• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada bab ini menyajikan proses pengolahan data yang menggunakan hasil analisis statistik deskriptif dan hasil analisis N-Gain Ternormalisasi. Pengolahan statistik deskriptif digunakan untuk menyatakan karakteristik distribusi nilai responden dan analisis statistik N-Gain Ternormalisasi digunakan untuk mengetahui peningkatan setelah diajar menggunakan model problem based learning.

1. Hasil Analisis Deskriptif

Ada pun gambaran hasil belajar fisika peserta didik sebelum diajar dengan menerapkan model problem based learningyaitu:

Tabel 4.1 Analisis Deskriptif Skor peserta Didik kelas XI MIA 5 SMA Negeri 9 Makassar pada saat Pretest dan Posttest.

Statistik

Skor Statistik

Pretest Posttest

Skor ideal 25 25

Ukuran Sampel 34 34

Skor Tertinggi 14 22

Skor Terendah 3 11

Rentang Skor 11 11

Skor Rata-Rata 8.68 17.21

Standar Deviasi 3.61 2,71

Sumber : Data primer terolah, 2020 a. Hasil Penelitian Data Pre-test

Dari Tabel 4.1 peserta didik yang menjadi sampel penelitian (Kelas XI MIA 5 SMA Negeri 9 Makassar) memiliki jumlah peserta didik sebanyak 34 orang.

Dilihat dari skor tertinggi dari hasil belajar Fisika peserta didik pada Pretest dicapai sebesar 14 dan skor terendah yang dicapai peserta didik sebesar 3 dari skor ideal 25, dan skor rata-rata peserta didik sebesar 8.68 dengan standar deviasi 3.61. Jika skor hasil belajar peserta didik kelas XI MIA 5 SMA Negeri 9 Makassar dianalisis menggunakan persentase pada distribusi frekuensi, maka dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Peserta Didik Kelas XI MIA5 SMA Negeri 9 Makassar Pada Pretes.

Skor fi Presentasi %

3 - 4 = 4 11.76

5 - 6 = 6 17. 65

7 - 8 = 6 17. 65

9 - 10 = 5 14.71

11 - 12 = 10 29.41

13 - 14 = 3 8.82

Data distribusi Frekuensi Pretest pada Tabel 4.2 dapat disajikan dalam diagram batang sebagai berikut:

Gambar 4.1 Diagram Distribusi Frekuensi Kumulatif dan Persentasi Skor Peserta Didik Kelas XI MIA 5 SMA Negeri 9 Makassar pada Pre-tes.

Berdasarkan gambar 4.1 di atas, frekuensi kumulatif pada pretest mayoritas pada interval 11-12 sebanyak 10 peserta didik (29,41%), 5-6 dan 7-8 dengan masing-masing sebanyak 6 peserta didik (17,65%), sedangkan paling sedikit terletak pada interval 13-14 sebanyak 3 peserta didik (8,82%)

b. Hasil Penelitian Data Post-test

Adapun data yang diperoleh dari hasil belajar fisika peserta didik kelas XI MIA 5 SMA Negeri 9 Makassar setelah diajar dengan model problem based learningselama 5 kali pertemuan dengan materi Termodinamika, maka dapat dilihat pada Tabel 4.2 skor tertinggi dari hasil belajar Fisika peserta didik yaitu 22

0 2 4 6 8 10

3 ‒ 4 5 ‒ 6 7 ‒ 8 9 ‒ 10 11 ‒ 12 13 ‒ 14

Frekuensi

dan skor terendah yang dicapai yaitu 11 dari skor ideal 25. Adapun Jumlah sampel pada Posttest sebanyak 34 orang dan standar deviasi yang diperoleh sebesar 2,71 dengan skor rata-rata 17.21.

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil belajar peserta didik setelah diajar dengan model problem based learningdengan menggunakan analisis distribusi frekuensi dan persentase skor hasil belajar Fisika, maka dapat dilihat dari Tabel berikut:

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi dan Presentase Skor Peserta Didik Kelas XI MIA 5 SMA Negeri 9 Makassar pada saat Posttest.

Skor fi

Presentasi %

11 ‒ 12 2 5.88

13 ‒ 14 4 11.76

15 ‒ 16 7 20. 59

17 ‒ 18 7 20. 59

19 ‒ 20 12 35.29

21 ‒ 22 2 5.88

Data distribusi Frekuensi Posttest pada Tabel 4.3 dapat disajikan dalam diagram batang sebagai berikut:

Gambar 4.2 Diagram Distribusi Frekuensi Kumulatif dan Persentasi Skor Peserta Didik Kelas XI MIA 5 SMA Negeri 9 Makassar pada Posttest.

Berdasarkan gambar 4.2 di atas, frekuensi kumulatif pada posttest mayoritas pada interval 19-20 sebanyak 12 peserta didik (35,29%), 15-16 dan 17-18 dengan masing-masing sebanyak 7 peserta didik (20,59%), sedangkan paling sedikit terletak pada interval 11-12 dan 21-22 masing-masing sebanyak 2 peserta didik (5,88%)

2. Hasil Analisis N-Gain

Setelah semua data terkumpul, untuk mengetahui signifikansi peningkatan hasil belajar peserta didik (pretest dan posttest) menggunakan rumus N-Gain.

Pada tabel 4.4 berikut ini disajikan distribusi dan persentase N-Gain berdasarkan kriteria indeks gain.

Tabel 4.4.Distribusi dan Persentase Perolehan N-Gain Ternormalisasi Peserta Didik Kelas XI MIA 5 SMA Negeri 9 Makassar.

Rentang Kategori Frekuensi Presentase % Rata-rata N-Gain

g ≥ 0,7 Tinggi 1 2.94

0.53 0,3 ≤ g

<0,7 Sedang 33 97.06

0 5 10 15 20 25 30 35 40

11 ‒ 12 13 ‒ 14 15 ‒ 16 17 ‒ 18 19 ‒ 20 21 ‒ 22

Fekuensi

g < 0,3 Rendah 0 0.00

Jumlah 34 100

Pada tabel 4.4 menunjukan bahwa tidak ada peserta didik yang berada pada kategori rendah dan 97.06% peserta didik memenuhi kategori sedang serta 2.94%

peserta didik memenuhi kategori tinggi. Terlihat juga bahwa peserta didik kelas XI MIA 5 SMA Negeri 9 Makassar tahun ajar 2019/2020 memiliki nilai rata-rata gain sebesar 0,53 dengan kategori sedang. (Analisis selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran)

B. Pembahasan

Dalam penelitian ini merupakan bentuk penelitian pra eksperimen dengan desain yang digunakan One-Group Pretest-Posttest Design. Dalam proses pembelajaran setiap pertemuan disesuaikan dengan langkah-langkah pembelajaran yang telah disusun dalam prosedur penelitian dan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah disiapkan. Penelitian ini membandingkan skor hasil belajar Fisika peserta didik sebelum dan setelah diajar dengan menggunakan model problem based learning (PBL) pada satu kelas sebagai sampel.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, hasil belajar peserta didik dapat diperoleh dengan melakukan Pretest dan Posttest, dari hasil Pretest dan Posttest dengan menggunakan analisis deskriptif dapat dikemukakan bahwa hasil belajar peserta didik terjadi peningkatan terhadap materi yang diberikan pada Teori Fluia Statis yang diajar dengan menggunakan Model problem based learning(PBL).

Dalam proses pembelajaran, peneliti menerapkan Model problem based learning(PBL).dimana peserta didik ditekankan untuk aktif dalam proses pembelajaran. Peserta didik aktif dalam memberikan pertanyaan maupun menjawab pertanyaan saat penyajian materi yang diberikan secara bertahap, begitupun pada saat peserta didik diberikan contoh soal maupun soal latihan.

Selanjutnya peserta didik diarahkan untuk melakukan percobaan bersama teman kelompok berdasarkan petunjuk percobaan yang tertera di dalam LKPD.

Pada kegiatan percobaan, setiap peserta didik terlibat aktif didalamnya dan terlihat ketertarikan peserta didik untuk melaksanakan langkah-langkah percobaan. Beberapa peserta didik yang pada kegiatan sebelumnya terlihat kurang antusias, mulai terdorong untuk terlibat aktif dalam mengikuti pembelajaran. Ini ditandai dengan aktivitas belajar peserta didik yang meningkat, yaitu peserta didik secara aktif bertanya kepada guru apabila menemui kesulitan, berdiskusi dengan anggota kelompok, serta menganalisis hasil pengamatan berdasarkan percobaan yang telah dilakukan. Kegiatan selanjutnya yaitu peserta didik bertugas mempresentasikan hasil kerja di hadapan teman-temannya untuk melaporkan hasil temuannya yang sekaligus mencocokkan hasil percobaan/pengamatan dengan kelompok yang lain. Peserta didik mampu menjelaskan hasil pengamatan/percobaan dengan baik tanpa ditunjuk oleh guru.

Selain itu, tahap ini melatih keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat atau gagasan di hadapan teman-temannya.

Hasil analisis deskriptif yang didapat pada Posttest lebih besar daripada Pretest karena penggunaan model problem based learning dapat membantu siswa

untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan memudahkan siswa dalam menguasai konsp-konsep yang di pelajari guna memecahan masalah dunia nyata.

Dalam hal ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar fisika kelas XI MIA 5 SMA 9 Makassar sebelum dan setelah diterapkan Model Problem Based Learning(PBL).

Dari hasil analisis N-gain diperoleh peningkatan hasil belajar fisika peserta didik dalam kategori sedang Adapun skor hasil analisis N-gain adalah 0,53 yang memperoleh kategori sedang, hasil analisis ini menggambarkan bahwa setelah diterapkan Model Problem BasedLearning (PBL)dikelas tersebut terjadi peningkatan hasil belajar.

Peningkatan hasil belajar peserta didik dengan menggunakan Model Problem Based Learing (PBL)didukung oleh hasil penelitian teori yang dikemukakan oleh Rusman (2013:123). Hasil belajar adalah ”sejumlah pengalaman yang diperoleh siswa yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik”. Model Problem Based Learning (PBL) merupakan alternatif untuk lebih mengefektifkan peserta didik karena dengan Model pembelajaran ini peserta didik dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir kitis dan mengembangan kemampun mereka untuk menyusaikan dengan pegetahuan baru.

35 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait