Karakteristik Sosial Ekonomi Pemilik Rumah Kost Tempat Tinggal Pemilik Rumah Kost
Dari hasil pengumpulan data di lapangan dapat diketahui bahwa sebagian besar pemilik rumah kost tidak tinggal di tempat yang sama dengan penyewa kost. Ada yang tinggal dalam satu rumah tetapi dengan tembok/sekat terpisah dan ada pula yang tinggal dengan bangunan rumah yang terpisah satu sama lain. Sebagian besar penyewa rumah kost lebih memilih untuk tinggal terpisah dengan pemilik rumah kost dengan alasan lebih bebas mengatur kehidupan rumah tangga sendiri.
Pemilik rumah kost yang tergolong dalam ukuran besar sebagian besar tinggal di luar daerah pemukiman rumah kost. Pemilik rumah kost tinggal di sekitar kota Bogor bahkan ada yang tinggal di luar kota Bogor seperti Jakarta, Bandung, Tangerang dan daerah lainnya. Pemilik rumah kost biasanya mengunjungi rumah kost pada waktu tertentu saja, setiap minggu atau setiap bulan sekali. Selain itu, terdapat pemilik rumah kost yang datang hanya pada tahun ajaran baru karena ada pergantian penghuni, pembayaran sewa rumah kost dan jika terdapat masalah-masalah penting yang berkaitan dengan rumah kost.
Untuk menggantikan perannya sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap rumah kost, pemilik rumah kost biasanya menugaskan seorang penjaga rumah kost. Tugas dari penjaga kost yaitu mengurus rumah kost setiap harinya seperti kebersihan sekitar rumah kost, pembayaran listrik, air serta mengatasi masalah-masalah kecil yang masih dapat ditangani oleh penjaga rumah kost. Untuk memberikan kenyamanan kepada penyewa dan penjaga kost, pemilik memberikan ruangan khusus kepada penjaga kost yang terpisah dari penyewa kost. Penjaga kost diberi kebebasan untuk tidak bekerja penuh selama 24 jam sehingga mereka dapat melakukan pekerjaan lain untuk menambah pendapatan karena pendapatan sebagai penjaga kost tidak terlalu besar.
Pemilik rumah kost sedang (jumlah kamar 10-20) sebagian besar tinggal terpisah dari penyewa kost. Berbeda dengan rumah kost besar, pemilik rumah kost tidak menugaskan penjaga untuk menggantikan tanggung jawabnya. Hal ini dikarenakan jumlah kamar yang disewakan tidak terlalu banyak dan adanya biaya
tambahan yang harus dikeluarkan untuk menggaji penjaga kost. Sebagai gantinya, pemilik kost memberi kepercayaan kepada salah satu penghuni yang bertanggung jawab untuk mengkoordinasi penghuni lain dalam mengurus rumah kost.
Tempat tinggal pemilik rumah kost kecil dibedakan menjadi dua kategori yaitu tinggal dalam satu rumah dan tinggal berbeda rumah dengan penyewa rumah kost. Pemilik dan penyewa yang tinggal dalam satu rumah terbagi dalam dua kategori yaitu tinggal dalam satu rumah tanpa atau dengan dinding penyekat. Tanpa dinding penyekat artinya kehidupan rumah tangga mereka benar-benar menyatu satu sama lain. Sedangkan dengan dinding penyekat artinya kehidupan rumah tangga mereka terpisah dan masing-masing berhak menentukan kehidupan rumah tangganya sendiri. Dinding penyekat dapat diartikan dalam satu lantai atau berbeda lantai, misalnya pemilik rumah kost di lantai bawah dan penyewa rumah kost tinggal di lantai atas.
Selain itu, ada pula pemilik rumah kost kecil yang tinggal berbeda rumah dengan penyewa. Pemilik tinggal di sebelah rumah kost, dalam satu RT, dalam satu RW, dalam satu desa/kelurahan, berbeda desa/kelurahan bahkan ada pula yang tinggal di luar pemukiman rumah kost. Sebagian besar pemilik memilih tinggal di pinggiran desa/kelurahan dan menyewakan atau menjual rumah yang berada di sekitar kampus dengan harga yang mahal. Kondisi tersebut merupakan salah satu faktor yang menyebabkan sebagian besar pemilik rumah kost merupakan pendatang dari luar kawasan pemukiman rumah kost.
Pekerjaan Pemilik Rumah Kost
Pekerjaan pemilik rumah kost dapat mempengaruhi jenis rumah kost yang mereka miliki. Menurut Sumarwan (2003) status pekerjaan akan menentukan kelas sosial seseorang dan sangat menentukan pendapatan seseorang. Hal tersebut dapat mempengaruhi biaya yang dikeluarkan oleh pemilik rumah kost untuk membangun dan menyediakan fasilitas dalam rumah kost. Jenis pekerjaan pemilik kost pada 3 kategori rumah kost disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Prosentase pemilik rumah kost berdasarkan pekerjaan
Pekerjaan Babakan Balumbang Jaya
Kecil Sedang Besar Kecil Sedang Besar
Buruh 11,63% 4,55% Dosen 2,33% 20% 9,09% 14,29% Peg. Swasta 11.63% 4,55% 14,29% 50% Wiraswasta 48,84% 40% 20% 45,45% 28,57% 25% Pengusaha 2,33% 20% Pensiunan 9,30% 10% 20% 9,09% 25% PNS 9,30% 30% 18,18% 28,57% TNI 40% Penghulu 4,55% Dokter gigi 14,29% Tidak kerja 4,65% 4,55%
Dari Tabel 10 dapat diketahui bahwa secara keseluruhan pemilik rumah kost kecil sebagian besar bekerja sebagai wiraswasta. Berdasarkan pengamatan di lapangan pemilik rumah kost kecil sebagian besar bermatapencaharian sebagai pedagang di sekitar kampus Institit Pertanian Bogor. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pedagang makanan seperti warung nasi dan toko klontong kecil. Mereka menyewakan seluruh atau sebagian rumah untuk menambah pendapatan rumah tangga karena pendapatan sebagai pedagang tidak tetap setiap bulannya.
Pemilik rumah kost kecil cenderung lebih beragam dibandingkan rumah kost sedang dan besar, hal tersebut terjadi karena setiap strata ekonomi mempunyai kesempatan untuk memiliki rumah kost kecil. Biaya yang dikeluarkan untuk membangun rumah kost kecil tidak terlalu besar dan dapat memanfaatkan sebagian bangunan rumah untuk dijadikan rumah kost.
Pemilik rumah kost kecil di Desa Babakan yang bermatapencaharian sebagai buruh dan pegawai swasta memiliki presentase terbesar kedua setelah wiraswasta yaitu sebesar 11,63%. Masing-masing ada yang bekerja sebagai petani, pertukangan, buruh harian dan salesman. Akan tetapi lahan yang tersedia di Desa Babakan sangat terbatas sehingga profesi sebagai petani hanya sebagian kecil saja.
Pemilik rumah kost kecil ada pula yang bekerja sebagai PNS dan pensiunan dengan prosentase masing-masing sebesar 9,33%. Gaji pegawai negeri yang relatif kecil membuat mereka mencari penghasilan tambahan dengan
membangun rumah kost. Alasan lain yakni membangun rumah kost merupakan investasi jangka panjang sehingga dapat menjamin kehidupan masa tua pada saat pensiun. Pemilik rumah kost yang tidak bekerja biasanya merupakan kepala rumah tangga wanita yang suaminya sudah meninggal dunia. Untuk menghidupi keluarga, mereka menyewakan sebagian rumahnya sebagai tempat kost.
Pada umumnya pemilik rumah kost sedang bermatapencaharian sebagai wiraswasta, PNS dan dosen. Selain itu ada pula yang bekerja sebagai pegawai swasta, pensiunan dan dokter gigi. Dengan demikian dapat diketahui bahwa pemilik rumah kost sedang tergolong kelas ekonomi menengah ke atas.
Pemilik rumah kost besar berprofesi sebagai pegawai swasta, pengusaha, pensiunan, TNI dan wiraswasta. Pemilik rumah kost besar tergolong kelas ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan rumah kost kecil dan sedang. Hal tersebut terkait dengan biaya yang dikeluarkan untuk membangun rumah kost yang lebih besar dibandingkan tipe rumah kost lain. Biaya tersebut mencakup biaya pembelian tanah, pengadaan tanah dan penyediaan fasilitas rumah kost.
Pendapatan Pemilik Rumah Kost
Pendapatan pemilik rumah kost merupakan pendapatan yang diperoleh pemilik dari rumah kost yang disewakan dan yang diperoleh dari sumber lain setiap bulannya. Pendapatan yang diterima tidak hanya berasal dari satu orang melainkan dari seluruh anggota keluarga yang bekerja. Besarnya pendapatan pemilik berbeda-beda tergantung jumlah orang yang bekerja dan jenis pekerjaan yang dimiliki anggota rumah tangga.
Dari hasil pengumpulan data di lapangan dapat diketahui bahwa sebagian besar pemilik rumah kost merasa keberatan memberikan keterangan tentang pendapatan. Hal ini terjadi karena mereka menganggap pendapatan keluarga bersifat pribadi, pendapatan yang tidak menentu setiap bulannya dan sebagian besar pemilik rumah kost tidak tinggal bersama dengan penyewa kost. Keadaan tersebut sesuai dengan pernyataan Sumarwan (2003) bahwa konsumen merasa tidak nyaman jika harus mengungkapkan pendapatan yang diterimanya, dan sebagian merasa bahwa pendapatan adalah suatu hal yang bersifat pribadi sehingga sangat sensitif jika diberitahukan kepada orang lain.
Karakteristik Sosial Ekonomi Penghuni Rumah Kost
Sebagai konsumen rumah kost, penghuni rumah kost sangat menentukan besarnya konsumsi kayu pada setiap rumah kost. Konsumsi kayu pada rumah kost dipengaruhi oleh jumlah dan keadaan sosial ekonomi penghuni rumah kost .
Dari hasil pengumpulan data di lapangan dapat diketahui bahwa penghuni rumah kost mempunyai karakteristik sosial ekonomi yang beragam. Karakteristik sosial ekonomi penghuni dapat terlihat dari besarnya uang saku atau biaya hidup penghuni selama satu bulan yang disajikan pada Tabel 11. Biaya hidup merupakan suatu indikator yang dapat menentukan status ekonomi seseorang. Selain biaya hidup, keadaan sosial ekonomi penghuni rumah kost dapat diukur dengan pekerjaan orang tua. Pekerjaan orang tua dijadikan indikator karena sebagian besar penyewa rumah kost belum mempunyai penghasilan sehingga seluruh biaya hidup berasal orang tua.
Besarnya biaya hidup per bulan penghuni rumah kost kost kecil sangat beragam mulai dari Rp. 100.000,- sampai dengan Rp. 800.000,- dan sebagian besar berkisar antara Rp. 300.000,- sampai Rp. 500.000,-. Keberagaman biaya hidup pada penghuni rumah kost kecil mencerminkan bahwa semakin terjangkaunya biaya sewa rumah kost maka konsumen dari setiap strata ekonomi dapat menikmatinya. Sebagian besar pekerjaan orang tua penghuni rumah kost kecil yakni pegawai negeri sipil (PNS) dan wiraswasta, sisanya bekerja sebagai pegawai swasta, petani, pensiunan dan TNI.
Tabel 11. Biaya hidup penghuni per bulan
Besarnya biaya hidup (Rp/bulan) Tipe rumah kost
Kecil Sedang Besar 100.000-300.000 9,09%
300.000-500.000 50,91% 40% 22,22%
500.000-800.000 36,36% 53,33% 55,56%
800.000-1.000.000 3,64% 6,67% 22,22%
Biaya hidup per bulan penghuni rumah kost sedang dan besar adalah Rp. 300.000,- sampai Rp. 1.000.000,- dan sebagian besar berkisar antara Rp. 500.000,- sampai Rp. 800.000,-. Akan tetapi pada rumah kost besar penghuni rumah kost dengan biaya hidup antara Rp. 800.000,- sampai Rp. 1.000.000,- lebih
banyak dibandingkan penghuni rumah kost sedang yaitu sebesar 22,22%. Selain itu, jumlah penghuni dengan biaya hidup yang berkisar antara Rp. 300.000,- sampai Rp. 500.000,- pada rumah kost besar lebih kecil dibandingkan pada rumah kost sedang.
Sebagian besar orang tua dari penghuni rumah kost sedang bekerja sebagai PNS dan sisanya wiraswasta dan petani. Sedangkan pekerjaan orang tua dari penghuni rumah kost besar cenderung seragam yaitu PNS, wiraswasta, pensiunan dan pegawai swasta. Dengan demikian dapat diketahui bahwa penghuni rumah kost besar memiliki keadaan ekonomi yang lebih tinggi dari penghuni rumah kost kecil dan sedang. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Sumarwan (2003) bahwa status pekerjaan akan menentukan kelas sosial seseorang.
Tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan pokok setiap orang selain makanan dan pakaian. Kebutuhan seseorang terhadap tempat tinggal/rumah dapat berbeda satu dengan yang lainnya tergantung dari selera individu. Konsumen rumah kost mempunyai berbagai macam alasan (Tabel 12) dalam memilih rumah kost yang akan dihuni.
Tabel 12. Alasan penghuni dalam pemilihan rumah kost
Alasan memilih rumah kost Prosentase
Murah 5% Nyaman 33,75% Strategis 1,75% Murah-nyaman 13,75% Murah-strategis 1,25% Nyaman-strategis 7,50% Murah-nyaman-strategis 21,25%
Dari Tabel 12 dapat diketahui terdapat beberapa alasan pemilihan tempat kost oleh konsumen. Alasan yang mereka kemukakan antara lain faktor kenyamanan, harga dan lokasi rumah kost. Sebagian besar penghuni kost memilih tempat kost dengan alasan kenyamanan. Menurut Anonim (2005) syarat tempat kost yang baik yaitu lingkungan yang aman, nyaman dan tidak terlalu ramai. Kondisi rumah kost yang ramai dapat mengganggu kegiatan belajar, mempersiapkan kuliah, praktikum ataupun ujian.
Kenyamanan merupakan faktor yang sangat penting karena rumah kost dapat dijadikan tempat melakukan berbagai kegiatan seperti belajar, istirahat, bersosialisasi dan kegiatan pribadi lainnya. Mahasiswa membutuhkan tempat yang kondusif untuk belajar sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan baik.
Bagi konsumen lain pemilihan rumah kost tidak hanya alasan kenyamanan melainkan terdapat faktor lain yang harus diperhatikan yaitu harga sewa dan lokasi rumah kost. Rumah kost dapat dikatakan ideal apabila memenuhi ketiga persyaratan di atas.
Harga sewa rumah kost merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih rumah kost. Menurut Sumarwan (2003) untuk sebagian besar konsumen Indonesia yang berpendapatan rendah, maka harga adalah utama yang dipertimbangkan dalam memilih produk maupun jasa. Selain harga, faktor lain yang menjadi pertimbangan konsumen yaitu lokasi rumah kost dari berbagai fasilitas seperti kampus, rental komputer, transportasi dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Berbagai fasilitas yang tersedia tersebut diharapkan dapat mendukung keberhasilan proses belajar.
Harga dan lokasi rumah kost merupakan dua faktor yang saling mempengaruhi, semakin jauh lokasi rumah kost dengan berbagai fasilitas umum maka harga sewa yang ditawarkan semakin murah. Harga sewa rumah kost yang terletak di Desa Babakan cenderung lebih mahal dibandingkan rumah kost yang berada di Kelurahan Balumbang Jaya. Di Desa Babakan pun terdapat perbedaan, rumah kost yang berada di sekitar kampus yaitu daerah Babakan Raya, Babakan Tengah dan Babakan Doneng mempunyai harga sewa yang lebih mahal dibandingkan daerah lain walaupun masih dalam satu desa.
Konsumsi Kayu Rumah Kost
Konsumsi kayu pada rumah kost meliputi kayu untuk perumahan dan perabot rumah tangga. Volume kayu untuk perumahan dihitung berdasarkan luas bangunan rumah kost yang ditentukan dengan bantuan ahli bangunan rumah. Sedangkan volume perabot rumah tangga ditentukan berdasarkan volume standar tiap jenis barang (Lampiran 1). Besarnya kayu yang dikonsumsi pada setiap jenis rumah kost disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13. Konsumsi kayu berdasarkan luas bangunan rumah
No Jenis rumah kost Jumlah
Konsumsi kayu/luas rumah (m3/m2)
Total Per rumah kost
1 Kecil 66 4,2673 0,0647
2 Sedang 17 0,9607 0,0565
3 Besar 9 0,4942 0,0549
4 Keseluruhan 92 5,7222 0,0622
Tabel 14. Konsumsi kayu perkakas per rumah per tahun
No Jenis rumah
kost
Konsumsi kayu per rumah (m³) Umur pakai kayu (tahun) Konsumsi kayu per rumah per tahun (m³/tahun)
Konstruksi Furniture Total Konstruksi Furniture Konstruksi Furniture Total
1 Kecil 6,2736 1,1217 7,3953 20 10 0,3137 0,1122 0,4258
2 Sedang 11,2433 2,2627 13,5059 20 10 0,5622 0,2263 0,7884
3 Besar 23,4486 5,2592 28,7078 20 10 1,1724 0,5259 1,6983
4 Keseluruhan 8,8721 1,7373 10,6093 20 10 0,4436 0,1737 0,6173
Tabel 15. Konsumsi kayu perkakas per kapita per tahun
No Jenis rumah
kost
Konsumsi kayu per rumah per tahun (m³/tahun)
Jumlah penghuni
rata-rata (jiwa)
Konsumsi kayu per kapita per tahun (m³/kapita/tahun)
Konstruksi Furniture Total Konstruksi Furniture Total
1 Kecil 0,3137 0,1122 0,4258 8 0,0392 0,0140 0,0532
2 Sedang 0,5622 0,2263 0,7884 18 0,0312 0,0126 0,0438
3 Besar 1,1724 0,5259 1,6983 37 0,0317 0,0142 0,0459
Ukuran dan bentuk rumah kost dapat mempengaruhi besarnya konsumsi kayu terutama untuk kebutuhan konstruksi rumah. Berdasarkan data pada tabel 13 dapat diketahui bahwa semakin besar ukuran rumah maka konsumsi kayu per m2 semakin kecil. Apabila diperhitungkan berdasarkan ukuran rumah secara keseluruhan maka semakin besar ukuran bangunan rumah semakin besar pula kayu yang dikonsumsi. Keadaan ini sesuai dengan pernyataan Jamali et.al, (1997) bahwa semakin besar tipe rumah yang dibuat maka kebutuhan kayu semakin besar.
Konsumsi kayu per m2 dapat digunakan untuk mengetahui besarnya konsumsi kayu pada suatu rumah kost. Konsumsi kayu pada suatu bangunan rumah merupakan hasil perkalian antara konsumsi kayu per m2 dengan luas bangunan rumah. Konsumsi kayu per m2 digunakan apabila luas rumah kost mendekati luas rumah kost rata-rata untuk masing-masing tipe rumah kost dengan penggunaan furniture yang cenderung seragam. Konsumsi kayu pada rumah kost yang memiliki ukuran bangunan di atas atau di bawah rata-rata (data pencilan) tidak dapat ditentukan menggunakan konsumsi kayu per m2 karena hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan.
