ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
A. Analisa Data
2. Hasil penelitian
Tujuan dari analisa ini adalah untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik variabel yang diteliti, dalam hal ini adalah sikap mahasiswa USU terhadap pola e-learning. Sikap mahasiswa USU terhadap pola e-learning
dikelompokkan menjadi 3 kategori berdasarkan model distribusi normal, yaitu sikap positif terhadap pola e-learning, sikap netral terhadap pola e-learning, dan sikap negatif terhadap pola e-learning (Azwar, 2003). Rumusan yang digunakan tertera pada Tabel 9.
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
Tabel 9
Pengkategorisasian Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola E-learning
X ≥ (µ + 1,0 ) Positif (µ - 1,0 ) ≤ X < (µ + 1,0 ) Netral X < (µ - 1,0 ) Negatif Keterangan tabel 6: µ : Mean : Standar deviasi
Sebelum melakukan kategorisasi berdasarkan model distribusi normal, asumsi bahwa skor subjek pada kelompoknya merupakan estimasi terhadap skor subjek dalam populsi dan bahwa skor subjek dalam populasinya trdistribusi secara normal harus terpenuhi. Untuk itu, dilakukan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov pada setiap pola e-learning untuk mengetahui apakah data telah terdistribusi normal. Pada pola 1 nilai signifikansi (p) adalah 0,507. Hal ini berarti nilai signifikansi pada pola 1 lebih besar dari 0,05. Menurut Santoso (2007), jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas (p) > 0,05, maka data tersebut terdistribusi normal. Begitu juga dengan pola II dimana nilai signifikansi (p) adalah sebesar 0,255. Hal ini menandakan bahwa data pada pola II juga telah terdistribusi normal. Nilai signifikansi (p) pada pola III juga menunjukkan hasil yang sama, yaitu data terdistribusi normal. Nilai signifikansi (p) pada pola III adalah 0,439. Untuk pola IV, nilai signifikansi (p) menunjukkan bahwa data pola IV terdistribusi normal, yaitu sebesar 0,480.
Hasil uji normalitas untuk pola I, II, III, IV dalam penelitian ini tertera secara berturut pada tabel 10, 11, 12, 13 berikut:
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
Tabel 10
Hasil Uji Normalits Skala Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola E-learning - Pola I
Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola
Individual Self-Paced E-learning online
Kolmogorov-Smirnov Z 0,823
Signifikansi (p) 0,507
Tabel 11
Hasil Uji Normalits Skala Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola E-learning - Pola II
Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola
Individual Self-Paced E-learning offline
Kolmogorov-Smirnov Z 1,014
Signifikansi (p) 0,255
Tabel 12
Hasil Uji Normalits Skala Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola E-learning - Pola III
Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola
Group Based E-learning Synchroniously
Kolmogorov-Smirnov Z 0,867
Signifikansi (p) 0,439
Tabel 13
Hasil Uji Normalits Skala Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola E-learning - Pola IV
Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola
Group Based E-learning Asynchroniously
Kolmogorov-Smirnov Z 0,840
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
Oleh karena data penelitian pada masing-masing pola telah terdistribusi normal sehingga dapat digunakan kategorisasi berdasar model distribusi normal yang tertera dalam Azwar (2003).
a. Gambaran sikap mahasiswa USU terhadap pola individual self-paced e- learning online
Jumlah aitem yang digunakan untuk mengungkap sikap mahasiswa USU terhadap pola e-learning pertama inisebanyak 17 aitem. Dari perhitungan statistik deskriptif didapat mean pola I sebesar 47,13 dan standar deviasi sebesar 5,449. Kemudian nilai-nilai tadi diolah sesuai dengan rumus kategorisasi jenjang. Sehingga didapatkan hasil bahwa mahasiswa yang mempuyai nilai X ≥ 52 dikategorikan bersikap positif. Mahasiswa yang mempunyai nilai 42 ≤ X < 52 dikategorikan bersikap netral. Sedangkan mahasiswa yang mempunyai nilai X < 42 dikategorikan bersikap negatif. Gambaran sikap mahasiswa USU terhadap pola
individual self-paced e-learning online disajikan pada tabel 14 berikut:
Tabel 14
Kriteria Kategorisasi Skor Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola Individual Self-paced E-learning Online
Variabel Kriteria Kategorisasi Jenjang Jumlah Kategori Sikap Mahasiswa USU
terhadap Pola Individual Self-paced E-learning Online
X ≥ 52 40 Positif
42 ≤ X < 52 137 Netral
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
Berdasarkan tabel 14, dapat dilihat bahwa sebanyak 40 orang yang tergolong mempunyai sikap positif pada pola ini dan sebanyak 137 orang yang memiliki sikap netral terhadap pola ini. Sedangkan yang bersikap negatif terhadap pola ini ada sebanyak 23 orang. Pembagian persentase berdasarkan kategorisasi pada tabel 14 disajikan pada grafik 3.
