Daftar Isi
Aplikasi Phytoremiasi dalam Penyisihan Ion Logam Khromium (Cr) dengan Menggunakan Tumbuhan Obor (Typha latifolia)
Oleh : Irhamni
Tinjauan Perilaku Ibu Rumah Tangga dalam Pembuangan Sampah Domestik di Desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar
Oleh : Cut Permataan Cahaya
Tinjauan Prilaku Masyarakat terhadap Pemeliharaan Jamban Keluarga di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar Oleh : Zulfitri
Peluang dan Tantangan Penggunaan Agensia Hayati Entomopatogenik dalam Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan
Oleh : Lukmanul Hakim
Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dari Buah Laban (Vitex pinnata Linn) Asal Nanggroe Aceh Darussalam
Oleh : Syafruddin
Jenis Tumbuhan dan Manfaatnya untuk Bahan Campuran Pembuatan Kue Chingkhui di Desa Teumarem Kecamatan Lamno Kabupaten Aceh Jaya Oleh : Armi, dan Sri Andriani
Jenis-jenis Tumbuhan Epifit pada Phon Sawit di Desa Darussalam Kecamatan Peusangan Selatan Kabupaten Bireun
Oleh : M. Ridhwan
Pemanfaatan Kunyit (Curcuma domestica) sebagai Feed Additive untuk Pertumbuhan Ayam Broiler
Oleh : Rita Ariani, Jailani, dan M.Ridhwan
1 - 7 8 – 13 14 – 22 23 - 27 28 - 37 38 – 46 47 - 54 55 – 62
Serambi Saintia (Jurnal Sains dan Aplikasi)
Pembina
: Rektor USM Banda Aceh
Pengelola/Penerbit : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat
Dewan Redaksi
Ketua
: Drs. M. Ridhwan, M.Pd.
Sekretaris
: Dra. Armi, M.Si.
Anggota
: Drs. Jailani, M.Pd
Ir. Lukmanul Hakim, M.P
Syafruddin, S.Pd., M.Pd.
Drs. Muhammad Saleh, M.Pd
Irhamni, ST, M.T.
Jalaluddin, S.Pd., M.Pd
Tata Usaha
: Kamaliansyah Walil, S.Pd
Mitra Bestari
: DR. Jufri, M.Si (Unsyiah)
DR. Muhibuddin, M.Si (Unsyiah)
DR. Mudatsir, M.Si (Unsyiah)
1
APLIKASI PHYTOREMEDIASI DALAM PENYISIHAN ION LOGAM KHROMIUM (Cr) DENGAN MENGGUNAKAN
TUMBUHAN OBOR (Typha latifolia)
Irhamni
Dosen Fakultas Teknik Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh
ABSTRAK
Penelitian tentang aplikasi phytoremediasi dalam penyisihan ion logam khromium (Cr) dengan menggunakan tumbuhan air (Typha latifolia) telah dilakukan dalam skala laboratorium pada media yang mengandung ion logam Cr. Typha latifolia sebanyak enam batang per media dihidupkan pada air yang mengandung ion logam Cr (35, 43, 65 mg-Cr/L) dan setiap minggu pertumbuhannya, konsentrasi Cr pada lapisan air, tanah, akar, dan daun diambil dan dianalisa untuk mengetahui laju pertumbuhan dan akumulasi ion logam Cr pada tumbuhan. Tanaman pada media kontrol (tidak mengandung Cr) juga dipersiapkan untuk kebutuhan ini. Destruksi ion logam Cr daun, tanah, dan akar dilakukan dengan menggunakan metode standar TCLP yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan Atomic Absorption Spectrofotometer Shimadzu AA 6300 dengan panjang gelombang 357,80 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ion logam Cr berpengaruh terhadap pertumbuhan Typha latifolia. Laju pertumbuhan Typha latifolia pada media tanpa ion logam Cr lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhannya pada media yang mengandung ion logam Cr. Akumulasi ion logam Cr oleh tanaman Typha latifolia pada konsentrasi 35, 43, dan 65 mg-Cr/L berkumpul di bahagian akar tumbuhan. Untuk konsentrasi 35 mg-Cr/L (0,3080 mg-Cr/kg), 43 mg-Cr/L (1,0097), dan 65 mg-Cr/L (0,0690 mg-Cr/kg).
Kata Kunci : Phytoremediasi, Typha latifolia, khromium, dan removal.
PENDAHULUAN
Polusi lingkungan oleh racun logam berat terjadi secara global melalui proses industri, proses pertanian, dan pembuangan limbah. Khromium (Cr) merupakan salah satu logam berat yang paling berbahaya dalam lingkungan, karena dengan levelnya yang tinggi akan berbahaya terhadap kehidupan organisme. Cr tidak dapat dengan mudah di degradasi dan biasanya membutuhkan proses yang sesuai untuk membersihkannya dari lingkungan (Lasat, 2002; Henry, 2000; Bemmicelli, 2004, dalam Faeiza et al. 2007). Cr masuk ke lingkungan melalui udara, air, dan tanah yang pada akhirnya masuk ke dalam ikatan melalui air yang terkontaminasi. Keracunan logam ini pada tubuh manusia dapat berakibat buruk terhadap saluran pernafasan, kulit, pembuluh darah, dan ginjal. Banyak hasil penelitian yang telah dilaporkan oleh peneliti dalam upaya mencari solusi untuk menangani permasalah kontaminasi logam khromium di lingkungan. Salah satunya adalah aplikasi tumbuhan air melalui proses phytoremediasi (Kay, dkk., 1984 dan Zhu, dkk., 1999).
2 Phytoremediasi merupakan suatu sistem di mana tanaman tertentu yang bekerjasama dengan mikroorganisme dalam media (tanah, koral, dan air) dapat mengubah zat kontaminan (pencemar/polutan) menjadi kurang atau tidak berbahaya bahkan menjadi bahan yang berguna secara ekonomi. Sebagai salah satu teknologi yang sedang di kembangkan adalah phytoremediasi yang telah menarik minat banyak pihak termasuk peneliti dan pengusaha. Phytoremediasi diharapkan dapat memberikan sumbangan yang nyata bagi usaha mempertahankan dan memperbaiki kualitas lingkungan. Sebagai bagian dari teknik phytoremediasi, proses phytoakumulasi dapat menarik zat kontaminan dan media sehingga dapat terakumulasi di sekitar akar tumbuhan, proses ini disebut juga Hyperakumulasi. Phytodegradasi juga merupakan bagian dari teknik phytoremediasi yaitu proses yang dilakukan oleh tumbuhan untuk menguraikan zat kontaminan dengan rantai molekul kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan susunan molekul menjadi lebih sederhana dan dapat berguna bagi pertumbuhan tumbuhan itu sendiri. Proses ini dapat berlangsung pada daun, batang, akar atau di luar sekitar akar dengan bantuan enzim yang dikeluarkan oleh tumbuhan itu sendiri. Beberapa tumbuhan mengeluarkan enzim berupa bahan kimia yang dapat mempercepat proses degradasi (Anonymous, 2003). Enzim ini diperlukan oleh tanaman terutama pada sejumlah biomassa dan area permukaan akar pada media hidroponik (Dushenkov, dkk., 2000 dalam Faeiza, dkk., 2007). Pendekatan ini sesuai proses remediasi untuk sebagian besar logam seperti Pb, Cd, Ni, Cu, dan Cr.
Beberapa jenis tanaman air mempunyai kemampuan untuk mengurangi logam berat di dalam air seperti Eichhornia crassipes (Kay, dkk., 1984; Zhu, dkk., 1999) dan Hydrocotyle umbellata l. (Dushenkov, dkk., 2000 dalam Faeiza, dkk., 2007), namun tumbuhan ini masih memiliki keterbatasan dalam kemampuan akumulasinya. Tumbuhan lain adalah Typha latifolia yang merupakan tumbuhan yang dapat hidup pada kondisi wetland. Tumbuhan ini dapat digolongkan kepada jenis tumbuhan hiperakumulator. Kemampuan tumbuhan Typha latifolia dalam menyerap logam berat besar, menjadikan tumbuhan ini digunakan sebagai alternatif dalam menyerap limbah logam (Mc Naughten, dkk., 1997 dalam Ye, dkk., 1997). Tumbuhan air lainnya yang dapat menyerap logam berat adalah Salvonella mullesta m, Anturium Merah/Kuning, Alamanda Kuning/Ungu, Akar Wangi, Bambu Air, Cana Presiden Merah/Kuning/Putih, Dahlia, Dracenia Merah/Hijau, Heleconia Kuning/Merah, Jaka, Keladi Loreng/Hitam, Lotus Kuning/Merah, Padi-padian, Papirus, Pisang Mas, Spider Lili, dan lainnya (Anonymous, 2003), yang banyak ditemukan di daerah persawahan dan genangan air. Sayuran merupakan salah satu jenis tumbuhan yang juga dapat menyerap logam berat dari tanah. Kebanyakan logam berat berkumpul di bagian akar tumbuhan, termasuk sayuran berdaun, berbuah, dan berubi, seperti Sawi (Brassica nigra), Tembikai (Citrullus lonatus), Labu (Cucurbita moshata) dan Ubi kayu (Manihot esculenta) (Khairiah, dkk., 2002; Khairiah, dkk., 2003 dalam Khairiah, dkk., 2008).
