• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sifat-sifat papan laminasi yang diukur adalah sifat fisis dan sifat mekanis. Sifat fisis meliputi kerapatan, kadar air, daya serap air, pengembangan tebal, dan uji delaminasi. Sifat mekanis meliputi modulus of elasticity (MOE), modulus of rupture (MOR).

Sifat Fisis Papan Lamina Nilai Kerapatan

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa nilai rata-rata dari kerapatan papan lamina berbahan baku BKS berkisar antara 0,36-0,44 g/cm3. Rekapitulasi rata-rata nilai kerapatan papan lamina dari BKS dengan empat variasi berat labur dapat dilihat pada Gambar 7 dan data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2.

Gambar 7. Nilai kerapatan papan lamina

Pada Gambar 7 dapat dilihat bahwa nilai kerapatan terendah dari papan lamina adalah 0,36 g/cm3 yang diperoleh dari berat labur 280 g/m2 dan 300 g/m2 sedangkan nilai kerapatan tertinggi adalah 0,44 g/cm3 yang diperoleh dari berat labur 240 g/m2. Nilai kerapatan mengalami kecenderungan penurunan dari berat

0,44 0,40 0,36 0,36 -0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 240 260 280 300 Ker ap at an ( g /cm 3) Berat Labur (g/m2)

labur 240 g/m2 hingga berat labur 280 g/m2 dan tetap pada berat labur 300 g/m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi berat labur maka kerapatan papan lamina semakin menurun dan dapat dilihat bahwa nilai kerapatan terbaik ada pada berat labur terendah yaitu 240 g/m2

Nilai kerapatan yang dihasilkan dari keempat berat labur tergolong rendah. Berdasarkan PKKI NI-5 1961 dalam Setiawan (2011), papan lamina yang dihasilkan pada penelitian ini masih tergolong dalam kelas kuat III-IV dengan nilai kelas kuat antara 0,3-0,6. Hal ini diduga karena dipengaruhi oleh nilai kerapatan bahan baku BKS yang digunakan juga rendah. Nilai kerapatan bahan baku untuk bagian depan (face) dan bagian belakang (back) berkisar antara 0,35–0,40 g/cm

yang berarti variasi berat labur mempengaruhi nilai kerapatan papan lamina dari BKS.

3

dan nilai kerapatan untuk bagian inti (core) berkisar antara 0,26–0,28 g/cm3

Bahan baku BKS yang digunakan untuk papan lamina diperoleh dari bagian tepi dan tengah BKS. Kerapatan bahan baku BKS dipengaruhi oleh banyaknya jaringan vascular bundles pada batang kelapa sawit. Kerapatan bahan baku yang rendah menunjukkan bahwa jaringan parenkim pada bahan baku BKS lebih banyak dibandingkan dengan vascular bundles. Distribusi kerapatan vascular bundles batang kelapa sawit dari bagian luar menuju ke pusat dapat dilihat pada Gambar 8.

sehingga papan lamina yang dihasilkan memiliki nilai kerapatan yang rendah.

2 cm

Sumber: Hartono, et al. (2011)

Gambar 8. Distribusi kerapatan vascular bundles pada batang kelapa sawit

Menurut Oey Djoen Seng dalam PIKA (1979), BKS yang digunakan pada penelitian ini termasuk ke dalam kelas kuat IV-V dengan nilai kerapatan antara 0,26-0,40 g/cm3 sehingga tidak baik digunakan untuk bahan konstruksi bangunan, namun masih bisa digunakan sebagai bahan non konstruksi. Proses laminasi diharapkan dapat meningkatkan nilai kerapatan dari BKS namun papan lamina yang dihasilkan masih memiliki nilai kerapatan yang rendah. Nilai kerapatan papan lamina yang dihasilkan memiliki nilai yang relatif sama dengan penelitian Ginting (2012) yaitu berkisar antara 0,31-0,58 g/cm3

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa variasi berat labur perekat PF tidak berpengaruh nyata terhadap nilai kerapatan papan lamina (Lampiran 4). Berdasarkan analisis ragam tersebut dapat diketahui bahwa variasi berat labur tidak mempengaruhi nilai kerapatan dari papan lamina yang dihasilkan.

untuk papan lamina dengan kombinasi BKS dan kayu mahoni dengan perekat isosianat.

Nilai Kadar Air

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa nilai rata-rata dari kadar air papan lamina berbahan baku BKS berkisar antara 8,14–8,49%. Rekapitulasi rata-rata nilai kadar air papan lamina dapat dilihat pada Gambar 9 dan data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2.

Gambar 9. Nilai kadar air papan lamina

Pada Gambar 9 dapat dilihat bahwa nilai kadar air terendah yaitu 8,15% yang diperoleh dari berat labur 300 g/m2, sedangkan nilai kadar air tertinggi yaitu 8,50% yang diperoleh dari berat labur 260 g/m2. Nilai kadar air yang diperoleh dari berat labur 240 g/m2 hingga berat labur 300 g/m2 pada

Papan lamina yang dihasilkan memiliki nilai kadar air yang baik karena telah memenuhi standar JAS 243 : 2003 yang mensyaratkan nilai kadar air dibawah 15%. Rendahnya kadar air papan lamina disebabkan oleh pengkondisian bahan baku BKS sampai mencapai KA lingkungan sebelum dibuat menjadi papan lamina. Selain itu, pada saat pembuatan papan lamina digunakan suhu tinggi yaitu 150°C selama 15 menit untuk pematangan perekat PF sehingga papan lamina

penelitian ini relatif sama. 8,48 8,50 8,32 8,15 1 3 5 7 9 11 13 15 240 260 280 300 K ada r A ir (%) Berat Labur (g/m2) Kadar Air JAS 243 : 2003 (KA ≤15 %)

yang dihasilkan memiliki nilai kadar air yang memenuhi standar. Hal ini menunjukkan bahwa nilai kadar air dari papan lamina dari bahan baku BKS mengalami penurunan kadar air yang signifikan dari BKS segar menjadi papan laminasi sehingga memenuhi standar yang telah ditentukan.

Penurunan kadar air pada papan lamina tersebut diduga karena dipengaruhi oleh lamanya pengeringan dan suhu pengempaan. Tsoumis (1991) dalam Herawati (2010) menyatakan bahwa kadar air juga sangat tergantung pada kondisi lingkungan sekitarnya. Proses pengeringan bahan baku BKS yang dilakukan selama sebulan telah menjadikan kadar air BKS mencapai kadar air kering udara dan suhu pengempaan yang tinggi yaitu 150 °C pada proses perekatan juga mempengaruhi nilai KA dari papan lamina yang dihasilkan.

Jenis perekat yang digunakan juga mempengaruhi kadar air papan lamina yang dihasilkan. Perekat yang digunakan yaitu perekat PF. Perekat PF merupakan jenis perekat yang memiliki ketahanan terhadap air yang cukup baik sehingga dapat menghalangi air masuk kembali ke dalam rongga sel. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kliwon dan Iskandar (2008) bahwa perekat PF merupakan salah satu jenis perekat untuk penggunaan eksterior yang memiliki sifat tahan cuaca dan tahan air.

Faktor lain yang mempengaruhi kadar air dari papan lamina adalah berat labur. Pada Gambar 9 menunjukkan kadar air terendah berada pada berat labur tertinggi yaitu 300 g/m2. Hal ini sesuai dengan pernyataan Cahyadi, et al. (2012) yang menjelaskan bahwa semakin banyak kadar perekat maka papan yang dihasilkan akan semakin kedap air. Sehingga papan lamina yang dihasilkan tidak banyak menyerap uap air dari udara karena setelah proses pengempaan dan

conditioning papan lamina mencapai kondisi kadar air kesetimbangan. Nilai KA papan lamina yang dihasilkan pada penelitian ini lebih baik dibandingkan penelitian Ginting (2012) yang menggunakan BKS dan mahoni sebagai bahan baku papan lamina dengan menggunakan perekat isosianat dan menghasilkan nilai KA papan lamina dengan rata-rata 11%.

Hasil analisis ragam yang dilakukan untuk melihat pengaruh variasi berat labur terhadap nilai kadar air papan lamina menunjukkan bahwa variasi berat labur tidak berpengaruh nyata terhadap nilai kadar air papan lamina (Lampiran 5). Hal ini berarti adanya peningkatan berat labur tidak mempengaruhi terhadap nilai KA yang dihasilkan.

Nilai Daya Serap Air

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari daya serap air papan lamina berbahan baku BKS pada perendaman 2 jam berkisar antara 26,28–37,89% dan nilai rata-rata dari daya serap air pada perendaman 24 jam berkisar antara 79,86–98,68%. Rekapitulasi rata-rata nilai daya serap air papan lamina pada perendaman 2 jam dan 24 jam dapat dilihat pada Gambar 10 dan data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2.

