BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pemeriksaan bahan susun beton
2. Hasil pemeriksaan agregat kasar pecahan bata ringan)
Kadar air rata-rata yang terdapat dalam bata bingan yang digunakan dalam pemeriksaan ini adalah 5,633%. Syarat kadar air maksimum untuk agregat normal adalah 2% (SK SNI 03-2834-2002). Dari hasil pengujian, agregat ini mengandung kadar air melebihi dari syarat. Kadar air yang dikandung agregat kasar yang melebihi ketentuan dapat mempengaruhi kuat tekan beton dikarenakan beton itu akan kelebihan jumlah air. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 6.
b. Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Kasar
Berat jenis bata ringan jenuh kering muka adalah 1,05 sehingga dapat digolongkan menjadi agregat ringan, karena nilainya kurang dari 2,0 (SK SNI 03-2834-2002). Penyerapan air dari keadaan kering menjadi keadaan jenuh kering muka adalah 55,9%. Hasil pemeriksaan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7.
c. Keausan Agregat Kasar
Keausan Bata Ringan sebesar 19,76% lebih kecil dari yang ditetapkan yaitu sebesar 40%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ketahanan agregat terhadap durabilitas bagus, karena persyaratan agregat untuk beton < 40% ( Tjokrodimuljo, 2007). Hasil pemeriksaan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 8.
d. Berat Satuan Agregat Kasar
Dari hasil pemeriksaan didapat berat satuan bata ringan sebesar 0,905 gr/cm³. Untuk besar berat satuan diatas 2,0 gr/cm³ agreagat dikatakan masuk dalam jenis agregat normal (SK SNI 03-2834-2002). Hasil pemeriksaan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 9.
B. Hasil Perencanaan Campuran Beton (Mix Design)
Rencana kebutuhan bahan untuk tiap adukan beton dapat dilihat pada.Tabel 5.3, 5.4 dan 5.5. Perhitungan perencanaan campuran beton dengan metode SKSNI 03-28342002 (Tjokrodimuljo, 2007) selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 10.
Tabel 5.3 Kebutuhan campuran untuk tiap 1 m3adukan beton
Lolos saringan (mm) Air (liter) Semen (kg) Pasir (kg) Bata Ringan (kg) 16 204,9 409,8 700,16 1095,13 22.4 204.9 409,8 682,21 1113,08 25 204.9 409,8 682,21 1113,08
Sumber : Hasil Perhitungan, 2015
Tabel 5.4 Kebutuhan campuran untuk tiap 1 benda uji berbagai variasi
Sumber : Hasil Perhitungan, 2015 Lolos saringan (mm) Air (liter) Semen (kg) Pasir (kg) Bata Ringan (kg) 16 1,08 2,17 3,71 5,80 22,4 1,08 2,17 3,61 5,90 25 1,08 2,17 3,61 5,90
Tabel 5.5 Kebutuhan campuran untuk tiap 3 benda uji berbagai variasi Lolos saringan (mm) Air (liter) Semen (kg) Pasir (kg) Bata Ringan (kg) 16 3,24 6,51 11,13 17,4 22,4 3,24 6,51 10,83 17,7 25 3,24 6,51 10,83 17,7
C. Hubungan Variasi Ukuran Agregat dengan Kuat Tekan Beton Hasil pengujian kuat tekan beton dilakukan pada umur 7 hari dimana pada umur ini kekuatan beton ini masih bisa meningkat lagi kekuatannya.
Hasil pengujian kuat tekan dapat dilihat pada tabel 5.6 dan gambar 5.2, untuk selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 12.
Tabel 5.6 Hasil uji kuat tekan beton dengan variasi Lolos saringan
(mm)
Benda uji Fc’ silinder (Mpa) Fc’ Rata-rata
16 Fc’-1 6,45 6,55 Fc’-2 6,58 Fc’-3 6,63 22,4 Fc’-4 6,27 6,43 Fc’-5 6,45 Fc’-6 6,56 25 Fc’-7 5,46 5,72 Fc’-8 5,57 Fc’-9 6,14
Sumber: Hasil pengujian, 2015 Sumber : Hasil Perhitungan,
Berdasarkan Gambar 5.2 Nilai kuat tekan beton mengalami kenaikan seiring dengan semakin besarnya ukuran agregat kasar, namun kenaikan kuat tekan optimum beton menurun kembali ketika agregat kasar melewati lolos saringan 19 mm. Dari grafik di atas dapat peroleh nilai optimum kuat tekan beton pada agregat kasar lolos saringan 19 mm yaitu sebesar 6,793 MPa yang didapatkan dari peramaan = 0,028 ² + 1,0568 3,1782. Tabel nilai kuat tekan optimum beton dapat di lihat pada Tabel 5.7.
Tabel 5.7 Nilai kuat tekan optimum beton
No Lolos saringan (mm) Kuat tekan optimum (MPa) 1 16 6,562 2 16,5 6,636 3 17 6,695 4 17,5 6,740 5 18 6,772 6 18,5 6,789
Gambar 5.2. Grafik hubungan variasi ukuran agregat kasar pecahan bata ringan terhadap kuat tekan beton pada umur 7 hari.
No Lolos saringan (mm) Kuat tekan optimum (MPa) 7 19 6,793 8 19,5 6,782 9 20 6,757 10 20,5 6,719 11 21 6,666 12 21,5 6,6 13 22 6,519 14 22,5 6,424 15 23 6,316 16 23,5 6,193 17 24 6,057 18 24,5 5,906 19 25 5,741
Sumber: Hasil pengujian, 2015
D. Berat Jenis Beton
Berat jenis beton ringan kurang dari 1000 kg/m³ - 2000 kg/m3. Beton biasanya dipakai untuk elemen-non-struktural, akan tetapi mungkin pula untuk elemen struktural-ringan. Kebaikannya adalah berat sendiri yang rendah sehingga struktur pendukungnya dan fondasinya lebih kecil.
Tabel 5.8 Berat Jenis Beton
BerdasarkanTabel diatas dapat dilihat bahwa berat jenis beton sebesar 1545,032 kg/m3dan beton ini termasuk kategori beton ringan karena dibawah 2000 kg/m3.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang sudah dilaksanakan dapat diambil kesimpulan;
1. Dari hasil penelitian didapat hasil kuat tekan beton dengan agregat kasar pecahan bata ringan lolos saringan 16 mm rata-rata nilainya adalah 6,55 MPa, saringan 22,4 mm adalah 6,43 MPa, dan saringan 25 mm rata-ratanya adalah 5,72 MPa.
2. Agregat kasar yang paling terbaik dari ketiga variasi adalah saringan 16 mm, didapat nilai kuat optimum beton sebesar 6,562 MPa. Namun berdasarkan gambar regresi kuat tekan optimum beton berada di lolos saringan 19 mm dengan nilai kuat tekan optimum sebesar 6.793 MPa.
3. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan, didapat berat jenis beton sebesar 1545,03 kg/m3.
B. Saran
Beberapa saran yang dapat di berikan setelah di laksanakan penelitian ini adalah:
1. Perlu diteliti ukuran agregat yang lolos saringan < 16 mm dan > 25 mm. 2. Perlu diteliti untuk persentase penggantian agregat kasar untuk
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik UMY,Yogyakarta.
ASTM, 1985.American Standart Test MaterialVol. E,New York
Departemen Pekerjaan Umum, SK SNI-S-04-1989-F,Metode Pengujian Kadar Lumpur Agregat, Pustran Balitbang PU, Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum, (1990), SK SNI-03-1968,Metode Pengujian Tentang Analisis Saringan Agregat Halus dan Kasar, Pustran Balitbang PU, Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum, (1990), SK SNI-03-1974,Metode Pengujian Kuat Tekan Beton, Badan Standar Nasional, Jakarta.
Fajri, R (2014),Pengaruh Pemakaian Agregat Kasar Dari Limbah AMP Terhadap Kuat Tekan Beton f’c 18,5 MPa,TugasAkhir, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Pasir Pengaraian.
Fathoni, N (2015),Pengaruh Limbah Cangkang Sawit Sebagai Subtitusi Agregat Kasar Dengan Variasi FAS 0,35;0,40;0,45;0,50 Terhadap Kuat Tekan Beton,TugasAkhir, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik UMY,Yogyakarta.
Gurnasih, A (2013),Kajian Optimasi Kuat Tekan Beton Dengan Simulasi Gradasi Ukuran Butiran Agregat Kasar, TugasAkhir, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik UNY,Yogyakarta.
Mulyono, T. (2005),Teknologi Beton, Andi, Yogyakarta.
Purwati, A (2014), Penelitian Tentang Pengaruh Ukuran Butiran Terhadap Kuat Tekan Dan Modulus Elastisitas Beton Kinerja Tinggi Grade 80,
TugasAkhir, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta.
SK SNI-03-2834,2002,Tata Cara Peritungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung,,Pustran Balitbang PU, Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum, (1990), SK SNI-03-1968, Metode Pengujian Tentang Analisis Saringan Agregat Halus dan Kasar, Pustran Balitbang PU, Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum, (1990), SK SNI-03-1974,Metode Pengujian Kuat Tekan Beton, Badan Standar Nasional, Jakarta.
Mulyono, T. (2005),Teknologi Beton, Andi, Yogyakarta.
Gurnasih, A (2013),Kajian Optimasi Kuat Tekan Beton Dengan Simulasi Gradasi Ukuran Butiran Agregat Kasar, TugasAkhir, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik UNY,Yogyakarta.
Fathoni, N (2015),Pengaruh Limbah Cangkang Sawit Sebagai Subtitusi Agregat Kasar Dengan Variasi FAS 0,35;0,40;0,45;0,50 Terhadap Kuat Tekan Beton,TugasAkhir, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik
UMY,Yogyakarta.
Anjani, M (2015),Penelitian Tentang Pengaruh Bahan Tambahan
Superplasticizer Dengan Variasi 0,25%, 0,50%, 0,75%, 1% Dari Berat Semen Dan Dengan Denggunakan Agregat Kasar Cangkang Kemiri 100%. TugasAkhir, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik
UMY,Yogyakarta.
Purwati, A (2014), Penelitian Tentang Pengaruh Ukuran Butiran Terhadap Kuat Tekan Dan Modulus Elastisitas Beton Kinerja Tinggi Grade 80,
TugasAkhir, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Purwati, A (2014),Pengaruh Pemakaian Agregat Kasar Dari Limbah AMP Terhadap Kuat Tekan Beton f’c 18,5 MPa,TugasAkhir, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas TeknikUniversitas Pasir Pengaraian.
SK SNI-03-2834,2002,Tata Cara Peritungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung,,Pustran Balitbang PU, Jakarta.
Ukuran Tertahan (gram) Tertahan (%) Tertahan Komulatif (%) Komulatif (%) No.4 (4,8 mm) 0 0 0 100 No.8 (2,4 mm) 0 0 0 100 No.16 (1,2 mm) 165 16,5 16,5 83,5 No.30 (0,6 mm) 281 28,1 44,6 55,4 No.50 (0,3mm) 268 26,8 71,4 28,6 No.100 (0,15 mm) 196 19,6 91 9 Pan 90 9 100 0 Total 1000 100 % 223,7 Daerah 2
Jumlah berat tertahan komulatif (%) Modulus Hasil Butiran (MHB)=
Jumlah berat tertahan (%) 223,7
= =2,237 %
100
Uraian Benda uji 1 Benda uji 2 Benda uji 3 Pasir jenuh kering muka (B1) 500 gram 500 gram 500 gram Pasir setelah keluar oven (B2) 497 gram 498 gram 498 gram
Kandungan air (B1-B2) 3 gram 2 gram 2 gram
Kadar air = x 100% 6,04 % 4,02 % 4,02 %
Rata-rata kadar air 4,693 %
a. Kandungan air = Berat jenuh kering muka - berat pasir kering tungku
= 500 - 497 = 3 gram
b. Kadar air = x 100%
= x 100%
= 6,04 %
c. Rata-rata kadar air =
Tabel Hasil Analisis Berat Jenis Agregat Halus (pasir)
Uraian Berat
Berat piknometer berisi pasir dan air (Bt) 1087 gr
Berat pasir setelah kering (Bk) 500 gr
Berat piknometer berisi air (B) 773 gr
Berat pasir keadaan jenuh kering muka (SSD) 508 gr
a. Berat jenis curah (bulk specific gravity)
= = = 2,57
b. Berat jenis jenuh kering muka (saturated surface dry)
= = = 2,73
c. Berat jenis tampak (apparent specific gravity)
= = = 2,68
d. Penyerapan air agregat halus (pasir)
a. Berat satuan
- Bejana : h = 30,03 cm d = 15,14 cm
- Berat bejana kosong (B1) = 10700 gram - Berat bejana berisi pasir SSD (B2) = 19000 gram
- Volume bejana kosong (V) = x π x d2x h
= x π x (15,14)2x 30,30 = 5406,26 cm3 Berat satuan = = ✁ = 1,54 gram/cm3 b. Berat satuan - Bejana : h = 32,10 cm d = 15,14 cm
