BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada Bab V ini akan dibahas hasil penelitian terhadap siswa lulusan Sekolah Dasar yang tidak melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama di Kec. Cikedung dan Kec. Sukra, Kab. Indramayu. Dalam bagian ini juga akan diuraikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian berdasarkan analisis terhadap faktor-faktor yang menyebabkan mereka tidak melanjutkan sekolah dengan didukung data primer berupa hasil wawancara dengan responden, antara lain: pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan Kab. Indramayu, Kepala Sekolah, Kepala Desa, Tokoh Ulama, orangtua anak yang tidak melanjutkan, dan anak yang tidak melanjutkan. Wawancara sendiri dilakukan secara acak di beberapa desa di kedua kecamatan yang menjadi lokasi penelitian dan di beberapa desa lainnya di luar kedua kecamatan tersebut sebagai bahan perbandingan.
Wawancara dilakukan untuk mengetahui lebih mendalam penyebab dari permasalahan yang diteliti dikaitkan dengan teori yang digunakan dalam penelitian ini.
Sebelum mengurai satu per satu dari relevansi teori penelitian yang digunakan sebagai pedoman wawancara, berikut adalah rekapitulasi wawancara dikaitkan dengan relevansi teori yang digunakan dalam penelitian.
Tabel 5.1
Relevansi Teori Wawancara Penelitian
Keterangan :
HCI : Human Capital Investment SSE : Status Sosial Ekonomi KP : Kebijakan Publik No. Informan Jumlah
Relevansi Teori
HCI Partisipasi SSE Budaya Motivasi Peer Group KP
5.1. Hasil Penelitian
a. Human Capital Invesment (HCI)
Modal manusia adalah komponen yang sangat penting di dalam organisasi. Manusia dengan segala kemampuannya bila dikerahkan keseluruhannya akan menghasilkan kinerja yang luar biasa. Ada enam komponen dari modal manusia, yakni: (1) Modal intelektual; (2) Modal emosional; (3) Modal sosial; (4) Modal ketabahan, (5) Modal moral; dan (6) Modal kesehatan (Ancok, 2002). Keenam komponen modal manusia ini akan muncul dalam sebuah kinerja yang optimum apabila disertai oleh modal kepemimpinan dan modal struktur organisasi yang memberikan wahana kerja yang mendukung.
Komponen modal manusia yang ditekankan dalam penelitian ini lebih menitikberatkan pada komponen modal sosial. Komponen modal manusia dipandang semakin penting dalam upaya membangun sebuah bangsa yang kompetitif. Banyak kontribusi modal sosial untuk kesuksesan suatu masyarakat. Dalam era informasi yang ditandai semakin berkurangnya kontak tatap muka (face to face relationship), modal sosial sebagai bagian dari modal maya (virtual capital) akan semakin menonjol peranannya (Ancok, 1998). Pandangan para ahli dalam mendefinisikan konsep modal sosial dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama menekankan pada jaringan hubungan sosial (social network), sedangkan kelompok kedua lebih menekankan pada karakteristik (traits) yang melekat (embedded) pada diri individu manusia yang terlibat dalam sebuah interaksi sosial.
Pendapat kelompok pertama ini didukung oleh para beberapa ahli. Brehm & Rahn (1997) dalam Ancok (2002) berpendapat bahwa modal sosial adalah jaringan kerjasama di antara warga masyarakat yang memfasilitasi pencarian solusi dari permasalahan yang dihadapi mereka. Definisi lain dikemukakan oleh Pennar (1997) dalam Ancok (2002) “the web of social relationships that influences individual
behavior and thereby affects economic growth” (jaringan hubungan
sosial yang mempengaruhi perilaku individual dan yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi).
Woolcock (1998) dalam Ancok (2002) mendefinisikan modal sosial sebagai “the information, trust, and norms of reciprocity inhering in one’s social networks”. Cohen dan Prusak (2001:3) berpendapat bahwa ”Social capital consists of the stock of active connections among people: the trust, mutual understanding and shared values and behaviours that bind the members of human networks and communities and make cooperative action possible”. (Modal sosial adalah kumpulan dari hubungan yang aktif di antara manusia: rasa percaya, saling pengertian dan kesamaan nilai dan perilaku yang mengikat anggota dalam sebuah jaringan kerja dan komunitas yang memungkinkan adanya kerjasama).
