BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.10 Kerangka Konsep Penelitian
Sediaan usap kandungan bakteri peralatan makan:
- Piring - Gelas - Sendok
setelah proses pencucian.
Memenuhi syarat
Tidak memenuhi syarat Angka hitung
bakteri
Pemeriksaan laboratorium peralatan makan berdasarkan Kepmenkes No.
1098/Menkes/SK/VII/2003
Sediaan usap kandungan bakteri peralatan makan:
- Piring - Gelas - Sendok
setelah di lap dengan kain lap
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode survei yaitu melakukan proses pemeriksaan sampel setelah dicuci dengan sabun pembersih dan pemeriksaan sampel setelah di lap dengan kain lap yang sering digunakan penjamah dalam mengeringkan peralatan makan, setelah itu dilihat sumber pencemaran yang terdapat pada proses pembersihan peralatan makan.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di 3 rumah makan khas minang yang terdapat di Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal dan pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan September 2016 – Januari 2017.
3.3 Objek dan Sampel 3.3.1 Objek
Objek penelitian adalah peralatan makan yaitu piring, gelas, dan sendok yang digunakan di rumah makan khas minang Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal
3.3.2 Sampel
Pada pemeriksaan peralatan makan yang dipilih yaitu piring, gelas, sendok yang digunakan oleh konsumen setelah dicuci dan setelah dilap dengan kain lap yang digunakan penjamah untuk mengeringkan peralatan makan. Pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana (random sampling) yang bertujuan untuk mendapatkan sampel yang mewakili alat makan yang memiliki fungsi dan kegunaan yang sama pada masing-masing rumah makan. Sampel yang diambil 6 piring, 6 gelas, 6 sendok pada 3 rumah makan, antara lain 9 sampel dilakukan setelah dicuci dan 9 sampel dilakukan setelah dilap dengan kain lap (serbet) yang kemudian usapan peralatan makan dibawa dan diteliti angka kuman di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, sehingga total sampel adalah 18 sampel.
3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer
Data primer diperoleh dengan mengadakan observasi pengamatan langsung ke lokasi menggunakan lembar observasi dan data yang diperoleh dari pemeriksaan di laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3.5 Definisi Operasional
1. Bakteri adalah suatu organisme yang jumlahnya paling banyak dan dapat merugikan karena dapat menyebabkan penyakit pada manusia.
2. Piring makan adalah peralatan makan atau tempat sebagai wadah untuk meletakkan makanan.
3. Gelas adalah peralatan makan yang digunakan untuk minum.
4. Sendok adalah peralatan maka yang digunakan untuk makan.
5. Sediaan usap kandungan bakteri peralatan makan setelah proses pencucian adalah metode yang digunakan untuk pengambilan sampel pada peralatan makan setelah dicuci yang kemudian akan diberi perlakuan berupa pemeriksaan laboratorium.
6. Sediaan usap kandungan bakteri peralatan makan setelah dilap dengan kain lap adalah metode yang digunakan untuk pengambilan sampel pada peralatan makan setelah dilap dengan kain lap untuk mengeringka peralatan makan yang kemudian akan diberi perlakuan berupa pemeriksaan laboratorium.
7. Pemeriksaan laboratorium adalah suatu kegiatan mengenai pemeriksaan sampel bakteri yang dilakukan dilaboratorium dengan mengambil usapan peralatan makan yang selanjutnya sampel dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan.
8. Angka hitung bakteri adalah hasil pemeriksaan laboratorium yang akan memberikan angka hitung bakteri (bakteri count) tertentu yang dapat disajikan parameter kebersihan peralatan makan.
9. Peralatan makan berdasarkan Kepmenkes 1098/Menkes/SK/VII/2003 adalah peraturan yang dibuat bahwa untuk persyaratan peralatan makan tidak boleh bakteri lebih dari 100 koloni/cm2 permukaan alat dan tidak mengandung E-coli.
10. Memenuhi syarat adalah banyak nya jumlah koloni kuman/bakteri setelah proses pencucian peralatan makan tidak lebih dari 100 koloni/cm2 permukaan alat dan tidak mengandung E-coli.
11. Tidak memenuhi syarat adalah banyak nya jumlah koloni kuman/bakteri setelah proses pencucian peralatan makan lebih dari 100 koloni/cm2 permukaan alat dan mengandung E-coli.
