poncan Gadang

Spesies iD Pola Pemencaran

Enhalus acoroides -0,06085 Seragam

Thalassia hemprichii -0,10073 Seragam

Halodule uninervis 0,49742 Seragam

Cymodocea rotundata 0,17896 Seragam

Pembahasan

Jenis-Jenis Lamun di Perairan Pulau Poncan Gadang Enhalus acoroides

Tumbuhan ini memiliki daun yang panjang dan bentuknya seperti pita, mempunyai rimpang yang tebal, dan memiliki akar serabut hitam.

Thalassia hempricii

Thalassia hempricii memiliki bentuk daun seperti selendang (strap-like) yang muncul dari stem yang tegak lurus dan penutup penuh oleh sarung daun (leaf sheath). Ujung daun tumpul dan bergerigi tajam. Rhizoma tebal dengan node scar yang jelas, biasanya berbentuk segitiga dengan Ieaf sheath yang keras (Waycott et al., 2004).

Cymodocea rotundata

Cymodocea rotundata memiliki kantong daun yang tertutup penuh dengan daun muda, kadang-kadang berwarna gelap, daun biasanya muncul dari vertical stem, ujung yang halus dan bulat. Bijinya berwarna gelap dengan punggung yang menonjol (Waycott et al., 2004).

Halodule uninervis

Halodule uninervis memiliki ujung daun yang berbentuk trisula dan runcing, terdiri dari 1-3 urat halus yang jelas kelihatan, memiliki sarung serat dan biasanya berwarna putih dengan serat-serat berwarna hitam kecil pada nodes-nya.

Lebar dan panjang daunnya masing-masing 0.2 – 4 mm dan 5 – 25 cm (Waycott et al., 2004).

Parameter Fisika-Kimia Perairan

Dari hasil pengukuran kedalaman, stasiun I memiliki kedalaman 70 cm, stasiun II kedalamannya 51 cm, dan stasiun III kedalamannya 53 cm yang termasuk dalam perairan dangkal. Dengan kondisi di lapangan yg kedalamannya bertambah dan mencapai lebih dari dua meter ujung garis transek, diperlukan alat scuba diving untuk mempermudah pengambilan data di lapangan. Sesuai dengan Wisnubudi dan Wahyuningsih (2014), ekosistem lamun atau seagrass merupakan salah satu ekosistem laut dangkal yang mempunyai peranan penting bagi kehidupan di laut serta merupakan salah satu ekosistem yang paling produktif, ekosistem lamun memiliki berbagai fungsi penting dan belum begitu banyak dikenal dan diperhatikan bila dibandingkan dengan ekosistem pesisir lainnya seperti rawa payau, hutan mangrove dan terumbu karang.

Kecerahan yang didapat pada semua stasiun adalah 100%, dikarenakan perairan pesisir pulau yang terlihat jernih dan sinar matahari menembus hingga dasar perairan pada ekosistem lamun di lapangan. Menurut Simon et al., (2013) Perairan pesisir merupakan lingkungan yang memperoleh sinar matahari cukup yang dapat menembus sampai ke dasar perairan. Di perairan ini juga kaya akan

unsur hara karena mendapat pasokan dari dua tempat yaitu darat dan lautan sehingga merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya. Karena lingkungan yang sangat mendukung di perairan pesisir maka tumbuhan lamun dapat hidup dan berkembang secara optimal.

Hasil dari pengukuran suhu pada stasiun I adalah 28ᴼC, stasiun II dan III memiliki suhu perairan yang sama yaitu 30ᴼC. Stasiun I memiliki suhu yang lebih rendah karena dilakukan pengamatan pada pagi hari dengan cuaca yang tidak begitu terik, sementara stasiun II dan III dilakukan pengambilan data pada saat siang hari dan cuaca yang panas terik. Menurut Hutomo (1999), suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran unsur hara. Perubahan suhu terhadap kehidupan lamun, antara lain dapat mempengaruhi unsur hara , penyerapan unsur hara dan kelangsungan hidup lamun. Pada kisaran suhu 25 – 30°C, fotosintesis akan meningkat dengan meningkatnya suhu. Demikian juga respirasi lamun meningkat dengan meningkatnya suhu, namun dengan kisaran yang lebih luas yaitu 5-35°C .

Salinitas pada stasiun I memiliki nilai 30 ppt, pada stasiun II memiliki nilai 29 ppt, dan pada stasiun III memiliki nilai 28 ppt. Menurut Supriharyono (2007), menyatakan bahwa fase pembungaan tumbuhan lamun kisaran salinitas yang baik adalah antara 28-32 ppt.

Setelah dilakukannya pengukuran kecepatan arus, stasiun I memiliki nilai 0,1 m/det, pada stasiun II memiliki nilai 0,6 m/det, dan pada stasiun III adalah 0,2 m/det. Pada stasiun II kecepatan arus lebih tinggi karena perairannya langsung menghadap kearah laut lepas, sementara stasiun II dan III perairannya lebih mengarah ke daratan Kota Sibolga. Menurut Dahuri (2001), pada padang lamun,

kecepatan arus mempunyai pengaruh yang sangat nyata. Produktivitas padang lamun tampak dari pengaruh keadaan kecepatan arus perairan, dimana mempunyai kemampuan maksimum menghasilkan “ Standing Crop” pada saat kecepatan arus sekitar 0, 5 m/det.

Nilai kandungan oksigen terlarut pada tiap stasiun memiliki nilai yang beragam, pada satsiun I memiliki nilai DO 5,6 ppt, pada stasiun II 5,2 ppt dan pada stasiun III adalah 6,0 ppt. Menurut Felisberto et al.,(2015), Nilai kandungan oksigen terlarut (DO) perairan padang lamun selalu berfluktuasi. Berfluktuasinya kandungan oksigen terlarut disuatu perairan diduga disebabkan pemakaian oksigen terlarut oleh lamun untuk respirasi akar dan rimpang, respirasi biota air dan pemakaian oleh bakteri nitrifikasi dalam proses siklus nitrogen dipadang lamun.

Derajat keasaman (pH) sangat berpengaruh pada ekosistem lamun. Hasil dari pengukuran pH pada stasiun I adalah 7,11,pada stasiun II adalah 7,82, dan pada stasiun III adalah senilai 7,46, dimana nilai tersebut masih sesuai dalam baku mutu air laut yang normal. Sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 Tentang Baku Mutu Air Laut, bahwa derajat keasaman (pH) baku mutu air laut untuk biota laut normal adalah senilai 7 – 8.5.

Ini menunjukan bahwa lokasi penelitian masih memiliki pH yang baik untuk pertubuhan lamun.

Substrat merupakan faktor yang mempengaruhi tumbuhnya berbagai jenis lamun pada lokasi perairan. Berdasarkan hasil uji di Laboratorium Riset Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, didapatkan hasil uji substrat pada seluruh stasiun penelitian adalah substrat pasir. Hal tersebut sesuai dengan Newmaster et

al.,(2011) menyatakan bahwa lamun menyukai substrat berlumpur, berpasir, tanah liat, ataupun substrat dengan patahan karang serta pada celah-celah batu, sehingga tidak heran lamun juga masih dapat ditemukan di ekosistem karang maupun mangrove.

Tutupan dan Kerapatan Lamun Tutupan Lamun

Tutupan lamun pada Pulau Poncan Gadang, Kecamatan Sibolga Kota Kota Sibolga Sumatera Utara adalah rata-rata 38,76% dengan stasiun I sebesar 36,54%

stasiun II sebesar 25,57% dan stasiun III sebesar 54,17% yang termasuk dalam kategori tutupan lamun “Sedang” (26-50). Menurut COREMAP-LIPI (2014), Persentase tutupan (%) 0 – 25 termasuk dalam katergori jarang, 26-50 termasuk dalam kategori sedang, 51-75 termasuk dalam kategori padat dan 76-100 termasuk dalam kategori sangat padat.

