BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
Setelah dilakukan penelitian terhadap setiap data yang diperoleh, maka didapat hasil sebagai berikut :
a. Data Penelitian
Dalam Penelitian ini, perhitungan setiap variable-variabel penelitian diselesaikan dengan analisis statistik parametrik yang pertama sekali nilainya dihitung dengan program Microsoft Excel untuk periode 2005-2009 terhadap 10 perusahaan sebagai objek analisis penelitian.
Data kuantitatif yang disajikan untuk perhitungan dan nilai masing-masing variabel diperoleh dari laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit dan dipublikasikan serta berlaba positif. Adapun alasan Penulis menggunakan perusahaan makanan dan minuman yang berlaba positif adalah karena penelitian ini bertujuan untuk menilai umpan balik (feed-back) yang bisa diberikan oleh perusahaan terhadap aset-aset yang ditanamkan, modal yang diinvestasikan oleh para investor/ pemegang saham maupun pinjaman yang diberikan oleh para kreditor. Sementara apabila perusahaan itu berlaba negatif, kemungkinan tidak bisa memberikan umpan balik yang diharapkan.
Nilai Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), dan Nilai Tambah Ekonomis dalam penelitian ini diperoleh dari dari pengolahan data laporan
keuangan pada tahun 2005-2009. Setelah melakukan perhitungan nilai dari masing-masing variabel, maka akan dilakukan analisis statistik.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik yang menggunakan korelasi Product Moment. Metode ini digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel yang berskala interval (parametrik) atau dalam SPSS disebut dengan scale.
Adapun analisis data ini dimulai dengan mengolah data dengan menggunakan Microsoft Excel, selanjutnya dilakukan pengujian statistik dan pengujian hipotesis dengan uji t. Pengujian dilakukan dengan menggunakan
software SPSS versi 17. Prosedurnya yaitu dengan terlebih dahulu memasukkan
variabel-variabel penelitian yang merupakan hasil perhitungan Microsoft Excel ke program SPSS tersebut dan akan menghasilkan output-output sesuai metode analisis data yang telah ditentukan.
1. Data Return on Assets(ROA)
Return on Assets (ROA) merupakan rasio yang dipergunakan untuk
mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan penggunaan keseluruhan aktiva yang dimiliki perusahaan. Return on Assets (ROA) dapat diperoleh dengan membagi laba bersih setelah bunga dan pajak dengan total aktiva. Pada tahun 2005 dapat dilihat bahwa Aqua Golden Missisipi Tbk memiliki laba bersih sebesar Rp. 64.349.873.753, sementara total aktiva Rp. 732.354.162.144. Dari data ini, maka ROA dapat dihitung :
ROA= x 100%
=8,79%
Maka nilai ROA dari PT. Aqua Golden Missisipi Tbk pada tahun 2005 adalah 9%. Begitu juga perlakuan yang sama dalam menentukan ROA untuk semua perusahaan dari tahun 2005-2009. Di bawah ini adalah hasil perhitungan dari ROA
Tabel 4.1
Data Return on Assets (ROA)
NO
Kode Perusahaaan
RETURN ON ASSETS (ROA) (%)
2005 2006 2007 2008 2009 Rata-rata 1 AQUA 8,79 6,14 7,39 8,21 8,36 7,78 2 AISA 0,01 0,04 3,06 2,82 2,81 8,74 3 DLTA 10,49 7,50 7,99 11,99 16,64 10,92 4 FAST 10,93 14,25 16,29 15,96 17,48 14,98 5 INDF 0,84 4,10 3,32 2,61 5,04 3,18 6 MYOR 3,13 6,02 3,32 6,71 11,46 6,13 7 MLBI 15,12 12,05 13,57 23,61 34,27 19,72 8 STTP 2,23 3,09 3,01 0,77 7,49 3,32 9 SMART 6,62 11,82 12,26 10,44 7,33 9,69 10 ULTJ 0,36 1,18 2,22 17,67 3,53 4,99
Pada table 4.1 dapat dilihat bahwa setiap tahun, perusahaan menghasilkan ROA yang berubah-ubah. Pada tahun 2005, PT. Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI), memiliki ROA yang paling tinggi yaitu sebesar 15,12%, sedangkan ROA yang terendah diperoleh oleh perusahaan PT. Tiga Pilar Sejahtera (AISA), dengan nilai sebesar 0,01%. Pada tahun 2006, ROA tertinggi diraih oleh PT.Fast Food (FAST) 14,25%, namun posisi terendah tetap dialami oleh PT.Tiga Pilar Sejahtera (AISA) 0,04%. Tahun 2007, ROA tertinggi tetap diraih oleh PT. Fast Food (16,29%), terendah oleh PT.Ultrajaya Milk Industry (ULTJ) yaitu sebesar 1,18%. Tahun 2008, ROA tertinggi diperoleh oleh PT. Multi bintang (23,61%), dan terendah oleh PT. Siantar Top Tbk ( 0,77%). Demikian juga tahun 2009, ROA tertinggi masih tetap diraih PT. Multi Bintang (34,27%), sementara terendah diraih oleh PT. Tiga Pilar Sejahtera.
Dari hasil perhitungan ROA untuk setiap perusahaan makanan dan minuman di atas selama jangka waktu penelitian yaitu 5 tahun, dapat dilihat, bahwa perolehan nilai ROA rata-rata yang paling tinggi diperoleh oleh PT. Multi Bintang Indonesia Tbk, dengan rata-rata ROA sebesar 19,72%, sementara rata-rata terendah diperoleh oleh PT. Indofood Tbk (INDF) yaitu sebesar 3,18%.
Berdasarkan pengamatan di atas, maka dapat dilihat bahwa nilai ROA perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI, setiap tahunnya mengalami fluktuasi dan ini menandakan bahwa pertumbuhan ROA pada perusahaan tersebut tidak stabil serta menunjukkan bahwa keuntungan atau laba bersih yang diperoleh perusahaan tersebut berfluktuasi juga.
2. Return on Equity (ROE)
Return on Equity (ROE) merupakan rasio yang mengukur kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba yang tersedia bagi pemegang saham dengan menggunakan tingkat ekuitas yang dimiliki. ROE dapat diperoleh dengan membagi laba bersih setelah bunga dan pajak dengan modal sendiri. Rasio ini dipergunakan oleh investor untuk mengetahui sejauh mana tingkat profitabilitas suatu perusahaan. Semakin besar nilai ROE, maka semakin tinggi pula kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Return on Equity (ROE) dapat diperoleh dengan membagi laba bersih setelah bunga dan pajak dengan total aktiva. Pada tahun 2005 dapat dilihat bahwa Aqua Golden Missisipi Tbk memiliki laba bersih sebesar Rp. 64.349.873.753, sementara total aktiva Rp. 405.323.830.253
Dari data ini, maka ROE dapat dihitung :
ROE = x100%
ROE= x 100%
= 15,88%
Maka nilai ROE dari PT. Aqua Golden Missisipi Tbk pada tahun 2005 adalah 9%. Begitu juga perlakuan yang sama dalam menentukan ROE untuk semua perusahaan dari tahun 2005-2009. Di bawah ini adalah hasil perhitungan dari ROE
Tabel 4.2
Daftar Return on Equity (ROE)
NO
Kode Perusahaaan
RETURN ON EQUITY (ROE) (%)
2005 2006 2007 2008 2009 Rata-rata 1 AQUA 15,88 10,92 12,99 14,16 14,60 13,17 2 AISA 0,04 0,14 14,21 7,34 8,82 6,11 3 DLTA 13,89 9,88 10,32 16,11 21,43 14,33 4 FAST 18,09 23,92 27,17 25,96 28,48 23,52 5 INDF 2,88 13,41 13,76 12,07 20,03 12,43 6 MYOR 5,11 9,65 13,09 15,76 23,53 13,43 7 MLBI 38,18 37,08 42,68 64,59 323,60 101,23 8 STTP 3,24 4,21 4,35 1,33 10,15 4,66 9 SMART 15,77 24,37 28,03 22,67 15,61 20,49 10 ULTJ 0,56 1,81 3,65 26,75 5,13 7,58
Sumber : Olahan Penulis (2011)
Pada tabel 4.2 dapat dilihat bahwa setiap tahun, perusahaan juga menghasilkan ROE yang berubah-ubah. Pada tahun 2005, PT. Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI), memiliki ROA yang paling tinggi yaitu sebesar 38,18%, sedangkan ROE yang terendah diperoleh oleh perusahaan PT. Tiga Pilar Sejahtera (AISA), dengan nilai sebesar 0,04%. Demikian juga untuk tahun 2006,2007,2008 dan 2009, PT. Multi Bintang Tbk, tetap menduduki sebagai posisi teratas dalam