Pada Gambar 10 dapat dilihat bahwa semakin lama waktu perendaman maka nilai daya serap air semakin meningkat. Hal ini terlihat bahwa perendaman

selama 24 jam lebih banyak menyerap air dibandingkan perendaman selama 2 jam. Selain itu, terlihat kecenderungan bahwa semakin meningkat berat labur,

Gambar 10. Nilai daya serap air papan lamina

Papan lamina dengan nilai daya serap air terendah pada perendaman 2 jam adalah papan lamina dengan berat labur 240 g/m2 dengan nilai 26,28% sedangkan tertinggi adalah papan lamina dengan berat labur 300 g/m2 dengan nilai 37,89%. Papan lamina dengan nilai daya serap terendah pada perendaman 24 jam adalah papan lamina dengan berat labur 240 g/m2 dengan nilai 79,86% sedangkan papan lamina dengan nilai daya serap air tertinggi adalah papan lamina dengan berat labur 300 g/m2

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi berat labur maka nilai daya serap air papan lamina semakin tinggi. Hal ini berbanding terbalik dengan penelitian Cahyadi, et al (2012) pada bambu laminasi dengan perekat isosianat yang menyatakan semakin banyak kadar perekat maka papan akan semakin kedap air. Hal ini diduga karena jenis bahan baku yang digunakan memiliki kerapatan yang tergolong rendah. Sifat ini menjadikan papan lamina banyak menyerap air karena papan memiliki banyak rongga sel yang kosong.

dengan nilai 98,68%. 26,28 31,59 33,03 37,89 79,86 92,09 92,27 98,68 0 20 40 60 80 100 120 240 260 280 300 D aya S era p A ir ( %) Berat Labur (g/m2) 2 jam 24 jam Lama perendaman

Bahan baku BKS diambil dari bagian tepi ke bagian dalam BKS yang memiliki kerapatan yang rendah. Kerapatan bahan baku yang rendah menunjukkan bahwa jaringan parenkim pada bahan baku BKS lebih banyak dibandingkan dengan vascular bundles. Jaringan parenkim memiliki fungsi untuk menyimpan atau menahan air lebih banyak daripada vascular bundles sehingga saat dilakukan perendaman, papan lamina menyerap air sangat banyak. Hal ini sesuai dengan penjelasan Bakar (2003) yang mengatakan bahwa jaringan parenkim lebih banyak terdapat pada bagian luar batang ke bagian dalam (pusat) batang sehingga bahan baku BKS perlu diberikan perlakuan pendahuluan sebelum disusun menjadi papan lamina. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Balfas (1998) yang menyatakan bahwa salah satu masalah serius dari pemanfaatan BKS adalah sifat higroskopis yang berlebihan sehingga faktor tersebut menyebabkan papan laminasi yang dihasilkan menyerap air yang sangat banyak.

Hasil analisis ragam pada perendaman 2 jam dan 24 jam menunjukkan nilai F-hitung lebih besar daripada F-tabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa variasi berat labur berpengaruh nyata terhadap nilai daya serap air pada papan lamina (Lampiran 6). Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa daya serap air terendah pada berat labur 240 g/m2 berbeda nyata dengan berat labur 260, 280, dan 300 g/m2. Hal ini berarti pembuatan papan lamina dengan bahan baku BKS dengan berat labur 240 g/m2 merupakan berat labur yang paling optimal pada perendaman 2 jam dan 24 jam.

Hasil penelitian diperoleh data bahwa nilai rata-rata dari pengembangan tebal papan lamina berbahan baku BKS pada perendaman 2 jam berkisar antara 2,68–7,30% dan nilai rata-rata dari pengembangan tebal papan lamina pada perendaman 24 jam berkisar antara 2,89–13,42%. Rekapitulasi rata-rata nilai pengembangan tebal papan lamina pada perendaman 2 jam dan 24 jam dapat dilihat pada Gambar 11 dan data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2.

