METODOLOGI PENELITIAN
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Kondisi Pasar Tradisional dan Pasar Modern di Kota Medan
Pasar Tradisional yang ada di kota Medan berjumlah 67 buah yang tersebar diseluruh kecamatan di kota Medan. Bangunan biasanya terdiri dari kios- kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Pada umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar.
Kondisi pasar tradisional di kota medan tidak begitu nyaman dengan struktur pasar yang begitu sederhana. Becek, jorok, sempit, bau, panas dan berdesakan. Itulah sekilas gambaran pasar tradisional di Medan. Kawasan Pusat Pasar, Sukaramai, Simpang Limun, Sei Sikambing, Petisah, Aksara mewakili kondisi tersebut.
Hujan sedikit saja, genangan air dan bau tak sedap langsung menyapa pembeli. Eksistensi pasar tradisional di Medan makin buruk ketika para pedagang memenuhi ruas jalan yang sebenarnya lalu lintas kendaraan. Itu bisa dilihat di Pasar Simpang Limun, Sukaramai dan Sei Sikambing sebelum ditertibkan. Sudah ditertibkan pun tetap saja para pedagang itu masih mencari tempat strategis di pinggir jalan ( lampiran 1 ).
Sedangkan jumlah Pasar modern yang ada di Kota Medan sampai saat ini ( tahun 2009 ) berjumlah 71 buah ( lampiran 2 ), yang terdiri dari :
1. Departemen Store : 14 buah
2. Hypermarket : 4 buah
3. Supermarket : 10 buah
4. Pasar Swalayan : 43 buah
Jenis pasar yang paling banyak di kota medan adalah jenis pasar swalayan yaitu berjumlah 43 buah. Di pasar modern ini penjual dan pembeli tidak bertransakasi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Barang- barang yang dijual, selain bahan makanan makanan seperti; buah, sayuran, daging; sebagian besar barang lainnya yang dijual adalah barang yang dapat bertahan lama.
(Sumber, Dinas Perindustrian dan Perdagangan).
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Konsumen dalam Berbelanja di Pasar Tradisional dan Pasar Modern
Keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional dan pasar modern dipengaruhi oleh 11 faktor. Hasil wawancara yang dilakukan di pasar tradisional sei sikambing dan brastagi swalayan dapat dilihat pada tabel 11.
Tabel 11. jumlah konsumen yang berbelanja di pasar tradisional dan pasar modern
Pasar Tradisional Pasar Modern No Parameter Jlh Konsumen Persentase Jlh Konsumen Persentase 1 Kelengkapan produk 30 100% 29 96,6% 2 Harga 9 30,0% 27 90,0% 3 Promosi 3 10,0% 26 86,6% 4 Pelayanan 4 13,3% 5 16,6% 5 Lokasi 24 80,0% 2 6,6% 6 Fasilitas yang lengkap 9 30,0% 24 80,0% 7 Desain pasar 15 50,0% 25 83,3% 8 Pengaruh orang lain/keluarga 8 26,6% 12 40,0% 9 Pengalaman berbelanja 24 80,0% 19 63,3% 10 Kenyamanan 5 16,6% 28 93,3% 11 Gengsi 2 6,6% 12 40,0%
Sumber : Analisis Data Primer 2009 ( Lampiran 5, 7 & 6, 8 )
Tabel 11 menunjukkan data jumlah konsumen yang berbelanja di pasar tradisional dan pasar modern yang dipengaruhi oleh 11 faktor.
1. Faktor Kelengkapan Produk
Kelengkapan produk merupakan salah satu faktor penting bagi konsumen untuk berbelanja dalam memenuhi kebutuhannya. Dari hasil wawancara yang dilakukan, berdasarkan faktor kelengkapan produk diperoleh jumlah konsumen yang berbelanja di pasar tradisional adalah sebanyak 30 orang (100%) , sedangkan di pasar modern berjumlah 29 (96,6%) artinya kelengkapan produk memberi pengaruh yang besar terhadap keputusan konsumen dalam berbelanja.
2. Faktor Harga
Faktor harga merupakan salah satu pertimbangan bagi konsumen dalam berbelanja, Sebagian besar konsumen paling suka dengan sistem tawar-menawar atau harga ditetapkan bersama di waktu membeli produk tersebut, bukan harga
yang telah ditetapkan sebelumnya, Namun sebagian lagi lebih menyukai harga yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga hasil wawancara yang telah dilakukan berdasarkan faktor harga di pasar tradisional diketahui hanya 9 orang (30 %) sedangkan di pasar modern berjumlah 27 orang (90,0%).
3. Faktor Promosi
Hasil wawancara yang telah dilakukan berdasarkan faktor promosi diketahui di pasar tradisional berjumlah 3 orang (10 %) sedangkan di pasar modern berjumlah 26 orang (86,6%).
4. Faktor Pelayanan
Hasil wawancara yang dilakukan berdasarkan faktor pelayanan diketahui di pasar tradisional berjumlah 4 orang (13,3%), sedangkan di pasar modern berjumlah 5 orang (16,6%).
5. Faktor Lokasi
Jauh dekatnya lokasi pasar juga terkadang menjadi pertimbangan penting bagi konsumen, ada yang berpendapat lebih baik ke pasar yang dekat dengan tempat tinggal, namun ada juga yang memilih tempat berbelanja itu bukan hanya karena faktor lokasi. Dari hasil wawancara yang telah dilakukan berdasarkan faktor lokasi diketahui di pasar tradisional sebanyak 24 orang (80%), sedangkan di pasar modern berjumlah 2 orang (6,6%).
6. Faktor ketersediaan fasilitas yang lengkap
Sebagian konsumen juga memperhatikan fasilitas yang disediakan pasar. Hasil wawancara yang dilakukan berdasarkan faktor ketersediaan fasilitas yang lengkap diketahui di pasar tradisional ada 9 orang (30 %), sedangkan di pasar modern berjumlah 24 orang (80,0%).
7. Faktor desain pasar
Desain pasar itu ditunjukkan pasar untuk menarik perhatian konsumen. Hasil wawancara yang dilakukan berdasarkan faktor desain pasar diketahui di pasar tradisional jumlah konsumen adalah sebanyak 15 orang ( 50%), sedangkan di pasar modern sebanyak 25 orang (83,3%).
8. Faktor pengaruh orang lain atau keluarga
Orang lain atau keluarga secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi keputusan konsumen. Hasil wawancara yang dilakukan berdasarkan faktor pengaruh orang lain atau keluarga diketahui di pasar tradisional sebanyak 8 orang (26,6%), sedangkan di pasar mosern berjumlah 12 orang (40,0).
9. Faktor pengalaman berbelanja
Pengalaman berbelanja di sebuah pasar sebelumnya merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keputusan konsumen. Hasil wawancara yang dilakukan berdasarkan faktor pengalaman berbelanja diketahui di pasar tradisional sebanyak 24 orang (80%), sedangkan di pasar modern sebanyak 19 orang (63,3%).
10.Faktor kenyamanan
Kenyamanan dalam berbelanja juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi keputusan konsumen. Hasil wawancara yang dilakukan berdasarkan faktor kenyamanan diketahui di pasar tradisional jumlah konsumen sebanyak 5 orang (16,6%), sedangkan di pasar modern sebanyak 28 orang (93,3%).
11.Faktor gengsi
Sebagian besar dari konsumen tidak menjadikan gengsi sebagai faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam berbelanja, sebagian besar tidak ada gengsi dalam berbelanja. Hasil wawancara yang telah dilakukan berdasarkan faktor gengsi diketahui di pasar tradisional jumlah konsumens sebanyak 2 orang (6,6), sedangkan di pasar modern berjumlah 12 orang (40,0%). yang berbelanja karena gengsi.
Jumlah dan persentase konsumen menurut kategori tingkat keputusan
Jumlah dan persentase konsumen menurut kategori tingkat keputusan konsumen yang berbelanja di pasar tradisional dan pasar modern. Hasil analisis parameter tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional dan pasar modern dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 12. Jumlah dan persentase konsumen menurut kategori tingkat Keputusan
Tingkat Keputusan Konsumen Rendah Sedang Tinggi No Pasar (1-18 ) (19-36) (37-55) Jumlah 1 Pasar Sei Sikambing 3 (10%) 25 (83,3%) 2 (6,6%) 30(100%) 2 Berastagi Swalayan 0(0%) 10( 33,3%) 20 (66,6%) 30(100%)
Sumber : Analisis Data Primer 2009 ( Lampiran 5 & 6 ).
Terdapat 2 orang (6,6%) konsumen berbelanja di pasar sei sikambing mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi, dan 20orang ( 66,6 %) berbelanja di brastagi swalayan yang mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi.
Hubungan Karakteristik Konsumen dengan Keputusan Konsumen dalam Berbelanja di Pasar Tradisional dan Pasar Modern
Karakteristik konsumen terdiri dari faktor sosial dan faktor ekonomi. Faktor sosial yang diteliti adalah umur dan tingkat pendidikan. Faktor ekonomi yang diteliti adalah tingkat penghasilan dan jumlah tanggungan keluarga. Hasil analisis hubungan antara karakteristik konsumen dengan keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional dan pasar modern dapat diuraikan berikut :
Hubungan umur konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional dan pasar modern
Umur konsumen merupakan salah satu faktor sosial yang berkaitan erat dengan cara berfikir dan pandangan dalam membuat keputusan. Hasil analisis hubungan antara umur konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional diuraikan pada tabel 13.
Tabel 13. hubungan umur konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional
Tingkat Keputusan Konsumen ( Skor )
No Kelompok Umur
( Tahun ) Rendah Sedang Tinggi
Jumlah
1 25-33 1 (3,3%) 5(16,6%) 0 (0%) 6 (20%)
2 34-42 2 (6,6%) 13 (43,3%) 1 (3,3%) 16 (53,3%)
3 43-50 0 (0%) 7 (23,3%) 1 (3,3%) 8 (26,6%)
Jumlah 3 (10%) 25 (83,3%) 2 (6,6%) 30 (100%) Sumber : Analisis Data Primer 2009 ( Lampiran 3 & 5 ).
Tabel 13. menunjukkan bahwa tidak terdapat konsumen pada kelompok umur 25-33 tahun mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi. Terdapat 1 orang (3,3%) konsumen pada kelompok umur 34-42 tahun mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi. Terdapat 1 orang (3,3%) konsumen pada kelompok umur 43-50 tahun mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi.
Hasil pengujian yang dilakukan berdasarkan analisis korelasi rank spearman pada lampiran 9. Diperoleh koefisien korelasi (rs) = 0,467 dengan tingkat signifikansi 0,009, berarti hubungan kedua peubah sedang dengan tingkat signifikansi 0,009 < 0,025 , berarti ada hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja dengan nilai
t
hitung = 2,794. Oleh karena t hitung = 2,794 > t (α/2 0,025 ) = 2,048 berarti Ho ditolak danH1 diterima, artinya terdapat hubungan antara umur konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional.
Umur mempunyai hubungan yang signifikan terhadap keputusan konsumen dalam berbelanja. Semakin tinggi umur konsumen maka tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja juga semakin banyak. Oleh karena itu hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan antara umur dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional diterima.
Sedangkan Hasil analisis hubungan antara umur konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern diuraikan pada tabel 14.
Tabel 14. hubungan umur konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern
Tingkat Keputusan Konsumen ( Skor ) No Kelompok Umur ( Tahun ) Rendah (1-18 ) Sedang ( 19-36 ) Tinggi ( 37-55 ) Jumlah 1 24-32 0 (0%) 4(13,3%) 9 (30%) 13 (43,3%) 2 33-41 0 (0%) 4 (13,3%) 6 (20%) 10 (33,3%) 3 42-50 0 (0%) 2 (6,6%) 5 (16,6%) 7 (23,3%) Jumlah 0 (0%) 10 (33,3%) 20 (66,6%) 30 (100%) Sumber : Analisis Data Primer 2009 ( Lampiran 4 & 6 ).
Tabel 14. menunjukkan bahwa terdapat 9 orang (30%) konsumen pada kelompok umur 24-32 tahun mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi.
Terdapat 6 orang (20%) konsumen pada kelompok umur 33-41 tahun mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi. Terdapat 5 orang (16,6%) konsumen pada kelompok umur 42-50 tahun mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi.
Hasil pengujian yang dilakukan berdasarkan analisis korelasi rank spearman pada lampiran 10 . Diperoleh koefisien korelasi (rs) = 0,103 dengan tingkat signifikansi 0,548, berarti tidak ada hubungan antara kedua peubah sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern dengan nilai
t
hitung =0,548. Oleh karena t hitung = 0,548 < t (α/2 0,025 ) = 2,048 berarti Ho diterima dan H1 ditolak, artinya tidak terdapat hubungan antara umur konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern.
Tinggi rendahnya umur konsumen tidak memberi pengaruh yang besar terhadap keputusan dalam berbelanja di pasar modern karena kebanyakan dari konsumen yang datang ke pasar modern bukan hanya untuk berbelanja melainkan untuk jalan-jalan atau sekedar refreshing,oleh karena itu orangtua maupun yang muda yang datang ke pasar modern tidak harus memutuskan untuk berbelanja, dengan demikian umur tidak mempengaruhi keputusan konsumen dalam berbelnja di pasar modern.
Oleh karena itu hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan antara umur dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern ditolak.
Hubungan tingkat pendidikan dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional dan pasar modern
Tingkat pendidikan formal yang dimiliki konsumen akan menunjukkan tingkat pengetahuan serta wawasan dalam mengambil keputusan. Hasil analisis
hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional dapat diuraikan pada tabel 15.
Tabel 15. hubungan tingkat pendidikan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional.
Tingkat Keputusan Konsumen (Skor)
No
Tingkat Pendidikan
(Tahun) Rendah Sedang Tinggi
Jumlah 1 SLTP 0 (0%) 2 (6,6%) 0 (0%) 2 (6,6%) 2 SLTA 2 (6,6%) 14 (46,6%) 2 (6,6%) 18 (60%) 3 Diploma 1 (3,3%) 4 (13,3%) 0 (0%) 5 (16,6%) 4 Sarjana 0 (0%) 5 (16,6%) 0 (0%) 5 (16,6%) Jumlah 3 (10%) 25 (83,3%) 2 (6,6%) 30 (100%) Sumber : Analisis Data Primer 2009 ( Lampiran 3 & 5 ).
Tabel 15. menunjukkan bahwa tidak terdapat konsumen dengan tingkat pendidikan SLTP mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi. Terdapat 2 orang (6,6%) konsumen dengan tingkat pendidikan SLTA mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi. Tidak terdapat konsumen dengan tingkat pendidikan Diploma mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi. Tidak terdapat konsumen dengan tingkat pendidikan Sarjana tergolong pada konsumen yang mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi.
Hasil pengujian yang dilakukan berdasarkan analisis korelasi rank spearman pada lampiran 9 . Diperoleh koefisien korelasi ( rs ) = - 0,145 dengan tingkat signifikansi 0,445, koefisien korelasi tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kedua peubah dan hubungan kedua peubah tidak signifikan atau tidak nyata dengan nilai t hitung = - 0,775. Oleh karena t hitung = -
0,775 < t (α/2 0,025 ) = 2,048 berarti Ho diterima dan H1 ditolak, artinya tidak
terdapat hubungan antara tingkat pendidikan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional.
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional semakin rendah, maksudnya semakin tinggi pendidikan seseorang itu akan mempengaruhi perilakunya dalam mengambil keputusan untuk membeli produk-produk yang lebih berkualitas.
Sehingga hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan antara tingkat pendidikan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional ditolak.
Sedangkan Hasil analisis hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern dapat diuraikan pada tabel 16.
Tabel 16. hubungan tingkat pendidikan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern.
Tingkat keputusan konsumen (skor)
No
Tingkat Pendidikan
(Tahun) Rendah Sedang Tinggi
Jumlah 1 SLTP 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 2 SLTA 0 (0%) 2 (6,6%) 2 (6,6%) 4 (13,3%) 3 Diploma 0 (0%) 3 (10%) 3 (10%) 6 (20%) 4 Sarjana 0 (0%) 5 (16,6%) 15 (50%) 20 (66,6%) Jumlah 0 (0%) 10 (33,3%) 20(66,6%) 30 (100%) Sumber : Analisis Data Primer 2009 ( Lampiran 4 & 6 ).
Tabel 16. menunjukkan bahwa tidak terdapat konsumen dengan tingkat pendidikan SLTP mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi. Terdapat 2 orang (6,6%) konsumen dengan tingkat pendidikan SLTA mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi. Terdapat 3 orang (10%) konsumen dengan tingkat pendidikan Diploma mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi. Terdapat 15 orang (50%) konsumen dengan tingkat pendidikan Sarjana tergolong pada konsumen yang mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi.
Hasil pengujian yang dilakukan berdasarkan analisis korelasi rank spearman pada lampiran 10. Diperoleh koefisien korelasi (rs) = 0,095 dengan tingkat signifikansi 0,619, dengan demikian tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja dan tidak berhubungan secara nyata dengan nilai t hitung =0,505. Oleh karena t hitung =
0,505 < t (α/2 0,025 ) = 2,048 berarti Ho diterima dan H1 ditolak, artinya tidak
terdapat hubungan antara tingkat pendidikan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja.
Konsumen yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi bukan berarti harus berbelanja di pasar modern. Konsumen yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah juga tidak harus berbelanja di pasar tradisional, Melainkan untuk produk tertentu mereka lebih memilih ke pasar tradisional maupun ke pasar modern disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Oleh karena itu hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan antara tingkat pendidikan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern ditolak.
Hubungan tingkat penghasilan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional dan pasar modern
Hasil analisis hubungan antara tingkat penghasilan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional diuraikan pada tabel 17.
Tabel 17. hubungan tingkat penghasilan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional
Tingkat Keputusan Konsumen Jumlah No Tingkat Penghasilan ( Rp) Rendah (1-18 ) Sedang ( 19-36 ) Tinggi ( 37-55 ) 1 ≤ 1.799.999 3(10%) 7 (23,3%) 1(3,3%) 11(36,6%) 2 1.800.000-2.899.999 0( 0%) 11(36,6%) 1(3,3%) 12(40%) 3 ≥ 2.900.000 0( 0%) 7(23,3 %) 0(0%) 7(23,3 %) Jumlah 3(10%) 25(83,3%) 2(6,6%) 30(100%) Sumber : Analisis Data Primer 2009 ( Lampiran 3 & 5 ).
Tabel 17. menunjukkan bahwa terdapat 1 orang (3,3%) konsumen dengan tingkat penghasilan ≤ Rp 1.799.999 mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi. Terdapat 1 orang (3,3%) konsumen dengan tingkat penghasilan antara 1.800.000-2.899.999 mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi dan tidak terdapat konsumen dengan tingkat penghasilan ≥ 2.900.000 mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi.
Hasil pengujian yang dilakukan berdasarkan analisis korelasi rank spearman pada lampiran 9. Diperoleh koefisien korelasi (rs) = 0,047 dengan tingkat signifikansi 0,804 sehingga tidak terdapat hubungan antara kedua peubah dan tidak signifikan dengan nilai t hitung = 0,249. Oleh karena t hitung = 0,249 < t
(α/2 0,025 ) = 2,048 berarti Ho diterima dan H1 ditolak, artinya tidak terdapat
hubungan antara tingkat penghasilan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional.
Tinggi rendahnya pendapatan konsumen tidak sepenuhnya menentukan kemana mereka berbelanja, untuk konsumen yang berpenghasilan rendah juga mau memutuskan untuk berbelanja di pasar modern untuk barang-barang tertentu.
Oleh karena itu hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan antara tingkat penghasilan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional ditolak.
Sedangkan Hasil analisis hubungan antara tingkat penghasilan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern diuraikan pada tabel 18.
Tabel 18. hubungan tingkat penghasilan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern
Tingkat keputusan konsumen (skor) No Tingkat Penghasilan ( Rp) Rendah (1-18 ) Sedang ( 19-36 ) Tinggi ( 37-55 ) Jumlah 1 ≤ 4.499.999 0(0%) 8(26,6%) 3(10%) 11(36,6%) 2 4.500.000-6.499.999 0(0%) 1(3,3%) 12(40%) 13(43,3%) 3 ≥6.500.000 0(0%) 1(3,3%) 5(16,6%) 6(20 %) Jumlah 0(0%) 10(33,3%) 20(66,6%) 30 (100%) Sumber : Analisis Data Primer 2009 ( Lampiran 4 & 6 ).
Tabel 18. menunjukkan bahwa terdapat 3 orang (10%) konsumen dengan tingkat penghasilan ≤ 4.499.999, terdapat 12 orang (40%) konsumen dengan tingkat penghasilan Rp 4.500.000 - Rp 6.499.999 mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi. Terdapat 5 orang (16,6%) konsumen dengan tingkat penghasilan
≥6.500.000 mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi.
Hasil pengujian yang dilakukan berdasarkan analisis korelasi rank spearman pada lampiran 10. Diperoleh koefisien korelasi (rs) = 0,227 dengan tingkat signifikansi 0,228 dengan demikian hubungan kedua peubah lemah dan tidak berhubungan secara signifikan dengan nilai t hitung = 1,233. Oleh karena
t hitung = 1,233 < t (α/2 0,025) = 2,048 berarti Ho diterima dan H1 ditolak, artinya
tidak terdapat hubungan antara tingkat penghasilan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern.
Konsumen yang berpendapatan tinggi juga sering berbelanja di pasar tradisional, jadi tinggi rendahnya pendapatan tidak berhubungan dengan keputusan mereka dalam berbelanja.
Oleh karena itu hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan antara tingkat penghasilan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern ditolak.
Hubungan jumlah tanggungan dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional dan pasar modern
Hasil analisis hubungan antara jumlah tanggungan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional diuraikan pada tabel 19.
Tabel 19. hubungan jumlah tanggungan dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional
Tingkat Keputusan Konsumen ( Skor )
No
Jumlah Taggungan
( Orang ) Rendah Sedang Tinggi
Jumlah
1 1-3 3(10%) 6(20%) 0(0%) 9(30%)
2 4-6 0(0%) 19(63,3)%) 2(6,6%) 21(70%)
Jumlah 3(10%) 25(83,3%) 2(6,6%) 30(100%) Sumber : Analisis Data Primer 2009 ( Lampiran 3 & 5 ).
Tabel 19. menunjukkan bahwa tidak terdapat konsumen dengan jumlah tanggungan 1-3 orang mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi. Terdapat 2 orang (6,6%) konsumen dengan jumlah tanggungan 4-6 orang mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi.
Hasil pengujian yang dilakukan berdasarkan korelasi rank spearman pada lampiran 9. Diperoleh koefisien korelasi (rs) = 0,432 dengan tingkat signifikansi 0,017 dengan demikian hubungan kedua peubah sedang dan berhubungan secara signifikan dengan nilai t hitung = 2,535. Oleh karena t hitung = 2,535 > t (α/2 0,025 )
= 2,048 berarti Ho ditolak dan H1 diterima, artinya terdapat hubungan antara
berbelanja di pasar tradisional, semakin banyak jumlah tanggungan konsumen maka kecenderungan untuk berbelanja di pasar tradisional semakin besar.
Oleh karena itu hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan antara jumlah tanggungan dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional diterima.
Sedangkan hasil analisis hubungan antara jumlah tanggungan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern diuraikan pada tabel 20.
Tabel 20. hubungan jumlah tanggungan dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern
Tingkat Keputusan Konsumen ( Skor )
No
Jumlah Taggungan
( orang ) Rendah Sedang Tinggi
Jumlah
1 1-3 0(0%) 5(16,6%) 11(36,6%) 16(53,3%)
2 4-6 0(0%) 5(16,6)%) 9(30%) 14(46,6%)
Jumlah 0(0%) 10(33,3%) 20(66,6%) 30(100%)
Sumber : Analisis Data Primer 2009 ( Lampiran 4 & 6 ).
