• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Deskriptif

Kinerja keuangan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data kinerja keuangan dari perusahaan manufaktur pada sektor industri pertanian dan sektor industri barang kosumsi, yang dipublikasikan pada periode tahun 2010 – 2013. Laporan keuangan yang telah dipublikasikan bisa diartikan bahwa perusahaan tersebut telah terdaftar dalam BEI (Bursa Efek Indonesia) sehingga pemangku kepentingan yang bisa mengetahui kondisi keuangan secara transparan dan telah diaudit oleh pihak berwenang. Penggunakan data pada periode tahun 2010 – 2013 dikarenakan periode tersebut merupakan periode yang paling mendekati dan tebaru untuk dilakukan penelitian. Variabel kinerja keuangan dihitung dengan menggunakan rasio profitabilitas, yang meliputi Return On Asset

(ROA), Return On Equity (ROE), Gross Profit Margin (GPM), Operating Profit Margin (OPM) dan Net Profit Margin (NPM). Data yang diambil, selanjutnya diolah dengan menggunakan Ms. Excel sebagai berikut:

1. Rata-rata Rasio Profitabilitas Sektor Industri Pertanian pada Tahun 2010 – 2013

Tabel 4. 1

Rata-rata Rasio Profitabilitas Sektor Industri Pertanian Tahun 2010 – 2013

No. Tahun Rasio Rata-Rata Rasio

1 2010 ROA 10,07 ROE 14,33 GPM 28,76 OPM 14,61 NPM 12,32 2 2011 ROA 10,45 ROE 14,71 GPM 19,60 OPM -8,77 NPM -7,96 3 2012 ROA 8,09 ROE 11,77 GPM 19,43 OPM -5,56 NPM 3,55 4 2013 ROA 3,74 ROE 6,01 GPM 15,54 OPM -3,97 NPM -4,70

Sumber: data diolah (2015)

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui nilai rata-rata rasio profitabilitas perusahaan manufaktur sektor industri pertanian pada tahun 2010-2013. Pada tahun 2010 Return on Asset (ROA) sebesar 10.07, rata-rata Return on Equity (ROE) sebesar 14.33, rata-rata Gross Profit Margin

(GPM) sebesar 28.76, rata-rata Operating Margin (OPM) sebesar 14.61, dan rata-rata Net Profit Margin (NPM) sebesar 12.32.

Pada tahun 2011 Return on Asset (ROA) sebesar 10.45, rata-rata

Return on Equity (ROE) sebesar 14.71, rata-rata Gross Profit Margin

(GPM) sebesar 19.60, rata-rata Operating Margin (OPM) sebesar -8.77, dan rata-rata Net Profit Margin (NPM) sebesar -7.96.

Pada tahun 2012 Return on Asset (ROA) sebesar 8.09, rata-rata

Return on Equity (ROE) sebesar 11.77, rata-rata Gross Profit Margin

(GPM) sebesar 19.43, rata-rata Operating Margin (OPM) sebesar -5.56, dan rata-rata Net Profit Margin (NPM) sebesar 3.55.

Pada tahun 2013 Return on Asset (ROA) sebesar 3.74, rata-rata

Return on Equity (ROE) sebesar 6.01, rata-rata Gross Profit Margin

(GPM) sebesar 15.54, rata-rata Operating Margin (OPM) sebesar -3.97, dan rata-rata Net Profit Margin (NPM) sebesar -4.70.

Berdasarkan tabel di atas, penurunan rata-rata rasio profitabilitas pada industri pertanian disebabkan lahan pertanian yang semakin menyusut dari tahun ke tahun. Penyusutan lahan tersebut disebabkan adanya konversi lahan pertanian yang dijadikan sektor industri dan perumahan. Penduduk Indonesia sebanyak 250 juta jiwa sudah pasti sangat membutuhkan sandang, pangan dan kebutuhan pelengkap lainnya.