Pandangan kelompok pertama menekankan pada aspek jaringan hubungan sosial yang diikat oleh kepemilikan informasi, rasa percaya, saling memahami, dan kesamaan nilai, dan saling mendukung. Menurut pandangan kelompok ini modal sosial akan semakin kuat apabila sebuah komunitas atau organisasi memiliki jaringan hubungan kerjasama, baik secara internal komunitas/
organisasi, atau hubungan kerjasama yang bersifat antar komunitas/
organisasi. Jaringan kerja sama yang sinergistik yang merupakan modal sosial akan memberikan banyak manfaat bagi kehidupan bersama.
Pendapat ahli dari kelompok kedua diwakili antara lain oleh Fukuyama (1995) dalam Ancok (1998) yang mendefinisikan modal sosial sebagai berikut: “social capital: the ability of people to work together for common purposes in groups and organizations”. (Modal sosial: kemampuan orang untuk bekerja sama untuk tujuan umum dalam kelompok dan organisasi). Dengan bahasa yang lain Fukuyama menjelaskan bahwa “Social capital can be defined simply as the
existence of a certain set of informal values or norms shared among
members of a group that permit cooperation among them. (Modal sosial adalah serangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama di antara mereka). Sejalan dengan pendapat Fukuyama, Bowles & Gintis (2000) dalam Ancok (2002) mendefinisikan modal sosial sebagai berikut: “Social capital generally refers to trust, concern for one’s associates, a willingness to live by the norms of one’s community and topunish those who do not”.
(Modal sosial umumnya mengacu pada kepercayaan, kepedulian terhadap rekan seseorang, kemauan untuk hidup dengan norma-norma masyarakat seseorang dan topunish mereka yang tidak).
Organisasi adalah kumpulan sejumlah manusia yang bekerja sama untuk mencapai tujuan organisasi. Selain itu sebuah organisasi harus bekerja sama dengan organisasi lain untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar. Kerjasama dengan organisasi lain ini diwujudkan dalam sebuah aliansi strategik (strategic alliances), atau dalam sebuah penggabungan (merger) organisasi. Modal sosial adalah dasar bagi terbentuknya sinergi di dalam melaksanakan tugas organisasi. Dengan bersinergi dapatlah diperoleh hasil kerja yang lebih besar, jika dibandingkan dengan bekerja sendiri-sendiri.
Modal intelektual baru akan berkembang bila masing-masing orang berbagi wawasan. Untuk dapat berbagi wawasan orang harus membangun jaringan hubungan sosial dengan orang lainnya.
Kemampuan membangun jaringan sosial inilah yang disebut dengan modal sosial. Semakin luas pergaulan seseorang dan semakin luas jaringan hubungan sosial (social networking) semakin tinggi nilai seseorang. Modal sosial dimanifestasikan pula dalam kemampuan untuk bisa hidup dalam perbedaan dan menghargai perbedaan (diversity). Pengakuan dan penghargaan atas perbedaan adalah suatu syarat tumbuhnya kreativitas dan sinergi. Kemampuan bergaul dengan
orang yang berbeda, menghargai dan memanfaatkan secara bersama
perbedaan tersebut akan memberikan kebaikan buat semua.
Merujuk pada teori komponen modal sosial, penulis mencoba mendalami dengan melakukan wawancara mendalam dengan beberapa informan tentang keterkaitan antara modal sosial (hubungan masyarakat) dengan permasalahan anak lulusan Sekolah Dasar yang tidak melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama di daerahnya. Informan pertama, mengatakan:
“Masyarakat Indramayu pada umumnya tidak begitu mempedulikan apa yang sedang terjadi pada tetangganya atau warga sekitarnya, walaupun itu saudaranya sendiri. Malah mereka cenderung seperti ada persaingan dengan tetangganya masing-masing. Hal itu dapat di lihat dari sikap mereka yang cuek ketika tahu anak tetangganya yang tidak melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, ya, mereka diam saja, tidak ada rasa peduli apapun. Tapi tidak semuanya sih, ada juga yah mereka yang peduli, walau hanya sebatas rasa prihatin, tetapi itupun sedikit Mas (peneliti). Malah, apa yang diberitakan di media, kalau Indramayu adalah salah satu daerah yang tingkat perdagangan manusianya tinggi (human trafficking) itu memang benar. Saya sudah lama mendengar itu dari beberapa kepala sekolah. Mereka (kepala sekolah) banyak yang lapor tentang modus daripada para calo yang berusaha merayu anak didiknya untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau bekerja di Jakarta dengan iming-iming gaji besar dan kehidupan yang lebih layak, tapi Mas kan tahu sering tidak sesuai dengan harapan dengan apa yang digembar-gemborkan oleh para calo itu. Bukan di lingkungan sekolah saja mereka (para calo) beroperasi lho Mas, akan tetapi sampai pada rumah orangtua anak yang menjadi sasaran para calo.
Beberapa anak atau orangtua tergiur dengan bujuk rayu si calo ada pula orangtua yang menjanjikan setelah kelulusan
anaknya. Kita sudah berupaya mencegah hal tersebut, dan meminta bantuan jajaran yang terkait dengan masalah tersebut, akan tetapi tidak ada tindakan yang sesuai dengan harapan kita ” (hasil wawancara dengan Bpk. Iman, S.Ip. dari Dinas Pendidikan Kab. Indramayu; Rabu, 22 Juni 2011).
Pendapat senada juga diamini oleh informan kedua yang mengatakan sebagai berikut:
“Tetangga di sekitar saya tidak ada yang menanyakan masalah nasib anak saya yang tidak sekolah lagi. Pernah saya coba ngomongin masalah anak saya ke beberapa tetangga, maksudnya untuk meminjam uang untuk biaya seragam dan biaya lainnya untuk sekolah anak saya. Tapi, yah.. (menghela nafas) begitu lah Mas, mereka tidak dapat membantu saya. Di sini masyarakatnya seperti berlaku hidup sendiri-sendiri Mas.
Memang betul, masalah anak saya yang tidak melanjutkan sekolah adalah tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga, tapi bagaimana lagi yah, kemampuan saya cuma segini. Saya suka sedih Mas melihat keadaan seperti itu” (hasil wawancara dengan Bpk. Dulloh dari Desa Cikedung, Kec. Cikedung, Kab.
Indramayu; Kamis, 23 Juni 2011).
Pernyataan hal sama juga dapat dijumpai pada informan berikutnya:
“Mulai dari mana yah kalau kita bicara masalah kepedulian masyarakat di sini (Desa Cikedung) mengenai pendidikan anak-anaknya, khususnya bagi anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah di SMP. Warga disini itu cenderung individual, iya kan Pak? (peneliti, informan tahu kalau peneliti orang Indramayu). Tidak saling peduli satu sama lainnya Pak, malah saya beberapa kali menjumpai perseteruan antar saudara sendiri, padahal mereka bersaudara, gimana itu Pak.
Kalau sudah begitu, apa masih bisa diharapkan kepeduliannya
untuk orang lain, tapi ini khusus untuk masalah pendidikan ya
Pak. Kalau masalah lainnya, seperti gotong royong untuk pembersihan DAS (Daerah Aliran Sungai) atau ngobor tikus (operasi pembasmian tikus di sawah, biasanya dilakukan malam hari) mereka turun Pak, saya juga bingung, padahal pendidikan itukan penting sekali” (hasil wawancara dengan Bpk. Suherman, Kepala Desa Cikedung, Kec. Cikedung, Kab.
Indramayu; Kamis, 23 Juni 2011).
Dalam wawancara lainnya, beberapa informan berpendapat bahwa pada umumnya memang kepedulian antar masyarakat di Kec.
Cikedung dan Kec. Sukra mengenai pendidikan anak-anak yang tidak melanjutkan ke sekolah terbilang rendah. Adapula yang berpendapat bahwa masalah pendidikan anak merupakan tanggung jawab mereka masing-masing dan pantang untuk meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Mereka menganggap hal tersebut merupakan permasalahan keluarga yang tidak boleh dicampuri oleh orang lain.
Hasil wawancara terkait dengan komponen modal sosial menunjukkan, dari sebanyak 12 informan yang dijaring dalam wawancara tersebut, hanya 12% (2) informan yang berpendapat bahwa kepedulian masyarakat dalam pendidikan masih ada, meskipun jarang dijumpai. Sementara informan yang berpendapat bahwa masyarakat hanya berbagi rasa prihatin saja mengenai permasalahan pendidikan anaknya hanya sejumlah 29% (5) informan. Sedangkan, mayoritas informan menyatakan bahwa kepedulian terhadap pendidikan anak yang tidak melanjutkan merupakan barang langka di lingkungannya sebanyak 59% (10) informan (Grafik 5.1).
