Statistik Deskriptif
1) Hasil Belajar IPA
Hasil belajar IPA peserta didik dideskripsikan berdasarkan hasil
pre-test dan post-pre-test. Peserta didik yang telah diberikan perlakuan selanjutnya
diberikan post-test agar peneliti dapat mengetahui seberapa berpengaruhnya peta konsep dalam pembelajaran. Berikut adalah data hasil pre-test, post-test dan pengkategoriannya.
Tabel 4.1 Distribusi Kategori Hasil Belajar IPA Peserta Didik
Kategori
Kelas Eksperimen KelasKontrol
Pre-Test Post-Test Pre-Test Post-Test
Sangat Bagus 0 8 0 2
Bagus 3 10 3 10
Sedang 9 2 10 8
Rendah 7 0 6 0
Sangat Rendah 1 0 1 0
Berdasarkan tabel nilai hasil belajar terlihat bahwa adanya perbedaan hasil nilai antara kelas eksperimen dan kontrol, yaitu kelas eksperimen lebih
tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Begitu pula dengan hasil nilai terendah, kelas kontrol lebih rendah dibandingkan dengan kelas eksperimen. 2) Sikap Sosial
Sikap sosial siswa diperoleh berdasarkan hasil angket sebagai pengukur seberapa tinggi sikap sosial siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas menggunakan peta konsep. Nilai sikap sosial siswa diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan seperti yang ditampilkan dalam tabel berikut.
Tabel 4.2 Distribusi Kategori Sikap Sosial Peserta Didik
Klasifikasi Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Pre Test Post Test Pre Test Post Test
Sangat Baik 4 12 0 9 Baik 13 8 0 9 Cukup 3 0 17 2 Kurang 0 0 3 0
Berdasarkan tabel nilai angket kelas eksperimen dan kelas kontrol jumlah siswa yang mendapat nilai sikap sosial tertinggi pada kelas eksperimen adalah 12 orang sedangkan kelas kontrol hanya 9 orang. Sementara itu nilai terendah pada kelas eksperimen adalah 2,4 sedangkan kelas kontrol adalah 2,2. Berdasarkan hasil nilai sikap sosial siswa tersebut
terlihat bahwa adanya perbedaan antara sikap sosial pada siswa yang diberikan perlakuan yaitu menggunakan peta konsep dengan siswa yang hanya menggunakan metode konvensional saat pembelajaran.
Statistik Inferensial
Uji Prasyarat
Uji Normalitas
Uji normalitas dalam penelitian ini digunakan sebagai prasyarat untuk uji Anacova. Data yang digunakan untuk uji Anacova harus berdistribusi normal. Jika data tidak berdistribusi normal maka uji Anacova tidak dapat dilanjutkan. Suatu distribusi dikatakan normal apabila taraf signifikansinya > 0,05, sebaliknya jika taraf signifikansinya <0,05 maka suatu distribusi dikatakan tidak normal. Untuk menguji normalitas menggunakan uji
kolmogorov-smirnov pada program komputer SPSS.
Hasil Kolmogorov-Smirnov hasil belajar IPA diperoleh signifikansi 0,200 (lampiran 1) yang berarti berada diatas 0,05 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel telah terdistribusi secara normal. Pada sikap sosial Hasil Kolmogorov-Smirnov diperoleh signifikansi 0,200 (lampiran 2) yang berarti berada diatas 0,05 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel telah terdistribusi juga secara normal.
b). Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah data dari hasil penelitian pada kelas eksperimen dan kelas kontrol mempunyai varian yang
sama atau tidak. Dikatakan mempunyai nilai varian yang sama/ tidak berbeda (homogen) apabila taraf signifikansinya yaitu > 0,05 dan jika taraf signifikasinya yaitu > 0,05 maka data disimpulkan tidak mempunyai varian yang sama/ berbeda (tidak homogen).
Dari hasil perhitungan uji homogenitas hasil belajar (lampiran 3) diketahui bahwa nilai signifikasinya 0,430. Karena nilai yang di peroleh dari uji homogenitas taraf signifikasinya > 0,05 maka data mempunyai nilai varian yang sama (homogen). Pada sikap sosial hasil perhitungan uji homogenitas diperoleh signifikasinya 0,125. Karena nilai yang di peroleh dari uji homogenitas taraf signifikasinya > 0,05 maka data mempunyai nilai varian yang sama (homogen).
c). Uji Hipotesis
Hasil Uji Anacova
Uji Anacova merupakan teknik analisis yang berguna untuk meningkatkan persisi sebuah percobaan karena didalamnya dilakukan pengaturan terhadap pengaruh variabel bebas lain yang terkontrol. Uji
anacova dilakukan dengan cara memasukkan variabel independen sebagai covariate metode.
Uji Anacova digunakan untuk mengetahui pengaruh penggunaan peta konsep terhadap hasil belajar dan sikap sosial siswa kelas V SD Islam Pertiwi Nusantara. Hipotesis yang akan diuji berbunyi sebagai berikut:
Ho : tidak ada pengaruh penggunaan Peta Konsep terhadap hasil belajar IPA dan sikap sosial siswa kelas V SD Islam Pertiwi Nusantara Makassar
Ha : ada pengaruh penggunaan Peta Konsep terhadap hasil belajar IPA dan sikap sosial siswa kelas V SD Islam Pertiwi Nusantara Makassar. Adapun dasar pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut:
1) Jika nilai Sig.(2-tailed)> 0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak. 2) Jika nilai Sig.(2-tailed)< 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Tabel 4.3 Tabel Ringkasan Uji Anacova Pengaruh Peta Konsep terhadap Hasil Belajar IPA Peserta Didik
Dependent Variable: Hasil Belajar
Source
Type III Sum of Squares df Mean Square F Sig. Corrected Model 1190.376a 2 595.188 14.044 .000 Intercept 1734.972 1 1734.972 40.939 .000 Kelas 754.776 1 754.776 17.810 .000 Hasilbelajar 217.095 1 217.095 5.123 .030 Error 1568.024 37 42.379 Total 244872.000 40
Corrected Total 2758.400 39
a. R Squared = .432 (Adjusted R Squared = .401)
Dari output diatas terlihat bahwa angka signifikasinya < 0,05 maka Ha diterima. Hal ini berarti bahwa pada tingkat kepercayaan 95% dapat dikatakan ada pengaruh penggunaan peta konsep terhadap hasil belajar IPA kelas V SD Islam Pertiwi Nusantara Makassar.
Tabel 4.3 Tabel Ringkasan Uji Anacova Pengaruh Peta Konsep terhadap Sikap Sosial Peserta Siswa
Dependent Variable: Sikap Sosial
Source
Type III Sum of Squares df Mean Square F Sig. Corrected Model 305.162a 2 152.581 32.216 .000 Intercept 179.311 1 179.311 37.860 .000 kelas 2.662 1 2.662 .562 .458 Sikapsosial 300.599 1 300.599 63.469 .000 Error 175.238 37 4.736 Total 5588.000 40 Corrected Total 480.400 39
Pembahasan
Pengaruh Penggunaan Peta Konsep Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD Islam Pertiwi Nusantara
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada kelas eksperimen yang diterapkan pembelajaran menggunakan peta konsep lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa pada kelas kontrol yang tanpa menggunakan peta konsep. Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa ada pengaruh penggunaan peta konsep terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Islam Pe
a. R Squared = .635 (Adjusted R Squared = .616)
Dari output diatas terlihat bahwa angka signifikasinya < 0,05 maka Ha diterima. Hal ini berarti bahwa pada tingkat kepercayaan 95% dapat dikatakan ada pengaruh penggunaan peta konsep terhadap rtiwi Nusantara Makassar.
Tingginya hasil belajar siswa yang diberikan treatment (perlakuan) berupa penggunaan peta konsep dibandingkan dengan siswa yang tidak diberikan treatment tersebut merupakan manifestasi kelebihan peta konsep itu sendiri. Menurut Sugiyanto (2013) menyatakan bahwa peta konsep
menggunakan pengingat visual sensorik dalam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan untuk belajar, mengorganisasikan, dan merencanakan, peta ini dapat membangkitkan ide-ide orsinil dan memicu ingatan dengan mudah jauh lebih mudah daripada pencatatan tradisional.
Disamping itu penggunaan peta konsep tentunya membawa ketertarikan tersendiri bagi siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Hal ini sesuai dengan gagasan manfaat peta konsep yang telah dibuktikan oleh para ahli bahwa peta konsep melatih mereka membuat peta konsep untuk mengambil sari dari apa yang mereka baca, baik buku teks maupun bacaan-bacaan lain, berarti kita meminta mereka untuk membaca buku itu dengan seksama mereka tidak lagi dikatakan tidak berpikir (Dahar R.W :2011).
Hasil penelitian ini juga telah dibuktikan pada penelitian sebelumnya dimana kecenderungan hasil belajar IPA yang pembelajarannya menggunakan peta konsep termasuk sangat tinggi. Hal ini disebabkan karena penggunaan peta konsep ini dapat meningkatkan keaktifan dan kreatifitas berpikir kritis siswa. Penggunaan peta konsep ini dapat meningkatkan pemahaman siswa karena peta konsep merupakan cara belajar yang mengembangkan proses belajar bermakna, dapat meningkatkan keaktifan dan kreatifitas berpikir kritis siswa, sebagai sarana untuk membiasakan otak berfikir terkonsep dalam segala hal. Oleh karena itu, proses pembelajaran siswa tidak hanya berpusat pada guru namun, siswa dapat mengembangkan konsep yang lebih bermakna dengan kemampuan
berpikir kritisnya sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. (Raisah dan Tias :2017)
Penelitian serupa juga dilakukan dimana setelah Setelah diberikan perlakuan, setiap aspek kognitif penguasaan konsep siswa mengalami peningkatan dengan nilai gain ternormalisasi untuk masing-masing aspek C1, C2, C3, dan C4 untuk kelas eksperimen secara berurutan sebesar 0,456 (sedang), 0,559 (sedang), 0,717 (tinggi) dan 0,541 (sedang). Sedangkan untuk kelas kontrol secara berurutan sebesar 0,330 (sedang), 0,246 (rendah), 0,242 (rendah) dan 0,262 (rendah). N-gain tiap aspek kognitifpada kelas kontrol lebih rendah dibandingkan dengan kelas eksperimen. Hal ini menunjukan bahwa penggunaan peta konsep pada pembelajaran CTL lebih efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dibandingkan pembelajaran CTL tanpa peta konsep. (Padri, Utari, Nurhidayah, dan Permatasar :2012).
Penelitian sebelumnya juga menyatakan bahawa para siswa diajari fungsi dan konstruksi yang tepat dari delapan Peta Pemikiran dan didorong untuk menggunakannya pada berbagai kesempatan setiap hari. Temuan dari Long menunjukkan bahwa ketika siswa membuat Peta Pemikiran, mereka mampu mencapai pemahaman yang lebih besar daripada siswa yang menggunakan strategi mencatat tradisional. Dengan melatih siswa untuk menggunakan Peta Berpikir dengan benar dalam pelajaran sehari-hari mereka, siswa akan memiliki rasa kontrol yang lebih besar terhadap cara
mereka menangani materi kelas dan memberikan strategi bagi organisasi yang akan memungkinkan mereka untuk membentuk hubungan yang bermakna dengan konten.
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil dari penelitian ini adalah ada pengaruh penggunaan peta konsep terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V SD Islam Pertiwi Nusantara.
Pengaruh Penggunaan Peta Konsep Terhadap Sikap Sosial Siswa Kelas V SD Islam Pertiwi Nusantara
Sebagaimana diulas sebelum ini bahwa sikap sosial merupakan pembentukan peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab sebagai perwujudan eksistensi kesadaran dalam upaya mewujudkan harmoni kehidupan. Terdapat beberapa nilai di dalam sikap sosial ini, yaitu: jujur, disiplin, tanggung jawab, dan percaya diri.
Hasil analisis deskriptif menunjukkan sikap sosial siswa pada kelas eksperimen yang diterapkan pembelajaran menggunakan peta konsep lebih tinggi dibandingkan dengan sikap sosial siswa pada kelas kontrol yang tanpa menggunakan peta konsep. Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa ada pengaruh penggunaan peta konsep terhadap sikap sosial siswa kelas 5 SD Islam Pertiwi Nusantara.
Hal ini berdasarkan tabel nilai sikap sosial siswa (table ringkasan
anacova) terlihat bahwa adanya perbedaan hasil nilai sikap sosial antara
peta konsep, dimana nilai sikap sosial kelas yang menggunakan peta konsep lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang tidak menggunakan peta konsep.
