BAB IV Hasil Penelitian
4.2.3 Hasil Pemeriksaan Jumlah dan Jenis Bakteri pada Peralatan
dilakukan pengambilan sampel pada rumah makan khas minang. Hasil pemeriksaan jumlah bakteri pada peralatan rumah makan di Rumah Makan A, B dan C Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal yang
diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 4.5. Hasil Pemeriksaan Jumlah dan Jenis Bakteri Pada Peralatan Makan di Rumah Makan A Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal Tahun 2016
No Jenis Peralatan
Makan
Angka Lempeng Total
Jumlah Bakteri (Koloni/cm2) dan Jenis Bakteri Setelah
Dicuci
Jenis Bakteri Setelah di Lap dengan Kain
Berdasarkan tabel 4.5 diatas menunjukkan hasil pemeriksaan jumlah bakteri pada usapan peralatan alat makan dirumah makan khas minang A tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/Menkes/SK/VII/2003, tentang persyaratan hygiene rumah makan yang menunjukkan pada peralatan makan jumlah koloni bakteri tidak boleh lebih dari 100 koloni/cm2 atau tidak boleh mengandung kuman E-coli.
Tabel 4.6. Hasil Pemeriksaan Jumlah dan Jenis Bakteri Pada Peralatan Makan di Rumah Makan B Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal Tahun 2016
No Jenis Peralatan
Makan
Angka Lempeng Total
Jumlah Bakteri (Koloni/cm2) dan Jenis Bakteri Setelah
1 Piring 181 - Staphylococcus
Epidermidis
Berdasarkan tabel 4.6 diatas menunjukkan hasil pemeriksaan jumlah bakteri pada usapan peralatan alat makan dirumah makan khas minang B tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/Menkes/SK/VII/2003, tentang persyaratan hygiene rumah makan yang menunjukkan pada peralatan makan jumlah koloni bakteri tidak boleh lebih dari 100 koloni/cm2 atau tidak boleh mengandung kuman E-coli.
Tabel 4.7. Hasil Pemeriksaan Jumlah dan Jenis Bakteri Pada Peralatan Makan di Rumah Makan C Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal Tahun 2016
No Jenis Peralatan
Makan
Angka Lempeng Total
Jumlah Bakteri (Koloni/cm2) dan Jenis Bakteri Setelah Berdasarkan tabel 4.7 diatas menunjukkan hasil pemeriksaan jumlah bakteri pada usapan peralatan alat makan dirumah makan khas minang C tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/Menkes/SK/VII/2003, tentang persyaratan hygiene rumah makan yang menunjukkan pada peralatan makan jumlah koloni bakteri tidak boleh lebih dari 100 koloni/cm2 atau tidak boleh mengandung kuman E-coli.
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan pada pedagang rumah makan khas minang Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal dengan melihat proses pencucian peralatan makan secara keseluruhan tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Kepmenkes RI No.
1098/Menkes/SK/VII/2003. Dilihat dari prinsip pencucian peralatan makan yang digunakan oleh pedagang makanan tidak memenuhi syarat kesehatan, hal ini dikarenakan pada proses pencucian peralatan makan
Pada air bersih yang digunakan pedagang rumah makan khas minang untuk proses pencucian peralatan makan, air yang digunakan pedagang makanan paling banyak berasal dari air PAM, dari hasil laboratorium diketahui bahwa air tersebut memang telah memenuhi syarat kesehatan dengan air yang tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa. Karena air yang berasal dari PAM biasanya sudah mengandung klorin yang dapat membunuh bakteri. Klorin merupakan bahan kimia yang digunakan di Indonesia sebagai desinfektan dalam penyediaan air minum dan dalam hal tersebut mampu membunuh bakteri yang sering dijumpai pada air yaitu bakteri coliform, bakteri yang dapat dijadikan indikator pencemaran air dari kelompok mikrobiologis (Slamet, 2009)
Berdasarkan proses pencucian peralatan makan di rumah makan khas minang Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal juga dilakukan oleh 2 rumah makan dengan menggunakan bak pembilas dan 1
rumah makan tidak menggunakan bak pembilas atau langsung dengan air mengalir dari kran untuk mencuci peralatan makan. Keberadaan bak pembilas sangat penting dalam proses pencucian peralatan makan. Bak pembilas yang dianjurkan dalam proses pencucian peralatan makan sebanyak 3 bak pembilas.
Adapun fungsi dari bak tersebut diantaranya adalah pertama harus terdapat bak yang berisi air hangat dan sabun/detergen, kedua harus ada terdapat bak pembilas yang berisi air panas (700 – 760 C), ketiga harus terdapat bak pembilas yang berfungsi sebagai desinfektan (Anwar, 1990)
Bak pembilas dilakukan pada proses pencucian peralatan gunanya untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran yang menempel pada peralatan makan yang akan dipergunakan kembali. Bak pembilas yang seharusnya ada 3, pada rumah makan hanya mempunyai 1 yaitu sebagai pembilas akhir untuk proses pencucian. Begitu juga pada proses pencucian peralatan makan dengan menggunakan disinfektan, tidak ada pedagang makanan yang melakukan perlakuan tersebut. Proses pencucian peralatan makan dengan menggunakan bak disinfektan berfungsi untuk menghilangkan/membebashamakan peralatan setelah proses pencucian dan peralatan yang setelah dicuci perlu dijamin aman dari mikroba.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa tidak ada pedagang rumah makan yang melakukan proses pencucian peralatan makan dengan menggunakan bak pembilas disinfektan. Dengan demikian hal ini tidak sesuai dengan Depkes (2006), yang menyatakan cara desinfektan yang umum dilakukan yaitu dengan menggunakan air panas 1000C selama 2 menit, larutan klor aktif (50 ppm), dengan udara panas (oven), sinar ultraviolet, dan uap panas.
Berdasarkan hasil pengamatan pada pedagang rumah makan yang membersihkan tangannya terlebih dahulu sebelum mencuci peralatan makan adalah pedagang dengan kode A. Pedagang yang berada dirumah makan ini umumnya paling banyak memenuhi hygiene peroragan dibandingkan dengan pekerja dirumah makan lainnya. Pedagang ini melakukan proses-proses pencucian dengan baik, seperti mencuci tangan sebelum bekerja. Sedangkan pedagang yang berada dirumah makan B dan C tidak melakukan hal tersebut yaitu tidak mencuci tanganya sebelum mencuci peralatan makan. Hal ini dapat menimbulkan kontaminasi bakteri pada peralatan makan yang akan dicuci melalui tangan pedagang. Adapun guna dari mencuci tangan sebelum mencuci peralatan untuk mencegah kontaminasi silang dari semua tipe bakteri yang ada ditangan (Sherrington, 1992).
Selain itu pedagang rumah makan khas minang Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal dengan rumah makan A melakukan proses-proses pencucian peralatan langsung dibawah air mengalir dan pedagang rumah makan B, dan C tidak melakukan pencucian tersebut. Ini menyebabkan pedagang rumah makan kurang baik didalam proses pencucian peralatan yang langsung dibawah air mengalir. Hal ini dikarenakan kebiasaan pedagang rumah makan menempatkan air pada wadah penampungan ember, padahal air yang digunakan berulang-ulang sehingga kontaminasi bakteri sangat mudah menempel pada peralatan yang akan dicuci. Kondisi seperti ini tidak memenuhi syarat kesehatan hygiene sanitasi rumah makan bahwa peralatan
hendaknya langsung dicuci dibawah kran dengan air yang mengalir untuk menghindarkan adanya bakteri pada air yang yang ditampung di ember tersebut..
Dalam proses pencucian peralatan, penggunaan air bilasan pada wadah penampungan ember tidaklah baik. Sebab, air yang digunakan berulang-ulang dapat mengkontaminasi bakteri pada peralatan yang akan dicuci. Kondisi seperti ini tidak memenuhi persyaratan kesehatan hygiene sanitasi rumah makan bahwa peralatan hendaknya dicuci langsung dibawah air mengalir. Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan semua pedagang tidak melakukannya, alasannya karena banyaknya pengunjung untuk membeli makanan dan peralatan yang dicuci cukup banyak dan terlalu banyak air yang digunakan pada proses pencucian peralatan makan.