2. Rata-rata Rasio Profitabilitas Sektor Industri Barang Konsumsi pada Tahun 2010 – 2013

Tabel 4. 2

Rata-rata Rasio Profitabilitas Sektor Industri Barang Konsumsi Tahun 2010 – 2013

No. Tahun Rasio Rata-Rata Rasio

1 2010 ROA 10,65 ROE 16,69 GPM 35,00 OPM 9,00 NPM 7,00 2 2011 ROA 11,05 ROE 18,72 GPM 35,23 OPM 9,76 NPM 7,57 3 2012 ROA 10,90 ROE 19,80 GPM 35,20 OPM 8,80 NPM 7,60 4 2013 ROA 11,29 ROE 17,94 GPM 35,75 OPM 7,68 NPM 7,40

Sumber: data diolah (2015)

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui nilai rata-rata rasio profitabilitas perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi pada tahun 2010-2013. Pada tahun 2010 Return on Asset (ROA) sebesar 10.65, rata-rata Return on Equity (ROE) sebesar 16.69, rata-rata Gross Profit Margin (GPM) sebesar 35.00, rata-rata Operating Margin (OPM) sebesar 9.00, dan rata-rata Net Profit Margin (NPM) sebesar 7.00.

Pada tahun 2011 Return on Asset (ROA) sebesar 11.05, rata-rata

Return on Equity (ROE) sebesar 18.72, rata-rata Gross Profit Margin

(GPM) sebesar 35.23, rata-rata Operating Margin (OPM) sebesar 9.76, dan rata-rata Net Profit Margin (NPM) sebesar 7.57.

Pada tahun 2012 Return on Asset (ROA) sebesar 10.90, rata-rata

Return on Equity (ROE) sebesar 19.80, rata-rata Gross Profit Margin

(GPM) sebesar 35.20, rata-rata Operating Margin (OPM) sebesar 8.80, dan rata-rata Net Profit Margin (NPM) sebesar 7.60.

Pada tahun 2013 Return on Asset (ROA) sebesar 11.29, rata-rata

Return on Equity (ROE) sebesar 17.94, rata-rata Gross Profit Margin

(GPM) sebesar 35.75, rata-rata Operating Margin (OPM) sebesar 7.68, dan rata-rata Net Profit Margin (NPM) sebesar 7.40.

Berdasarkan tabel di atas, terjadi fluktuasi pada rata-rata rasio profitabilitas sektor industri barang konsumsi. Hal tersebut disebabkan karena kebijakan pemerintah tentang kenaikan harga BBM dan inflasi. Kenaikan BBM juga menyebabkan kenaikan harga barang pokok dan konsumsi secara bersama. Pengeluaran yang biasa dikeluarkan masyarakat pada jumlah yang sama akan memperoleh jumlah barang konsumsi yang lebih sedikit.

B. Uji Analisis 1. Uji Normalitas

Uji normalitas data merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebelum melakukan uji beda rata-rata pada perusahaan manufaktur sektor industri pertanian dengan sektor industri barang konsumsi. Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah data yang digunakan dalam penelitian berdistribusi normal.

Salah satu cara untuk melakukan uji normalitas adalah dengan Uji Kolomogorov-Smirnov. Menurut wibowo (2012), data dikatakan normal jika nilai Kolomogorov-smirnov Z < Z tabel atau menggunakan nilai probability Sig (2-tailed) > 0,05. Hasil Uji Kolomogorov-Smirnov antara perusahaan manufaktur sektor industri pertanian dengan sektor industri barang konsumsi disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4. 3

Rekapitulasi Uji Normalitas

Sumber: data diolah (2015)

Rasio P Value Sig. Keterangan

ROA_IP 0,964 0,05 Normal ROE_IP 0,955 Normal GPM_IP 0,754 Normal OPM_IP 0,655 Normal NPM_IP 0,986 Normal ROA_BK 1,000 Normal ROE_BK 1,000 Normal GPM_BK 0,775 Normal OPM_BK 0,970 Normal NPM_BK 0,948 Normal

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa nilai probability pada masing-masing variabel lebih besar dari nilai signifikansi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semua rasio yang digunakan dalam penelitian ini berdistribusi normal.

2. Uji Independent Sample t-test

Untuk membandingkan kinerja keuangan perusahaan manufaktur sektor industri pertanian dengan sektor industri barang konsumsi pada periode 2010 – 2013, dilakukan uji beda yaitu dengan uji independent sample t-test. Hasil uji beda t-test disajikan dalam tabel di bawah ini:

Tabel 4. 4

Rekapitulasi Hasil Uji Independent Sample t-Test Rasio Profitabilitas Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Pertanian dengan Sektor Industri

Barang Konsumsi

Variabel Rasio Profitabilitas

Sektor Industri Pertanian

Sektor Industri Barang Konsumsi Mean Std. Deviation Mean Std. Deviation ROA 8.09 % 3.08 % 10.97 % 0.27 % ROE 11.70 % 4.01 % 18.29 % 1.31 % GPM 20.83 % 5.61 % 35.30 % 0.32 % OPM -0.92 % 10.55 % 8.81 % 0.86 % NPM 0.80 % 9.08 % 7.39 % 0.28 %

a. Analisis Variabel ROA

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa nilai rata-rata (mean) pada perusahaan manufaktur sektor industri pertanian sebesar 8.09 % lebih kecil dibandingkan nilai rata-rata (mean) perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi sebesar 10.97 %. Hal ini dapat diartikan bahwa selama periode 2010 – 2013 perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi lebih baik dibandingkan dengan perusahaan manufaktur sektor industri pertanian.

Selain itu, didapatkan juga nilai standar deviasi perusahaan manufaktur sektor industri pertanian sebesar 3.08 % dan nilai standar deviasi perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi sebesar 0.27 %. Hal ini menunjukkan simpangan data yang relatif kecil, dikarenakan nilai standar deviasi lebih rendah dibandingkan dengan nilai mean-nya masing-masing. b. Analisis Variabel ROE

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa nilai rata-rata (mean) pada perusahaan manufaktur sektor industri pertanian sebesar 11.70 % lebih kecil dibandingkan nilai rata-rata (mean) perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi sebesar 18.29 %. Hal ini dapat diartikan bahwa selama periode 2010 – 2013 perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi lebih baik dibandingkan dengan perusahaan manufaktur sektor industri pertanian.

Selain itu, didapatkan juga nilai standar deviasi perusahaan manufaktur sektor industri pertanian sebesar 4.01 % dan nilai standar deviasi perusahaan

manufaktur sektor industri barang konsumsi sebesar 1.31 %. Hal ini menunjukkan simpangan data yang relatif kecil, dikarenakan nilai standar deviasi lebih rendah dibandingkan dengan nilai mean-nya masing-masing. c. Analisis Variabel GPM

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa nilai rata-rata (mean) pada perusahaan manufaktur sektor industri pertanian sebesar 20.83 % lebih kecil dibandingkan nilai rata-rata (mean) perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi sebesar 35.30 %. Hal ini dapat diartikan bahwa selama periode 2010 – 2013 perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi lebih baik dibandingkan dengan perusahaan manufaktur sektor industri pertanian.

Selain itu, didapatkan juga nilai standar deviasi perusahaan manufaktur sektor industri pertanian sebesar 5.61 % dan nilai standar deviasi perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi sebesar 0.32 %. Hal ini menunjukkan simpangan data yang relatif kecil, dikarenakan nilai standar deviasi lebih rendah dibandingkan dengan nilai mean-nya masing-masing. d. Analisis Variabel OPM

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa nilai rata-rata (mean) pada perusahaan manufaktur sektor industri pertanian sebesar -0.92 % lebih kecil dibandingkan nilai rata-rata (mean) perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi sebesar 8.81 %. Hal ini dapat diartikan bahwa selama periode 2010 – 2013 perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi

lebih baik dibandingkan dengan perusahaan manufaktur sektor industri pertanian.

Selain itu, didapatkan juga nilai standar deviasi perusahaan manufaktur sektor industri pertanian sebesar 10.55 % dan nilai standar deviasi perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi sebesar 0.86 %. Hal ini menunjukkan simpangan data yang relatif kecil, dikarenakan nilai standar deviasi lebih rendah dibandingkan dengan nilai mean-nya masing-masing. e. Analisis Variabel NPM

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa nilai rata-rata (mean) pada perusahaan manufaktur sektor industri pertanian sebesar 0.80 % lebih kecil dibandingkan nilai rata-rata (mean) perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi sebesar 7.39 %. Hal ini dapat diartikan bahwa selama periode 2010 – 2013 perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi lebih baik dibandingkan dengan perusahaan manufaktur sektor industri pertanian.

