5.1.1Review Pembelajarn di SD
Kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui pembelajaran di SD kurikulum 2013 adalah mengadakan fokus grup dengan guru SD kelas 1 dan 2. Selain fokus grup diskusi juga di lakukan penjaringan data menggunakan instrumen yang telah dibuat,dilanjutkan dengan diskusi untuk penjaringan kebutuhan pembelajaran seni budaya di SD keas 1 dan 2. Adapun hasil melalui fokus grup dan melalui instrumen sebagai berikut:
Selain itu banyak guru merasakan belum jelas dalam pelaksanaan kurikulum 2013, ke sulitan melaksanakan evaluasi utamanya pada KI (kompetensi inti) 1 dan KI (kompetensi inti) 2, terbentur waktu, saintifik juga belum dipahami secara baik sehingga menjadi beban bagi sebagian guru.
Pembelajaran tematik di SD menurut guru yang sudah mengimplentasikan memunculkan suasana menyenangkan , aktif dan kreatif , mendorong hadirnya banyak media , kelas yang kondusif, anak – anak yang menikmati kesenangan. Siswa dapat pengalaman langsung baik melalui pancaindra maupun kegiatan-kegiatan yang dirancang seperti keseharian mereka. Anak merasa tidak bosan, waktu tidak terasa lama karena belajar sambil bermain.
Namun untuk guru-guru yang belum berpengalaman pembelajaran masih berpusat pada guru, anak masih banyak disetir guru, kadang suasana belum kondusif. Kadang ada pemaksaan materi pada tema, guru perlu memilih tema dan materi yang menarik, guru harus benar-benar menyiapkan perangkat, supaya anak yang malas tetap bisa menyelesaikan tugasnya.
Guru juga sudah berupaya menggunakan sumber belajar yang ada di sekitar lingkungan siswa, lingkungayiapkann sekitar sekolah maupun di masyarakat sekitar sekolah, yaitu internet,buku, majalah, kebun, posyandu , peternakan. Hal itu menyenakan karena belajar sambil melakukan sesuatu kelas. Upaya guru dalam melaksankan pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah mengelola dan menguasai kelas, guru berperan sebagai fasilitator , menggunakan metode
22
bervariasi,( penyampaian materi yang menarik, dengan bermain, kelompok, menyanyi), mengembangkan keterampilan (kognitif, sikap, psikomotorik), menggunakan media yang menarik , merencanakan dengan baik, melengkapi alat peraga, menyiapkan penilaian, memilih tema sesuai minat siswa, membuat pembelajaran interaktif, peserta didik bisa menimba ilmu dari siapa saja, siswa diupayakan untuk mencari, anak didorong kritis.
Untuk pembelajaran matematika, media yang digunakan, benda kongkrit , kertas, karton, kelereng, kertas warna, makanan, minuman , benda yang sering dilihat anak, batu, tumbuhan, benda tiruan, media audio, gambar, daun yang jatuh, kerikil, pohon, lidi, bermain game, kaleng , pasta gigi, tempat sabun, kerdus, tabung, spidol, sedotan untuk membuat bangun ruang sehingga siswa mengetahui rusuk ruas dan sisi, penggaris, busur derajat. Lks dan buku, dekak-dekak, bangun datar dari kertas manila, papan berpaku untuk bangun datar, pita atau bambu untuk garis bilangan, manik-manik, peraga blok pecahan.
Pembelajaran seni Budaya sudah dilakukan walau bentuknya sederhana,yaitu menjelaskan kesenian daerah, membuat property dari bahan lunak dua demensi, pengenalan budaya, menirukan gerak, membuat musik ritmis dengan botol aqwa, kaleng diisi kelereng, menulis namanya sendiri di kertas bufalo, membuat garis lurus, lengkung dengan kertas lipat terus ditempel di gambar, pelepah pisang dibuat bunga, cetakan belimbing, kentang. Anak diajari menggambar, menyanyi, kolase untuk pembelajarn di atas anak sangat antusias . Sedang untuk seni tari dan musik banyak guru tidak menguasai, sehingga banyak sekolah tidak melaksanakannya. Untuk pembelajaran seni budaya yang sudah dilakukan bisa dirinci sebagai berikut:
Menggerakan badan, menari, menirukan gerak alam, burung terbang, orang menyapu, tari semut, menirukan suara binatang
Menyanyikan lagu anak 2, lagu daerah 2dan ansional, musik ritmis dengan sendok dan piring
Menggambar pemandangan, menggambar dua demensi 3, lingkungan sekitar, kolase, membuat garis lengkung, lurus, zigzag, kolase membuat buah,
mewarnai,
Membuat origami 3(melipat kertas), membuat hewan dari plastisin, membuat cetakan dari wortel
23
Mengadakan eksplorasi, improvisasi, forming
Adat istiadat, bahasa daerah, pakaian adat, nama suku bangsa
Tentang buku guru dan buku siswa , buku kurang lengkap, kesulitan memahami buku guru dan buku siswa , materi buku guru dan siswa masih kurang , kadang di buku guru tidak ada sementara di buku siswa ada.
