HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Data
4.2. Hasil Penelitian
4.2.1. Hasil Penelitian Jenis Majas Yang Digunakan Dalam Puisi Nikmat Hidup, Hati Sanubari, dan Hanya Hati Karya Buya Hamka
Hasil penelitian menemukan beberapa majas yang digunakan pada puisi Nikmat Hidup, Hati Sanubari, dan Hanya Hati karya Buya Hamka. Berikut adalah masing-masing uraian hasil penelitian jenis majas yang digunakan pada puisi Nikmat Hidup, Hati Sanubari, dan Hanya Hati Karya Buya Hamka.
a. Puisi Nikmat Hidup
Berdasarkan hasil analisis data, penulis menemukan tujuh belas majas yang digunakan pada puisi yang berjudul Nikmat Hidup. Majas-majas tersebut yaitu majas anafora sebanyak dua, majas aliterasi sebanyak dua, majas simile sebanyak enam, majas alegori sebanyak sembilan, majas sinisme sebanyak satu, dan majas paralelisme sebanyak satu. Berikut adalah uraian dan pembahasan dari hasil temuan majas tersebut.
Pada puisi Nikmat Hidup, majas anafora digunakan pada bait pertama larik kesatu sampai larik keempat dan bait kesembilan. Berikut adalah masing-masing kutipannya.
Bait pertama (larik kesatu-keempat): Setelah diri bertambah besar
Di tempat kecil tak muat lagi Setelah harga bertambah tinggi Orang pun segan datang menawar Bait kesembilan:
Jika hartamu sudah taka da Belumlah engkau bernama rugi Jika berani tak ada lagi
Separuh kekayaan porak-poranda
Pada kutipan bait yang pertama, kata yang mengalami pengulangan pada setiap barisnya adalah kata Setelah. Selanjutnya pada bait yang kesembilan, kata Jika juga mengalami pengulangan yang sama. Hal ini sesuai dan selaras dengan ciri khas majas anafora. Jadi, dapat dikategorikan bahwa kedua kutipan bait puisi di atas menggunakan majas anafora.
2. Majas Aliterasi
Pada puisi Nikmat Hidup majas aliterasi digunakan pada bait yang keempat dan kedelapan. Berikut adalah masing-masing kutipannya.
Bait keempat:
Tahan haus tahanlah lapar Bertemu sulit hendaklah tenang Memohon-mohon jadikan pantang Dari mengemis biar terkapar Bait kedelapan:
Selama nampak tubuh jasmani Gelanggang malaikat bersama setan Ada pujian, ada celaan
Menurut defenisinya, aliterasi memanfaatkan kata-kata yang permulaannya memiliki persamaan bunyi. Pada kutipan bait keempat di atas, kata yang dimanfaatkan adalah kata tahan..tahanlah. selanjutnya pada kutipan bait yang kedelapan adalah kata ada. Masing-masing kedua kata tersebut mengalami pengulangan karena kesamaan bunyinya. Hal ini selaras dengan defenisi majas aliterasi. Jadi, dapat dikategorikan bahwa kedua kutipan bait di atas menggunakan majas literasi.
3. Majas Perumpamaan/Simile
Pada puisi Nikmat Hidup, majas perumpamaan digunakan pada bait pertama larik keenam dan ketujuh serta pada baik yang kedua belas. Berikut adalah masing-masing kutipan baitnya.
Bait pertama (larik ketujuh dan kedelapan): Laksana ombak di dalam gelas
Diri merasai bagai terpencil Bait kedua belas:
Tatkala engkau menjadi palu Beranilah memukul habis-habisan Tiba giliran jadi landasan
Tahanlah pukulan biar bertalu
Ciri khas majas perumpamaan adalah mengumpamakan sesuatu dengan kata pembanding. Pada kutipan bait pertama di atas, Buya Hamka mengumpamakan dirinya seperti ombak di dalam gelas. Kata pembanding yang digunakan untuk perumpamaan tersebut adalah kata laksana. Selanjutnya pada bait yang kedua belas, Buya Hamka menggunakan kata pembanding tatkala dalam perumpamaannya tatkala engkau menjadi palu. Berdasarkan ciri yang telah diuraikan tersebut, dapat dikategorikan bahwa kutipan bait pertama dan kedua belas di atas menggunakan majas perumpamaan/simile.
4. Majas Alegori
Berdasarkan hasil analisis, penulis menemukan majas alegori digunakan pada bait kedua, kelima, keenam, ketujuh, kesepuluh, kesebelas, ketiga belas, keempat belas, dan kelima belas. Berikut adalah masing-masing uraian dan pembahasannya. Bait kedua:
Walaupun musnah harta dan benda Harga diri janganlah jatuh
Binaan pertama walau runtuh Kerja yang baru mulailah pula
Hal yang dibandingkan pada kutipan bait di atas adalah harga diri dan harta benda. Buya Hamka berpesan untuk lebih mengutamakan harga diri dibandingkan harta benda; walaupun musnah harta dan benda, harga diri janganlah jatuh. Pesan moralnya adalah harga diri berada di atas segalanya, harta dan benda boleh saja musnah, tetapi harga diri jangan sampai jatuh. Hal ini selaras dengan ciri khas majas alegori. Jadi, dapat dikategorikan bahwa kutipan bait di atas menggunakan majas alegori.
Bait kelima:
Hanya dua tempat bertanya Pertama Tuhan, kedua hati
Dari mulai hidup sampai pun mati Timbangan insan tidaklah sama
Secara tersirat kutipan di atas bercerita tentang kehidupan, dalam hidup, manakala berada dalam situasi atau keadaan yang sulit hendaklah bertanya dan hanya dua tempat bertanya, pertama Tuhan, kedua hati. Pesan moral yang mau disampaikan adalah hendaklah kita menggunakan hati dan Tuhan kita ketika berada dalam keadaan yang sulit atau kebingungan. Cerita dan kandungan pesan moral pada kutipan tersebut selaras dengan ciri khas majas alegori yaitu bercerita dengan
tujuan menddidik moral. Jadi, dapat dikategorikan bahwa kutipan bait di atas menggunakan majas alegori.
Bait keenam:
Hanya sekali singgah ke alam Sesudah mati tak balik lagi Baru rang tahu siapa diri Setelah tidur di kubur kelam
Cerita yang dikiaskan adalah pada kutipan hanya sekali singgah ke alam. Kutipan tersebut melambangkan atau mengiaskan kehidupan. maksudnya adalah kehidupan hanya sekali. Selain itu, kutipan yang dikiaskan adalah setelah tidur di kubur kelam. Kutipan tersebut mengiaskan atau melambangkan akhir kehidupan. maksudnya adalah pada akhirnya kehidupan akan berakhir di liang kubur.
Bait ketujuh:
Wahai diriku teruslah maju
Di tengah jalan janganlah berhenti Sebelum ajal janganlah berhenti Keridhaan Allah itulah tuju
Kutipan bait di atas bercerita tentang motivasi hidup, hidup sejatinya adalah sebuah perjalanan. Dalam perjalanannya, hendaklah untuk terus maju dan jangan berhenti; Wahai diriku teruslah maju, di tengah jalan janganlah berhenti. Pesan moral yang mau disampaikan adalah hidup adalah sebuah perjalanan, oleh karena itu teruslah maju dan jangan berhenti; Sebelum ajal janganlah berhenti. Pada akhirnya akan kembali kepada Yang Maha Kuasa; Keridhaan Allah itulah tuju. Pastikan sebelum meninggal, mempunyai hidup yang bermakna. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikategorikan bahwa kutipan di atas menggunakan majas alegori karena kandungan cerita dan pesan moral yang ada di dalamnya.
Bait kesepuluh:
Jikalau jatuh martabat diri Wajahpun muram hilanglah seri Ratapan batin dosa namanya
Hal yang dikiaskan atau dilambangkan pada kutipan tersebut adalah harta dan benda yang dimiliki. Penandanya adalah pada kutipan musnah segala apa yang ada, jikalau jatuh martabat diri. Maksudnya adalah segala harta benda yang akan dimiliki akan musnah jika kehilangan harga diri atau martabat diri. Hal ini selaras dengan ciri khas majas alegori. Oleh karena itu, dapat dikategorikan bahwa kutipan di atas menggunakan majas alegori.
Bait kesebelas
Jikalau dasar budimu culas Tidaklah berubah kerana pangkat Bertambah jenjang ditingkat Perangai asal bertambah jelas
Penanda utama yang menjadikan kutipan tersebut masuk dalam kategori majas alegori adalah kandungan pesan moral yang terdapat di dalamnya. Selain itu, kutipan tersebut juga bercerita tentang sifat yang tidak jujur. Hal ini dikiaskan atau dilambangkan dengan penggunaan diksi yang tidak umum yakni jikalau dasar budimu culas. Kata yang bercetak tebal tersebut adalah bentuk kiasan dari sifat yang tidak jujur.
Bait ketiga belas: Ada nasihat saya terima
Menyatakan fikiran baik berhenti Sebablah banyak orang membenci Supaya engkau aman sentosa
Salah satu ciri khas utama majas alegori adalah mengandung pesan moral yang memiliki tujuan untuk mendidik. Kutipan di atas bercerita tentang bagaimana Buya
Hamka memberikan teladan dengan sikap keterbukaannya menerima saran dan kritikan dari orang lain; Ada nasihat saya terima. Buya Hamka dengan segala predikat yang ia miliki tetap mau menerima nasihat dan rendah hati.
Bait keempat belas:
Menahan fikiran aku tak mungkin Menumpul kalam aku tak kuasa Merdeka berfikir gagah perkasa Berani menyebut yang aku yakin
Kutipan di atas bercerita bagaimana Buya Hamka membebaskan pikirannya untuk berpikir dan berpendapat, sebab Menahan fikiran aku tak mungkin, menumpul kalam aku tak kuasa. Hal itu kemudian ia pertegas dengan Merdeka berfikir gagah perkasa, berani menyebut yang aku yakin. Pesan moralnya adalah milikilah keberanian untuk mengemukakan pendapat. berdasarkan uraian tersebut, dapat dikategorikan bahwa kutipan di atas menggunakan majas alegori karena mengandung cerita dan pesan moral yang mendidik.
Bait kelima belas:
Celalah saya, makilah saya Akan kusambut bertahan hati Ada yang suka ada yang benci Hiasan hidup di alam maya
Pada kutipan di atas Buya Hamka sekali lagi memberikan teladan kepada pembaca. Kutipan yang berbunyi celalah saya, makilah saya, akan kusambut bertahan hati adalah lambang dari diri Hamka yang terbuka menerima segala celaan dan makian. Karena sejatinya dalam hidup akan selalu ada yang suka dan yang membenci. Hal ini selaras dengan ciri khas majas alegori yaitu mengandung cerita dan pesan moral yang mendidik. Jadi, dapat dikategorikan bahwa kutipan di atas menggunakan majas alegori.
5. Majas Sinisme
Pada puisi Nikmat Hidup majas sinisme digunakan pada bait pertama larik kelima sampai larik keenam. Berikut adalah kutipannya.
Rumit beredar ditempat kecil Kerap bertemu kawan yang culas
Kutipan di atas adalah bentuk ungkapaan ketidaknyamanan Buya Hamka berada di lingkungan tempat tinggalnya. Alasannya adalah karena Kerap bertemu kawan yang culas. Karena ketidaknyamanannya tersebut, Hamka secara langsung menyindir dengan ungkapan Rumit beredar ditempat kecil. Ungkapan tersebut adalah sindiran untuk kawan-kawannya yang culas/tidak jujur. Hamka merasa susah dan tidak nyaman berada di lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini selaras dengan ciri khas majas sinisme yaitu menyatakan sindiran secara langsung. Jadi, dapat dikategorikan kutipan di atas menggunakan majas sinisme.
6. Majas Paralelisme
Berdasarkan hasil analisis, penulis menemukan majas paralelisme digunakan pada bait yang ketiga puisi Nikmat Hidup. Berikut adalah kutipannya.
Pahlawan budi tak pernah nganggur Khidmat hidup sambung bersambung Kadang turun, kadang membumbung Sampai istirahat di liang kubur
Kutipan di atas masuk dalam kategori majas paralelisme. Majas paralelisme menggunakan kata-kata dan frase-frase yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikalnya. Penandanya adalah pada kutipan yang bercetak tebal, jika melihat fungsi gramatikalnya, kutipan tersebut menduduki fungsi yang sama/sejajar.
b. Puisi Hati Sanubari
Berdasarkan hasil analisis, penulis menemukan dua majas yang digunakan pada puisi Hati Sanubari. Majas tersebut adalah majas pertautan (erotesis) dan majas perulangan epizeukis. Berikut adalah masing-masing uraian dan pembahasannya. 1. Majas erotesis
Kutipan puisi Hati Sanubari yang menggunakan majas erotesis terdapat pada larik terakhir yang berbunyi:
adakah rasa hati sanubari itu bisa dijual?.
Jika melihat cirinya, kutipan tersebut selaras dengan hakikat majas erotesis, yaitu ungkapan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Oleh karena itu, dapat dikategorikan bahwa kutipan tersebut menggunakan majas erotesis.
2. Majas epizeukis
Berdasarkan hasil analisis, penulis menemukan majas epizeukis digunakan dalam kutipan larik keenam sampai larik kesembilan pada puisi Hati Sanubari. Kutipan tersebut berbunyi:
Cuma rasa hati sanubari itu, tidaklah saya dapat menjualnya, katakanlah kepadaku demi Tuhan,
adakah rasa hati sanubari itu bisa dijual?.
Frasa hati sanubari mengalami repetisi atau pengulangan. Selain karena judul puisi, frasa hati sanubari adalah frasa yang penting pada kutipan tersebut. Sehingga mengalami repetisi atau pengulangan. Jadi, dapat dikategorikan bahwa kutipan tersebut menggunakan majas epizeukis, karena sesuai dengan hakikat dan ciri khas majas epizeukis.
c. Puisi Hanya Hati
Berdasarkan hasil analisis data, penulis menemukan beberapa majas yang digunakan pada puisi Hanya Hati. Majas-majas tersebut yaitu majas mesodilopsis, anafora, asonansi dan aliterasi. Berikut adalah masing-masing uraiannya.
1. Majas mesodilopsis
Berdasarkan hasil analisis data, penulis menemukan majas mesodilopsis digunakan pada bait pertama puisi Hanya Hati. Kutipannya adalah sebagai berikut.
Pencaharian lain aku tak ada Kicuh buku aku tak tahu Korupsi aku tak mahir Berniaga aku tak pandai
Pada kutipan di atas, kata yang mengalami pengulangan adalah kata aku. Kata aku berada di tengah-tengah kutipan dan diulang beberapa kali. Hal ini selaras dengan hakikat majas mesodilopsis. Jadi, dapat dikategorikan bahwa kutipan di atas menggunakan majas mesodilopsis.
2. Majas anafora
Berdasarkan hasil analisis data, penulis menemukan majas anafora digunakan dalam puisi Hanya Hati pada kutipan bait yang kedua. Berikut adalah kutipannya.
Kau minta permadani Padaku hanya tikar pandan Kau minta tas atom
Padaku hanya kampir mantur Kau minta rumah perabit cukup Kau minta kereta bagus
Pada kutipan di atas, frasa kau minta mengalami repetisi atau pengulangan berturut-turut. Hal ini selaras dengan hakikat majas anafora. Jadi, dapat dikategorikan bahwa kutipan di atas menggunakan majas anafora.
3. Majas asonansi
Berdasarkan hasil analisis data, penulis menemukan majas asonansi digunakan pada bait ketiga larik pertama dan kedua yang berbunyi:
apa dayaku, kekayaanku cuma satu.
Pada kutipan tersebut, vokal yang mengalami pengulangan adalah vokal U. Pengulangan tersebut selaras dengan hakikat dan ciri khas majas asonansi. Jadi, dapat dikategorikan bahwa kutipan tersebut menggunakan majas asonansi.
4. Majas aliterasi
Majas aliterasi digunakan pada kutipan bait ketiga larik ketiga dan keempat yang berbunyi: hati, hati yang luas tak bertepi.
Majas aliterasi pada hakikatnya memanfaatkan kata-kata yang permulaannya memiliki kesamaan bunyi. Pada kutipan tersebut, penandanya adalah kata hati. Kata hati dimanfaatkan karena kesamaan bunyinya. Jadi, dapat dikategorikan bahwa kutipan tersebut menggunakan majas aliterasi.
4.2.2. Hasil Penelitian Makna Majas Dalam Puisi Nikmat Hidup, Hati