Penelitian ini difokuskan kepada kajian tentang kemampuan tanaman air Typha latifolia untuk proses phytoremediasi. Typha latifolia diprediksikan dapat digunakan sebagai penyerap logam berat sehingga diharapkan dapat digunakan untuk alternatif yang potensial dalam pengembangan teknologi phytoremediasi yang ada.
3 Hasil penelitian dapat menggambarkan kemampuan Typha latifolia untuk membersihkan kontaminasi logam Cr dari air terkontaminasi.
METODE PENELITIAN
Kulturisasi Tumbuhan Air (Typha latifolia)
Tumbuhan Air Typha latifolia dengan ketinggian mencapai 50 cm diambil dari daerah di kawasan Peurada, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, merupakan tumbuhan yang dapat hidup pada kondisi lahan basah (wetland) yang terbuka seperti kolam, danau, parit, dan selokan. Tumbuhan dihidupkan pada reaktor polybag yang tidak mengandung ion logam Cr selama masa kulturisasi (1 bulan). Gambar 1 menunjukkan tumbuhan Typha latifolia yang digunakan pada penelitian. Setelah kulturisasi dilakukan, tumbuhan dipindahkan dan dihidupkan pada reaktor perlakuan (box PVC 20 ltr). Typha latifolia dihidupkan pada air terkontaminasi Cr (35, 43, dan 65 mg-Cr/L), jumlah batang per reaktor 6 batang, air pada reaktor kontrol tidak mengandung Cr, setiap minggu pertumbuhan tumbuhan diukur dengan skala cm dan kandungan Cr pada tanah, akar, daun, dan air dianalisa untuk mengetahui : (1) pengaruh ion logam Cr terhadap pertumbuhan Typha latifolia, (2) pengaruh umur tanaman terhadap kandungan Cr pada effluent, (3) laju penyisihan ion logam Cr pada permukaan air, (4) akumulasi ion logam Cr oleh tanaman Typha latifolia.
Gambar 1 Tumbuhan Typha latifolia yang digunakan pada penelitian
Analisa Kandungan ion Logam Cr
Sampel tanah, daun, dan akar yang telah dikeringkan pada oven (60oC), dibersihkan dan ditempatkan pada botol sampel dalam desikator. Destruksi logam berat dari sampel tanah dilakukan berdasarkan metode standar Toxicity Characteristic Leaching Procedure (USEPA, 1989). Sampel tanah dimasukkan bersama-sama asam
4 nitrat (HNO3) 5 ml pada extractor, dengan perbandingan 200:1 (cairan:padatan). Sampel selanjutnya dikocok selama 18 jam dengan kecepatan 30 rpm, akhirnya cairan disaring dan ditambah air suling hingga 50 ml. Sampel dipanaskan sampai larutan hampir kering, kemudian sampel dimasukkan kedalam labu ukur 50 ml melalui kertas saring dan ditambahkan aquades sampai 50 ml, dan akhirnya dianalisa dengan menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) Shimadzu AA 6300 untuk menentukan kandungan logam berat yang terdapat pada sampel dengan prosedur standar (Eaton dan Epps, 1995), untuk setiap logam yang dianalisa ditetapkan gas yang digunakan , tekanan udara, hallow katoda dan lampu current yang spesifik.
Sementara itu, untuk sampel air dilakukan analisa secara langsung tanpa proses destruksi dengan menggunakan AAS Shimadzu AA 6300 pada panjang gelombang 357,80 nm.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh ion Logam Khromium Terhadap Pertumbuhan Typha latifolia
Pengaruh ion logam khromium terhadap pertumbuhan Typha latifolia dilakukan dengan menghidupkan tumbuhan ini pada air terkontaminasi Cr dengan jumlah 6 batang per reaktor dan pertumbuhan tumbuhan diukur setiap minggu dengan skala cm. Air pada reaktor kontrol tidak mengandung Cr dan hasilnya ditabulasikan pada Tabel 1 dan diilustrasikan pada Gambar 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh ion logam khromium terhadap pertumbuhan Typha latifolia berbeda-beda, makin besar konsentrasi khromium pada lapisan air menyebabkan semakin kecilnya laju pertumbuhan Typha latifolia. Hal ini ditunjukkan pada media air yang mengandung 5 mg-Cr/L, pertumbuhannya lebih panjang dari pada media yang mengandung ion logam Cr dengan konsentrasi 10, 15 mg-Cr/L maupun yang mengandung 43 mg-Cr/L. Laju pertumbuhan Typha latifolia pada reaktor kontrol (tanpa kandungan ion logam Cr) lebih baik apabila dibandingkan dengan laju pertumbuhan Typha latifolia pada media yang mengandung 43 mg-Cr/L, maka pertumbuhan pada 5,10, dan 15 mg-Cr/L lebih baik sehingga dapat disimpulkan bahwa ion logam Cr mempengaruhi pertumbuhan Typha latifolia.
Tabel 1 Pengaruh ion logam khromium terhadap pertumbuhan Typha latifolia selama delapan (8) minggu (dalam cm)
Waktu Tumbuh (Minggu)
Panjang Tanaman dalam cm
Kontrol (0) 43 15 10 5 0 (Awal) 0 0 0 0 0 1 16 12 34 35 40 2 35 16 42 58 63 3 40 21 53 66 67 4 58 24 60 71 78 8 67 32 75 78 102
5 Typha latifolia dihidupkan pada air terkontaminasi Cr pada sebuah reaktor, jumlah batang per reaktor 6 batang, air pada reaktor kontrol tidak mengandung Cr, setiap minggu pertumbuhan tumbuhan diukur dengan skala cm.
0 20 40 60 80 100 120 0 1 2 3 4 8
Waktu pertumbuhan, minggu
P e rt a m b a h a n p a n ja n g , c m control 43mg-Cr/L 15mg-Cr/L 10mg-Cr/L 5mg-Cr/L
Gambar 1 Pengaruh konsentrasi Cr pada umur tanaman ( 50 cm)
Hasil ini menunjukkan bahwa pengaruh ion logam Cr berbeda dengan logam berat lainnya, seperti Pb dan Cd. Setiap tanaman memiliki perbedaan sensitivitas terhadap logam berat dan memperlihatkan ketahanan yang berbeda dalam mengakumulasi logam berat. Pada percobaan pot, lumpur yang mengandung logam berat terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif awal tanaman sayuran di pot (Kalay dan Hindersah, 2003; Muntalif dan Hindersah, 2003).
Akumulasi ion logam Cr oleh tanaman Typha latifolia
Pengujian akumulasi ion logam Cr oleh tanaman Typha latifolia dilakukan dengan menghidupkan tumbuhan ini pada air terkontaminasi Cr (35, 43, dan 65 mg-Cr/L) dengan jumlah 6 batang setiap reaktor. Setelah 8 minggu masa pertumbuhan, konsentrasi Cr pada tanah, akar, dan daun dianalisa dan kemampuan akumulasinya akan ditabulasikan pada Tabel 4.6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Akumulasi ion logam Cr berpengaruh (berbeda-beda) oleh tanaman Typha latifolia yang ditunjukkan dengan masing-masing konsentrasi awalnya 35, 43, dan 65 mg-Cr/L. Akumulasi ion logam Cr oleh tanaman Typha latifolia pada konsentrasi 35, 43, dan 65 mg-Cr/L berkumpul dibahagian akar tumbuhan, untuk konsentrasi 35 mg-Cr/L (0,3080 mg-Cr/kg), 43 mg-Cr/L (1,0097), dan 65 mg-Cr/L (0,0690 mg-Cr/kg). Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilaporkan oleh (Hermis, 2004) yang menunjukkan kemampuan tanaman Typha latifolia dalam menyerap Pb. Waktu akar tanaman menyerap, ion Pb yang terlarut dalam air bergerak menuju akar tanpa aliran air, tetapi bergerak secara difusi, dimana bergeraknya suatu zat dari bagian yang berkonsentrasi tinggi kebagian yang berkonsentrasi rendah, disebabkan karena pada saat pengambilan
6 1 gram berat kering tanaman banyak yang terambil pada bagian akar. Kandungan Pb dalam tanaman pada waktu tinggal 8 hari adalah 0,1208 mg-Pb/L (konsentrasi Pb pada 5 mg-Pb/L).
Tabel 6 Akumulasi ion logam Cr oleh tanaman Typha latifolia Konsentrasi Cr pada
permukaan air (mg-Cr/L) Konsentrasi Cr (mg-Cr/kg)
Tanah Akar Daun
35 0,0212 0,3080 0,1110
43 0,0499 1,0097 0,0162
65 0,0301 0,0690 0,0087
Typha latifolia dihidupkan pada air terkontaminasi Cr (35, 43, dan 65 mg-Cr/L) dan jumlah batang pada setiap reaktor sebanyak 6 batang.
Akumulasi sebahagian besar logam berat didapati berada dibahagian akar sayuran. (Cary, dkk., 1977; Mishra, dkk.,1995; Vajpayee, dkk., 2000 dalam Ahmad, dkk.,2008), melaporkan bahwa sebahagian besar logam berat yang diambil oleh tumbuhan berkumpul dibahagian akar tumbuhan. Hasil ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilaporkan oleh (Faeiza, dkk., 2007) yang menunjukkan bahwa pengambilan Pb oleh akar Phylidrum lanuginosum tumbuh dalam konsentrasi yang berbeda akar meningkat dalam akar dengan meningkatnya konsentrasi Pb dalam larutan. Pb tertinggi dalam akar tanaman adalah 120,04 mg-Pb/L untuk 200 mg-Pb/L dari konsentrasi awal Pb, persentase pengambilan Pb tertinggi adalah dicapai pada konsentrasi 100 mg-Pb/L dengan 92,41%, sedangkan pengambilan Pb terendah adalah pada konsentrasi 200 mg-Pb/L dengan 66,69%.
Penyerapan dan akumulasi logam berat oleh akar, translokasi logam dari akar ke bagian tumbuhan lain, dan lokalisasi logam pada bagian sel tertentu untuk menjaga agar tidak menghambat metabolisme tumbuhan tersebut, agar tumbuhan dapat menyerap logam harus dibawa ke dalam larutan di sekitar sel akar (rizosfer), selanjutnya ion logam diangkut melalui jaringan pengangkut xilem dan floem ke bagian tumbuhan lain, untuk meningkatkan efisiensi pengangkutan, ion logam diikat oleh molekul khelat.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang aplikasi phytoremediasi dalam penyisihan ion logam khromium (Cr) dengan menggunakan tumbuhan air Typha latifolia, kesimpulan yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut:
(1) Konsentrasi ion logam Cr mempengaruhi laju pertumbuhan Typha latifolia,
(2) Akumulasi ion logam Cr oleh tanaman Typha latifolia ditemukan maksimum pada bahagian akar tumbuhan masing-masing untuk konsentrasi 35 mg-Cr/L (0,3080 mg-Cr/kg), 43 mg-Cr/L (1,0097), dan 65 mg-Cr/L (0,0690 mg-Cr/kg).
7 DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2003, Fitoremediasi Upaya Mengolah Air Limbah Dengan media Tanaman, Direktorat Perkotaan Dan Perdesaan Wilayah Barat Ditjen Tata Perkotaan Dan Tata Perdesaan Departemen Permukiman Dan Prasarana Wilayah.
Eaton, AD., dan Epps, A.A., 1995, Standart Methods for the Examintion of Water and Wastewater, 19th Ed, APHA, AWWA, and WEF, Baltimore, MD
Faeiza, B., Kasmawati, M., Zuraimi, O., Darus, F., 2007, The Used Of Aquatic Wetland Plant Phylidrum lanuginosum To Remove Lead From Aqueous Solution, Faculty of Applied Science, University technology MARA Shah Alam, Selangor, Malaysia
Kay S.H., Haller W.T. dan Garrard L.A., 1984, Effect of heavy metals on water hyacinths [Eichhornia crassipes (Mart.) Solms], Aquatic Toxicology, 5, 117-128.
Kalay A. M. dan R. Hindersah, 2003, “Pemanfaatan Lumpur Kering Kolam Anaerob Pengolahan Limbah sebagai Media Pembibitan Tanaman Sayuran”, Prosiding Kongres dan Seminar Nasional Himpunan Ilmu Tanah Indonesia VIII, hal 504-510.
Khairiah, J., Ahmad, M., Siti, D, dan Maimon, A., 2008, Pemodelan dan Analisis Data Penyerapan Logam Berat oleh Sayuran Berdaun Terpilih, Sains Malaysiana 37(4):351-358
Kumar, P. and Dara, S.S, 1982, Utilisation of agricultural waste for docontaminating industrial/domestic wastewaters from toxic metals. J. Of Agricultural Wastes, 4 : 213-223
Maryani, L, 2004, “Pemanfaatan Lumpur Instalasi Pengolahan Air Limbah dan Pupuk Kandang Sapi sebagai Amelioran pada Tanaman Jagung Manis, Universitas Padjadjaran, hal 26-34.
Muntalif, B.S. dan R. Hindersah, 2003, “The Use of Domestic Sludge as Organic Matter for Vegetable Production, Indonesian Journal on Chemistry and Toxicology, 2:32-35.
Qodaryah, E.S., 2004, “Pengaruh Lumpur Kering dan Pupuk Kandang Sapi terhadap pH Tanah, Pb Terlarut, Pb Total, Akumulasi Pb pada Pupus Tanaman, dan Hasil Pakcoy pada Fluventic Eutrudepts, Universitas Padjadjaran, hal 30-38. Quek, S.Y., Wase, D.A.J. and Forster, C.F, 1998, The use of sago waste for the
sorptions of lead and cooper. J. Of Water SA, 24: 251-256.
Suzyana A dan Faeiza Hj, 2004, Fern Tree (Gleichenia linearis) As Metal Sorbent for Lead Ions Removal, Prosiding SKAM, 17, 694-698
US-EPA 1989 EPA Superfund Record of Decision: Picatinny Arsenal (US Army). Rockaway Township, NJ, U. S. Environmental Protection Agency Superfund. http://www.epa.gov/superfund/sites/rods/fulltext/r0289093.pdf
Ye, Baker, Wong, dan Willis, 1997, Zinc Lead and Cadmium Tolerance, Uptake and Accumulation by Typha latifolia, Department of Biology, Hongkong Baptist University, Kowloon Tong, Hongkong
8
TINJAUAN PERILAKU IBU RUMAH TANGGA DALAM PEMBUANGAN SAMPAH DOMESTIK DI DESA LAM ILIE MESJID KECAMATAN
INDRAPURI KABUPATEN ACEH BESAR
Cut Permataan Cahaya
Dosen Politeknik Kesehatan, Akademi Kesehatan Lingkungan, Banda Aceh
ABSTRAK
Penelitian tentang tinjauan perilaku ibu rumah tangga dalam pembuangan sampah domestik di Desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar. Sampah rumah tangga biasanya ditampung di tempat sementara untuk beberapa lama, perlu disediakan tempat penampungan yang mampu menampung jumlah sampah, sesuai dengan bentuk, ukuran dan jumlah penduduk beserta kondisi lingkungan. Hasil pengamatan masih kurang tersedia tempat sampah dan masih banyak ibu rumah tangga yang belum mengetahui cara pembuangan sampah yang baik sehingga masih ada yang membuang sampah disembarangan tempat. Penelitian ini untuk mengetahui perilaku ibu rumah tangga dalam pembuangan sampah domestik di desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar tahun 2012, bersifat deskriptif dengan populasi dan sampel berjumlah 60 sampel, penelitian dilakukan pada tanggal 26 januari sampai dengan 4 februari 2012. Hasil Penelitian menunjukkan dari 38 ibu rumah tangga dengan pengetahuan baik dan pengelolaan sampah memenuhi syarat sebanyak 27 responden (71,1%), dari 41 ibu rumah tangga dengan tindakan baik dan pengelolaan sampah memenuhi syarat sebanyak 27 responden (65,9%). Sebagian besar Ibu rumah tangga di desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar mempunyai pengetahuan yang baik, tindakan yang baik dan pengelolaan sampah yang memenuhi syarat.
Kata Kunci : Perilaku ibu rumah tangga, pembuangan sampah, sampah domestik
PENDAHULUAN
Sampah adalah sesuatu bahan atau benda yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah digunakan lagi dalam suatu kegiatan dan dibuang. Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menjangkit penyakit. Adapun penyakit yang ditimbulkan adalah penyakit saluran pencernaan (Diare, kolera, thypus), penyakit kulit, penyakit cacingan, dan penyakit demam berdarah (Aedes Aegypty) yang hidup dilingkungan pengelolaan sampahyang kurang baik (kaleng bekas yang dapat menjadi tempat genangan air) (Notoadmodjo, 2003). Sampah rumah tangga biasanya ditampung ditempat sementara untuk beberapa lama. Untuk itu perlu disediakan tempat penampungan yang mampu menampung jumlah sampah sesuai dengan bentuk, ukuran dan jumlah penduduk beserta kondisi lingkungan setempat. Kadang-kadang sampah yang diangkut langsung ketempat penampungan atau tempat pemusnahan tidak mendapatkan perhatian
9 mengenai sarana pembuangan sampah yang baik. Hal ini dapat terlihat bahwa pengelolaan sampah di rumah tangga masih belum memenuhi syarat kesehatan (Depkes RI, 2004).
Penduduk Desa Lam Ilie Mesjid berjumlah 60 KK dengan jumlah penduduk sebesar 237 jiwa. Dari hasil pengamatan yang dilakukan di desa lam ilie mesjid masih kurang tersedia tempat-tempat sampah disejumlah rumah tangga dan masih banyak ibu rumah tangga yang belum mengetahui bagaimana cara pembuangan sampah yang baik dan benar sehingga masih ada ibu rumah tangga yang membuang sampah di sembarangan tempat. Selain terbatasnya tempat pembuangan sampah sementara juga dikarenakan kurangnya pemahaman ibu rumah tangga terhadap pengelolaan tempat pembuangan sampah sementara sehingga dapat menimbulkan tempat perindukan vektor-vektor pembawa penyakit, dapat menimbulkan bau busuk dan dapat menggangu pemandangan dan sampah tersebut tidak diambil oleh petugas Dinas Kebersihan dan pertamanan. Dari observasi awal terdapat 23 ibu rumah tangga yang masih membuang sampah di sembarang tempat.