Tidak
Peduli;
10; 59%
Prihatin Saja; 5;
29%
Peduli; 2;
12%
Grafik 5.1
Tingkat Kepedulian Informan
Terhadap Pendidikan Anak yang Tidak Melanjutkan Sekolah
Merujuk pada pernyataan para informan seperti di atas, dapat ditarik salah satu akar permasalahannya, terutama apabila disinggung dari segi komponen modal sosial yang terjadi pada masyarakat di kedua kecamatan tersebut dimana anaknya tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu kurangnya kepedulian antar sesama diantara mereka. Hal tersebut menjadi tidak sejalan dengan pendapat Fukuyama, Bowles & Gintis (2000) dalam Ancok (2002) mendefinisikan modal sosial sebagai berikut: “Social capital generally refers to trust, concern for one’s associates, a willingness to live by the norms of one’s…”. (Modal sosial umumnya mengacu pada kepercayaan, kepedulian terhadap rekan seseorang, kemauan untuk hidup dengan norma-norma seseorang...).
Menurut teori Fukuyama, bahwa semakin luas pergaulan dan semakin luas jaringan hubungan sosial (social networking) seseorang semakin tinggi pula nilai seseorang di lingkungannya. Dampaknya, dengan diikatnya rasa kepemilikan informasi, rasa percaya, saling memahami, dan kesamaan nilai, dan saling mendukung dalam sebuah modal sosial yang baik di masyarakat, maka akan memberikan banyak manfaat bagi kehidupan bersama.
b. Partisipasi
Partisipasi (participation) adalah memberikan kesempatan kepada semua unsur pelaksana yang terlibat untuk menyalurkan sumber inisiatif dan kreativitasnya guna mencapai tujuan, baik secara psikologis ataupun secara tindakan fisik (Habermas).
Sementara Paulo Freire (1998) menyebutkan kesederhanaan, keingintahuan yang belum memiliki peralatan, yang dihubungkan dengan akal sehat, adalah keingintahuan yang dapat mengembangkan kemungkinan-kemungkinan kritisnya. Geerzt (2000) dengan cara yang sama mengatakan bahwa untuk memasuki wilayah masyarakat sebagaimana adanya kita perlu memahami bahasa mereka: akal sehat sebagai sistem budaya. Kenyataan di lapangan adalah begitu kuatnya proses konstruksi dan rekonstruksi dimasyarakat terhadap individu sehingga akal sehat dan rasa ingin tahu tidak serta merta menjadi kritis.
Dalam Guba (1990) akar dari konsep partisipasi ini dapat di lacak lebih jauh, yaitu persoalan epistemologi dan metodologi yang digunakan.
Maka, partipasi secara umum merupakan peran serta atau keikutsertaan/keterlibatan seseorang secara perseorangan atau berkelompok dalam suatu kegiatan. Conyer (1984) menjelaskan bahwa pendekatan dalam partisipasi masyarakat adalah adanya keterlibatan langsung masyarakat dalam proses pembangunan dalam rangka memperoleh hasil yang optimal. Dikatakan oleh Mikkelsen (1999) bahwa yang dibutuhkan pendekatan yang mensinergikan potensi masyarakat. Pendekatan ini memerlukan perencanaan matang yang mendorong peran serta aktif masyarakat. Kerjasama dengan orangtua murid umumnya didefinisikan sebagai usaha para orangtua murid untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan cara membantu belajar anak dirumah, mengawasi kegiatan anak dirumah, mengawasi kegiatan anak diluar sekolah.
Menurut Ensiklopedi Administrasi (1983), disebutkan bahwa kata: “Participation atau pengikutsertaan adalah suatu aktivitas untuk
membangkitkan persaan diikutsertakan dalam kegiatan organisasi, atau
ikutsertanya bawahan dalam kegiatan organisasi.
Sedangkan White (1996) dalam Termieden (2009) mengatakan
“in reflecting on participation explains that I can serve a “broad range of interest”. White menunjukan bahwa dalam partisipasi terdapat dua faktor a) who participates; and b) what level. Menurut White partisipasi masyarakat terbagi menjadi beberapa level:
1) Normal Participation
Bentuk ini merupakan partisipasi yang sangat rendah. Misalnya masyarakat hadir dalam setiap pertemuan yang diselenggarakan.
2) Insrumental Participation Masyarakat berpartisipasi aktif dalam bentuk dukungan tenaga,
materi atau dana.
3) Representative Participation
Masyarakat berpartisipasi aktif tidak hanya dukungan tenaga, materi atau dana saja, akan tapi juga terlibat dalam membuat rencana kegiatan.
4) In Transformatif Participation
Masyarakat diberdayakan untuk mengelola, membuat keputusan-keputusan, dan menerapkannya dalam kegiatan.
Apabila kita kaitkan teori di atas dengan hasil penelitian yang terjadi pada masyarakat di kedua kecamatan yang diteliti. Umumnya informan menyatakan keinginanannya untuk ikut berpartisipasi dalam pencapaian pendidikan anaknya. Akan tetapi sebagian besar orangtua terhambat untuk ikut berpartisipasi oleh karena faktor ekonomi, motivasi, dan informasi yang tidak memadai. Seperti yang dikatakan dalam wawancara berikut:
“Kalau kita bicaranya mulai dari pemerintah daerah, saya pikir kebijakan-kebijakan yang ada di Dinas Pendidikan Indramayu melalui UPTD Kecamatan Sukra sudah jauh lebih baik ketimbang zaman saya dulu kecil. Dana BOS kan sudah
ada Pak (peneliti), kan artinya biaya pendidikan sudah gratis
ya Pak. Jadi harusnya mereka tidak ada alasan lagi kalau disinggung dari segi biaya pendidikan, kan ada BOS. Pernah kita membuat acara sosialisasi kepada warga, diwaktu menjelang penerimaan siswa baru, untuk membahas pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka bersama rekan UPTD, aparat desa, dan masyarakat, tapi yang datang sedikit sekali, padahal itukan penting bagi masyaraka,t dan bagi saya selaku kepala desa, bisa dijadikan sebagai sebagai bahan informasi dalam rangka pendataan partisipasi warga terhadap pendidikannya. Tetapi ya, ada saja anak yang masih tidak sekolah, mungkin masalah keuangan yang menjadi hambatan mereka. Warga saya umumnya petani dan buruh kasar, jadi masih banyak yang tidak mampu, jangankan untuk urusan pendidikan, makan sehari-hari aja masih mendadak dicari (nafkah)”. (hasil wawancara dengan Bpk. H. Daim, Kepala Desa Ujung Gebang, Kec. Sukra, Kab. Indramayu; Jum’at, 24 Juni 2011).
Dalam beberapa kesempatan wawancara lainnya, rata-rata orangtua anak menyatakan bahwa mereka pada dasarnya mempunyai harapan yang besar terhadap anak-anak mereka untuk hidup menuju lebih baik dan sejahtera. Namun, untuk mencapai harapan-harapan tersebut tentu tidaklah cukup hanya dari sebuah cita-cita yang imajinatif semata, akan tetapi harus diimbangan dengan proses pencapaian tingkatan pendidikan untuk anak-anaknya. Hal tersebut seperti tertuang dalam wawancara berikut:
“Sebenarnya saya tuh ingin anak terus sekolah, bisa seperti temannya yang lain. Tapi kayaknya anak ini (Adi Sunarya) mengerti sebelum waktunya (kedewasaan). Dia tahu kalau bapaknya harus menanggung biaya hidup untuk adiknya yang lain (3 orang adik dari 4 bersaudara), jadi anak saya ini tuh seperti orang yang sudah gede (dewasa). Saya sudah
bilang ke dia untuk terus lanjutin sekolahnya, tapi dia malah
bilang mau kerja bantu orangtua saja katanya. Padahal kalau boleh jujur, sebenarnya saya agak berat Pak andaikan anak saya ini lanjutin sekolah. Saya dulu sampai kelas 3 sudah tidak diterusin, cukup bisa baca tulis aja. Pendapatan saya sebagai petani, ya, gak lebih dari 30 ribu sehari, itupun kalau ada kerjaan. Saya ini cuma buruh tani Pak. Memang, katanya untuk sekolah di SMP tuh (tidak mendengar langsung dari sosialisasi pihak yang berwenang) katanya gratis untuk masuk sekolahnya, kata teman saya. Tapi biaya yang lainnya seperti jajan, buku, seragam saya masih berat Pak ”. (hasil wawancara dengan Bpk. Casmin, Desa Tegal Taman, Kec. Sukra, Kab.
Indramayu; Jum’at, 24 Juni 2011).
