• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Analisis Data Penelitian Persiklus

Penelitian ini dilakukan selama 2 siklus/putaran dan masing-masing siklus dilaksanakan selama 3 x pertemuan. Jadi penelitian ini dilaksanakan selama 8x pertemuan di mana pada pertemuan ke-4 dan ke-8 yang dilakukan adalah hanya tes formatif untuk memperoleh nilai siswa sehingga untuk mengukur keberhasilan PTK ini. Masing-masing siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.

Siklus I

Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.

Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I pertemuan I dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2017,pertemuan II tanggal 9 Maret 2018, dan pertemuan III tanggal 13 Maret 2017 di Kelas VIII B SMP N 1 Rantau Pulung dengan jumlah siswa 28 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru.

Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pada pertemuan I dan II ini jumlah siswa yang masuk sebanyak 28 siswa (100%) , dan pada pertemuan III siswa yang hadir 100%.

Pada akhir proses belajar mengajar siklus I siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut: Rata-rata nilai siswa adalah 68,75,jumlah siswa yang mencapai nilai tuntas adalah 17 siswa,prosentase ketuntasan 60,75% masih jauh dari yang diharapkan yaitu 75%.

Mengingat dalam penelitian ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan guru, maka pada tahap pengamatan (observasi) aktivitas belajar siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung dipantau oleh peneliti dan dibantu oleh salah seorang pengamat dengan menggunakan pedoman lembar observasi aktivitas siswa. Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS mengenai materi tindakan sifat dan bentuk interaksi soaial pada siklus I masih kurang, hal ini dapat terlihat pada tabel kegiatan siswa di bawah ini.

Tabel 1. Aktivitas Siswa pada Siklus I

No Aktivitas siswa Persentase (%)

Pertemuan.1 Pertemuan.2

1 Mengajukan pertanyaan 10,71 19,23

2 Menanggapi respon siswa 10,71 23,08

3 Menjawab pertanyaan guru 17,86 23,08

4 Memperhatikan penjelasan guru 71,43 100

5 Diskusi kelompok 60,71 80,46

6 Diskusi kelas 53,57 84,61

33 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 34, April 2019

Siklus II

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus I,maka pada siklus II ini peneliti berusaha memperbaiki hal-hal- yang dianggap bias mempengaruhi prestasi belajar siswa sehubungan dengan proses belajar mulai dari perencanaan sampai tindakan. Siswa Siklus II ini dilaksanakan dengan 3 kali pertemuan dan diakhir pertemuan diadakan tes.

Tahap perencanaan

Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan pada tanggal 23, 27, dan 30 Maret 2017.

Sebelum melaksanakan tindakan perbaikan, dilakukan persiapan terakhir.

Langkah awal dalam perencanaan adalah peneliti memeriksa RPP yang telah disusun, dibaca ulang, mencermati setiap butirnya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah semua perencanaan harus dimatangkan dan saran prasarana dipersiapkan dengan baik agar kegiatan PBM tidak menemukan hambatan yang dapat menganggu proses penyusunan PTK ini.

Pelaksanaan Tindakan

Dalam pertemuan 1, 2, dan 3 ini siswa yang hadir 100%, guru melaksanakan penelitian dengan tetap mengacu pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sudah dibuat. Guru juga mengadakan observasi selama prose pembelajaran berlangsung ,aspek-aspek yang diamati dapat dilihat pada table observasi di bawah ini.Adapun langkah –langkah kegiatan yang dilakukan selama siklus II ini sebagai berikut:

1. Guru membuka pelajaran dengan member salam dan memeriksa kehadiran siswa

2. Guru menyampaikan topik dan tujuan pembelajaran.

3. Guru menjelaskan materi hari secara singkat dan menjelaskan cara kerja berdasarkan model discovery learning.

4. Guru membentuk kelompok belajar dan memberikan soal latihan berupa lembar kerja siswa yang dapat dikerjakan secara kelompok.

5. Guru berkeliling mengawasi dan memberi bimbingan kepada siswa yang kurang mengerti.

6. Setelah cukup diberi waktu 30 menit guru bersama siswa membahas soal latihan dengan cara menunjuk kelompok untuk memaparkan di depan kelas, dengan bimbingan guru siswa lain mencocokkan hasil kerjanya.

7. Selesai membahas latihan- latihan soal, guru menanyakan pada siswa soal- soal manakah yang belum dipahami ataupun yang sudah dikuasai oleh siswa.

8. Guru member motivasi belajar kemudian menutup pelajaran hari ini.

Tahap Pengamatan (observasi)

Observasi dilakukan sebagaimana pada siklus I, yaitu pada tahap pengamatan (observasi), aktivitas siswa selama proses pembelajaran dipantau langsung oleh peneliti dan dibantu oleh salah seorang pengamat dengan menggunakan pedoman lembar observasi aktivitas siswa. Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS mengenai materi sifat dan bentuk interaksi sosial dalam masyarakat dengan menggunakan pada siklus II sudah baik, hal ini terlihat dalam beberapa aspek penilaian aktivitas belajar siswa.

34

BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 34, April 2019

Tabel 2. Aktivitas Siswa pada Siklus II

No Aktivitas Siswa Persentase (%)

Pertemuan 1 Pertemuan 2

1 Mengajukan pertanyaan 50,00 67,86

2 Menanggapi respon siswa 9,29 78,57

3 Menjawab pertanyaan guru 46,43 57,14

4 Memperhatikan penjelasan guru 7,14 100

5 Diskusi kelompok 82,14 92,85

6 Diskusi kelas 89,29 92,85

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrument yang digunakan adalah tes formatif II.

Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut: jumlah siswa yang memperoleh nilai tuntas adalah 23 dari 28 jumlah siswa kelas 8B ,nilai rata-rata prestasi belajar yang dicapai adalah 74,21,prosentase ketuntasan 82,4%.Ini artinya bahwa ketuntasan belajar sudah tercapai.

Peningkatan hasil belajar siswa ini karena siswa sudah mulai akrab dengan pengajaran menggunakan model discovery learning, disamping itu ada perasaan senang pada diri siswa dengan adanya cara belajar yang baru karena para siswa sudah mulai percaya diri dan bisa menguasai keadaan sehingga mereka bisa mendemonstrasikan monolog pendek berbentuk procedure dengan baik.

Tabel 3. Perbandingan Hasil Belajar

Tes awal Siklus 1 Siklus 2

Rata-rata 59,47 68,75 74,21

Ketuntasan 10 murid 17 siswa 23 siswa

Prosentase 33,34% 60,71% 81,14%

KKM 70 70 70

Target 75% 75% 75%

KESIMPULAN

Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Pada siklus I, dengan menerapkan pengajaran melalui model discovery learning diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 68,75 dan ketuntasan belajar mencapai 60,71% atau ada 17 siswa dari 28 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 sebesar 60,71% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 75%. Hal ini disebabkan karena siswa masih canggung dengan diterapkannya pengajaran melalui media gambar

2. Pada siklus II, diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 74,21 dan ketuntasan belajar mencapai 81,14%% atau ada 23 siswa dari 28 siswa sudah

35 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 34, April 2019

tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah tercapai.

SARAN

Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar Bahasa Ingris lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut:

1. Untuk melaksanakan pengajaran IPS memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan model discovery learning dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.

2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran yang sesuai, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemuan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 1990. Evaluasi Instruksional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta: RinekaCipta.

Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Dimyati, Mujiyono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Direktorat Pembinaan SMP. 2006. Pengembangan Media Pembelajaran. Dirjen Manajemen

Dikdasmen, Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar. 2007. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

36

BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 34, April 2019

37 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 34, April 2019

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI