BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
1) Dasar Pembentukan Rukun Kematian
Jika kelahiran seorang bayi manusia disambut dengan berbagai prosesi serta perlengkapan kebutuhannya. Demikian pula dalam kematiannya. Keperluan yang harus tersedia saat kematian datang, tidak jarang membuat sedikit kepanikan pada keluarga yang berduka. Sehingga jika ada yang mampu mengurusi segala keperluan jenazah ini, hal tersebut tentu akan meringankan beban keluarga yang terkena musibah.
Penyelenggaraan jenazah merupakan fardhu kifayah bagi semua muslimin mukallaf. Jika ada sebagian muslim melaksanakannya, maka kewajiban muslim lain telah gugur, akan tetapi jika tidak ada seorangpun yang melaksanakannya, seluruh muslim mukallaf akan berdosa. Hal ini dibenarkan Dewan Pembina Masjid Uswatun Hasanah Pondok Jaya Bintaro Sektor V, Ahmad Ghozali Masruri. “Ya kan
dasarnya sudah jelas. Kita ini disuruh melakukan pengurusan jenazah, mulai dari memandikan, mengkafani, mensholati, dan kemudian menguburkan dan sebagainya. Semua ini adalah perintah Rasulullah
...”21
tegasnya. Awal pendirian pengurusan jenazah di Masjid Uswatun Hasanah hanya terbentuk dari lingkup rukun tetangga, dan tahap berikutnya berkembang luas; anggotanya berasal dari luar komunitas rukun tetangga mesjid. “Awalnya (peserta rukun kematian hanya
berasal dari) rukun tetangga saja. Rukun tetangga, rukun keluarga, terus berkembang akhirnya ada semacam keinginan dari Majelis
Uswatun Hasanah, kalau dibentuk rukun kematian gimana? ...”,
Sukoso, pengurus rukun kematian di masjid Uswatun Hasanah, menjelaskan.22
Inilah salah satu dasar utama awal yang melandasi terbentuknya semua rukun kematian. Pada kasus lainnya, permasalahan umat yang kompleks menjadikan satu pedoman baku dalam menyelenggarakan pelayanan jamaah secara paripurna pada Masjid Raya Pondok Indah.
“... dari lahir sampai mati kalau bisa di masjid ...”, kata Rusmono, Ketua Unit Pelayanan Jenazah Masjid Raya Pondok Indah. Memenuhi kebutuhan jamaahnya merupakan hal penting yang harus dilakukan pada sebuah tempat ibadah. Dalam hal ini, pengurusan jenazah menjadi salah satu contoh kebutuhan masyarakat. Dengan jarak yang terjangkau, masyarakat dapat lebih cepat mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan. Hal ini disampaikan oleh Cicih, Bendahara Layanan Pengurusan Jenazah Masjid Jami‟ Bintaro Jaya, “Tadinya kita juga (untuk keperluan penyelenggaraaan jenazah) dari Yayasan Bunga Kemboja. Tetapi karena Yayasan Bunga Kemboja terlalu jauh, jadi bagian sosial masjid kami membentuk sebuah badan yang seperti Kemboja di
22
lingkungan masjid Bintaro. Jadi antara ibu-ibu pengurus membentuk seperti itu ...”. 23
Sama halnya dengan Cicih, Irfan, pengurus masjid Raya Bintaro, menegaskan bahwa banyak jamaah Masjid Raya Bintaro menginginkan adanya sebuah wadah yang mengurusi jenazah. Karena jamaah kerap kerepotan dalam mengurus jenazah, dan menginginkan pelayanan dengan jarak yang terjangkau dan tanpa menunggu lama. “Sebenarnya
ini (pembentukan rukun kematian) menjawab kebutuhan masyarakat juga. Banyak warga sini kadang-kadang kebingungan juga ... mereka yang tidak mau repot, tahunya ke masjid saja. Di masjid biasanya kan jamaah paling mereka hanya menyolati. Ketika mereka bertanya-tanya apakah ada solusinya lagi? Yang kira-kira lebih dekat, lebih gampang
...” ungkapnya.24
Pendirian Yayasan Bunga Kemboja yang merupakan salah satu dari kumpulan yayasan kematian di Jakarta adalah bukti kesadaran adanya niat warga untuk saling meringankan dari pengurus yayasan kepada anggotanya. Yayasan ini berdiri sejak tahun 1956. Saat itu, pengurusan jenazah secara kelembagaan belum menjadi trend seperti layaknya yang terjadi sekarang. “Pertimbangannya mungkin dari
pengurus lama, saat itu belum ada yang mengurus orang-orang yang
meninggal. Jadi, didirikan satu yayasan yaitu Yayasan Bunga Kemboja
...” papar Faturrochman, Sekretaris Yayasan Bunga Kemboja25.