Jenis lamun Enhalus acoroides ditemukan pada lokasi stasiun I dan III, dan tidak ditemukan pada stasiun II. Nilai tutupan Enhalus acoroides pada stasiun I hanya 2,27% yang disebabkan karena ditemukan tumbuh dalam keadaan berpencar dan membentuk kelompok-kelompok kecil , stasiun II dengan 0%

karena tidak ditemukan lamun jenis ini pada plot transek, dan pada stasiun III dengan tutupan paling luas yaitu 29,17%, dengan rata-rata tutupan sebesar 10,48%. Menurut Vermaat (1995), nilai penjalaran rimpang Enhalus acoroides, yaitu 5,3 cm/tahun. Nilai penjalaran rimpang Thalassia hemprichii yaitu 20,6 cm/tahun dan nilai penjalaran rimpang Cymodocea rotundata yaitu 33,9 cm/tahun.

Lamun jenis Thalassia hemprichii ditemukan pada stasiun I dengan nilai tutupan sebesar 34,29% dan pada stasiun III dengan nilai tutupan sebesar 25,00%.

Lamun jenis ini memiliki nilai rata-rata tutupan yang paling besar dari antara jenis lamun lain yang ditemukan pada lokasi pulau yaitu sebesar 19,76%. Hal ini berkaitan dengan Vermaat (1995), dimana nilai penjalaran rimpang Enhalus acoroides, yaitu 5,3 cm/tahun. Nilai penjalaran rimpang Thalassia hemprichii yaitu 20,6 cm/tahun dan nilai penjalaran rimpang Cymodocea rotundata yaitu 33,9 cm/tahun.

Lamun dengan jenis Halodule uninervis dan Cymodocea rotundata hanya ditemukan pada lokasi stasiun II, dimana nilai kepadatan Halodule uninervis sebesar 22,16% dengan rata-rata penutupan sebesar 7,38%, dan Cymodocea rotundata sebesar 3,41% dengan rata-rata penutupan yaitu sebesar 1,13%. Kedua jenis lamun ini memiliki nilai penutupan yang rendah karena memiliki ukuran panjang dan lebar daun yang tergolong sempit berada pada lingkungan yang berarus deras dan sedikit keruh serta lokasi ini banyak ditumbuhi oleh beberapa jenis makroalga yang memiliki ukuran yang besar serta tumbuh dengan tutupan yang luas di lokasi stasiun II. Menurut Kasim (2013), persentase penutupan lamun menggambarkan luas lamun yang menutupi suatu perairan, dimana tinggi penutupan tidak selamanya linear dengan tingginya kerapatan jenis. Hal ini dipengaruhi pengamatan penutupan yang diamati adalah helaian daun, sedangkan kerapatan yang dilihat adalah jumlah tegakan lamun. Makin lebar ukuran panjang dan lebar daun lamun maka semakin besar menutupi substrat dasar perairan.

Kerapatan Lamun

Untuk mendapatkan nilai kerapatan lamun yaitu dari jumlah individu per meter pada petak transek ketika menganbil data tutupan lamun pada lokasi penelitian. Kerapatan lamun dari jenis Enhalus acoroides pada stasiun I adalah 5 ind/m2, stasiun II 0 ind/m2 dan pada stasiun III adalah 69 ind/m2 dengan kerapatan rata-rata 24 ind/m2. Enhalus acoroides terdapat pada stasiun I dan Stasiun III yang merupakan daerah yang landai, berarus tenang, substrat berpasir. Menurut Romimohtarto dan Juwana, (2001), Enhalus acoroides adalah tumbuhan lamun yang banyak terdapat di bawah air surut rata-rata pada pasut purnama pada dasar pasir lumpuran.Mereka tumbuh subur pada tempat yang terlindung dipinggir bawah dari mintakat pasut dan di batas atas mintakat bawah-litoral.

Jenis lamun Thalassia hemprichii memiliki kerapatan yang paling besar diantara jenis lainnya di lokasi ini. Thalassia hemprichii ditemukan pada stasiun I dengan kerapatan 99 ind/m2, dan pada stasiun III ditemukan dengan kerapatan 64 ind/m2, dan tidak ditemukan pada stasiun II. Kerapatan rata-rata dari lamun jenis ini yaitu 54 ind/m2. Pada lokasi penelitian ini jenis Thalassia hemprichii tumbuh berdampingan dengan jenis Enhalus acoroides yang tumbuh subur di daerah landai dan bersubstrat pasir, hal ini sesuai dengan Arifin, (2001) yang menyatakan bahwa lamun Thalassia hemprichi ditemukan melimpah pada substrat pasir hingga pecahan-pecahan karang.

Halodule uninervis ditemukan hanya pada stasiun II dengan kerapatan 76 ind/m2, dengan kerapatan rata-rata 25 ind/m2. Begitu pula dengan Cymodocea rotundata yang hanya ditemukan pada stasiun II dengan kerapatan 24 ind/m2, dan rata-rata kerapatan 8 ind/m2. Kedua jenis ini ditemukan sedikit dan hanya ada

pada satu stasiun dikarenakan berada pada perairan yang kurang cocok dengan pertumbuhannya, beberapa diantara penyebabnya yaitu arus yang tergolong deras, perairan yang sedikit keruh dikarenakan didominasi oleh hamparan makroalga di stasiun ini, dan termasuk bentuk morfologi kedua jenis ini yang umumnya tergolong kecil dibandingkan jenis lamun lainnya.

Hal ini sesuai dengan Arifin, (2001), yang menyatakan bahwa lamun Cymodocea spp mampu tumbuh pada berbagai substrat mulai dari kisaran liat berlumpur hingga pecahan karang yang kasar, pada lingkungan tenang dan substrat berpasir lamun ini membentuk padang monospesifik yang luas dan padat.

Halodule spp umumnya ditemukan pada substrat lumpur atau pasir kalkaeuse berukuran halus.

Pola Pemencaran Lamun

Pola pemencaran lamun pada semua jenis lamun yang didapat pada seluruh stasiun adalah seragam dengan nilai id Enhalus acoroides sebesar -0,06085, Thalassia hemprichiisebesar -0,10073, Halodule uninervis sebesar 0,49742, Cymodocea rotundata sebesar 0,17896 yang merupakan pola pemencaran yang seragam. Menurut Crawley (1986) pola sebaran seragam artinya jarak antara individu dengan individu lain pada jenis yang sama dalam satu wilayah adalah sama atau hampir sama. Selain itu Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii membentuk hamparan. Menurut Azkab (2006), untuk perairan tropis seperti Indonesia padang lamun lebih dominan tumbuh dengan koloni yang terdiri dari beberapa jenis (mix species) pada suatu kawasan tertentu.

Rekomendasi Pengelolaan Padang Lamun

Rekomendasi yang bisa penulis berikan adalah dilakukan penelitian dan monitoring padang lamun lebih berlanjut dan berkala, termasuk perlindungan melalui pemantauan di Pulau Poncan Gadang untuk ditetapkan menjadi lokasi konservasi ekosistem padang lamun. Selain itu perlu menjaga ekosistem lamun yang berguna bagi biota disana.

Upaya yang bisa dilakukan adalah melalukan monitoring terhadap ekosistem lamun di Pulau Poncan Gadang pada setiap tahunnya untuk menjaga kelestariannya dan melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat setempat betapa pentingnya ekosistem lamun tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, lamun di Pulau Poncan Gadang tergolong sedang, maka perlu dilakukan transpalantasi lamun dan dilakukan penelitian lanjutan.

Dokumen terkait