Gambar 11. Nilai pengembangan tebal papan lamina

Pada Gambar 11 dapat dilihat bahwa papan lamina dengan nilai pengembangan tebal terendah pada perendaman 2 jam adalah papan lamina dengan berat labur 300 g/m2 dengan nilai 2,68% sedangkan tertinggi adalah papan lamina dengan berat labur 240 g/m2 dengan nilai 7,30%. Papan lamina dengan nilai pengembangan tebal terendah pada perendaman 24 jam adalah papan lamina dengan berat labur 280 g/m2 dengan nilai 2,89% sedangkan papan lamina dengan nilai pengembangan tebal tertinggi adalah papan lamina dengan berat labur 240 g/m2 dengan nilai 13,42%. 7,30 4,21 2,74 2,68 13,42 7,93 2,89 3,59 0 2 4 6 8 10 12 14 16 240 260 280 300 P en g em b an g an T eb al ( %) Berat Labur (g/m2) 2 jam 24 jam Lama perendaman

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa semakin tinggi berat labur maka semakin rendah pula pengembangan tebal pada papan lamina. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian Cahyadi, et al (2012) yang menggunakan bambu berbentuk pelupuh sebagai bahan baku teknologi laminasi dengan menggunakan water based polymer isocyanate sebagai perekatnya dan menemukan bahwa semakin banyak berat labur maka semakin rendah pula pengembangan tebalnya.

Menurut Putra (2009) pengembangan tebal yang tinggi akan mengakibatkan stabilitas dimensi yang rendah sehingga tidak dapat dipakai untuk produk eksterior atau untuk jangka waktu yang lama, karena sifat mekanis yang dimilikinya akan menurun secara drastis dalam jangka waktu yang tidak lama. Syamani, et al (2008) dalam Putra (2009) menambahkan bahwa perekat yang digunakan hanya menutupi bagian yang dilaburi perekat dan tidak menembus ke dalam serat. Oleh karena itu, pada saat direndam, air masih dapat masuk melalui ujung-ujung serat ke arah memanjang serat, sehingga menyebabkan pengembangan tebal yang cukup besar pada papan lamina.

Hasil analisis ragam yang dilakukan untuk perendaman 2 jam dan 24 jam menunjukkan bahwa variasi berat labur perekat PF berpengaruh nyata terhadap nilai pengembangan tebal pada papan lamina dengan bahan baku BKS (Lampiran 7). Hasil uji lanjut berupa uji Duncan menunjukkan bahwa pengembangan tebal pada perendaman 2 jam dan 24 jam pada berat labur 300 g/m2 berbeda nyata dengan berat labur 240, 260, dan 280 g/m2 . Hal ini berarti pembuatan papan lamina dengan bahan baku BKS yang paling optimal untuk perendaman 2 jam dan 24 jam adalah papan lamina dengan berat labur 300 g/m2.

Nilai Uji Delaminasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari uji delaminasi papan lamina berbahan baku BKS adalah 0 %. Rekapitulasi rata-rata nilai uji delaminasi papan lamina dapat dilihat Lampiran 2. Nilai uji delaminasi yang dihasilkan bernilai 0 % telah memenuhi standar JAS 243 : 2003 menyatakan bahwa uji delaminasi dianggap lulus uji apabila nilai uji delaminasi < 10 %. Hal ini diduga karena jenis perekat, berat labur dan teknik perekatan yang digunakan pada penelitian ini cukup baik sehingga menghasilkan papan lamina yang nilai uji delaminasinya baik.

Perekat yang digunakan dalam penelitian ini adalah perekat PF yang dikategorikan sebagai perekat eksterior dengan pelaburan perekat double spread. Ruhendi, et al (2007) menjelaskan bahwa perekat PF memiliki kelebihan tahan terhadap perlakuan air, tahan terhadap kelembaban dan temperatur tinggi. Achmadi (1990) menambahkan bahwa kelebihan perekat PF adalah viskositas resin yang cukup rendah yang memungkinkan penetrasi ke dalam pori-pori kayu sehingga kekuatan kohesif dari resin melebihi kekuatan resin dari kayu dan membentuk ikatan perekatan yang baik pada papan yang dihasilkan. Pelaburan perekat pada kedua sisi permukaan (double spread) papan BKS yang dilakukan pada penelitian ini menghasilkan ikatan yang baik antara perekat dan papan BKS. Selbo (1975) dalam Prayitno (1996) menjelaskan bahwa untuk mendapatkan ikatan yang baik antar perekat dengan papan maka sebaiknya digunakan pelaburan perekat pada kedua sisi permukaan atau double spread.

Pengujian dengan perendaman air dingin selama 6 jam untuk uji delaminasi, tidak menimbulkan garis rekat yang terbuka pada papan lamina yang dihasilkan. Hal ini diduga karena semua perlakuan berat labur perekat PF sebesar 240-300 g/m2 yang digunakan masih optimal untuk penggunaan pada papan lamina berbahan baku BKS dan garis rekat yang tidak lebih dari 0,1 mm karena menurut Blass, et al (1995) garis rekat yang lebih dari 0,1 mm akan mengalami keretakan. Berat labur yang terlalu rendah atau terlalu tinggi juga akan mempengaruhi kekuatan rekat dari papan lamina yang dihasilkan. Hal ini didukung oleh pernyataan Pizzi (1983) yang menjelaskan bahwa berat labur yang terlalu tinggi selain dapat meningkatkan nilai produksi juga akan mengurangi kekuatan rekat, sedangkan berat labur yang terlalu rendah akan mengurangi kekuatan rekat yang disebabkan oleh garis rekat yang terlalu tipis.

Sifat Mekanis Papan Lamina Nilai MOR (Modulus of Rupture)

Hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata dari MOR papan lamina berbahan baku BKS berkisar antara 89,94–191,10 kg/cm2. Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa papan lamina yang dihasilkan tidak baik digunakan untuk bahan konstruksi karena tidak memenuhi standar JAS 243 : 2003 yang mensyaratkan nilai MOR > 300 kg/cm2. Rekapitulasi rata-rata nilai MOR papan lamina dapat dilihat pada Gambar 12 dan data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3.

Gambar 12. Nilai MOR papan lamina

Hasil pengujian MOR menunjukkan bahwa nilai MOR tertinggi berada pada papan lamina dengan berat labur 260 g/m2 dengan nilai 191,10 kg/cm2 dan nilai MOR terendah berada pada papan lamina dengan berat labur 300 g/m2 dengan nilai 89,94 kg/cm2. Hal ini berarti berat labur yang paling optimal diantara keempat berat labur untuk pembuatan papan lamina dengan bahan baku BKS adalah berat labur 260 g/m2. Hasil pengujian MOR pada penelitian ini masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Ginting (2012) yang menggunakan kombinasi BKS dan mahoni menjadi papan laminasi dan perekat isosianat dengan berat labur 300 g/m2 dengan nilai MOR tertinggi sebesar 385 kg/cm2

Geen (1999) dalam Herawati (2008) menjelaskan bahwa nilai MOR dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kerapatan atau berat jenis, mata kayu, dan serat miring. Bahan baku BKS yang digunakan pada penelitian ini tidak memiliki cacat seperti mata kayu dan berserat miring sehingga kedua faktor tersebut dianggap tidak mempengaruhi nilai kekuatan dari papan lamina yang

. Perbedaan ini disebabkan karena kerapatan dari bahan baku rendah, dan berat labur perekat yang digunakan pada papan lamina BKS.

168,79 191,10 112,28 89,94 0 50 100 150 200 250 300 350 400 240 260 280 300 M OR ( kg/ cm 2) Berat Labur (g/m2) MOR JAS 243 : 2003 MOR > 300 kg/cm2

dihasilkan. Sehingga faktor yang dianggap paling mempengaruhi nilai MOR pada penelitian ini adalah kerapatan bahan baku. Menurut PKKI NI-5 1961 dalam Setiawan (2011) terdapat hubungan antara berat jenis, berat kayu, dan kekuatan kayu sehingga semakin berat kayu maka berat jenis dan kekuatan kayu mengalami peningkatan. Berdasarkan standar yang diajukan PKKI NI-5 1961 dalam Setiawan (2011), papan lamina yang dihasilkan pada penelitian ini tergolong dalam kelas kuat V.

Nilai kerapatan bahan baku BKS yang rendah merupakan faktor yang paling mempengaruhi nilai MOR dari papan lamina yang dihasilkan. BKS yang digunakan sebagai bahan baku diambil dari batang bagian tengah ke bagian dalam

BKS yang memiliki nilai kerapatan yang rendah yang berkisar antara 0,26-0,40 g/cm3

Berat labur perekat yang terlalu kecil diduga mempengaruhi nilai MOR papan lamina yang dihasilkan karena garis rekat yang dihasilkan terlalu tipis dan miskin garis rekat sedangkan berat labur yang terlalu tinggi juga menghasilkan nilai MOR yang tidak bagus karena garis rekat yang terlalu tebal sehingga ikatan antara perekat dan sirekat menjadi tidak maksimal. Berdasarkan penelitian ini, berat labur yang dianggap paling optimal untuk perekat PF dalam pembuatan papan lamina dengan bahan baku BKS adalah berat labur 260 g/m

. Menurut Oey Djoen Seng dalam PIKA (1979), bahan baku yang digunakan pada penelitian ini dapat dikategorikan dalam kelas kuat IV-V sehingga papan lamina yang dihasilkan juga memiliki nilai MOR yang rendah yaitu kelas kuat V dan tidak memenuhi standar JAS 243 : 2003.

2

dengan nilai MOR tertinggi yaitu 191,10 kg/cm2.

Hasil analisis data juga menunjukkan bahwa variasi berat labur perekat PF tidak berpengaruh nyata terhadap nilai MOR pada papan lamina (Lampiran 8). Hal ini berarti adanya peningkatan berat labur tidak mempengaruhi nilai MOR papan yang dihasilkan. (Pizzi, 1983) menjelaskan bahwa variasi berat labur tidak mempengaruhi kekuatan dari papan lamina tetapi hanya mempengaruhi kekuatan rekat dari papan lamina.

Nilai MOE (Modulus of Elasticity)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari MOE papan lamina berkisar antara 15.727–31.732 kg/cm2. Rekapitulasi rata-rata nilai MOE papan lamina dapat dilihat pada Gambar 13 dan data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3.

Gambar 13. Nilai MOE papan lamina

Berdasarkan hasil pengujian nilai MOE pada papan lamina yang dihasilkan, nilai MOE tertinggi berada pada berat labur 260 g/m2 dengan nilai

30115 31732 17918 15728 5000 15000 25000 35000 45000 55000 65000 75000 85000 240 260 280 300 M O E ( kg/ cm 2) Berat Labur (g/m2) MOE JAS 243 : 2003 MOE > 75.000 kg/cm2

31.732 kg/cm2 dan nilai MOE terendah berada pada berat labur 300 g/m2 dengan nilai 15.728 kg/cm2. Hal ini berarti berat labur yang paling optimal untuk pembuatan papan lamina berbahan baku BKS adalah papan lamina yang memiliki nilai MOE tertinggi yaitu papan lamina dengan berat labur 260 g/m2

Hasil pengujian nilai MOE pada penelitian ini masih dibawah nilai MOE pada penelitian sebelumnya. Penelitian Ginting (2012) menghasilkan papan lamina dengan nilai MOE tertinggi sebesar 40.675 kg/cm

.

2

Herawati (2008) menyatakan bahwa nilai MOE tidak dipengaruhi oleh ukuran lebar lamina tetapi lebih pada kondisi lamina terutama adanya cacat mata kayu atau serat miring. Selain dipengaruhi oleh sifat-sifat kayunya, kualitas perekatan pada penelitian yang dilakukan juga dipengaruhi oleh proses pengempaan. Kekuatan papan lamina juga ditentukan dari proses pembuatannya dan sistem perekatannya.

yang menggunakan BKS dan mahoni sebagai bahan baku dan isosianat sebagai perekatnya. Hasil pengujian pada papan lamina pada penelitian ini menunjukkan nilai MOE tidak ada yang memenuhi standar JAS 243 : 2003.

Pada proses pembuatan papan lamina dari BKS ini menggunakan sistem perekatan double spread yang menurut Selbo (1975) dalam Prayitno (1996) merupakan sistem perekatan yang paling baik. Kualitas perekat yang digunakan juga memiliki sifat perekatan yang baik yaitu perekat PF (Achmadi, 1990) yang dikempa dengan suhu 150°C selama 15 menit dengan tekanan 25 kg. Namun papan lamina yang dihasilkan masih belum memenuhi standar JAS 243 : 2003.

Hal ini sangat mungkin dipengaruhi oleh kelas kuat BKS yang rendah seperti yang dikemukakan oleh Oey Djoen Seng dalam PIKA (1979) yang

menunjukkan bahwa kelas kuat BKS hanya berkisar antara kelas kuat III-IV yang tergolong rendah. Sehingga papan lamina yang dihasilkan juga memiliki nilai MOE yang rendah.

Berdasarkan hasil analisis ragam juga menunjukkan bahwa variasi berat labur perekat PF tidak berpengaruh nyata terhadap nilai MOE papan lamina yang dihasilkan (Lampiran 9). Hal ini berarti adanya peningkatan berat labur tidak mempengaruhi nilai MOE papan lamina yang dihasilkan.

Dokumen terkait