- Berat bejana kosong (B1) = 11000 gram - Berat bejana berisi pasir SSD (B2) = 19400 gram - Volume bejana kosong (V) = x π x d2x h
= x π x (15,13)2x 32,10 = 5771,29 cm3 Berat satuan = = ✁ = 1,46 gram/cm3 Rata-rata berat satuan =
✁ ✁
Tabel Hasil Analisis kadar lumpur agregat halus (pasir)
Uraian Berat
Benda uji 1 Benda uji 2 Benda uji 3 Pasir jenuh kering muka (SSD) (B1) 500 gram 500 gram 500 gram Pasir setelah keluar oven (B2) 494 gram 486 gram 493 gram
Kandungan air (B1-B2) 6 gram 14 gram 7 gram
Kadar lumpur = x 100% 1,2% 2,8% 1,4% a. Kandungan air = B1- B2 = 500 - 486 = 14 gram b. Kadar lumpur = x 100% = x 100% = 2,8 %
c. Rata-rata kadar lumpur =
✂ ✂ ✂
Tabel Hasil Analisis kadar air bata ringan
Uraian Benda uji 1 Benda uji 2 Benda uji 3 Berat bata ringan kering muka (B1) 500 gram 500 gram 500 gram Berat bata ringan keluar oven (B2) 472 gram 476 gram 472 gram
Kandungan air (B1-B2) 28 gram 24 gram 28 gram
Kadar air = x 100% 5,93% 5,04% 5,93%
Rata-rata kadar air 5,633%
a. Kandungan air = Berat jenuh kering muka - berat pasir kering tungku
= 500 - 472
= 28 gram
b. Kadar air = x 100%
= x 100%
= 5,93 %
c. Rata-rata kadar air =
✄ ✄ ✄
Tabel hasil pemeriksaan berat jenis bata ringan
No. Uraian Berat (gram)
1. Berat bata ringan setelah dikeringkan (Bk) 1000
2. Berat bata ringan dibawah air (Ba) 81
3. Berat bata ringan keadaan jenuh kering muka (Bj) 1559
Perhitungan berat jenis curah (bulk specific gravity)
= = = 0,676
Berat jenis jenuh kering muka (saturated surface dry)
= = = 1,05
Berat jenis tampak (apparent specific gravity)
= = = 1,08
Penyerapan air agregat kasar (bata ringan)
Tabel Hasil Analisis Keausan Bata Ringan
Jenis Pengukuran Berat Benda Uji
Berat Sebelum Masuk Mesin Los Angless (B1) 5000 Berat Setelah Masuk Mesin Long Angless (B2) 4012
Keausan = x 100% 19,76
Perhitungan Keausan Bata Ringan = x 100%
= x 100%
Berat satuan
- Bejana : h = 30 cm d = 15 cm
- Berat bejana kosong (B1) = 10700 gram
- Berat bejana berisi pasir SSD (B2) = 15500 gram
- Volume bejana kosong (V) = x π x d2x h
= x π x (15)2x 30 = 5301,43 cm3 Berat satuan = = ☎ = 0,905 gram/cm3
1. Ambil kuat tekan beton yang direncanakan (f`cr) pada umur tertentu. 2. Hitung deviasi standar menurut ketentuan berikut:
a. Jika pelaksana tidak mempunyai data pengalaman hasil pengujian contoh beton pada masa lalu, maka nilai deviasi standar S tidak dapat dihitung. b. Jika pelaksana mempunyai data pengalaman pembuatan beton serupa
yang mempunyai 15 buah sampai 29 buah dan dari pengujian yang berurutan dalam periode waktu tidak kurang dari 45 hari kalender, maka nilai deviasi standar harus dikalikan faktor pengali yang tercantum dalam Tabel L-10.1
Tabel L-10.1 Faktor Pengali Deviasi Standar
Jumlah Contoh Faktor Pengali
<15 15 20 25 30 atau >30 Tidak ada 1,16 1,08 1,03 1,00 3. Menghitung nilai tambah (M) dihitung dengan cara berikut:
a. Jika pelaksana mempunyai pengalaman lapangan, maka nilai tambah dihitung berdasarkan nilai deviasi standar S dengan 2 rumus berikur (diambil yang terbesar):
M = 1,34. S Atau
M = 2,33 S - 3,5
b. Jika pelaksana tidak mempunyai pengalaman lapangan, maka nilai M diambil dari Tabel L-10.2.
21 s.d. 35 8,5
Lebih dari 35 10,0
4. Menetapkan kuat tekan beton (Fe) rata-rata menurut rumus: Fcr’ fc’ + M
dengan: fc’ = Kuat tekan beton, MPa fcr’ = Kuat tekan rata-rata, MPa M = Nilai tambah, MPa 5. Menetapkan jenis semen Portland 6. Menetapkan jenis agregat halus. 7. Menetapkan jenis agregat kasar.