0 50 100 150 Kategori Sikap
Grafik 3. Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola Individual Self-paced E-learning Online
Positif Netral Negatif
Berdasarkan grafik 3, dapat diketahui bahwa subjek penelitian yang termasuk ke dalam kategori sikap positif sebanyak 40 orang (20 %), dan subjek yang termasuk ke dalam kategori sikap netral sebanyak 137 orang (68,5 %). Sedangkan subjek yang termasuk ke dalam kategori bersikap negatif sebanyak 23 orang (11,5 %). Hasil grafik di atas menunjukkan bahwa dari 200 orang subjek yang diolah datanya kebanyakan tergolong dalam sikap netral. Artinya, subjek tidak memiliki kepercayaan, perasaan, ataupun kecedrungan perilaku yang terlalu positif ataupun negatif terhadap pola individual self-paced e-learning online.
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
b. Gambaran sikap mahasiswa USU terhadap pola individual self-paced e- learning offline
Jumlah aitem yang digunakan untuk mengungkap sikap mahasiswa USU terhadap pola e-learning yang ke dua ini adalah sebanyak 17 aitem. Dari perhitungan statistik deskriptif didapat mean pola II sebesar 44,05 dan standar deviasi sebesar 5,494. Kemudian nilai-nilai tadi diolah sesuai dengan rumus kategorisasi jenjang. Sehingga didapatkan hasil bahwa mahasiswa yang mempuyai nilai X ≥ 49 dikategorikan bersikap positif. Mahasiswa yang mempunyai nilai 39 ≤ X < 4 9 dikategorikan bersikap netral. Sedangkan mahasiswa yang mempunyai nilai X < 39 dikategorikan bersikap negatif. Gambaran sikap mahasiswa USU terhadap pola individual self-paced e-learning offline disajikan pada tabel 15 berikut:
Tabel 15
Kriteria Kategorisasi Skor Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola Individual Self-paced E-learning Offline
Berdasarkan tabel 15, dapat dilihat bahwa sebanyak 42 orang yang tergolong mempunyai sikap positif pada pola ini dan sebanyak 124 orang yang memiliki sikap netral terhadap pola ini. Sedangkan yang bersikap negatif terhadap
Variabel Kriteria Kategorisasi Jenjang
Jumlah Kategori Sikap Mahasiswa USU terhadap
Pola Individual Self-paced E- learning Offline
X ≥ 49 42 Positif
39 ≤ X < 49 124 Netral
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
pola ini ada sebanyak 34 orang. Pembagian persentase berdasarkan kategorisasi pada tabel 12 disajikan pada grafik 4.
0 50 100 150 Kategori Sikap
Grafik 4. Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola Individual Self-paced E-learning Offline
Positif Netral Negatif
Berdasarkan grafik 4, dapat diketahui bahwa subjek penelitian yang termasuk ke dalam kategori sikap positif sebanyak 42 orang (21 %), dan subjek yang termasuk ke dalam kategori sikap netral sebanyak 124 orang (62 %). Sedangkan subjek yang termasuk ke dalam kategori bersikap negatif sebanyak 34 orang (17 %). Hasil grafik di atas menunjukkan bahwa dari 200 orang subjek yang diolah datanya kebanyakan tergolong dalam sikap netral. Artinya, subjek tidak memiliki kepercayaan, perasaan, ataupun kecedrungan perilaku yang terlalu positif ataupun negatif terhadap pola individual self-paced e-learning offline.