Selain itu, didapatkan juga nilai standar deviasi perusahaan manufaktur sektor industri pertanian sebesar 9.08 % dan nilai standar deviasi perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi sebesar 0.28 %. Hal ini menunjukkan simpangan data yang relatif kecil, dikarenakan nilai standar deviasi lebih rendah dibandingkan dengan nilai mean-nya masing-masing.

3. Uji Hipotesis

Tabel 4. 5

Hasil Uji Statistik Independent Sample T-test

Sumber: data diolah (2015)

a. Variabel ROA

Tabel 4. 6

Hasil Uji Statistik Independent Sample T-test Variabel Return on Assets (ROA)

Levene's Test for Equality of Variances

t-test for Equality of Means

F Sig. t

Sig. (2-tailed)

Mean Differnce

ROA Equal variances assumed

4,896 ,069 -1,868 ,111 -2.88500

Equal variances not assumed -1,868 ,157 -2.88500

Sumber: data diolah (2015)

Levene's Test for

Equality of Variances t-test for Equality of Means

F Sig. t Sig.

(2-tailed)

Mean Differnce

ROA Equal variances assumed

4,896 ,069

-1,868 ,111 -2.88500

Equal variances not assumed -1,868 ,157 -2.88500

ROE Equal variances assumed

2,440 ,169

-3,117 ,021 -6,58250

Equal variances not assumed -3,117 ,041 -6,58250

GPM Equal variances assumed

5,302 ,061

-5,150 ,002 -14,46250

Equal variances not assumed -5,150 ,014 -14,46250

OPM Equal variances assumed

6,661 ,042

-1,840 ,115 -9,73250

Equal variances not assumed -1,840 ,162 -9,73250

NPM Equal variances assumed 13,168 ,011

-1,451 ,197 -6,59000

Secara absolut jelas terlihat bahwa rata-rata (mean) rasio ROA antara sektor industri pertanian berbeda dengan ROA sektor industri barang konsumsi. Untuk melihat perbedaan ini apakah nyata secara statistik, maka harus dilihat dari hasil uji independen sample t- test. Uji beda t- test ini digunakan untuk menguji apakah varians populasi kedua sampel tersebut sama (equal varians assumed) ataukah berbeda (equal varians not assumed) dengan melihat nilai levene test. Pengambilan keputusan adalah jika probabilitas > 0.05, maka Ho tidak dapat ditolak, artinya varians sama. Sebaliknya, jika probabilitas < 0.05, maka Ho ditolak, artinya varians berbeda.

Pada tabel 4.6 terlihat bahwa F hitung untuk ROA dengan equal variance assumed (diasumsikan kedua varians sama atau tidak berbeda), yaitu sebesar 4.896 dengan profitabilitas 0.069 lebih besar dari nilai α =

0.05, maka Ho tidak dapat ditolak atau varians sama. Oleh karena tidak ada perbedaan yang nyata dari kedua varians, sehingga penggunaan varians untuk membandingkan rata-rata populasi dengan t- test

menggunakan dasar equal variance assumed (diasumsikan kedua varians sama atau tidak berbeda).

Terlihat bahwa t hitung untuk ROA dengan equal varians assumed

adalah -1.868 dengan probabilitas 0.111. Oleh karena probabilitas uji dua sisi (2-tailed), maka nilai tersebut harus dibagi 2, yaitu 0.111 : 2 = 0.0555 yang mana nilai tersebut lebih besar dari 0.025 (0.0555 > 0.025), maka Ho tidak dapat ditolak. Hal tersebut berarti kedua rata-rata (mean), ROA

sektor industri pertanian dan ROA sektor barang konsumsi adalah sama atau tidak berbeda. Bisa dikatakan bahwa tidak ada bukti statistik yang bisa menyatakan bahwa rata-rata (mean) ROA sektor industri pertanian berbeda dengan ROA sektor industri barang konsumsi.

Ha1 tidak dapat ditolak, sesuai dengan hipotesis penelitian yaitu tidak terdapat perbedaan.

b. Variabel ROE

Tabel 4. 7

Hasil Uji Statistik Independent Sample T-test Variabel Return on Equity (ROE)

Levene's Test for Equality of Variances

t-test for Equality of Means

F Sig. t

Sig. (2-tailed)

Mean Differnce

ROE Equal variances assumed

2,440 ,169 -3,117 ,021 -6,58250

Equal variances not assumed -3,117 ,041 -6,58250

Sumber: data diolah (2015)

Secara absolut jelas terlihat bahwa rata-rata (mean) rasio ROE antara sektor industri pertanian berbeda dengan ROE sektor industri barang konsumsi. Untuk melihat perbedaan ini apakah nyata secara statistik, maka harus dilihat dari hasil uji independen sample t- test. Uji beda t- test ini digunakan untuk menguji apakah varians populasi kedua sampel tersebut sama (equal varians assumed) ataukah berbeda (equal varians not assumed) dengan melihat nilai levene test. Pengambilan

keputusan adalah jika probabilitas > 0.05, maka Ho tidak dapat ditolak, artinya varians sama. Sebaliknya, jika prbabilitas < 0.05, maka Ho ditolak, artinya varians berbeda.

Pada tabel 4.7 terlihat bahwa F hitung untuk ROE dengan equal variance assumed (diasumsikan kedua varians sama atau tidak berbeda), yaitu sebesar 2.440 dengan profitabilitas 0.169 lebih besar dari nilai α =

0.05, maka Ho tidak dapat ditolak atau varians sama. Oleh karena tidak ada perbedaan yang nyata dari kedua varians, sehingga penggunaan varians untuk membandingkan rata-rata populasi dengan t- test

menggunakan dasar equal variance assumed (diasumsikan kedua varians sama atau tidak berbeda).

Terlihat bahwa t hitung untuk ROE dengan equal varians assumed

adalah -3.117 dengan probabilitas 0.21. Oleh karena probabilitas uji dua sisi (2-tailed), maka nilai tersebut harus dibagi 2, yaitu 0.021 : 2 = 0.0105 yang mana nilai tersebut lebih besar dari 0.025 (0.0105 <0.025), maka Ho ditolak. Hal tersebut berarti kedua rata-rata (mean), ROE sektor industri pertanian dan ROE sektor barang konsumsi adalah berbeda. Bisa dikatakan bahwa tidak ada bukti statistik yang bisa menyatakan bahwa rata-rata (mean) ROE sektor industri pertanian tidak berbeda (sama) dengan ROE sektor industri barang konsumsi.

Ha2 ditolak, tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yaitu terdapat perbedaan.

c. Variabel GPM

Tabel 4. 8

Hasil Uji Statistik Independent Sample T-test Variabel Gross Profit Margin (GPM)

Levene's Test for Equality of Variances

t-test for Equality of Means

F Sig. t

Sig. (2-tailed)

Mean Differnce

GPM Equal variances assumed

5,302 ,061 -5,150 ,002 -14,46250

Equal variances not assumed -5,150 ,014 -14,46250

Sumber: data diolah (2015)

Secara absolut jelas terlihat bahwa rata-rata (mean) rasio GPM antara sektor industri pertanian berbeda dengan GPM sektor industri barang konsumsi. Untuk melihat perbedaan ini apakah nyata secara statistik, maka harus dilihat dari hasil uji independen sample t- test. Uji beda t- test ini digunakan untuk menguji apakah varians populasi kedua sampel tersebut sama (equal varians assumed) ataukah berbeda (equal varians not assumed) dengan melihat nilai levene test. Pengambilan keputusan adalah jika probabilitas > 0.05, maka Ho tidak dapat ditolak, artinya varians sama. Sebaliknya, jika prbabilitas < 0.05, maka Ho ditolak, artinya varians berbeda.

Pada tabel 4.8 terlihat bahwa F hitung untuk GPM dengan equal variance assumed (diasumsikan kedua varians sama atau tidak berbeda), yaitu sebesar 5.302 dengan profitabilitas 0.061 lebih besar dari nilai α =

0.05, maka Ho tidak dapat ditolak atau varians sama. Oleh karena tidak ada perbedaan yang nyata dari kedua varians, sehingga penggunaan varians untuk membandingkan rata-rata populasi dengan t- test

menggunakan dasar equal variance assumed (diasumsikan kedua varians sama atau tidak berbeda).

Terlihat bahwa t hitung untuk GPM dengan equal varians assumed

adalah -5.150 dengan probabilitas 0.002. Oleh karena probabilitas uji dua sisi (2-tailed), maka nilai tersebut harus dibagi 2, yaitu 0.002 : 2 = 0.001 yang mana nilai tersebut lebih kecil dari 0.025 (0.001 < 0.025), maka Ho ditolak. Hal tersebut berarti kedua rata-rata (mean), GPM sektor industri pertanian dan GPM sektor barang konsumsi adalah berbeda. Bisa dikatakan bahwa tidak ada bukti statistik yang bisa menyatakan bahwa rata-rata (mean) GPM sektor industri pertanian tidak berbeda (sama) dengan GPM sektor industri barang konsumsi.

Ha3 ditolak, tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yaitu terdapat perbedaan.

d. Variabel OPM

Tabel 4. 9

Hasil Uji Statistik Independent Sample T-test Variabel Operating Profit Margin (OPM)

Levene's Test for Equality of Variances

t-test for Equality of Means

F Sig. t

Sig. (2-tailed)

Mean Differnce

OPM Equal variances assumed

6,661 ,042 -1,840 ,115 -9,73250

Equal variances not assumed -1,840 ,162 -9,73250

Sumber: data diolah (2015)

Secara absolut jelas terlihat bahwa rata-rata (mean) rasio OPM antara sektor industri pertanian berbeda dengan OPM sektor industri barang konsumsi. Untuk melihat perbedaan ini apakah nyata secara statistik, maka harus dilihat dari hasil uji independen sample t- test. Uji beda t- test ini digunakan untuk menguji apakah varians populasi kedua sampel tersebut sama (equal varians assumed) ataukah berbeda (equal varians not assumed) dengan melihat nilai levene test. Pengambilan keputusan adalah jika probabilitas > 0.05, maka Ho tidak dapat ditolak, artinya varians sama. Sebaliknya, jika prbabilitas < 0.05, maka Ho ditolak, artinya varians berbeda.

Pada tabel 4.9 terlihat bahwa F hitung untuk OPM dengan equal variance assumed (diasumsikan kedua varians sama atau tidak berbeda), yaitu sebesar 6.661 dengan profitabilitas 0.042 lebih kecil dari nilai α =

0.05, maka Ho ditolak atau varians tidak sama. Oleh karena ada perbedaan yang nyata dari kedua varians, sehingga penggunaan varians untuk membandingkan rata-rata populasi dengan t- test menggunakan dasar

equal variance not assumed (diasumsikan kedua varians tidak sama atau berbeda).

Terlihat bahwa t hitung untuk OPM dengan equal varians not assumed adalah -1.840 dengan probabilitas 0.162. Oleh karena probabilitas uji dua sisi (2-tailed), maka nilai tersebut harus dibagi 2, yaitu 0.162 : 2 = 0.081 yang mana nilai tersebut lebih besar dari 0.025 (0.081 > 0.025), maka Ho tidak dapat ditolak. Hal tersebut berarti kedua rata-rata (mean), OPM sektor industri pertanian dan OPM sektor barang konsumsi adalah sama atau tidak berbeda. Bisa dikatakan bahwa tidak ada bukti statistik yang bisa menyatakan bahwa rata-rata (mean) OPM sektor industri pertanian berbeda dengan OPM sektor industri barang konsumsi.

Ha4 tidak dapat ditolak, sesuai dengan hipotesis penelitian yaitu tidak terdapat perbedaan.

e. Variabel NPM

Tabel 4. 10

Hasil Uji Statistik Independent Sample T-test Variabel Nett Profit Margin (NPM)

Levene's Test for Equality of Variances

t-test for Equality of Means

F Sig. t

Sig. (2-tailed)

Mean Differnce

NPM Equal variances assumed

13,168 ,011 -1,451 ,197 -6,59000

Equal variances not assumed -1,451 ,242 -6,59000

Sumber: data diolah (2015)

Secara absolut jelas terlihat bahwa rata-rata (mean) rasio NPM antara sektor industri pertanian berbeda dengan NPM sektor industri barang konsumsi. Untuk melihat perbedaan ini apakah nyata secara statistik, maka harus dilihat dari hasil uji independen sample t- test. Uji beda t- test ini digunakan untuk menguji apakah varians populasi kedua sampel tersebut sama (equal varians assumed) ataukah berbeda (equal varians not assumed) dengan melihat nilai levene test. Pengambilan keputusan adalah jika probabilitas > 0.05, maka Ho tidak dapat ditolak, artinya varians sama. Sebaliknya, jika prbabilitas < 0.05, maka Ho ditolak, artinya varians berbeda.

