Tabung Reaksi
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Mengukur berat jenis
Dari hasil pengukuran berat jenis seluruh sampel maka didapat data sebagai berikut
Tabel 4.1 Mengukur berat jenis
No Sampel Massa 1 Massa 2 Massa 3 Massa rata-rata Densitas Piknometer kosong 10,96 10,96 10,96 10,96 - Piknometer + Aquadest 15,97 15,96 15,96 15,96 1,000 1 Piknometer + sampel 1 17,99 17,99 17,99 17,99 1,406 2 Piknometer + sampel 2 17,97 17,97 17,97 17,97 1,402 3 Piknometer + sampel 3 17,37 17,37 17,37 17,37 1,282 4 Piknometer + sampel 4 17,75 17,75 17,75 17,75 1,358 5 Piknometer + sampel 5 17,47 17,49 17,49 17,48 1,304 6 Piknometer + sampel 6 17,73 17,73 17,73 17,73 1,354 7 Piknometer + sampel 7 17,73 17,73 17,73 17,73 1,354
Nb : Piknometer yang digunakan ukuran 5 ml
Pembahasan :
- Dari hasil penelitian didapat bahwa densitas sampel madu asli 1 dan 2 mempunyai nilai densitas 1,406 dan 1,402 hal tersebut hampir sama bila dibandingkan dengan densitas dari tinjauan literatur dimana madu mempunyai densitas 1,41
- Untuk sampel madu 3, 4, 5, 6, 7 memiliki densitas yang lebih rendah dari sampel madu asli yaitu 1,282 . 1,358 . 1,304 . 1,354 . 1,354
- Perbedaan densitas antara sampel madu asli dan madu palsu dapat diasumsikan terjadi karena kandungan zat terlarut yang lebih banyak pada madu asli jika dibandingkan dengan madu palsu untuk jumlah (volume) yang sama.
- Sampel madu asli sampel 1 dan sampel 2 memiliki densitas yang lebih tinggi dimungkinkan karena kandungan air yang lebih sedikit dimana madu yang diperoleh dari pasaran (sampel 3, 4, 5, 6, 7) kemungkinan bercampur dengan air ataupun uap air selama proses pemasarannya karena madu merupakan bahan Higroskopis yang sangat dipengaruhi oleh kelembapan udara.( Sarwono, 2001)
4.2 Disimpan dalam freezer & Tes Nyala
Tabel 4.2 Disimpan dalam freezer & Tes Nyala
Disimpan dalam freezer Tes Nyala No Sampel
Keadaan Keadaan
1 1 Beku Menyala
2 2 Beku Menyala
3 3 Tidak beku Menyala
4 4 Tidak beku Menyala
5 5 Tidak beku Menyala
6 6 Tidak beku Menyala
7 7 Tidak beku Menyala
Pembahasan :
Tes fisik seluruh sampel dengan menggunakan freezer dengan temperatur -50C selama 3 jam.
- Sampel 1 dan 2 yang merupakan sampel madu asli keadaannya membeku, hal ini membantah asumsi yang berkembang di masyarakat yang mengatakan bahwa madu asli tidak akan membeku. Madu asli tidak akan membeku saat disimpan di lemari es. Kecuali jenis madu Karet, Kaliandra dan alpukat madu murni tersebut akan mengkristal (Blog master madu murni). Sedangkan sampel madu 1 dan 2 diambil dari peternakan lebah pada pohon-pohon makadame ( dalam bahasa batak toba dikenal dengan pohon Anti api)
- Untuk sampel 3,4,5,6,7 keadaan akhir setelah disimpan dalam freezer adalah berwujud cairan
Tes fisik dengan tes Uji nyala terhadap seluruh sampel yang didapat adalah : - Tes uji nyala ini menggunakan korek api, mencelupkan kepala korek api terhadap
madu ditunggu 3 menit kemudian dilakukan pemantikan.
- Dari hasil penelitian seluruh korek api menyala setelah dilakukan pemantikan,tes ini memperlihat kandungan air yang ada dalam sampel madu sangat rendah, jika kandungan airnya tinggi maka fospor merah yang terdapat dalam korek api akan terurai sehingga korek api tidak hidup.