8. Menetapkan faktor air semen, untuk benda uji silinder dipergunakan Gambar L-10.1.
9. Menetapkan faktor air semen maksimum dipergunakan Tabel L-10.5. 10. Menetapkan nilai faktor air semen yang dipakai yaitu yang terkecil. 11. Menetapkan nilalslumpdipergunakan Tabel L-10.3.
Tabel L-10.3 Penetapan NilaiSlumpadukan beton
Pemakaian Beton Maks (cm) Min (cm)
Dinding, plat fondasi, fondasi telapak bertulang Fondasi telapak tidak bertulang, kaison dan struktur di bawah ini
Pelat, balok, kolom dan dinding Pengerasan jalan Pembetonan masal 12,5 9,0 15,0 7,5 7,5 5,0 2,5 7,5 5,0 2,5
12. Menetapkan ukuran agregat maksimum
13. Menetapkan kebutuhan kadar air bebas, dipergunakan Tabel L-10.4.
20 40 Batu Pecah Alami Batu Pecah Alami Batu Pecah 180 135 170 115 155 205 160 190 140 175 230 180 210 160 190 250 195 225 175 205
Apabila agregat halus dan agregat kasar yang dipakai dari jenis yang berbeda (alami dan pecahan), maka jumlah air yang diperkirakan diperbaiki dengan rumus:
A = 2/3 Ah + 1/3 Ak dimana:
A = Jumlah air yang dibutuhkan, liter/m3
Ah = Jumlah air yang dibutuhkan menurut jenis agregat halusnya Ak = Jumlah air yang dibutuhkan menurut agregat kasarnya 14. Hitung jumlah semen yang besarnya adalah kadar semen yaitu kadar air
dibagi dengan faktor air semen.
15. Tentukan jumlah semen seminimum mungkin, dapat dilihat pada Tabel L-10.5.
16. Tentukan jumlah semen yaitu yang dipakai yang terbesar. 17. Penyesuaian jumlah air atau faktor air semen.
18. Menentukan golongan pasir lihat Tabel L-10.8
19. Perbandingan pasir dan kerikil (pasir terhadap campuran) dipergunakan Gambar L-10.2.
20. Menentukan beratjenis agregat campuran pasir dan kerikil. 21. Menentukan berat jenis beton, dapat dilihat Gambar L- 10.3.
Tabel L-10.5. Persyaratan Jumlah Semen Minimum dan Faktor Air Semen Maksimum untuk Berbagai Pembetonan dalam Lingkungan Khusus
Jenis Pembetonan Jumlah Semen Minimum Per M3Beton (Kg)
Nilai Faktor Air Semen Maksimum Beton di dalam ruang
bangunan:
a. Keadaan keliling non korosif
b. Keadaan keliling korosif disebabkan oleh konden-sasi atau uap korosif
Beton di luar ruangan bangunan:
a. Tidak telindung dari hujan dan terik matahari langsung
b. Terlindung dan hujan dan terik matahari langsung
Beton yang masuk ke dalam air:
a. Mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti b. Mendapat pengaruh sulfat
dan alkali dari tanah
Beton yang kontinue berhu-bungan: a. Air tawar b. Air laut 275 325 325 275 325 0,60 0,52 0,60 0,62 0,55 Lihat Tabel 22 Lihat Tabel 23 50
Konsentrasi Sulfat Dalam Bentuk SO3 Tipe Semen Minimum (kg/m ) Ukuran Agregat Maksimum Faktor Air Semen Dalam Tanah Sulfat
(SO3) Dalam air tanah (gr/lt) 40 mm 20 mm 10 mm Total SO3 SO3 Campuran (air: tanah = 2 : 1) (gr/lt) <0,2 <1,0 <0,3 Tipe I dengan atau tanpa pozolan (15-40) % 80 300 350 0,50 0,2-0,5 1,0- 1,9 0,3-1,2 Tipe I dengan atau tanpa pozolan (15-40)% 290 330 380 0,50 Tipe I + pozolan(15-40)% atau semen Portland pozolan 270 310 360 0,55 Tipe II atau tipe V 250 290 340 0,55 0,5 - 1,0 1,9 - 3,1 1,2 - 2,5 Tipe I + pozolan (15-40)% atau semen portland pozolan 340 380 430 0,45 Tipe II atau tipeV 290 330 380 0,50 1,0-2,0 3,1-5,6 2,5-5,0 Tipe II atau tipe V 330 370 420 0,45 > 0,2 > 5,6 > 5,0 Tipe II atau tipe V + lapisan pelindung 330 370 420 0,45 51
Jenis Beton
Berhubungan Dengan
Semen Maksimum
