BAB II KAJIAN PUSTAKA
HASIL PENELITIAN
C. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1)Kondisi Awal
Pretes/kondisi awal dilaksanakan tanggal 27 Juli 2010 di kelas IV SD Kanisius Sengkan sebanyak 25 orang semua hadir. Setelah peneliti melakukan proses pembelajaran secara langsung dan pengamatan terhadap kemampuan bertanya siswa, kemampuan menjawab pertanyaan, partisipasi siswa dalam kelompok, dan kerjasama siswa dalam kelompok, maka hasil dapat diperoleh sebagai berikut (Tabel 17):
a) Pada waktu pretes kemampuan bertanya siswa adalah 9 orang (28%). Siswa yang belum terlibat adalah 16 orang (64%).
b) Pada waktu pretes kemampuan menjawab pertanyaan dari orang lain adalah 7 orang (28%). Siswa yang belum terlibat adalah 18 orang (72%).
c) Pada waktu pretes kerja sama dalam kelompok adalah 13 orang (52%). Siswa yang belum terlibat adalah 12 orang (48%).
d) Pada waktu pretes partisipasi siswa 12 orang (48%). Siswa yang belum terlibat adalah 13 orang (52%).
e) Pada waktu pretes nilai rata-rata prestasi yang diperoleh siswa adalah 60,4. Nilai yang di bawah KKM adalah 18 orang (72%). (Tabel 18)
Keterlibatan dan prestasi siswa dalam belajar IPS pada kondisi awal belum memenuhi target. Hal ini dilihat dari jumlah siswa yang terlibat dan nilai rata-rata siswa. Berdasarkan indikator keberhasilan dan nilai KKM yang ditentukan persentase keterlibatan dan prestasi siswa masih rendah. Pencapaian ini belum memenuhi target. Adapun penyebabnya, siswa kurang terlibat dalam kelompok
karena siswa belum memahami materi yang diberikan dan jumlah siswa pada setiap kelompok terlalu banyak. Penyebab lainnya materi yang diberikan belum dikaitkan dengan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari.
2) Siklus I
Pada siklus pertama peneliti telah melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual yaitu mengaitkan materi dengan pengalaman siswa. Kondisi pembelajaran tetap dalam kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3-4 orang siswa. Setelah peneliti mengamati siswa secara langsung maka data yang diperoleh sebagai berikut:
a. Pada siklus pertama kemampuan bertanya siswa yang berjumlah 16 orang (64%). Siswa yang belum terlibat adalah 8 orang (32%).
b. Kemampuan menjawab pertanyaan pada siklus pertama berjumlah 15 orang (60%). Siswa yang belum terlibat adalah 10 orang (40%).
c. Pada siklus pertama siswa yang mampu bekerjasama dalam kelompok 17 orang (68%). Siswa yang belum terlibat adalah 8 orang (32%).
d. Pada siklus pertama partisipasi siswa mengikuti kegiatan kelompok dari 18 orang (72%). Maka siswa yang belum terlibat adalah 7 orang (28%).
e. Pada siklus I nilai rata-rata prestasi yang diperoleh siswa adalah 66,4. Siswa yang mencapai KKM adalah 11 orang. Sedangkan nilainya yang di bawah KKM adalah 14 orang. Pencapaian ini belum memenuhi target. Adapun penyebabnya adalah siswa kurang aktif, kurang serius mengerjakan LKS dalam kelompok dan malu mengungkapkan pendapatnya di depan teman-teman.
Berdasarkan data di atas pada siklus I belum mencapai indikator keberhasilan, penelitian ini dilanjutkan pada siklus kedua. (Lampiran Tabel 17- 18)
3) Siklus II
Pertemuan siklus kedua keterlibatan siswa dalam belajar IPS dengan menggunakan pendekatan kontekstual membahas tentang kenampakan alam dan keanekaragaman sosial budaya yakni dengan mengidentifikasi gambar kenampakan alam, rumah adat, pakaian adat dan kesenian tradisional dan mengidentifikasi keanekaragaman sosial budaya yang ada di daerah siswa.
Pada siklus kedua ini peneliti mengarahkan keterlibatan siswa dalam mengidentifikasi kenampakan alam dan keanekaragaman sosial budaya yang ada disekitar lingkungan siswa. Berdasarkan hasil refleksi siklus I maka diharapkan pada siklus kedua ini siswa semakin banyak terlibat dalam mengikuti pelajaran IPS dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Pada siklus kedua peneliti membagi siswa dalam kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3-4 orang. Dengan aanggota kelompok 3-4 orang, keterlibatan siswa semakin terlihat saat mengerjakan tugas di dalam kelompoknya. Keaktifan dalam kelompok semakin terjamin dan bagi siswa yang kurang serius semakin terarah, mandiri tanpa mengharapkan pekerjaan dari teman dan prestasi siswa juga semakin meningkat.
Setelah peneliti melakukan proses pembelajaran secara langsung dan pengamatan terhadap kemampuan bertanya, kemampuan menjawab pertanyaan, bekerjasama, partisipasi siswa dalam kelompok, maka hasil refleksinya dapat diperoleh sebagai berikut;
a. Pada siklus II kemampuan bertanya siswa adalah 19 orang (76%). Siswa yang belum mencapai persentase keterlibatan adalah 7 orang (28%).
b. Kemampuan menjawab pertanyaan pada siklus kedua adalah 20 orang (80%). Siswa yang belum mencapai persentase keterlibatan adalah 5 orang (20%). c. Kemampuan bekerjasama siswa dalam kelompok pada siklus kedua 22 orang
(88%). Siswa yang belum mencapai persentase keterlibatan adalah 3 orang (12%).
d. Partisipasi siswa dalam kelompok siklus kedua menjadi 21 orang (84%). Siswa yang belum mencapai persentase keterlibatan adalah 4 orang (16%). e. Pada siklus II nilai rata-rata prestasi yang diperoleh siswa adalah 75,8. Siswa
yang mencapai KKM adalah 20 orang. Sedangkan nilainya yang di bawah KKM adalah 5 orang. Berdasarkan data di atas pada siklus II sudah mencapai indikator keberhasilan, maka peneliti memutuskan tidak melanjutkan penelitian ini lagi. (Lampiran Tabel 20)
Setelah melakukan kegiatan pembelajaran IPS dengan pendekatan kontekstual dan melakukan pengamatan terhadap aspek kemampuan bertanya, kemampuan menjawab pertanyaan, kemampuan bekerja sama dalam kelompok, serta partisipasi siswa dalam kelompok, diperoleh hasil bahwa adanya peningkatan dari masing-masing aspek tersebut.
Dengan melihat indikator keberhasilan yang akan dicapai peneliti pada siklus pertama (lihat tabel 1 indikator keberhasilan) pada aspek kemampuan bertanya, kemampuan menjawab pertanyaan, kerjasama dalam kelompok dan partisipasi siswa dalam kelompok sudah mengalami peningkatan sesuai yang
diharapkan peneliti. Indikator yang diharapkan oleh peneliti sudah sesuai dengan indikator keberhasilan.
Pada siklus II ini keterlibatan siswa semakin meningkat dan setiap aspek mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat perbandingan pada siklus I dan siklus II. Aspek kemampuan bertanya pada siklus pertama 64% dan pada siklus kedua 76%. Aspek kemampuan menjawab pertanyaan dalam siklus pertama 60% dan siklus kedua 80%, aspek kerjasama dalam kelompok siklus pertama 68% dan pada siklus kedua mengalami peningkatan 88%, dan aspek partisipasi pada siklus pertama 72% dan meningkat menjadi 84%.
Demikian juga nilai prestasi yang dicapai oleh setiap siswa pada waktu mengadakan ulangan ada peningkatan setiap siklus dan indikator keberhasilan telah tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini dapat di lihat dari nilai rata-rata kelas yang telah dicapai siswa setiap siklus dan berapa orang yang telah mencapai nilai KKM. Pada kondisi awal nilai rata-rata prestasi siswa adalah 60.4, siswa yang mencapai KKM 7 orang (28%), pada siklus I 66.6, siswa yang mencapai KKM 11 0rang (44%). Dan pada siklus II mencapai 75.8, siswa yang mencapai KKM 20 orang (80%) (Lampiran Tabel 21)
Dari hasil penelitian yang telah dijabarkan di atas terlihat peningkatan keterlibatan dan prestasi belajar IPS melalui pendekatan kontekstual. Hal ini ditandai dengan naiknya nilai rata-rata siswa dengan persentase keterlibatan siswa setiap siklus. Dengan demikian, hasil penelitian ini membuktikan hipotesis yang dirumuskan bahwa pendekatan kontekstual dapat meningkatkan keterlibatan dan prestasi belajar IPS di kelas IV SD Kanisius Sengkan Yogyakarta (Tabel 6-7).
Tabel 6
Jumlah Keterlibatan Siswa Keterlibatan
Siswa
Kondisi Awal Siklus I Siklus II Peningkatan keterlibatan dari setiap siklus
Bertanya 9 orang (36%) 16 orang (64%)
19 orang (76%)
40%
Menjawab 7 orang (28%) 15 orang (60%) 20 orang (80%) 52% Kerjasama 13 orang ( 52%) 17 orang (68%) 22 orang (80%) 36% Partisipasi 12 orang (48%) 18 orang (72%) 21 orang (84%) 36% Tabel 7
Jumlah persentase ketuntasan prestasi
Jumlah siswa yang tuntas Persentase tuntas
Kondisi Awal 7 orang 28%
Hasil Ulangan Siklus I 11 orang 44% Hasil ulangan Siklus II 20 orang 80%
54
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 25 orang siswa di kelas IV SD Kanisius Sengkan Yogyakarta tahun ajaran 2010/2011, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Pendekatan kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan siswa setiap hari.
2. Penggunaan pendekatan kontekstual terbukti dapat meningkatkan keterlibatan dan prestasi belajar IPS di kelas IV SD Kanisius SengkanYogyakarta Tahun Ajaran 2010/2011. Hal ini dapat dilihat dari perolehan hasil pengamatan dan hasil ulangan setiap siklus, siswa terlihat antusias dan senang dalam melaksanakan tugas yang diberikan. Selain itu, siswa juga terdorong untuk lebih bebas dan berani bertanya, menjawab pertanyaan, mampu bekerjasama dan berpartisipasi dalam kelompok untuk menyelesaikan suatu tugas.
3. Pengunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran IPS membantu siswa untuk lebih berani mengeluarkan ide atau pendapat dalam diskusi kelompok, belajar bekerjasama, dan belajar menghargai pendapat teman. Serta mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melihat kenyataan sosial yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari.
B. Implikasi
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan dan prestasi belajar IPS siswa kelas IV SD Kanisius Sengkan pada kondisi awal berkategori kurang. Keterlibatan dan prestasi belajar IPS pada siklus pertama berkategori cukup. Keterlibatan dan prestasi belajar IPS pada siklus kedua melalui pendekatan kontekstual berkategori tinggi. Dari hasil analisis ditemukan bahwa ada perbedaan keterlibatan dan prestasi pada pembelajaran IPS setiap siklus setelah menggunakan pendekatan kontekstual.
Bagi guru IPS, yang menggunakan pendekatan kontekstual perlu mempertimbangkan beberapa aspek yang akan diamati dalam keterlibatan siswa. Beberapa aspek keterlibatan siswa yaitu, bertanya, menjawab, kerjasama dan partisipasi dalam kelompok. Selain itu, guru harus mampu memberi motivasi agar siswa tertarik dan terlibat untuk belajar IPS di dalam kelas. Salah satu cara adalah melalui pendekatan kontekstual. Hal ini terbukti setelah peneliti melakukan penelitian di SD Kanisius Sengkan Yogyakarta. Selain motivasi dan pendekatan yang digunakan guru hendaknya ada waktu khusus dan lebih banyak untuk melibatkan siswa setiap mata pelajaran dan memberi ulangan kepada siswa untuk mengukur prestasi siswa sebagai hasil belajar.
Selain itu, guru berperan meningkatkan keterlibatan dan prestasi belajar IPS. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan pengetahuan tentang pendekatan kontekstual agar siswa semakin mampu terlibat dan dapat mencapai prestasi belajar IPS.
Siswa perlu dibiasakan untuk berlatih untuk terlibat sehingga dapat menuangkan gagasan, berani berbicara di hadapan orang banyak, belajar untuk kritis, dan belajar untuk bekerjasama dengan orang lain dan mampu berperan secara aktif. Hal ini memacu siswa untuk lebih kreatif dan aktif dalam belajar IPS sehingga tidak mengalami kesulitan khususnya bila ada diskusi bersama di kelas dan prestasi belajar semakin meningkat. Siswa yang masih kurang terlibat dan kurang berprestasi dalam belajar IPS perlu mendapat perhatian yang lebih, misalnya melakukan pendampingan kepada mereka. Apabila siswa terlibat hanya sekedar untuk kerja kelompok ataupun diskusi hendaknya tujuan keterlibatan ini menjadi suatu kebutuhan untuk mengembangkan diri untuk menuangkan gagasannya serta keberanian untuk menyampaikan gagasannya kepada orang lain.
C. Saran
Berdasarakan kesimpulan dan implikasi di atas, peneliti memberikan saran yang kiranya bermanfaat bagi peneliti kelas IV SD Kanisius Sengkan dan peneliti lainnya.
1. Guru diharapkan dapat menggunakan pendekatan kontekstual dalam pelajaran IPS, hal ini sangat membantu siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, yang mana siswa dilatih untuk berani bertanya, berani menjawab pertanyaan, mampu bekerja sama, serta mendorong siswa untuk mampu berpartisipasi, terutama pada saat diskusi kelompok. Disamping itu juga guru perlu menggunakan media gambar dan atlas sebagai sarana sumber belajar sehingga siswa dengan mudah mengkaitkan materi yang dipelajari dan
mampu mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian hasil prestasi dalam belajar IPS dapat semakin meningkat. 2. Sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran IPS tidak hanya berupa
buku paket tetapi juga memanfaatkan lingkungan sekitar siswa sebagai sumber belajar., untuk itu disarankan agar guru hendaknya memanfaatkan lingkungan sekitar siswa sebagai sumber belajar sehingga siswa dengan mudah memahami materi yang dipelajari dan mampu mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
58