Dalam wawancara diatas tersebut tergambar jelas, bahwa keinginan hati orangtua dalam berpartisipasi untuk pendidikan anaknya tetaplah ada. Akan tetapi masalah ekonomi masih menjadi batu sandungan utama untuk ikut berpartisipasi dalam pendidikan anaknya.
Hal ini diperkuat dengan wawancara lainnya, sebagai berikut:
“Gimana lagi ya Mas, saya hanya petani serabutan, tidak punya kerjaan tetap. Ya, kalau ada yang nyuruh saya untuk bantu-bantu apa saja, saya baru kerja. Untuk urusan pendidikan anak saya, terasa abot (bahasa daerah_berat) Mas.
Abangnya (anak tertuanya) juga senasib, dia sekarang dagang rujak bebek (rujak yang terbuat dari buah-buahan pasaran yang dibebek dengan campuran terasi, gula merah, cabai dalam sebuah lumpang kayu) di Jakarta. Dia belum bisa bantu banyak Mas. Padahal adiknya ini (Taryadi, anak yang tidak melanjutkan sekolah) orangnya lumayan cerdas lho Mas.
Seinget saya dulu waktu dia kelas 5 pernah ranking 3, orangnya rajin belajar. Gurunya aja sering datang ke rumah untuk ngingetin dia untuk terus sekolah, tapi sayang bapaknya yang gak mampu membiayai dia. Kasihan kalau melihat dia,
tapi yang bikin saya tambah bangga dengan Taryadi ini orangnya gak banyak nuntut macam-macam Mas. Pernah dia tanya ke saya masalah kelanjutan sekolahnya pada saat lulus SD waktu itu, saya hanya diam aja sedikit netesin air mata. Dia sudah mengerti maksud bapaknya, sejak itu dia tidak pernah lagi nanya itu lagi”. (Hasil wawancara dengan Bpk. Kartalim, Desa Ujung Gebang, Kec. Sukra, Kab. Indramayu; Jum’at, 24 Juni 2011).
Dalam pandangan lain, terungkap bahwa apabila berbicara masalah partisipasi masyarakat Indramayu terhadap pendidikan, pada umumnya masih sangat besar. Walau masih ada sebagian kecil saja yang pesimis terhadap pendidikan anak-anaknya. Seperti dalam pandangan berikut ini:
“Berbicara masalah partisipasi pendidikan, masyarakat Indramayu pada umumnya tinggi. Hanya saja pandangan mereka tidak merata, artinya memandang pendidikan sebagai sebuah aset yang bernilai tidak begitu dimengerti mereka.
Sebut saja misalnya, masyarakat di Kec. Sindang (+ 45 km dari Kec. Cikedung dan + 25 km dari Kec. Sukra) atau masyarakat di Kec. Karangampel (+ 60 km dari Kec. Cikedung dan + 75 km dari Kec. Sukra). Di kedua kecamatan tersebut pandangan masyarakatnya terhadap pendidikan sebagai sebuah aset yang bernilai tergolong tinggi, dan itu jauh berbeda dengan pandangan masyarakat di kedua kecamatan yang Akang (sebutan daerah kepada orang yang lebih dihormati) teliti tersebut. Tidak sedikit masyarakat di kedua kecamatan tadi yang rela berkorban demi pendidikan anak-anaknya. Tidak heran, mereka sekarang lebih maju dan lebih bervariasi dalam hal profesi pekerjaan warganya, jadi bukan hanya buruh tani saja yang mendominasi. Hal itu tercermin dengan data APK yang tinggi untuk kedua kecamatan tersebut, khususnya untuk jenjang SMP. Mungkin, ini menurut saya ya
Kang, hal tersebut ada hubungannya dengan letak geografis
atau dengan sejarahnya yah? Tapi saya kurang tahu pasti tentang hal itu. Balik kepada permasalahan partisipasi ya Kang, kita beberapa kali pernah mengadakan sosialisasi tentang Program Wajar 9 Tahun (Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun) dengan para UPTD (Unit Pelayanan Teknis Daerah), kepala sekolah, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), dan tokoh masyarakat di lingkungan
atau dengan sejarahnya yah? Tapi saya kurang tahu pasti tentang hal itu. Balik kepada permasalahan partisipasi ya Kang, kita beberapa kali pernah mengadakan sosialisasi tentang Program Wajar 9 Tahun (Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun) dengan para UPTD (Unit Pelayanan Teknis Daerah), kepala sekolah, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), dan tokoh masyarakat di lingkungan