UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO Cintya Nurika Irma, Sarwiji Suwandi dan Muhammad Rohmad
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Hasil
Tuturan dapat dikatakan santun apabila mematuhi prinsip kesantunan. Ditemukan dua belas bentuk tindak tutur kesantunan verbal dan nonverbal dalam rekaman dakwah mahasiswa bentuk imperatif yang mengandung makna perintah sejumlah 4 data, anjuran sejumlah 5 data, ajakan sejumlah 4 data, pemberitahuan sejumlah 3 data, keresahan sejumlah 4 data, permintaan sejumlah 3 data, permohonan sejumlah 2 data, permintaan izin sejumlah 2 data, larangan sejumlah 3 data, imbauan sejumlah 3 data, motivasi sejumlah 3 data, dan harapan sejumlah 3 data. Berdasarkan hasil tersebut, bentuk imperatif berupa anjuran memiliki jumlah terbanyak yang ditemukan sedangkan jumlah terkecil ditemukan pada bentuk imperatif bermakna permintaan izin dan permohonan.
Anjuran merupakan saran agar apa yang disampaikan penutur dapat menjadi pertimbangan bagi mitra tutur. Tuturan yang mengandung makna anjuran biasanya ditandai dengan penggunaan kata hendaknya dan sebaiknya. Bentuk tuturan ini paling banyak ditemukan dalam dakwah mahasiswa disebabkan maksud dalam penyampaian dakwah salah satunya memberikan anjuran kepada tutur apabila mengalami permasalahan atau masalah tersebut dialami oleh orang dilingkungan sekitarnya mengenai tema dakwah yang disampaikan penutur sehingga mitra tutur dapat mempertimbangkan anjuran penutur untuk mengatasi masalah tersebut.
54
Selanjutnya, tuturan yang ditemukan paling sedikit ditemukan pada bentuk tuturan bermakna permintaan izin dan permohonan yang memiliki jumlah data yang sama sebanyak 2 data. Permintaan izin adalah tuturan yang disampaikan penutur kepada mitra tutur agar diizinkan menyampaiakan atau melakukan sebuah tindakan. Tuturan tersebut banyak ditemukan saat penutur mengawali dakwahnya saat meminta izin kepada mitra tutur untuk dapat berdakwah. Selain itu, terdapat permohonan yang disampaikan penutur dengan maksud apa yang diucapkannya mendapat sesuatu yang dimohonkan dapat dikabulkan atau direalisasikan oleh mitra tutur. Permohonan ini dituturkan oleh penutur sebelum menutup dakwahnya salah satunya permohonan maaf apabila selama berdakwah terdapat perkataan maupun sikap yang tidak berkenan bagi mitra tutur.
Sebagian besar mahasiswa telah mampu memilah diksi maupun frasa yang santun dan penggunaan gaya bahasa yang dikemas menarik. Kreativitas mahasiswa juga dimunculkan dengan penambahan pantun, pembacaan puisi, menceritakan sebuah kisah, dan menyanyi dalam berdakwah. Selain itu, pemilihan setting juga telah baik dilakukan oleh mahasiswa, tetapi belum mendapat perhatian saat pengambilan kamera pada pembagian tuturan yang diambil seluruh badan, setengah badan, posisi berdiri maupun posisi duduk serta jarak pengambilan penutur dengan mitra tutur. Pengambilan kamera ini juga berperan penting karena dakwah dibuat melalui audio visual sehingga kecermatan posisi pengambilan gambar akan berpengaruh dengan pandangan mitra tutur saat penutur menyampaikan tuturan dakwah.
Selain itu, apabila penutur tidak mematuhi prinsip kesantunan dapat berakibat terjadinya penyimpangan prinsip kesantunan. Ditemukan lima dari enam bentuk
penyimpangan prinsip kesantunan pada maksim (a) kebijaksanaan berjumlah 3 data, (b) pujian berjumlah 1 data, (c) kesederhanaan berjumlah 3 data, (d) pemufakatan atau
kecocokan berjumlah 1 data, dan (e) kesimpatian berjumlah 1 data. Satu maksim yang tidak ditemukan dalam dakwah mahasiswa sesuai dengan yang telah dikemukakan oleh Leech yaitu maksim kedermawanan. Delapan data di atas dapat disimpulkan bahwa sedikit mahasiswa yang melakukan penyimpangan prinsip kesantunan verbal dan nonverbal menandakan ketercapaian pada indikator mengetahui dan memahami peranan dai, tujuan dai berdakwah, syarat menjadi dai serta hal yang harus diperhatikan dan tidak boleh dilakukan saat berdakwah.