3.6 Pelaksanaan Penelitian 3.6.1 Alat dan Bahan
A. Alat
1. Autoclave 2. Bunsen
3. Botol steril bermulut besar 4. Sarung tangan
5. Kapas 6. Lidi 7. Incubator 8. Mikroskop 9. Timbangan 10. Objek glass
11. Labu elenmeyer 300 cc 12. Gelas takaran
13. Rak tabung reaksi
14. Termos es, pembawa sampel
15. Pinset 16. Spidol 17. Water bath
18. Tabung reaksi 16 mm – 20 mm 19. Petri dish 10 Om
20. Pipet takar 1 cc, 5 cc, 10 cc 21. Mikro pipet
22. Koloni counter 23. Kaca pembesar
24. Pembuka kaleng atau pembuka tutup botol 25. Pisau
B. Bahan
1. Media Transport cairan NaCl 0,85 % dalam botol 2. Sampel peralatan makan (piring, gelas, sendok) 3. Nutrient Agar
4. Plate Count Agar (PCA) 5. Nutrient Broth
3.6.2 Teknik Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel jumlah kuman peralatan makan dilakukan dengan metode usap (swap), dengan langkah sebagai berikut.
A. Teknik Pengambilan Sampel Setelah Dicuci
1. Persiapkan sampel yang dimana peralatan makan yang habis digunakan sebagai wadah makanan dengan membuang sisa-sisa makanan yang ada di piring.
2. Persiapkan lidi kapas steril, kemudian diambil dan dicelupkan kedalam botol berisi cairan NaCl 0,85 % yang steril kedalamnya.
3. Lidi kapas steril dalam botol ditekan kedinding botol untuk membuang airnya, baru diangkat dan diusapkan pada setiap alat-alat yang diusapkan pada satu kelompok setelah diusap.
4. Permukaan alat makan yang diusap, yaitu :
A. Piring, permukaan dalam tempat makanan diletakkan B. Gelas
C. Sendok
5. Cara melakukan usapan pada piring dengan mengusap seluruh bagian permukaan luar dan dalam, begitu juga dengan gelas dan sendok.
6. Satu kapas digunakan untuk satu piring yang diperiksa.
7. Setelah semua kelompok alat makan diusap, kapas dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan bibir botol dipanaskan dengan api spritus baru ditutup sekerupnya.
8. Sampel diberi label dan etiket ( tanggal, nomor) dan segera dikirim ke laboraturium untuk diperiksa.
B. Teknik Pengambilan Sampel Setelah dilap dengan kain lap
1. Persiapkan sampel yang dimana peralatan makan yang dilap dengan kain lap yang biasa digunakan penjamah dalam mengeringkan peralatan makan.
2. Persiapkan lidi kapas steril, kemudian diambil dan dicelupkan kedalam botol berisi cairan NaCl 0,85 % yang steril kedalamnya
3. Lidi kapas steril dalam botol ditekan kedinding botol untuk membuang airnya, baru diangkat dan diusapkan pada setiap alat-alat yang diusapkan pada satu kelompok setelah diusap.
4. Permukaan alat makan yang diusap, yaitu :
A. Piring, permukaan dalam tempat makanan diletakkan B. Gelas
C. Sendok
5. Cara melakukan usapan pada piring dengan mengusap seluruh bagian permukaan luar dan dalam, begitu juga dengan gelas dan sendok.
6. Satu kapas digunakan untuk satu piring yang diperiksa.
7. Setelah semua kelompok alat makan diusap, kapas dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan bibir botol dipanaskan dengan api spritus baru ditutup sekerupnya.
8. Sampel diberi label dan etiket ( tanggal, nomor) dan segera dikirim ke laboraturium untuk diperiksa.
3.6.3 Cara Kerja Pemeriksaan Bakteri
1. Usapan (swap) lidi kapas steril yang dimasukkan larutan NaCl 0,85 % diinkubasi pada media Plate Count Agar (PClt').
2. Penimbangan PCA dan endo agar dengan ukuran 1 plat sampel 15 ml, kemudian masing-masing dimasukkan ke dalam gelas ukur yang diisi
aquades sebanyak 15 ml, lalu dilarutkan masing-masing secara terpisah hingga homogen.
3. Setelah homogen larutkan PCA dan larutan endo agar di pindahkan ke dalam tabung glass dan ditutup rapat dengan kapas, kemudian dimasukkan ke dalam autoclave selama 2 jam setelah itu diangkat dan dibiarkan hangat kuku.
4. Diambil 1 ml dari sampel dengan menggunakan pipet dan dituangkan ke petridish yang sudah steril. Kemudian petridish dimasukkan ke dalam inkubator dengan suhu 37°C selama 2x24 jam.
5. Lalu diamati dengan metode angka lempeng total (ALT).
3.7 Aspek Pengukuran
Aspek pengukuran adalah melihat titik kritis dan sumber pencemaran dari peralatan makan, apakah setelah dicuci dan setelah digunakan kain lap dalam mengeringkan peralatan makan, bakteri pada peralatan makan bertambah atau sebaliknya. Melihat perbandingan pengukuran jumlah bakteri pada peralatan makan setelah dicuci dengan setelah di lap dengan kain lap untuk mengeringkan peralatan makan, dilakukan dengan metode usap (SWAP) peralatan makan dengan menghitung jumlah koloni bakteri berdasarkan ALT (Angka Lempeng Total) dan berdasarkan Kepmenkes No. 1098/Menkes/SK/VII/2003, bahwa untuk persyaratan peralatan makan tidak boleh bakteri lebih dari 100 koloni/cm2 permukaan alat dan tidak mengandung E-coli.
3.8 Metode Analisis Data
Analisa data diperoleh dari hasil observasi proses pencucian peralatan makan, dan penggunaan kain lap dalam mengeringkan peralatan makan serta dianalisa secara deskriptif. Data pemeriksaan diperoleh dari hasil analisa laboratorium untuk mengetahui berapa jumlah kuman yang ada pada peralatan makan setelah dicuci dan setelah di lap dengan kain lap untuk mengeringkan peralatan makan serta disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan dinarasikan dengan kepustakaan yang relevan kemudian dibandingkan dengan Kepmenkes RI No. 1098/Menkes/SK/VII/2003 dan data pemeriksaan jumlah kuman pada peralatan makan dari hasil laboratorium
4.1.1 Rumah Makan Khas Minang A
Rumah Makan A merupakan salah satu rumah makan khas minang yang beralamat di Jalan Setia Budi No. 78 Medan. Terdiri dari 2 penjamah makanan.
Buka pada hari senin sampai minggu dari pukul 09.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Makanan yang dijual oleh rumah makan ini adalah segala jenis makanan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat yang tidak sempat menyiapkan makanan sendiri dirumah. Rumah makan khas minang ini memiliki sumber air bersih dan sumber air minum yang telah dimasak dari air PAM. Rumah makan ini digolongkan sebagai rumah makan dan restoran tingkat mutu tanpa grade karena belum terdaftar di Dinas Kesehatan tentang kelaikan sehatnya.
4.1.2 Rumah Makan Khas Minang B
Rumah Makan B merupakan rumah makan khas minang yang terletak di Jalan Setia Budi No. 171 A Medan. Terdiri dari 3 penjamah makanan. Buka pada hari senin sampai minggu dari pukul 09.00 WIB sampai pukul 23.00 WIB.
Makanan yang dijual oleh rumah makan ini adalah segala jenis makanan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat yang tidak sempat menyiapkan makanan sendiri dirumah. Rumah makan khas minang ini memiliki sumber air bersih dan sumber air minum yang telah dimasak dari air PAM. Rumah makan ini digolongkan sebagai rumah makan dan restoran tingkat mutu tanpa grade karena belum terdaftar di Dinas Kesehatan tentang kelaikan sehatnya.
4.1.3 Rumah Makan Khas Minang C beserta aneka jenis sayuran. Rumah makan khas minang ini memiliki sumber air bersih dan sumber air minum yang telah dimasak dari air PAM. Rumah makan mutiara minang ini digolongkan sebagai rumah makan dan restoran tingkat mutu tanpa grade karena belum terdaftar di Dinas Kesehatan tentang kelaikan sehatnya.
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Distribusi Pengamatan Proses Pencucian Peralatan Makan
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan pada 3 rumah makan khas minang yang ada di Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal, maka dapat diperoleh gambaran proses pencucian yang disecara rinci disajikan dalam tabel sebagai berikut :
1. Tabel 4.1 Distribusi Pengamatan Proses Pembersihan Peralatan Makan di Rumah Makan A
PENGAMATAN Keterangan
Ya Tidak Proses Pencucian Peralatan Makan Menggunakan Air
PAM
√ Tersedianya Air Bersih yang Cukup Dalam Proses Pencucian Peralatan Makan
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Pedagangnya Mencuci Tangan Terlebih Dahulu
√ Proses Pencucian Peralatan Makan Menggunakan Bak Pembilas
√
Proses Pencucian Peralatan Makan yang Memisahkan Sisa Makanan Sebelum Proses Pencucian
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Direndam Terlebih Dahulu
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Menggunakan
Detergen/Sabun.
√ Proses Pencucian Peralatan Makan Menggunakan Disinfektan.
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Langsung
Dicuci Dibawah Air Mengalir
√ Proses Pencucian Peralatan Makan dengan
Menggosokkan Seluruh Permukaan Peralatan Makan
√ Proses Pembersihan Peralatan Makan yang Disimpan di Tempat Penyimpanan Peralatan Makan
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Disimpan
Secara Benar (Ditiriskan/ Dimiringkan Terbalik)
√ Proses Pembersihan Peralatan Makan yang
Menggunakan Kain Lap (Serbet) dalam Pengeringan Peralatan Makan
√
2. Tabel 4.2 Distribusi Pengamatan Proses Pembersihan Peralatan Makan di Rumah Makan B
PENGAMATAN Keterangan
Ya Tidak Proses Pencucian Peralatan Makan Menggunakan Air
PAM
√ Tersedianya Air Bersih yang Cukup Dalam Proses Pencucian Peralatan Makan
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Pedagangnya Mencuci Tangan Terlebih Dahulu
√ Proses Pencucian Peralatan Makan Menggunakan Bak
Pembilas
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Memisahkan Sisa Makanan Sebelum Proses Pencucian
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Direndam Terlebih Dahulu
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Menggunakan
Detergen/Sabun.
√ Proses Pencucian Peralatan Makan Menggunakan Disinfektan.
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Langsung
Dicuci Dibawah Air Mengalir
√
Proses Pencucian Peralatan Makan dengan Menggosokkan Seluruh Permukaan Peralatan Makan
√ Proses Pembersihan Peralatan Makan yang Disimpan di Tempat Penyimpanan Peralatan Makan
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Disimpan
Secara Benar (Ditiriskan/ Dimiringkan Terbalik)
√ Proses Pembersihan Peralatan Makan yang
Menggunakan Kain Lap (Serbet) dalam Pengeringan Peralatan Makan
√
3. Tabel 4.3 Distribusi Pengamatan Proses Pembersihan Peralatan Makan di Rumah Makan C
PENGAMATAN Keterangan
Ya Tidak Proses Pencucian Peralatan Makan Menggunakan Air
PAM
√ Tersedianya Air Bersih yang Cukup Dalam Proses Pencucian Peralatan Makan
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Pedagangnya Mencuci Tangan Terlebih Dahulu
√ Proses Pencucian Peralatan Makan Menggunakan Bak
Pembilas
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Memisahkan Sisa Makanan Sebelum Proses Pencucian
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Direndam Terlebih Dahulu
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Menggunakan
Detergen/Sabun.
√ Proses Pencucian Peralatan Makan Menggunakan Disinfektan.
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Langsung
Dicuci Dibawah Air Mengalir
√ Proses Pencucian Peralatan Makan dengan
Menggosokkan Seluruh Permukaan Peralatan Makan
√ Proses Pembersihan Peralatan Makan yang Disimpan di Tempat Penyimpanan Peralatan Makan
√ Proses Pencucian Peralatan Makan yang Disimpan
Secara Benar (Ditiriskan/ Dimiringkan Terbalik)
√ Proses Pembersihan Peralatan Makan yang
Menggunakan Kain Lap (Serbet) dalam Pengeringan Peralatan Makan
√
4.2.2 Hasil Pemeriksaan Bakteri E.coli Pada Air Bersih di Rumah Makan Hasil pemeriksaan air bersih yang digunakan untuk kebutuhan di Rumah Makan A, B dan C di Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal yang diperoleh dapat dilihat dalam tabel 4.4 berikut :
Tabel 4.4 . Hasil Pemeriksaan Escherichia coli pada Air Bersih di Rumah Makan A, B, dan C Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal Tahun 2016
No. Sampel MPN E.coli per 100 ml air bersih
Keterangan
1. Air Bersih A Negatif Memenuhi Syarat Kesehatan 2. Air Bersih B Negatif Memenuhi Syarat Kesehatan 3. Air Bersih C Negatif Memenuhi Syarat Kesehatan
Berdasarkan tabel 4.4, diketahui bahwa seluruh air bersih di Rumah Makan Khas Minang Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal yang telah diperiksa memenuhi syarat kesehatan, hal tersebut terlihat dengan tidak ditemukannya bakteri E-coli di dalam air yang pedagang rumah makan gunakan untuk kebutuhan sehari-hari antara lain dalam membersihkan peralatan makan, karena sumber dari air yang digunakan pedagang rumah makan untuk kebutuhan mereka adalah sumber air yang berasal dari air PAM, yang sudah melakukan proses khlorinisasi.
4.2.3 Hasil Pemeriksaan Jumlah dan Jenis Bakteri Pada Peralatan Makan Pada tanggal 09 Januari 2017 pada pukul 10.00 – 11.30 WIB telah dilakukan pengambilan sampel pada rumah makan khas minang. Hasil pemeriksaan jumlah bakteri pada peralatan rumah makan di Rumah Makan A, B dan C Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal yang
diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 4.5. Hasil Pemeriksaan Jumlah dan Jenis Bakteri Pada Peralatan Makan di Rumah Makan A Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal Tahun 2016
No Jenis Peralatan
Makan
Angka Lempeng Total
Jumlah Bakteri (Koloni/cm2) dan Jenis Bakteri Setelah
Dicuci
Jenis Bakteri Setelah di Lap dengan Kain
Berdasarkan tabel 4.5 diatas menunjukkan hasil pemeriksaan jumlah bakteri pada usapan peralatan alat makan dirumah makan khas minang A tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/Menkes/SK/VII/2003, tentang persyaratan hygiene rumah makan yang menunjukkan pada peralatan makan jumlah koloni bakteri tidak boleh lebih dari 100 koloni/cm2 atau tidak boleh mengandung kuman E-coli.
Tabel 4.6. Hasil Pemeriksaan Jumlah dan Jenis Bakteri Pada Peralatan Makan di Rumah Makan B Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal Tahun 2016
No Jenis Peralatan
Makan
Angka Lempeng Total
Jumlah Bakteri (Koloni/cm2) dan Jenis Bakteri Setelah
1 Piring 181 - Staphylococcus
Epidermidis
Berdasarkan tabel 4.6 diatas menunjukkan hasil pemeriksaan jumlah bakteri pada usapan peralatan alat makan dirumah makan khas minang B tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/Menkes/SK/VII/2003, tentang persyaratan hygiene rumah makan yang menunjukkan pada peralatan makan jumlah koloni bakteri tidak boleh lebih dari 100 koloni/cm2 atau tidak boleh mengandung kuman E-coli.
Tabel 4.7. Hasil Pemeriksaan Jumlah dan Jenis Bakteri Pada Peralatan Makan di Rumah Makan C Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal Tahun 2016
No Jenis Peralatan
Makan
Angka Lempeng Total
Jumlah Bakteri (Koloni/cm2) dan Jenis Bakteri Setelah Berdasarkan tabel 4.7 diatas menunjukkan hasil pemeriksaan jumlah bakteri pada usapan peralatan alat makan dirumah makan khas minang C tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/Menkes/SK/VII/2003, tentang persyaratan hygiene rumah makan yang menunjukkan pada peralatan makan jumlah koloni bakteri tidak boleh lebih dari 100 koloni/cm2 atau tidak boleh mengandung kuman E-coli.
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan pada pedagang rumah makan khas minang Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal dengan melihat proses pencucian peralatan makan secara keseluruhan tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Kepmenkes RI No.
