• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah seluruh tumbuhan epifit yang ada di perkebunan sawit masyarakat Desa Darussalam Kecamatan Peusangan Selatan Kabupaten Bireun.

Rancangan Penelitian

Luas lokasi penelitian yang diambil dalam identifikasi epifit adalah adalah 1 hektar. Untuk menentukan sampel batang sawit ditentukan dengan metode sampel selang. Untuk pohon sawit pertama yang diambil satu batang pohon sawit yang terdapat di tengah-tengah kebun. Untuk selanjutnya ditentukan dengan cara selang satu pohon ke arah barat, selang satu pohon ke arah timur, selang satu pohon ke arah selatan, dan selang satu pohon ke arah utara. Pohon sawit yang diambil adalah sebanyak 25 pohon sawit.

Metode Pengumpulan data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei lapangan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini keberadaan tumbuhan epifit pada tanaman sawit.

Metode Pengolahan Data

Setelah semua data dan informasi yang diperoleh dalam penelitian ini terkumpul maka data diolah dengan mendeskripsikan jenis-jenis tumbuhan epifit yang ada pada pohon sawit

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Jenis Epiphyt di lokasi penelitian

Hasil penelitian di perkebunan kelapa sawit masyarakat Desa Darussalam Kecamatan Peusangan Selatan Kabupaten Bireun ditemukan sebanyak 7 jenis (spesies) tumbuhan epiphyt. Jenis-jenis epiphyt tersebut disajikan dalam Tabel 4.1.

51

Tabel 4.1 Jenis-jenis Tumbuhan Epiphit di perkebunan kelapa sawit masyarakat Desa Darussalam Kecamatan Peusangan Selatan Kabupaten Bireun

No Nama Jenis (Spesies) Nama Indonesia Famili

1 Pityrogramma calomelanos Paku Perak Polypodiaceae

2 Pteris ensiformis Paku Polypodiaceae

3 Gleichenia linearis Paku Payung Gleicheniaceae 4 Asplenium nidus Paku Sarang Burung Polipodiaceae

5 Ficus benjamina Beringin Euphorbiaceae

6 Drimoglossum piloselloides Pakis duwitan Polipodiaceae 7 Nephrolepis exaltata Pakis sayur Polypodiaceae

Deskripsi Tumbuhan Epiphit pada Pohon Sawit

1. Pityrogramma calomelanos (Paku perak)

Paku tanah. Akar rimpang pendek, tegak atau kecondong-condongan, di sekitarnya berdaun lebat, pada bagian yang muda bersisik rapat dan coklat. Daun tidak beruas terhadap akar rimpang, bulat telur panjang, 10 – 90 kali 5 – 30 cm; sirip orde pertama dapat dikatakan berturutan rapat, menjauhi sekali, anak daun bertangkai pendek, yang besar kebanyakan berbagi dalam. Sorus tersebar di atas sisi bagian bawah, kerapkali agak berturutan rapat, akhirnya kadang-kadang mendekat. Di daerah yang tidak terlalu kering, di tempat matahari cerah atau daerah keteduhan yang ringan, 15 – 1.300 m. Di lereng terjal, tepi selokan, daerah berbatu.

Gambar 1. Pityrogramma calomelanos Gambar 2. Pteris ensiformis

2. Pteris ensiformis

Perawakan: herba, paku tanah, 015 – 0,70 m. Rimpang: tegak atau merayap, tertutup akar, diameter 3 – 5 mm. Daun gundul, tegak menyirip rangkap, kuat, tidak beruas dengan akar rimpang. Daun steril panjang 5 – 20 cm, di atas tangkai 5 – 20 cm, sirip akhir 5 – 8 cm, sirip samping kedua belah sisi 3 – 7, bertangkai pendek atau duduk; anak daun kedua belah sisi dari poros, sirip 1 – 4, memanjang bulat telur terbalik, membualat atau tumpul, bergerigi tajam, 1 – 2 kali 4 – 6 mm, yang terbawah krapkali berbagi, anak daun terujung adalah terpnjang. Daun fertil jelas berbeda dengan daun steril, panjang 20 – 40 cm, anak daun atau taju daun berbentuk garis, lebar 2 – 4 mm, tepi rata, tetapi yang pada ujung bergerigi. Sori pada sisi bawah daun

52 di atas urat daun yang berjalan sepanjang tepi, tertutup oleh tepi daun yang tipis seperti selaput dan menggulung. Ada bentuk antara anak daun fertil dan steril. Habitanya terestrial (Van Steenis, 1997).

3. Gleichenia linearis (Paku Payung)

Menggantung atau memanjat, herba yang sangat berubah-ubah, 1 – 6 m. Daun berjauhan satu sama lain, tidak beruas dengan akar rimpang., bercabang menggarpu, dua kali sampai banyak kali. Pada tiap cabang kecuali yang teratas, terdapat dua segmen daun melintang dan membengkok, panjang 5 – 25 cm. Dekat langsung di bawah garpu yang termuda terdapat tangkai yang tidak berdaun, juga semua tangkai tangkai yang lebih bawah tidak berdaun. Tajuk daun membelok tgak lurus, bentuk garis atau memanjang, panjang 18 – 75 mm, termasuk kaku, dari bawah hijau kebiru-biruan. Sorus umumnya per taju daun lebih dari satu. Terutama di daerah banyak hujan, 30 – 2.800 m, kadang-kadang merupakan belantara yang rapat. Tempat terbuka dari rimba, daerah hutan yang dibuka, hutan sekunder yang kena cahaya matahari, jurang, lereng, tepi sungai (Van Steenis, 1997).

Gambar 3. Gleichenia linearis Gambar 4. Asplenium nidus

4. Asplenium nidus (Paku Sarang Burung)

Epiphit, 1,5 m. Akar rimpang tegak, pendek, bersisik. Daun tunggal, bertulang daun menyirip, tidak beruas dengan akar rimpang, rapat berjejal, setelah mongering menggantung lemah, duduk atau bertangkai sangat pendek, berbentuk lanset sampai pita, dengan pangkal menyempit, lancip atau pendek meruncing, tepi rata, seperti kulit, 40 – 120 kali 2,5 – 25 cm, jarang lebih besar, ibu tulang daun berasal dari bawah, coklat mengkilat, tulang daun lateral banyak, sejajar. Sorus banyak, berobah-robah panjangnya. Di daerah yang tidak begitu kering, mulai dari mangrove sampai 2000 m. Daerah perkebunan yang sangat teduh, juga ditanam sebagai tanaman hias.

5. Ficus benjamina (Beringin)

Beringin banyak ditemukan di tepi jalan, pinggiran kota atau tumbuh di tepi jurang. Pohon besar, dengan tinggi 20 – 25 meter berakar tunggang. Batang tegak, bulat, permuakaan kasar, coklat kehitaman, percabangan simpodial, pada batang keluar akar gantuing (akar udara). Daun tunggal, bertangkai pendek, letak bersilang berhadapan, bentuknya lonjong, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 3 – 6 cm, lebar 2 – 4 cm, pertulangan menyirip, warnanya hijau. Bunga tunggal, keluar dari kelopak daun, kelopak bentuk corong, mahkota bentuk bulat, benang sari

53 kehijauan. Buahnya buah buni, bulat, panjang 0,5 – 1 cm, maasih muda hijau, setelah masak warnanya merah.. Biji bulat, keras, putih (Dalimartha, 2003:22).

Gambar 5. Ficus benjamina Gambar 6. Drimoglossum piloselloides

6. Drimoglossum piloselloides (Paku duwitan)

Epifit, panjang 5 – 22 cm. Akar rimpang panjang, kecil, merapa, bersisik; sisik menempel dengan kuatnya. Daun tertancap dengan jarak pada akar rimpang, dan beruas dengannnya, tepi rata, dimorph, kaki lancip, ujung membulat atau tumpul, berdaging, dewasanya gundul atau berambut jarang di bagian bawah, urat brjalan mendekat, kerapkali tak terlihat. Daun fertil bertangkai pendek atau duduk, oval memanjang, 1,5 kali 1 – 2 cm; yang fertile jauh lebih panjang, berbentuk garis, dengan tangkai sepanjang 1 – 2 cm. Sori panjang, sejajar dan dengan jarak tertentu dengan tulang daun tengah, pada ujung selalu mendekat. Terutama di derah perkebunan, 1 – 1.000 m. Pada batang dan cabang pohon dan perdu dengan tajuk yang tidak begitu rapat. (Van Steenis, 1997).

7. Nephrolepis exaltata (Pakis sayur)

Paku tanah, jarang epifit. Akar rimpang tegak, berdaun lebat. Tangkai daun 10 – 60 cm, pangkalnya gundul atau bersisik jarang. Helaian daun dari tanaman normal 20 – 120 kali 5 – 16 cm, kerapkali kaku tegak; poros gundul. Anak daun duduk atau hampir duduk, kerapkali dengan sisik yang berkapur, yang terbawah agak berjauhan, kecil, yang elbih tinggi terkumpul rapat, tidak tersusun seperti genting, ujung menyempit, lancip. Anak daun fertil lurus berbentuk sabit, pada pangkal tepi atas bertelinga, tepinya beringgit bergerigi ringan. Urat daun sejajar berdekatan rapat, diakhiri pada sorus atau pori air. Di daerah tidak begitu kering, 5 – 1.200 m. Hutan belukar dan rimba rumput, pagar, tepi air, rumpun bambu, tepi hutan, hutan sekundair (Van Steenis, 1997:87).

Pembahasan

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa tumbuhan epiphyt pada tumbuhan kelapa sawit yang terdapat di lokasi penelitian adalah 7 jenis (spesies). 6 (enam) jenis merupakan tumbuhan paku, sedang 1 (satu) lainnya merupakan spermatophyta, yaitu Beringin (Ficus benjamina). Hal yang menarik adalah bahwa pada pohon sawit tumbuh tumbuhan yang sebenarnya bukanlah epifit sesungguhnya, seperti paku sayur dan juga beringin. Hal disebabkan karena biasanya pohon sawit adalah mempunyai media yang

54 subur. Di samping itu Nephrolepis exaltata (Pakis Sayur) juga mempunyai sifat yang suka terhadap naungan dan tentu saja media yang lembab.

PENUTUP

Dari analisis data penelitian epiphyt pada kelapa sawit di perkebunan masyarakat Desa Darussalam Kecamatan Peusangan Selatan Kabupaten Bireun dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

a. Pada pohon sawit di perkebunan masyarakat Desa Darussalam Kecamatan Peusangan Selatan Kabupaten Bireun didapat 7 jenis (spesies) epiphyt.

b. Epifit yang diperoleh tidak hanya tumbuhan paku namun juga terdapat tumbuhan Spermatophyta

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 1996. Bercocok Tanam Kelapa Sawit. Jakarta; Deptan.

Anonimous, 2001. Data Ukuran Pohon Pinus sebagai Media Tumbuh Paku Epifit. Proseding Seminar PPD HEDS FMIPA Universitas Andalas.

Andrew Dharman, 2004. Pohon Memiliki Daun. Jakarta: Gradier International, Inc. Anwar, Jazanul, Sangil J. Damanik, Nazaruddin Hisyam., 1990. Ekologi Ekosistem

Sumatera. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Desmukh, I. 1992. Ekologi dan Biologi Tropika . Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Ewusie, J. Yanney, 1990, Pengantar Ekologi Tropika. Bandung: ITB.

Hadisunarso, 2002. Buku Saku Pohon. Jakarta: Erlangga.

Loveless, A.R 1991. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Jakarta: Gramedia

Mitchell, 1997. Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Odum, 1993. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta: UGM Press.

Setiadi, D., dan Tjondronegoro, P.D. 1989. Dasar-dasar Ekologi. Bogor: PAU-ITB. Soerianegara, I. dan A. Indrawan, 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor: Fakultas

Kehutanan.

Steenis, C.G.G.J., 1997. Flora. Jakarta: Pradnya Paramita. Syafei, E.S. 1994. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung: ITB.

Tjitrosoepomo, G. 1993. Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

55 PEMANFAATAN KUNYIT (Curcuma domestica) SEBAGAI FEED