hal ROE tertinggi. Bahkan dari tahun 2008 ke tahun 2009, peningkatan ROE pada perusahaan ini cukup drastis yaitu dari 64,59 % menjadi 323,60 %. Keadaan ini tentunya diharapkan oleh banyak perusahaan untuk mampu menarik minat para investor agar mau berinvestasi pada perusahaan tersebut. Namun, dalam pengamatan ini, kenaikan ROE yang drastis pada MLBI ini dilihat sebagai kenaikan yang tidak begitu menguntungkan, karena kenaikan ini terjadi bukan karena peningkatan laba perusahaan yang drastis, melainkan karena turunnya jumlah ekuitas pemegang saham dalam perusahaan tersebut. Sementara, untuk ROE terendah, tahun 2006, masih tetap diperoleh oleh PT.Tiga Pilar Sejahtera Tbk (0,14%). Namun tahun 2007, PT.Tiga Pilar Sejahtera mengalami kenaikan ROE yang tinggi juga yaitu menjadi 14,21%. Hal ini merupakan keadaan yang sangat menguntungkan perusahaan karena kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan laba yang drastis dari tahun 2006 ke tahun 2007 yaitu dari Rp.129.865.719 menjadi Rp.15.759.724.560. Tahun 2007, ROE terendah diperoleh oleh PT. Ultrajaya Milk.Tbk (3,65%). Sama seperti PT. Tiga Pilar Sejahtera,PT.Ultrajaya Milk juga mengalami peningkatan nilai ROE yang drastis untuk tahun berikutnya (tahun 2008) yaitu menjadi 26,75%. Hal ini merupakan keadaan yang menguntungkan karena kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan laba yang drastis dari tahun 2007 ke 2008 yaitu Rp.30.316.644.576 menjadi Rp.303.711.501.204. Untuk tahun 2008, ROE terendah diperoleh oleh PT. Siantar Top Tbk yaitu sebesar 1.33% , dan meningkat di tahun 2009 menjadi 10,15% sebagai akibat dari kenaikan laba dari Rp. 4.816.495.973 menjadi Rp. 41.072.367.353. Sementara
tahun 2009 ROE terendah adalah PT. Ultrajaya Milk Tbk dengan rasio sebesar 5,13%.
Dari hasil perhitungan ROE untuk setiap perusahaan makanan dan minuman di atas selama jangka waktu penelitian yaitu 5 tahun, dapat dilihat, bahwa perolehan nilai ROA rata-rata yang paling tinggi diperoleh oleh PT. Multi Bintang Indonesia Tbk, dengan rata-rata ROE sebesar 101,23%, sementara rata-rata terendah diperoleh oleh PT. Indofood Tbk (INDF) yaitu sebesar 4,66%.
Berdasarkan pengamatan di atas, maka dapat dilihat bahwa nilai ROE perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI, setiap tahunnya mengalami fluktuasi dan ini menandakan bahwa pertumbuhan ROE pada perusahaan tersebut tidak stabil serta menunjukkan bahwa keuntungan atau laba bersih yang diperoleh perusahaan tersebut berfluktuasi juga.
3. Data Nilai Tambah Ekonomis
Nilai Tambah Ekonomis adalah nilai tambah ekonomi yang diciptakan perusahaan dari kegiatannya selama periode tertentu, yang dihitung dari selisih antara Net Operating Profit After Tax (NOPAT) atau laba operasi bersih setelah pajak dengan biaya modal. Jika Nilai Tambah Ekonomis positif, berarti perusahan telah mampu menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham (menambah kekayaan) sebaliknya jika Nilai Tambah Ekonomis negatif, berarti perusahaan belum mampu menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham (mengurangi kekayaan), jika nilai Nilai Tambah Ekonomis sama dengan nol,
berarti perusahaan berada pada titik impas dan tidak menciptakan tambahan nilai bagi perusahaan dan pemegang saham.
Pada tahun 2005, dapat dilihat bahwa PT. Aqua Golden Missisipi Tbk, memiliki NOPAT sebesar Rp. 50.752.280.611 (Lampiran i) dan juga memperoleh capital charges sebesar Rp. 64.349.873.753 (Lampiran i). Maka nilai Nilai Tambah Ekonomis pada PT. AQUA Golden Missisipi adalah Rp. -13.597.593.143. Begitu juga perlakuan yang sama dalam menentukan Nilai Tambah Ekonomis untuk semua perusahaan yang menjadi sampel penelitian dari tahun 2005-2009. Di bawah ini adalah hasil perhitungan dari Nilai Tambah Ekonomis perusahaan yang menjadi sampel penelitian yaitu sebanyak 10 perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Tabel 4.3
Data Nilai Tambah Ekonomis N
O Kode
Perusahaa an
NILAI TAMBAH EKONOMIS (Rp)
2005 2006 2007 2008 2009 1 AQUA -13.597.593.1 43 -1.559.705.95 8 -3.575.064.88 2 -15.392.870.926 -4.318.200.000 2 AISA 9.284.175.91 0 5.991.551.69 2 2.518.867.44 2 20.609.771.604 -15.676.228.082 3 DLTA -5.000.820.60 0 -7.107.047.10 0 -4.902.382.70 0 -13.727.209.900 -10.851.373.520
4 FAST -4.464.380.53 5 -6088745048 -8.961.610.61 0 -26.864.144.896 -20.045.431.190 5 INDF 482.528.584. 000 355.807.631. 000 700.482.482. 000 1.349.389.782. 000 578.550.227.20 0 6 MYOR -5.576.410.67 9 680.328.467 14.240.202.4 97 -25.071.459.148 9.026.308.159 7 MLBI 1.757.200.00 0 18.194.600.0 00 8.822.100.00 0 -21.906.800.000 29.178.480.000 8 STTP 3.942.157.49 3 -4.069.722.77 2 3.408.362.67 3 15.602.041.998 -12.484.286.881 9 SMART -40.402.508.6 57 -240.882.308. 634 154.063.069. 084 424.700.648.91 5 7.150.597.972. 394 10 ULTJ 22.280.801.8 02 25.132.764.9 57 -1.721.358.06 2 -268.329.022.13 4 18.341.527.027
Sumber : Olahan Penulis(2011)
Pada table 4.3 dapat dilihat bahwa nilai Nilai Tambah Ekonomis dalam perusahaan makanan dan minuman selama tahun pengamatan (2005-2009) juga mengalami fluktuasi yang tidak teratur, sama halnya dengan nilai ROA dan ROE. Misalnya, pada tahun 2005 dapat dilihat bahwa PT. Indofood Tbk, memperoleh nilai Nilai Tambah Ekonomis tertinggi yaitu sebesar Rp. 482.528.584.000. Daari hasil pengamatan ini dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2005, perusahaan PT.
Indofood mampu menciptakan nilai bagi perusahaannya, karena nilai Nilai Tambah Ekonomis-nya positif dan cukup tinggi dibanding perusahaan makanan dan minuman lainnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara itu, pada tahun yang sama, Nilai Tambah Ekonomis terendah diperoleh oleh PT.Sinar Mas Agro Resourches yaitu sebesar Rp. -40.402.508.657 . Nilai Tambah Ekonomis pada perusahaan ini bernilai negatif menggambarkan perusahaan tidak mampu menciptakan nilai. Keadaan ini masih tetap berlanjut di tahun 2006, dimana PT. Indofood memperoleh Nilai Tambah Ekonomis Rp. 355.807.631.000, dan PT. Sinar Mas Agro Resourches mempunyai Nilai Tambah Ekonomis sebesar Rp. -240.882.308.634. Sementara tahun 2007, Nilai Tambah Ekonomis tertinggi diperoleh oleh PT.Indofood Tbk, dan terendah diperoleh oleh PT.Fast Food yaitu sebesar Rp.-8.961.610.610,- Pada tahun 2008, Nilai Tambah Ekonomis tertinggi diperoleh oleh PT. Indofood Tbk, yaitu sebesar Rp. 1,349,389,782,000, dan terendah diperoleh oleh PT . Ultrajaya Milk Tbk sebesar Rp.-268.329.022.134. Dan tahun 2009, Nilai Tambah Ekonomis tertinggi diperoleh oleh PT. Sinar Mas Agro Resourches Tbk yaitu sebesar Rp. 7.150.597.972.394. Dan terendah diperoleh oleh PT. Fastfood Tbk, yaitu sebesar RP.20.045.431.190. Apabila dihitung nilai rata-rata Nilai Tambah Ekonomis perusahaan makanan dan minuman selama 5 tahun penelitian, maka Nilai Tambah Ekonomis tertinggi diperoleh oleh oleh PT. Sinar Mas Agro Resourches yaitu sebesar Rp.1.489.615.374.620. Padahal, selama tahun penelitian, perusahaan ini mengalami Nilai Tambah Ekonomis negatif. Hal ini terjadi karena pada tahun 2009, perusahaan mengalami peningkatan laba operasi bersih yang drastis yaitu
sebesar Rp. 7,999,348,023,820, sementara tahun sebelumnya laba operasi bersih perusahaan ini hanya sebesar Rp. 1.498.357.747.394. Sementara rata-rata Nilai Tambah Ekonomis terendah diperoleh oleh perusahaan PT. Ultrajaya Milk Tbk yaitu sebesar Rp.-40,859,057,282.
Berdasarkan pengamatan di atas maka rata-rata Nilai Tambah Ekonomis perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indoesia bernilai negatif maka perusahaan belum mampu menciptakan nilai tambah (mengurangi kekayaan) bagi pemegang saham.