Pada tabel 4.10 terlihat bahwa F hitung untuk NPM dengan equal variance assumed (diasumsikan kedua varians sama atau tidak berbeda), yaitu sebesar 13.168 dengan profitabilitas 0.011 lebih kecil dari nilai α =

0.05, maka Ho ditolak atau varians tidak sama. Oleh karena ada perbedaan yang nyata dari kedua varians, sehingga penggunaan varians untuk membandingkan rata-rata populasi dengan t- test menggunakan dasar

equal variance not assumed (diasumsikan kedua varians sama atau tidak berbeda).

Terlihat bahwa t hitung untuk NPM dengan equal varians not assumed adalah -1.451 dengan probabilitas 0.242. Oleh karena probabilitas uji dua sisi (2-tailed), maka nilai tersebut harus dibagi 2, yaitu 0.242 : 2 = 0.121 yang mana nilai tersebut lebih besar dari 0.025 (0.121 > 0.025), maka Ho tidak dapat ditolak. Hal tersebut berarti kedua rata-rata (mean), NPM sektor industri pertanian dan NPM sektor barang konsumsi adalah sama atau tidak berbeda. Bisa dikatakan bahwa tidak ada bukti statistik yang bisa menyatakan bahwa rata-rata (mean) NPM sektor industri pertanian berbeda dengan NPM sektor industri barang konsumsi.

Ha5 tidak dapat ditolak, sesuai dengan hipotesis penelitian tidak terdapat perbedaan.

4. Pembahasan

Berdasarkan hasil uji beda yang telah dilakukan dengan menggunakan independent sample t-test diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan antara kinerja keuangan perusahaan manufaktur sektor industri pertanian dengan sektor industri barang konsumsi, jika dilihat dari variabel ROA, ROE, OPM dan NPM. Sedangkan jika dilihat dari variabel GPM

terdapat perbedaan antara kinerja keuangan perusahaan manufaktur sektor industri pertanian dengan sektor industri barang konsumsi.

a. Perbandingan Variabel ROA

ROA merupakan pengukuran kemampuan perusahaan secara menyeluruh di dalam menghasilkan laba dengan menggunakan seluruh aktiva. Berdasarkan uji yang telah dilakukan diketahui bahwa nilai rata-rata (mean) perusahaan manufaktur sektor industri pertanian sebesar 8.09 % lebih kecil dibandingkan nilai rata-rata (mean) perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi sebesar 10.97 %. Sehingga dapat diartikan bahwa, kemampuan perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi dalam menghasilkan laba pada periode 2010 - 2013 lebih baik dibandingkan dengan perusahaan manufaktur sektor industri pertanian.

Sedangkan berdasarkan uji beda t-test, diketahui bahwa variabel

Return on Assets menghasilkan nilai t hitung untuk ROA dengan equal varians assumed adalah -1.868 dengan probabilitas 0.0555 lebih besar

dari nilai α = 0.025. Hal ini dapat diartikan bahwa, tidak ada perbedaan kinerja keuangan antara perusahaan manufaktur sektor industri pertanian dengan perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi dilihat dari Return on Assets (ROA).

b. Perbandingan Variabel ROE

ROE merupakan suatau pengukuran dari penghasilan yang tersedia bagi pemilik perusahaan atas modal yang diinvestasikan dalam perusahaan. Berdasarkan uji yang telah dilakukan diketahui bahwa nilai rata-rata (mean) pada perusahaan manufaktur sektor industri pertanian sebesar 11.70 % lebih kecil dibandingkan nilai rata-rata (mean) perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi sebesar 18.29%. Sehingga dapat diartikan bahwa, pendapatan bersih perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi pada periode 2010 - 2013 lebih baik dibandingkan dengan perusahaan manufaktur sektor industri pertanian.

Sedangkan berdasarkan uji beda t-test, diketahui bahwa variabel

Return on Equity menghasilkan nilai t hitung untuk ROE dengan equal varians assumed adalah -3.117 dengan probabilitas sebesar 0.0105 lebih kecil dari nilai α = 0.025. Hal ini dapat diartikan bahwa, ada perbedaan kinerja keuangan antara perusahaan manufaktur sektor

Dokumen terkait