• Tidak ada hasil yang ditemukan

Total Mikroba pada Sampel Produk MP-ASI

Total mikroba pada bahan pangan umumnya mengindikasikan praktek sanitasi yang diterapkan dalam suatu kegiatan proses produksi, transportasi dan penyimpanan pangan (ACT Health, 2006). Analisis total mikroba pada sampel dilakukan untuk mengetahui mutu mikrobiologi sampel produk MP-ASI (bubuk instan). Mutu mikrobiologi pangan perlu diketahui untuk melihat tingkat cemaran mikroba pada produk pangan tersebut, sehingga dapat diketahui risiko keamanannya apabila dikonsumsi.

Gambar 5. Total mikroba produk MP-ASI setelah preparasi dengan menggunakan suhu air preparasi 30⁰C , dilakukan sebanyak 3 kali ulangan.

Dari Gambar 5. di atas, dapat dilihat bahwa total mikroba pada produk MP-ASI setelah preparasi dengan menggunakan suhu air preparasi 30⁰C. Hal tersebut menunjukkan bahwa produk MP-ASI dapat menjadi sumber makanan yang baik bagi pertumbuhan mikroba. Berdasarkan Gambar 5. produk CR (I dan II) memiliki Angka Lempeng Total (ALT) yang lebih rendah dibandingkan

produk yang lain (α = 0,05). Total mikroba yang tinggi pada bahan pangan 2,36 2,53 1,08 1,12 2,08 2,39 0,80 1,05 1,30 1,55 1,80 2,05 2,30 2,55 PR I PR II CR I CR II SN I SN II T o ta l M ik ro b a ( lo g c fu /g )

mengindikasikan masalah kualitas mikrobiologi yang selalu dikaitkan dengan praktek sanitasi dan hygiene yang diterapkan.

Komposisi MP-ASI bubuk instan dibuat dari salah satu atau campuran bahan-bahan berikut ini : serealia (misalnya beras, jagung, gandum, sorgum, barley, oats, rye, millet, buckwheat), umbi-umbian (misalnya ubi jalar, ubi kayu, garut, kentang, gembili), bahan berpati (misalnya sagu, pati, aren), kacang-kacangan (misalnya kacang hijau, kacang merah, kacang tunggak, kacang dara), biji-bijian yang mengandung minyak (misalnya kedelai, kacang tanah, wijen), susu, ikan, daging, unggas, dan buah. Pada penelitian ini komposisi dari sampel yang di analisa dibuat seragam dengan harapan komposisi dari MP-ASI tidak akan mempengaruhi hasil akhir mikroorganisme yang diperoleh.

Berdasarkan SNI 01-7111.1-2005 tentang Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) bubuk instan (bagian 1), yang mencantumkan batas cemaran maksimun mikroba untuk angka lempeng total sebesar 1.0 x 104 koloni/g dan FSANZ (2001), yang mencantumkan standar TPC (Total Plate Count) untuk produk MP-ASI adalah n=5, c=2, m=1.0x104 dan M=1.0x105, artinya maksimal 2 sampel dari 5 sampel yang dianalisis boleh mengandung total mikroba 1.0x104 – 1.0x105 CFU/g, maka dapat ditarik kesimpulan awal bahwa sampel MP-ASI (bubuk instan) yang diteliti memenuhi syarat TPC yang ditetapkan oleh FSANZ maupun SNI. Hasil perhitungan yang terlihat pada Gambar 5. rata-rata jumlah mikroba yang terdapat pada sampel MP-ASI bubuk instan berada dibawah 1.0 x 104

Adanya mikroba ini disebabkan karena penggunaan bahan baku yang tidak steril atau rekontaminasi selama proses pencampuran dan pengemasan. Berdasarkan keterangan yang tercantum pada label kemasan, komposisi MP-ASI terdiri dari susu skim bubuk, beras merah, kacang hijau, kacang kedelai, minyak kelapa sawit, pengemulsi lesitin kedelai, vanili, vitamin dan mineral. Bahan-bahan tersebut di pabrik dicampur secara kering (dry mix). Proses pencampuran secara kering tersebut tidak menggunakan panas, sehingga berisiko terkontaminasi mikroba.

log CFU/g.

Air sangat penting untuk kehidupan bakteri terutama karena bakteri hanya dapat mengambil makanan dari luar dalam bentuk larutan (holophytis). Semua

bakteri tumbuh baik pada media yang basah dan udara yang lembab. Dan tidak dapat tumbuh pada media yang kering. Mikroorganisme mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi diatas 85%, sedang untuk jamur diperlukan kelembaban yang rendah dibawah 80%. Kadar air bebas didalam larutan merupakan nilai perbandingan antar tekanan uap air larutan dengan tekanan uap air murni, atau 1/100 dari kelembaban relatif. Nilai kadar air bebas didalam larutan untuk bakteri pada umumnya terletak diantara 0,90 sampai 0,999 sedang untuk bakteri halofilik mendekati 0,75. Banyak mikroorganisme yang tahan hidup didalam keadaan kering untuk waktu yang lama seperti dalam bentuk spora. Kadar air untuk masing-masing sampel MP-ASI, berkisar mulai dari 1.86 – 4.95 % dan Aw mulai dari 0.17 – 0.36, yang ditujukan pada Tabel 7.

Tabel 7. Kadar air dalam persen dan Aw produk MP-ASI Sampel Kadar air (%) Aw

PR I PR II SN I SN II CR I CR II 4.95 4.46 4.07 3.44 1.86 1.88 033 0.31 0.34 0.36 0.20 0.17

Pengaruh Suhu Air Preparasi terhadap Total Mikroba pada Sampel Produk MP-ASI

Suhu air preparasi yang digunakan untuk melarutkan sampel MP-ASI menghasilkan total mikroba yang berbeda-beda untuk tiap sampel yang dianalisa, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Total mikroba produk MP-ASI, setelah preparasi dengan 2 (70°C dan 90°C)suhu yang berbeda, dilakukan sebanyak 3 kali ulangan

Total mikroba untuk pelarutan MP-ASI menggunakan suhu air preparasi 70⁰C menghasilkan koloni rata-rata sebesar 1.54 CFU/g dengan standar deviasi sebesar 0.92, dan pelarutan MP-ASI menggunakan suhu air 90⁰C menghasilkan koloni rata-rata sebesar 1.47 CFU/g dengan standar deviasi sebesar 0.86. Koloni bakteri yang tumbuh mempunyai berbagai macam bentuk dan ukuran yang merupakan hasil biakan murni maupun yang bukan, seperti yang terlihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Berbagai bentuk dan ukuran koloni pada media PCA

Pada perlakuan pelarutan MP-ASI menggunakan suhu air preparasi 70⁰C dan 90⁰C, dari 6 sampel yang dianalisa ada 1 sampel yang tidak ditemukan koloni

2,12 2,35 0,87 0,00 1,76 2,14 2,00 2,17 0,86 0,00 1,72 2,04 0,00 0,35 0,70 1,05 1,40 1,75 2,10 2,45 PR I PR II CR I CR II SN I SN II T o ta l K o lo n i M ik ro b a ( lo g c fu /g )

Jenis Produk MP-ASI

bakteri yaitu untuk sampel CR II, sedangkan pada perlakuan pelarutan MP-ASI menggunakan suhu air preparasi 30⁰C pada 6 sampel yang dianalisis tersebut ditemukan sejumlah koloni bakteri dengan bentuk dan ukuran yang beragam. Hal ini mengindikasikan bahwa suhu air preparasi yang digunakan untuk pelarutan MP-ASI memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberadaan dan jumlah koloni bakteri yang terdapat pada MP-ASI bubuk instan tersebut (α = 0,05).

Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa sampel MP-ASI produk CR II menghasilkan jumlah log cfu/g paling kecil dan berbeda nyata terhadap sampel MP-ASI produk PR I, PR II, CR I, SN I dan SN II, tetapi sampel MP-ASI produk PR I dan SN II tidak menunjukkan beda nyata dan SN II tidak berbeda nyata dengan produk PR II. Sampel MP-ASI CR I dan SN I juga menunjukkan beda nyata dengan sampel CR II, PR I, PR II, dan SN II. Sampel produk PR II menghasilkan jumlah log cfu/g paling besar.