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
c. Gambaran sikap mahasiswa USU terhadap pola group based e-learning synchroniously
Jumlah aitem yang digunakan untuk mengungkap sikap mahasiswa USU terhadap pola e-learning pola ketiga ini adalah sebanyak 24 aitem. Dari perhitungan statistik deskriptif didapat mean pola III sebesar 62,37 dan standar deviasi sebesar 6,595, yang kemudian digenapkan menjadi 7. Kemudian nilai-nilai tadi diolah sesuai dengan rumus kategorisasi jenjang. Sehingga di dapatkan hasil bahwa mahasiswa yang mempuyai nilai X ≥ 69 dikategorikan bersikap positif. Mahasiswa yang mempunyai nilai 55 ≤ X < 6 9 dikategorikan bersikap netral. Sedangkan mahasiswa yang mempunyai nilai X < 55 dikategorikan bersikap negatif. Gambaran sikap mahasiswa USU terhadap pola Group Based E-learning Synchroniously disajikan pada tabel 16 berikut:
Tabel 16
Kriteria Kategorisasi Skor Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola Group Based E-learning Synchroniously
Variabel Kriteria Kategorisasi Jenjang
Jumlah Kategori Sikap Mahasiswa USU
terhadap Pola Group Based E- learning Synchroniously
X ≥ 69 33 Positif
55 ≤ X < 69 145 Netral
X < 55 22 Negatif
Berdasarkan tabel 11, dapat dilihat bahwa sebanyak 33 orang yang tergolong mempunyai sikap positif pada pola ini dan sebanyak 145 orang yang memiliki sikap netral terhadap pola ini. Sedangkan yang bersikap negative terhadap pola ini
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
ada sebanyak 22 orang. Pembagian persentase berdasarkan kategorisasi pada tabel 13 dapat dilihat pada grafik 5.
0 50 100 150
Kategori Sikap
Grafik 5. Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola Group Based E- learning Synchroniously
Positif Netral Negatif
Berdasarkan grafik 5, dapat diketahui bahwa subjek penelitian yang termasuk ke dalam kategori sikap positif sebanyak 33 orang (16,5 %), dan subjek yang termasuk ke dalam kategori sikap netral sebanyak 145 orang (72,5 %). Sedangkan subjek yang termasuk ke dalam kategori bersikap negatif sebanyak 22 orang (11 %). Hasil grafik di atas menunjukkan bahwa dari 200 orang subjek yang diolah datanya kebanyakan tergolong dalam sikap netral. Artinya, subjek tidak memiliki kepercayaan, perasaan, ataupun kecedrungan perilaku yang terlalu positif ataupun negatif terhadap pola group based e-learning synchroniously.
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
d. Gambaran sikap mahasiswa USU terhadap pola group based e-learning asynchroniously
Jumlah aitem yang digunakan untuk mengungkap sikap mahasiswa USU terhadap pola e-learning pola keempat ini adalah sebanyak 12 aitem. Dari perhitungan statistik deskriptif didapat mean pola IV sebesar 47,17 dan standar deviasi sebesar 5,585, yang kemudian digenapkan menjadi 6. Kemudian nilai-nilai tadi diolah sesuai dengan rumus kategorisasi jenjang. Sehingga didapatkan hasil bahwa mahasiswa yang mempuyai nilai X ≥ 54 dikategorikan bersikap positif. Mahasiswa yang mempunyai nilai 41 ≤ X < 5 4 dikategorikan bersikap netral. Sedangkan mahasiswa yang mempunyai nilai X < 41 dikategorikan bersikap negatif. Gambaran sikap mahasiswa USU terhadap pola Group Based E-learning Asynchroniously disajikan pada tabel 17 berikut:
Tabel 17
Kriteria Kategorisasi Skor Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola Group Based E-learning Asynchroniously
Variabel Kriteria Kategorisasi Jenjang Jumlah Kategori Sikap Mahasiswa USU
terhadap Pola Group Based E-learning Asynchroniously
X ≥ 54 26 Positif
41 ≤ X < 54 153 Netral
X < 41 21 Negatif
Berdasarkan tabel 17, dapat dilihat bahwa sebanyak 26 orang yang tergolong mempunyai sikap positif pada pola ini dan sebanyak 153 orang yang memiliki sikap netral terhadap pola ini. Sedangkan yang bersikap negative terhadap pola ini
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
ada sebanyak 21 orang. Pembagian persentase berdasarkan kategorisasi pada tabel 17 dapat dilihat pada grafik 6.
0 50 100 150 200 Kategori Sikap
Grafik 6. Sikap Mahasiswa USU terhadap Pola Group Based E-learning Asynchroniously
Positif Netral Negatif
Berdasarkan grafik 6, dapat diketahui bahwa subjek penelitian yang termasuk ke dalam kategori sikap positif sebanyak 26 orang (13 %), dan subjek yang termasuk ke dalam kategori sikap netral sebanyak 153 orang (81 %). Sedangkan subjek yang termasuk ke dalam kategori bersikap negatif sebanyak 21 orang (76,5 %). Hasil grafik di atas menunjukkan bahwa dari 200 orang subjek yang diolah datanya kebanyakan tergolong dalam sikap netral. Artinya, subjek tidak memiliki kepercayaan, perasaan, ataupun kecedrungan perilaku yang terlalu positif ataupun negatif terhadap pola group based e-learning asynchroniously.
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
B. Pembahasan
Dari hasil penelitian yang diperoleh, sangat jelas terlihat bahwa dari keempat pola e-learning, 200 subjek yang diolah datanya kebanyakan berada dalam kategori netral, yang artinya mereka mempunyai sikap yang netral terhadap pola e-learning. Krech, dkk (1996) mengatakan bahwa ada kecendrungan ketika sikap yang dimiliki oleh individu terhadap komponen-komponen objek sikap tidak stabil atau tidak konsisten, maka sikap individu tersebut lebih mudah berubah ke arah konsistensi yang meningkat. Selain itu dalam Azwar (2003) disebutkan bahwa individu yang memiliki sikap yang ekstrim cenderung untuk berperilaku yang didominasi oleh keekstriman sikapnya itu, sedangkan mereka yang sikapnya lebih moderat (dalam hal ini dianggap lebih netral) akan berperilaku yang lebih di dominasi oleh faktor-faktor lain. Hal ini didukung oleh teori perilaku terencana Ajzen (dalam Azwar, 2003) yang menyatakan bahwa diantara berbagai keyakinan yang akhirnya akan menentukan intensi dan perilaku tertentu adalah keyakinan mengenai tersedia tidaknya keempatan dan sumber yang diperlukan. Keyakinan ini dapat berasal dari pengalaman dengan perilaku yang bersangkutan di masa lalu, dapat juga dipengaruhi oleh informasi tak langsung mengenai perilaku itu. Newcomb, dkk (dalam Setianti, 2007) mengatakan bahwa sikap positif mencendrungkan orang yang bersangkutan kepada pendekatan terhadap objek sikap. Sikap negatif mencendrungkan kepada penghindaran dan sikap netral mendekatkan seseorang untuk tidak mengemukakan sikap. Dalam hal ini terlihat bahwa mahasiswa USU menempatkan kebanyakan sikapnya dalam kategori netral, hal ini bisa saja terjadi dikarenakan kurangnya pengalaman para mahasiswa
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
tersebut dengan dunia teknologi sehingga mereka tidak mengemukakan sikap yang positif maupun yang negatif. Hal ini juga lah yang menurut Bullen (dalam Suyanto,2005) yang menjadi kelemahan dalam penerapan sistem e-learning.
Selain itu penguasaan mahasiswa akan bahasa-bahasa komputer ataupun yang berkaitan dengan teknologi terlihat kurang. Hal ini terbukti dari pelaksanaan baik uji coba alat ukur maupun penyebarn data untuk penelitian, dimana sebagian besar mereka kurang memahami istilah-istilah seperti CD-ROM maupun telekonferens. Namun begitu bukan berarti mereka sama sekali buta akan istilah-istilah tersebut, hanya saja mereka lebih memahaminya dalam bentuk artian yang berbeda.
Sikap netral yang terbentuk pada sebagian besar mahasiswa USU dapat dimaklumi jika mengingat 3 fungsi e-learning yang dikemukakan oleh Siahaan (dalam Fachri, 2007) yang salah satunya mengatakan bahwa fungsi e-learning
adalah sebagai komplemen (pelengkap), dalam artian e-learning digunakan untuk melengkapi pengajaran konvensional yang diberikan dosen. Seperti pengenalan mahasiswa terhadap jurnal-jurnal online, dimana mahasiswa terkadang diminta untuk mencari jurnal online. Namun tidak ada penjelasan kepada mereka bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah satu bentuk dari pembelajaran e-learning.
Sikap netral yang ditunjukkan oleh sebahagian besar mahasiswa USU memperlihatkan bahwa mereka tidak terlalu antusias dengan adanya pembelajaran
e-learning ini. Semuanya tergantung pada situasi yang dalam artian ketika fasilitas itu ada, mereka menikmatinya, namun ketika fasilitas itu tidak ada mereka juga tidak mempermasalahkannya. Selain itu, menurut Eagly dan Chaiken (1993), sikap merupakan kecedrungan mengevaluasi yang akan mempengaruhi bagaimana
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
stimulus akan direspon. Evaluasi merupakan gabungan antara keunggulan dan kelemahan yang dimiliki objek dan dinilai sebagai suatu keseluruhan. Sikap netral terhadap pola-pola e-learning terbentuk ketika mahasiswa USU terhadap e- learning yang digambarkan melalui pola-polanya seimbang dalam menyikapi keunggulan dan kelemahannya, baik dari kepercayaannya, perasaan, dan kecendrungan berprilaku. Perubahan sikap netral terhadap pola-pola e-learning
dapat terjadi ketika individu disajikan informasi baik dari media massa maupun dari orang lain yang mendukungnya untuk mengarahkannya kepada sikap positif ataupun negatif.
