• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

1

A. Latar Belakang

Dalam kegiatan belajar mengajar dan untuk mengatasi kesulitan- kesulitan yang dialami siswa, maka diharapkan para guru kimia dapat memberikan motivasi dan mengajarkan materi kimia dengan lebih menarik dan bersahabat, membuat suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga anggapan yang keliru selama ini bahwa kimia merupakan mata pelajaran sulit bagi siswa SMA akan hilang dari mereka. Untuk menyajikan materi kimia menjadi lebih menarik, guru harus memiliki kemampuan dalam mengembangkan metode mengajarnya dan pemanfaatan media pembelajaran sedemikian rupa, sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat dicapai dengan baik. Metode mengajar yang baik adalah metode yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan, kondisi siswa, sarana dan prasarana yang tersedia serta tujuan pengajarannya.

Metode mengajar adalah cara menyajikan materi pelajaran guna mencapai tujuan belajar. Metode merupakan cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung kelancaran proses belajar dan tercapainya hasil belajar yang memuaskan. Untuk mencapai hal tersebut guru harus dapat memilih dan mengembangkan metode belajar yang tepat, efisien, serta efektif sesuai dengan materi yang diajarkan.

Perlu dilakukan reformasi metode pembelajaran dan mengingat pentingnya interaksi yang kooperatif, maka penerapan strategi pembelajaran kooperatif dalam pendidikan menjadi sangat penting. Menurut pandangan teori motivasi, struktur tujuan kooperatif adalah menciptakan suatu situasi sedemikian rupa sehingga keberhasilan salah satu anggota kelompok diakibatkan oleh keberhasilan kelompok itu sendiri. Oleh sebab itu, untuk menciptakan tujuan dari salah satu anggota, maka salah seorang anggota harus membantu kelompoknya dengan melakukan apa saja yang dapat membantu kelompok itu berhasil (Slavin, 1995:5).

(2)

Metode STAD merupakan metode alternatif yang baik untuk diterapkan pada siswa SMA. Penekanan pada metode ini adalah dengan ” Mengajar sedikit dan lebih banyak mempelajari”. Pelajaran bukan hanya bertindak sebagai sisi umpan balik siswa tetapi juga mendorong regu bekerja dan berprestasi (CHIJ St.

Joseph Convent. 2007: 1-12). STAD selain mempercepat hasil belajar juga mempunyai efek positif non akademik antara lain motivasi, suka bersekolah, dan bekerjasama dalam kelompok. Kebanyakan guru berhadapan dengan kelas yang heterogen, dan itu membuat guru kewalahan untuk melayani kebutuhan semua siswa dalam kelas. Pendekatan STAD dengan bekerjasama mengambil keuntungan dari heterogenitas dan memiliki harapan siswa dapat belajar antara satu dengan yang lain (Dion G Norman. 2005: 102-113)

Pada penggunaan metode pembelajaran STAD dapat dilengkapi dengan pemanfaatan media elektronik berupa modul dan power point. Pemanfaatan media elektronik ini juga dapat mengatasi kebosanan siswa yang mendapatkan materi pelajaran kimia melalui metode ceramah saja. Modul kimia merupakan paket belajar mandiri yang dirancang dan direncanakan secara sistematis yang meliputi serangkaian pengalaman belajar guna membantu siswa untuk mencapai tujuan belajar kimia. Modul kimia dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran disekolah, baik waktu, maupun tenaga untuk mencapai tujuan yang optimal. Microsoft powerpoint merupakan program aplikasi untuk presentasi yang paling populer dan paling banyak digunakan saat ini. Dalam penggunaaan program ini guru dapat mengemas materi dengan menarik. Porsi atau peranan guru dalam penggunaan media ini lebih banyak dibanding dengan penggunaan modul.

Stoikiometri merupakan perhitungan kimia yang didasarkan pada hukum-hukum dasar kimia. Materi Hukum Dasar dan Stoikiometri merupakan materi yang menjadi momok bagi para siswa. Mereka seringkali kesukaran dalam mengaplikasikan rumusan perhitungan kimia, seringkali siswa merasa bosan dalam mengikuti pelajaran. Berdasarkan pengamatan di kelas, khususnya kelas X dan dari wawancara dengan guru kimia di sekolah tersebut dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan yang terjadi di Sekolah Menengah Atas (SMA)

(3)

Negeri I Ngemplak Boyolali. Permasalahan-permasalahan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Guru masih menggunakan metode konvensional dalam menyampaikan materi pelajaran kimia, khususnya pada sub materi pembelajaran hukum dasar dan stokiometri, yaitu dengan metode ceramah.

2. Kurangnya pemanfaatan media pembelajaran elektronik di ruang multi media yang telah tersedia di sekolah tersebut, khususnya untuk mata pelajaran kimia.

3. Kondisi siswa yang kurang aktif dalam mengikuti pelajaran kimia.

4. Banyak siswa yang masih sulit memahami materi pembelajaran stokiometri, sehingga berakibat rendahnya prestasi belajar kimia pada materi pembelajaran tersebut.

Untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut di atas, diperlukan suatu tindakan pada materi pembelajaran yang bersangkutan, yaitu pemanfaatan media pembelajaran, strategi, pendekatan, metode atau cara untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Kondisi siswa yang terdapat di SMAN I Ngemplak Boyolali adalah siswa yang kurang aktif, khususnya dalam mengikuti mata pelajaran kimia. Salah satu cara yang tepat untuk mengajak siswa agar lebih aktif adalah dengan siswa menerapkan pengetahuannya, belajar memecahkan masalah, mendiskusikan masalah dengan teman-temannya, mempunyai keberanian menyampaikan ide atau gagasan, dan mempunyai tangung jawab terhadap tugasnya.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka peneliti terdorong untuk mencoba mengatasi permasalahan tersebut dengan melakukan penelitian berjudul:” Studi Komparasi Penggunaan Metode STAD Dilengkapi dengan Modul Dan Ms.Powerpoint Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Materi Hukum Dasar Kelas X SMAN I Ngemplak Boyolali Tahun Ajaran 2008/2009”

B. Identifikasi Masalah

Dari uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:

(4)

1. Apakah metode pembelajaran kooperatif STAD dilengkapi media Ms PowerPoint sesuai dengan materi Hukum Dasar?

2. Apakah metode pembelajaran kooperatif STAD dilengkapi media modul sesuai dengan materi Hukum Dasar?

3. Apakah metode pembelajaran kooperatif STAD dilengkapi media Ms PowerPoint dapat meningkatkan pemahaman dan prestasi belajar siswa pada materi Hukum Dasar?

4. Apakah metode pembelajaran kooperatif STAD dilengkapi media modul dapat meningkatkan pemahaman dan prestasi belajar siswa pada materi Hukum Dasar?

5. Apakah pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif STAD dilengkapi media modul dapat memberikan prestasi belajar lebih baik daripada pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif STAD dilengkapi media komputer Ms PowerPoint pada materi Hukum Dasar?

C. Pembatasan Masalah

Supaya penelitian ini lebih terfokus dan terarah, maka perlu diadakan pembatasan masalah. Berdasarkan pada latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka masalah dalam penelitian ini dibatasi pada:

1. Subyek penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X SMA Negeri I Ngemplak Boyolali semester I tahun pelajaran 2008/2009.

2. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran yang digunakan dalam penelitian adalah metode pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Divisions) dilengkapi media modul dan komputer program Ms PowerPoint berbantuan LCD. Penggunaan media komputer program Ms PowerPoint dihubungkan dengan proyektor LCD dan disampaikan secara klasikal.

3. Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Hukum Dasar dan Perhitungan Kimia pada sub materi pembelajaran Stokiometri.

(5)

4. Penilaian

Sistem penilaian yang digunakan dalam metode pembelajaran ini meliputi aspek kognitif dan aspek afektif.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas, maka masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

” Apakah pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif STAD dilengkapi media komputer Ms PowerPoint dapat memberikan prestasi belajar lebih baik daripada pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif STAD dilengkapi media modul pada materi Hukum Dasar Kelas X SMAN I Ngemplak Boyolali Tahun Ajaran 2008/2009?”

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan, maka penelitian ini bertujuan:

” Untuk mengetahui pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif STAD dilengkapi media komputer Ms PowerPoint dapat memberikan prestasi belajar lebih baik daripada pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif STAD dilengkapi media modul pada materi Hukum Dasar Kelas X SMAN I Ngemplak Boyolali Tahun Ajaran 2008/2009?” .