Guru pengajar kelas 1 dan 2 menginginkan, pembelajaran efektif, Calistung tercapai, anak mandiri, siswa tenang, berperilaku dengan baik , mampu melakukan gerak motorik sederhana, ahklak dan perilaku, KKM tuntas. Diperlukan bahan ajar sebagai suplemen utamanya tematik.
5.1.2 Review Pembelajaran Tematik kurikulum 2013
Untuk kelas 1, 2, 3 sudah menggunakan tematik terpadu. Guru merasa lebih mudah dengan menerapkan tematik, karena waktu dirasakan cukup panjang , bisa digunakan dengan baik efektif dan efesien, menyesuaikan kompleksitasnya. Guru bisa fokus , waktu fleksibel karena bisa menyesuaikan dengang tingkat kesulitan dan tingkat perkembangan siswa,.Adapun kendala dalam pelaksanaan tematik untukkelas 1 dan 2 adalah guru terkendala memetakan kompetensi dasar untuk dipadukan. Koordiansi antar guru diperlukan, dibutuhkan sarana prasarana yang memadai , guru sebaiknya bisa mengaitkan dengan media yang cocok untuk tematik terpadu. Guru diharapkan dapat mengembangkan materi sesuai tema-tema yang diangkat.
Banyak guru masih perlu bimbingan tematik terpadu, pemahaman kurikulum 2013 dirasakan masih kurang dalam, perlu pendidikan dan latihan yang berkesinambungan. Perlu penyamaan persepsi tentang penilaian, perlu ketekunan untuk melaksanakan K 13.
Bila anak belum bisa menulis dan membaca akan sulit, karena anak belum bisa memanfaatkan buku siswa, jadi guru lebih aktif untuk mencapai tujuan melalui kegiatan sesuai dengan tema. Pembelajaran temati k di sekolah-sekolah masih terkendala media , sarana prasarana terbatas, diharapkan guru bisa menggunakan lingkungan sekitar, namun hal itu belum dilakukan oleh banyak guru. Ada guru yang merasakan kesulitan mengelola waktu, mengatasi siswa yang beragam latar belakangnya, guru juga merasakan kemandiri siswa kurang, ada buku guru yang
24
belum sampai pada sekolah, materi dirasakan terputus tidak runtut , guru kesulitan mendorong anak untuk bertanya.
Dari hasil review dan diskusi dengan guru-guru SD di atas dilanjutkan dengan membuat prototipe bahan ajar Seni Budaya tematik berbasis kemipaan.
5.2 Hasil Pengembngan Bahan Ajar Seni Budaya Berbasis Kemipaan untuk SD
5.2.1 Prototipe Buku Guru
Untuk tahap awal pembuatan prototipe Buku Guru yang dilakukan adalah mencermati kurikulum 2013 untuk kelas 1 SD, setelah itu menetapkan pelajaran yang akan dipadukan yaitu Seni Budaya, Matematika, IPA, Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah. Memilih salah sau tema yaitu kegemaranku yang bisa mengakomodasi kegemaranku bermusik, kegemaranku menggambar, kegemaranku menari dan kegemaranku bermain drama. Kemudian mencermati masing KD yang dipadukan yaitu seni budaya, matematika, bahasa Indonesia/bahasa daerah dan mengembangkan indikator dan tujuannya.
Untuk memberikan gambaran pada guru tentang Pembelajaran Seni Budaya Berbasis kemipaan untuk SD maka dalam buku guru diuraikan konsep-konsep penting sebagai wawasan guru tentang pembelajaran seni budaya berbasis kemipaan yaitu konsep pembelajaran seni budaya tematik kelas awal, Seni Budaya Berbasis Kemipaan, seni budaya kurikulum 2013,adapun rincian yang ada dalam buku guru sebagai berikut:
5.2.1.1 Pembelajaran Seni Budaya Tematik Kelas Awal
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang menggunakan tema dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah gagasan pokok pikiran yang menjadi pokok pembicaraan (Muslich, 2006)
Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua dan tiga berada pada rentang usia dini. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistis) serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada obyek- obyek konkret dan pengalaman yang dialami secara langsung.
25
Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret (7-11 tahun) Piaget (dalam Tridjata, 2005: 9.9). Pada usia tersebut anak sudah mulai menujukan perilaku dengan ciri sebagai berikut:
1) Konkret mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal konkret, yakni yang dapat dilihat, didengar, dibau, diraba dan diotak atik, dengan penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.
Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan pada keadaan yang sebenarnya, keadaan alami sehingga lebih nyata sehingga kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan.
2) Integratif, anak sekolah dasar memandang sesuatu yang dipelajarai sebagai suatu keutuhan. Mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu.
3) Hirarkis,anak sekolah dasar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Oleh sebab itu perlu urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan serta kedalam suatu materi.
Menurut Muslich (2006: 166) implikasi terhadap sarana prasarana, sumber belajar dan media untuk pembelajaran tematik sebagai berikut:
1) Pembelajaran seni budaya tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa, baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik autentik. Oleh karena itu dala pelaksanaanya memerlukan berbagai sarana prasarana. Untuk bergerak menari misalnya perlu ada ruangan yang kosong sehingga anak leluasa bergerak. Demikian juga untuk kegiatan bermusik diperlukan alat-alat musik ritmis sedehana yang bisa digunakan misalnya kenthongan, galon air yang besar, dan instrumen lain yang menghasilkan bunyi.
2) Dalam buku siswa disediakan berbagai gambar yang bisa digunakan guru untuk melaksanakan kegiatan. Selain itu perlu menggunakan sumber belajar yang sifatnya didesain untuk pembelajaran serta sumber belajar yang ada di lingkungan. Dalam menggambar perlu menggunakan media yang bervariasi untuk membantu siswa berekspresi. Dalam memahami konsep-konsep
26
abstrak matematika diperlukan media baik gambar yang tersedia di ruangan, benda-benda konkrit lidi, kelereng, bola, gelas plastik , mainan dan lain-lain.
3) Pengaturan ruang, ruang perlu diatur sesuai dengan tema yang sedang dilaksanakan agar suasana menyenangkan, pengaturan bangku bisa berubah- ubah, peserta didik bisa duduk di tikar/karpet, kegiatan tidak harus di dalam kelas bisa di luar kelas, dinding kelas bisa digunakan untuk memasang hasil karya anak. Perlu diberikan tempat untuk menyimpan alat-lat sehingga memudahkan anak untuk menyimpan dan mengambilnya.
4) Pembelajaran seni budaya tematik juga memerlukan metode yang bervariasi misalnya percobaan, bermain peran, eklsperimen, demonstrasi, bercakap- cakap, kerja kelompok dan lainnya.
5.2.1.2 Seni Budaya Berbasis Kemipaan
Buku ini dikembangkan sebagai suplemen untuk melengkapi buku guru dan - buku siswa kelas 1 yang sudah ada. Seni budaya berbasis kemipaan artinya pembelajaran seni budaya sebagai pokok utama memperkenalkan hasil budaya lokal termasuk kesenian dengan mengintegrasikan matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa daerah. Dikarenakan kelas I belum ada mata pelajaran IPA maka IPA sebatas hanya disinggung tidak terlalu dalam. Tema yang diangat dalam buku ini adalah kegemaranku yang dibagi dalam sub – sub tema kegemaranku bermusik, kegemaranku menari, kegemaranku bermain drama, dan kegemaranku menggambar.
Pembeda buku ini dengan buku yang sudah ada adalah dalam pembelajaran seni budaya siswa diajak untuk berpraktek menyanyi, bermain alat musik, menari, menggambar dengan berbagai kegiatan berkesenian materi kemipaan sekaligus dipelajari dalam kegiatan tersebut. Guru diberikan petunjuk supaya mudah melakukan.
Seni dan ilmu pengetahuan (sains) sangat berdekatan, karena masing- masing berkaitan dengan proses penemuan sebagai hasil dari kegiatan eksperimen. Menurut Kimberely Tolley dalam Winataputra (2010: 8.21) perbedaan keduanya adalah bila ilmuwan mempertanyakan atau mempermasalahkan tentang bekerjanya alam semesta, sedangkan seniman mempertanyakan cara-cara bagaimana alam dapat diinterpretasikan dan di”re –created”. Demikian pula hubungan seniman dengan ahli matematika muncul dalam konstruksi berpikir. Dalam karya seni musik
27
dikembangkan iktisar-iktisar, improvisasi. Tidak cukup dengan timbre (warna bunyi) namun untuk menciptakan melodi yang indah komposer menambahkan irama, harmoni agar karya tersebut “hidup dan indah”. Pada Aritmatika ditemukan formula, sifat-sifat, dan pembuktian-pembuktian yang ketiganya itu menjadi konsep yang hidup ketika dihubungkan dan saling keterkaitan.
Dengan seni rupa, lukisan menyediakan sumber materi yang kaya bagi matematika. Seni dapat digunakan mempresentasikan konsep geometri termasuk gagasan yang tidak terbatas. Dengan tarian, seorang penari bisa bergerak membuat garis-garis sejajar, lingkaran, simetri pola-pola sekuens baik dalam kelompok maupun individual. Dari bentuk tubuh penari dapat dimanfaatkan dalam pelajaran anatomi dan fisika. Misalnya dengan meminta anak untuk bergerak, manakah otot yang bekerja, manakah yang mengeluarkan energi besar. Dengan bergerak diperkenalkan pada anak tentang substansi dari tari yaitu adanya ruang, waktu dan tenaga . Dengan musik seorang guru bisa mengeksplor pecahan, bunyi not pecahan atau rasio bunyi.
Pembelajaran berbasis budaya merupakan strategi penciptaan lingkungan belajar dengan perancangan pengalaman belajar yang mengintegrasikan budaya dalam proses pembelajaran. Budaya sebagai bagian yang fundamental bagi pendidikan, ekspresi, komunikasi suatu gagasan dan perkembangan pengetahuan (Winataputra, 2011: 4.12).
5.2.1.3 Pembelajaran Seni Budaya Kurikulum 2013 untuk SD, Kelas 1 dan 2
Kurikulum merupakan rencana pembelajaran yang bersifat makro karena berperan sebagai pedoman atau acuan untuk mengembangkan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang akan disusun oleh tim pengembang kurikulum dan guru.
Kurikulum 2013 mapel Seni Budaya mengacu pada kurikulum yang mengedepankan pengembangan sikap spiritual dan sosio emosional, mengutatamakan pengetahuan sebagai landasan pengembangan keterampilan. Kedalaman konsep kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan berbeda dengan kompetensi afektif, kognitif dan psikomotorik.
Kompetensi sikap dimaknai sebagai kemampuan sikap yang dilandasi oleh pengetahuan yang diwujudkan dalam perbuatan bukan sekedar simpati atau empati
28
tetapi melakukan tindakan berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya. Sebagai contoh kalau ada temannya yang sakit maka tidak hanya sekedar berempati tetapi menjenguk dan memberi pertolongan. Dalam mengapresiasi karya tidak hanya sekedar kagum tetapi mengamati secara mendalam, mengkritisi, mendalami konsep dan proses pembuatannya, menemukan hal-hal baru dan mengembangkan dan mempresentasikan hasil kerjanya dengan percaya diri kepada guru dan temannya. Serta dapat menunjukan rasa syukur kepada Tuhan yang telah menganugerahkan kemampuan kepada nya.
Kompetensi pengetahuan dapat dimaknai sebagai kemampuan berpikir yang dilandasi oleh keterampilan. Kemampuan berpikir sampai pada tataran anak tahu dan anak paham tentang berbagai bahan, teknik dan proses penciptaan karya seni, anak dapat mendeskripsikan bagaimana kesenian itu hadir, dan pada akhirnya anak bisa menilai dan menghargai suatu karya seni. Konsep-konsep seni dipahami anak dengan pengalaman melakukan seni, merasakannya, mengalaminya sehingga kemampuan bernalar mereka lebih lama ada dalam pikiranya.
Kompetensi keterampilan dimaknai sebagai kemampuan berkreasi yang dilandasi pengetahuan dan penghayatan yang baik dalam bekerja atau keterampilan yang dilandasi sikap terpuji, ketekunan, keuletan, kemampuan bekerjasama dalam menghadirkan pergelaran.
Prinsip pembelajaran menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaa RI no: 65 tahun 2013 tentang standar Poroses
Sikap : diperoleh melalui aktivitas berkesenian ( menerima, menjalankan, menghargai, mengamalkan)
Pengetahuan: diperoleh melalui aktivitas mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi
Keterampilan; diperoleh melalui aktivitas: mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, mencipta
Pendekatan: sceientific, terpadu antar mata pelajaran dan dalam pelajaran, berbasis penemuan discovery/inquiry , mendukung kreativitas kontekstual disarankan pembelajaran pemecahan masalah
29
Dalam Permendikbud no 58 mata pelajaran Seni Budaya merupakan seluruh aktivitas mengenal karya estetik, artistik dan kreatif berakar dari norma, nilai, perilaku dan produk seni budaya bangsa. Lebih lanjut pendidikan Seni Budaya secara konseptual bersifat:
1) Multilingual
Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengekspresikan diri secara kreatif dengan pemanfaatan berbagai media bahasa rupa, bahasa kata, bahasa bunyi, bahasa gerak, bahasa peran, kemungkinan perpaduan di antaranya.
2) Multidemensional
Pengembangan beragam kompetensi peserta didik tentang konsep seni, termasuk pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi dan kreasi.
3) Multi kultural
Menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan peserta didik mengapresiasi beragam budaya nusantara dan mancanegara.
4) Multi kecerdasan
Membentuk pribadi yang harmonis sesuai dengan psikologi peserta didik termasuk kecerdasan intrapersonal, interpersonal, visual-spasial, verbal- linguistik, musikal, matematika-logik, jasmanai-kinestetik dan sebagainya.
Tujuan umum pembelajaran Seni Budaya untuk menumbuhkembangkan kepekaan rasa estetis dan artistik, sikap kritis, apresiatif, dan kreatif pada diri peserta didik secara menyeluruh. Sedangkan tujuan khusus pelajaran Seni Budaya: 1) menumbuh kembangkan sikap toleransi, 2) menciptakan demokrasi beradab, 3) menumbuhkan hidup rukun dalam masyarakat majemuk, 4) mengembangkan kepekaan rasa dan keterampilan, 5) menerapkan teknologi dan kreasi, 6) membuat pergelaran dan pameran kaya seni.
Seni dan Budaya adalah istilah untuk menamai salah satu pelajaran di tingkat dasar dan menengah. Dalam istilah seni budaya terdapat pengertian yang sangat luas.
Seni memiliki cabang yang sangat banyak (rupa, tari, musik, drama), jika materi diajarkan semua di tingkat dasar maupun menengah seluruh materi seni yang diberikan tidak akan tertampung dengan jam pelajaran yang tersedia. Jika ditambah
30
dengan budaya maka materi yang harus disampaikan menjadi sangat luas lagi, waktu yang tersedia untuk pelajaran tersebut terasa sangat sempit.
Banyaknya definisi budaya yang kemudian dikristalkan oleh Koentjaraningrat budaya adalah wujud pertama kompleksitas gagasan, nilai, norma, peraturan dan semacamnya. Wujud yang kedua adalah kompleksitas aktivitas serta tindakan yang berpola dari manusia dalam menjalani hidup dalam masyarakat. Wujud ketiga adalah benda-benda karya manusia seperti beragam peralatan hidup hinggasegala ciptaan yang bernilai atau kesenian.
Dari uraian di atas jelas bahwa budaya sangat abstrak, kompleks dan luas. Budaya dalam pelajaran seni budaya di SD tentunya disesuaikan dengan taraf perkembangan anak. Untuk SD kelas 1 dan 2(kelas rendah) budaya bisadikaitkan dengan peradaban manusia seperti budi pekerti, etika, moralitas dan hal-hal yang terkait.
Dengan uraian di atas guru mempunyai wawasan tentang prototipe yang dikembangkan sehingga membantu guru mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Selanjutnya masih dalam buku guru diuraikan tentang pemetaan KI, KD pelajaran yang dipadukan hal ini membantu guru untuk menemukan keterhubungan antara KI dan KD mata pelajaran-mata pelajaran yang dipadukan.
Adapun keterpaduann antar mata pelajaran dari sub tema kegemaranku bermusik sebagai berikut:
31 Indonesia yang dikenal sebagai bahasa persatuan dan sarana belajar di tengah keberagaman bahasa daerah pemanfaatan bahasa Indonesia
SBDP SBDP
1.1 Menerima keindahan alam sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaan Tuhan menghargai ajaran agama yang dianutnya
2.1 Menunjukkan perilaku patuh pada
aturan dalam melakukan
penjumlahan dan pengurangan sesuai prosedur/aturan dengan memperhatikan nilai tempat puluhan dan satuan