Tipe Semen Ukuran Agregat Maksimum 40 mm 20 mm
Bertulang atau pratengang
Air Tawar 0,50 Tipe I - V 280 300
Air Payau 0,45 Tipe I + pozolan (15 -40) % atau semen portland pozolan 340 380 0,50 Tipe II atau tipe V 290 330
Air Laut 0,45 Tipe II atau
tipe V 330 370
Tabel L-10.8. Batas Gradasi Pasir
Lubang Ayakan % Berat Butir_Yang_Terlewat_Ayakan Britis
(mm)
ASTM
(No) Daerah 1 Daerah 2 Daerah 3 Daerah 4 4,75 3/16 inc 90–100 90 - 100 90–100 95–100 2,36 8 60–95 75 - 100 85–100 95–100 1,18 16 30-70 55-90 75-100 90-100 0,6 30 15-34 35-59 60-79 80- 100 0,3 50 5-20 8-30 12-40 15-50 0,15 100 0-10 0-10 0-10 0-15
Keterangan: Daerah 1 = Pasir kasar Daerah 2 = Pasir agak kasar Daerah 3 = Pasir agak halus Daerah 4 = Pasir halus
2. Deviasi Standar (sd)
3. Nilai tambah (M) 7 Mpa
4. Kuat tekan rata-rata rencana (f’cr = fc’+ M) 27 Mpa
5. Jenis semen Biasa (Tipe 1)
6. Jenis agregat halus (alami/pecahan) Alami 7. Jenis agregat kasar (alami/batupecah) Batu pecah
8. Faktor air semen 0,5
9. Nilai slump 7,5-15 Cm
10. Ukuran maks agregat kasar 22,4 dan 25 Mm
11. Kebutuhan air 204,9 liter/m3
12. Kebutuhan semen (ws = point 11/FAS) 409,8 kg/m3
13. Penyesuaian jumlah air atau FAS Tidak ada
14. Daerah gradasi agregat halus Daerah 2
15. Perbandingan agregat halus dan kasar 38% dan 62% % 16. Bj agregat camp (P/100*Bj agg.hls+k/100*Bj agg.kasar) 2,6582
17. Berat beton 2410 kg/m3
18. Kebutuhan agregat campuran (17-11-12) 1795,3 kg/m3
19. Keb. agregat halus (Point 18*15) 682,214 kg/m3
20. Keb. agregat kasar (Point 18-19) 1113,086 kg/m3
21. Kesimpulan: 1 adukan/m3 22. Air 204,9 liter/m3 23. Semen 2,1725 kg/m3 24. Agg. halus 3,6167 kg/m3 25. Agg. kasar 5,9009 kg/m3 26. Total 2410 kg/m3 53
2. Deviasi Standar (sd)
3. Nilai tambah (M) 7 Mpa
4. Kuat tekan rata-rata rencana (f’cr = fc’+ M) 27 Mpa
5. Jenis semen Biasa (Tipe 1)
6. Jenis agregat halus (alami/pecahan) Alami 7. Jenis agregat kasar (alami/batupecah) Batu pecah
8. Faktor air semen 0,5
9. Nilai slump 7,5-15 Cm
10. Ukuran maks agregat kasar 16 Mm
11. Kebutuhan air 204,9 liter/m3
12. Kebutuhan semen (ws = point 11/FAS) 409,8 kg/m3
13. Penyesuaian jumlah air atau FAS Tidak ada
14. Daerah gradasi agregat halus Daerah 2
15. Perbandingan agregat halus dan kasar 39% dan 61% % 16. Bj agregat camp (P/100*Bj agg.hls+k/100*Bj agg.kasar) 2,661
17. Berat beton 2410 kg/m3
18. Kebutuhan agregat campuran (17-11-12) 1795,3 kg/m3
19. Keb. agregat halus (Point 18*15) 700,16 kg/m3
20. Keb. agregat kasar (Point 18-19) 1095,13 kg/m3
21. Kesimpulan: 1 adukan/m3 22. Air 204,9 liter/m3 23. Semen 409,8 kg/m3 24. Agg. halus 700,16 kg/m3 25. Agg. kasar 1095,13 kg/m3 26. Total 2410 kg/m3 54
22.4 204.9 409,8 682,21 1113,08
25 204.9 409,8 682,21 1113,08
Sumber : Hasil Perhitungan, 2015
Tabel L-10.4 Kebutuhan campuran untuk tiap 1 benda uji berbagai fariasi
Ukuran BR Air(liter) Semen (kg) Pasir (kg) BR (kg)
16 1,08 2,17 3,71 5,80
22,4 1,08 2,17 3,61 5,90
25 1,08 2,17 3,61 5,90
Sumber : Hasil Perhitungan, 2015
Tabel L-10.5 Kebutuhan campuran untuk tiap 3 benda uji berbagai fariasi
Ukuran BR Air (liter) Semen (kg) Pasir (kg) BR (kg) 16 3,24 6,51 11,13 17,4 22,4 3,24 6,51 10,83 17,7 25 3,24 6,51 10,83 17,7
Sumber : Hasil Perhitungan, 2015
Semen = 6,51 : 3 = 2,17 kg Pasir = 11,13 : 3 = 3,71 kg BR = 17,4 : 3 = 5,80 kg
Gambar 1. Kaliper
Gambar 2. Cetok, Mistar/penggaris, Penumbuk, Spatula.