Pengelolaan sampah adalah suatu bidang yang berhubungan dengan pengaturan terhadap pengumpulan, penyimpanan, pengangkutan dan pemusnahan. Dengan suatu cara yang sesuai dengan prinsip – prinsip terbaik dari kesehatan masyarakat seperti tekhnik, perlindungan alam, keindahan dan pertimbangan – pertimbangan lain nya, serta mempertimbangkan sikap masyarakat. Makin banyak nya sampah yang dihasilkan, beranekaragam komposisinya, makin berkembang nya kota, terbatasnya dana yang tersedia sehingga pengolahan sampah tidak optimal (Anonymous, 2000).
Gambar 1. Tempat Penampungan Sampah di Desa Lam Ilie Mesjid
Penelitian ini difokuskan kepada kajian tentang tinjauan perilaku ibu rumah tangga dalam pembuangan sampah domestik di Desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar Tahun 2012. Sehingga diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan ibu rumah tangga terhadap pembuangan sampah domestik. Hasil penelitian dapat menggambarkan kemampuan ibu rumah tangga dalam mengambil tindakan terhadap pembuangan sampah domestik di Desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar Tahun 2012. Sehingga masyarakat khususnya ibu rumah tangga dalam pengelolaan sampah domestik yang aman dan tidak merusak serta mencemari lingkungan sekitar tempat tinggal.
10 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku ibu rumah tangga dalam pembuangan sampah domestik di Desa lam Ilie Mesjid Kecamatan indrapuri tahun 2012.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian
Jenis penelitian ini bersifat Deskriptif yaitu untuk mengetahui Tinjauan perilaku ibu rumah tangga terhadap pembuangan sampah domestik di Desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar tahun 2012.
Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah sebagai berikut:
Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten aceh Besar pada tanggal 26 Januari sampai dengan 4 Februari 2012.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga yang tinggal di Desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar sebanyak 60 responden dari 60 KK. Sampel dalam penelitian ini adalah total sampling yaitu seluruh ibu rumah tangga yang ada di Desa Lam Ilie Mesjid sebanyak 60 sampel dari 60 KK. Kriteria Sampel :
a. Bersedia menjadi responden b. Bisa menulis dan membaca
c. Umur berkisar antara 15 – 55 tahun
d. Tidak meninggalkan tempat selama menjadi responden
Pengumpulan data
Data primer diperoleh dari wawancara observasi, data skunder diperoleh dari kantor kepala desa.
Analisa data
Analisa data dengan menggunakan univariat dan bivariat secara deskriptif dan data disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.
Perilaku Ibu Rumah tangga terhadap pembuangan sampah Pengetahuan Tindakan
11
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengetahuan
Dari hasil penelitian terhadap pengetahuan ibu rumah tangga di Desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar maka diperoleh hasil seperti terlihat pada tabel 1.
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu Rumah Tangga Dalam Pembuangan Sampah Di Desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar Tahun 2012
No Pengetahuan Frekuensi Persentase % 1 2 Baik Kurang Baik 38 22 63,34 36,66 Jumlah 60 100
Berdasarkan Tabel 1. menunjukkan bahwa dari 60 responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 38 ibu rumah tangga (63,34%)
Tindakan
Hasil penelitian terhadap tindakan ibu rumah tangga didesa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar. Hasil seperti terlihat pada tabel 2.
Tabel 2. Distribusi Responden berdasarkan Tindakan Ibu Rumah Tangga Dalam Pembuangan Sampah Di Desa Lam Ilie Kabupaten Aceh Besar No Tindakan Frekuensi Persentase
% 1 2 Baik Kurang Baik 41 19 68,33 31,67 Jumlah 60 100
Berdasarkan Tabel 2. diatas menunjukkan bahwa dari 60 ibu rumah tangga yang melakukan tindakan baik sebanyak 41 orang (68,33 %)
Pengelolaan Sampah
Dari hasil penelitian terhadap pengelolaan sampah oleh ibu rumah tangga di Desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar. Maka diperoleh hasil seperti terlihat pada tabel 3.
12 Tabel 3. Distribusi Responden bedasarkan Pengelolaan Sampah di Desa Lam Ilie
Mesjid Kabupaten Aceh Besar Tahun 2012 No Pengelolaan sampah Frekuensi Persentase % 1 2 Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat 35 25 58,33 41,67 Jumlah 60 100
Berdasarkan Tabel 3. menunjukkan bahwa dari 60 ibu rumah tangga yang melakukan pengelolaan sampah memenuhi syarat sebanyak 35 orang (58,33 %). Tabel 4. Distribusi Pengetahuan Ibu Rumah Tangga Terhadap Pengelolaan Sampah Di
Desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar
No Variabel Pengelolaan Sampah jml MS TMS F % F % 1 Penga-tahuan − Baik − Kurang baik 27 8 71,1 36,4 11 14 28,9 63,6 38 22 2 Tindakan − Baik − Kurang baik 27 8 65,9 42,1 14 11 34,1 57,9 41 19
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 38 ibu rumah tangga yang memiliki pengetahuan baik dan pengelolaan sampah memenuhi syarat sebanyak 27 ibu rumah tangga (71,1%). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka peneliti berasumsi sebagian besar ibu rumah tangga di desa Lam Ilie Mesjid sudah mempunyai pengetahuan baik dan pengelolaan sampah memenuhi syarat.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 41 ibu rumah tangga yang tindakan baik dan pengelolaan sampah memenuhi syarat yaitu sebanyak 27 ibu rumah tangga (65,9%). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka peneliti berasumsi sebagian besar ibu rumah tangga di desa lam Ilie Mesjid sudah mempunyai tindakan baik dan pengelolaan sampah memenuhi syarat. Dengan adanya tindakan yang baik dalam pengelolaan sampah maka ibu rumah tangga dapat meminimalkan jumlah sampah dan dapat memusnahkan sampah oleh masing-masing ibu rumah tangga sehingga dapat terhindar dari berbagai penyakit yang dapat disebabkan oleh sampah dan lingkungan rumah akan bersih dan nyaman.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka peneliti berasumsi sebagian besar ibu rumah tangga di desa Lam Ilie Mesjid sudah mempunyai tindakan baik dan pengelolaan sampah memenuhi syarat. Dengan adanya tindakan yang baik dalam pengelolaan sampah maka ibu rumah tangga dapat meminimalkan jumlah sampah dan dapat memusnahkan sampah oleh masing-masing ibu rumah tangga sehingga dapat terhindar dari berbagai penyakit yang dapat disebabkan oleh sampah dan lingkungan rumah akan bersih dan nyaman.
13
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian tentang Tinjauan Perilaku Ibu Rumah Tangga Dalam Pembuangan Sampah Domestik Di Desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar Tahun 2012, kesimpulan yang dapat diperoleh sebagai berikut: (1) Sebagian besar Ibu rumah tangga di Desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar sudah mempunyai pengetahuan baik dan pengelolaan sampah memenuhi syarat yaitu sebanyak 27 responden (71,1%).
(2) Sebagian besar Ibu rumah tangga di Desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar sudah mempunyai tindakan baik dan pengelolaan sampah memenuhi syarat yaitu sebanyak 27 ibu rumah tangga (65,9%).
Saran
Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk dapat menambah wawasan dan meneliti lebih lanjut lagi menyangkut pengelolaan sampah.
Diharapkan kepada ibu rumah tangga agar lebih meningkatkan pengetahuan dan tindakan dalam opembuangan sampah
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2000; Petunjuk Pelaksanaan Pengawasan Dampak Sampah (Aspek Kesehatan Lingkungan), Jakarta.
Depkes RI, 2004; Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Lingkungan, Dirjen PPM dan PLP, Jakarta
14
TINJAUAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PEMELIHARAAN JAMBAN KELUARGA DI GAMPONG LAM ILIE MESJID
KECAMATAN INDRAPURI KABUPATEN ACEH BESAR
Zulfitri
Dosen Sekolah Tinggi Kesehatan MasyarakatU’Budiyah Indonesia, Banda Aceh
ABSTRAK
Penelitian ini tentang perilaku masyarakat terhadap pemeliharaan jamban keluarga Di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri kabupaten aceh Besar, jumlah Kepala Keluarga 60 KK yang sebagian besar masyarakat bermata pencaharian sebagai petani. Hasil pengamatan awal yang dilakukan di Gampong Lam ilie mesjid ternyata masih ada jamban keluarga yang tidak memenuhi syarat. Hal ini menunjukkan bahwa pemeliharaan jamban masih kurang. Permasalahan yang timbul adalah perilaku masyarakat di Gampong Lam Ilie Mesjid masih kurang terhadap pemeliharaan jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan, sehingga jamban tidak dikelola dengan baik, karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pemeliharaan jamban dan pentingnya jamban. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan populasi adalah seluruh KK yang berjumlah 60 KK, sampel ini diambil adalah total populasi yang berjumlah 60 KK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar berpengaruh dan berpengetahuan tinggi terhadap pemeliharaan jamban yaitu sebanyak 53 orang (88,3%). Masyarakat yang bersikap positif terhadap pemeliharaan jamban yaitu sebanyak 52 orang ( 86,7%), dan masyarakat yang mempunyai tindakan yang baik terhadap pemeliharaan jamban yaitu sebanyak 46 orang (76,7%).
Kata Kunci : Perilaku masyarakat, Pemeliharaan Jamban.
PENDAHULUAN
Perilaku masyarakat Indonesia sehat adalah perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta partisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia (Notoatmodjo, 2003). Salah satu upaya penting untuk meningkatkan derajat kesehatan adalah pengadaan lingkungan fisik yang sehat bagi masyarakat jamban pada umumnya dan khususnya jamban keluarga merupakan salah satu sarana yang diperlukan untuk mewujudkan lingkungan bersih dan sehat. Dengan tersedianya jamban yang memenuhi syarat kesehatan sehingga dapat terhindar dari penyebaran penyakit. Pengaruh jamban yang tidak sehat terhadap penyakit diare sehingga membawa efek terhadap penurunan tingkat kesehatan (Tarigan, 2008).
Pencemaran lingkungan salah satunya pengelolaan lingkungan itu sendiri tidak memenuhi syarat sehat, seperti pengelolaan jamban, sehingga dapat berpengaruh
15 terhadap kesehatan manusia. Lingkungan yang bersih dan sehat adalah lingkungan yang didambakan oleh manusia dan dapat bermanfaat terhadap peningkatan hidup sehat (Sukardi, 2000). Menurut Depkes RI (1991) salah satu fasilitas kesehatan yang sangat penting adalah jamban keluarga. Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk membuang tinja atau kotoran manusia atau najis bagi suatu keluarga yang lazim disebut kakus/WC. Jamban keluarga merupakan sarana sanitasi dasar untuk menjaga kesehatan lingkungan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Masalah penyakit lingkungan pemukiman khususnya pada pembuangan tinja merupakan salah satu dari berbagai masalah kesehatan yang perlu mendapatkan prioritas. Penyediaan sarana pembuangan tinja terutama dalam pelaksanaan tidaklah mudah, karena menyangkut peran serta masyarakat yang biasanya sangat erat kaitannya dengan perilaku, tingkat ekonomi, kebudayaan dan pendidikan. Pembuangan tinja perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan salah satu bahan buangan yang banyak mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan dan sebagai media bibit penyakit, seperti diare, typhus, muntaber, disentri, cacingan dan gatal-gatal. Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan pada sumber air dan bau busuk serta estetika (Syaifuddin, 2000).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam pemeliharaan jamban keluarga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan adalah suatu wawasan apa yang diketahui terhadap sikap dan tindakan yang diambil. Tingginya pengetahuan maka perilaku seseorang akan bertambah baik. Sebaliknya jika pengetahuan seseorang kurang maka dapat berperilaku yang kurang wajar. Sehingga keputusan yang diambil sering menimbulkan kegagalan atau kesalahan
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulasi atau objek. Sikap itu tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan dahulu dari perilaku yang tertutup (Notoatmodjo, 2003).
Tindakan adalah kegiatan nyata dari seseorang terhadap stimulus yang ada. Menurut Depkes RI 2005, tindakan yang penting dan dapat dilakukan oleh keluarga untuk mencegah penyebaran penyakit terutama penyakit diare adalah membuang kotoran manusia secara aman yaitu di jamban.Untuk mencegah dan mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik, yaitu pembuangan kotoran harus di suatu tempat tertentu atau jamban yang sehat. Suatu jamban disebut sehat untuk daerah pedesaan apabila memenuhi persyaratan yaitu tidak mengotori permukaan tanah disekeliling jamban tersebut, tidak mengetori air permukaan disekiternya, tidak mengotori air tanah sekitarnya, tidak terjangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa dan binatang-binatang lainnya, tidak menimbulkan bau, mudah digunakan dan dipelihara, sederhana desainnya, murah dan dapat diterima oleh pemakainya ( Notoadmojo (2007).
Jamban keluarga adalah suatu bangunan atau tempat yang sengaja dibuat untuk dipergunakan dalam membuang tinja atau kotoran manusia atau najis bagi keluarga yang lazim disebut kakus/WC (Sukardi, 2000). Berikut bagan peranan tinja dalam penularan penyakit :
16 Gambar 1. Peranan Tinja Dalam Penyebaran penyakit.
Gampong Lam Ilie Mesjid adalah sebuah gampong di daerah Aceh Besar dengan jumlah kepala keluarga 60 KK yang sebagian besar masyarakat bermata pencaharian sebagai petani. Dari hasil pengamatan awal yang dilakukan di Gampong Lam Ilie Mesjid ternyata masih ada jamban keluarga yang tidak memenuhi syarat hal ini dapat dilihat dari lantai jamban, tidak adanya ventilasi, dijumpainya jamban yang penuh dan tidak disedot. Hal ini menunjukkan bahwa pemeliharaan jamban keluarga masih kurang. Permasalahan utama yang timbul adalah perilaku masyarakat di Gampong Lam Ilie Mesjid masih kurang terhadap pemeliharaan jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan sehingga jamban tidak dikelola dengan baik.
Penelitian ini difokuskan kepada Perilaku Masyarakat Terhadap Pemeliharaan Jamban Keluarga di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar. Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam memelihara kesehatan lingkungan terutama dari segi hal pemeliharaan jamban yang sehat, bagi masyarakat Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar.
Tujuan Penelitian
- Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat terhadap pemeliharaan jamban keluarga.
- Untuk mengetahui sikap masyarakat terhadap pemeliharaan jamban keluarga. - Untuk mengetahui tindakan masyarakat terhadap pemeliharaan jamban
keluarga.
Manfaat penelitian
Bagi masyarakat
agar dapat dijadikan bahan masukan dalam pemeliharaan jamban yang sehat.
Bagi penulis
untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta pengalaman bagi penulis Ti Tan gan Lal Ta Makanan, minuman, sayur-sayuran M Penja mu sa Ai r
17
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif untuk mengetahui tinjauan perilaku masyarakat terhadap pemeliharaan jamban keluarga di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar Tahun 2012,
Kerangka Konsep
Menurut Notoatmodjo (2003), Sukardi (2000) perilaku pemeliharaan kesehatan termasuk di dalamnya jamban dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan. Berdasarkan teori di atas maka dapat dibuat bagan kerangka penelitian sebagai berikut :
Gambar 2. Kerangka Konsep
Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar, pada tanggal 13 s/d 15 Februari 2012.
Populasi dan sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi, semua KK yang ada di Gampong Lam Ilie Mesjid di jadikan sampel sebanyak 60 KK.
Pengumpulan data
Data diperoleh dari wawancara dan observasi, data sekunder, diperoleh dari kantor kepala Desa.
Analisis data
Analisis data dengan menggunakan univariat, bivariat dan multivariat secara deskriptif dan data disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.
Pemeliharaan Jamban
Pengetahuan
Sikap Tindakan
18
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemeliharaan Jamban
Tabel 4. Distribusi Pemeliharaan Jamban Keluarga Di Gampong Lam Ilie Mesjid Indrapuri Aceh Besar
No Pemeliharaan Jamban Frekuensi % 1. 2. Ada Tidak ada 46 14 76,7 23,3 Total 60 100
Berdasarkan tabel 4. dapat disimpulkan bahwa kepala keluarga di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar yang ada melakukan pemeliharaan jamban keluarga yaitu sebanyak 76,7 %.
Pengetahuan
Tabel 5. Distribusi Pengetahuan Kepala Keluarga Terhadap Pemeliharaan Jamban Keluarga Di Gampong Lam Ilie Mesjid Indrapuri Aceh Besar
No Pengetahuan Frekuensi % 1. 2. Tinggi Rendah 53 7 88,3 11,7 Total 60 100
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar berpengetahuan tinggi terhadap pemeliharaan jamban yaitu sebanyak 53 orang (88,3 %).
Sikap
Tabel 6. Distribusi Sikap Kepala Keluarga Terhadap Pemeliharaan Jamban Keluarga Di Gampong Lam Ilie Mesjid Indrapuri Aceh Besar
No Sikap Frekuensi % 1. 2. Positif Negatif 52 8 86,7 13,3 Total 60 100
19 Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar bersikap positif terhadap pemeliharaan jamban yaitu sebanyak 52 responden (86,7%).
Tindakan
Tabel 7.Distribusi Tindakan Kepala Keluarga Terhadap Pemeliharaan Jamban Keluarga Di Gampong Lam Ilie Mesjid Indrapuri Aceh Besar Tahun 2012 No Tindakan Frekuensi % 1. 2. Baik Kurang baik 46 14 76,7 23,3 Total 60 100
Dari 60 responden bahwa kepala keluarga di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar mempunyai tindakan yang baik terhadap pemeliharaan jamban keluarga yaitu sebanyak 76,7 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar mempunyai tindakan yang baik terhadap pemeliharaan jamban yaitu sebanyak 46 responden (76,7 %).