Latar belakang yang dipaparkan mengenai sejarah pendirian yayasan rukun kematian ini masih kisaran “mungkin”. Artinya, masih terdapat kemungkinan adanya jenis yayasan dalam bidang yang sama pada saat itu. Hal ini terbukti bahwa memang ada sebuah perkumpulan kematian tertua yang berdiri pada tahun 1938 yang bernama PT Palang Hitam. Organisasi ini merupakan warisan dari tangan Belanda yang dipindahtangankan ke Indonesia pada tahun 1953. Dulu PT Palang Hitam disebut dengan NV Verbugt.26
Dasar pendirian Urusan Penyelenggaraan Jenazah di Yayasan Pesantren Islam al-Azhar memiliki history terkait berdirinya Yayasan Bunga Kemboja. Pertama kali berdiri, Yayasan Bunga Kemboja bertempat di Al Azhar. Hal ini senada dengan yang dijelaskan oleh Sekretaris Yayasan Bunga Kemboja, Faturrochman, “... Yayasan Bunga Kemboja pertama kali berdiri di Al Azhar ...”, katanya. Sebelum Pihak Yayasan Pesantren Islam Al Azhar mendirikan Urusan Penyelenggaraan Jenazah, jamaah Al Azhar meminta pelayanan jenazah kepada yayasan lain yang tak lain adalah Yayasan Bunga Kemboja. Menurut Dayat Daip, Ketua UPJ TPI Al Azhar, pada saat itu pegawai yayasan terkait banyak yang non muslim. Sehingga menimbulkan
25
Wawancara dengan Faturrochman, Sekretaris Yayasan Bunga Kemboja. Jakarta 02 September 2013.
26
Dikutip dari Siti Rohimah, http://jamsos.blogspot.com/2013/01/hidup-mati-kereta-mayat.html, pada Senin, 28 Januari 2013 dari Majalah Tempo, 09 Juni 1979.
keraguan terhadap pelayanan jenazah yang diberikan yayasan tersebut dan mengeluhkan hal ini kepada pihak pengurus YPI Al Azhar. “...
banyaknya permintaan dari jamaah Masjid Agung Al Azhar. Jamaah ini datang ke pengurus Yayasan Pesantren Islam Al Azhar, kenapa kok
Al Azhar segini besar tidak ada pelayanan untuk jenazah?”27
kisahnya. Berawal dari kegelisahan inilah, pada awal tahun 1993, jamaah haji Al Azhar menyerahkan satu unit kendaraan, yaitu L 300, kepada pihak Yayasan Pesantren Islam Al Azhar. Kemudian dikelola pengurus Masjid Agung Al Azhar dan pada tanggal 18 September 1995 dibentuk Kepengurusan Urusan Penyelenggaraan Jenazah dengan SK No.XII/PH-YPI/KEP/16.9528.
Pelayanan pengurusan jenazah tidak hanya disediakan bagi mereka yang mampu. Akan tetapi, mereka yang tidak dan kurang mampu dapat memperoleh pelayanan pengurusan jenazah dengan cuma-cuma seperti pelayanan yang diselenggarakan di Yayasan An-Nashr, yaitu sebuah yayasan yang menaungi Masjid An-Nashr Bintaro Sektor V. Berawal dari tergeraknya hati untuk dapat melayani kebutuhan dhuafa dalam segala aspek, Yayasan An-Nashr, menyelenggarakan pengurusan hingga pengantaran jenazah secara gratis. Pelayanan ini dibawahi oleh LKU (Lembaga Kesehatan Umat) dan menyatu dengan pelayanan kesehatan. Sekretaris Yayasan yang juga merangkap sebagai sekretaris LKU An-Nashr, Vonny Sandralina menuturkan bahwa,
“... Karena mereka berobat ke sini, meninggal pun ke sini minta tolongnya. Dari situ. Kadang mereka mengambil pemandian dari yang lain, untuk ambulancenya kita yang dipake. Itu pengirimannya bisa kemana-mana, bukan cuma dari sini ke pemakaman saja. Tapi di luar kota, sampai ke Brebes, Ngawi dan tidak ada batasan daerah. Kita ... ntuk dhuafa, dan mereka yang dhuafa kan tidak punya dana. Untuk hidup sehari-hari saja susah. Kalau meninggal, mereka mau dikubur dimana? Di sini kan tanah pemakaman mahal sekali. Sementara yang murah dan tanahnya banyak di kampung. Jadi akhirnya mereka harus
dibawa ke kampung”.29
Di samping itu, Pengurus Yayasan juga terkadang memberikan bantuan uang duka kepada dhuafa. “Besarnya paling sekitar
Rp.200.000-an”. Meskipun tak seberapa, besar dana yang disalurkan
sangat membantu kaum dhuafa. Keprihatinan terhadap nasib dhuafa ini tidak hanya terdapat di Masjid An-Nashr. Namun, pada setiap masjid yang menyelenggarakan rukun kematian selalu menyisipkan pelayanan gratis terhadap kaum papa. Hal ini seperti yang dikatakan Penanggung jawab LPJ Masjid Raya Bintaro Jaya, “Full, gratis. Mereka tidak perlu
bayar. Ini merupakan salah satu bentuk pelayanan kita kepada
jamaah, juga warga yang kurang mampu”30. Pada LPJ Masjid Jami‟
Bintaro Jaya pun memberlakukan dispensasi bagi mereka yang dinyatakan tidak mampu.31. “Ada”, jawab Rusmono lugas ketika penulis menanyakan adanya layanan bagi mereka yang tidak mampu32.
29
Wawancara dengan Vonny Sandralina. Ibid.
30
Wawancara dengan Irfan. Ibid.
31
Lihat Brosur Lembaga Pengurusan Jenazah Masjid Jami‟ Bintaro Jaya.
32
Begitu pula pada UPJ YPI Al Azhar, Dayat Daip mengatakan, “Ada.
Itu bagi mereka yang benar-benar tidak mampu”.33
Syarat dan ketentuan untuk mendapatkan dispensasi ini pun seragam, yaitu harus ada surat keterangan tidak mampu dari kelurahan atau RT/RW setempat. Rusmono, Ketua UPJ Masjid Raya Pondok Indah mengatakan bahwa, “Paling tidak surat keterangan tidak mampu dari kelurahan”34
. Irfan, penanggungjawab LPJ Masjid Raya Bintaro Jaya mengatakan bahwa, “... yang kita butuhkan adalah surat keterangan tidak mampu dari kelurahan”35
. Sedangkan pada LPJ Masjid Jami‟ Bintaro Jaya, selain harus menyertakan surat keterangan tidak mampu, juga harus ada rekomendasi dari pengurus Masjid Jami‟ Bintaro Jaya.36 Pada UPJ YPI Al Azhar pun terdapat beberapa tambahan persyaratan yang harus disertakan. Ketua Urusan Penyelenggaraan Jenazah mengatakan bahwa, “Syaratnya foto copy
KTP, Kartu Keluarga, Surat Pengantar dari RT/RW bahwa dia tidak
mampu ...”. 37
33
Wawancara dengan Ketua Urusan Penyelenggaraan Jenazah Yayasan Pesantren Islam Al Azhar. Jakarta, 03 September 2013.
34
Wawancara dengan Rusmono. Ibid.
35
2) Aktivitas Rukun Kematian
Rukun kematian diselenggarakan untuk meringankan beban keluarga yang sedang berduka. Kegiatan yang dilakukan meliputi memandikan, mengkafani, mensholati dan mengantarkan jenazah ke pemakaman. Prosesi ini menjadi hak bagi setiap anggota rukun kematian. Sedangkan bagi jenazah sendiri, peran rukun kematian tidak muncul sama sekali. Karena anggota atau keluarga anggota akan menghubungi pihak rukun kematian ketika seseorang telah dipastikan meninggal dunia. Sehingga tidak ada pendampingan dari pihak rukun kematian dalam sakaratul maut.
Status anggota rukun kematian dapat diperoleh ketika seseorang telah mendaftarkan diri. Prosedur untuk menjadi anggota sebuah rukun kematian tidaklah rumit. Beberapa rukun kematian hanya mensyaratkan anggotanya untuk membayar uang pendaftaran dengan besar yang telah ditentukan, menyerahkan fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Hal ini berlaku pada Yayasan Bunga Kemboja, seperti yang diungkapkan oleh Faturrochman, Sekretaris Yayasan Bunga Kemboja, “Pertama harus membawa fotocopy KTP dan Kartu
Keluarga … uang pendaftaran sebesar Rp.100.000,-” .38 Bendahara Pengurusan Jenazah Masjid Uswatun Hasanah, Sukoso, pun menyatakan persyaratan keanggotaan yang tidak rumit, “… tinggal
38
daftar saja. Cukup KTP sama KK aja. Kita gampang sekali …”
katanya.39
Unit Pelayanan jenazah Masjid Raya Pondok Indah bahkan hanya sebatas mengisi formulir yang disesuaikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP), membayar biaya pendaftaran dan memenuhi kewajiban membayar iuran bulanan sebesar yang ditentukan. Rusmono
menjelaskan “… isi formulir lengkap sesuai dengan KTP …” . “…
setelah isi formulir, biaya pendaftaran Rp.100.000,-” tambahnya.40 Hal
ini juga berlaku pada Layanan Pengurusan Jenazah Masjid Jami‟ Bintaro Jaya, “Tinggal datang, isi formulir, bayar uang pangkal dan
iuran satu tahu ke depan”, ungkap Cicih, Bendahara Layanan
Pengurusan Jenazah Masjid Jami‟ Bintaro Jaya.41
Selain persyaratan yang telah ditentukan pada beberapa rukun kematian di atas, terdapat syarat lain yang harus dilengkapi oleh calon anggota yaitu berupa foto calon pendaftar. Ketentuan ini berlaku bagi pendaftar pada Urusan Penyelenggaraan Jenazah Yayasan Pesantren Islam Al Azhar. Hal ini dikemukakan oleh Dayat Daip, Ketua Urusan Penyelenggaraan Jenazah Yayasan Pesantren Islam Al Azhar, “Prosedurnya untuk menjadi anggota, yang pertama foto copy KTP, Kartu Keluarga (KK), Pas foto
2x3 sebanyak 2 buah … uang pendaftaran Rp.100.000,- … iuran
bulanannya Rp.5.000 x 12 bulan. Jadi satu orang Rp.60.000,- …”.42
39
Wawancara dengan Sukoso. Tangerang, 08 Juli 2013.
40
Lembaga pemulasaran Jenazah Masjid Raya Bintaro Jaya pun memberlakukan ketentuan yang sama, “Mengisi formulir, foto, KTP, kemudian Kartu Keluarga”, jelas Irfan, Penanggung jawab Lembaga Pemulasaran Jenazah Masjid Raya Bintaro Jaya.43
3) Keanggotaan
Mendaftarkan diri menjadi salah satu anggota rukun kematian harus memenuhi kewajiban yang telah ditentukan. Salah satunya dengan membayar iuran yang besarnya telah ditetapkan pihak rukun kematian. Pada hampir semua lembaga atau unit rukun kematian yang menjadi objek penelitian penulis, satu-satunya kewajiban yang harus ditunaikan anggota adalah melakukan pembayaran iuran sesuai ketentuan yang diberlakukan. Bendahara Pengurusan Jenazah Masjid Uswatun Hasanah menegaskan bahwa, “Kewajibannya hanya setiap
bulan atau setahun sekali setor, itu saja. Tidak ada kewajiban lain”44
. Cicih, Bendahara Layanan Pengurusan Jenazah Masjid Jami‟ Bintaro Jaya, juga mengatakan bahwa satu-satunya kewajiban hanyalah iuran semata bagi anggotanya. “Kalau anggota hanya bayar iuran saja”, katanya45. Begitu pula pada Yayasan Bunga Kemboja, “Hanya
bayar iuran saja”, kata Sekretaris Yayasan Bunga Kemboja. Besar iuran yang ditetapkan pada setiap rukun kematian pun beragam. Berikut daftar tabel pembayaran iuran per bulan pada rukun kematian yang telah menjadi objek penelitian penulis.
