ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
A. Analisa Data
2. Hasil Penelitian
Penelitian ini terdiri dari 2 (dua) variabel bebas yaitu budaya organisasi dan Keterikatan karyawan dengan 1 (satu) variabel terikat yaitu intensi turnover sehingga uji hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan analisis multiple regression setelah uji asumsi terpenuhi. Pengujian data dilakukan dengan menggunakan metode analisa data multiple regression dengan bantuan SPSS 22.0 for windows.
a. Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Intensi Turnover.
Hipotesis pertama adalah terdapat pengaruh negatif antara budaya
organisasi (X1) dengan intensi turnover (Y) diperoleh hasil seperti pada Tabel 4.11.
Tabel 4.11.
Hasil Regresi Budaya Organisasi dan Intensi Turnover
Variabel df Sig.
Budaya Organisasi terhadap Intensi Turnover 1 0.000
Pada tabel 4.11 diketahui nilai signifikansi adalah sebesar 0.000 yang berarti < 0.05. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap intensi turnover.
Selajutnya, untuk melihat besarnya pengaruh budaya daya organisasi terhadap intensi turnover, dilakukan uji determinasi R dengan hasil seperti pada Tabel 4.12.
Tabel 4.12
Kontribusi Budaya organisasi terhadap Intensi Turnover Variabel R R.Square Adjusted R Square Budaya Organisasi
terhadap Intensi Turnover
0.345 0.119 0.114
Berdasarkan tabel 4.12 diketahui nilai koefisien determinan (R- square) adalah sebesar 0.119 atau dapat dikatakan bahwa pengaruh budaya organisasi terhadap intensi turnover adalah sebesar 11.9%, sedangkan sisanya sebesar 88.1% dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar penelitian ini. Selanjutnya, untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas (budaya organisasi) terhadap variabel
terikat (intensi turnover) dapat dilihat berdasarkan koefisien regresi pada tabel 4.12.
Tabel 4.13
Persamaan Regresi Budaya Organisasi dan Intensi Turnover Variabel B Persamaan Regresi Konstan 42.757 Y= 42.757 –-0.138X1
Budaya Organisasi -0.138
Berdasarkan tabel 4.13 diketahui persamaan regresi Y= 42.757 – 0.602 X1. Konstanta 42.757 pada persamaan menunjukkan bahwa apabila variabel budaya organisasi bernilai 0, maka intensi turnover memiliki nilai sebesar 42.757. Nilai koefisien regresi variabel budaya organisasi sebesar 0.138 dan bernilai negatif yang berarti bahwa jika variabel budaya organisasi mengalami kenaikan satu satuan maka intensi turnover akan menurun sebesar 0.138. Dengan kata lain, semakin kuat budaya organisasi maka akan semakin rendah pula tingkat intensi turnover pada karyawan.
Berdasarkan hasil analisa diatas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama pada penelitian ini diterima yaitu, terdapat pengaruh negatif antara budaya organisasi dengan intensi turnover, semakin kuat budaya organisasi maka semakin rendah intensi turnover karyawan pelaksana di Kantor Direksi PT.
Perkebunan Nusantara III Medan.
b. Pengaruh Keterikatan Karyawan Terhadap Intensi Turnover.
Hipotesis kedua adalah terdapat pengaruh negatif antara keterikatan karyawan dengan intensi turnover. Berdasarkan uji hipotesis antara keterikatan
karyawan (X2) dengan intensi turnover (Y) diperoleh hasil seperti pada Tabel 4.14.
Tabel 4.14
Regresi Keterikatan Karyawan dan Intensi Turnover
Variabel Df Sig.
Keterikatan karyawan terhadap Intensi Turnover 1 0.002
Pada tabel 4.14 diketahui nilai signifikansi adalah sebesar 0.002 yang berarti < 0.05. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa keterikatan karyawan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap intensi turnover.
Selajutnya, untuk melihat besarnya pengaruh keterikatan karyawan terhadap intensi turnover, dilakukan uji determinasi R dengan hasil seperti pada Tabel 4.15.
Tabel 4.15.
Kontribusi Keterikatan Karyawan terhadap Intensi Turnover Variabel R R- square Adjusted R Square Keterikatan karyawan
terhadap Intensi Turnover
0.239 0.057 0.051
Berdasarkan tabel 4.15, diketahui nilai koefisien determinan (R-square) adalah sebesar 0.057 atau dapat dikatakan bahwa pengaruh keterikatan karyawan terhadap intensi turnover adalah sebesar 5.7%, sedangkan sisanya sebesar 94.3%
dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar penelitian ini. Selanjutnya, untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas (keterikatan karyawan) terhadap
variabel terikat (intensi turnover) dapat dilihat bersadarkan koefisien regresi pada tabel 4.17.
Tabel 4.16
Persamaan Regresi Keterikatan Karyawan dan Intensi Turnover
Variabel B Persamaan Regresi
Konstan 32.004 Y= 32.004 – 0.106X2
Keterikatan karyawan -0.106
Berdasarkan tabel 4.16 diketahui persamaan regresi Y= 32.004 – 0.106X2. Konstanta 32.004 pada persamaan menunjukkan bahwa apabila variabel keterikatan karyawan bernilai 0, maka intensi turnover memiliki nilai sebesar 32.004. Nilai koefisien regresi variabel keterikatan karyawan sebesar 0.106 dan bernilai negatif yang berarti bahwa jika variabel keterikatan karyawan mengalami kenaikan satu satuan maka intensi turnover akan menurun sebesar 0.106. Dengan kata lain, semakin tinggi keterikatan karyawan maka akan semakin rendah pula intensi turnover pada karyawan.
Berdasarkan hasil analisa diatas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis kedua dalam penelitian ini diterima yaitu, terdapat pengaruh negatif antara keterikatan karyawan dengan intensi turnover, yaitu semakin tinggi tingkat keterikatan karyawan maka semakin rendah intensi turnover karyawan pelaksana di Kantor Direksi PT. Perkebunan Nusantara III Medan.
c. Pengaruh Budaya Organisasi dan Keterikatan karyawan Terhadap Intensi Turnover.
Hipotesis ketiga adalah terdapat pengaruh negatif antara budaya organisasi dan Keterikatan karyawan dengan intensi turnover. Berdasarkan uji hipotesis
antara budaya organisasi (X1) dan keterikatan karyawan (X2) dengan intensi turnover (Y) diperoleh hasil seperti pada Tabel 4.17
Tabel 4.17
Regresi Budaya Organisasi dan Keterikatan Karyawan Terhadap Intensi Turnover
Variabel Df Sig.
Budaya Organisasi dan Keterikatan Karyawan terhadap Intensi Turnover
2 0.000
Berdasarkan tabel 4.17 diketahui nilai signifikansi adalah sebesar 0.000 yang berarti < 0.05. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi dan keterikatan karyawan secara bersama-sama memiliki pengaruh terhadap intensi turnover. Selajutnya, untuk melihat besarnya pengaruh budaya organisasi dan keterikatan karyawan terhadap intensi turnover, dilakukan uji determinasi R dengan hasil seperti pada Tabel 4.18
Tabel 4.18
Kontribusi Budaya Organisasi dan Keterikatan Karyawan Terhadap Intensi Turnover
Berdasarkan tabel 4.18, diketahui nilai koefisien determinan (R-square) adalah sebesar 0.157 atau dapat dikatakan bahwa pengaruh budaya organisasi dan Keterikatan karyawan terhadap intensi turnover adalah sebesar 15.7%,
penelitian ini. Selanjutnya, untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas (budaya organisasi dan keterikatan karyawan) terhadap variabel terikat (intensi turnover) dapat dilihat berdasarkan koefisien regresi pada tabel 4.19.
Tabel 4.19
Persamaan Regresi Budaya Organisasi dan Keterikatan karyawan Terhadap Intensi Turnover
Variabel B Sig. Persamaan Regresi
Konstan 49.040 0.000
Berdasarkan tabel 4.19 diketahui persamaan regresi Y= 49.04 - 0.127X1 -0.087X2. Konstanta 49.040 pada persamaan menunjukkan bahwa apabila variabel budaya organisasi dan Keterikatan karyawan bernilai 0, maka intensi turnover memiliki nilai sebesar 49.040. Nilai koefisien regresi variabel budaya organisasi dan keterikatan karyawan sebesar 0.127 dan 0.087 serta bernilai negatif yang berarti bahwa jika variabel budaya organisasi mengalami peningkatan satu satuan maka intensi turnover akan menurun sebesar 0.127 dan setiap keterikatan karyawan mengalami kenaikan satu satuan maka intensi turnover akan menurun sebesar 0.087.
Berdasarkan hasil analisa diatas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis ketiga dalam penelitian ini diterima yaitu, terdapat pengaruh negatif antara budaya organisasi dan keterikatan karyawan dengan intensi turnover, yaitu semakin kuat budaya organisasi dan keterikatan karyawan maka semakin rendah intensi
turnover karyawan pelaksana di Kantor Direksi PT. Perkebunan Nusantara III Medan.