Dari tabel 13 dapat diketahui bahwa rumah kost sedang dan besar memiliki perbedaan yang tidak terlalu besar. Hal ini diakibatkan banyak ukuran bangunan rumah kost besar yang hampir sama dengan rumah kost sedang. Selain itu, sebagian besar rumah kost besar terdiri dari satu lantai sehingga ukuran bangunan hampir sama dengan rumah kost sedang.
Untuk menjamin ketersediaan kayu di masa yang akan datang maka perlu diketahui konsumsi kayu setiap tahun dan keawetan (umur pakai) kayu yang digunakan. Besarnya konsumsi kayu setiap tahun dapat dihitung dengan cara membagi jumlah kayu yang dikonsumsi dengan umur pakai kayu yang digunakan. Pada penelitian ini, umur pakai ditentukan dengan menggunakan pedoman kelas awet kayu Oey Djoen Seng (1951) dalam Martawijaya, et.al (1981), wawancara dengan ahli pertukangan serta pedagang matrial dan berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Christiani (2004).
Pada umumnya penggunaan kayu untuk bahan konstruksi rumah kost terdiri dari beberapa jenis kayu. Jenis kayu yang banyak digunakan antara lain
kayu Meranti (Shorea spp), Kamper (Dryobalanops spp) dan sebagian kecil kayu Mahoni (Swietenia spp), Sengon (Paraserianthes falcataria). Hal ini sesuai dengan pernyataan Daryadi (2001) bahwa jenis kayu Meranti dan Kamper biasa digunakan sebagai kayu konstruksi karena sifat keawetannya yang baik dan mudah dalam pengerjaan. Selain itu, menurut Nugroho (1998) jenis kayu yang diperdagangkan dan dikonsumsi sebagai bahan konstruksi sangat beragam, pada umumnya dikenal dengan nama perdagangan misalnya jenis Meranti dan Kamper. Berdasarkan jenis kayu yang banyak digunakan pada rumah kost maka dapat ditentukan umur pakai kayu berdasakan jenis kayu dan pedoman penentuan keawetan kayu yang telah disebutkan sebelumnya. Umur pakai untuk kayu konstruksi yaitu selama ±20 tahun.
Selain digunakan untuk bahan konstruksi, kayu dapat digunakan untuk pembuatan perabot rumah tangga. Hal ini sejalan dengan pernyataan Malik (2003) bahwa tingkat penggunaan kayu masih dominan sebagai bahan baku furnitur yaitu sebesar 60%. Untuk pembuatan perabot rumah tangga pada rumah kost, kayu yang banyak digunakan yaitu kayu Sengon (Paraserianthes falcataria). Berdasarkan jenis dan keawetan kayu yang digunakan untuk perabot rumah tangga maka umur pakai ditetapkan ±10 tahun.
Konsumsi kayu untuk setiap tipe rumah ditentukan dengan membagi total konsumsi kayu pada masing-masing tipe rumah kost dengan jumlah rumah kost. Total konsumsi kayu pada rumah kost kecil adalah sebesar 6,2736 m³ untuk konstruksi dan 1,1217 m³ untuk furniture. Sedangkan pada rumah kost sedang sebesar 11,2433 m³ untuk konstruksi dan 2,2627 m³ untuk furniture. Sesuai dengan ukurannya, rumah kost besar mengkonsumsi kayu paling banyak yaitu sebesar 23,4486 m³ untuk konstruksi dan 5,2592 m³ untuk furniture.
Untuk mengetahui besarnya persediaan kayu di masa yang akan datang maka perlu diketahui konsumsi kayu setiap tahunnya. Konsumsi kayu per rumah per tahun dapat ditentukan dengan cara membagi total konsumsi kayu per rumah dengan umur pakai kayu. Dari Tabel 14 dapat diketahui besarnya konsumsi kayu pada rumah kost kecil yaitu sebesar 0,4258 m³/tahun, pada rumah kost sedang sebesar 0,7884 m³/tahun dan pada rumah kost besar 1,6983 m³/tahun. Secara keseluruhan besarnya konsumsi kayu untuk konstruksi adalah sebesar 0,4436
m³/tahun dan untuk furniture sebesar 0,1737 m³/tahun dengan konsumsi kayu total per rumah per tahun sebesar 0,6173 m³/tahun.
Informasi mengenai besarnya konsumsi kayu per rumah per tahun dapat digunakan untuk mengetahui volume kayu yang dibutuhkan di masa yang akan datang. Baik pada saat rumah tersebut direnovasi atau pada saat dilakukan perubahan terhadap seluruh komponen rumah. Dalam suatu pemukiman, kegiatan perenovasian rumah akan terus menerus terjadi dari waktu ke waktu secara kontinyu. Dimana setiap rumah dalam pemukiman tersebut akan mengalami proses renovasi secara bergiliran dan menyebar secara acak sampai akhirnya akan mengalami penggantian total sesuai umur pakai kayu yaitu selama 20 tahun.
Selain menentukan besarnya konsumsi kayu, tipe rumah kost dapat pula menentukan banyaknya penghuni dalam rumah tersebut. Semakin besar ukuran rumah kost maka semakin banyak penghuni yang tinggal dalam rumah kost tersebut. Dari Tabel 15 dapat diketahui bahwa jumlah penghuni rata-rata pada setiap rumah kost yaitu 8 jiwa pada rumah kost kecil, 18 jiwa pada rumah kost sedang dan 37 jiwa pada rumah kost besar.
Akan tetapi terdapat beberapa keadaan di lapangan yang tidak sesuai dengan rincian di atas. Hal tersebut terjadi karena semakin banyaknya jumlah rumah kost yang tidak diimbangi dengan jumlah konsumen rumah kost. Sejak tahun ajaran 2005/2006 jumlah konsumen rumah kost menurun akibat kepindahan mahasiswa Diploma III. Bagi pemilik rumah kost yang tidak mampu bersaing, keadaan ini akan merugikan karena mereka akan kehilangan konsumen. Untuk mengatasinya, pemilik rumah kost perlu melakukan upaya perbaikan terhadap fasilitas yang disediakan dengan harga pasaran yang sesuai.
Berdasarkan jumlah penghuni rata-rata tiap tipe rumah kost maka dapat diketahui besarnya konsumsi kayu per kapita per tahun. Secara keseluruhan besarnya konsumsi kayu per kapita adalah 0,0475 m3/kapita/tahun. Konsumsi kayu per kapita per tahun merupakan besarnya kayu yang digunakan oleh setiap individu dalam satu tahun. Konsumsi diartikan sebagai pemakaian kayu yang menyebabkan pengurangan/penyusutan umur pakai kayu. Apabila kayu dikonsumsi secara terus menerus maka pada suatu saat umur pakai kayu akan habis sehingga perlu dilakukan penggantian terhadap kayu yang dikonsumsi.
Konsumsi kayu per kapita per tahun dapat digunakan untuk mengetahui besarnya kayu yang dikonsumsi pada suatu daerah berdasarkan besarnya populasi pada daerah tersebut.
Konsumsi kayu per kapita per tahun pada rumah kost kecil paling besar diantara tipe rumah kost lain. Hal tersebut terjadi karena banyaknya jumlah kamar pada rumah kost sedang dan besar yang tidak sebanding dengan banyaknya penghuni sehingga banyak kamar kosong pada beberapa rumah kost. Konsumsi furniture per kapita per tahun pada rumah kost besar menunjukkan jumlah yang lebih besar dibandingkan tipe rumah kost lain. Hal ini diakibatkan adanya perbedaan selera setiap penghuni. Penghuni rumah kost besar menggunakan hampir semua fasilitas yang disediakan. Sedangkan pada rumah kost kecil dan