43
Wawancara dengan Irfan. Ibid.
44
Wawancara dengan Sukoso. Ibid.
45
Tabel 5.
Besar Iuran Per Bulan, Biaya Pendaftaran dan Jumlah Anggota No. Nama Masjid /
Yayasan Besar Iuran
Biaya Pendaftaran Jumlah Anggota 1. Yayasan Bunga Kemboja Rp. 7.000,-/jiwa Rp.100.000,- 115.991 jiwa* 2. Masjid Raya Bintaro
Jaya Rp. 15.000,-/KK Rp.30.000,- 54 KK
3. Masjid Uswatun
Hasanah Rp.5.000,-/KK Rp.30.000,- 123 KK**
4. Masjid Raya Pondok
Indah Rp.5.000,-/jiwa Rp.100.000,- 350 KK
5. Yayasan Pesantren
Islam Al Azhar Rp.5.000,-/jiwa Rp.100.000,- 675 KK
6. Masjid Jami‟ Bintaro
Jaya Rp.15.000,-/KK Rp.80.000,- 382 KK
7. Masjid An-Nashr - - > 2.000***
Sumber: Data Penelitian Penulis Keterangan: *Data akhir Februari 2013 ** Data KK yang masih aktif.
***Data Dhuafa yang menjadi pasien LKU An-Nashr.
Mekanisme pembayaran dapat dilakukan anggota dengan leluasa. Pembayaran secara langsung menjadi rata-rata cara yang dilakukan oleh anggota rukun kematian. “Rata-rata anggota ke sini, silaturrahim”46 ungkap Rusmono, Ketua UPJ Masjid Raya Pondok Indah. Bendahara
LPJ Masjid Jami‟ Bintaro Jaya pun mengiyakan, “Caranya kebanyakan
mereka datang ke sini”.47
Pembayaran dapat pula dilakukan melalui sistem transfer seperti yang dikatakan oleh Dayat Daip, Ketua UPJ YPI Al Azhar, “Pembayaran biasanya anggota datang ke sini,
kadang-kadang mereka juga transfer melalui rekening yayasan”.48
Hal senada
46
juga diungkapkan oleh Sekretaris Yayasan Bunga Kemboja, “Langsung
bayar kemari atau lewat bank (transfer) setelah itu kita fax struk
pembayarannya”49
. Sedangkan pada Pengurusan Jenazah Masjid Uswatun Hasanah, pembayarannya dapat dilakukan kapan saja dan bisa dititipkan ke petugas yang ditetapkan. “Tidak ada yang menagih. Warga langsung atau saat kumpul arisan atau pengajian ..., ditentukan siapa yang menerima. ... Atau mau langsung ke RTnya masing-masing,
jadi leluasa sebenarnya. Akhir tahun biasanya diserahkan ke sini”.50
Ketentuan pembayaran anggota dapat dilakukan dengan kesanggupan anggota selagi tidak ditentukan oleh pihak pengurus rukun kematian. LPJ Masjid Jami‟ Bintaro Jaya membebaskan anggotanya untuk membayar kapan saja. Cicih menjelaskan bahwa, “... Ada yang
dua bulan sekali, tiga bulan sekali, dan ada anggota yang membayar
setahun sekali. Bahkan ada yang dua tahun sekali”51
. LPJ Masjid Raya Bintaro Jaya juga menganut paham aturan yang sama, dengan ketentuan pada pembayaran pertama dibayar 6 (enam) bulan sekaligus. “Cuma
awalnya saja, kita 6 bulan pertama. Selanjutnya boleh bulanan,
setahun sekali, tiga bulan sekali, terserah anggota. Tidak ada aturan” ,
katanya52.