Pada penelitian ini terdapat juga sebagian orang yang mempunyai sikap yang positif terhadap pola e-learning. Sikap positif mahasiswa USU terhadap pola-pola e-learning terbentuk dari adanya interaksi yang dialami mahasiswa dengan dunia pendidikannya. Azwar (2003) mengatakan bagaimana individu bereaksi terhada pengalaman saat ini tidak terlepas dari penghayatannya terhadap pengalaman-pengalaman masa lalunya. Ketika mahasiswa mengalami pengalaman yang tidak memuaskan dengan sistem pembelajaran di masa lalu ataupun di masa sekarang dapat membentuk sikap positif terhadap salah satu pola-pola maupun keseluruhan pola-pola e-learning yang ditawarkan. Dalam artian ia setuju dengan adanya penerapan e-learning dalam sistem pembelajarannya. Suryadi (2008) mengatakan bahwa sistem pembelajaran konvensional bukanlah hal yang efektif lagi. Dimana dalam sistem ini masih terlihat jelas pendekatan yang masih bersifat otoriter dan kurangnya kreasi dalam seni mengajar sehingga membuat para pelajar menjadi bosan.
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
Terbentuknya sikap positif mahasiswa USU terhadap e-learning juga dipengaruhi dari manfaat yang dirasakan mahasiswa tersebut. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Katz (dalam Azwar, 2003) bahwa salah satu dari empat fungsi sikap bagi manusia yaitu fungsi manfaat. Dalam fungsi ini dinyatakan bahwa individu dengan sikapnya berusaha untuk memaksimalkan hal- hal yang diinginkannya dan meminimalkan hal-hal yang tidak diinginkannya. Dengan demikian individu akan membentuk sikap positif terhadap hal-hal yang dirasakannya akan mendatangkan keuntungan. Fachri (2007) menyatakan bahwa bagi peserta didik atau pelajar, keberadaan e-learning memungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya peserta didik dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang dan peserta didik pun bisa berkomunikasi dengan pengajar setiap saat. Keberadaan e-learning ini pun dapat membantu peserta didik yang tidak dapat hadir di kelas dengan alasan apapun.
Sikap positif ini sendiri dapat timbul karena karena beberapa faktor. Azwar (2003) mengatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap seseorang seperti pengalaman pribadi. Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Sikap positif yang ditimbulkan oleh sebagian mahasiswa USU bisa jadi dikarenakan adalanya penglaman pribadi yang positif juga dalam penggunaan salah satu pola e-learning yang ditawarkan, misalnya mereka merasa lebih fleksibel ketika pengumpulan tugas ataupun berkomunikasi dengan dosen dapat dilakukan dari jarak jauh. Faktor lain yag juga dapat menimbulkan sikap positif
Stevie Duma : Sikap Mahasiswa Usu Terhadap Pola-Pola E-Learning, 2009.
pada sebagian mahasiswa USU yang terkategori mempunyai sikap yang positif adalah keberadaan media massa. Walaupun pengaruh media massa tidaklah sebesar pengaruh interaksi individual secara langsung, namun pesan-pesan yang berisi sugesti dapat mengarahkan opini seseorang. Pesan-pesa sugestif yang dibawa oleh informasi-informasi baru, apabila cukup kuat akan memberikan dasar dalam menilai sesuatu sehingga terbentuklah arah sikap tertentu. Hal ini bisa saja menjadi hal yang mendorong mahasiswa USU untuk bersikap positif terhadap e- learning, misalnya informasi yang disajikan media massa tentang e-learning yang dalam hal ini dijabarkan lagi berdasarkan pola-pola dan tentang kemudahan- kemudahan yang didapatkan, serta kondisi perkembangan jaman yang membuat e- learning saat ini menjadi tren dalam proses belajar. Namun begitu bukan berarti tidak ada mahasiswa yang bersikap negatif terhadap pola-pola e-learning ini. Middlebrook (dalam Azwar, 2003) mengatakan bahwa tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu objek psikologis cenderung akan membentuk sikap yang negatif trhadap objek tersebut.
BAB V