BAB II LANDASAN TEORI
C. Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap maslah penelitian, yang kebenaranya masih harus diuji secara empiris. Berdasarkan teori dan hasil penelitian terdahulu, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Pengaruh Return on Asset (ROA) terhadap Return Saham
42
Return on Asset diperoleh dengan laba setelah pajak yang
diartikan sebagi pendapatan bersih sesudah pajak dengan average
total asset. ROA menunjukkan kinerja keuangan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari aktiva yang digunakan dalam operasional perusahaan. Meningkatnya ROA berarti disisi lain juga meningkatkan pendapatan bersih perusahaan berarti nilai penjualan juga akan meningkat. Perusahaan yang kinerja keuangannya meningkat, akan mendorong terjadinya peningkatan laba yang menunjukkan kinerja keuangan dalam kondisi baik (Putri & Sampurno 2012: 4).
Meningkatnya ROA berarti perusahaan dianggap mampu menghasilkan laba yang tinggi dan sebagi dampaknya harga
saham akan naik (Puspitadewi & Rahyuda, 2016:
1434).Peningkatan harga saham akan meningkatkan return saham
yang diterima oleh pemegang saham. Namun ketika ROA memiliki nilai rendah, hal tersebut dapat disebabkan oleh perusahaan yang sedang melakukan restrukturisasi keuangan untuk meningkatkan kinerja perusahaan atau investasi yang berdampak pada kelangsungan kinerja perusahaan secara jangka panjang. Apabila investor mengetahui hal tersebut maka permintaan saham perusahaan akan meningkat yang berakibat pada peningkatan return saham.
Penjelasan ini didukung penelitian yangg dilakukan oleh Aryanti, Mawardi dan Andesta (2016),Puspitadewi & Rahyuda (2016),Danti, Dikdik, & Nurdin (2017) yang menyatakan bahwa
variabel ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap return
saham.
H1 = ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham syariah di Jakarta Islamic Index (JII) dan FTSE Bursa
Malaysia Hijrah Shariah Index (FBMHI)
2. Pengaruh Net Profit Margin (NPM) terhadap Return Saham
Syariah
Net Profit Margin merupakan rasio anatar laba bersih setelah pajak terdapa penjualan. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan bersihnya terhadap total penjualan yang dicapai oleh perusahaan. Jadi kinerja keuangan yang menghasilkan laba bersih atas penjualan semakin meningkat maka hal ini akan berdampak pada meningkatnya pendapatan yang diterima oleh para pemegang sagam (Aryanti, Mawardi, & Andesta, 2016: 58).
Semakin besar NPM maka kinerja perusahaan akan semakin produktif sehingga akan meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan. Rasio ini menunjukkan presentase laba bersih yang diperoleh dari setiap
44
penjualan. Semakin besar NPM maka dianggap semakin besar kemampuan perusahaan dalam mendapat laba yang tinggi.
Penelitian ini diperkuat penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ajeng & Suwitho (2016), Christie (2016),dan Astiti, Sinarwati, &Darmawan(2014) menyatakan bahwa NPM berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham.
H2= NPM berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham syariah di Jakarta Islamic Index (JII) dan FTSE Bursa
Malaysia Hijrah Shariah Index (FBMHI)
3. Pengaruh Return on Equity (ROE) Return Saham Syariah
Return on Equity (ROE) menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan di dalam memperoleh jumlah besarnya laba. Return on Equity adalah rasio yang memperlihatkan sejauh mana perusahaan mengelola modal sendiri secara efektif, mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan oleh pemilik modal sendiri dan pemegang saham perusahaan. Semakin besar resiko pasar ini maka perusahaan akan memiliki kemampuan memperoleh laba yang semakin baik (Mussalamah& Muzakar, 2015: 190).
Semakin tinggi nilai ROE, berarti kinerja perusahaan dalam pencapaian laba semakin baik. Hal tersebut akan direspon oleh investor dengan permintaan saham perusahaan yangg mengalami peningkatan sehingga akan berpengaruh terhadap harga saham
perusahaan yang meningkat pula. Selain itu, tingginya ROE akan menyebabkan pembagian deviden dapat dilakukan perusahaan.
Kondisi ini akan membuat return saham juga meningkat.
Penelitian mngenai di dukung dengan penelitian
sebelumnya seperti Carlo (2014) dan Dewi & Artini (2016) yang menyatakan bahwa ROE berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham.