Tabel 8. Tabulasi Silang Antara Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Kepala Keluarga Dengan Pemeliharaan Jamban Keluarga Di Gampong Lam Ilie Mesjid Kabupaten Aceh Besar
No Variabel Pemeliharaan Jamban Jml
Ya Tidak 1 Pengetahuan − Tinggi 43 10 53 − Rendah 3 4 7 2 Sikap − Positif 39 13 52 − Negatif 7 1 8 3 Tindakan − Baik 46 0 46 − Kurang baik 0 14 14
Dari analisa tabulasi silang antara pengetahuan terhadap pemeliharaan jamban bahwa dari 53 responden yang mempunyai pengetahuan tinggi terdapat 43 responden ada pemeliharaan jamban dan yang tidak ada pemeliharaan jamban sebanyak 10 responden, dari 7 responden yang berpengetahuan rendah terdapat 3 responden yang ada pemeliharaan jamban dan yang tidak ada pemeliharaan jamban sebanyak 4 responden yang tidak ada.
Dari 60 responden bahwa kepala keluarga di Gampong Lam ilie mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar berpengetahuan tinggi tentang pemeliharaan jamban keluarga sebanyak 53 KK (88,3 %). Pengetahuan tinggi yang sudah dimiliki oleh masyarakat Lam Ilie Mesjid akan menjadi pemicu yang positif dalam berperilaku terutama dalam pemeliharaan jamban keluarga.Tingginya
20 pengetahuan responden tentang pemeliharaan jamban dipengaruhi oleh informasi yang diterima. Hal ini sejalan dengan teori dari Notoatmodjo (2003) yang menyebutkan bahwa informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan
Dari analisa tabulasi silang antara sikap terhadap pemeliharaan jamban bahwa dari 52 responden yang mempunyai sikap positif terdapat 39 responden ada pemeliharaan jamban dan yang tidak ada pemeliharaan jamban sebanyak 13, dari 8 responden yang mempunyai sikap negatif terdapat 7 responden ada pemeliharaan jamban dan yang tidak ada pemeliharaan jamban sebanyak 1 responden
Dari 60 responden bahwa kepala keluarga di Gampong Lam ilie mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar bersikap positif terhadap pemeliharaan jamban keluarga yaitu sebanyak 86,7 %.
Sikap positif yang sudah dimiliki oleh masyarat Lam Ilie Mesjid dalam pemeliharaan jamban keluarga otomatis terwujud dalam prilaku yang baik, hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan pribadi masyarakat, kebudayaan orang lain yang dianggab lebih baik, dari mediya masa, istalasi pendidikan maupun faktor emosi dalam diri individu tersebut. dari hasil penelitin dapat diketahui bahwa semakin baik sikap masyarakat maka akan semakin baik pula perilakunya dalam pemeliharaan jamban
Dari analisa tabulasi silang menunjukkan bahwa dari 46 responden yang melakukan tindakan baik terdapat 46 responden ada pemeliharaan jamban dan yang tidak ada pemeliharaan jamban tidak ada (0 %), dari 14 responden yang melakukan tindakan kurang baik tidak ada (0 %) ada pemeliharaan jamban dan yang tidak ada pemeliharaan jamban sebanyak 14 responden. Semakin baik tindakan maka semakin baik perilaku responden terhadap pemeliharaan jamban keluarga. Tindakan pemeliharaan jamban yag dilakukan adalah merupakan kebiasaan masyarakat di desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar dikarenakan kemajuan moderen dimana setiap rumah sudah memiliki jamban bagus seperti angsalaterine sehingga mendorong responden untuk melakukan perilaku yang baik dalam pemeliharaan jamban seperti menjaga kebersihan, menyiram jamban atau sudah tersedianya air dalam jamban. Rata-rata masyarakat sudah melakukan tindakan yang baik terhadap pemeliharaan jamban.
21 Tabel 9. Tabulasi Antara Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Terhadap Pemeliharaan
Jamban Keluarga Di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri
Pengetahuan Sikap Tindakan Pemeliharaan Jamban Total ada Tidak ada
Rendah Negatif Baik 2 0 2 Kurang baik 0 1 1 Positif Baik 1 0 1 Kurang baik 0 3 3 Tinggi Negatif Baik 5 0 5 Kurang baik 0 0 0 Positif Baik 38 0 38 Kurang baik 0 10 10 Total 46 14 60
Dari 60 responden yang mempunyai pengetahuan tinggi, sikap positif, tindakan baik ada pemeliharaan jamban 38 responden.
Untuk mengatasi masalah yang sebagian kecil responden masih bersikap negatif maka perlu diberikan bimbingan dan penyuluhan oleh tenaga kesehatan mengenai pemeliharaan jamban, sehingga responden lebih mengetahui bahwa pemeliharaan jamban sangat penting.dengan adanya hal tersebut maka responden pun lebih bersikap baik dalam hal pemeliharaan jamban. Selain itu, dengan bertanya atau berkonsultasi khususnya dengan ahli sanitarian tentang pemeliharaan jamban yang baik dan sehat. Tindakan pemeliharaan jamban yag dilakukan adalah merupakan kebiasaan masyarakat di desa Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar dikarenakan kemajuan moderen dimana setiap rumah sudah memiliki jamban bagus seperti angsalaterine sehingga mendorong responden untuk melakukan perilaku yang baik dalam pemeliharaan jamban seperti menjaga kebersihan, menyiram jamban atau sudah tersedianya air dalam jamban.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang tinjauan perilaku masyarakat terhadap pemeliharaan jamban keluarga Di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar Tahun 2012, kesimpulan yang yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut:
(1) Kepala Keluarga di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar berpengetahuan tinggi terhadap pemeliharaan jamban yaitu sebanyak 53 responden (88,3 %).
(2) Kepala Keluarga di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar bersikap positif terhadap pemeliharaan jamban yaitu sebanyak 52 responden (86,7 %).
22 (3) Kepala Keluarga di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten
Aceh Besar mempunyai tindakan yang baik terhadap pemeliharaan jamban yaitu sebanyak 46 responden (76,7 %).
Saran
Diharapkan kepada Kepala keluarga Gampong Lam Ilie Mesjid agar lebih meningkatkan Pengetahuan Sikap Dan Tindakan dalam pemeliharaan jamban.
Kepada petugas Kesehatan lingkungan diharapkan dapat memberikan penyuluhan tentang pentingnya pemeliharaan jamban
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI, 1991; Pedoman Bidang Studi
Pembuangan Tinja dan Air Limbah, Pada Institusi Pendidikan Sanitasi/ Kesehatan Lingkungan, Jakarta
Notoatmodjo, 2003; Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta
Notoatmodjo, 2007, Kesehatan Masyrakat Ilmu dan Seni, Rineka Cipta, Jakarta Sukardi, 2000; Pemeliharaan Jamban, dalam www, jurnallingkungan.co.id. Syaifuddin, 2000; Sikap Manusia, Pustaka Belajar, Bandung.
Tarigan, Elisabeth, 2008; Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Keluarga dalam Penggunaan Jamban di Kota Kabanjahe, Tesis, Pasca Sarjana,USU, Medan, .
23
PELUANG DAN TANTANGAN PENGGUNAAN AGENSIA HAYATI ENTOMOPATOGENIK DALAM MEWUJUDKAN
PERTANIAN BERKELANJUTAN
*Lukmanul Hakim
*) Staf pengajar Kopertis Wilayah-I dpk pada Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh.
ABSTRAK
Pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha pertanian, guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan, meningkatkan kualitas lingkungan, dan melestarikan sumber daya alam. Agensia hayati merupakan sekelompok organisme dan atau mikroorganisme yang dapat mengendalikan populasi serangga atau hama lain karena rantai nutrient secara berkesinambungan dari waktu ke waktu.
Agensia hayati berpeluang besar karena: a) kesadaran masyarakat dunia akan kesehatan dan lingkungan yang selalu berubah, b) aman penggunaan pada tanaman pangan, c) berlimpah ditemukan di alam, d) biaya produksi murah, e) tidak membutuhkan waktu lama untuk pembiakan.
Dibalik peluang, tantangan yang mungkin dihadapi, antara lain: 1) ketahanan hidup dari agensia sangat tergantung pada iklim yang berubah, 2) dalam prinsip keseimbangan kadang kala menjadi kedala, karena agensia tinggi serangga sasaran menurun dapat menyebabkan umpan balik, 3) agensia hayati belum seluruhnya diproduksi secara massal.
Sasaran yang ingin dicapai dari pemanfaatan agensia hayati: 1) populasi serangga didalam ekosistem tetap lestari, 2) agensia hayati dan serangga merupakan biodiversitas gen yang perlu dipertahankan, 3) terciptanya sebuah badan kajian menyangkut agensia hayati dari kemungkinan produksi secara massal.
Kata-kata Kunci : Agensia Hayati, Pertanian Berkelanjutan
PENDAHULUAN
Kata berkelanjutan (sustainable) sekarang telah digunakan secara luas dalam ruang lingkup program pembangunan. Apa arti sebenarnya dari kata berkelanjutan ? menurut Coen Reijntjes, at. al., (1999) keberlanjutan dapat diartikan “menjaga agar sesuatu rencana dapat berlang secara terus-menerus, kemampuan untuk bertahan dan menjaga agar tidak terjadi kepunahan”. Consultative group on international agricultural research (CGIAR., 1978) menyebutkan: pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumberdaya yang berhasil untuk usaha pertanian, guna memenuhi kebutuhan manusia dengan mempertahankan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam.
Dari dua pendapat di atas, dapatlah dipahami bahwa pertanian berkelanjutan adalah pertanian dengan mengedepankan prinsip-prinsip ekologi, dimana alam dengan segala kelebihannya dapat mengatur untuk pemulihan dalam jangka panjang dengan tanpa campur tangan manusia. Dalam arti yang lebih luas, Gips (1986) dalam
24 Coen Reijntjes, at. al., (1999) menjelaskan, 5 hal menyangkut pertanian berkelanjutan: 1) berlanjut secara ekologis, dimana sumberdaya alam dan kemampuan agroekosistem secara menyeluruh yang di dalamnya manusia, tanaman, hewan, dan mikroorganisme. Peran manusia sebagai pengelola sumberdayaan memanfaatkan biomassa, sehingga dapat menekan penggunaan energi tinggi secara eksternal. 2) berlanjut secara ekonomis, dimana petani dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya dari lahan usaha tani yang diusahakan. Keberlanjutan secara ekonomi ini dapat diukur bukan hanya dari produksi total yang dihasilkan, akan tetapi mencakup melestarikan sumberdaya alam dan memimalkan resiko. 3) azas keadilan, dimana kelompok masyarakat dapat berperanserta dan memberikan kesempatan yang sama dalam mewujutkan dan melestarikan lingkungan usaha taninya. 4) manusiawi, dengan menghargai semua bentuk kehidupan yang ada didalam ekosistem. 5) luwes dalam artian mudah, murah dan mampu dilaksanakan pada setiap lapisan masyarakat. Berdasarkan uraian di atas, mari kita menyikapi sebuah folosofi Cina “bukan rusa takut dengan harimau, tetapi keduanya sama-sama mempertahankan hidup”.
JAMUR ENTOMOPATOGENIK
Tidak asing bagi pembaca memahami tentang jamur, cukup banyak bidang ilmu yang mengkaji tentang jamur. Suatu ilmu yang khusus mempelajari tentang jamur disebut Mikologi, namu secara etimologi = makna kata, mikes (latin = jamur), logos = ilmu. Dalam ilmu pangan jamur/cendawan sering disebut dengan kapang, sedangkan dalam bahasa inggris menyebutnya dengan fungi. Orang Aceh sering menyebutnya dengan kulat.
Jamur adalah sub ujud mikroskopis tergolong dalam mikroorganisme ditemukan dalam berbagai kondisi, panas, kering, lembab, pada manusia, hewan, tanaman, udara, tanah, dan air. Entomopatogenik merupakan jenis jamur tertentu yang diketahui dapat menginfeksi semua jenis serangga. Jenis-jenis jamur entomopatogenik: 1) Metharrizium anisopliae dapat menginfeksi serangga. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan untuk menekan populasi nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti) terutama nyamuk pada stadia larva (Yasmin dan Lenni Fitri, 2010). 2) Jamur Lecanicillium lecanii dapat digunakan untuk mengendalikan nematoda (cacing parasitik) pada akar tanaman kentang. Berdasarkan hasil penelitian Solichah dkk (2009) dapat menurunkan populasi nematoda pada konsentrasi 1,4x108 mencapai 80% (LD80).
Hama uret yang menyerang tanaman padi gogo dalam bahasa latin disebut Phillophaga heleri (Coleoptera : Scarabaeidae) yang menyebabkan gagal panen. Untuk mengatasi masalah ini para peneliti secara terus menerus melakukan penelitian dengan penakanan pada penggunaan agensia hayati dari golongan jamur Metharrizium anisopliae. Berdasarkan hasil penelitian Tri Harjaka (2005) menunjukkan Metharrizium anisopliae yang dicobakan didalam plot-plot percobaan mampu menginfeksi hama Phillophaga heleri.
Beauveria bassiana mampu menekan pertumbuhan hama wereng coklat yang selama ini dikenal sangat rentan dengan penggunaan pestisida. Penelitian yang dikembangkan Siti Herlinda dkk (2008) melaporkan: tingkat penurunan nimfa dari wereng coklat significant dengan menggunakan B. bassiana dalam bentuk formulasi
25 cair. Hasil pengamatan uji patogenitas cendawan B. brassiana di lapangan menunjukkan walaupun telah disimpan selama 4 bulan di dalam lemari Es masih tetap efektif (Yasin, dkk., 2002). Menurut Surtikanti dan Yasin (2009) di laboratorium B. bassiana dapat ditumbuhkan pada medium kompos, tanah, dedak, dan tepung jagung. Masa inkubasi ditemukan selama penelitian rata-rata 48 jam dalam bentuk propagul (unit penyebaran jamur). Jamur B. bassiana efektif untuk mengendalikan jasad pengganggu tanaman, seperti ulat grayak Spodoptura litura F., dari ordo Lepidoptera, family Noctuidae.
AGENSIA HAYATI
Agens hayati untuk mengendalikan serangga hama dapat dikelompokkan kedalam tiga golongan besar ( Hufacker, 1988 dalam Eli Korlina, 2011), yaitu: a. Predator, golongan organisme yang memangsa organisme lain, misalnya
Menochilus sexmaculatur (Coleoptera : Coccinelidae) sejenis ladybird paling umum dijumpai didataran rendah (di bawah 200 m dpl) dengan suhu rata-rata sepanjang tahun 23-28 oC (Wikipedia Indonesia, 2013), sedangkan dataran tinggi di atas 700 m dpl. Jenis predator lain seperti Rhinocoris marginatus (Heteroptera:Reduviidae).
b. Parasitoid, adalah serangga yang memarasit dan hidup berkembang dengan cara menumpang pada serangga lain sebagai inang. Diadegma semiclausum (Hymenoptera : Ichneumonidae) bentuk tubuh ramping berwarna coklat kehitaman, stadia imago 18-20 hari, stadia telur 2 hari, stadia larva ke pupa 8-10 hari. Trichogramma chilonis (Hymenoptera : Trichogrammatidae) merupakan parasit telur serangga terutama dari ordo Lepidoptera.
c. Patogen, merupakan mikroorganisme yang menginfeksi organisme lain (Hufacker, 1988), antara lain virus, bakteri, jamur, dan mikoplasma.
Pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan agens pengendali hayati muncul karena kekhawatiran terhadap pestisida kimia yang berdampak luas pada kesehatan dan lingkungan. Pengertian agensia hayati menurut FAO (1988) adalah mikroorganisme yang ditemukan didalam ekosistem dari golongan cendawan, bakteri, virus, dan juga protozoa, maupun hasil rekayasa genetic (genetically modified microorganisms). Peraturan Menteri Pertanian nomor 411 tahun 1995 disebutkan: agensia hayati yaitu setiap organisme yang meliputi spesies, sub spesies, varietas, semua jenis serangga, nematode, cendawan (fungi), bakteri, virus, mikoplasma, atau organism lainnya dalam semua tahap perkembangannya yang dapat dipergunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau organisme pengganggu, proses produksi, pengolahan hasil pertanian.
Penggunaan agensia hayati diyakini memiliki kelebihan karena sesuai dengan prinsip ekosistem (www.gerbangpertanain.com). Agensia hayati memiliki beberapa kelebihan, antara lain: 1) selektif, 2) tersedia di alam, 3) mobilitas tinggi, 4) tidak berdampak negatif, 5) murah. Kelemahan dari agensia hayati alamiah: a) berada dalam jumlah sedikit, b) perkembangannya sangat tergantung kepada cuaca, c) kerjanya lambat, d) dengan peralatan sederhana sulit dikembangkan secara massal.
Pusat penelitian Teh dan Kina sejak tahun 1989 telah berhasil mengembangkan agens pengendali hayati dari golongan jamur Paecilomyces fumoso
26 ROSEUS (PFR). Di alam jamur P.fomoso R. ditemukan menginfeksi ulat api pada tanaman teh. Secara laboratorium jamur ini mampu meningkatkan kematian mencapai 75-90 % hama Hellopetis antoni yang menyerang tanaman teh. Rayati dan Widayat (1989) hasil penelitiannya menemukan ulat api (Setora nitens) yang terinfeksi dengan jamur P. fumoso (PFR), kemudian dikembangkan secara infitro dilaboratorium.
Mekanisme virulensi dari jamur PFR dapat terjadi dengan cara bersentuhan spora pada tubuh serangga atau termakan masuk kedalam lambung. Mekanisme melalui kontak, spora jamur menempel pada permukaan kulit serangga dan akan berkecambah selanjutnya melakukan penetrasi kedalam tubuh serangga melaui permukaan kulit. Didalam tubuh serangga, jamur akan memperbanyak diri, hifa jamur jamur berkembang dan mengisi seluruh jaringan yang berakhir dengan kematian serangga. Pada kondisi yang lembab hifa jamur akan muncul kepermukaan tubuh serangga hama dan akan membentuk konidiofor yang akhirnya akan menghasilkan spora. Spora terbentuk pada permukaan tubuh serangga merupakan alat penularan selanjutnya pada serangga lain (Martanto, dkk. 2010).
PELUANG DAN TANTANGAN
Dorongan untuk menerapkan pengendalian hayati merupakan salah satu cara untuk mengendalikan patogen tanaman yang sekaligus merupakan peluang yang harus dipertahankan dimasa datang. Beberapa peluang telah diketahui dari penggunaan agensia pengendali hayati untuk mengatasi masalah penyakit tanaman (Soetanto, 2009). Menurut Greathead (1995) dan Soetanto (1998), adalah 1) kesadaran masyarakat dunia akan produk pertanian yang sehat dan aman, 2) ketidak mampuan fungisida sintetis karena berdampak negatif yang berkepanjangan, 3) kepedulian akan ekologi dan keamanan lingkungan, berdampak pada penggunaan fungisida sintetis, kehadiran pengendali hayati untuk mengurangi dampak negatif dan untuk menjaga kelestarian lingkungan, 4) kesadaran petani dan keluarga akan masalah kesehatan, 5) biaya eksplorasi agensia hayati lebih murah , 6) meningkatnya produktivitas hasil pertanian, 7) waktu penyiapan agensia hayati yang singkat, 8) ketersediaan agensia hayati di alam cukup berlimpah.
Tantangan penggunaan agensia hayati selama ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) masa hidup agensia yang berbatas karena kondisi iklim yang tidak sesuai dengan perkembangannya, 2) dapat berubah fungsi, hal khususnya terjadi pada agensia hayati dari golongan bakteri dapat berubah karena terjadinya mutasi gen yang diakibatkan kondisi ekstrem di daerah tropika, 3) adanya perbedaan kepentingan, hal ini erat kaitannya dengan status dari sasaran pengguna. Kadangkala agensia hayati dapat berubah menjadi patogenik pada tanaman lain disebabkan tingginya populasi agensia secara tiba-tiba. 4) terbatas penyebaran, karen agensia hayati belum diproduksi secara komersial, maka penyebarannya tidak secepat agensia kimia sintetis.
SASARAN YANG INGIN DICAPAI
Sasaran yang ingin capai dari pengembangan dan penggunaan agensia hayati adalah: 1) populasi serangga di dalam sebuah ekosistem akan tetap seimbang. 2) biodiversitas dan konservasi serangga, dimana keberadaan serangga pada suatu habitat menjadi indikator biodiversitas dan kesehatan ekosistem. Beberapa serangga
27 mempunyai fungsi atau peran penting karena serangga dapat sebagai sumber nutrient bagi organisme lain. 3) pada sisi lain, agensia hayati dapat berperan sebagai predator, parasit dan pathogen, akan tetapi serangga-serangga secara umum dapat bermanfaat sebagai pakan burung, ikan diperairan yang mengkonsumsi larva atau jentik. 4) terciptanya kajian secara kontinu melalui penelitian dan penerapan secara praktis kepada masyarakat dalam bentuk pengabdian, sehinga terciptanya petani mandiri yang mempunyai kemampuan praktis dalam bidang agensia hayati.
KESIMPULAN
1. Agensia hayati dapat berasal dari golongan serangga, jamur, bakteri, virus, dan mikoplasma.
2. Penggunaan agensia hayati bertujuan mewujutkan keseimbangan ekosistem alami yang didalamnya diperlukan campur tangan manusia sebagai proses percepatan. 3. Pertanian berkelanjutan dipat ditopang dengan penggunaan agensia hayati sebagai
upaya meminimalkan ketergantungan pada pestisida kimia sintetik.
4. Diperlukan laboratorium pengembangan agensia hayati yang mampu memproduksi agensia secara massal.
DAFTAR PUSTAKA
CGIAR, 1978. Farming System Research at The International Agriculture Research Centre.
F.A.O, 1988. Traditional Food Plans: A Resource Book For Farming The Explanation and Consumption of Food Plant in Arit.
Gips., T. 1986. What is Sustainable Agriculture. Agroecology Program. Universitas California.
Herlinda, S., Sri Indah, Suwandi, 2008. Jamur Entomopatogen Untuk Mengendalikan Wereng Coklat. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya. Palembang.
Huffacker, C.B. Messenger, P.S., 1988. Theory and Practice of Biologycal Control. Academic Press. New York.
Martanto, 2010. Pengembangan dan Pemberdayaan Jamur PFR. Sebagai Agensia Hayati Tanaman Teh.
Karlina, 2011. Pengembangan dan Pemanfaatan Agensia Hayati Terhadap Penyakit Tanaman. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Jawa Timur.
Santoso. L., 2009. Pengendalian Hayati Patogen Tanaman: Peluang dan Tantangan Dalam Menuju Ketahanan Pangan Berkelanjutan. Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Fitopatologi. Universitas Sudirman. Purwekerto. Semarang.
Solochah, N.R. Gatot Suparmo, 2009. Uji Kemampuan Parasitik Jamur Lecanicillium lecanii Terhadap Mortalitas Nematoda. E-Journal.
Reijntjes., C., Bertus Havarkort. Water Bayer., 1999. Pertanian Masa Depan Berkelanjutan. Kanisius. Yogyakarta.
Yasmin. Lenni Fitri., 2010. Pemanfaatan Metharrizium anisopliae Terhadap Jentik Nyamuk Demam Berdarah. Jurnal Natura. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh.
28
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA FLAVONOID DARI BUAH LABAN (Vitex pinnata Linn.) ASAL NANGGROE ACEH DARUSSALAM
Syafruddin, S.Pd., M.Si.
Staf Pengajar pada FKIP Kimia Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh ABSTRAK
Telah dilakukan isolasi dan identifikasi senyawa flavonoid dari buah laban (V. pinnata) asal Nanggroe Aceh Darussalam. Spektrum UV-Vis memberikan serapan pada λmaks 282 nm dan 230 nm. Spekrum inframerah memberikan serapan karakteristik di daerah bilangan gelombang υmaks (KBr) cm-1: 3200-3500 (OH), 2920 dan 2850,6 (C-H alifatik), 1606,6; 1514 dan 1463,9 (cincin aromatik), 1124,4 (C-O-C). Analisis LC-MS (Ionisation Electrospray Positive) memberikan puncak ion pada m/z (intensitas relatif): 763 [2M + Na]+ (10), 393 [M + Na]+ (10) dan 371 [M + H]+ (100) dengan sedikit bahu yang menunjukkan bahwa isolat B5.2.2 merupakan campuran dua senyawa dengan berat molekul 370. Hal ini didukung oleh sinyal-sinyal dari spektrum resonansi magnet karbon dan resonansi magnet proton yang tumpang tindih, sehingga memperkuat dugaan bahwa isolat B5.2.2 merupakan campuran dua senyawa isomer. Perbedaan karakteristik antara kedua senyawa adalah posisi proton H-3 pada cincin C. Pada senyawa 1 proton H-3 terletak di posisi α (δ 4,45 ppm), sedangkan untuk senyawa 2 proton H-3 terletak pada posisi β (δ 4,22 ppm).
Berdasarkan analisis data spektrometri UV, IR, LC-MS, 13C NMR dan 1H NMR serta uji fitokimia, maka diusulkan bahwa senyawa 1 dan 2 isolat B5.2.2 yang berasal dari fraksi kloroform buah laban (V. pinnata) secara berturut-turut 3’,5-dimetoksi-4’-hidroksi-6-prenilflavan-3α-ol dan 3’,5-dimetoksi-4’-hidroksi-6-prenilflavan-3β-ol
Kata Kunci: Vitex pinnata, elusidasi struktur, flavonoid. ABSTRACT
The flavonoid compounds have been isolated and identified from the fruit of laban (V. pinnata) collected from Nanggroe Aceh Darussalam. UV spectrum gave absorption at λmaks 282 nm and 230 nm. Infrared spectrum gave characteristic absorption at the wavenumber υmaks (KBr) cm-1: 3200-3500 (OH), 2920 and 2850,6 (C-H aliphatic), 1606,6; 1514 and 1463,9 (aromatic ring), 1124,4 (C-O-C). LC-MS analyses (Ionisation Electrospray Positive) gave ion peak at m/z (relative intensity): 763 [2M + Na]+ (10), 393 [M + Na]+ (10) and 371 [M + H]+ (100) with shouder showed isolate is a mixture of two compounds has Molecular Weight 370. This data supported by overlapping signals of 13C NMR and 1H NMR spectrum, it is pruposed that isolate B5.2.2 is mixture of two isomer compounds. The characteristic difference of both compounds is position H-3 proton at C ring. H-3 proton of compound 1 to be located at α position (δ 4,45 ppm), whereas H-3 proton of compound 2 to be located at β position (δ 4,22 ppm).