1098/Menkes/SK/VII/2003. Dilihat dari prinsip pencucian peralatan makan yang digunakan oleh pedagang makanan tidak memenuhi syarat kesehatan, hal ini dikarenakan pada proses pencucian peralatan makan
Pada air bersih yang digunakan pedagang rumah makan khas minang untuk proses pencucian peralatan makan, air yang digunakan pedagang makanan paling banyak berasal dari air PAM, dari hasil laboratorium diketahui bahwa air tersebut memang telah memenuhi syarat kesehatan dengan air yang tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa. Karena air yang berasal dari PAM biasanya sudah mengandung klorin yang dapat membunuh bakteri. Klorin merupakan bahan kimia yang digunakan di Indonesia sebagai desinfektan dalam penyediaan air minum dan dalam hal tersebut mampu membunuh bakteri yang sering dijumpai pada air yaitu bakteri coliform, bakteri yang dapat dijadikan indikator pencemaran air dari kelompok mikrobiologis (Slamet, 2009)
Berdasarkan proses pencucian peralatan makan di rumah makan khas minang Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal juga dilakukan oleh 2 rumah makan dengan menggunakan bak pembilas dan 1
rumah makan tidak menggunakan bak pembilas atau langsung dengan air mengalir dari kran untuk mencuci peralatan makan. Keberadaan bak pembilas sangat penting dalam proses pencucian peralatan makan. Bak pembilas yang dianjurkan dalam proses pencucian peralatan makan sebanyak 3 bak pembilas.
Adapun fungsi dari bak tersebut diantaranya adalah pertama harus terdapat bak yang berisi air hangat dan sabun/detergen, kedua harus ada terdapat bak pembilas yang berisi air panas (700 – 760 C), ketiga harus terdapat bak pembilas yang berfungsi sebagai desinfektan (Anwar, 1990)
Bak pembilas dilakukan pada proses pencucian peralatan gunanya untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran yang menempel pada peralatan makan yang akan dipergunakan kembali. Bak pembilas yang seharusnya ada 3, pada rumah makan hanya mempunyai 1 yaitu sebagai pembilas akhir untuk proses pencucian. Begitu juga pada proses pencucian peralatan makan dengan menggunakan disinfektan, tidak ada pedagang makanan yang melakukan perlakuan tersebut. Proses pencucian peralatan makan dengan menggunakan bak disinfektan berfungsi untuk menghilangkan/membebashamakan peralatan setelah proses pencucian dan peralatan yang setelah dicuci perlu dijamin aman dari mikroba.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa tidak ada pedagang rumah makan yang melakukan proses pencucian peralatan makan dengan menggunakan bak pembilas disinfektan. Dengan demikian hal ini tidak sesuai dengan Depkes (2006), yang menyatakan cara desinfektan yang umum dilakukan yaitu dengan menggunakan air panas 1000C selama 2 menit, larutan klor aktif (50 ppm), dengan udara panas (oven), sinar ultraviolet, dan uap panas.
Berdasarkan hasil pengamatan pada pedagang rumah makan yang membersihkan tangannya terlebih dahulu sebelum mencuci peralatan makan adalah pedagang dengan kode A. Pedagang yang berada dirumah makan ini umumnya paling banyak memenuhi hygiene peroragan dibandingkan dengan pekerja dirumah makan lainnya. Pedagang ini melakukan proses-proses pencucian dengan baik, seperti mencuci tangan sebelum bekerja. Sedangkan pedagang yang berada dirumah makan B dan C tidak melakukan hal tersebut yaitu tidak mencuci tanganya sebelum mencuci peralatan makan. Hal ini dapat menimbulkan kontaminasi bakteri pada peralatan makan yang akan dicuci melalui tangan pedagang. Adapun guna dari mencuci tangan sebelum mencuci peralatan untuk mencegah kontaminasi silang dari semua tipe bakteri yang ada ditangan (Sherrington, 1992).
Selain itu pedagang rumah makan khas minang Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal dengan rumah makan A melakukan proses-proses pencucian peralatan langsung dibawah air mengalir dan pedagang rumah makan B, dan C tidak melakukan pencucian tersebut. Ini menyebabkan pedagang rumah makan kurang baik didalam proses pencucian peralatan yang langsung dibawah air mengalir. Hal ini dikarenakan kebiasaan
Selain itu pedagang rumah makan khas minang Jalan Setia Budi Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal dengan rumah makan A melakukan proses-proses pencucian peralatan langsung dibawah air mengalir dan pedagang rumah makan B, dan C tidak melakukan pencucian tersebut. Ini menyebabkan pedagang rumah makan kurang baik didalam proses pencucian peralatan yang langsung dibawah air mengalir. Hal ini dikarenakan kebiasaan