` H3= ROE berpengaruh positif dan signifikan terhadap return
saham syariah di Jakarta Islamic Index (JII) dan FTSE Bursa
Malaysia Hijrah Shariah Index (FBMHI)
4. Pengaruh Suku Bunga SBI terhadap Return saham Syariah
Suku bunga adalah biaya pinjaman atau harga yang dibayarkan untuk dana pinjaman tersebut dinyatakan dalam presentase. Suku bunga SBI adalah instrumen suku bunga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia untuk mengontrol peredaran uang masyarakat. Suku bunga SBI merupakan cerminan kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia pada tingkat suku bunga serta diumumkan kepada publik (Dewi & Artini, 2016: 2486).
Suku bunga yang tinggi akan mendorong investor untuk menanamkan dananya di bank daripada menginvestasikannya pada sektor industri atau produksi yang memiliki tingkat risiko lebih besar (Purnomo & Widyawati, 2013: 4). Perubahan tingkat
46
suku bunga akan mempengaruhi tingkat suku bunga kredit dan tingkat suku bunga deposito di masyarakat sehingga investor akan menarik investasinya pada saham dan mengalihkannya dalam bentuk tabungan atau deposito. Harga saham di pasar akan turun karena berkurangnya permintaan akan harga saham tersebut.
Penelitian ini di perkuat oleh penelitian terdahulu Purnomo & Widyawati (2013),Sudarsono & Sudiyatno (2013) yang menyatakan bahwa Suku bunga SBI berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham.
H4= Suku bunga SBI berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham syariah di Jakarta Islamic Index (JII) dan FTSE
Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index (FBMHI).
5. Pengaruh Deviden Payout Ratio (DPR) terhadap Return
Saham Syariah
Devidend Payout Ratio adalah presentase laba yang dibagikan dalam bentuk deviden tunai, artinya besar kecilnya deviden payout ratio akan mempengaruhi keputusan investasi para pemegang saham dan sisi lain yang berpengaruh pada
kondisi keuangan perusahaan. Pertimbangan tentang deviden
payout ratio di duga sangat berkaitan dengan kinerja keuangan. Jika kinerja keuangan bagus, maka perusahaan akan mampu
menetapkan besarnya devidend payout ratio sesuai dengan
kepentingan perusahaan untuk tetap eksis dan berkembang (Savitri & Oetomo, 2016: 2).
Terdapat beberapa teori mengenai kebijakan deviden yang dikemukakan oleh para ahli, namun peneliti menggunakan teori teori perbedaan pajak yang menyatakan bahwa kebijakan deviden mempunyai pengaruh negatif terhadap harga pasar saham perusahaan, artinya akan semakin besar jumlah deviden yang dibagikan oleh perusahaan. Hal ini terjadi jika ada perbedaan antara tarif pajak personal atas pendapatan deviden dap capital gain. Apabila tarif pajak deviden lebih tinggi daripada pajak capital gain maka investor akan lebih tertarik jika laba yang diperoleh perusahaan tetap ditahan diperusahaan. Dengan demikian dimasa yang akan datang diharapkan terjadi capital gain yang tarif pajaknya lebih rendah. Apabila terdapat investor yang memiliki pandangan demikian, maka investor akan cenderung memilih saham-saham dengan deviden kecil dengan tujuan menghindari pajak.
Penelitian ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Sari (2017) yang menyatakan bahwa DPR memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham.
H4= DPR berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return
saham syariah di Jakarta Islamic Index (JII) dan FTSE Bursa
48
6. Perbedaan Return Saham Syariah di Jakarta Islamic Index
(JII) dan FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index
(FBMHI).
Kondisi return saham syariah antara FTSE Bursa Malaysia
Hijrah Index Shariah (FBMHI) dan JII pada tahun 2012-2013 terdapat perbedaan. FTSE Bursa Malaysia Hijrah Index Shariah
(FBMHI) menunjukkan kinerja yang positif jika dibandingkan
dengan Jakarta Islamic Index (JII) yang mengalami kinerja negatif (www.icmspecialist.com).
Penelitian mengenai perbedaan return saham syariah di JII dan FBMHI ini diperkuat dengan penelitian sebelumnya oleh Shofiyullah (2014) tentang kinersa saham di JII dan FBMHI, pada penelitian ini menunjukkaan bahwa tidak ada perbedaan kinerja saham di JII dan FBMHI. Penelitian lain juga dilakukan oleh
Vakhira (2015) tentang perbandingan antara return saham
konvensional dan shariah di Indonesia dan Malaysia, penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan diantara keduannya.