• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: Sulfa

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A Tatacara penyelesaian Perceraian

Perkawinan yang melaksanakan

Perkawinan di Bawah Tangan Menurut

Hukum Adat Muna di Kecamatan

Tongkuno Selatan

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian (2010) diperoleh data bahwa penyelesaian perceraian perkawinan bagi pasangan suami isteri yang menikah di bawah

tangan di Kecamatan Tongkuno Selatan

diselesaikan melalui tokoh adat. Tetapi sebelum perceraian tersebut di proses oleh tokoh adat, maka orang tua kedua belah pihak melakukan mediasi. Adapun tujuan dari mediasi ini untuk menjegah terjadinya perceraian perkawinan. Namun, apabila mediasi ini tidak berhasil dan tetap dilanjutkan dengan perceraian, maka kedua belah pihak atau salah satunya dapat menempuh cara-cara sebagai berikut:

a. Tahap Peloporan: Salah satu pihak melaporkan kejadian yang dialami dalam rumah tangga kepada tokoh adat

Setelah adanya aduan atau laporan dari salah satu pihak yang akan melakukan perceraian tersebut, maka tokoh adat mempersilahkan untuk menjelaskan masalah yang dihadapi oleh salah satu pihak yang akan bercerai. selanjutnya tokoh adat memberikan saran atau nasihat pada salah satu pihak atau keduanya yang ingin bercerai. Setelah itu tokoh adat mempersilahkan pihak terlapor untuk kembali ke rumahnya dan menunggu panggilan selanjutnya.

Pada tahap ini, tokoh adat tidak secara langsung mempercayai aduan atau laporan dari salah satu pihak. Untuk mencek kebenaran dari laporan atau kata-kata yang melaporkan kejadian yang dialami dalam rumah tangga biasanya tokoh adat segera menemui orang tua terlapor. Di samping itu, tokoh adat mencari tahu kejadian yang sesungguhnya lewat para tetangga terlapor atau siapapun yang mengetahui kejadian itu. Setelah tokoh adat menemui orang tua terlapor dan mendengarkan secara langsung bahwa betul kedua belah pihak sedang mengalami masalah dalam rumah tangga dan sebelumnya keluarga pernah dilakukan mediasi oleh keluarga kedua belah pihak, namun tidak ada titik temu dalam menyelesaikan masalah tersebut maka pihak keluarga kedua belah pihak menyerahkan kepada tokoh adat untuk menyelesaikannya.

b. Tahap Pemanggilan: Ketua adat

memanggil kedua belah pihak yang ingin bercerai

Setelah tokoh adat memastikan kebenaran apa tang dilaporkan oleh salah satu pihak yang ingin bercerai, selanjutnya tokoh adat mengumpulkan dan memanggilkan kedua belah pihak yang ingin bercerai serta para petuah lainnya. Fungsi tokoh adat disini adalah memandu

serta memberikan pendapat dan nasihat

sehubungan dengan masalah penyelesaian

perceraian perkawinan tersebut.

Dalam pertemuan ini, salah seorang yang dituakan dari pihak atau pasangan yang ingin bercerai mengutarakan kembali tujuan mereka berkumpul, di mana secara tidak langsung

60 menjelaskan apa yang telah terjadi dalam rumah tangga tersebut. Selanjutnya tokoh adat menentukan kapan dan dimana persidangan akan dilakukan. Biasanya persidangan tersebut dilakukan di tempat pihak yang tergugat dalam hal ini yang dituntut untuk bercerai. Namun agar proses persidangan berlangsung aman dan lancar maka persidangan dilakukan di rumah tokoh adat dengan membayar beberapa persyaratan yang dinyatakan dalam bentuk sumbangan kepada tokoh adat tersebut.

c. Tahap Persidangan untuk pengambilan keputusan

Hasil penuturan informan (2010) bahwa pada tahap persidangan ini dilakukan setelah batas waktu yang telah ditentukan dan disepakati oleh tokoh adat serta pihak keluarga dari kedua belah pihak. Dalam tahap persidangan dipimpin oleh salah seorang tokoh adat (ketua adat) dan sidang dilakukan secara terbuka di mana pasangan yang akan bercerai dipertemukan beserta keluarga mereka. Selain itu, kedua pasangan yang akan bercerai tersebut duduk terpisah dengan didampingi oleh kerabatnya masing-masing.

Kemudian Tokoh adat mulai membuka

persidangan.

Selanjutnya, Pemangku adat

mempersilahkan pasangan yang akan bercerai tersebut untuk menjelaskan masalah yang dihadapi dalam rumah tangga mereka dalam hal ini faktor yang menyebabkan terjadinya permasalahan ini. Kemudian Pemangku adat mempersilahkan parah ketua adat lainnya untuk menanggapi alasan-alasan dari pasangan tersebut. Maka tokoh adat yang lainnya mulai menanggapi alasan-alasan pasangan tersebut.

Disini biasanya terjadi pertengkaran dan perang mulut untuk membenarkan alasan mereka

masing-masing, namun untuk menghargai

pemangku adat dan tokoh adat lainnya serta pihak keluarga, hal ini dapat diatasi. Pemangku Adat serta Tokoh Adat lainnya mulai membadingkan bagaimana hasil dari persidangan tersebut, dalam hal in siapa yang benar dan siapa yang salah. Untuk hal tersebut tidak ada pula yang ditunjuk seorang saksi untuk menjelaskan bagaiamana sebenarnya peristiwa itu terjadi. Selanjutnya, Pemangku Adat mempersilahkan Imam Mesjid

untuk memberikan saran-saran ataupun nasihat- nasihat.

Setelah selesai Imam Mesjid memberikan saran-saran dan nasihat-nasihat, selanjutnya pemangku adat mempersilahkan kedua belah pihak untuk mengajukan bukti dan saksi. Setelah tokoh adat mendengarkan informasi dari kedua saksi bahwa betul apa yang diperbuat suami ataupun isteri yang menyebabkan salah satu pihak mengadu kepada salah satu tokoh adat untuk bercerai dan melihat bukti yang ada serta adanya keinginan besar dari salah satu pihak untuk bercerai, maka tokoh adat secara langsung memutuskan perceraian.

Selanjutnya Pemangku adat memberikan

kesempatan kepada kepala desa untuk

memberitahukan kemungkinan-kemungkinn apa akan terjadi setelah perceraian ini. Sebagai pemerintah, maka kepala desa mengharapkan kedua belah pihak untuk saling menjaga nama baik dan jangan karena perceraian menjadikan hubungan kekerabatan diantara kedua belah pihak menjadi retak. Berikut ini gambar skema suasana pelaksanaan sidang perceraian perkawinan di hadapan tokoh adat kecamatan Tongkuno Selatan.

Berdasarkan skema di atas menunjukan bahwa suasana ruang sidang masing-masing telah duduk pemangku adat sebagai ketua sidang didampingi tokoh adat lainnya dan Imam Mesjid. Selain itu juga dihadiri oleh Kepala Desa/Kepala Kampung, kehadiran mereka untuk mendengarkan keterangan dari yang berperkara. Di tengah-tengah suami dan kerabatnya serta isteri dan kerabatnya, duduk saksi-saksi kedua belah pihak untuk memberikan keterangannya dalam memperlancar

Tokoh Adat Lainnya (2) Pemang ku Adat (1) Imam Mesjid (3) Kepala Desa/ Kampung (4) Suami dan Kerabat (5) Saksi-Saksi (6) Isteri dan Kerabat (5)

61 tatacara penyelesaian perceraian perkawinan menurut adat Muna. Adapun fungsi Pemangku adat, tokoh adat lainya, Imam Mesjid, kepala Desa dan para Saksi yaitu sebagai berikut:

1. Pemangku adat berfungsi sebagai

pemandu dalam persidangan.

2. Tokoh adat lainya berfungsi memberikan, saran, masukan selama proses persidangan berlangsung serta ikut menyaksikan perceraian oleh kedua belah pihak

3. Iman Mesjid berfungsi memberikan nasihat-nasihat agar perceraian itu tidak akan terjadi.

4. Kepala Desa berfungsi mengingatkan kedua belah pihak agar memperhatikan kewajibanya terhadap anak ataupun hal- hal yang akan terjadi nanti.