Perlakuan suhu air preparasi yang digunakan untuk melarutkan sampel MP-ASI menunjukkan hasil pengamatan yang berbeda nyata untuk perlakuan suhu air preparasi MP-ASI bubuk instan, dimana pada pelakuan suhu air preparasi 30⁰C menghasilkan jumlah koloni yang tinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan suhu air preparasi 70⁰C dan 90⁰C, sedangkan perlakuan suhu air preparasi 70⁰C dan 90⁰C tidak berbeda nyata dalam hal jumlah koloni mikroba

(α=0.05) pada analisa total plate count. Hal ini disebabkan karena suhu air yang digunakan pada saat melarutkan MP-ASI mampu mengeliminasi sejumlah kecil mikroba yang ada didalam produk MP-ASI sehingga total koloni yang diperoleh pada suhu air 70⁰C dan 90⁰C tersebut kecil (tidak berbeda nyata). Hal ini dikarenakan mikroba pada umumnya tidak tahan terhadap suhu tinggi dan suhu optimum yang digunakan untuk pertumbuhan mikroba sekitar ± 37o

Berdasarkan hasil total koloni yang diperoleh pada penelitian dapat dikatakan bahwa suhu air preparasi yang digunakan untuk proses pelarutan MP-ASI menunjukkan pengaruh yang signifikan (beda nyata) dengan jumlah mikroorganisme yang ada didalam sampel MP-ASI. Suhu air preparasi yang disarankan untuk mengurangi atau mengeliminasi sebagian mikroorganisme yang ada didalam produk MP-ASI adalah suhu 70⁰C, hal ini sesuai dengan saran penyajian yang tertera pada kemasan produk dan sesuai juga dengan WHO

(2004), menyatakan bahwa penggunaan air matang suhu 70⁰C untuk melarutkan susu formula dapat menekan kontaminan E. sakazakii hingga 4 log.

Komposisi MP-ASI memegang peranan yang penting dalam hal keberadaan mikrooganisme dalam produk. Komposisi MP-ASI yang kompleks sangat menguntungkan mikrooganisme yang ada didalam produk, karena mikrooganisme dapat menggunakan nutrisi yang ada untuk melakukan berkembangbiak. Selain komposisi MP-ASI yang kompleks, suhu air yang digunakan saat pelarutan MP-ASI juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan mikroorganisme dalam produk. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikrooganisme dalam produk pangan, yaitu faktor yang berasal dari produk itu sendiri seperti nutrisi, aw, pH, potensi reaksi redoks, struktur dinding sel (biologi) dan antimikroba. Sedangkan faktor yang berasal dari luar produk seperti RH (kelembaban), suhu lingkungan dan ketersediaan oksigen (O2

Pertumbuhan mikroorganisme pada umumnya tergantung pada kondisi bahan makanan dan juga lingkungan. Apabila kondisi makanan dan lingkungan cocok untuk mikroorganisme tersebut, maka mikroorganisme akan tumbuh dengan waktu yang relatif singkat dan sempurna.

).

Kandungan Bacillus cereus pada Sampel Produk MP-ASI

Untuk memastikan keamanan mikrobiologi MP-ASI bubuk instan, maka produk MP-ASI dilakukan pengujian terhadap cemaran mikroba yang lebih spesifik terutama cemaran mikroba yang sifatnya patogen pada manusia, yaitu pengujian terhadap keberadaan bakteri Bacillus cereus. Bakteri ini mampu membentuk spora pada kondisi lingkungan yang ekstrim dan mampu menyebabkan gangguan sakit pada manusia terutama pada saluran pencernaan. Spora bakteri Bacillus cereus lebih tahan dari bentuk sel vegetatifnya terhadap pemanasan, kekeringan, bahan pengawet makanan dan pengaruh lingkungan lainnya. Selain itu, spora Bacillus cereus sering ditemukan pada makanan seperti susu, sereal, rempah-rempah dan makanan lainnya, juga sering ditemukan pada permukaan daging yang kemungkinan disebabkan adanya kontaminasi dengan debu atau tanah setelah proses pemotongan hewan (Soejoedono, 2002).

Sampel yang telah diuji total plate count, kemudian dilanjutkan kembali dengan pengujian pada media MYPA, yang merupakan media selektif untuk pertumbuhan Bacillus cereus. MYPA mengandung mannitol yang tidak dapat difermentasi oleh B. cereus, namun oleh beberapa bakteri lain (misalnya B.subtilis

dan S. aureus) dapat difermentasi. Penambahan kuning telur dapat memperjelas koloni tipikal B. cereus sebab kuning telur memiliki lesitin dan B. cereus

menghasilkan enzim fosfatidilkolin hidrolase, fosfolipase C yang menghidrolisis lesitin. Dengan begitu, koloni tipikal B. cereus akan mendegradasi lesitin yang terlihat sebagai zona presipitasi di sekeliling koloni (Schraft dan Griffiths, 1995). Polymyxin B juga ditambahkan pada MYPA untuk menghambat pertumbuhan bakteri Gram negatif. Koloni bakteri yang tumbuh pada media MYPA diduga sebagai koloni Bacillus cereus, seperti yang terlihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Pertumbuhan isolat Bacillus cereus dari MP-ASI pada media agar MYP

Hasil analisis cemaran Bacillus cereus produk MP-ASI yang diuji dapat dilihat pada Gambar 9. Berdasarkan Gambar 9 diketahui bahwa jumlah total

Bacillus cereus pada sampel MP-ASI yang beredar di pasar Indonesia, berkisar antara 1.73 CFU/g sampai 2.06 CFU/g, sehingga diperoleh rata-rata jumlah total

Bacillus cereus sebesar 1.23 CFU/g dengan nilai standar deviasi sebesar 0.02.

Gambar 9. Jumlah koloni Bacillus cereus pada produk MP-ASI, setelah di preparasi dengan suhu 70 ⁰C

Hasil analisis cemaran Bacillus cereus menunjukkan bahwa ada 2 sampel MP-ASI yang tidak mengandung Bacillus cereus. Berdasarkan ketentuan FSANZ (2001), kandungan Bacillus cereus untuk produk susu formula dan makanan bayi yang berbahan susu maksimal sebesar 1,0x102

Hasil total Bacillus cereus dari 6 sampel yang dianalisa tersebut ternyata tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Purwanti (2009), yang menyatakan bahwa total jumlah koloni mikroba aerob (Bacillus cereus) pada sampel makanan tambahan pemulihan (MT-P) sebesar 1.2 x 10

CFU/g produk. Jika dilihat dari ketentuan tersebut maka Bacillus cereus yang ada pada produk MP-ASI yang diteliti masih dalam batas wajar dan dapat dikatakan aman untuk dikonsumsi dan didistribusikan.

2

log CFU/g. Mikroba yang ditemukan dalam MP-ASI dan MT-P merupakan indikasi bahwa MP-ASI dan MT-P yang berbahan susu bubuk bukan bahan pangan yang steril. Hasil penelitian ini setara dengan penelitian dari Herdiana (2007), terhadap susu skim bubuk impor yang masuk ke Indonesia dari Australia, Denmark, New Zealand dan Jerman dengan jumlah total mikroba aerob masing-masing 3.1 x 10 CFU/g; 6.2 x 10 CFU/g; 7.9 x 10 CFU/g dan 6.2 x 10 CFU/g. Menurut EFSA (2004) jumlah mikroba aerob pada akhir pembuatan susu bubuk sampai dengan 5.0 x 102 CFU/g dianggap sebagai keadaan yang wajar dan masih diperbolehkan.

