• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA

B. Hasil Penelitian

Hasil penelitian yang dihasilkan dari pengolahan data SPSS dapat dihsilkan pengujian sebagai berikut:

1. Analisis Deskriptif

Statistik deskriptif ini menunjukkan gambaran umum obyek penelitian yang dijadikan sampel penelitian. Dapat dilihat pada tabel 4.3 mengenai hasil analisis deskriptif sebagai berikut:

Tabel 4.2 Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std.

Deviation ROA 100 -,01 ,47 ,1118 ,10267 NPM 100 -,04 ,68 ,1623 ,11945 ROE 100 -,06 ,43 ,1474 ,07774 SUKUBUNGA SBI 100 ,03 ,08 ,0572 ,02301 DPR 100 ,06 1,57 ,5504 ,30811 RETURN 100 -,54 ,58 ,0546 ,23194 Valid N (listwise) 100

Sumber: Data yang diolah

Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa jumlah pengamatan pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) dan FTSE Bursa

Malaysia Hijrah Shariah Index (FBMHI) periode 2013-2016 dalam

penelitian ini sebanyak 100 data. Mean atau rata-rata return saham syariah

sebesar 0,0546return saham terendah (minimum) adalah -0,54 dan return

saham tertinggi (maksimum) adalah 0,58. Dari datas diatas dapat diketahui bahwa standar deviasi sebesar 0,23194 lebih besar dari nilai rata-rata sebesar 0,0546. Berarti return saham syariah dalam kondisi tidak baik.

Variabel ROA memiliki nilai minimum sebesar -0,01 dan nilai maksimum sebesar 0,47. Nilai rata-rata sebesar 0,1118 dan standar deviasi

sebesar 0,10267. Dapat diketahui bahwa nilai standar deviasinya lebih kecil sebesar 0,10267 dibanding nilai rata-ratanya sebesar 0,1118. Hal ini berarti variabel ROA memiliki sebaran yang baik.

Variabel NPM memiliki nilai minimum sebesar -0,04 dan maksimum sebesar 0,68. Nilai standar deviasi sebesar 0,11945 dan nilai rata-rata sebesar 0,1623. Diketahui bahwa nilai standar deviasinya lebih kecil daripada nilai rata-rata berarti variabel NPM memiliki sebaran yang baik.

Variabel ROE memiliki nilai minimum sebesar -0,06 dan nilai maksimum sebesar 0,43. Nilai rata-rata sebesar 0,1474 dan nilai standar deviasi sebesar 0,07774, diketahui bahwa nilai standar deviasinya lebih besar dari nilai rata-rata berarti hal ini bahwa variabel ROE memiliki seberaran yang tdak bagus.

Variabel Suku Bunga SBI memiliki nilai minimum sebesar 0,03 dan nilai maksimum sebesar 0,08. Nilai standar deviasinya 0,02301 dan nilai rata-ratanya sebesar 0,0572. Dapat dilihat bahwa nilai standar deviasinya memiliki nilai lebih kecil dibanding nilai rata-ratanya berarti variabel suku bunga memiliki sebaran yang bagus.

Variabel DPR memiliki nilai minimum sebesar 0,00 dan nilai maksimum sebesar 1,57. Nilai rata-rata variabel DPR sebesar 0,5504 dan standar deviasi sebesar 0,30811. Diketahui bahwa nilai standar deviasi lebih kecil dibanding nilai rata-ratanya, hal ini berarti DPR memiliki sebaran yang bagus.

68

2. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier berganda terhadap variabel independen dan variabel dependen. Adapun dalam penelitian ini variabel independen yang digunakan adalah Return on Asset (ROA), Net Profit Margin (NPM), Return on Equity

(ROE), Suku Bunga SBI, dan Deviden Payout Ratio (DPR) sedangkan

variabel dependennya ialah return saham syariah.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel dependen dan independen atau keduannya mempunyai

distribusi normal atau tidak. Peneliti menggunakan

Kolmogorov-smirnov untuk melakukan Uji normalitas dengan nilai yang pasti. Adapun uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut:

Tabel 4.3 Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 100

Normal Parametersa,b Mean ,0000000

Std. Deviation ,21261225

Most Extreme Differences

Absolute ,054

Positive ,037

Negative -,054

Kolmogorov-Smirnov Z ,539

Asymp. Sig. (2-tailed) ,934

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Sumber: data sekunder diolah