Menurut Depkes (2006), dilakukannya perendaman pada peralatan makan gunanya untuk memberikan kesempatan peresapan air kedalam sisa-sisa makanan yang menempel atau megeras (karena sudah lama) sehingga menjadi mudah untuk dibersihkan atau terlepas dari permukaa alat. Pedagang makanan juga melakukan proses pencucian peralatan makan menggunakan detergen yang cukup. Penggunaan detergen atau sabun pembersih yang digunakan yaitu sabun pembersih dengan jenis sabun colek dan sabun cair. Karena detergen sangat larut dalam air sehingga sisa-sisa makanan sedikit demi sedikit kemungkinan membekas paa alat yang dicuci. Semua pedagang rumah makan tidak menggunakan kaporit 50 ppm didalam melakukan pencucian, karena menurut pedagang mencuci dengan menggunakan detergen saja sudah cukup untuk menghilangka sisa-sisa lemak yang menempel pada peralatan makan tersebut.
Proses pencucian peralatan juga dilakukan dengan cara ditiriskan/dimiringkan terbalik, itu dilakukan setelah proses pencucian sampai dengan pembilasan. Biasanya peralatan makan langsung diletakkan di tempat rak khusus penyimpanan peralatan makan dengan cara ditiriskan/dimiringkan alasannya agar air yang masih tertinggal di peralatan makan tidak ada pada saat peralatan makan digunakan kembali untuk meletakkan makanan. Akan tetapi pada rumah makan A, B, dan C tidak ditemukan adanya rak khusus untuk tempat penyimpanan peralatan makan. Para pedagang hanya langsung meletakkan piring ke meja dan disusun secara ditimpa untuk piring, gelas dan sendok diletakkan di tempatnya di meja untuk tempat makan pengunjung.
Setelah peralatan makan ditiriskan dan ditempatkan ketempat penyimpanan peralatan makan, pedagang rumah makan juga menggunakan kain lap (serbet) untuk mengeringkan dan menghilangkan sisa kotoran yang mungkin masih menempel sebagai akibat proses pencucian seperti noda detergen dan lainnya. Akan tetapi kain lap yang digunakan pedagang rumah makan tidak dicuci setiap hari dan kain lap bukan hanya digunakan untuk peralatan makan saja, akan tetapi digunakan untuk membersihkan meja stelling pedagang. Sebenarnya jika proses pencucian berlangsung dengan baik noda-noda itu tidak boleh terjadi.
Prinsip menggunakan kain lap pada alat yang sudah dicuci bersih sebenarnya tidak boleh dilakukan, karena akan terjai pencemaran sekunder (rekontaminasi) pada makanan (Depkes, 2006).
5.2 Pemeriksaan Bakteri Pada Proses Pembersihan Peralatan Makan
Berdasarkan pengambilan sampel usapan peralatan makan (piring, gelas, sendok) di 3 rumah makan khas minang yang ada di Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo kecamatan Medan Sunggal dengan cara observasi pada proses pembersihan peralatan makan, mulai dari proses pencuciannya hingga proses pengeringan peralatan makan tidak memenuhi syarat kesehatan. Hal ini dapat dilihat dengan hasil laboratorium yang membuktikan bahwa seluruh peralatan makan hasil sampel jumlah koloni lebih dari 100 koloni/cm2 pada seluruh rumah makan yang diteliti.
Rumah makan A seluruh peralatan makan (piring, gelas, sendok) mulai dari sampel usapan peralatan makan setelah dicuci dan setelah di lap dengan kain lap, hasil membuktikan jumlah koloni bakteri lebih dari 100 koloni/cm2. Dapat dilihat bahwa pada proses pencucian peralatan makan, air yang digunakan oleh pedagang memang air PAM yang sudah bersih atau yang tidak mengandung E.coli, kebiasaan pedagang dalam proses pencucian antara lain sudah baik yaitu mencuci tangan sebelum mencuci peralatan makan yang akan menghindari masuknya bakteri dari tangan ke peralatan makan.
Pada pedagang rumah makan A, pedagang rumah makan ini menggunakan spons yang sudah kotor dan rendaman air sabun yang kotor yang dimana hal tersebut dapat membuat kuman menempel ke permukaan peralatan makan dan juga lamanya peralatan makan yang dicuci, dimana sisa makanan di peralatan makan terlalu lama menempel pada peralatan dan proses pencucian yang terlalu singkat dalam menggosok seluruh permukaan peralatan makan.
Pada rumah makan A, pedagang menggunakan sabun colek yang memang sabun multiguna, bisa dipakai untuk keperluan baju, dan lainnya, untuk bahan baku daya antibacterial sedikit, sabun colek yang menggunakan surfaktan.