1,84 2,06 0 0 1,73 1,78 0 0,5 1 1,5 2 2,5 PR I PR II CR I CR II SN I SN II T o ta l B a ci ll u s ce re u s (L o g C F U /g)

Kewaspadaan tetap harus diperhatikan mengingat 4 sampel yang diuji tersebut mengandung Bacillus cereus, dimana Bacillus cereus mampu membentuk enterotoksin yang dapat membahayakan kesehatan, terutama anak-anak atau balita yang memiliki sistem imun terbatas (umumnya berbahaya bagi bayi yang lahir prematur dan balita penderita gizi buruk). Berdasarkan hasil penelitian Granum et al., (1993), di Norwegia menemukan Bacillus cereus yang diisolasi dari produk susu dimana dari 85 strain Bacillus cereus ternyata 59% merupakan Bacillus cereus yang mampu menghasilkan enterotoksigenik. Dari hasil penelitian tersebut industri pangan harus waspada jika jumlah Bacillus cereus didalam produk yang dihasilkan mencapai 103-104 CFU/g atau ml, karena mampu menyebabkan keracunan jika memakan produk yang mengandung sel vegetatif atau spora

Bacillus cereus lebih dari 102 log CFU/g (Aas et al., 1992).

Produk susu kering dan makanan bayi sering diketahui terkontaminasi oleh bakteri Bacillus cereus. Hasil penelitian membuktikan bahwa adanya cemaran

Bacillus cereus didalam makanan bayi, dimana dari 261 sampel yang telah didistribusikan ke-17 negara ternyata 54% dari sampel tersebut positif terkontaminasi bakteri Bacillus cereus dengan kandungan Bacillus cereus dalam produk sebesar 0,3-600/g. Sampel yang di teliti tersebut, ketika diklasifikasikan menjadi berbagai jenis produk, ternyata sekitar 50% sampel berasal dari susu formula dan makanan penyapihan (infant food) dan 50% sampel berasal dari makanan yang biasa dikonsumsi oleh orang yang melakukan program diet, dimana komposisi penyusun makanan tersebut adalah protein kedelai. Sebuah studi menunjukkan bahwa konsentrasi B. cereus dari 103-105/g dapat menyebabkan penyakit pada bayi atau individu yang berusia dan lemah, meskipun ini jarang terjadi

Bacillus cereus merupakan salah satu bakteri patogen penyebab penyakit karena makanan (foodborne diseases). Bacillus cereus merupakan bakteri gram positif berbentuk batang besar (>0,9 µm) dengan ukuran panjang sel 3-5 mikron dan lebarnya 1 mikron, membentuk spora, aerobik fakultatif, motil dan non motil, umumnya ditemukan didalam tanah, material tanaman, jerami kering, makanan mentah dan matang, serta mampu membentuk enterotoksin komplek. Bakteri ini menghasilkan spora yang berbentuk elips dan terletak ditengah-tengah sel. Spora

hanya terbentuk bila terdapat oksigen dilingkungan sekitar (aerob fakultatif).

Bacillus cereus termasuk salah satu organisme mesofilik yaitu dapat tumbuh pada suhu optimal 30-35

Enterotoksin terdiri atas protein dengan berat molekul antara 35-50 kDa, diproduksi selama fase pertumbuhan logaritmik di usus (Harmon et al., 1992; Granum dan Lund, 1997; Jay, 2000). Bacillus cereus mampu tumbuh pada suhu 4-50

C (Blackburn and McClure, 2002).

C, dengan suhu optimum 30-40C (ICMSF, 1996). Waktu regenerasi sel

vegetatif pada suhu 30C adalah 26-57 menit, pada suhu 35C adalah 18-27 menit (Kramer and Gilbert, 1989). Rentang minimum aktivitas air untuk pertumbuhan sel vegetatif adalah 0.91-0.95 (Jenson and Moir, 1997). Spora Bacillus cereus

lebih tahan terhadap panas kering dibandingkan dengan panas lembab. Spora

Bacillus cereus dapat bertahan untuk waktu yang lama di produk kering (FSANZ, 2003).