Tabel 20. menunjukkan bahwa terdapat 11 orang (36,6%) konsumen dengan jumlah tanggungan 1-3 orang mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi. Terdapat 9 orang (30) konsumen dengan jumlah tanggungan 4-6 orang mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi.
Hasil pengujian yang dilakukan berdasarkan korelasi rank spearman pada lampiran 10. Diperoleh koefisien korelasi (rs) = 0,060 dengan tingkat signifikansi 0,751 dengan demikian tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kedua peubah dengan nilai t hitung = 0,318. Oleh karena t hitung = 0,318 < t (α/2 0,025 ) =
2,048 berarti Ho diterima dan H1 ditolak, artinya tidak terdapat hubungan antara
jumlah tanggungan konsumen dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern.
Oleh karena itu hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan antara jumlah tanggungan dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern ditolak.
Hubungan Tingkat Daya Tarik Pasar dengan Tingkat Keputusan Konsumen dalam Berbelanja di Pasar Tradisional dan Pasar Modern
Daya tarik pasar mencakup produk, harga, pelayanan dan lokasi. Hasil analisis hubungan antara tingkat daya tarik pasar dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional dapat diuraikan pada tabel 21.
Tabel 21. hubungan tingkat daya tarik pasar dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional
Tingkat Keputusan Konsumen (Skor)
No Tingkat Daya
Tarik Pasar Rendah ( 1- 18 ) Sedang ( 19- 36) Tinggi ( 37- 55 ) Jumlah 1 1 - 13 0(0%) 0(0%) 0(0%) 0(0%) 2 14 – 27 1(3,3%) 2(6,6%) 0(0%) 3(10%) 3 28 - 40 2(6,6%) 23(76,6%) 2(6,6%) 27(90%) Jumlah 3( 10% ) 25( 83,3%) 2(6,6%) 30(100%) Sumber : Analisis Data Primer 2009 ( Lampiran 5 & 13 ).
Tabel 21. menunjukkan bahwa tidak terdapat konsumen berbelanja pada tingkat daya tarik pasar yang rendah yakni 1 – 13 dan pada daya tarik pasar yang sedang yakni 14- 26 yang mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi. Terdapat 2 orang (6,6%) konsumen dengan tingkat daya tarik pasar yang tinggi yakni 27- 40 mempunyai tingkat keputusan pada level tinggi.
Hasil pengujian yang dilakukan berdasarkan korelasi rank spearman pada lampiran 11. Diperoleh koefisien korelasi (rs) = 0,453 dengan tingkat signifikansi 0,012, dengan demikian terdapat hubungan sedang antara kedua peubah dan kedua peubah berhubungan secara signifikan dengan nilai t hitung = 2,689. Oleh
artinya terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat daya tarik pasar dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional . Oleh karena itu hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan antara tingkat daya tarik pasar dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional diterima.
Sedangkan Hasil analisis hubungan antara tingkat daya tarik pasar dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern dapat diuraikan pada tabel 22.
Tabel 22. hubungan tingkat daya tarik pasar dengan tingkat keputusan konsumen dalam berbelanja di pasar modern
Tingkat Keputusan Konsumen No Tingkat Daya Tarik Pasar Rendah ( 1- 18 ) Sedang ( 19- 36) Tinggi ( 37- 55 ) Jumlah 1 1 - 13 0(0%) 0(0%) 0(0%) 0(0%) 2 14 – 26 0(0%) 1(3,3%) 1(3,3%) 2(6,6%) 3 27 - 40 0(0%) 9(30%) 19(63,3%) 28(93,3%) Jumlah 0(0%) 10( 33,3%) 20(66,6%) 30(100%)
Sumber : Analisis Data Primer 2009 ( Lampiran 6 & 14 ).
Tabel 22. menunjukkan bahwa tidak terdapat konsumen berbelanja pada daya tarik pasar yang rendah yakni 1 – 13. dan terdapat 1 orang (3,3%) pada daya tarik pasar yang sedang yakni 14 - 26 yang mempunyai tingkat keputusan pada