Surfaktan (surfactant, surface-active agent) dapat menurunkan tegangan permukaan diantara molekul-molekul dalam larutan. Contohnya adalah sabun dan detergen. Sabun merombak lapisan minyak menjadi titik-titik kecil dalam proses yang disebut emulsifikasi. Air dan sabun bersama-sama mengangkat minyak teremulsi dan kotoran serta menggelontorkannya (Pratiwi, 2008).
Pada proses pengeringan peralatan makan menggunakan kain lap (serbet), peralatan makan lebih banyak jumlah koloni bakteri dikarenakan kain lap tersebut menjadi sumber pencemar sekunder dalam peralatan makan, hal tersebut terjadi karena pada kain lap yang digunakan pedagang, kain lap bukan hanya untuk membersihan peralatan makan, akan tetapi kain lap juga digunakan untuk membersihkan meja stelling pedagang. Karena hal tersebut jumlah kuman makin bertambah >300 koloni/ cm2, karena perhitungan jumlah bakteri hanya dapat dilakukan pengukuran pada plate dengan jumlah koloni berkisar 25-250 atau 30 – 300. (Pratiwi, 2008).
Pada rumah makan B, hal tersebut juga terjadi karena beberapa faktor, antara lain kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum mencuci peralatan makan, menggunakan sabun colek yang daya antibacterial sedikit, dan menggunakan kain lap yang dapat menjadi sumber sekunder pencemaran peralatan makan. pada rumah makan B ini juga tidak menggunakan air yang mengalir dalam membersihkan peralatan makan. Maka hasil laboratorium tersebut menunjukkan
jumlah koloni pada peralatan makan dirumah makan khas minang B lebih dai 100 koloni/ cm2 , akan tetapi pada sendok setelah proses pencucian peralatan makan, jumlah koloni hanya 65 koloni/cm2, sudah memenuhi syarat kesehatan, akan tetapi setelah di lap dengan kain lap, jumlah koloni makin bertambah dan tidak memenuhi syarat kesehatan.
Rumah makan C, jumlah koloni bakteri pada peralatan makan diantara rumah makan A dan B lebih sedikit jumlah koloni bakteri, akan tetapi tetap tidak memenuhi syarat kesehatan karena lebih dari 100 koloni/cm2 , hal tersebut terjadi pada rumah makan C, pedagang telah menggunakan sabun cair yang memang sabun antibacterial yang berkomposisi jeruk nipis. Daya antibakteri minyak atsiri Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) disebabkan oleh adanya senyawa fenol dan turunannya serta kandungan asam sebesar 7-7,6 % yang dapat mendenaturasikan protein sel bakteri (Anna, 2012) .
Fenol merupakan bahan antibakteri yang cukup kuat dalam konsentrasi 1-2% dalam air, umumnya dikenal dengan lisol dan kreolin. Mekanisme kerja senyawa ini adalah dengan penghancuran dinding sel dan presipitasi (pengendapan) protein sel dari mikroorganisme sehingga terjadi koagulasi protein sel dan kerusakan/kegagalan fungsi pada mikroorganisme tersebut ( Rahardja, 2002).
Senyawa turunan fenol yang dikenal sebagai senyawa fenolik mengandung molekul fenol yang secara kimiawi telah diubah untuk mengurangi kemampuannya dalam mengiritasi kulit dan meningkatkan aktivitas antibakterinya. Senyawa fenolik sering kali digunakan dalam canpuran sabun dan
detergen. Aktivitas antimikroba senyawa fenoik adalah dengan merusak lipid pada membran plasma mikroorganisme, sehingga menyebabkan isi sel keluar. (Pratiwi, 2008).
Akan tetapi, titik kebiasaan dari pedagang makanan yang membuat jumlah koloni bakteri bertambah pada peralatan makan, yaitu tidak mencuci tangan sebelum mencuci peralatan makan, tidak merendam peralatan makan terlebih dahulu, air rendaman sabun dan spons yang kotor dan sumber pencemaran sekunder pada kain lap yang tidak dicuci setiap hari yang mengakibatkan jumlah koloni bakteri bertambah lebih dari 100 koloni/cm2 sehingga tidak memenuhi syarat kesehatan.
Hal ini menunjukkan bahwa keadaan sanitasi peralatan makan yang digunakan oleh pedagang dirumah makan khas minang Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal tidak memenuhi syarat kesehatan yang tercantum dalam kepmenkes RI No. 1098Menkes/SK/VII/2003 tentang persyaratan hygiene sanitasi rumah makan.
Pada jenis bakteri yang telah ditemukan pada proses pembersihan peralatan makan dirumah makan khas minang A, B, dan C di Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal antara lain adalah jenis bakteri Enterobacteriaceae yaitu Klebsiella pneumoniae, dan jenis bakteri lain yaitu Staphylococcus epidermidis, Bacillus subtilis.
Klebsiella pneumoniae telah dikenal oleh para klinisi sebagai penyebab penyakit nosokomial pada komunitas. Klebsiella pneumonia menyebabkan infeksi
pada paru-paru misalnya pneumonia, infeksi saluran kemih, dan sepsis pada penderita dengan daya tahan tubuh yang lemah (Brooks et al., 2005).
Klebsiella termasuk bakteri famili dari Enterobacteriaceae, terdiri dari Klebsiella pneumoniae, klebsiella ozaenae, klebsiella rhinoschieromatis.
Klebsiella pneumoniae bersifat gram negatif, berbentuk batang pendek, fakultatif aerob, tidak mampu membuat spora, tidak bergerak, dan mempunyai kapsul (Edwards dan Ewing, 1972).
Klebsiella merupakan bakteri patogen yang banyak ditemukan di mulut, kulit, dan usus, namun habitat alami dari Klebsiella pneumoniae adalah di tanah.
Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri ini antara lain adalah penyakit infeksi seperti saluran kencing, septicemias dan infeksi jaringan bronkopneumoniae dan pneumonia bakteri gram negatif dan dapat dibunuh dengan pemanasan yang merata (diatas 700C).
Proses pembersihan peralatan makan dirumah makan khas minang Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal ditemukan bakteri Klebsiella pneumoniae pada rumah makan A, B, dan C. Hal tersebut dapat terjadi karena bakteri dapat ditemukan di kulit, sehingga pada pedagang rumah makan yang tidak mencuci tangan terlebih dahulu dapat menularkan bakteri tersebut pada peralatan makan.
Pada proses pengeringan peralatan makan dengan menggunakan kain lap juga terdapat bakteri Klebsiella pneumoniae dikarenakan pada kain lap yang digunakan pedagang bukan hanya untuk mengeringkan peralatan makan, akan
tetapi digunakan juga untuk lap meja pedagang, dan tangan pedagang, sehingga bakteri tersebut tetap menempel pada peralatan makan.
Pencegahan yang dilakukan agar bakteri Klebsiella pneumoniae ini tidak menempel pada peralatan makan adalah dengan cara mencuci tangan terlebih dahulu dengan menggunakan sabun antibakteri dan menggunakan air panas untuk mencuci peralatan makan agar bakteri tersebut tidak menempel pada peralatan makan.
Pencegahan dengan mencuci tangan penting untuk mencegah kontaminasi silang dari semua tipe bakteri penyebab keracunan pangan dari bahan mentah ke bahan yang sudah diolah. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun. Sabun dalam dispenser lebih hygienik daripada sabun batangan, karena menjamin peluang yang lebih kecil terjadi kontaminasi dari orang yang satu ke orang yang lain. Penggunaan krim tangan dan larutan antiseptis membantu membuat tangan halus dan bebas dari bakteri, karena retakan dan celah-celah yang mungkin terdapat pada kulit dapat menjadi tempat bagi bakteri yang berbahaya (Sherrington, 1992).
Menurut Sadykov et al (2011) Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang sering ditemukan sebagai flora normal pada kulit manusia, saluran pernafasan dan saluran pencernaan makanan. Staphylococcus epidermidis merupakan patogen oportunistik (dalam habitat aslinya merupakan flora normal, tetapi dalam habitat lain dapat menimbulkan infeksi terutama dalam keadaan imunitas yang lemah). Bakteri ini melekat pada kulit bisa memperbanyak dirinya akan tetapi bakteri ini tidak menimbulkan penyakit bawaan (Saksono, 1986).
Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri pencemar, bakteri ini masih dalam lapisan kulit walaupun sudah diberi desinfektan saat pengambilan darah sehingga dapat masuk dalam aliran darah dan menjadi bakterimia.
Bakterimia sering disebabkan karena masuknya mikroorganisme melalui jalur intravena, melalui cairan intravena, kateter, atau tempat tusukan jarum. Infeksi ini sering disebabkan bakteri oportunistik (menyerang individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah) (Vandepitte et al, 2010).
Kebanyakan bakteri kulit dijumpai pada epitelium yang seakan-akan bersisik (lapisan luar epidermis), membentuk koloni pada permukaan sel-sel mati.
Kebanyakan bakteri ini adalah Staphylococcus epidermidis. Dijumpai juga pada osofaring (bagian belakang mulut) juga dihuni sejumlah besar bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Staphylococcus epidermidis timbulnya di vagina dan leher rahim 35-80, pada kulit 85-100, pada hidung dan nasofaring 90, pada mulut (air liur dan permukaan gigi ) 75-100, pada osofaring 30-70 (Irianto, 2006).
Infeksi Staphylococcus epidermidis sulit disembuhkan sebab kuman tumbuh pada alat medis dimana bakteri dapat menghindar dari sirkulasi sehingga terhindar pula dari obat anti mikroba. Bakteri ini lebih sering resisten terhadap obat antimikroba, hampir 75% strain Staphylococcus epidermidis resisten terhadap nafsilin. Resistensi obat ditentukan oleh plasmid yang ditranmisikan oleh Staphylococcus sp. dengan transduksi dan juga dengan konjugasi (Jawetz, 2005)
Proses pembersihan peralatan makan dirumah makan khas minang Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal ditemukan
bakteri Staphylococcus epidermidis pada rumah makan A, B, dan C. Hal tersebut dapat terjadi karena bakteri tersebut dapat ditemukan di kulit, sehingga pada pedagang rumah makan yang tidak mencuci tangan terlebih dahulu dapat menularkan bakteri tersebut pada peralatan makan.
Pada proses pengeringan peralatan makan dengan menggunakan kain lap juga terdapat bakteri Staphylococcus epidermidis dikarenakan pada kain lap yang digunakan pedagang bukan hanya untuk mengeringkan peralatan makan, akan tetapi digunakan juga untuk lap meja pedagang, dan tangan pedagang, sehingga bakteri tersebut tetap menempel pada peralatan makan.
Pencegahan yang dilakukan agar bakteri Staphylococcus epidermidis ini tidak menempel pada peralatan makan adalah dengan cara mencuci tangan terlebih dahulu dengan menggunakan sabun antibakteri sehingga pada peralatan makan tidak menjadi media penularan infeksi bakteri tersebut.
Bacillus subtilis merupakan bakteri yang berperan dalam pembusukan daging dengan karakteristik bentuk batang (tebal maupun tipis), rantai maupun tunggal, merupakan bakteri gram positif yang bersumber dari tanah, air, udara dan materi tumbuh-tumbuhan yang terdekomposisi. Bacillus subtilis juga ditemukan pada produk makanan seperti produk susu, daging, nasi, dan pasta. Bakteri ini dapat tumbuh pada produk makanan karena produk-produk makanan tersebut menyediakan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan bakteri tersebut (Graumann, 2007)
Bacillus subtilis diklasifikasikan sebagai obligat anaerob dan tidak dianggap sebagai patogen walaupun kontaminasi makanan tetapi jarang menyebabkan
keracunan makanan. Akan tetapi bakteri ini dapat menyebabkan penyakit infeksi, jumlahnya yang banyak di dalam usus mampu menyebabkan diare yang ditularkan melalui kontaminasi makanan (Rahmaningsih et al,2012) .
Bacillus Subtilis tidak menjadi bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit terhadap manusia, akan tetapi dapat merusak kondisi makanan. Bakteri ini sering dijumpai untuk mikrobiologi pangan, antara lain sering dijumpai pada roti. Dengan munculnya bakteri tersebut pada roti dapat merusak pangan yang
Bacillus Subtilis tidak menjadi bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit terhadap manusia, akan tetapi dapat merusak kondisi makanan. Bakteri ini sering dijumpai untuk mikrobiologi pangan, antara lain sering dijumpai pada roti. Dengan munculnya bakteri tersebut pada roti dapat merusak pangan yang