Siswa memperoleh pengalaman langsung saat proses pembelajaran. Apabila siswa mendapatkan pengalaman langsung saat proses pembelajaran, maka siswa akan lebih mudah untuk menemukan gaya belajarnya sendiri serta siswa lebih mudah memahami materi yang dijelaskan. Dengan adanya pengalaman langsung ini, interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa akan terlihat jelas. Interaksi yang terjadi ini akan mendorong siswa untuk termotivasi untuk belajar sehingga mempengaruhi terhadap sikap sosial yang muncul saat proses pembelajaran. Jika siswa memiliki sikap sosial yang tinggi, maka ia mampu meningkatkan hasil kompetensi pengetahuan yang diperoleh siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Azwar (2003) yang menyatakan bahwa sikap sosial itu muncul dari pengalaman langsung yang dialami oleh siswa dan sikap sosial siswa tersebut muncul karena adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu tersebut. Apabila pembelajaran sudah terjadi dalam suasana yang menyenangkan dan pada saat pembelajaran siswa terlibat secara langsung maka pembelajaran tersebut menjadi bermakna bagi siswa dan dengan pengalaman langsung yang dimiliki oleh siswa memudahkan siswa untuk memahami materi yang dijelaskan dan mempengaruhi sikap sosial yang
dimiliki. Hal ini ini tentunya mempengaruhi terhadap sikap sosial yang terbentuk dan kompetensi pengetahuan siswa menjadi lebih optimal.
Peta pikiran memberikan kesempatan siswa untuk bertanggung jawab akan tugas yang diberikan, jujur dan disiplin dalam menyelesaikan permasalaha serta percaya diri mempersentasikan hasilnya didepan kelas. Kegiatan ini tentunya mampu menumbuhkan sikap sosial siswa dan juga mempengaruhi proses pembelajaran serta hasil pembelajaran yang diperoleh siswa, sehingga berpengaruh terhadap kognitif siswa.
Melalui peta konsep siswa memahami materi dengan mudah, karena dalam peta konsep berisi garis yang berlekuk-lekuk dan menjadi kata kunci dalam materi. Selain itu peta pikiran yang dibuat dengan menggunakan gambar dan warna yang berbeda-beda dapat menarik perhatian siswa untuk belajar. Apabila sudah terjadi ketertarikan dengan proses pembelajaran ini mempengaruhi terhadap hasil pembelajaran yang diperoleh siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Windura (2016), peta konsep adalah salah satu teknik mencatat yang mengembangkan gaya belajar visual sehingga memudahkan siswa belajar. Sependapat dengan itu, Wardani (dalam Yuliani, Margunayasa, dan Parmiti, 2017) yang menyatakan bahwa peta konsep adalah cara untuk mempermudah siswa agar memahami konsep-konsep yang dipelajari oleh siswa. Dengan demikian, peta pikiran inidapat menumbuhkan sikap sosial siswa dan juga meningkatkan kompetensi pengetahuan siswa.
Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penerapan pembelajaran dengan model pembelajaran STAD dengan menggunakan peta konsep dan model pembelajaran STAD tanpa menggunakan peta konsep dengan tinggi rendahnya perilaku sosial siswa terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IV SD 064020 Medan Sunggal Tahun Pelajaran 2015/2016. (Taringan,J.E. 2016)
Hasil penelitian serupa juga menunjukkan bahwa metode peta konsep secara efektif meningkatkan keterampilan sosial siswa dalam studi sosial belajar di kelas empat sekolah dasar, dengan pencapaian 2 indikator yaitu; (1) peningkatan keterampilan sosial siswa di kategori sedang minimum berdasarkan tes N-Gain di kelas eksperimen. Hasil tes N-Gain di kelas eksperimen adalah 0,32 yang diklasifikasikan ke dalam kategori sedang; dan (2) skor rata-rata untuk konsep pemetaan dalam kategori minimum, sedang. Hasil rata-rata pembuatan pemetaan konsep oleh siswa adalah 78% dalam kategori tinggi. Hasil tes N-Gain di kelas eksperimen adalah 0,32 yang diklasifikasikan ke dalam kategori sedang; dan (2) skor rata-rata untuk konsep pemetaan dalam kategori minimum, sedang. Hasil rata-rata pembuatan pemetaan konsep oleh siswa adalah 78% dalam kategori tinggi. (Setyowati, D., Samsudi & Tri Raharjo, T.J. 2020).
BAB V