5. Saksi berfungsi untuk memberikan kesaksian sesuai yang diketahui pasangan suami-isteri dari permasalahan rumah tangga.

6. Kerabat kedua belah pihak berfungsi

untuk memberikan dukungan moril

terhadap pasangan yang akan bercerai. B. Faktor Penyebab Perceraian Perkawinan

Bagi Pasangan Suami Isteri Yang Menikah di Bawah Tangan

Sebagaimana telah dijelaskan terdahulu bahwa responden dalam penelitian ini sebanyak 22 orang yang terdiri dari 11 orang isteri dan 11 orang suami. Oleh Karena itu untuk kepentingan analisis data harus dibahas dari dua pihak yaitu penyebab perceraian menurut isteri dan menurut suami yaitu sebagai berikut ini.

1. Alasan Isteri bercerai dengan Suami

Sesuai hasil penelitian (angket 2010) terhadap 11 orang bekas isteri yang melaksanakan perkawinan di bawah tangan diperoleh data bahwa faktor penyebab atau alasan bercerai dengan suaminya sebagai berikut;

Tabel 1. Alasan Istri bercerai dengan suami

No. Faktor penyebab perceraian F (%)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7

Suami sering mabuk dan berjudi

Ditinggalkan selama 2 tahun berturut-turut Suami suka menganiaya

Terjadi perselisihan terus menerus

Suami menyimpan uang sendiri/turut mencampuri urusan rumah tangga Karena suami tidak memberikan nafkah / jaminan hidup

Karena suami kawin tanpa disetujui isteri pertama

3 1 2 1 1 2 1 27,27 9,09 18,18 9,09 9,09 18,18 9,09 Jumlah 11 100,00

Data di atas menunjukan bahwa sebagian besar dbekas isteri 27,27% yang bercerai dengan suaminya disebabkan atau alasan karena suami mereka sering mabuk dan berjudi. Menyusul alasan karena suami suka menganiaya, suami tidak memberikan nafkah / jaminan hidup masing- masing terdapat 18,18%. Sedangkan faktor penyebab lainnya (ditinggalkan selama 2 tahun berturut-turut, terjadi perselisihan terus-menerus,

suami menyimpan sendiri uangnya/turut

mencampuri urusan dapur, karena suami kawin tanpa disetujui isteri pertama) masing-masing terdapat 9,09%.

2. Alasan Suami Menceriakan Isteri

Sesuai dengan hasil penelitian terhadap 11 orang suami yang telah bercerai dengan isterinya diperoleh data bahwa faktor penyebab atau alasan suami menceraikan isterinya dari pasangan suami- isteri yang melaksanakan perkawinan di bawah tangan di Kecamatan Tongkuno Selatan sebagai berikut;

62 Tabel 2. Alasan Suami bercerai dengan Istri

No Pernyataan responden (suami) F (%)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Kebahagian dalam keluarga sulit dicapai

Karena isteri mempunyai sifat yang tidak cocok

Isteri tidak patuh pada perintah suami yang menjadi kewajibanya sebagai ibu rumah tangga

Isteri sering meniggalkan rumah tanpa sepengetahuan suami Isteri tidak memperhatikan urusan dalam keluarga

Karena isteri suka berfoya-foya

Karena isteri tidak mau berpisah dengan orang tuanya Karena isteri tidak lagi mencintai suami

Karena isteri tidak dapat memberikan keturunan

1 1 2 1 1 1 1 1 2 9.09 9,09 18,18 9,09 9,09 9,09 9,09 9,09 18,18 Jumlah 11 100,00

Data di atas menunjukkan bahwa masing- masing 18,18 % suami yang bercerai dengan isterinya disebabkan karena alasan isteri tidak patuh pada perintah suami dalam menjalankan kewajibanya sebagai ibu rumah tangga dan serta karena isteri tidak dapat memberikan keturunan. Menyusul masing-masing 9,09 % yang bercerai dengan isteri karena kebahagiaan dalam keluarga sulit dicapai, karena isteri mempunyai sifat yang tidak cocok, isteri sering meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan suami, isteri tidak memperhatikan urusan dalam keluarga, isteri suka berfoya-foya, karena isteri tidak mau berpisah dengan orang tuanya, dan karena isteri tidak lagi mencintai suami.

PENUTUP

1. Tatacara penyelesaian percerain perkawinan bagi pasangan suami isteri yang menikah di bawah tangan melalui tokoh adat dapat ditempuh dengan cara-cara yang berbeda

dengan perceraian perkawinan yang

dilakukan melelalui keputusan pengadilan. Penyelesaian perceraian perkawinan di bawah tangan ini hanya dilakukan dengan prosedur salah satu pihak melaporkan kejadian yang dialami dalam kehidupan rumah tangga kepada Pemangku Adat, kemudian Pemangku Adat memanggil kedua belah pihak yang ingin bercerai atau keluarganya, dilanjutkan dengan tahap persidangan dengan dihadiri tokoh adat untuk pengambilan keputusan perceraian.

2. Faktor penyebab perceraian perkawinan bagi pasangan suami isteri yang menikah di bawah tangan di Kecamatan Tongkuno Selatan adalah sebagai berikut: Dari pihak isteri, faktor penyebab atau alasan yang paling mendasar bercerai dengan suami karena suami sering mabuk dan berjudi. Dari pihak suami: faktor penyebab atau yang menjadi alasan mendasar bercerai dengan isterinya karena kebahagiaan dalam keluarga sulit dicapai bahwa isteri memiliki sifat yang tidak baik yaitu isteri tidak patuh pada perintah suami, isteri sering meninggalkan

rumah tanpa sepengetahuan suami.

Perceraian perkawinana ini terjadi kerana pasangan suami isteri selama berumah tangga tidak mendapatkan kehidupan yang bahagia selama berumah tangga.

DAFTAR PUSTAKA

A. Rauf. Tarimana. 1993. Kebudayaan Tolaki. Balai Pustaka. Jakarta.

Affandi Ali, 1986. Hukum Waris, Hukum Keluarga, dan Hukum Pembuktian, Bina Aksara, Jakarta.

Alimin, 1986. Kedudukan Tokoh Adat Dalam Menyelesaikan Sengketa Perdata di Kabupaten Kendari. Skripsi, Universitas Veteran Republik Indonesia. Unjung Pandang (Skripsi, tidak dipublikasikan). Burhanuddin, dkk. 1984. Dampak modernisasi

terhadap hubungan kekerabatan di SULTRA, Depdikbud, SULTRA.

Bushar Muhamad, 1988. Asas-Asas Hukum Adat Suatu Pengantar, Pradya Paramita, Jakarta

63 Djoko Prakoso dan I Ketut Murtika, 1987. Asas-Asas

Perkawinan di Indonesia, Bina Aksara, Jakarta.

Hilman Hadikusuma, 1995. Hukum Perkawinan Adat, Citra Aditya Bakti, Bandung.

__________, 2003. Hukum Perkawinan Indonesia, Menurut Perundangan, Hukum Adat, Hukum Agama, Mandar Maju, Bandung.

M. Thalib, 1997. Penyebab Perceraian dan Penangulanganya, Irsyad Baitus Salam (IBS), Bandung.

Majalah Inti Jaya, 2000. Perkawinan di Bawah Tangan, Jakarta.

Nani Suwondo, 1984. Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum Masyarakat Adat, Ghalia, Indonesia.

Poesponoto Soebakti, 1987. Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat, PT. Pradya Paramitha, Jakarta. Soemiyati, 1982. Undang-Undang Perkawinan Nomor.

1 Tahun 1974, Liberty, Yogyakarta. Soerjono Soekanto, 1984. Hukum Adat Indonesia Sorojo Wignjodipoero, 1985. Hukum Keluarga Indonesia, UI, Press, Jakarta

Teer Haar, 1987. Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat Pradya Paramida, Jakarta.

64