A. Deskripsi Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah prestasi belajar pada materi hukum dasar yang meliputi prestasi kognitifdan afektif. Data-data tersebut diambil dari kelas eksperimen 1 (STAD bermedia modul), kelas eksperimen 2 (STAD bermedia power point) dan kelas kontrol (metode konvensional). Jumlah siswa yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah 120 siswa dari kelas X1, X2, dan X3 SMA N1 Ngemplak Boyolali tahun pelajaran 2008/2009. Untuk lebih jelasnya akan disajikan deskripsi data penelitian masing-masing variabel.
1. Prestasi Belajar Siswa Pada Materi Laju Reaksi
Data prestasi belajar siswa pada materi hukum dasar yang meliputi prestasi kognitif, dan afektif untuk kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2 dan kelas kontrol dengan sampel masing-masing sebanyak 40 siswa. Deskripsi data penelitian mengenai prestasi belajar secara ringkas disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Rangkuman Deskripsi Data Penelitian
Nilai Rata-Rata Eksperimen I Esperiment 2 Kontrol Pretes kognitif
Postes kognitif Selisih nilai kognitif Afektif
23,10 54,80 31,70 80,05
25.50 61,50 36,00 81,83
23.80 50,20 26,40 76,73
2. Selisih Nilai Kognitif pada Materi Pokok Laju Reaksi
Perbandingan distribusi mengenai nilai kognitif kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2 dan kelas kontrol pada materi hukum dasar disajikan dalam Tabel 7 dan histogramnya dapat dilihat pada Gambar 5.
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Selisih Nilai Kognitif Materi Pokok Hukum Dasar
No Kelas Interval
Nilai Tengah
Eksp.
I % Eksp.
II % Kon %
1 12.0 18.0 15.0 4 10.00% 2 5.00% 9 22.50%
2 18.1 24.1 21.1 6 15.00% 3 7.50% 12 30.00%
3 24.2 30.2 27.2 8 20.00% 6 15.00% 7 17.50%
4 30.3 36.3 33.3 10 25.00% 13 32.50% 5 12.50%
5 36.4 42.4 39.4 6 15.00% 6 15.00% 4 10.00%
6 42.5 48.5 45.5 3 7.50% 5 12.50% 3 7.50%
7 48.6 54.6 51.6 2 5.00% 3 7.50% 0 0.00%
8 54.7 60.7 57.7 1 2.50% 2 5.00% 0 0.00%
Jumlah 40 100.00% 40 100.00% 40 100.00%
Gambar 5. Histogram Prestasi Belajar Kognitif Kelas Eksperimen 1, Eksperimen 2, dan Kontrol
3. Nilai Afektif Materi Pokok Laju Reaksi
Perbandingan distribusi mengenai nilai afektif kelas eksperimen, kelas eksperimen 2 dan kelas kontrol pada materi hukum dasar disajikan dalam Tabel 8 dan histogramnya dapat dilihat pada Gambar 6.
Tabel 8. Distribusi Frekuensi Nilai Afektif Materi Pokok Hukum Dasar
No Kelas Interval
Nilai
Tengah Eksp % Kon % Kon %
1 69.0 71.5 70.3 2 5.00% 1 2.50% 4 10.00%
2 71.6 74.1 72.9 4 10.00% 2 5.00% 7 17.50%
3 74.2 76.7 75.5 3 7.50% 1 2.50% 9 22.50%
4 76.8 79.3 78.1 9 22.50% 10 25.00% 12 30.00%
5 79.4 81.9 80.7 7 17.50% 3 7.50% 4 10.00%
6 82.0 84.5 83.3 7 17.50% 11 27.50% 1 2.50%
7 84.6 87.1 85.9 6 15.00% 6 15.00% 0 0.00%
8 87.2 89.7 88.5 2 5.00% 6 15.00% 3 7.50%
Jumlah 40 100.00% 40 100.00% 40 100.00%
Gambar 6. Histogram Prestasi Belajar Afektif Kelas Eksperimen 1, Eksperimen 2, dan Kontrol
B. Hasil Penelitian dan Prasarat Analisis 1. Uji Normalitas
Tujuan dari uji normalitas untuk menyelidiki apakah sampel penelitian ini berasal dari populasi normal atau tidak. Salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan analisis variansi adalah distribusi populasinya harus normal. Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Liliefors.
Hasil uji normalitas selisih nilai kognitif, dan nilai afektif tercantum dalam lampiran. Hasil uji normalitas telah terangkum dalam Tabel 9-10.
Tabel 9. Ringkasan Hasil Uji Normalitas Selisih Nilai Kognitif Harga L
Kelompok
Siswa Hitung Tabel
Kesimpulan Distribusi
Eksperimen 1 0,1383 0,1401 Normal
Eksperimen 2 0,1040 0,1401 Normal
Kontrol 0,1401 0,1401 Normal
Tabel 10. Ringkasan Hasil Uji Normalitas Nilai Afektif
Kelompok Harga L Kesimpulan
Siswa Hitung Tabel Distribusi
Eksperimen 1 0,0551 0,1401 Normal
Eksperimen 2 0,0826 0,1401 Normal
Kontrol 0,1176 0,1401 Normal
Tampak dari tabel-tabel tersebut bahwa harga Lhitung < Ltabel, sehingga dapat dikatakan bahwa sampel-sampel pada penelitian ini berdistribusi normal.
2. Uji T-Matching
Uji t-matching digunakan untuk menguji apakah ada perbedaan rata-rata nilai pretest dari ketiga kelompok. Pada hasil uji t-matching kelas eksperiment I dan kelas eksperiment 2, didapatkan t hitung = 1,4918 dan t tabel = 1,98. Jadi, rata-rata nilai pretest siswa kelas eksperimen 1 sama dengan rata-rata nilai pretest siswa kelas eksperimen 2.
Pada uji matching kelas eksperimet I dan kontrol didapatkan data t-hitung = 0,5029 sedangkan t-tabel = 1,98. Jadi, rata-rata nilai pretest siswa kelas eksperimen 1 sama dengan rata-rata nilai pretest siswa kelas kontrol.
Pada uji matching kelas eksperiment II dan kontrol didpatkan data t-hitung = 1,2012, sedangkan t-tabel = 1,98. Jadi, rata-rata nilai pretest siswa kelas eksperimen 2 sama dengan rata-rata nilai pretest siswa kelas kontrol. Dari ketiga uji- t matching di atas, dapat disimpukan bahwa ketiga kelas memiliki rata-rata nilai pretest yang sama.
C. Pengujian Hipotesis
1. Uji Hipotesis untuk Selisih Nilai Kognitif
Hasil uji t-pihak kanan untuk selisih nilai kognitif siswa kelas eksperiment I dan kelas eksperiment 2 memiliki t-hitung = - 1,8361 sedangkan t-tabel 1,67, sehingga rata-rata nilai kognitif kelas eksperiment I lebih rendah daripada kelas eksperiment 2. Untuk uji t-pihak kanan untuk selisih nilai kognitif siswa kelas eksperiment I dan kelas control memilki t-hitung = 2,3633 yang hasilnya lebih besar dari t tabel, sehingga rata-rata nilai kognitif kelas eksperiment I lebih tinggi
daripada kelas control. Sedangkan untuk uji t-pihak kanan untuk selisih nilai kognitif siswa kelas eksperiment 2 dan kelas control memilki t-hitung = 4,1909 yang hasilnya lebih besar dari t tabel, sehingga rata-rata nilai kognitif kelas eksperiment 2 lebih tinggi daripada kelas kontrol.
2. Uji Hipotesis untuk Nilai Afektif
Hasil uji t-pihak kanan untuk selisih nilai afektif siswa kelas eksperiment I dan kelas eksperiment 2 memiliki hitung = - 1,7497 sedangkan t-tabel 1,67, sehingga rata-rata nilai afektif kelas eksperiment I lebih rendah daripada kelas eksperiment 2. Untuk uji t-pihak kanan untuk selisih nilai afektif siswa kelas eksperiment I dan kelas control memilki t-hitung = 3,2262 yang hasilnya lebih besar dari t tabel, sehingga rata-rata nilai afektif kelas eksperiment I lebih tinggi daripada kelas control. Sedangkan untuk uji t-pihak kanan untuk selisih nilai afektif siswa kelas eksperiment 2 dan kelas control memilki t-hitung = 5,0513 yang hasilnya lebih besar dari t tabel, sehingga rata-rata nilai afektif kelas eksperiment 2 lebih tinggi daripada kelas control.
C. Pembahasan 1. Penilaian Kognitif
Pada penelitian ini menggunakan 2 kelas eksperiment dan 1 kelas kontrol. Pada kelas eksperiment dilakukan dengan metode STAD, dimana pada awal pembelajaran di bentuk 10 kelompok masing-masing terdiri dari 4 anak.
Untuk penelitian ini terdiri dari 5 bagian materi masing-masing diakhiri dengan soal-soal yang harus dikerjakan secara kelompok dan quis individual.
Yang membedakan kelas eksperiment 1 dan kelas eksperiment 2 adalah penggunaan media pembelajaran. Pada kelas eksperiment 1, anak-anak menggunakan media modul. Pada pembelajaran menggunakan media modul ini, siswa melakukan pembelajaran di ruang komputer. Pada awal pelajaran guru menjelaskan secara garis besar materi yang nanti akan disampaikan pada media ini dan cara penggunaan media ini. Pada media modul disajikan materi lengkap yang dilengkapi hirarki konsep dan disertai soal-soal yang mengukur ketuntasan
siswa pada akhir bab ataupun pada akhir materi. Tiap kelompok dapat menghadap 1 komputer ataupun 2 komputer untuk memudahkan mereka berdiskusi. Banyak siswa yang merasa kebingungan dan menemukan berbagai permasalahan dengan penggunaan metode dan media ini, namun kebingungan mereka didiskusikan hingga mereka dapat menyelesaikannya. Anak-anak selain mendiskusikan materi juga mendiskusikan soal-soal dalam modul itu yang nantinya akan digunakan sebagai nilai kelompok. Anak-anak juga merasa senang dengan penggunaan media modul elektronik yang belum pernah digunakan dalam pembelajaran mereka selama ini. Guru disini sebatas mengawasi anak-anak dalam proses diskusi karena tidak menutup kemungkinan terdapat anak yang tidak mengikuti diskusi tetapi bermain komputer dengan membuka program lain ataupun jika terdapat kesalahan pada komputer. Pada kelas eksperiment 1 ini terlihat anak-anak tertarik pada media yang digunakan, mereka saling berdiskusi tentang isi modul, baik dalam kelompok maupun antar kelompok. Hal itu terlihat pada pengerjaan tes secara kelompok. Anak-anak juga merasa senang disaat mereka tuntas dalam suatu materi sehingga mendapatkan kode untuk masuk ke materi selanjutnya.
Antusias anak-anak dalam mengikuti pembelajaran juga sangat besar, hal itu terlihat pada keaktifan siswa pada saat pembahasan soal posttest. Untuk proses pembelajaran pada kelompok eksperiment ini membutuhkan waktu yang sedikit lama dibanding kelompok eksperiment 2 atau kontrol, hal ini dikarenakan waktu yang dibutuhkan siswa untuk tuntas suatu materi berbeda-beda. Pada akhir pelajaran diadakan postest untuk mengetahui skor kemajuan siswa. Yang nantinya nilai kemajuan tiap siswa dihitung dan dirata-rata dengan nilai teman satu kelompok untuk menentukan tim atau kelompok terbaik. Pada penghargaan pertama yang mendapatkan penghargaan tim super adalah kelompok I dan V sedangkan untuk tim yang mendapat predikat tim sangat baik adalah kelompok III,VII dan IX, sisanya mendapat tim baik. Pada penghargaan kedua tidak ada yang mendapat predikat tim super dan sangat baik, yang mendapat tim baik adalah kelompok I, III, IV, VI, VII dan IX, sisanya mendapat penghargaan cukup baik.