49
Wawancara dengan Faturrochman. Ibid.
50
Wawancara dengan Sukoso. Ibid.
51
Wawancara dengan Cicih. Ibid.
52
Pada UPJ Masjid Raya Pondok Indah, pembayaran sekaligus 6 (enam) bulan dan satu tahun menjadi tradisi yang dilakukan oleh anggotanya. “Biasanya dibayar setengah tahun, kadang juga sekalian setahun”,53
ungkap Rusmono. Pembayaran tahunan mendominasi cara pembayaran yang dilakukan pada UPJ YPI Al Azhar, sebagaimana penjelasan Ketua UPJ terkait, “Ada yang bulanan. Tapi rata-rata
langsung setahun bayarnya”.54 Begitu pula di Yayasan Bunga Kemboja, “Rata-rata per tahun. Kalau per bulan jarang”.55 Pengurusan Jenazah pada Masjid Uswatun Hasanah pun lebih memilih ketentuan pembayaran satu tahun sekaligus sebagai pembayaran yang lebih tepat, lebih praktis, dan banyak dilakukan oleh anggotanya. Mengingat jumlah pengurus yang minim dan para warga yang banyak memiliki kesibukan di luar rumah. “Rata-rata setahun sekali. Kalau per bulan kita repot juga. Tidak sempat menarik dana. Karena pengurus yang ditunjuk hanya beberapa orang, dan itu juga sosial semua. Kalau pengurus keliling juga tidak mungkin. Belum tentu dapat
menenmui orangnya ...”,56kata Sukoso.
Lamanya anggota melakukan pembayaran tidak ditentukan. Kematian, menjadi patokan dasar sebagai batas pembayaran yang dilakukan setiap anggota. “Rutin terus sampai death”57
, jawab Rusmono ketika pertanyaan sebuah pertanyaan mengenai jangka waktu
53
Wawancara dengan Rusmono. Ibid.
54
Wawancara dengan Dayat Daip. Ibid.
55
pembayaran anggota terlontar. Hal senada diungkap oleh Ketua UPJ YPI Al Azhar, Dayat Daip. “(durasi membayar iuran/kontribusi) sampai meninggal”58
, katanya. Begitu pula di Yayasan Bunga Kemboja, “Sampai dia meninggal. Kalau si anggota meninggal putus perjanjiannya”59
, kata Faturrochman. “... tidak ada batas waktu. Selama hidup, bayar”, Bendahara LPJ Masjid Jami‟ Bintaro mengiyakan.
Keanggotaan pada suatu rukun kematian menjadi satu jalan untuk meringankan beban keluarga yang sedang berduka. Akan tetapi, tidak setiap rukun kematian atau lembaga pengurusan jenazah langsung dapat menjamin pengurusan anggota yang mendaftar tanpa penetapan tarif tambahan. Pada Yayasan Bunga Kemboja misalnya, hak anggota untuk mendapatkan pengurusan jenazah hanya dapat dinikmati ketika sudah memasuki jangka waktu 6 (enam) bulan setelah pendaftaran dilakukan. Faturrochman menegaskan bahwa, “...status keanggotaannya baru
berlaku setelah enam bulan dari waktu pendaftaran. Dibuat dengan
limit enam bulan ...”. Hal ini dilakukan untuk menyiasati agar tidak terjadi kebobolan keuangan yang sebelum ketentuan ini ditetapkan sering terjadi. Jika kematian terjadi sebelum jangka waktu 6 (enam) bulan tersebut, anggota dikenakan biaya penuh, yaitu sebesar
58
Wawancara dengan Dayat Daip. Ibid.
59
Rp.4.500.000,-. “Kita akan tetap melayani, hanya dikenakan biaya
Rp.4.500.000,-”, jelas Sekretaris Yayasan Bunga Kemboja.60
Kebijakan yang hampir sama juga berlaku di Lembaga Pengurusan Jenazah Masjid Jami‟ Bintaro Jaya. Ketentuan pengurusan jenazah secara free hanya dapat dinikmati ketika kematian datang setelah 6 (enam) bulan dari tanggal pendaftaran. Pengaturan bagi anggota yang mendapat kemalangan, demikian mereka menyebutnya, sebelum tenggang waktu 6 (enam) bulan tersebut, dikenakan biaya 50% dari tarif non anggota atau harga normal. Besar biaya yang harus dibayar non anggota sebesar Rp.1.700.000,-. Jadi, bagi anggota LPJ yang mengalami kemalangan sebelum enam bulan pendaftaran dikenakan biaya sebesar Rp.850.000,-. Model ini seperti dituturkan oleh Bendahara LPJ Masjid Jami‟ Bintaro Jaya, “... kalau misalkan sebelum
6 bulan dia meninggal, itu bayar setengah harga dari harga normal.
Tapi kalau di atas 6 bulan, itu free”.
Menangani urusan kematian bukan melulu soal financial. Karena ketentuan manfaat yang diperoleh anggota setelah jangka waktu 6 (enam) bulan ini diberlakukan dengan tujuan agar tercipta kecenderungan saling tolong menolong antara anggota yang mampu dan dhuafa. Artinya, keberadaan dana infaq ini akan menciptakan subsidi silang bagi dhuafa.
“Sebenarnya kita bukan (cari) untung rugi. Kalau misalkan dihitung-hitung setahun 180.000. Jadi kalau memang dibilang rugi, (ya kita) rugi. Untuk yang memandikan saja, honornya Rp.175.000,-. Belum lagi (honor atau uang saku untuk) tim lapangan lainnya, belum yang bawa ambulancenya. Kalau dibayar 50% dari harga normal, itu juga tidak dapat menutupi kebutuhan biaya penyelenggaraan jenazah secara utuh. Untuk kafan saja Rp.300.000,- memang kita tidak berbisnis, tidak ada untung rugi. Makanya, kita berinfaq Rp.1.700.000,-. Itu semua untuk
subsidi silang kalau ada yang dhuafa. Jadi bisa saling membantu”.61
Sedangkan di LPJ Masijd Raya Bintaro Jaya, manfaat pengurusan jenazah dapat diperoleh tanpa ada masa tenggang waktu dari awal periode pendaftaran-keanggotaan. Meskipun dalam brosur Lembaga Pemulasaran Jenazah Masijd Raya Bintaro Jaya yang diperoleh penulis, pada poin nomor 3, tertulis bahwa “Yang dimaksud anggota ialah setelah satu bulan dari tanggal pendaftaran dinyatakan sah sebagai anggota”. Akan tetapi, penanggung jawab LPJ Masjid Raya Bintaro Jaya menegaskan bahwa,
“Itu memang ada di brosur dan harus direvisi ulang. Sebenarnya ketika mereka mendaftarkan diri, ia harus membayar Rp.30.000,-. Apalagi sudah iuran bulanan. Itu tanpa menunggu satu bulan. Tapi rata-rata begini, itu tidak harus menunggu satu bulan. Karena ketika mereka mendaftar, mereka bayar untuk enam bulan. Itu mungkin membingungkan jamaah juga; mungkin nanti kita coba direvisi. Tapi pada kenyataannya seperti itu, mereka membayar 6 bulan jadi mereka tetap berhak. Walaupun belum satu bulan lamanya dari pendaftaran
untuk menjadi anggota; kita tetap akan membantu”.62
Manfaat standar yang dapat diperoleh anggota dari rukun kematian yang diikutinya, di setiap kelompok rukun kematian, berupa memandikan jenazah, mengkafani, menyolatkan, dan mengantarkan jenazah ke pemakaman untuk dikuburkan. Hal ini seperti yang
61
Wawancara dengan Cicih. Ibid.
62
dijelaskan oleh Cicih, Bendahara LPJ Masjid Jami‟ Bintaro Jaya, “Hak
anggota dari memandikan, mengkafani, mensholatkan, dan
mengantarkan jenazah dari rumah duka ke TPU terdekat”63
. Rusmono, Ketua UPJ Masjid Raya Pondok Indah, menjelaskan:
“Haknya meliputi fardhu kifayah, satu, memandikan berikut
perlengkapan mandi. Ada bantalannya, ada baknya, ada sabunnya, dipinjamkan kecuali sabun. Yang kedua, mengkafankan berikut