Bacillus cereus yang memproduksi toksin cereulide diisolasi dari makanan bayi komersial yang dipilih secara acak, dimana produksi toksin cereulide dalam formula makanan bayi yang diteliti. Makanan bayi tersebut telah diinokulasi dengan ≥ 105 log CFU/ml Bacillus cereus yang kemudian dilarutkan, hasil menunjukkan bahwa Bacillus cereus mampu memproduksi toksin cereulide

sekitar 2-200 μg per 100 ml toksin cereulide pada makanan bayi yang proses penyimpanan dibiarkan di suhu ruang selama 4 jam. Makanan bayi dan susu formula yang komposisinya mengandung sereal dan susu, merupakan media yang paling mendukung untuk pertumbuhan Bacillus cereus terutama yang memproduksi toksin cereulide. Toksin cereulide yang terakumulasi dalam makanan tersebut, dipengaruhi oleh komposisi penyusun dari makanan bayi serta adanya kesalahan yang terjadi saat penanganan makanan tersebut (proses produksi)

B. cereus tumbuh cepat apabila substratnya mengandung karbohidrat. Sedangkan bila substratnya tidak mengandung karbohidrat, pertumbuhannya akan sangat lambat dan tidak dapat membentuk toksin. B. cereus dapat tumbuh secara baik pada media yang mengandung 0.025 M glukosa dan mencapai maksimum setelah 4.5 jam. Produksi toksin terjadi selama pertumbuhan logaritmik, dan mencapai maksimum sampai glukosa di dalam medium habis dipecah oleh bakteri

tersebut. Galur B. cereus yang bersifat patogenik digolongkan ke dalam bakteri penyebab intoksikasi dan dapat dibedakan atas dua grup berdasarkan sifat patogeniknya, yaitu galur penyebab diare dan galur penyebab muntah. Galur penyebab diare yang memproduksi enterotoksin dapat tumbuh pada berbagai pangan dan mempunyai waktu inkubasi sejak tertelan sampai timbulnya gejala intoksikasi berkisar antara 8-16 jam. Galur yang memproduksi toksin emetik mempunyai masa inkubasi lebih pendek, sekitar 1-5 jam (Supardi dan Sukamto, 1999).

Setelah diamati perubahan di MYP agar, koloni yang berwarna pink dan memiliki zona keruh di sekelilingnya digores ke dalam media TSA. Selanjutnya, dilakukan uji konfirmasi yang meliputi pewarnaan gram, pewarnaan spora, uji katalase dan uji motilitas terhadap isolat bakteri tersebut.

Uji konfirmasi yang pertama kali dilakukan terhadap koloni yang diduga sebagai koloni Bacillus cereus adalah pewarnaan gram. Pewarnaan gram dilakukan untuk mengetahui morfologi dan jenis bakteri yang dianalisis. Bacillus cereus merupakan bakteri gram positif yang berbentuk batang. Hasil pewarnaan gram terhadap Bacillus cereus (Gambar 10) menunjukkan warna ungu yang mengindikasikan bahwa Bacillus cereus merupakan bakteri gram positif.

Gambar 10. Hasil perwarnaan gram terhadap bakteri yang diduga Bacillus cereus

pada pembesaran 1000x

Beberapa jenis bakteri gram positif, terutama bakteri patogen mempunyai kemampuan untuk bertahan terhadap kondisi yang kurang maupun yang tidak menguntungkan bagi bakteri tersebut. Kemampuan bertahan pada kondisi ekstrim ini menyebabkan bakteri dapat membentuk endospora. Proses sporulasi diawali

saat sel vegetatif mengeluarkan sumber nutrisinya secara bertahap. Pada kondisi yang memungkinkan sel tersebut bertumbuh, maka spora akan bergerminasi dan kembali menjadi sel vegetatifnya. Endospora mengandung sedikit sitoplasma, materi genetik, dan ribosom. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tersebut tahan terhadap kekeringan, radiasi cahaya, suhu tinggi dan zat kimia. Hal ini terkait dengan kemampuan bakteri tersebut dalam mentransfer penyakit dari inang yang satu ke inang yang lainnya.

Dua bakteri patogen penting yang mampu membentuk endospora adalah

Bacillus dan Clostridium. Bacillus cereus merupakan bakteri penghasil spora. Uji konfirmasi setelah perwarnaan gram adalah proses pewarnaan spora. Pewarnaan spora pada sel vegetatif Bacillus cereus ditunjukkan dengan warna merah dan pada spora ditunjukkan warna hijau seperti terlihat pada Gambar 11. Sebanyak 4 sampel yang diduga positif Bacillus cereus tersebut menunjukkan bahwa 100% isolat tersebut merupakan gram positif dan memiliki spora sehingga dapat dikatakan 100% sampel MP-ASI mengandung Bacillus cereus.

Gambar 11. Hasil pewarnaan spora terhadap bakteri Bacillus cereus pada pembesaran 1000x

Uji biokimiawi selanjutnya yang dilakukan terhadap 4 isolat Bacillus cereus yang diperoleh dari 4 sampel yang dianalisa selain uji pewarnaan gram dan pewarnaan spora juga dilakukan uji katalase dan uji motilitas. Uji motilitas yang dilakukan terhadap 4 isolat menunjukkan bahwa isolat yang diperoleh bersifat tidak motil, yang ditandai dengan tidak adanya tipe pertumbuhan yang terjadi disepanjang garis tusukan di dalam media SIM seperti yang ditunjukan pada

Spora

Gambar 12. Sedangkan mikroba yang motil akan tumbuh secara difusi menjauhi garis tusukan tersebut.

Gambar 12. Tipe pertumbuhan pada medium motilitas setelah diinokulasi dengan isolat Bacillus cereus

Uji katalase juga dilakukan terhadap 4 isolat yang diperoleh dari 4 sampel yang diduga positif mengandung Bacillus cereus, uji katalase dilakukan dengan menambahkan larutan 3% H2O2, isolat bakteri yang memiliki enzim katalase akan menunjukkan adanya gelembung udara di sekitar koloni seperti yang ditunjukan pada Gambar 13. Menurut Jay (2000), uji katalase membuktikan adanya enzim katalase dari isolat yang berfungsi dalam penguraian H2O2.

Gambar 13. Adanya gelembung udara menunjukkan Bacillus cereus katalase positif.

Faktor utama yang diduga dapat memungkinkan terjadi kontaminasi

Bacillus cereus yang ada didalam produk MP-ASI berasal dari bahan baku yang digunakan (dalam hal ini susu dan beras), faktor lain yang memungkinkan

Garis tusukan

terjadinya kontaminasi cemaran Bacillus cereus dapat berasal dari lingkungan, kontak dengan tangan pekerja baik yang menggunakan sarung tangan maupun yang tidak menggunakan, penanganan pangan yang dilakukan oleh orang yang sakit atau pembawa patogen, kebersihan peralatan pengolahan yang kurang baik, penyimpanan dalam lingkungan yang telah terkontaminasi (contohnya : ruang stok bahan baku). Pengolahan susu segar menjadi susu bubuk yang nantinya akan digunakan untuk formulasi produk makanan bayi dan balita ternyata tidak dapat mengeliminasi keberadaan spora dari kelompok Bacillus. Susu segar tersebut dikontaminasi oleh Bacillus cereus sesaat setelah proses pemerasan susu, dimana susu tersebut dibiarkan terbuka dan terpapar udara serta debu.

Bacillus cereus biasanya terdapat di dalam susu, daging, rempah-rempah dan sereal. Pangan yang mengandung lebih dari 10

Makanan bayi yang mengandung bahan-bahan sereal dan susu adalah yang paling mendukung untuk produksi Bacillus cereus cereulide.

4

-105 sel atau spora per gram tidak aman untuk dikonsumsi karena dosis infeksi diperkirakan berkisar antara 105-108

Komposisi MP-ASI bubuk instan dibuat dari salah satu atau campuran bahan-bahan berikut ini : serealia (misalnya beras, jagung, gandum, sorgum, barley, oats, rye, millet, buckwheat), umbi-umbian (misalnya ubi jalar, ubi kayu,

Dokumen terkait