• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.1. Karakteristik Tanah

Pengujian karakteristik tanah dilakukan untuk mengklasifikasi jenis tanah

yang digunakan pada penelitian. Dari hasil pemeriksaan karakteristik tanah (Tabel

4.1) :

Tabel 4.1. Rekapitulasi hasil pemeriksaan karakteristik tanah

Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan

Pemeriksaan Sifat Fisis Tanah 1. Kadar Air

2. Berat Jenis Spesifik 3. Gradasi Butiran 4. Klasifikasi tanah 5. Kompaksi

3.83 % 2,66

Tanah berbutir kasar = 92,3 % Tanah berbutir halus = 7,7 %

USCS Pasir dg Fraksi Halus AASHTO A-3

wopt = 13,09 % b = 0,95 gr/cm3 Pemeriksaan Sifat Mekanis Tanah Tanah 1. Direct Shear Test

Ø = 27,767º

C = 0,13139 Kg/cm2

sumber hasil pengujian laboratorium 4.1.1. Kadar Air dan Berat Jenis Spesifik

Dari hasil pemeriksaan kadar air sampel diperoleh kadar air alami / kadar

IV-2 4.1.2. Analisa Gradasi Butiran

Dari hasil pengujian gradasi yang dilakukan dengan analisa saringan

diperoleh hasil tanah tersebut lebih dari 50 % lolos saringan No. 200 yaitu 7,7 %.

Tanah tersebut merupakan tanah Berbutir Kasar.

Hal ini menunjukkan persentase butiran halusnya sangat dominan.

Menurut Unified soil classification system, tanah ini termasuk dalam kelas SC

yaitu Pasir Dengan Fraksi Halus. Tanah ini bersifat non plastis. Sedangkan menurut AASHTO tanah ini termasuk dalam tipe A-3 jenis tanah Pasir.

Peninjauan klasifikasi tanah yang mempunyai ukuran butir lebih kecil

dari 0,075 mm, tidak didasarkan secara langsung pada gradasinya sehingga

penentuan klasifikasinya lebih didasarkan pada batas-batas Atterbergnya.

4.1.3. Pemadatan standar (kompaksi)

Dari hasil pengujian pemadatan standar (proctor test) diperoleh kadar air

maksimum adalah wopt= 13,09 % berat isi basahnya adalahb = 0,95gr/cm3dan berat isi kering maksimumnyadry = 0,90 gr/cm3.

IV-3 4.1.4. Sifat Mekanis Tanah

Direct Shear Test (Uji Geser langsung)

Dari hasil pemeriksaan uji geser langsung (direct shear test) diperoleh

nilai rata-rata c = 0,13139 Kg/cm2 dan sudut geser Ø = 27,767º . Pasir merupakan tanah yang mempunyai butiran yang kasar dan memiliki sifat non

kohesif. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa kepadatan relative sangat

mempengaruhi sudut geser dan kuat geser pada pasir berbutir kasar. Semakin

IV-4 4.2. Klasifikasi Tanah

4.2.1 AASHTO (American Association of State Highway and Transpottation

Officials)

Berdasarkan analisa persentase bagian tanah yang lolos saringan no. 200

diperoleh hasil tanah tersebut lebih dari 50 % (> 35 %) sehingga tanah

diklasifikasikan dalam kelompok (A-3). Berdasarkan bagan plastisitas tanah ini

termasuk tanah Non Plastis, maka tanah tersebut masuk dalam kelompok A-3.

Tanah yang masuk kategori A-3 termasuk dalam klasifikasi tanah pasir.

4.2.2 USCS (Unified Soil Classification System)

Dari analisis saringan didapatkan tanah lolos saringan No. 200 lebih dari

50 % sehingga masuk ke dalam klasifikasi tanah berbutir kasar. Dari bagan

plastisitas, menurut USCS tanah ini termasuk dalam klasifikasi SC yaitu tanah

IV-5 4.3. Kapasitas Tanam (pullin capacity) dan Proses Pembukaan Jangkar

Tanah

Berdasarkan hasil pengujian jangkar dengan variasi kedalaman penanaman

jangkar yang berbeda dengan kedalaman 30 cm, 60 cm, dan 90 cm diperoleh

grafik hubungan seperti berikut:

4.3.1 Hasil Pull In Test Pada Setiap Kedalaman

Nilai kapasitas tanam (P) ditentukan berdasarkan besar gaya yang diberikan dongkrak hidrolik kepada jangkar tanah, hingga jangkar tertanam pada

kedalaman tertentu

Diperoleh kapasitas tanam (P) dari model jangkar tiap kedalaman sebagai berikut:

Tabel 4.2 Rekapitulasi kapasitas tanam (P)

No Kedalaman(cm) P (kgf) 1 5 2.13 2 10 2.56 3 15 3.12 4 20 4.35 5 25 5.23 6 30 6.93 7 35 8.67 8 40 10.56 9 45 13.98 10 50 18.12 11 55 23.12 12 60 26.19 13 65 28.12 14 70 29.11 15 75 30.01 16 80 32.45 17 85 33.98 18 90 34.16

IV-6 Dari hasil yang kami peroleh maka dapat dilihat bahwa untuk mencapai

kedalaman 30 cm diperlukan gaya sebesar 6.93 kgf, untuk mencapai kedalaman

60 cm diperlukan gaya sebesar 26.19 kgf, dan untuk mencapai kedalaman 90 cm

diperlukan gaya sebesar 34.16 kgf.

Hasil kapasitas tanam jangkar juga dapat dilihat pada grafik 4.1 dibawah :

Gambar 4.2 Grafik hubungan kapasitas tanam (P) dengan kedalaman penanaman

IV-7

4.3.2 Proses Pembukaan Jangkar Tanah

Jangkar setelah tertanam, akan mengalami proses pembukaan didalam

tanah. Proses ini terjadi sebelum proses perhitungan kapasitas cabut jangkar,

proses pembukaan jangkar dapat dilihat pada gambar 4.2 dibawah:

Gambar 4.3 Proses pembukaan jangkar

Pada no.1 tampak posisi jangkar sesaat setelah tertanam, pemberian beban

mekanis secara bertahap membuat jangkar mulai membuka seperti pada gambar

no. 2. Setelah mengalami penambahan yang menyebabkan jangkar mengalami

pergerakan sebesar 6cm, jangkar berada dalam kondisi terbuka sepenuhnya,

IV-8 4.4 Kapasitas Cabut (pullout capacity) Jangkar Tanah

Berdasarkan hasil pengujian jangkar dengan variasi kedalaman 30 cm,

60 cm, dan 90 cm diperoleh grafik hubungan seperti berikut:

4.4.1 Hubungan antara kapasitas cabut (pullout capacity) dengan

perpindahan jangkar (Uplift Displacement) pada setiap kedalaman.

Dari hubungan kapasitas cabut dengan perpindahan pada setiap model

jangkar kemudian dibuatkan grafik gabungan untuk setiap kedalaman sebagai

berikut :

Gambar 4.4 Grafik hubungan perpindahan jangkar dengan beban pullout pada kedalaman 30 cm

IV-9 Gambar 4.5 Grafik hubungan perpindahan jangkar dengan beban pullout dengan

pada kedalaman 60 cm

Gambar 4.6 Grafik hubungan perpindahan jangkar dengan beban pullout dengan pada kedalaman 90 cm

IV-10 Gambar 4.7. Grafik gabungan hubungan perpindahan jangkar dengan beban

pullout dengan pada setiap kedalaman

Pada Gambar 4.4 – 4.6 merupakan grafik hubungan perpindahan jangkar

dan beban yang diberikan pada kedalaman 30, 60, 90 cm. Untuk melihat

perpindahan yang terjadi digunakan dial yang dihubungkan dengan jangkar. Pada

dial beban pembacaan menunjukkan peningkatan seiring dengan bertambahnya

perpindahan-jangkar secara terus menerus.

4.4.2 Penentuan kapasitas cabut batas (Pu) berdasarkan grafik hubungan

antara kapasitas cabut (pullout capacity) dengan perpindahan jangkar

(uplift displacement) pada setiap kedalaman

Dari grafik hubungan antara kapasitas cabut dengan perpindahan jangkar

IV-11 . Gambar 4.8 Grafik penentuan kapasitas cabut batas (Pu) pada

kedalaman 30 cm.

Gambar 4.9 Grafik penentuan kapasitas cabut batas (Pu) pada

kedalaman 60 cm.

IV-12 Gambar 4.10 Grafik penentuan kapasitas cabut batas (Pu) pada

kedalaman 90 cm

Pada Gambar 4.8 – 4.10 terdapat grafik hubungan perpindahan jangkar

dan beban yang diberikan untuk setiap jangkar. Pengambilan data dilakukan saat

deformasinya sudah dianggap besar meskipun beban masih terus meningkat,

karena sulit untuk mengamati keruntuhan tanah di permukaan pada kondisi tanah

jenuh.