4.3 Mengukur derajat keasaman ( pH )
Dari hasil pengukuran derajat keasaman seluruh sampel maka didapat data sebagai berikut :
Tabel 4.3. Mengukur derajat keasaman ( pH )
No Sampel Cek pH 1 1 4 2 2 4 3 3 3 4 4 3 5 5 3 6 6 3 7 7 2 Pembahasan :
Dari hasil pengukuran derajat keasaman dari keseluruhan sampel didapat bahwa
- Mengukur derajat keasaman dari semua sampel diatas dilakukan dengan menggunakan pH meter digital.
- sampel 1 dan 2 yang merupakan sampel madu asli memiliki derajat keasaman sama dengan 4, data tersebut hampir sama jika dibandingkan dengan literatur tinjauan pustaka (Crane ,1975) yang menyatakan bahwa bahwa madu memiliki derajat keasaman sama dengan 3.91 atau berada dalam kisaran 3,42 - 6,10 dan jika dibandingkan juga dalam uji kualitas madu berdasarkan Standar Nasional Indonesia menyatakan bahwa madu dengan kualitas baik harus berada dalam antara derajat keasaman 3,4 – 4,5. Berarti sampel madu 1 dan 2 termasuk dalam kualitas yang baik.
- Sampel 3 , 4, 5 dan 6 yang merupakan sampel madu yang beredar dipasaran memiliki derajat keasaman sama dengan 3 dimana hal tersebut menandakan bahwa sampel sampel tersebut memiliki derajat keasaman yang lebih tinggi (lebih bersifat asam ) dari sampel madu asli yang diteliti dan dapat disimpulkan sampel sampel madu tersebut merupakan madu dengan kualitas rendah yang diperhatikan dari derajat keasaamannya.
- Sampel 7 yang merupakan sampel madu yang beredar dipasaran memiliki derajat keasaman sama dengan 2 dimana hal tersebut menandakan bahwa sampel tersebut memiliki derajat keasaman yang lebih tinggi dari keseluruhan sampel dibandingkan dalam uji kualitas madu berdasarkan Standar Nasional Indonesia menyatakan bahwa madu dengan derajat keasaman antara 2,4 – 3,3 termasuk dalam kualitas rendah. Maka dapat diasumsikan sampel madu tersebut merupakan madu dengan kualitas yang terendah bila dibandingkan dengan seluruh sampel penelitian.
- Sampel 1 dan 2 memiliki derajat keasaman yang lebih rendah dari sampel yang lain, menurut peneliti hal ini disebabkan karena :
Sampel madu 3,4,5,6,7 kemungkinan berasal dari madu oplosan atau madu palsu yang berasal dari bahan baku nenas, dimana sari nenasnya ditambahkan dengan sari gula dan dipanaskan sampai tingkat kekentalan tertentu, dimana bahan baku nenas tersebut sudah mengandung kadar asam yang tinggi maka derajat keasaman sampel madu asli lebih rendah dibandingkan dengan sampel madu dari apotik dan dari pasaran.
Madu yang tersimpan lama akan mengalami penyusutan karena terjadi proses fermentasi yang selanjutnya berubah menjadi asam asetat, sehingga derajat keasaman madu semakin lama akan semakin tinggi. Maka dapat diasumsikan bahwa sampel 3,4,5,6, dan 7 kalaupun berasal dari madu asli tetapi telah
Sampel madu 3,4,5,6 dan 7 lebih tinggi derajat keasamannya dibandingkan sampel 1 dan 2. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kandungan berbagai mineral, dimana semakin banyak kandungan mineral dalam madu maka pH madu akan semakin tinggi (Sihombing, D.T.H, 106)
4.4Tes gula reduksi
Dari hasil pengukuran tes gula reduksi seluruh sampel maka didapat data sebagai berikut :
Tabel 4.4. Tes gula reduksi
No Sampel Volume titran % gula reduksi ( gr / 100ml )
1 1 0,6 ml 32.4 2 2 1,2 ml 31.6 3 3 2,4 ml 30.1 4 4 0,1 ml 33.2 5 5 1,65 ml 31.0 6 6 0,8 ml 32.2 7 7 0,5 ml 32.6
Keterangan : perhitungan % gula reduksi = x F p ( mg/100 ml ) Pembahasan :
Dari hasil penelitian tes gula reduksi diatas didapat bahwa :
- Sampel madu asli 1 memiliki persentase gula pereduksi sebesar 32,4 gr/ 100 ml - Sampel madu asli 2 memiliki persentase gula pereduksi sebesar 31,6 gr/ 100 ml - Sampel madu 3 memiliki persentase gula pereduksi sebesar 30,1 gr/ 100 ml - Sampel madu 4 memiliki persentase gula pereduksi sebesar 33,2 gr/ 100 ml - Sampel madu 5 memiliki persentase gula pereduksi sebesar 31,0 gr/ 100 ml - Sampel madu 6 memiliki persentase gula pereduksi sebesar 32,2 gr/ 100 ml
- Sampel madu 7 memiliki persentase gula pereduksi sebesar 32,6 gr/ 100 ml
Dari keseluruhan sampel madu didapatkan data gula pereduksi yang hampir sama sehingga tidak dapat menjadi patokan khusus dalam membedakan sampel-sampel tersebut apakah madu asli, madu oplosan atau madu palsu.
Madu mengandung berbagai jenis gula pereduksi yaitu glukosa, fruktosa, dan maltosa.
4.5 Uji aktivitas Enzim
Dari hasil uji aktivitas enzim seluruh sampel maka didapat data sebagai berikut : Tabel 4.5.
Percobaan I Percobaan II Percobaan III
Perubahan warna Perubahan warna Perubahan warna
Sampel
Sebelum Sesudah Waktu
(detik) Sebelum Sesudah
Waktu
(detik) Sebelum Sesudah
Waktu (detik)
Waktu rata rata
1 Biru Bening 7 Biru Bening 8 Biru Bening 7 7.3
2 Biru Bening 11 Biru Bening 11 Biru Bening 10 10.6
3 Biru Bening 146 Biru Bening 137 Biru Bening 182 155
4 Biru Bening 118 Biru Bening 115 Biru Bening 104 112.3
5 Biru Bening 240 Biru Bening 277 Biru Bening 225 247.3
6 Biru Biru - Biru Biru - Biru Biru - -
7 Biru Biru
muda -
Biru Biru muda
- Biru Biru
muda - -
Pembahasan :
Dari uji aktivitas enzim yang telah dilaksanakan maka didapat bahwa :
- Larutan pati yang ditambahkan larutan iodin akan menghasilkan warna biru. Enzim diastase yang dihasilkan oleh lebah dalam pembentukan madu akan mengubah pati menjadi glukosa. Dengan adanya aktivitas enzim diastase warna biru pada larutan pati akan hilang. Semakin tinggi aktivitas enzim semakin cepat hilangnya warna biru dari pati.
- Proses perubahan pati menjadi glukosa yang dilakukan oleh enzim diastase pada madu dalam uji aktivitas enzim dengan menggunakan iodin yang disertai perubahan warna larutannya adalah sebagai berikut :
- Pati (Biru ) dekstrin (Biru kecoklatan) akrodekstrin (coklat) Eritrodekstrin (merah) Maltosa (kuning) Glukosa (Jernih/bening) Pembahasan Hasil percobaan :
- Untuk sampel 1 dan 2 membutuhkan waktu 7.3 detik dan 10.6 detik untuk mengubah pati menjadi glukosa, hal ini menunjukkan bahwa aktivitas enzim dalam madu sangat tinggi dimana perubahan warnanya berlangsung dengan cepat. - Untuk sampel 3 , 4 dan 5 membutuhkan waktu 115 detik, 112.3 detik dan 247.3
detik untuk mengubah pati menjadi glukosa, hal ini menunjukkan adanya aktivitas enzim dalam madu dengan kemungkinan jumlah yang lebih sedikit karena perubahan warnanya berlangsung agak lambat.
Melihat perbedaan waktu yang sangat jauh dibandingkan antara sampel madu asli 1 dan 2 dengan sampel madu 3, 4, 5 dapat diasumsikan bahwa :
Sampel madu 3,4 dan 5 kemungkinan adalah madu oplosan, dimana madu asli dicampur dengan madu palsu dalam perbandingan tertentu sehingga aktivitas enzimnya akan berlangsung lambat yang berarti enzim dalam sampel sangat sedikit.
Sampel madu 3, 4, 5 mungkin berasal dari madu asli tetapi telah mengalami penyimpanan yang cukup lama sehingga enzim yang ada dalam madu telah melewati batas half-lifenya yang mengakibatkan inaktivasi enzim
- Untuk sampel 6 dan 7 tidak mengalami perubahan warna sama sekali, hal ini menunjukkan tidak adanya aktivitas enzim di dalam sampel madu tersebut dan dapat disimpulkan bahwa sampel 6 dan 7 adalah madu palsu.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN