Data hasil pengumpulan informasi melalui angket dari sampel ibu rumah tangga diolah dengan memakai persentasi dari jawaban yang diberikan pada setiap item pertanyaan. Dari data dan hasil pengolahan tersebut didapatkan analisis sbb;
1. Pengetahuan ibu rumah tangga sangat tinggi (96%) mengenai definisi sampah rumah tangga, Tapi sangat rendah (43% ) yang mendengar atau mengetahui tentang UU RI No.18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah.
2. Pengetahuan ibu rumah tangga rata-rata sangat tinggi (96.6%) dampak kerugian dari sampah, dimana jika dibuang sembarang dapat mendatangkan penyakit (98,5%), banjir (100%), menimbulkan berbahaya (92,5%), dan merusak keindahan kota (95,3%)
3. Pengetahuan ibu rumah tangga rata-rata sangat tinggi (94.5%) mengenai sampah organik yang mudah terurai (92,5%), Sampah anorganik yang tidak dapat terurai (92%), Sampah debu hasil pembakaran yang berdampak negative terhadap paru-paru (99%), dan pengetahuan ibu rumah tangga sangat rendah (54,3%)tentang sampah berbahaya jenis B3.
4. Pengetahuan ibu rumah tangga rata-rata sangat tinggi (96,3%) tentang sampah bila dikelola dengan baik dapat mempunyai nilai ekonomis.
5. Alasan Ibu rumah tangga melakukan pemisahan sampah antara lain:
a. Sampah organik dapat dijadikan pupuk dan sampah anorganik dapat didaur ulang.
b. Supaya tidak ada bau busuk tidak sedap serta bersih dan rapi. c. Agar gampang dibuang ke TPA atau dibakar
d. Agar sampah kaca dan logam tidak melukai petugas sampah
6. Alasan Ibu rumah tangga yang belum melaksanakan pemilahan sampah rumah tangga antara lain:
a. Tidak ada tempat sampah umum yang terpisah
c. Tidak ada tempat sampah dirumah
d. Tidak jelas penanganan selanjutnya setelah dipisah e. Tidak ada gerobak/becak tempat sampahnya dipisah
f. Tidak ada penyuluhan tentang pemilahan sampah dan tidak tahu kegunaannya
g. Tidak diwajibkan, tidak ada waktu, tidak terbiasa/jijik, dan malas serta tidak ada panutan
h. Tetangga tidak membuang terpisah
i. Sampah-sampah akan tercampur juga TPA
j. Tidak ada jadwal pengambilan terpisah untuk sampah organic dan unorganik k. Tempat sampah tidak terawat
7. Ibu rumah tangga yang belum melaksanakan pemisahan sampah ; 79,5 % menyatakan telah memiliki lebih dari satu tempat sampah dirumahnya
8. 67,9% ibu rumah tangga menyatakan ada petugas yang mengambil sampah di rumahnya dan petugas tersebut adalah; petugas dinas kebersihan (60,9%), petugas yang dibayar melalui Rt/Rw (17,2%), Pemulung (5,8%), dan Petugas dibayar pribadi (16,1%). 9. Petugas mengambil sampah di rumah ibu rumah tangga adalah : setiap hari (34,48%), tiga kali seminggu (15,5%), Dua kali seminggu (17,2%), seminggu sekali (12,9%), dan tidak diambil (19,8%). Sedangkan Ibu rumah tangga mengeluarkan sampah dari rumahnya adalah; setiap hari (80,76%), Tiga kali seminggu (13,84%), dua kali seminggu (3,07%), seminggu sekali (2,3%).
10.Cara pengambilan sampah saat ini menurut ibu rumah tangga adalah; Kurang memadai (52,71%), cukupmemadai (31,78%), sangat memadai (15,5%). Yang perlu dtingkatkan antara lain ; Sarana disediakan (29,22%), pengambilan sampah perlu lebih sering/setiap hari (24,02%), sistem pengumpulannya dipisah antara sampah oeganik dan unorganik (22,07%), petugas diperbanyak (16,88%), peralatanya (7,79%).
11.Keinginan ibu rumah tangga sangat tinggi untuk memilah sampah (92,42%) Jika tempat sampah terpisahkan disediakan , dan menyatakan bersedia memilah sampah organik dan an organik. Dan Keinginan ibu rumah tangga sangat rendah (53,3%) jika membeli tempat sampah khusus/terpisah untuk dirumahnya.
12.Masih sangat rendahnya( 47,1 % )ibu rumah tangga membayar retribusi sampah wajib ke Pemda. Pembayaran yang dilakukan melalui : Rekening PDAM (76,05%), melalui Rt/Rw (9,85%), rekening listrik (8,45%), dan lainnya (5,63%).
13.Ibu rumah rangga membuang sampah sisa makanan/sampah dapur : di Tempat sampah dirumah (60,29%), di luar rumah/tempat sampah umum (37,5%), diberikan kepemulung (0,73%), disumbangkan (1,47%). Sampah berbahan dasar kertas dibuang : di Tempat sampah dirumah (36,23%), di luar rumah/tempat sampah umum (36,23%), diberikan kepemulung (21,73%), disumbangkan (1,47%). Sampah berupa plastic dibuang dibuang : di Tempat sampah dirumah (5,03%), di luar rumah/tempat sampah umum (39,56%), diberikan kepemulung (7,91%), disumbangkan (2,15%). Sampah berupa barang-barang bekas dibuang : di Tempat sampah dirumah (38,84%), di luar rumah/tempat sampah umum (56,11%), diberikan kepemulung (5,03%), disumbangkan (0%). Sampah berupa kain (pakaian,sprai, korde) dibuang : di Tempat sampah dirumah (16,17%), di luar rumah/tempat sampah umum (16,17%), diberikan kepemulung (20,58%), disumbangkan (40,44%).
14.Ibu-ibu rumah tangga keinginannya tinggi (80,46%) untuk melakukan pemilahan sampah rumah tangga tapi tidak pernah ada himbauan untuk melakukannya.
15.Ibu rumah tangga rendah pengetahuannya (62,5%) tentang adanya kegiatan kebersihan lingkungan ditempat tinggalnya. Ini dikarenakan kegiatan tersebut dilakukan : tidak menentu (43,18%), satu bulan sekali (22,47%), satu minggu sekali (13,48%), tiga bulan sekali (10,11%). Tapi keinginan ibu rumah tangga tinggi (80,68%) ikut dalam kegiatan tersebut dan 19,3% menyatakan tidak ikut dengan alasan ; tidak ada waktu karena bekerja (41,66%), telah ada yang mengelola (25%), sudah membayar iuran (16,6%). 16.Menurut ibu rumah tangga yang bertanggungjawab atas kebersihan suatu daerah adalah:
seluruh warga walaupun sudah bayar retribusi (50,03%), Masing-masing warga terhadap lingkungan rumahnya sendiri (40%), pemda kota Padang (5,51%), Rt/Rw ((3,44%). 17.Menurut ibu rumah tangga (87,2%) menyatakan tidak pernah ada penyuluh yang datang
memberikan penyuluhan tentang penanganan sampah yang baik dan penyuluhan tsb sangat tinggi (94,4%) diperlukan ibu rumah tangga tsb dalam bentuk pelatihan (31,8% ),
ceramah (20%.). dan sisanya (12.8%) menyatakan ada penyuluhan tsb dilakukan dalam bentuk ceramah (50,09%) dan pelatihan 31,8%.
18.Penyuluhan penanganan/pengelolaan sampah yang baik menurut ibu rumah tangga : tidak pernah melalui selebaran (86,52%), pernah melalui TV (66,1%), tidak pernah melalui radio (82,25%), tidak pernah (57,02%) melalui koran buku/majalah, tidak pernah melalui internet (79,52).
19.Umumnya 76% ibu rumah tangga belum mendengar/mengetahui tentang program pengelolaan sampah yang disebut metode 3-R (Reduce, Reuse, Recycle, )
20.Pengetahuan ibu rumah tangga pada tingkat sedang (65%) bahwa sampah organik dapat diolah, salah satunya dengan pengkomposan.
21.Sangat rendah (37 %) ibu rumah tangga menanamkan kepada setiap anggota keluarga kebiasaan untuk tidak boros dalam penggunaan barang-barang keseharian.
22.Masih pada tingkat sangat rendah (25 %) ibu rumah tangga mengerti mengenai prinsip reduce dilakukan dengan cara minimisasi barang atau material yang dipergunakan atau dengan kata lain semakin banyak menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.
23.Dalam tingkatan sedang(67%) pengetahuan ibu rumah tangga tentang prinsip reuse yaitu memilih barang-barang yang bisa dipakai kembali. Menghindari pemakaian barang-barang yang sekali pakai. Tapi pada umumnya ibu rumah tangga belum mengetahui bahwa hal itu dapat memeperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
24.Rendah tingkat pengetahuan ibu rumah tangga (60%) tentang prinsip recycle bahwa barang-barang yang sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang.
B. Pembahasan
Dari hasil penelitian tampak bahwa pengetahuan ibu rumah tangga sangat tinggi (96%), untuk memahami apa itu sampah rumah tangga dan jenisnya tapi sangat rendah yang mengetahui bahwa sudah ada UU RI No 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah. Ini artinya kurangnya sosialisasi dari pihak pemerintah khususnya di kelurahan
Jatibaru oleh sebab itu perlu dilakukan sosialisasi yang rutin sehingga masyarakat dapat melaksanakan isi undang2 tsb. Hampir semua ibu rumah tangga sudah mengetahui bahwa membuang sampah sembarangan memberi dampak buruk bagi lingkungan sekitarnya, dan mereka juga sebagian besar (79,5%) sudah memilah sampah dan memiliki tempat sampah lebih dari satu tempat sampah tapi menurut mereka cara pengambilan sampah kurang memadai (52,71%) oleh sebab itu system pemilahan dan pengambilan sampah perlu diperbaiki seperti dikatakan oleh Urip Santoso (2009)” Jadi untuk pemilahan sampah sudah dimulai dari lingkungan yang terkecil di masyarkat yaitu di rumah tangga. Sistem yang dilakukan dapat mengacu pada sistem yang diajukan oleh untuk yang lebih luas yaitu pemda. Pada setiap tempat aktivitas dapat disediakan empat buah tempat sampah yang diberi kode, yaitu satu tempat sampah untuk sampah yang bisa diurai oleh mikrobia (sampah organik), satu tempat sampah untuk sampah plastik atau yang sejenis, satu tempat sampah untuk kaleng, dan satu tempat sampah untuk botol. Malah bisa jadi menjadi lima tempat sampah, jika kertas dipisah tersendiri”.
Ibu rumah tangga pada umumnya masih sebagian yang mempunyai pengetahuan tentang metode 3R, karena dari hasil penelitian pengetahuan ibu rumah tangga berada pada tingkat sedang (65%) bahwa sampah organik dapat diolah, salah satunya dengan pengkomposan.
Sangat rendah (37 %) menanamkan kepada setiap anggota keluarga kebiasaan untuk tidak boros dalam penggunaan barang-barang keseharian. Bahkan masih pada tingkat sangat rendah (25 %) mengerti mengenai prinsip reduce dapat dilakukan dengan cara minimisasi barang atau material yang dipergunakan atau dengan kata lain semakin banyak menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan. Dalam tingkatan sedang(67%) pengetahuan tentang prinsip reuse yaitu memilih barang-barang yang bisa dipakai kembali. Menghindari pemakaian barang-barang yang sekali pakai. Tapi pada umumnya ibu rumah tangga belum mengetahui bahwa hal itu dapat memeperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah. Rendah tingkat pengetahuan ibu rumah tangga (60%) tentang prinsip recycle bahwa barang-barang yang sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Oleh sebab itu memang diperlukan penyuluhan dari pihak yang terkait agar ibu rumah tangga mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pengelolaan
sampah rumah tangga sehingga mereka mendapat pelajaran yang dapt mereka hayati dan terapkan di sekitar kehidupannya. Hal ini memang sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Bloom dalam Subiyanto (1988) “pengetahuan adalah hasil belajar kognitif yang mencakup hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Sedangkan tingkat pengetahuan seseorang dapat diperoleh dari hasil belajar terhadap suatu hal baik dari buku, alam sekitar, orang lain atau pengalaman pribadi.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa pengetahuan Ibu rumah di kelurahan JatiBaru sebagai berikut :
4. Umumnya (96%) ibu rumah tangga sudah mengetahui apa yang dimaksud dengan sampah rumah tangga, Tapi hanya 43% yang mendengar atau mengetahui tentang UU RI No.18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah. Jadi pengetahuan ibu rumah tangga tentang UU RI No.18 tahun 2008 perlu ditingkatkan.
5. Umumnya ibu rumah tangga sudah mengetahui dampak kerugian dari sampah, dimana
jika dibuang sembarang dapat mendatangkan penyakit (98,5%), banjir (100%), menimbulkan berbahaya (92,5%), dan merusak keindahan kota (95,3%)
6. Umumnya ibu rumah tangga sudah mengetahui; Sampah organik yang mudah terurai (92,5%), Sampah anorganik yang tidak dapat terurai (92%), Sampah debu hasil pembakaran yang berdampak negative terhadap paru‐paru (99%), dan sampah berbahaya jenis B3 (54,3%). Jadi pengetahuan ibu rumah tangga tentang sampah berbahaya B3 perlu ditingkatkan.
7. Umumnya ibu rumah tangga sudah mengetahui bahwa sampah bila dikelola dengan baik dapat mempunyai nilai ekonomis (96,3%). Oleh sebab itu bagi mereka penyuluhan tentang pengelolaan sampah oleh pemerintah sangat tinggi (94,4%) diperlukan ibu rumah tangga.
8, Umumnya 76% ibu rumah tangga belum mendengar/mengetahui tentang program pengelolaan sampah yang disebut program 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
9. Masih pada tingkat sangat rendah (25 %) ibu rumah tangga mengerti mengenai prinsip reduce dilakukan dengan cara minimisasi barang atau material yang dipergunakan atau dengan kata lain semakin banyak menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.
10. Dalam tingkatan sedang(67%) pengetahuan ibu rumah tangga tentang prinsip reuse yaitu memilih barang‐barang yang bisa dipakai kembali. Menghindari pemakaian barang‐barang yang sekali pakai. Tapi pada umumnya ibu rumah tangga belum mengetahui bahwa hal itu dapat memeperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
11. Rendah tingkat pengetahuan ibu rumah tangga (60%) tentang prinsip recycle bahwa barang‐barang yang sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang.
B. SARAN
Perlu kiranya lebih mensosialisasikan tentang UU RI No 18 tentang sistem pengelolaan sampah, agar masyarakat khususnya ibu rumah tangga mengetahui dan melaksanakan isi dari undang2 tersebut.
Untuk bisa melaksanakan metode 3R diharapkan pemerintah daerah secara berkala maupun rutin memberikan penyuluhan tentang pengelolaan sampah rumah tangga sehingga masyarakat khususnya ibu rumah tangga memahaminya dan akan mekasanakannya secara swadaya.