Berdasarkan tabel 4.4 diatas diketahui bahwa daa berdistribusi normal. Karena nilai Kolmogorov-smirnov sebesar 0,539 dan sebesar

0,934 lebih besar 0,05. Hal ini menunjukkan data residualnya terdistribusi normal, karena nilai signifikansi lebih dari 0,05.

b. Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Jika variabel independen saling berkorelasi, maka varriabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol (Ghozali, 2013). Berikut merupakan hasil uji multikolonieritas terlihat pada tabel 4.5

Tabel 4.4

Hasil Uji Multikolonieritas

Coefficientsa

Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF 1 (Constant) ROA ,722 1,384 NPM ,828 1,208 ROE ,717 1,395 SUKUBUNGA SBI ,938 1,066 DPR ,919 1,089

a. Dependent Variable: RETURN

Sumber: data sekunder diolah

Berdasarkan tabel 4.6 diatas dapat diketahui bahwa hasil uji multikolonieritas menunjukkan nilai tolerance mendekati angka 1 dan VIF disekitar 1 untuk setiap variabel. Hasil perhitungan toleransi menunjukkan tidak ada variabel independen yang memiliki nilai toleransi kurang dari 0,1 yang berarti tidak ada kolerasi antar variabel independen yang nilainya lebih dari 90%. Hasil VIF menunjukkan tidak ada variabel independen yang meminiliki nilai VIF lebih dari 10.

70

Berdasarkan hasil uji multikolonieritas tersebut, dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen salam model persamaan regresi tidak terdapat masalah multikolonieritas, maka dapat digunakan dalam penelitian ini.

c. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi ini bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumya). Pengujian ini muncul karena residual tidak bebas dari satu observasi ke observasi lain. Model regresi yang baik adalah model regresi yang bebas dari autokorelasi, maka dapat ditentukan cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dapat menggunakan Uji Run test dengan kriteria jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih dari 0,05 maka tidak terjadi autokorelasi. Berikut ini tabel yang menunjukkan hasil uji autokorelasi: Tabel 4.5 Uji Autokorelasi Runs Test Unstandardized Residual Test Valuea ,01679

Cases < Test Value 50

Cases >= Test Value 50

Total Cases 100

Number of Runs 52

Z ,201

Asymp. Sig. (2-tailed) ,841

a. Median

Sumber: data sekunder diolah

Dari tabel 4.6 diatas menunjukkan nilai nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,841 lebih dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada gejala atau masalah autokorelasi.

d. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitasbertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homokedastisitas dan jika berbeda disebut Heterokedastisitas (Ghozali, 2013). Pada penelitian ini peneliti menggunakan uji White sebagai bahan untuk mengetahui ada atau tidaknya masalah heteroskedastisitas pada penelitian ini. Hasil uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut:

Tabel 4.6 Uji Heteroskedastisitas

Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 ,188a ,035 -,016 ,06147

a. Predictors: (Constant), X5, X4, X3, X2, X1

Sumber: data sekunder diolah

Dari tabel 4.7 diatas dapat diketahui bahwa nilai R Square sebesar 0,035, nilai chi squarehitung N x R Square = 100 x 0,035 = 3,5. Degree of Freedom k-1 = 5-1 = 4, nilai chi square tabel sebesar

9,49. Dari perhitungan diatas maka dapat disimpulkan bahwa nilai chi

square hitung sebesar 3,5 dan chi square tabel sebesar 9,49, maka diketahu bahwa nilai Chi Square hitung lebih kecil dari nilai chi square tabel berarti dalam penelitian ini tidak terjadi heteroskedastisitas.

72

3. Hasil Analisis Regresi Berganda

Metode analisis data yang diterapkan pada penelitian ini menggunakan analisis linier berganda, data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan SPSS. Adapun hasil yang diperoleh dari analisis regresi berganda pengaruh ROA, ROE, NPM, suku

bunga SBI dan DPR terhadap Return Saham di Jakarta Islamic Index (JII)

dan FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index (FBMHI) adalah sebagai

berikut:

Tabel 4.7 Hasil Uji Regresi

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) ,073 ,090 ,806 ,422 ROA ,035 ,251 ,016 ,141 ,888 NPM ,113 ,202 ,058 ,558 ,578 ROE ,772 ,333 ,259 2,318 ,023 SUKUBUNGA SBI -,651 ,984 -,065 -,661 ,510 DPR -,212 ,074 -,282 -2,859 ,005

a. Dependent Variable: RETURN

Sumber: Data sekunder diolah

Dari tabel 4.8 diatas dapat diumuskan persamaan regresi linier berganda sebegai berikut:

Return Saham = 0,073+ 0,035 ROA + 0,113 NPM + 0,772ROE –

0,651Suku Bunga SBI -0,212 DPR + e

Dari tabel 4.8 diatas dapat diketahui bahwa nilai konstan sebesar 0,073 menyatakan bahwa ketika variabel ROA, ROE, NPM, Suku Bunga

SBI, dan DPR konstan atau tidak ada atau sebesar 0, maka variabel return

Nilai ROA sebesar 0,035 berarti jika ROA mengalami peningkatan 1 satuan sedangkan NPM, ROE, Suku Bunga SBI dan DPR konstan atau tidak ada atau sebesar 0, maka return saham syariah akan mengalami kenaikan sebesar 0,035. Dapat dilihat pada tabel di atas hasil pengujian variabel ROA menunjukkan nilai sig sebesar 0,888 karena nilai signifikansi lebih besar dari signifikansi 0,05 (0,888 > 0,05) maka variabel

ROA dinyatakan tidak berpengaruh terhadap return saham syariah di

Jakarta Islamic Index (JII) dan FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index FBMHI).

Nilai NPM sebesar 0,113 berarti jika NPM mengalami peningkatan 1 satuan sedangkan ROA, ROE, Suku bunga SBI, dan DPR konstan atau

tidak ada atau sebesar 0,maka variabel return saham syariah mengalami

kenaikan sebesar 0,113. Dapat dilihat pada tabel di atas hasil pengujian variabel NPM menunjukkan nilai sig sebesar 0,578 karena nilai signifikansi lebih besar dari signifikansi 0,05 (0,578> 0,05) maka variabel NPM dinyatakan tidak berpengaruh terhadap return saham syariah di Jakarta Islamic Index (JII) dan FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index FBMHI).

Nilai ROE sebesar 0,772 berarti jika ROE mengalami peningkatan 1 satuan sedangkan ROA, NPM, Suku Bunga SBI, dan DPR konstan atau tidak ada atau sebesar 0, maka variabel return saham syariah mengalami kenaikan sebesar 0,772. Dapat dilihat pada tabel di atas hasil pengujian variabel ROE menunjukkan nilai sig sebesar 0,023 karena nilai

74

signifikansi lebih besar dari signifikansi 0,05 (0,023> 0,05) maka variabel ROE dinyatakan berpengaruh terhadap return saham syariah di Jakarta Islamic Index (JII) dan FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index FBMHI).

Nilai Suku Bunga SBI sebesar -0,651berarti jika Suku Bunga SBI mengalami peningkatan 1 satuan sedangkan ROA, NPM, ROE, dan DPR konstan atau tidak ada atau sebesar 0, maka variabel return saham syariah akan mengalami penurunan sebesar 0,651. Dapat dilihat pada tabel di atas hasil pengujian variabel suku bunga SBI menunjukkan nilai sig sebesar 0,510 karena nilai signifikansi lebih besar dari signifikansi 0,05 (0,510> 0,05) maka variabel suku bunga SBI dinyatakan tidak berpengaruh terhadap return saham syariah di Jakarta Islamic Index (JII) dan FTSE

Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index FBMHI).

Variabel DPR sebesar -0,212 berarti jika DPR mengalami peningkatan 1 satuan sedangkan ROA, NPM, ROE,dan Suku Bunga SBI konstan atau tidak ada atau sebesar 0, maka variabel return saham syariah mengalami penurunan sebesar 0,212. Dapat dilihat pada tabel di atas hasil pengujian variabel DPR menunjukkan nilai sig sebesar 0 ,005 karena nilai signifikansi lebih kecil dari signifikansi 0,05 (0,005 > 0,05) maka variabel DPR dinyatakan berpengaruh terhadap return saham syariah di Jakarta Islamic Index (JII) dan FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index

4. Koefisien Determinasi (R2 )

Koefisien determinansi (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinansi adalah antara 0 dan 1. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas). Nilai yang mendekati 1 (satu)

berarti variabel–variabel independen memberikan hampir semua informasi

yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.

Tabel 4.8

Hasil Uji Koefisien Determinasi Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the

Estimate

1 ,400a ,160 ,115 ,21819

a. Predictors: (Constant), DPR, ROE, SUKUBUNGA SBI, NPM, ROA b. Dependent Variable: RETURN

Sumber: Data sekunder diolah

Hasil uji koefisien determinasi pada tabel 4.9 diatas menunjukkan nilai R2 sebesar 0,115 nilai perusahaan dapat dijelaskan variabel ROA, NPM, ROE, Suku Bunga SBI, dan DPR. Sedangkan sisanya sebesar 0,885 dijelaskan oleh faktor lain yang tidak dilakukan dalam penelitian ini.

76

5. Uji statistik F (Uji Simultan)

Uji statistik F digunakan untuk menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen/terikat. Ho yang hendak di uji adalah apakah semua parameter dalam model sama dengan 0, maka apakah semua variabel independen meerupakan penjelas yan signifikan terhadap variabel dependen. HA tidak semua parameter simultan sama dengan nol, artinya semua variabel independen secara simultan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen (Ghozali, 2013). Hasil perhitungan Uji F adalah sebagai berikut:

Tabel 4.9 Hasil Uji F ANOVAa Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression ,851 5 ,170 3,574 ,005b Residual 4,475 94 ,048 Total 5,326 99

a. Dependent Variable: RETURN

b. Predictors: (Constant), DPR, ROE, SUKUBUNGA SBI, NPM, ROA

Sumber: Data sekunder diolah

Berdasarkan perhitungan dengan F test dalam tabel 4.10 diatas diperoleh nilai F hitung sebesar 3,574 dengan nilai signifikansi sebesar 0,005. Karena nilai probabilitas dibawah 0,05 maka dapat dikatan ROA, NPM, ROE, Suku Bunga SBI, dan DPR secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap return saham syariah.

6. Uji Beda t-test

Pengujian hipotesis uji perbedaan ini dengan menggunakan uji beda t-test disajikan dalam tabel 4.11. Hipotesis pertama dalam

penelitian ini menduga bahwa HA terdapat perbedaan signifikan return

saham di Jakarta Islamic Index (JII) danFTSE Bursa Malaysia Hijrah

Shariah Index (FBMHI). Hasil Uji beda dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut ini.

Tabel 4.10 Uji Beda t-test Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of Variances

t-test for Equality of Means

F Sig. T df Sig. (2-tailed) Mean Differenc e RETURN Equal variances assumed ,107 ,744 ,308 98 ,759 ,01496 Equal variances not assumed ,315 77,5 95 ,753 ,01496

Sumber: data sekunder dioleh

Dari tabel 4.12 diatas dapat diketahui nilai F hitung sebesar 0,107 dengan probabilitas sebesar 0,744 karena probabilitas > 0,05 maka dapat

disimpulkan bahwa H0 ditrima atau memiliki variance sama, dengan kata

lain bahwa tidak ada perbedaan return saham syariah di Jakarta Islamic Index (JII) danFTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index (FBMHI).

78

7. Hasil Uji Hipotesis

a. Pengujian Hipotesis 1 : Pengaruh Variabel ROA terhadap Return

Saham Syariah

Hasil koefisien ROA 0,035 dengan nilai signifikansi sebesar 0,888 dimana nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Dengan demikian hipotesis pertama yang menyatakan bahwa ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham syariahtidak dapat diterima atau ditolak.

Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Aryanti, Mawardi & Andesta (2016) tentang pengaruh ROA terhadap return saham syariah yang terdaftar di JII bahwa bahwa ROA memiliki pengaruh yang positif dan tidak signifikan terhadap return saham.

Hal ini disebabkan oleh beberapa hal seperti sampel perusahaan yang memiliki tingkat ROA yang rendah atau perusahaan yang mengalami penurunan ROA dalam berberapa tahun selama periode penelitian. Seharusnya perusahaan memiliki nilai ROA yang tinggi untuk menarik perhatian para pemegang saham untuk berinvestasi (Putri & Sampurno, 2012).

b. Pengujian Hipotesis 2 : Pengaruh Variabel NPM terhadap Return

Saham Syariah

Hasil koefisien NPM 1,114 dengan nilai signifikansi sebesar 0,113dimana nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, dengan demikian hipotesis pertama yang menyatakan bahwa NPM berpengaruh positif

dan signifikan signifikan terhadap return saham syariah tidak dapat diterima atau ditolak.

Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri & Sampurno (2012) tentang NPM terhadap return saham syariah di BEI pada penelitiannya menyatakan bahwa NPM berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap return saham syariah pada BEI.

Hasil di atas NPM memiliki pengaruh positif dan tidak signifikan, berarti semakin tinggi NPM semakin efisien perusahaan mendapat laba dari penjualan. NPM berpengaruh tidak signifikan

terhadap return saham menunjukkan bahwa investor cenderung kurang

memperhatikan NPM sebagai rasio yang dapat dipertimbangkan dalam keputusan investasi, juga investor kurang percaya terhadap

kemampuan perusahaan dalam mengelola efisiensi kinerja

operasionalnya. Secara teori NPM yang tinggi menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi, tetapi investor juga memperhatikan faktor lain seperti hutang dan beban pajak dari perusahaan tersebut apabila hutang dan beban pajak tersebut tinggi maka investor menjadi tidak tertarik terhadap saham perusahaan tersebut (Ginting & Erwad, 2013: 38). Meningkatnya NPM belum

tentu berdampak terhadap meningkatnya return saham yang diperoleh

investor. Tinggi rendahnya NPM tidak terlalu diperhatikan oleh investor karena NPM yang tinggi belum tentu menunjukkan kinerja perusahaan baik dalam menghasilkan laba bersih dari penjualan karena

80

meningkatnya nilai NPM dapat disebabkan adanya presentase ppenurunan penjualan yang lebih besar dibanding dengan presentase kenaikan laba bersih, sehingga tinggi rendahnya NPM tidak terlalu diperhatikan oleh investor saat membeli atau menjual saham (Mahardika & Artini, 2017: 1899). Selain itu, hasil penelitian ini tidak signifikan ialah dapat disebabkan adanya kondisi perekonomian yang tidak stabil, juga karena dalam penelitian ini tidak membedakan antara perusahaan manufaktur atau tidak.

c. Hipotesis 3: Pengaruh variabel ROE terhadap return saham syariah

Hasil koefisien ROE sebesar 0,772 dan nilai signifikansi sebesar 0,023 lebih besar dari alpha 0,05, dengan demikian Hipotesis ketiga yang menyatakan ROE berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham syariah diterima.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Carlo (2014) dan Dewi & Artini(2016), tetapi tidak terjadi ketidakkonsistenan hasil dari apa yang dikemukakan oleh Aryanti, Mawardi & Andesta (2016), Aisah & Mandala (2016) dan Christie (2016) tentang ROE terhadap return saham di BEI yang menyatakan

bahwa ROE tidak berpengaruh terhadap return saham.

Hasil di atas menunjukkan secara parsial menunjukkan pengaruh positif dan signifikan, hal ini menunjukkan bahwa meningkatnya ROE

maka mempengaruhi peningkatan return saham syariah yang diterima

investor. Hal ini disebabkan karena ROE yang tinggi mencerminkan suatu tanda bahwa perusahaan telah mampu manghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan ekuitas yang dimilikinya (carlo, 2014:160).

ROE yang tinggi mencerminkan perusahaan profitable dan akan

memberikan sinyal positif pada investor untuk berinvestasi pada perusahaan. Ketertarikan investor untuk berinvestasi pada perusahaan akan mengakibatkan permintaan saham meningkat pada saat

82

ketersediaan saham tetap, sehingga keuntungan pemegang saham akan tinggi (Riana & Dewi, 2015: 4264).

d. Hipotesis 4: Pengaruh variabel Suku Bunga SBI terhadap return

saham syariah.

Hasil koefisien Suku Bunga SBI sebesar -0,664 dan tingkat signifikansi 0,508, hal ini diketahui bahwa nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, dengan demikian hipotesis yang keempat yang menyatakan bahwa Suku Bunga SBI berpengaruh positif dan signifikan terhadap retrun saham syariah di tolak.

Penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Ginting & Sulasmiyati (2016) tentang Suku Bunga SBI terhadap harga saham yang menyatakan bahwa Suku Bunga SBI berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham.

Peningkatan suku bunga SBI akan menyebabkan investor enggan untuk berinvestasi pada saham sehingga permintaan akan saham berkurang dan meningkatkan penurunan harga saham. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suku bunga SBI berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap return saham syariah, dengan demikian akan banyak saham memberikan sinyal negatif terhadap return saham di JII maupun FBMHI, kondisi ini secara pasti akan mempengaruhi investor untuk mengalihkan investasinya ke obligasi atau deposito. Namun, investor syariah ingin mendapatkan pendapatan yang halal, hasil dari suku bunga SBI merupakan pendapatan yang

tidak halal, sehingga informasi mengenai SBI tidak berpengaruh terhadap investor syariah (Utoyo & Riduwan, 2016: 16).

e. Hipotesis 5: Pengaruh Variabel DPR terhadap Return Saham

Syariah

Nilai koefisien sebesar -2,273 dan tingkat signifikansi sebesar 0,025 lebih kecil dari nilai alpha 0,05, dengan demikian hipotesis kelima yang menyatakan bahwa DPR berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham syariah dapat diterima.

Peneilitian ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh

Sari (2017) tentang DPR terhadap return saham yang terdaftar di BEI

yang menyatakan bahwa DPR berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham.

Nilai negatif yang terdapat pada koefisiennya menunjukkan hubungan yang berlainan arah, artinya nilai DPR Semakin besar deviden yang dibagikan kepada perusahaan maka dapat menurunkan return saham yang diterima investor. Menurut pembayaran deviden yang semakin besar akan mengurangi kemampuan perusahaan untuk investasi sehingga akan menurunkan tingkat pertumbuhan perusahaan selanjutnya akan menurunkan harga saham (Sartono, 2014: 281),

penurunan harga saham akan mengakibatkan return saham menurun.

Menurut Litzenberger dan Ramaswamy (1979) dalam Susanto (2015: 8), hal ini disebabkan karena adanya pajak terhadap keuntungan deviden dan capital gain, para investor lebih menyukai capital gain

84

karena dapat menunda pembayaran pajak. Oleh karena itu investor menyaratkan suatu tingkat keuntungan yang lebih tinggi pada saham yang memberikan devidend yield yang tinggi dan capital gain rendah.

Hal ini sesuai dengan teori para ahli tentang teori perbedaan pajak yang menyatakan bahwa deviden akan menurunkan harga saham, jika tarif pajak investor atas deviden lebih besar dari capital gain, maka invvestor akan berusaha untuk menginvestasikan kembali

pendapatan mereka untuk memaksimumkan after tax return mereka.

f. Hipotesis 6: PerbedaanReturn Saham Syariah di JII dan FBMHI

Nilai signifikansi sebesar 0,499 lebih kecil dari 0,05, maka

hipotesis keenam yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan return

saham syariah di JII dan FBMHI diterima. Penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Shofiyullah (2014) yang menyatakan bahwa Kinerja saham di JII dan FBMHI tidak ada perbedaan.

Dengan demikian, seorang investor akan mendapatkan return

saham yang sama dalam menanamkan modalnya, hal ini disebabkan karena JII dan FBMHI dalam kategori negara yang masih berkembang.

85 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari ROA,

ROE, NPM, Suku bunga SBI, dan DPR terhadap return saham syariah di

Jakarta Islamic index (JII) dan FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index (FBMHI) dan mencari atahu apakah ada perbedaan pengaruh ROA, ROE,

NPM, Suku bunga SBI, dan DPR terhadap return saham syariah di Jakarta

Islamic index (JII) dan FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index

(FBMHI). Berdasarkan hasil analisis dengan IBM SPSS Statistik 21 dapat

di simpulkan bahwa:

1. Secara parsial ROA berpengaruh Positif dan tidak signifikan terhadap

return saham syariah di Jakarta Islamic index (JII) dan FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index (FBMHI).

2. NPM berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap return saham syariah di Jakarta Islamic index (JII) dan FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index (FBMHI).

3. ROE berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham syariah

di Jakarta Islamic index (JII) dan FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index (FBMHI)

4. Suku bunga SBI berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap

Dokumen terkait