Pada penghargaan ketiga yang mendapat tim super adalah kelompok I, III dan IX, sedangkan yang mendapat predikat tim sangat baik adalah kelompok IV, V, VI
dan X, sisanya tim baik. Pada penghargaan keempat yang mendapat penghargaan tim super adalah kelompok 1V dan yang mendapat tim sangat baik adalah kelompok II, VII dan IX, sedangkan yang mendapat tim baik adalah kelompok I, VIII dan X. Dan sisanya adalah tim cukup baik. Pada penghargaan terakhir yang mendapat tim super adalah kelompok III dan X, sedangkan yang mendapat penghargaan tim sangat baik adalah X dan VI sedangkan yang mendapat tim baik adalah I, II dan IV, sisanya adalah tim cukup baik. Dari hasil tersebut dapat kita lihat bahwa dengan adanya pemberian penghargaan maka siswa termotivasi untuk mendapatkan nilai yang lebih baik dan terjadi persaingan antar kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif STAD yang dilengkapi media modul secara umum memiliki kelebihan:
1. siswa mendapatkan media modul dengan materi yang lebih terperinci serta terdapat hierarki konsep untuk menyelesaikan soal stokiometri
2. siswa dapat mengulang materi sesuai kemampuannya 3. siswa dapat menghadap pada 1 komputer
4. siswa mendapat latihan soal pada akhir materi dan sebagai syarat untuk melanjutkan ke materi yang lain
Pada kelas eksperiment 2 secara garis besar memiliki urutan pelaksanaan yang sama, tetapi pada kelas eksperiment 2 yang dilengkapi dengan media power point diberikan materi secara ringkas dan penjelasannya dilakukan oleh guru.
Siswa disini mendengarkan dan mencatat penjelasan dari guru serta melihat tampilan dari power point. Hal ini dapat meminimumkan adanya salah konsep pada siswa. Dengan pemberian materi melalui power point siswa menjadi lebih antusias dalam menerima materi, hal itu terlihat dari beberapa pertanyaan yang dikemukakan siswa, terutama pada pemecahan contoh soal stokiometri dan konsep hukum dasar. Setelah materi diberikan, anak-anak menyelesaikan soal dalam kelompok. Disini terjadi diskusi untuk menyelesaikan soal-soal tersebut.
Terlihat saling debat karena beda pendapat antar anggota kelompok. Tiap anggota berusaha mempertahankan argumennya. Selama diskusi berlangsung terlihat keaktifan siswa dalam berdiskusi, dan terlihat pula siswa yang sudah paham
pengerjaannya memberitahu siswa yang kurang paham. Pada kelas ini, keaktifan siswa sangat terlihat dari pada kelas eksperiment 2. Siswa pada kelas ini, lebih sering bertanya terutama pada penyelesaian soal dan pembahasan soal. Pada akhir pelajaran diberikan post test untuk mengetahui nilai individul siswa yang akhirnya dihitung skor kemajuan mereka. Dari skor kemajuan dan nilai kelompok dirata-rata untuk menentukan penghargaan tim. Pada penghargaan pertama yang mendapat tim super adalah kelompok I, II, V dan VII sedangkan yang mendapatkan nilai tim sangat baik adalah kelompok III, VI, VII dan X, sisanya tim baik. Pada penghargaan kedua yang mendapat tim super adalah III dan yang mendapat tim sangat baik adalah kelompok IX, VII, II dan I, sisanya mendapat penghargaan cukup baik. Pada penghargaan ketiga yang mendapat tim super adalah II dan VII, sedangkan mendapat tim sangat baik adalah kelompok X dan III, sisanya merupakan tim baik. Pada penghargaan keempat tidak ada yang mendapat penghargaan tim super, dan yang mendapatkan penghargaan tim sangat baik kelompok X dan VII sedangkan yang mendapatkan penghargaan tim baik adalah kelompok IX dan sisanya kelompok cukup baik. Pada penghargaan kelima yang mendapat predikat tim super adalah kelompok I dan V, sedangkan yang mendapat predikat tim sangat baik adalah kelompok IX, VI dan VII, sisanya kelompok cukup baik. Penggunaan metode STAD dan media pada kelas eksperiment dapat meningkatkan motivasi siswa sehingga menunjang kemampuan kognitif siswa.
Di dalam STAD diperlukan hubungan kerjasama yang baik dan ketrampilan siswa dalam kelompok sehingga dapat meningkatkan hasil belajar.
Pada pembelajaran STAD ini siswa menyelesaikan persoalan-persoalan melalui diskusi kelompok. Guru bertindak jika dalam kelompok terjadi kesalahan dalam mengidentifikasi kesalahan. Jadi, dalam hal ini pendidik bertindak sebagai fasilitator dan mediator dalam proses belajar mengajar. Pendidik cukup menciptakan suasana kondusif dalam proses belajar mengajar.
Penguasaan materi seperti yang diterapkan pada metode STAD ini, akan membuat siswa lebih mudah mengingatnya, sementara itu bagi siswa yang
membantu teman dalam kelompoknya juga secara tidak langsung memperdalam pengetahuannya. Suasana belajar menjadi sangat menyenangkan dan siswa tidak merasa jenuh.
Salah satu komponen dalam STAD adalah penilaian dan pengakuan tim yang didasarkan pada criteria tertentu. Suatu tim dikatakan tim super jika mereka memiliki nilai rata-rata kemajuan tertentu sesuai kriteria. Tim-tim tersebut akan mendapatkan penghargaan berupa sertifikat. Adanya hal seperti ini biasanya akan memotivasi siswa dalam belajar untuk mendapatkan nilai yang lebih baik.
Selama pembelajaran terjadi bermacam-macam interaksi antara lain, interaksi antar anggota kelompok, interaksi antar kelompok dan interaksi kelompok dengan guru. Dalam interaksi antar anggota kelompok terjadi diskusi dalam menyelesaikan suatu masalah. Siswa yang mampu dapat membantu teman kelompoknya yang kurang paham. Selama diskusi berlangsung juga terjadi interaksi antara guru dengan anggota kelompok, dimana guru bertindak mengawasi jalannya diskusi serta memberi pengarahan.
Pada kelas kontrol diajarkan sistem pembelajaran dengan metode ceramah.
Dimana siswa hanya mendengarkan dan mencatat penjelasan dari guru. Dalam hal ini kemampuan siswa disamaratakan dan tidak diperhatikan, sehingga materi yang diajarkan juga belum tentu sesuai dengan kemampuan masing-masing individu melainkan diberi secara seragam terhadap seluruh anggota kelas. Hal ini menyebabkan potensi dalam diri siswa cenderung bersifat pasif dan inisiatif.
Permasalahan lain yang ditimbulkan adalah siswa kurang yang mampu menyerap materi akan tertekan apabila materi yang diberikan terlalu cepat. Dan juga sebaliknya siswa yang pandai akan merasa bosan jika terdapat materi yang diulang-ulang. Disini guru sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dikelas mendominasi pelajaran.
Dari data pada tabel 7 dan gambar 5 didapatkan data prestasi belajar aspek kognitif pada pembelajaran kimia dengan metode STAD dilengkapi power point lebih baik dari pada STAD dilengkapi modul.
2. Penilaian Afektif
Aspek afektif merupakan tujuan yang berhubungan dengan sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral siswa terhadap sesuatau. Metode yang digunakan untuk mengukur hasil afektif pada penelitian ini adalah dengan menggunakan angket. Namun dalam hal ini diperlukan kejujuran dalam mengungkap karakteristik afektif diri sendiri.
Pada kelas ekperiment siswa tertarik dengan penggunaan media yang belum pernah diterapkan dalam pembelajaran mereka selama ini. Selain itu siswa juga mendapatkan motivasi eksternal dengn adanya penghargaan yang diberikan guru pada tim terbaik. Sehingga siswa lebih berantusias dalam mengikuti pelajaran, hal itu terlihat dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh siswa. Pada kelas eksperiment juga dituntut kerjasama kelompok dalam memecahkan permasalahan, serta adanya persaingan antar tim atau kelompok dalam mendapatkan predikat kelompok super. Adanya pemberian penghargaan dapat memicu motivasi eksternal dari siswa. Dan siswa berusaha mempertahankan nilai tersebut. Pada kelas ekperiment 1, siswa dituntut untuk belajar mandiri dengan menggunakan modul. Sedangkan pada kelas eksperiment 2, siswa masih mendapat bimbingan dari guru. Hal inilah yang menyebabkan siswa kelas eksperiment 1 masih merasa kesulitan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran dengan metode STAD yang dilengkapi media mampu memberikan suasana yang berbeda dalam proses pembelajaran sehingga siswa lebih mudah menangkap isi materi. Sedangkan pada kelas kontrol, siswa lebih banyak membutuhkan guru untuk mendapatkan konsep baru, sehingga siswa menjadi kurang aktif, kurang tanggung jawab, dan kurang percaya pada diri mereka sendiri.
Berdasarkan data pada tabel 8 dan gambar 6 dapat dilihat kelas eksperiment 2 lebih baik daripada ekperiment 1. Dan nilai afektif kelas eksperiment lebih baik dari pada kelas control.
BAB V