Penyebab penyimpangan prinsip kesantunan kesantunan verbal diakibatkan beragam diantaranya akibat (a) ketidaktahuan penutur dalam pemakaian bahasa Indonesia, (b) kesantunan berbahasa Indonesia pada masyarakat Indonesia diperoleh dan dikuasai secara ilmiah, (c) sulitnya meninggalkan kebiasaan lama serta bahasa pertama, dan (d) perbedaan maksud antara penutur dan mitra tutur. Penyimpangan kesantunan nonverbal disebabkan ketidaktahuan dan belum terbiasa penutur melatih secara terus menerus sehingga permasalahan tersebut belum dapat teratasi.
Berdakwah bermaksud membujuk secara halus agar mitra tutur yakin mengenai tuturan yang disampaikan penutur sehingga ada efek setelah menyimak dakwah penutur. Membujuk bukan hanya menunjukkan kepiawaian penutur dalam kemampuan verbal, tetapi perlu didukung kesantunan nonverbal. Hal ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Caserio and Higins (2008: 415-420) bahwa bahasa isyarat nonverbal merupakan komponen yang melekat pada persuasif. Keberhasilan mengolah nonverbal dapat mempengaruhi
55
berhasil atau tidaknya yang dilakukan. Perlu diingat, mitra tutur dapat terbujuk apabila penutur mampu mengkombinasikan kemampuan verbal dan nonverbalnya secara santun dan baik melalui beragam analisis yang harus dilakukan oleh penutur.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan untuk melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan agar peserta didik dapat mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum yang digunakan pada mata kuliah retorika mengacu pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), kurikulum ini disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan termasuk di perguruan tinggi dengan prinsip 1) berpusat pada potensi, perkembangan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungan, 2) beragam dan terpadu, 3) tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, 4) relevan dengan kebutuhan kehidupan 5) menyeluruh dan berkesinambungan, 6) belajar sepanjang hayat, dan 7) seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
Selanjutnya, agar kurikulum tersebut dapat terealisasikan diperlukan adanya tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan di perguruan tinggi tersurat dalam UU No. 12 tahun 2012 pasal 5 yang berisi 4 tujuan pendidikan. Pembelajaran retorika yang diberikan kepada mahasiswa diharapkan dapat merealisasikan dua tujuan pendidikan tersebut. Pertama, berkembangnya potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa. Kedua, dihasilkan lulusan yang menguasai cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa.
Berdasarkan wawancara dengan dosen mata kuliah retorika disimpulkan bahwa pada mata kuliah retorika terdiri dari tiga kompetensi dasar yang dijabarkan dalam maeri pokok, indikator pencapaian, pengalaman belajar, evaluasi, dan alokasi waktu. Kompetensi dasar yang pertama bertujuan memberikan pemahaman teori-teori retorika meliputi pengerian, sejarah, tujuan, dan jenis-jenisnya dari hasil hasil diskusi dan simpulan yang dilakukan antara dosen dan mahasiswa. Kompetensi kedua bertujuan agar mahasiswa memiliki ketrampilan berbahasa lisan secara monologika dan dialogika dengan menerapkan teknik berbicara. Kompetensi ketiga, mahasiswa dapat mengidentifikasi syarat dan persiapan-persiapan yang perlu dilakukan oleh seorang dai sebelum berdakwah.
Pembahasan
Ilmu retorika tidak terlepas dengan kesantunan verbal dan nonverbal. Di awal pertemuan dosen menggali pengetahuan mahasiswa mengenai retorika melalui contoh nyata dilingkungan sekitar mahasiswa yang diharapkan dapat mempermudah mahasiswa untuk memahami, mencermati, dan mengidentifikasi kesantunan verbal dan nonverbal penutur atau mitratutur. Pemberian motivasi guna membiasakan diri menerapkan kesantunan verbal dan nonverbal melalui hal-hal dalam keseharian seperti kesantunan saat berjalan di depan orang yang duduk, penyampaian permohonan maaf, gerakan badan maupun ekspresi wajah, dan lain sebagainya. Teori ini akan berhasil apabila diwujudkan dengan adanya praktik sehingga tidak hanya dalam proses pembelajaran saja melainkan di luar kelas dosen juga melakukan pengamatan terhadap mahasiswa.
Latar belakang sosial maupun budaya mahasiswa juga menjadi salah satu latar belakang dalam menganalisis logat penutur. Hal ini diperlukan sebagai pendukung dalam
56
pemilihan proses pembelajaran yang akan dilakukan. Seperti penelitian yang dilakukan Byon (2003: 269-283) berjudul Language Socialisation and Korean as a Heritage Language: A Study of Hawaiian Classrooms yangmembahas mengenai percakapan antara pendidik dan peserta didik dan diaplikasikan secara sosiopragmatik. Analisis percakapan spontan difokuskan pada tuturan pendidik yang menginstruksikan peserta didik secara eksplisit dan implisit pada makna sosial dari penanda. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo mayoritas berasal dari Kabupaten Kebumen, Cilacap, Wonosobo, dan Banjanegara yang dalam bertutur menggunakan dialek Banyumasan atau bahasa ngapak dengan ciri bunyi huruf mati yang diucapkan secara penuh.
Aksen dialek juga tidak mudah untuk mereka tinggalkan apabila tidak dapat beradaptasi saat berkomunikasi dilingkungan baru. Dialek tersebut perlu dilatih agar penutur terbiasa sehingga dapat tepat digunakan. Apabila mahasiswa tersebut berkomunikasi lisan dengan mitra tutur yang memiliki persamaan dialek tentu tidak akan mengalami hambatan, tetapi bila dalam lingkungan sosial bagi mitra tutur yang baru akrab dengan dialek tersebut akan mengalami kesulitan dalam memahami tuturan. Perbedaan ini menyebabkan kesantunan verbal akan mengalami perbedaan dalam setiap daerahnya. Oleh karena itu, analisis sosiopragmatik perlu dilakukan dalam pembelajaran retorika.
Kesopanan membantu dalam mengatur aturan komunikasi. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Ramli (2013: 65-78) melalui penelitiannya berjudul Culturally appropriate communication in Malaysia: budi bahasa as warranty component in Malaysian discourse. Ia menyoroti bahwa menghormati, peduli orang lain, kesopanan, dan penggunaan bahasa merupakan salah satu kriteria mengukur bahasa budi yang tergabung dalam prinsip-prinsip budaya yang diartikulasikan sebagai rukun negara di Malaysia. Begitu pula yang terjadi di Indonesia. Perbedaan budaya disetiap daerah Indonesia yang beragam, tetapi pada intinya aturan kesopanan yang dijujung memiliki keseragaman diantaranya sikap menghormati, peduli terhadap sesama, melestarikan bahasa maupun budaya daerah, menjunjung tinggi norma-norma sebagai jati diri Indonesia yang berbudaya ketimuran.
Mahasiswa dapat dinyatakan berhasil atau tidak dalam pembelajaran retorika apabila tiga kompetensi dasar tercapai. Ketercapaian pada kompetensi dasar pertama diketahui apabila indikator pencapaian mengetahui pengertian retorika, memahami sejarah retorika, mengkaji tujuan retorika, dan dapat menyimpulkan jenis-jenis retorika. Pada tahap ini, metode yang digunakan adalah ceramah dan diskusi. Penilaian dilakukan melalui dua cara yaitu penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran berupa tanya jawab serta keaktifan mahasiswa dan melalui tes tertulis bentuk uraian.
Sebelum mempraktikan sebagai dai, mahasiswa tentu telah mencapai indikator pencapaian pada kompetensi dasar kedua yaitu mengetahui perbandingan monologika dan dialogika. Perbedaan ini terlihat pada jenis retorika yang dipraktikan mahasiswa secara monologika, kesantunan nonverbal penutur akan berbeda saat mempraktikan retorika jenis dialogika. Monologika berarti penutur tidak melibatkan mitra tutur saat bertutur sedangkan dialogika terjadi komunikasi dua arah antara penutur dan mitra tutur. Pada tahap ini mahasiswa praktik secara langsung dihadapan dosen dan rekan-rekannya.
Selain itu, sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Haris (2013: 1-27) berjudul
Indonesian Religious Evolution: Applying Bellah’s Theory in Indonesian Context
57
lima periode. Relevansinya, sejarah agama perlu dipahami oleh dai saat berdakwah dengan konteks khususnya di Indonesia yang diperoleh melalui ilmu agama yang dimiliki, mencari informasi melalui berbagai media maupun bertanya langsung dengan ahlinya. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah untuk menggali informasi-informasi maupun data yang dibutuhkan dalam berdakwah. Mahasiswa diberikan batasan penyampaian dakwah sekitar 7 sampai 8 menit sehingga kajiannya tidak luas seperti dai-dai yang memiliki jam terbang tinggi.
Pemberian pengalaman langsung melalui praktik akan membawa dampak berbeda dibandingkan mahasiswa yang hanya diberikan asupan teori-teori saja. Saat diberikan tugas untuk berperan sebagai dai dan menyampaikan dakwah, mahasiswa dapat mengasah kepiawaian berbicara dengan berlatih agar terbiasa, berkreativitas dengan mengemas dakwahnya baik dan menarik, dan melakukan persiapan-persiapan pendukung lainnya. Pencapaian indikator memahami dan menerapkan teknik berbicara, dilakukan dosen dengan memberikan dasar-dasar keterampilan berbicara seperti cara mengatur nafas, melatih motorik mahasiswa agar tidak kaku, olah vokal, dan lain sebagainya.
Penilaian pada kompetensi ketiga, mahasiswa diberikan tugas untuk menyampaikan dakwah tidak seperti sebelumnya yang tampil langsung di depan kelas melainkan direkam dalam bentuk DVD. Berdasarkan hasil wawancara dengan dosen mata kuliah retorika diketahui bahwa di awal pretest dakwah tanpa menggunakan audio visual di kelas biasa, mereka masih malu-malu untuk menggerakan tangan, untuk akting, untuk ekspresi, mengeluarkan humor untuk menambah vokalnya, tetapi setelah adanya tugas retorika dakwah menggunakan audio visual mereka lebih leluasa, lebih ekspresif, aktingnya juga bagus. Perubahan tersebut sebagai bukti bahwa dari DVD itu metode audio visual dapat meningkatkan prestasi berbicara mahasiswa.
Selanjutnya, akhir dari pembelajaran retorika ini adalah mahasiswa dapat memahami dan mampu menerapkan kesantunan verbal dan nonverbal dalam kehidupan sehari-hari serta dapat mengaplikasikan ilmu dan kepiawaiannya berbicara dengan santun serta memiliki pengalaman dalam berdakwah. Keterampilan berbicara ini diharapkan dapat menjadi modal setelah menamatkan studi di perguruan tinggi dalam memperoleh pekerjaan. Andrew (2004: 1-11) melalui penelitiannya berjudul College Curriculum Competencies and Skills Former Students Found Essentional to Their Careers membahas mengenai tingkat kemampuan mahasiswa dalam kemampuan berbicara dengan pekerjaan yang diperoleh setelah menamatkan di perguruan tinggi.
Pembelajaran seni keterampilan berbicara dapat memfasilitasi mahasiswa dalam meningkatkan kepiawaian berbicara. Mahasiswa diharapkan setelah lulus tidak hanya menguasai ilmu yang ditempuh, tetapi juga ilmu-ilmu pendukung serta keterampilan berbahasa yang dikuasai sehingga diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dilingkungan kerja maupun bersosialisasi dengan lingkungan masyrakat. Hasil wawancara yang dilakukan dengan dosen mata kuliah retorika dan mahasiswa diketahui bahwa pembelajaran retorika memiliki peran penting dalam mengubah kemajuan prestasi berbicara mahasiswa mengenai retorika dakwah. Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa pemberian tugas yang diberikan kepada mahasiswa untuk berperan sebagai dai dengan memperhatikan kesantunan verbal dan nonverbal bentuk imperatif relevansi dengan pembelajaran retorika di Universitas Muhammadiyah Purworejo.
58 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian, simpulan penelitian kesantunan verbal dan nonverbal bentuk imperatif dalam dakwah mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Purworejo sebagai berikut.
1. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan dua belas tindak tutur kesantunan verbal dan nonverbal bentuk imperatif bermakna (a) perintah berjumlah 4 data, (b) anjuran berjumlah 5 data, (c) ajakan berjumlah 4 data, (d) pemberitahuan berjumlah 3 data, (e) keresahan berjumlah 4 data, (f) permintaan berjumlah 3 data, (g) permohonan berjumlah 2 data, (h) permintaan izin berjumlah 2 data, (i) larangan berjumlah 3 data, (j) imbauan berjumlah 3 data, (k) motivasi berjumlah 3 data, dan (l) harapan berjumlah 3 data. Berdasarkan hasil tersebut, bentuk imperatif bermakna anjuran ditemukan paling terbanyak sedangkan jumlah terkecil ditemukan pada bentuk imperatif bermakna permohonan serta permintaan izin.
2. Ditemukan lima bentuk penyimpangan prinsip kesantunan pada maksim (a) kebijaksanaan berjumlah 3 data, (b) pujian berjumlah 1 data, (c) kesederhanaan berjumlah 3 data, (d) pemufakatan atau kecocokan berjumlah 1 data, dan (e) kesimpatian berjumlah 1 data. Satu dari enam maksim yang tidak ditemukan yaitu maksim kedermawanan. Jumlah terbanyak pada bentuk penyimpangan prinsip kesantunan terjadi pada maksim kebijaksanaan dan kesederhanaan sedangkan maksim dengan jumlah terkecil ditemukan pada pujian, pemufakatan atau kecocokan, dan kesimpatian.
3. Retorika sebagai kesenian berbicara dengan singkat, padat, jelas, dan mengesankan sesuai dengan tujuan pembelajaran berbicara bagi mahasiswa. Analisis kompetensi dasar dan standar kompetensi lulusan perlu dilakukan agar indikator dapat tercapai sesuai harapan. Praktik sebagai dai diberikan setelah menempuh kompetensi dasar 3 tentang mengidentifkasi syarat dai dalam berdakwah. Hasil wawancara dengan dosen mata kuliah retorika disimpulkan bahwa prestasi berbicara mahasiswa meningkat dengan menggunakan media audio visual. Berdasarkan pernyataan di atas, pemberian tugas ini relevansi dengan pembelajaran retorika di Universitas Muhammadiyah Purworejo.
Saran
Berdasarkan simpulan dan implikasi di atas, penulis menyampaikan saran-saran kepada dosen Bahasa dan Sastra Indonesia, civitas akademika, mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Purworejo, dan penulis berikutnya. Pertama, saran kepada dosen Bahasa dan Sastra Indonesia. Saat menyampaikan tuturan dalam bentuk tulis diperlukan kolaborasi dosen dengan mahasiswa maupun dosen mata kuliah retorika bekerjasama dengan dosen mata kuliah menulis dengan menunjukkan maupun memberikan catatan mengenai kata ataupun kalimat yag belum sesuai dengan tata tulis atau kaidah yang benar. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengembalikan naskah dakwah atau menyampaikan secara langsung saat pembelajaran retorika sehingga permasalahan yang dijumpai dosen dalam naskan dapat diketahui dan diperbaiki oleh mahasiswa.
Kedua, civitas akademika Universitas Muhammadiyah Purworejo. Peningatan dan realissai bentuk tuturan yang santun verbal dan nonverbal dalam berkomunikasi disituasi
59
resmi maupun tidak resmi bukan hanya diberikan kepada mahasiswa, tetapi juga diterapkan oleh seluruh civitas akademika di Universitas Muhammadyah Purworejo sebagai percontohan mahasiswa dilingkungan kampus sehingga tujuan dari mata kuliah retorika ini dapat terealissaikan.
Ketiga, mahasiswa. Mahasiswa perlu menumbuhkan minat dan motivasi diri dalam berlatih dan mempraktikan kesantunan verbal dan nonverbal dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi terbiasa. Pengembangan diri serta pelatihan verbal maupun nonverbal yang dikuasai harus dilakukan secara terus menerus dengan cara memperkaya bacaan, menyaksikan tayangan yang berkaitan dengan komunikasi lisan, mengikuti seminar, aktif diorganisasi atau komunitas, dan lain sebagainya. Keempat, penulis berikutnya. Selain penelitian ini dapat dijadikan pembelajaran, diharapkan penulis berikutnya dapat mengkaji lebih dalam mengenai kesantunan nonverbal dalam mengaplikasikan kepiawaian dalam berkomunikasi secara lisan pada mahasiswa.
DAFTAR PUSTAKA
Andrew, Zekeri. 2004. “College Curriculum Competencies and Skills Former Students Found Essential to Their Careers”. Journal College Student. Vol. 38 (3), pp: 1-11.
Andy, Corry W. 200λ. “Etika Berkomunikasi dalam Penyampaian Aspirasi”. Jurnal Komunikasi.
Vol. 1 (1), pp:14-18.
Caserio, Joseph dan Higgins E. Tory. 2008. “Making Message Recipients “Feel Right” How Nonverbal Cues Can Increase Persuasion”. Journal Sage. Vol. 19 (5), pp: 415-420. Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta.
Haris, Achmad Murtafi. 2013. “Indonesian Religious Evolutionμ Applying Bellah’s Theory In Indonesian Context”. Jurnal Sosiologi. Vol. 3 (2), ppμ 1-27.
Hendrikus, Dori Wuwur. 1991. Retorika. Yogyakarta: Kanisius. Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: UI Press.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 49 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.
Pranowo. 2012. Berbahasa Secara Santun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ramli, Romlah. 2013. “Culturally Appropriate Communication in Malaysiaμ Budi Bahasa As Warranty Component In Malaysian Discourse”. Journal of Multicultural Discourses.
Vol. 8 (10), pp: 65-78.
Setyonegoro, Agus. 2013. “Hakikat, Alasan, dan Tujuan Berbicara (Dasar Pembangun Kemampuan Berbicara Mahasiswa)”. Jurnal Pena. Vol. 3 (1), ppμ 67-80.
60