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Informasi mengenai penggunaan metode pembelajaran kooperatif STAD dilengkapi media modul dan komputer program Ms PowerPoint berbantuan LCD pada sub materi pembelajan hukum dasar.

b. Dapat membantu siswa dalam memahami materi kimia khususnya pada sub materi pembelajaran Hukum Dasar.

(6)

2. Manfaat Praktis

a. Sebagai masukan bagi sekolah dalam mengembangkan metode pembelajaran kooperatif STAD dilengkapi media modul dan komputer program Ms PowerPoint berbantuan LCD untuk kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran eksak yang lain.

b. Sumbangan bagi guru dalam membantu meningkatkan kualitas pendidikan melalui pemilihan metode pembelajaran dalam proses pembelajaran khususnya mata pelajaran Kimia di SMA Negeri I Ngemplak Boyolali.

(7)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Belajar

a. Pengertian Belajar

Manusia adalah makhluk yang mengusahakan sendiri apa yang dipelajarinya, bukan makhluk yang telah diprogramkan sejak lahir. Untuk itu manusia dilengkapi Tuhan dengan akal, sehingga dengan adanya akal dia bisa mengembangkan potensi yang dimilikinya. Belajar merupakan bentuk kegiatan yang dapat mengembangkan potensi tersebut. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang belajar. UNESCO mengemukakan bahwa pendidikan harus diletakkan pada empat pilar, yaitu: belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be) (E. Mulyasa, 2003: 17).

Secara umum belajar dapat diartikan sebagai usaha untuk mencari ilmu pengetahuan guna menguasai ketrampilan tertentu. Belajar pada hakikatnya adalah suatu aktivitas yang mengharapkan perubahan tingkah laku pada individu yang belajar (Depdiknas, 2003: 6). Belajar selalu melibatkan tiga hal pokok yaitu adanya perubahan tingkah laku, sifat perubahannya relatif permanen, dan perubahan tersebut disebabkan oleh interaksi dengan lingkungan(Gino, dkk, 1998:

6).

Banyak definisi belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli, dengan pemikiran dari berbagai sudut pandang berbeda. Jika ditinjau dari uraian di atas, belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara siswa dengan sumber-sumber belajar atau objek belajar, baik yang sengaja dirancang maupun yang tidak secara sengaja dirancang namun dapat dimanfaatkan. Perolehan belajar, disamping penguasaan materi pembelajaran itu sendiri, dapat juga berupa kemampuan-kemampuan lain. Seorang siswa dapat belajar bagaimana caranya belajar dari pengalaman belajar yang dialami.

(8)

Pengalaman belajar adalah interaksi antara subjek belajar dengan objek belajar, misalnya siswa mengerjakan tugas, melakukan pemecahan masalah, mengamati suatu gejala, percobaan dan lain-lain. Aktivitas belajar sangat berkaitan dengan fungsi otak. Perkembangan dan cara fungsi otak dipengaruhi oleh hasil interaksi dengan objek belajar atau lingkungan (Sardiman AM.1990:43).

Dalam belajar ada tiga unsur yang perlu diamati dan dipelajari. Pertama, unsur pengalaman kita sebut dengan stimulus eksternal (lingkungan atau sumber- sumber belajar). Kedua, unsur-unsur internal yang berada pada tataran kognitif seperti berfikir untuk mencapai pemahaman. Ketiga, unsur pemahaman sebagai hasil dari proses belajar yang pada gilirannya akan mengubah penampakan dari luar. Penampakan perilaku ini dapat berupa sikap atau ketrampilan atau skill tertentu. Unsur-unsur belajar tersebut dapat ditunjukkan dalam Gambar 1 sebagai berikut:

Stimulus Proses-Proses Kognitif, Afektif, Eksternal Kognitif Psikomotorik Gambar 1. Unsur-Unsur Belajar (Ratna Wilis Dahar, 1989: 17-21)

Prinsip-prinsip belajar sangat penting untuk diperhatikan oleh seorang siswa agar dapat berhasil dalam belajarnya. Beberapa prinsip belajar di antaranya adalah sebagai berikut:

1) Belajar perlu memiliki pengalaman dasar.

2) Belajar harus memiliki tujuan yang searah.

3) Belajar memerlukan situasi yang problematis, yang akan membangkitkan motivasi belajar.

4) Belajar harus memiliki tekad dan kemampuan yang keras dan tidak mudah putus asa.

5) Belajar memerlukan bimbingan, arahan, serta dorongan.

6) Belajar memerlukan latihan.

7) Belajar memerlukan metode yang tepat.

8) Belajar membutuhkan waktu dan tempat yang tepat.

(9)

Seorang guru dapat merencanakan dan mendesain sebuah model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan disesuaikan dengan karakter siswa yang diajar apabila telah dengan cermat memahami pengertian belajar dan prinsip-prinsip belajar.

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar seorang siswa dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Bagan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan hasil belajar (Ngalim Purwanto, 1997 : 87)

Pada Gambar 2 di atas menunjukkan bahwa siswa merupakan bahan mentah yang perlu diolah dalam suatu kegiatan belajar (Raw Input), dalam hal ini pengalaman belajar diperoleh melalui proses belajar mengajar (Teaching Learning Process). Dalam proses belajar mengajar itu turut berpengaruh pula sejumlah faktor lingkungan (Environmental Input) dan sejumlah faktor yang sengaja dirancang dan dimanipulasi (Instrumental Input) guna menunjang tercapainya keluaran yang dikehendaki (Output). Berbagai faktor tersebut berinteraksi satu sama lain dalam menghasilkan keluaran tertentu.

b. Teori Belajar Kognitif

Dalam kurikulum 2004 khususnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pembelajaran kimia menggunakan pendekatan ketrampilan proses yaitu pendekatan pada proses pembelajaran yang menekankan pada pembentukan ketrampilan memperoleh pengetahuan dan mampu

Environmental Input

Raw Input Output

Instrumental Input Teaching Learning Process

(10)

mengkomunikasikan hasilnya. Proses pembelajaran kimia di SMA lebih menitikberatkan pada pembentukan pengetahuan dan ketrampilan yang sukar diamati. Penekanan tersebut dapat diwujudkan apabila pada proses pembelajarannya menerapkan teori pembelajaran kognitif. Teori pembelajaran kognitif menjelaskan tentang pembelajaran yang berpusat pada proses-proses mental siswa yang kurang dapat diamati (Ratna Wilis Dahar, 1989: 18).

Menurut pandangan psikologi kognitif, belajar merupakan hasil interaksi antara apa yang diketahui, informasi yang diketahui, dan apa yang dilakukan ketika belajar. Ahli psikologi kognitif beranggapan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran siswa. Salah satu tokoh yang mengembangkan teori belajar ini adalah Piaget.

Menurut J. Bruner, belajar tidak akan berjalan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Kegiatan pemahaman konsep memiliki dua komponen yaitu pembentukan konsep dan pemahaman konsep. Dan konsep yang terbentuk akan mengalami perkembangan terus-menerus. Car belajar yang baik adalah memahami konsep, arti, dan hubungan melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai pada suatu kesimpulan.

Menurut J. Piaget, perkembangan kognitif merupakan proses genetik, yaitu proses yang didasarkan pada mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Semakin bertambah umurnya, maka kemampuan seseorang akan semakin meningkat. Piaget tidak melihat perkembangan kognitif sebagai suatu yang dapat didefinisiskan secara kuantitatif. Ia menyimpulkan bahwa daya pikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatf. Anak diatas 11 tahun berada pada tahap formal operation dimana anak tidak lagi terbatas pada objek-objek yang konkret namun mereka dapat memandang kemungkinan-kemungkinan yang ada melalui pemikirannya, dapat mengorganisasikan situasi atau masalah, dan dapat berfikir dengan betul(dapat berfikir logis, mengerti hubungan sebab-akibat, memecahkan masalah atau berfikir secara alamiah.

(11)

Terdapat 4 macam belajar menurut Ausubel dan Robinson yaitu meaningful learning, rote reception, meaningful discovery, rote discovery.

Langkah pertama dalam belajar adalah proses menerima dan menemukan (reception dan discovery) dan selanjutnya adalah usaha mengingat atau menguasai apa yang dipelajari agar kemudian dat digunakan. Jika seseorang berusaha menguasai informasi baru itu dengan menghubungkan dengan apa yang diketahui, terjadilah belajar bermakna. Jika seseorang hanya berusaha mengingat informasi baru itu, terjadilah menghafal(rote learbing). Sehingga belajar merupakan asimilasi yang bermakna bagi siswa. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam bentuk belajar kognitif. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya untuk mengorganisasikan isi atau materi pelajaran serta penataan kondisi pembelajaran agar dapat memudahkan proses asimilasi pengetahuan baru kedalam struktur kognitif orang yang belajar.

Menurut pandanagn psikologi kognitif, belajar merupakan hasil interaksi antara apa yang diketahui, informasi yang diketahui dan apa yang dilakukan ketika belajar. Ahli psikologi kognitif beranggapan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran siswa. Teori-teori ini dikembangkan oleh Vygostsky dan Piaget. Menurut Vygotsky bahwa belajar tidak sama dengan perkembangan, tetapi belajar terkait dengan perkembangan, yakni belajar dapat menyebabkan proses perkembangan intelektual. Piaget berpendapat bahwa ” belajar mengandung makna sebagai perubahan struktural yang saling melengkapi antara asimilasi dan akomodasi dalam proses menyusun kembali dan mengubah apa yang telah diketahui melalui belajar”(Nana Sudjana.1996:15).

Belajar dapat didefinisiskan sebagai suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dan interaksi dengan lingkungan. Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali baik sifat maupun jenisnya karena itu sudah tentu tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar. Namun yang dikatakan perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar adalah yang terjadi secara sadar,

(12)

bersifat kontinu dan fungsional, bersifat positif dan aktif, bertujuan dan terarah, dan mencakup seluruh aspek tingkah laku.

2. Konstruktivisme

Konstruktivisme adalah suatu pandangan yang didasarkan premis bahwa semua orang mengkonstruksi prespektifnya sendiri tentang dunia lewat pengalaman individual dan skema. Setiap orang akan menggenerasi “aturan” dan

“model mentalnya” sendiri yang digunakan untuk memberi arti pada pengalamannya. Konstruktivisme menekankan, menitikberatkan pada mempersiapkan siswa untuk memecahkan masalah dalam situasi yang ambigu.

Dengan pola pendekatan ini para siswa diajak secara aktif mempelajari konsep- konsep dan prinsip-prinsip baru yang diperkenalkan kepada mereka. Intinya konstruktivisme merupakan teori tentang bagaimana siswa mengkonstruksi pengetahuan dari pengalaman. Pembentukan pengetahuan menurut model konstruktivisme terjadi akibat subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Prose penyesuaian ini terjadi terus menerus melalui proses rekonstruksi. Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah dalam proses pembelajaran siswalah yang harus mendapatkan penekanan. Penekanan belajar siswa secar aktif perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kongnitif siswa.

Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkret dilaboratorium, diskusi dengan teman sejawat, yang kemudian dikotemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karena aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pembelajar. Proses pembelajaran yang terjadi menurut pandangan konstruktivisme menekankan pada kualitas dari keaktifan

(13)

siswa dalam menginterpretasikan dan membangun pengetahuannya. Setiap organisme menyususn pengalamannya dengan jalan menciptakan struktur mental dan menerapkannya dalam pembelajaran. Suatu proses aktif dimana individu berinteraksi dengan lingkungannya dan mentransformasikan kedalam pikirannya dengan bantuan struktur kognitif yang telah ada didalam pikirannya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan pembelajaran kostruktifitis, yaitu:

a. Mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam konteks yang relevan

b. Mengutamakan proses

c. Menanamkan pembelajaran dalam konteks pengalaman sosial

d. Pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman dan dalam perkembangan intelektual ada tiga hal yang menjadi perhatian yaitu struktur, isis, dan fingsi

Tahapan pembelajaran pola pendekatan konstruktivisme:

a. Menyegarkan struktur kognitif siswa agar dapat berkembang dengan konsep-konsep dan prinsip baru yang akan diterima dalam proses pembelajaran

b. Memperkenalkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip baru yang akan diterima dalam proses pembelajaran.

c. Siswa diberi situasi masalah yang terkait dengan konsep-konsep dann prinsip yang baru dipelajari.

d. Tahap ekspansi yaitu para siswa diminta untuk belajar sendiri berbagai aplikasi dan perluasan berbagai konsep dan prinsip yang telah dipelajari.

Konsekuensi dari konstruktivisme:

a. Semuanya terfokus pada pebelajar dalam berfikir tentang belajar(bukan hanya materi yang diajarkan)

b. Pengajar yang menerapkan konstrutivisme bertindak sebagai fasilitator proses akuisisi pengetahuan dan ketrampilan, sebagai pembimbing atau nara sumber yang bertujuan untuk menyusun lingkungan belajar,

(14)

sehingga dapat membantu siswa dalam mencapai pemahaman mereka sendiri tentang informasi yang diberikan, sehingga guru dituntut memiliki keprofesionalan yang tinggi.

3. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah kegiatan belajar mengajar dalam kelompok-kelompok kecil, siswa belajar dan bekerjasama untuk sampai pada pengalaman belajar yang optimal, baik pengalaman individu maupun kelompok (Arends, 1997: 111). Dalam pembelajaran kooperatif para peserta didik dikelompokkan secara arif dan proporsional. Pengelompokan peserta didik dalam suatu kelompok dapat didasarkan pada: fasilitas yang tersedia, perbedaan individu dalam minat belajar dan kemampuan belajar, jenis pekerjaan yang diberikan, wilayah tempat tinggal peserta didik, jenis kelamin, dan berdasarkan lotre atau random. Dalam pembagian kelompok ini, kelompok dibagi secara heterogen baik dari segi kemampuan belajar maupun jenis kelamin agar terjadi dinamika kegiatan belajar yang lebih baik dari kelompok, sehingga tidak terkesan ada kelompok yang kuat dan ada kelompok yang lemah (Mulyani Sumantri, 2001: 127-128).

Bekerja sama berarti melakukan sesuatu bersama saling membantu dan bekerja sebagai tim (kelompok). Jadi, pembelajaran kooperatif berarti belajar bersama, saling membantu pembelajaran agar setiap anggota baik. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa dikelompokkan secara variatif (beraneka ragam) berdasarkan prestasi siswa mereka sebelumnya, kesukaan/kebiasaan, dan jenis kelamin (Slavin: 1995: 3). Selanjutnya Slavin (1995: 3) menjelaskan belajar kooperatif mempunyai kelebihan yang tidak ditemukan dalam kegiatan individual seperti interaksi sosial, pertanggungjawaban individu dan kerja sama dengan kelompok. Dalam kegiatan belajar individual cenderung mementingkan pribadi dan tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya. Menurut Devies (1982: 31) kegiatan belajar individual maupun belajar bersama dalam kelompok harus didukung oleh inisiatif dari masing-masing pribadi karena kegiatan belajar menyangkut apa yang harus dikerjakan oleh mereka.

(15)

Menurut Piaget, pengetahuan datang dari tindakan dan perkembangan kognitif sebagian besar bergantung pada seberapa jauh siswa aktif berinteraksi dengan lingkungan, dalam arti pengetahuan itu merupakan sebuah proses. Dalam perkembangannya, teori pengembangan Piaget adalah model konstruktivisme.

Konstruksi pengetahuan dari pengalaman dan proses ini khas bagi setiap individu.

Landasan filosofi konstruktivisme menurut Depdiknas (2002: 2) adalah filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, tetapi siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dalam diri mereka sendiri.

Pengetahuan dibangun dalam pikiran (dikonstruksi) dari hasil interpretasi atau suatu gejala, sehingga pengetahuan sangatlah dipengaruhi oleh pola pikir orang tersebut (E. Mulyasa, 2003: 238). Siswa harus dibiasakan untuk memecahkan masalah (problem solving) dan menemukan (inquiry) sesuatu yang berguna bagi dirinya.

Dalam model pembelajaran konstruktivisme, strategi pokok yang diperlukan adalah pembelajaran bermakna (meaningful learning). Agar suatu informasi pengetahuan dapat dipahami, maka harus bermakna secara potensial.

Dalam meaningful learning, setiap unsur materi ajar harus diolah dan diinterpresentasikan sedemikian rupa sehingga masuk akal (make senses) dan bermakna (meaningful) bagi siswa. Dengan pendekatan pembelajaran ini, pengetahuan dapat diterima dan tersimpan lebih baik karena masuk otak melalui proses masuk akal.