Gambar 3. Timbangan
Gambar 4. Oven
Gambar 5. Kuas, Oli, dan Ember
Gambar 6. Mesin uji tekan betonMerk Hung Ta
Gambar.7.Elenmeyer
Gambar 8. Gelas ukur 1000 ml
Gambar 9. Timbangan dalam air
Gambar 10. MesinLos Angeles
Gambar 11. Mesin pengaduk (molen)
Gambar 12. KerucutAbrams
Gambar 13. Silinder Beton
Gambar 14. SaringanASTM
Gambar 15. Nampan
Gambar 16. Pecahan bata ringan
Gambar 17. Pasir (Merapi)
Gambar 18 SemenPortland
Gambar 19. Pengujian kuat tekan
Gambar 20. Beton setelah dilakukan pengujian
xiii
INTISARI
Teknologi pembuatan beton sebagai bahan struktur tidak bersifat statik saja, tetapi terus berkembang sejalan dengan lajunya pembangunan khususnya dibidang konstruksi. Oleh karena itu perlu adanya penelitian-penelitian untuk mendapatkan alternatif baru dalam pembuatan beton. Banyak upaya yang dilakukan dimulai dari penerapan bangunan ramah lingkungan (green building) yang mengadopsi reduce (mengurangi),reuse(menggunakan ulang),recycle (daur ulang),replace (menggantikan) untuk bangunan ramah lingkungan.
Pembuatan beton dengan menggantikan agregat kasar dalam penelitian beton sudah pernah di teliti sebelumnya, agregat kasar yang biasanya digunakan adalah cangkang kemiri, cangkang sawit, bata merah dan batu apung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai kuat tekan beton dengan agregat kasar bata ringan variasi lolos saringan 16 mm, 22,4 mm dan 25 mm. Benda uji yang digunakan adalah berbentuk silinder dengan ukuran tinggi 30 cm, diameter 15 cm, terdiri dari 3 variasi dan masing-masing variasi sebanyak 3 sampel .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil kuat tekan beton dengan agregat kasar bata ringan 100% didapat persamaan = 0,028 ² + 1,0568 3,1782 pada umur 7 hari dengan variasi agregat kasar lolos saringan 16 mm, 22,4 mm dan 25 mm dengan fas tetap 0,50 berturut-turut yaitu sebesar 6,562 MPa, 6,444 MPa dan 5,741 MPa, sedangkan hasil nilai kuat tekan optimum beton yaitu 6,562 MPa dengan agregat kasar lolos saringan 16 mm.
utama untuk konstruksi yang banyak digunakan di seluruh dunia. Banyak upaya yang dilakukan dimulai dari penerapan bangunan ramah lingkungan (green building) yang mengadopsi reduce (mengurangi), refuse (menggunakan ulang), recycle (daur ulang), replace (menggantikan) untuk bangunan ramah lingkungan. Ketika penulis melihat limbah bata ringan yang tidak terpakai, timbullah pemikiran untuk dijadikan bahan pengganti agregat kasar, yang biasanya di gunakan di dalam campuran beton yaitu agregat kasar berupa kerikil, penulis mengantinya dengan pecahan bata ringan dengan variasi lolos saringan yang berbeda-beda, yang bertujuan untuk mengetahui ukuran agregat kasar yang baik untuk campuran beton. Bata ringan ini memiliki sifat yang mendukung mempunyai berat yang ringan. Maka dari itu timbullah pemikiran tentang mendapatkan berat struktur beton yang lebih ringan. Dengan cara mengganti agregat kasar (kerikil) dengan menggunakan pecahan bata ringan.
Pada penelitian ini pembuatan beton dengan agregat kasar bata ringan variasi agregat kasar lolos saringan 16 mm, 22,4 mm dan 25 mm dengan agregat kasar 100% bata ringan, fas 0,50 serta umur pengujian7 hari.
tahun. Berbagai macam cara dilakukan untuk mendapatkankuat tekan beton yang diinginkan dan dapat dimanfaatkan dalam pengerjaan ketekniksipilan. Hal ini dilakukan tidak lepas dari hasil penelitian-penelitian terdahulu yang pernah dilakukan sebagai perbandingan dan kajian.adapun hasil-hasil penelitian yang dijadikan perbandingan tidak lepas dari topik penelitian yaitu mengenai pengaruh variasi agregat kasar terhadap kuat tekan.
A. Penelitian Sebelumnya Yang Mengkaji Agregat Kasar
Purwati, A (2014), melakukan penelitian tentang pengaruh ukuran butiran terhadap kuat tekan dan modulus elastisitas beton kinerja tinggi grade 80.
Gurnasih, A (2013), Melakukan penelitian tentang, kajian optimasi kuat tekan beton dengan simulasi gradasi ukuran butiran agregat kasar.
Anjani, M (2015), Penelitian tentang pengaruh bahan tambahan superplasticizer dengan variasi 0,25%, 0,50%, 0,75%, 1% dari berat semen dan dengan menggunakan agregat kasar cangkang kemiri 100%.
Fathoni, N (2015), melakukan penelitian ini adalah beton dengan substitusi cangkang sawit sebagai agregat kasar dengan variasi FAS 0,35; 0,40; 0,45 dan 0,50.
pengganti agregat kasar dimana pada 0% dijadikan beton kontrol dan pada persentase 10%, 20% dan 30%.
B. Keaslian Penelitian
Penelitian Tugas Akhir dengan judul “Pengaruh gradasi agregat kasar terhadap kuat tekan beton dengan agregat kasar bata ringan” dengan variasi agregat kasar lolos saringan 16 mm, 22.4 mm, dan 25 mm untuk beton dengan agregat kasar pecahan bata ringan” belum pernah diteliti sebelumnya. Perbedaan dari kelima penelitian sebelumnya di tunjukan dalam tabel 2.3
Tabel 2.3 Perbedaan 6 penelitian
III. LANDASAN TEORI 1. Pengertian Beton
Beton merupakan salah satu bahan gabungan dari suatu material-material diantaranya semen Portland, agregat (agregat kasar dan agregat halus), dan air. Beton
2. Faktor yang menentukan keberhasilan dalam pemembuat beton
Ada beberapa faktor utama yang bisa menentukan keberhasilan dalam membuat beton, diantaranya adalah :
a. Keadaan semen, b. Faktor air semen (fas), c. Kualitas agregat halus (pasir), d. Kualitas agregat kasar,
e. Prosedur yang benar dan cermat pada keseluruhan proses produksi beton,
f. Pengawasan dan pengendalian yang ketat pada keseluruhan prosedur dan mutu pelaksanaan.
3. Kelebihan dan Kekurangan Beton Kelebihan beton adalah (Mulyono, 2005):
a. Beton segar dapat dengan mudah diangkut maupun dicetak dalam bentuk apapun dan ukuran seberapapun tergantung keinginan, b. Termasuk bahan awet, tahan aus, tahan
kebakaran, tahan terhadap pengkaratan atau pembusukan oleh lingkungan, sehingga biaya perawatannya murah,
c. Tahan terhadap temperatur yang tinggi, d. Biaya pemeliharaan yang kecil,
e. Kuat tekannya tinggi sehingga jika dikombinasikan dengan baja tulangan (yang kuat tariknya tinggi) maka mampu memikul beban yang berat,
Kekurangan beton adalah (Mulyono, 2005):
a. Bentuk yang telah dibuat sulit diubah,
e. Daya pantul suara yang keras,
f. Mengalami kembang susut akibat perubahan suhu.
4. Kuat Tekan Beton
Kuat tekan beton adalah besarnya beban per satuan luas, yang menyebabkan benda uji beton hancur bila dibebani dengan gaya tekan tertentu yang dihasilkan oleh mesin tekan. Kuat desak beton merupakan sifat terpenting dalam kualitas beton dibanding dengan sifat-sifat