Dari grafik menunjukan perilaku jangkar yang berbeda pada kedalaman

yang berbeda dimana pada kedalaman 90 cm kapasitas cabut pada jangkar lebih

besar dibandingkan pada kedalaman 60 cm dan 30 cm. Untuk kedalaman 60 cm

memiliki kapasitas cabut lebih besar dari pada kedalaman 30 cm.

IV-13 4.4.3 Hasil Pull Out Test pada Setiap Kedalaman.

Untuk menentukan nilai kapasitas cabut (Pu) pada grafik dimana nilainya ditentukan pada kondisi beban mulai menunjukkan perubahan konstan sedangkan

perpindahannya terus bertambah. Adapun penentuan kapasitas cabut batas (Pu) ditunjukkan pada Gambar 4.5 – 4.7.

Dari grafik diperoleh kapasitas cabut batas (Pu) dari model jangkar tiap kedalaman sebagai berikut:

Tabel 4.3 Rekapitulasi kapasitas cabut batas (Pu)

No Kedalaman (cm) P (kgf)

1 30 33

2 60 97

3 90 122

Dari hasil yang kami peroleh maka dapat dilihat bahwa kapasitas cabut

mengalami peningkatan signifikan pada kedalaman 60 cm, dan tidak mengalami

peningkatan yang signifikan pada kedalaman 90 cm.

Gambar 4.11 Grafik hubungan kapasitas cabut batas (Pu) dengan kedalaman penanaman jangkar.

IV-14

4.4.4 Hubungan Perubahan Kedalaman Terhadap Kapasitas cabut batas

(Pu).

Dari hasil rekapitulasi kapasitas cabut batas (Pu), dapat diperoleh

persentase perubahan kapasitas cabut batas untuk setiap kedalaman penanaman

jangkar.

Dengan membandingkan dengan kapasitas cabut batas pada kedalaman 30

cm, peningkatan kapasitas cabut ditunjukan pada tabel 4.4 sebagai berikut:

Tabel 4.4 Hubungan perubahan kedalaman dengan perubahan kapasitas cabut pada setiap kedalaman penanaman jangkar

No. Kedalaman (cm) Kapasitas Cabut

Batas (kgf) Perubahan Kapasitas Cabut Batas (%) 1. 30 33 -2. 60 97 38 3. 90 122 14

Dari tabel 4.4 diatas dapat diketahui mengenai persentase kenaikan dari

kapasitas cabut batas jangkar pada setiap kedalaman. Pada kedalaman penanaman

30 cm diperoleh kapasitas cabut batas sebesar 33 kgf mengalami kenaikan

signifikan pada kedalaman penanaman 60 cm yaitu 97 kgf atau sebesar 38 %,

dan cenderung mengalami peningkatan yang relatif kecil pada kedalaman 90 cm

IV-15 Perbandingan Kapasitas Tanam (P) Terhadap Kapasitas cabut batas (Pu).

Berdasarkan hasil rekapitulasi kapasitas tanam (P) dan kapasitas cabut

batas (Pu), dapat diperoleh persentase perbandingan antara kapasitas tanam (P)

dengan kapasitas cabut batas (Pu) pada setiap kedalaman penanaman jangkar,

yang dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut :

Tabel 4.5 Hubungan kapasitas tanam dan kapasitas cabut batas pada setiap kedalaman penanaman jangkar.

No. Kedalaman (cm) Kapasitas Tanam (kgf) Kapasitas Cabut Batas (kgf) Perbandingan Kapasitas Tanam & Kapasitas Cabut Batas (%) 1. 30 6.93 33 21 2. 60 26.19 97 27 3. 90 34.16 122 28

Dari tabel 4.5 diatas dapat diketahui besarnya perbandingan antara

kapasitas tanam dan kapasitas cabut batas pada setiap kedalaman penanaman

jangkar. Pada kedalaman 30 cm diperoleh nilai kapasitas tanam sebesar 6.93 kgf

dan kapasitas cabut batas sebesar 33 kgf, sehingga didapatkan nilai perbandingan

antara kapasitas tanam dan kapasitas cabut batas sebesar 21%. Pada kedalaman

60 cm diperoleh nilai kapasitas tanam sebesar 26.19 kgf dan kapasitas cabut batas

IV-16 dan kapasitas cabut batas sebesar 27%. Pada kedalaman 90 cm diperoleh nilai

kapasitas tanam sebesar 34.16 kgf dan kapasitas cabut batas sebesar 122 kgf,

sehingga didapatkan nilai perbandingan antara kapasitas tanam dan kapasitas

V-1

BAB V

Dokumen terkait