Dalam teori konstruktivisme peserta didik harus menemukan sendiri dan memecahkan informasi baru dengan aturan lama dan merevisinya apabila aturan- aturan itu tidak sesuai lagi. Sesuai dengan disiplin ilmu kimia dimana dalam hal ini perkembangan dalam dunia kimia sangat dinamis maka kondisi seperti ini mutlak diperlukan. Pandangan konstruktivisme menyatakan bahwa peserta didik diberi kesempatan agar menggunakan suatu strategi sendiri dalam belajar secara sendiri dan pendidikan dalam hal ini membimbing peserta didik ke tingkat pengetahuan yang mengarah lebih tinggi. Oleh karena itu, agar peserta didik benar-benar memahami mereka harus bekerja keras untuk memecahkan masalah dan kesulitan yang ada dengan ide-ide dan kemampuannya.

(16)

Ide pokok pada teori konstruktivisme adalah peserta didik secara aktif membagi pengetahuan mereka sendiri. Pendekatan dalam pembelajaran konstruktivisme dapat menggunakan pembelajaran secara kooperatif ekstensif.

Menurut teori ini peserta didik akan lebih mudah menanamkan dan mengerti akan konsep-konsep yang sulit jika mereka dapat membicarakan dan mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Peserta didik secara rutin bekerja dalam kelompok yang terdiri sekitar 4 orang untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah dalam hal ini penekanannya pada aspek sosial dalam pembelajaran dan penggunaan kelompok yang sederajat untuk menghasilkan pemikiran. Pada sistem pengajaran ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan temannya dalam tugas-tugas terstruktur dan inilah yang disebut pengajaran gotong royong atau cooperative learning (Slavin, 1995: 2).

Strategi tersebut di atas juga memerlukan tukar pikiran, diskusi, dan perdebatan dalam kerangka mencapai pemahaman yang sama atas materi pelajaran. Oleh karena pembelajaran model konstruktivisme, akan terjadi pembelajaran yang melibatkan negosiasi dan interpretasi. Kondisi penyesuaian pikiran ini dilakukan siswa dengan guru, antara sesama siswa atau antara siswa dengan lingkungan belajarnya. Oleh sebab itu, dalam konstruktivisme ini diperlukan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) agar pembelajaran ideal (E. Mulyasa, 2003: 239). Dengan demikian tercipta hubungan kerjasama antara guru dengan siswa yang dapat tercipta jika guru mampu memfasilitasi siswa.

Lima prinsip metode belajar kooperatif yang dikembangkan dan terus dilakukan serta diperbaiki antara lain:

a. STAD (Student Teams Achievement Division);

b. TGT (Teams Games Tournament);

c. Jigsaw;

d. CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition);

e. TAI (Team Assisted Individualization).

(17)

Selain itu ada juga metode belajar lain masih juga dikembangkan dan dipelajari yaitu:

a. Group Investigation;

b. Learning Together;

c. Complex Instruction;

d. Structural Dyadic Methods (Slavin, 1995: 9-10).

Menurut Slavin (1995: 2), metode kooperatif mempunyai kelebihan- kelebihan dibandingkan metode lain, yaitu:

a. Meningkatkan kemampuan siswa;

b. Meningkatkan rasa percaya diri;

c. Menumbuhkan keinginan untuk menggunakan keahlian dan pengetahuan;

d. Memperbaiki hubungan antarkelompok.

Disamping itu ada juga kelemahannya, yaitu:

a. Memerlukan persiapan yang rumit untuk melaksanakannya;

b. Bila terjadi persaingan negatif maka hasilnya akan buruk.

Keberhasilan dari proses belajar kooperatif karena 5 prinsip, yaitu:

a. Adanya sumbangan dari ketua kelompok

Tugas dari seorang ketua kelompok adalah memberikan sumbangan pengetahuannya untuk anggota kelompoknya, karena ketua kelompoknya adalah seseorang yang dinilai berkemampuan lebih dibandingkan dengan anggota yang lainnya. Dalam hal ini anggota kelompok diharapkan dapat memperhatikan, mempelajari informasi/penjelasan yang diberikan oleh ketua kelompok jika ada anggota kelompok yang merasa belum jelas, walaupun tugas ini bisa dilakukan oleh anggota yang lain.

b. Keheterogenan kelompok

Kelompok belajar yang efektif adalah yang mempunyai anggota kelompok yang heterogen, baik dalam hal jenis kelamin, latar belakang sosial, ataupun tingkat kecerdasan.

c. Ketergantungan pribadi yang positif

Setiap anggota kelompok belajar untuk berkembang dan bekerja satu sama lain. Ketergantungan pribadi ini dapat memberikan motivasi bagi setiap

(18)

individu karena pada awalnya mereka harus bisa membangun pengetahuannya sendiri terlebih dahulu sebelum bekerja sama dengan temannya.

d. Ketrampilan bekerja sama

Dalam proses bekerja sama perlu adanya ketrampilan khusus sehingga kelompok tersebut dapat berhasil membawa nama kelompoknya. Proses yang dibutuhkan di sini adalah adanya komunikasi yang baik antar anggota kelompok.

e. Otonomi kelompok

Setiap kelompok mempunyai tujuan agar bisa membawa nama kelompoknya untuk menjadi yang terbaik. Jika mereka mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah setelah melampaui tahap kegiatan kelompok maka mereka akan bertanya kepada gurunya bukan kepada kelompok lain.

Dalam metode mengajar kooperatif diharapkan siswa bekerja sama satu sama lainnya berdiskusi dan berdebat, menilai kemampuan pengetahuan dan mengisi kekurangan anggota lainnya. Bila diorganisasikan dengan tepat, siswa dapat bekeja sama dengan yang lainnya untuk memastikan bahwa setiap siswa dalam kelompok tersebut telah menguasai konsep yang telah diajarkan. Hal ini akan menumbuhkan realisasi bahwa siswa membutuhkan belajar dan berpikir untuk memecahkan masalah dan mengaplikasikan pengetahuan dan ketrampilannya.

4. Pembelajaran Koperatif Tipe STAD

STAD (Student Team Achievement Division) dikembangkan oleh Robert E. Slavin dan kawan-kawannya di Universitas John Hopkin, yang merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif paling sederhana. Arends (1997: 119) menyatakan bahwa metode STAD adalah metode yang berdasarkan pada pembelajaran kooperatif, dimana siswa dibagi menjadi kelompok untuk bekerjasama dalam tim kelompoknya dalam melaksanakan tugas yang akan diberikan. Dalam metode STAD dibutuhkan hubungan kerja yang baik dan ketrampilan siswa dalam kelompoknya, sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Secara umum pembelajaran kooperatif STAD terdiri dari 5 komponen utama, yaitu:

(19)

a. Presentasi Kelas

Materi pokok dalam STAD adalah pengenalan awal dalam presentasi kelas. Presentasi kelas bisa dilakukan melalui pengajaran secara langsung atau pengajaran diskusi dengan guru, tetapi bisa juga presentasi menggunakan audio visual. Presentasi kelas dalam STAD berbeda dengan pengajaran pada umumnya karena dalam STAD hanya ditekankan pada hal-hal pokok saja. Kemudian siswa harus mendalaminya melalui pembelajaran dalam kelompok. Dengan demikian, siswa dituntut untuk bersunguh-sungguh dalam memperhatikan materi yang diberikan oleh guru dalam presentasi kelas karena hal tersebut juga akan membantu mereka dalam mengerjakan kuis yang nantinya juga akan mempengaruhi skor dari tim mereka.

b. Tim atau Kelompok

Tim atau kelompok terdiri dari 4 atau 5 siswa yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda atau heterogen, baik dalam penguasaan materi, jenis kelamin, maupun suku. Fungsi utama dari tim adalah memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai materi yang diberikan dan juga untuk mempersiapkan anggota tim dalam menghadapi kuis, sehingga semua anggota tim dapat mengerjakan dengan baik.

Sesudah guru mempresentasikan materi, anggota tim secara bersama- sama mempelajari lembar kerja atau materi lain yang diberikan guru. Dalam hal ini siswa mendiskusikan masalah atau kesulian yang ada, membandingkan jawaban dari masing-masing anggota tim, dan membetulkan kesalahan konsep dari anggota tim.

Tim merupakan hal penting yang harus ditonjolkan dalam STAD. Dalam setiap langkah, titik beratnya terletak pada ingatan anggota tim agar bisa bekerja yang terbaik demi timnya dan cara yang terbaik dalam tim adalah bekerjasama dengan baik.

c. Kuis

Setelah satu atau dua kali pertemuan guru mempresentasikan materi di kelas dan setelah satu atau dua kali tim melakukan latihan dalam kelompoknya,

(20)

siswa diberi kuis secara individu. Jadi setiap siswa bertanggung jawab secara individu dalam menguasai materi pelajaran yang diberikan. Hasil selanjutnya diberi skor. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui pemahaman materi setiap individu.

d. Skor Perkembangan Individu

Hal ini dimaksudkan untuk memberikan nilai pada setiap siswa jika mereka mengerjakan dengan baik. Masing-masing siswa diberi skor ”cukup” yang berasal dari rata-rata siswa pada kuis yang sama. Setelah siswa mendapatkan nilai, maka siswa berhak mendapatkan urutan tingkatan nilai dari skor kuis dan berusaha untuk melampaui skor cukup.

Dibalik ide skor perkembangan individu adalah untuk menyampaikan tujuan presentasi masing-masing siswa yang dapat dicapai jika siswa bekerja lebih keras dan lebih baik daripada materi yang telah lampau. Keadaannya mungkin siswa mengalami peningkatan skor atau bahkan menurun.

Kemudian guru menghitung besarnya skor perkembangan yaitu dengan membandingkan skor tes materi yang lalu dengan yang baru. Untuk skor tes dengan skala 100 berlaku ketentuan sebagai berikut:

Tabel `1. Tabel Skor Perkembangan Individu

Skor Individu Skor Perkembangan Individu

Turun lebih dari 10 5

Turun sampai dengan 10 10

Tetap atau naik sampai dengan 10 20

Naik lebih dari 10 30

Tetap di puncak atau maksimal 30

e. Pengakuan / Penghargaan Tim

Tim akan mendapatkan penghargaan atau hadiah jika dapat melampaui kriteria yang telah ditentukan. Skor tim siswa akan digunakan untuk menentukan

(21)

tingkatan pemahaman siswa. Penghargaan yang akan diperoleh tim tersebut berdasarkan skor rata-rata tim dengan ketentuan sebagai berikut:

Tabel 2. Tabel Penghargaan Tim

Rata-rata Skor Kelompok Penghargaan

15 Good Team (Tim Baik)

20 Great Team (Tim Hebat)

25 Super Team (Tim Istimewa)

Dalam pelaksaanya, metode pembelajaran kooperatif STAD mempunyai langkah-langkah sebagai berikut:

a. Tahap Penyajian Materi Pelajaran

Pada tahap ini, bahan atau materi pelajaran kimia diperkenalkan melalui pengajaran secara langsung. Dalam penyajian ini, maka perlu ditekankan pada:

1) Pendahuluan

Dalam pendahuluan guru menekankan pada apa yang akan dipelajari peserta didik (siswa) dan mengapa itu penting. Hal ini dilaksanakan untuk memotivasi siswa dalam mempelajari konsep yang telah diajarkan.

2) Pengembangan

a) Menentukan tujuan-tujuan yang akan dicapai

b) Pembelejaran kooperatif menekankan bahwa belajar adalah memahami makna dan bukan hafalan.

c) Memberikan penjelasan mengapa jawaban pertanyaan tersebut benar atau salah.

d) Beralih pada konsep yang lain jika siswa menguasai pakok masalahnya.

3) Praktek Terkendali

a) Menyuruh siswa mengerjakan soal atau pertanyaan yang diberikan.

b) Memanggil peserta didik secara random untuk menyelesaikan soal.

c) Pemberian tugas kelas.

(22)

b. Kegiatan Kelompok

Selama kegiatan kelompok masing-masing siswa bertugas mempelajari materi yang telah disajikan oleh guru dan membantu teman sekelompok untuk menguasai materi pelajaran tersebut. Guru memberikan lembar kegiatan dan kemudian siswa mengerjakannya secara mandiri dan selanjutnya saling mencocokkan jawabannya dengan teman sekelompoknya. Apabila diantara teman sekelompok tersebut ada yang kurang memahami, maka anggota kelompok yang lain membantunya.

Guru menekankan bahwa lembar kegiatan untuk dipelajari bukan untuk diisi atau diserahkan pada guru. Apabila peserta didik mempunyai suatu permasalahan, sebaiknya ditanyakan terlebih dahulu pada anggota kelompoknya kemudian kalau tidak mampu baru ditanyakan pada gurunya.

c. Kuis (individu)

Kuis dilaksanakan secara individu. Siswa tidak diijinkan meminta atau memberi bantuan kepada siswa lain dalam mengerjakan kuis. Hal ini untuk mengetahui pemahaman materi setiap individu dan selanjutnya akan diadakan perbaikan skor dimana pemberian skor didasarkan skor pretest dan posttest.

(Slavin, 1995: 71-84)

5. Media Pembelajaran

a. Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar (Arief S.

Sadiman, 1996: 6). Menurut Assosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Asociation of Education and Communication Technology atau AECT), media atau bahan adalah perangkat lunak (soft ware) dan perangkat keras (hard ware).

Perangkat lunak berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya disajikan dengan menggunakan peralatan. Sedangkan perangkat keras merupakan sarana untuk menampilkan pesan yang terkandung dalam media tersebut.

(23)

Sehubungan dengan pendidikan, pengertian media tidak terlepas dari kegiatan belajar mengajar. Menurut Oemar Hamalik (1989: 12), media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka mengefektifkan komunikasi dan interaksi antar guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Sedangkan menurut Arief S. Sadiman (1996: 5), media mempunyai pengertian yaitu segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepada penerima pesan, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, dan minat, serta perhatian peserta didik sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

Proses pembelajaran pada hakikatnya adalah proses komunikasi yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan (Arief S. Sadiman, 1996: 11).

Dari pengertian di atas, media pembelajaran dapat diartikan sebagai perangkat lunak dan atau perangkat keras yang dapat digunakan untuk menciptakan proses belajar.

b. Fungsi Media Pembelajaran

Menurut Arief S. Sadiman (1996: 16-17), secara umum media pembelajaran mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut:

1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalitas (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).

2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan biaya indera.

3) Penggunaan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif siswa.

4) Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan bila semuanya itu harus diatasi sendiri. Apalagi bila latar belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pembelajaran, yaitu dengan kemampuannya dalam:

a) Memberikan perangsang yang sama.

(24)

b) Mempersamakan pengalaman.

c) Menimbulkan persepsi yang sama

c. Dasar Pertimbangan Pemilihan Media Pembelajaran

Dalam memilih media pembelajaran perlu mempertimbangkan beberapa faktor terkait, sehingga media tersebut dapat mendukung pencapaian tujuan yang ditetapkan. Arief S. Sadiman (1996: 82) mengatakan bahwa beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan misalnya tujuan instruksional yang akan dicapai, karakteristik siswa atau sasaran, jenis rangsangan belajar yang diinginkan (audiovisual, gerak dan seterusnya), keadaan latar belakang lingkungan, kodisi setempat, dan luasnya jangkauan yang ingin dilayani. Pertimbangan lain pemilihan media pembelajaran antara lain:

a) Potensi peserta didik,

b) Relevansi dengan karakteristik daerah

c) Tingkat perkembanagn fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual peserta didik,

d) Manfaat bagi peserta didik, e) Struktur keilmuan,

f) Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran,

g) Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan h) Alokasi waktu

Bantuan untuk memilih media dapat diperhatikan kerucut pengalaman, seperti yang dikembangkan oleh Dale (1969). Kerucut pengalaman karya Dale yang mengklasifikasikan pengalaman belajar mulai dari pengalaman langsung yang tertuju dan kemudian meningkat melalui tingkat-tingkat yang dianggap abstrak sampai pada lambang verbal, seperti terlihat pada gambar 2.

(25)

abstrak verbal simbol visual

visual radio

film tv wisata demonstrasi

partisipasi observasi konkret pengalaman langsung

Gambar 3. Kerucut Pengalaman Dale

(Yusuf Hadimiarso, 1984: 50) d. Klasifikasi Media Pembelajaran

Klasifikasikan media pembelajaran berdasarkan atas bentuk sebagai berikut:

1) Media pandang (visual media), yaitu media untuk dilihat. Media pandang tersebut meliputi antara lain:

a) Foto grafik, misalnya: Slide, Film, Strip, OHP.

b) Grafik, misalnya: Chart, OHP, papan tulis.

c) Benda nyata, misalnya: contoh dan model.

2) Media dengar (audio media), yaitu media untuk didengar suaranya. Tergolong didalamnya antara lain tape recorder, radio, telepon, dan lain-lain.

a) Media pandang dengar (audiovisual media), yaitu media untuk dilihat dan didengar suaranya, misalnya: televisi, sound film, dan lain-lain.

b) Media bahasa (tulis), misalnya: buku, majalah, surat kabar.

e. Modul

Pada kurikulum saat ini (KTSP) penggunaan modul sebagai sebuah sistem pengajaran sangat diperlukan. Modul Kimia merupakan paket belajar

(26)

mandiri yang dirancang dan direncanakan secara sistematis yang meliputi serangkaian pengalaman belajar guna membantu siswa untuk mencapai tujuan belajar kimia. Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional, dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai pedoman penggunaannya (E. Mulyasa, 2003: 98). Modul juga merupakan seprangkat bahan ajar yang disajikan secara sistematis sehingga penggunanya dapat belajar dengan atau tanpa seorang fasilitator atau guru. Dengan demikian maka sebuah modul harus dapat dijadikan sebuah bahan ajar sebagai pengganti fungsi guru. Modul harus mampu menjelaskan dengan bahasa yang mudah diterima peserta didik sesuai dengan tingkat pengetahuan dan usianya. Modul juga merupakan seperangkat bahan ajar mandiri yang disajikan secara sistematis sehingga memungkinkan siswa belajar sesuai dengan kecepatan belajarnya tanpa tergantung pada orang lain atau dengan bimbingan yang sangat terbatas dari guru. Dengan kata lain modul adalah seperangkat bahan ajar mandiri yang disajikan secara sistematis.

Menuliskan bahan ajar modul berarti mengajarkan sesuatu bahan ajar melalui tulisan. Oleh karena itu prinsip yang digunakan dalam menuliskan modul sama dengan yang digunakan dalam pengajaran biasa, bedanya bahasa yang digunakan bersifat setengah formal dan setengah lisan, bukan bahas buku teks yang sangat formal.

Komponen dalam penyususunan bahan ajar modul antara lain, deskripsi singkat isi materi, relevansi isi dengan pengalaman siswa, kegunaan mempelajari dan hubungannya dengan materi lain, menuliskan tujuan pembelajaran, menuliskan materi, memberikan contoh soal dan latian soal, rangkuman, evaluasi.

Menurut E. Mulyasa (2003: 98) menyatakan bahwa pada umumnya modul terdiri dari beberapa komponen, yaitu lembar kegiatan siswa, lembar kerja, kunci lembar kerja, lembar soal, lembar jawaban, dan kunci jawaban. Pengembangan modul harus memasukkan karakteristik, self intructional, self contained, stand alone, adaptif, user friendly. Tugas utama guru kimia dalam sistem modul adalah

(27)

mengorganisasikan dan mengatur proses pembelajaran dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:

a. Persiapan, yaitu menyiapkan situasi pembelajaran yang kondusif;

b. Pelaksanaan, yaitu proses interaksi antara guru dan siswa, yang diwujudkan siswa belajar sesuai dengan irama kecepatan dan kemampuannya, sedangkan guru membantu siswa yang kesulitan dalam memahami isi modul atau pelaksanaan tugas;

c. Evaluasi, yaitu berupa pelaksanaan penelitian terhadap setiap peserta didik sampai dengan penentuan siswa yang telah mencapai taraf belajar tuntas.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa modul kimia dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran di sekolah, baik waktu, dana, fasilitas, maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal.

Dengan sistem modul, siswa yang mengikuti pembelajaran kimia lebih banyak mendapat kesempatan untuk belajar kimia secara mandiri, membaca uraian, dan petunjuk dari lembar kegiatan, menjawab pertanyaan-pertanyaan, serta melaksanakan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Dalam kaitan ini siswa dapat maju sesuai dengan irama dan kemampuan masing-masing siswa yang mengikuti alur pembelajaran kimia dan lebih banyak waktu untuk berinteraksi baik secara individu maupun secara kelompok.

Modul adalah suatu unit lengkap yang berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu siswa mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas. Pelajaran dengan modul akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar menurut cara masing-masing karena setiap siswa akan menggunakan cara yang berbeda untuk memecahkan masalah tertentu berdasarkan latar belakang dan kebiasaan masing- masing.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan materi tertentu yang disusun secara sistematis dan terdiri atas berbagai komponen.

(28)

f. Media Komputer Program Ms PowerPoint Berbantuan LCD

Pada saat ini, bahan ajar kimia merupakan salah satu sumber belajar yang telah dikemas dalam berbagai bentuk, misalnya media cetak (buku teks, modul, majalah atau jurnal ilmiah), rekaman audio visual, software komputer, dan lain-lain.

Pemanfaatan teknologi canggih dalam sistem pengelolaan pendidikan dewasa ini merupakan kebutuhan manajemen sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian pula dengan penggunaan teknologi komputer dalam rangka pengelolaan sistem informasi pendidikan sebagai suatu keharusan manajerial guna meningkatkan efisiensi, mutu, dan produktifitas pengelolaan pendidikan sebagai bagian integral dari pembangunan.

Penggunaan media pembelajaran yang berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan hal yang tidak mudah. Dalam menggunakan media tersebut harus memperhatikan beberapa teknik agar media yang dimanfaatkan itu dapat dimanfaatkan dengan maksimal dan tidak menyimpang dari tujuan media tersebut, dalam hal ini media yang digunakan adalah komputer berprogram Power Point dan dihubungkan dengan LCD proyektor. Media komputer dan LCD proyektor merupakan media rancang yang mana didalam penggunaannya sangat diperlukan perancangan khusus dan didesain sedemikian rupa, misalnya dengan program MS Power Point agar dapat dimanfaatkan. Perangkat keras (hardware) yang difungsikan dalam menginspirasikan media tersebut adalah menggunakan satu unit komputer lengkap yang sudah terkoneksikan dengan LCD proyektor.

Dengan demikian hendaknya media ini menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran (http://www.smamujahidin-ptk.sch.id/cetak.php?id=35: 16 Juli 2007).

Menurut Oemar Hamalik (1989: 18), komputer merupakan salah satu teknologi canggih yang memiliki peran utama untuk memproses informasi secara cermat, cepat, dan dengan hasil yang akurat. Proses pembelajaran membutuhkan peran komputer karena komputer bukan saja berfungsi sebagai alat bantu, namun juga dapat sebagai bagian dari metode pembelajaran itu sendiri. Sebagai sebuah

(29)

metode pembelajaran, komputer dapat membangkitkan minat dan perhatian siswa terhadap mata pelajaran tertentu. Selain itu, komputer sendiri dapat berfungsi sebagai salah satu sumber informasi, dengan demikian dapat menjadi sumber belajar bagi seorang siswa.

Percival dan Ellington mendefinisikan komputer sebagai alat yang dapat menerima informasi, diterapkan untuk prosedur pemrosesan informasi, dan memberikan hasil informasi baru dalam bentuk yang digunakan oleh pemakai.

Penggunaan komputer hanyalan untuk membantu siswa dalam memahami konsep pelajaran, sedangkan penyelesaian soal tetap diserahkan pada kemampuan siswa. Teknis penggunaan komputer sebagai media pembelajaran ini bisa dilakukan dengan cara:

a) Tiap satu atau dua siswa memegang satu komputer yang software-nya telah disiapkan oleh guru dan proses pembelajarannya dilakukan dalam laboratorium komputer.

b) Proses pembelajaran proyektor LCD yang mampu memproyeksikan tanpilan pada monitor komputer ke media lain (misal tembok kelas) dengan perbesaran yang bisa diatur.

Dari dua cara di atas, nampaknya cara kedua (b) akan lebih mencapai sasaran karena perhatian siswa lebih fokus pada yang disajikan melalui proyektor LCD.

Lain jika siswa memegang komputer sendiri, ada kemungkinan siswa akan bermain-main sendiri, tidak fokus pada materi pelajaran atau malah menganggap pelajaran tersebut sebagai pelajaran komputer.

Mikrosoft PowerPoint adalah program aplikasi presentasi yang paling populer dan paling banyak digunakan saat ini. Dengan menggunakan Mikrosoft PowerPoint kita dapat merancang dan membuat presentasi yang profesional dengan secara mudah dan cepat (Budi Permana, 2001: 1). Microsoft PowerPoint atau sering disingkat Ms PowerPoint atau PowerPoint atau MPP merupakan piranti lunak yang biasanya digunakan untuk menyajikan presentasi dalam seminar, workshop, penataran, dan sebagainya oleh penyaji (http://suaramerdeka.com/harian/ 0604/03/ragam03.htm :16 Juli 2007).

(30)

Microsoft PowerPoint atau Microsoft Office PowerPoint adalah sebuah program komputer untuk presentasi yang dikembangkan oleh Microsoft di dalam paket aplikasi kantoran mereka. PowerPoint berjalan di atas komputer PC berbasis sistem operasi Microsoft Windows dan juga Apple Macintosh yang menggunakan sistem operasi Apple Mac OS. Aplikasi ini sangat banyak digunakan, apalagi oleh kalangan perkantoran dan pebisnis, para pendidik, siswa, dan trainer. Dalam PowerPoint, seperti halnya perangkat lunak pengolah presentasi lainnya, objek teks, grafik, video, suara, dan objek-objek lainnya diposisikan dalam beberapa halaman individual yang disebut dengan "slide".

Istilah slide dalam PowerPoint ini memiliki analogi yang sama dengan slide dalam proyektor biasa, yang telah kuno, akibat munculnya perangkat lunak komputer yang mampu mengolah presentasi semacam PowerPoint. Setiap slide dapat dicetak atau ditampilkan dalam layar dan dapat dinavigasikan melalui perintah dari si presenter. (http://id.wikipedia.org/wiki/Microsoft_PowerPoint).

Dengan menggunakan komputer, kita tidak perlu menulis atau menggambar sendiri ide-ide yang akan disajikan. Bahan diketik menggunakan MS PowerPoint, untuk kemudian ditampilkan melalui LCD Projektor. Kelebihan lainnya menggunakan program PowerPoint, kita dapat menambah animasi suara dan latar belakang, sehingga sajian menjadi lebih menarik. Penggunaan media komputer dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan kreativitas peserta didik dalam proses belajarnya. Hal ini dikarenakan pengembangan program pembelajaran yang menggunakan komputer tersebut dirancang dengan menggukan program PowerPoint yang memungkinkan para siswa melakukan eksplorasi sendiri, berlatih dengan latihan yang disediakan secara terpadu serta di dalam program tersebut .

6. Motivasi

Ahli-ahli psikologi berpendapat bahwa dalam diri individu ada sesuatu yang menentukan perilaku yang bekerja secara tertentu untuk mempengaruhi perilaku tersebut. Penentuan perilaku tersebut disebut dengan istilah motif motif ialah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Seperti yang dikutip oleh Ngalim Purwanto(1997:60) dalam buku

(31)

Pshycology Understanding of Behavior, motif adalah suatu pernyataan kompleks didalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku atau perbuatan kesuatu tujuan. Penentuan perilaku tersebut disebut dengan motif. Motif merupakan sebab;

alasan untuk berbuat. Berdasarkan pengertian motif dan motivasi dapat dikatakan bahwa motif adalah kecenderungan seseorang yang bersifat potensial dan berfungsi menggerakkan serta mengarahkan perilaku ketujuan tertentu, sedangkan motivasi adalah keadaan yang timbul dari diri subyek akibat interaksi antara motif dan aspek-aspek situasi yang diamati, yang relevan dengan motif tersebut serta mengaktifkan perilaku.

Biggs dan Telfer seperti yang dikutip oleh Dimyati dan Mudjiono (1999:32) berpendapat bahwa siswa memiliki bermacam-macam motivasi dalam belajar. Macam-macam motivasi tersebut dapat dibedakan menjadi 4 golongan yaitu:

a. Motivasi instrumental

Siswa belajar karena didorong oleh karena ada hadiah atau takut akan hukuman

b. Motivasi sosial

Siswa belajar untuk menyelenggarakan tugas, dalam hal ini keterlibatan pada tugas menonjol

c. Motivasi berprestasi

Motivasi berprestasi dibedakan menjadi 2 yaitu:

1. Motivasi berprestasi tinggi

Siswa berrmotivasi berprestasi tinggi lebih berkeinginan meraih keberhasilan. Siswa tersebut lebih merasa terlibat dalam tugas-tugas dan tidak menyukai kegagalan. Dalam hal ini guru harus menyalurkan semangat kerja keras siswa.

2. Motivasi berprestasi rendah

Siswa bermotivasi berprestasi rendah umumnya lebih suka menghindarkan diri dari kegagalan. Guru diharapkan mampu berkreasi dalam kegiatan- kegiatan pembelajaran.

(32)

d. Motivasi intrinsik

Siswa berkeinginan untuk belajar karena keinginan sendiri.

Motivasi instrumental dan sosial merupakan kondisi eksternal, sedangkan motivasi berprestasi dan intrinsik merupakan kondisi internal

Menurut Winkel (1987:97-98) ciri-ciri siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Kecenderungan mengerjakan tugas-tugas yang menantang

b. Keinginan untuk bekerja dan berusaha sendiri tanpa harus diperintah terus- menerus

c. Keinginan yang kuat untuk maju dan mencari taraf keberhasilan diatas taraf yang telah dicapai sebelumnya

d. Orientasi masa depan, maksudnya kegiatan belajar dipandang sebagai jalan menuju realisasi cita-cita.

e. Pemilihan teman kerja atas dasar kemampuan teman untuk menyelesaikan tugas bersama bukan dasar simpati atau perasaan senang.

f. Adanya keuletan dalam belajar walaupun menghadapi rintanagan.

7. Prestasi Belajar

Dalam proses belajar mengajar, prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai dari suatu usaha dalam mengikuti pendidikan atau latihan tertentu yang hasilnya dapat ditentukan dengan memberikan test pada akhir pendidikan.

Kedudukan siswa dalam kelas dapat diketahui melalui prestasi belajar yaitu siswa tersebut termasuk pandai, sedang atau kurang. Dengan demikian prestasi belajar mempunyai fungsi yang penting disamping sebagai indikator keberhasilan belajar dalam mata pelajaran tertentu, juga dapat berguna sebagai evaluasi dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.

Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dimaksudkan sebagai kurikulum untuk mengembangkan kompetensi siswa, yang meliputi pengetahuan, ketrampilan dan sikap serta minat siswa, pada setiap mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum tersebut. Oleh karena itu penilaian hasil belajar dalam pelaksanaan KBK perlu dilakukan berdasarkan informasi selengkapnya mungkin

(33)

mengenai siswa yang bersangkutan agar maksud tersebut terlaksana. Beberapa karakteristik Kurikulum berbasis kompetensi adalah:

a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual ataupun klasikal

b. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman

c. Penyampain dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi

d. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lain yang memenuhi unsur edukatif

e. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi

Prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan siswa dalam usaha belajar yang dilakukan. Prestasi ini biasanya diwujudkan dalam bentuk test. Nilai test tersebut adalah angka yang menunjukan jumlah hasil prestasi setelah siawa mendapatkan pelajaran. Dalam kurikulum berbasis kompetensi ini penilaian yang diterapkan meliputi 3 aspek yaitu, aspek kognitif, aspek kognitif, dan aspek psikomotor. Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, dan kemampuan mengevaluasi. Aspek afektif mencakup watak prilaku seperti minat, sikap, dan nilai. Sedangkan psikomotor adalah aspek yang berhubungan dengan aktifitas fisik

8. Hukum Dasar Kimia dan Perhitungan Kimia a. Hukum Lavoisier (Hukum Kekekalan Massa)

Antoine Laurent Lavoisier telah menyelidiki massa zat sebelum dan sesudah reaksi. Lavoisier menimbang zat sebelum bereaksi kemudian menimbang zat sesudah bereaksi. Ternyata massa zat sebelum dan sesudah reaksi selalu sama.

Lavoisier menyimpulkan hasil penemuannya dalam suatu hukum yang disebut Hukum Kekekalan Massa: ”Dalam sistem tertutup, massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama.”

(34)

Perubahan yang kita amati dalam kehidupan sehari-hari umumnya berlangsung dalam wadah terbuka. Misalnya reaksi pembakaran kertas. Sebagian besar hasil reaksi pada pembakaran kertas adalah gas, sehingga massa zat yang tertinggal menjadi lebih sedikit dari massa kertas mula-mula. Jika pembakaran dilakukan diruang tertutup maka dapat dipastikan massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama, karena tidak ada zat yang hilang.

Contoh:

Pada pembakaran 2,4 gram magnesium diudara, dihasilkan 4 gram oksida magnesium. Berapa gram oksigen yang dipakai dalam reaksi itu?

Jawab:

Massa oksigen yang dipakai = 4 gram – 2,4 gram = 1,6 gram b. Hukum Proust (Hukum Perbandingan Tetap)

Pada tahun 1799, Joseph Louis Proust menemukan satu sifat penting dari senyawa, yang disebut Hukum Perbandingan Tetap. Berdasarkan penelitian terhadap berbagai senyawa yang dilakukannya, Proust menyimpulkan bahwa:”Perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa adalah tertentu dan tetap”. Senyawa yang sama, meskipun berasal dari daerah yang berbeda atau dibuat dengan cara cara-cara berbeda, ternyata mempunyai komposisi yang sama.

Hal tersebut dapat dilihat data berikut:

Asal garam Massa garam (gram)

Massa

Natrium(gram)

Massa Klorin (gram)

Massa Na:Cl

Indramayu 2 0,786 1,214 1:1,54

Madura 1,5 0,59 0,91 1:1,54

Impor 2,5 0,983 1,517 1:1,54

Tabel 3: data perbandingan tetap

Perbandingan massa Na terhadap Cl tetap yaitu 1:1,54 sehingga sesuai dengan hukum Proust.

Contoh:

Perbandingan massa Magnesium(Mg) dengan Oksigen(O) dalam Magnesium Oksida(MgO) adalah 3:2. pada suatu percobaan, direaksikan 10 gram Magnesium dengan 8 gram Oksigen. Tentukanlah:

(35)

a. massa Magnesium Oksida yang terbentuk, b. massa pereaksi yang bersisa

Jawab:

Magnesium(Mg) + Oksigen(O) Magnesium Oksida(MgO) Perbandingan massa Mg : O : MgO = 3 : 2 : 5

Massa Mg yang direaksikan = 10 gram, berarti dikalikan dengan 3,33 (dari 10/3) Massa O yang direaksikan = 8 gram, berarti dikalikan dengan 4 (dari 8/2)

Oleh karena dikalikan dengan bilangan yang lebih besar, maka O bersisa.

Massa Magnesium Oksida yang terbentuk = 5 x 3,33 gram = 16,67 gram.

Massa pereaksi yang bersisa ( Oksigen) = selisih massa pereaksi dengan massa produk = (10 g + 8 g) -16,67 g = 1,33 g

c. Hukum Dalton (Hukum Kelipatan Berganda)

Hukum dasar ketiga ini dikemukakan oleh John Dolton dan dikenal sebgai hukum kelipatan berganda. Hukum kelipatan berganda berkaitan dengan pasangan unsur yang akan membentuk lebih dari satu senyawa. Contohnya adalah pasangan karbon dengan oksigen yang akan membentuk lebih dari satu senyawa, yaitu karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2). Menurut Dalton jika massa dari salah satu unsur dalam kedua senyawa tersebut sama, maka perbandingan massa unsur yang satu lagi dalam kedua senyawa itu merupakan bilangan bulat dan sederhana.

Contoh:

Belerang (S) dan Oksigen (O) membentuk dua jenis senyawa. Kadar belerang dalam senyawa I dan II berturut turut adalah 50% dan 40%. Apakah Hukum Dalton berlaku untuk senyawa tersebut?

Jawab:

Hukum Dalton mengatakan bahwa jika massa salah satu unsur dalam suatu senyawa adalah sama, maka perbandingan massa unsur yang lain dalam kedua senyawa itu haruslah merupakan perbandingan bulat dan sederhana. Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah:

1) Menentukan perbandingan massa S : O dalam masing-masing senyawa.

(36)

2) Membuat salah satu unsur sama

3) Membandingkan massa unsur yang satunya lagi

Senyawa I terdiri dari 50 % Belerang, berarti massa Oksigen adalah 50 %.

Senyawa II terdiri atas 40% Belerang, berarti massa Oksigen adalah 60%

Massa S : O dalam senyawa I = 50 : 50 = 1: 1

Massa S :O dalam senyawa II = 40 : 60 = 2: 3 atau 1 :1,5

Jika massa S dalam senyawa I = senyawa II, misal sama-sama 1 gram, maka massa O senyawa I : senyawa II = 1: 1,5 = 2 : 3. Perbandingan tersebut merupakan perbandingan bulat dan sederhana. Kedua senyawa itu memenuhi Hukum Dalton.

d. Persamaan Reaksi

Menyetarakan reaksi kimia dapat dilakukan melalui 2 tahap, yaitu menuliskan rumus kimia reaktan dan menyetarakan koefisien sehingga jumlah atom dikedua ruas sama.

Langkah-langkah penyetaraan reaksi:

Ø Tetapkan koefisien suatu zat sama dengan satu(biasanya senyawa yang paling depan), sedangkan koefisien yang lain dengan menggunakan huruf a,b,c,d,dan seterusnya.

Ø Setarakan semua unsur yang diberi koefisien sehingga membentuk suatu persamaan matematis.

Ø Selesaikan persamaan matematis yang terbentuk. Jika ada angka pecahan buatlah angka pecahan tersebut menjadi bulat.

Ø Masukkan angka yang dihasilkan pada persamaan reksi.

Ø Ujilah kesetaraan reaksi itu. Jika sudah setara, perhitungan yang anda buat benar/salah.

Contoh soal:

1. Setarakan reaksi antara besi (III) oksida dengan air aki (asam sulfat) membentuk besi (III) sulfat dan air!

Reaksi besi (III) oksida dengan air aki (asam sulfat) dapat ditulis sebagai berikut Fe2O3(s) + H2SO4(aq) Fe2(SO4)3(aq) + H2O(l)

Hirarki konsep:

(37)

Ø Tetapkan koefisien suatu zat sama dengan satu(biasanya senyawa yang paling depan), sedangkan koefisien yang lain dengan menggunakan huruf a,b,c,d,dan seterusnya.

Fe2O3(s) + a H2SO4(aq) b Fe2(SO4)3(aq) + c H2O(l)

Ø Setarakan semua unsur yang diberi koefisien sehingga membentuk suatu persamaan matematis.

Fe2O3(s) + a H2SO4(aq) b Fe2(SO4)3(aq) + c H2O(l)

Atom Ruas kiri Ruas kanan

Fe 2 2b

O 3 + 4a 12 b + c

H 2a 2c

S a 3b

Ø Selesaikan persamaan matematis yang terbentuk. Jika ada angka pecahan buatlah angka pecahan tersebut menjadi bulat.

2 = 2b, 3 + 4a = 12 b + c, 2a = 2c, a = 3b sehingga diperoleh a= 3, b=1, c=3

Ø Masukkan angka yang dihasilkan pada persamaan reksi.

Fe2O3(s) + 3 H2SO4(aq) Fe2(SO4)3(aq) + 3 H2O(l)

e. Hukum Gay Lussac Dan Hipotesis Avogadro.

Henry Cavendish (1731-1810), seorang ahli kimia berkebangsaan Inggris, menemukan fakta bahwa perbandingan volum hidrogen : volum oksigen dalam membentuk air adalah 2:1, dengan syarat kedua gas itu diukur pada suhu (T) dan tekanan (P) yang sama. Pada tahun 1809, Josheph Louise Gay Lussac ( 1778- 1850) asal Perancis tertarik pada penemuan tersebut, kemudian melakukan percobaan terhadap berbagai reaksi gas dan menemukan hasil sebagai berikut:

1. Pada reaksi antara gas Hidrogen dengan gas Klorin membentuk gas hidrogen klorida, perbandingan volumnya adalah 1:1:2

2. Pada reaksi antara gas hidrogen dan gas oksigen membentuk uap air, perbandingan volumnya 2:1:2

Gambar

Gambar  2.  Bagan  faktor-faktor  yang  mempengaruhi  belajar  dan  hasil  belajar  (Ngalim Purwanto, 1997  : 87)
Tabel 2.  Tabel Penghargaan Tim
Gambar 3. Kerucut Pengalaman Dale
Tabel 3: data perbandingan tetap
+5

Referensi

Dokumen terkait

Makalah ini bertujuan untuk mendokumentasikan toponimi yang dimunculkan pada sejumlah lagu populer sehingga dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah daerah terkait,

Sekali lagi kepada mereka, penulis dengan tulus mengucapkan terima kasih atas bantuannya, semoga amal baik Bapak, Ibu, dan saudara semua mendapat balasan

Posted at the Zurich Open Repository and Archive, University of Zurich. Horunā, anbēru, soshite sonogo jinruigakuteki shiten ni okeru Suisu jin no Nihon zō. Nihon to Suisu no kōryū

Strategi yang dapat dilakukan untuk peningkatan daya saing hortikultura Indonesia adalah: (1) meningkatkan kesadaran para pelaku usaha agar mematuhi regulasi-regulasi

Hasil analisa uji homogenitas dengan menggunakan kelompok data lebih dari 20 tahun ternyata lebih memberikan hasil yang lebih baik atau sepeerti yang diharapkan, walaupun

∑ Kelompok yang menerapkan SLGAP x 100 % Bidang Produksi Hortikultura, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur. Bidang Produksi Hortikultura, , Dinas Pertanian Provinsi

Bank Mandiri KCP Jkt Gatot

[r]