• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI 2.1. Penelitian Terdahulu Yang Relevan

1. Majas Perbandingan

Laksana (2010:77) mengungkapkan bahwa majas perbandingan adalah jenis majas yang membandingkan dua hal yang pada hakikatnya berlainan tetapi sengaja dianggap sama. Perumpamaan atau persamaan itu bersifat eksplisit dengan dimarkahi oleh pemakaian kata sebagai, seperti, ibarat, dan sejenisnya. Secara sederhana dapat dipahami bahwa majas perbandingan adalah majas yang membandingkan dua hal yang berbeda dengan kata-kata pembanding. Tarigan (2013:9) berpendapat bahwa majas perbandingan dibagi menjadi sepuluh gaya bahasa, yaitu: perumpamaan, metafora, personifikasi, depersonifikasi, alegori,

antithesis, pleonasme dan tautologi, perifrasis, antisipasi atau prolepsis, dan koreksi atau epanortosis. Berikut ini adalah masing-masing uraian dan pembahasannya. a. Perumpamaan

Perumpamaan adalah asal kata simile dalam bahasa inggris. Kata simile berasal dari kata bahasa latin yang bermakna “seperti”. Menurut Tarigan (2013:9) perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan dan dianggap sama dengan pemakaian kata seperti, ibarat, bak, sebagai, seumpama, laksana, penaka, dan serupa. Berdasarkan pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang berbeda tetapi sengaja dianggap sama dengan penanda utamanya berupa kata-kata pembanding. Berikut adalah beberapa contohnya.

Seperti air dengan minyak Ibarat mengejar bayangan Bak merpati dua sejoli b. Metafora

Poerwadaminta dalam Tarigan (2013:16-16) menjelaskan bahwa metafora adalah pemakaian kata-kata yang bukan arti sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Sementara itu, Moeliono dalam Tarigan (2013:15) juga memaparkan bahwa metafora adalah perbandingan yang implisit tanpa kata sebagai di antara dua hal yang berbeda. Secara sederhana dapat dipahami bahwa metafora adalah perbandingan yang yang tidak menggunakan kata-kata pembanding dan tidak merujuk pada makna yang sebenarnya. Berikut adalah beberapa contoh metafora.

Ali mata keranjang

Aku terus memburu untung c. Personifikasi

Personifikasi membandingkan benda-benda yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat seperti manusia ((Ngatiyem, 2017:34). Menurut Tarigan (2013:17-18) personifikasi adalah jenis majas yang melekatkan sifat-sifat insani kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak. Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa personifikasi adalah jenis majas perbandingan yang membandingkan benda-benda mati seolah-olah memiliki sifat seperti manusia. Berikut adalah beberapa contohnya.

Hujan memandikan tanaman Mentari mencubit wajahku Pepohonan tersenyum riang d. Depersonifikasi

Depersonifikasi adalah kebalikan dari personifikasi. Apabila personifikasi menginsankan benda-benda, maka depersonifikasi justru membendakan manusia atau insan (Tarigan, 2013:21-22). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa depersonifikasi adalah jenis majas perbandingan yang mengumpamakan manusia seperti benda mati. Berikut adalah beberapa contohnya.

Sekiranya suami menjadi ombak, maka istri menjadi pantai

Rupa-rupanya jikalau si Ani menjadi kembang, tentu si Ali menjadi kumbang

Alegori adalah jenis majas perbandingan yang dipakai dalam cerita sebagai lambang perikehidupan manusia yang sebenarnya untuk mendidik moral (Ngatiyem, 2017:35). Hal ini senada dengan pendapat Tarigan (2013:24) yang menyatakan bahwa alegori adalah cerita yang dikisahkan dalam lambang-lambang. Biasanya alegori merupakan cerita-cerita yang panjang dan rumit dengan maksud dan tujuan yang terselubung. Dapat disimpulkan bahwa alegori adalah jenis majas perbandingan yang mengisahkan cerita melalui kiasan atau lambang tertentu dengan tujuan mendidik moral. Berikut adalah contohnya.

Hati-hatilah kamu dalam mendayung bahtera rumah tangga, mengarungi lautan kehidupan yang penuh dengan badai dan gelombang

f. Antitesis

Menurut Tarigan (2013:27) antitesis adalah gaya bahasa yang mengadakan komparasi atau perbandingan antara dua antonim yaitu kata-kata yang mengandung ciri-ciri semantik yang bertentangan. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa antitesis membandingkan dua hal dengan kata-kata yang berlawanan arti.

Kaya miskin, tua muda, besar kecil, semuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa

g. Pleonasme dan Tautologi

Pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir atau berlebihan yang sebenarnya tidak perlu (Tarigan, 2013:29). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa pleonasme adalah penggunaan kata-kata dan keterangan yang tidak perlu secara berlebihan. Berikut adalah contohnya.

Turun melembah Tinggi membukit

Lebih lanjut, Tarigan (2013:24-30) menjelaskan bahwa suatu acuan disebut tautologi kalau kata yang berlebihan pada dasarnya mengandung sebuah perulangan dari sebuah kata lain. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa tautology adalah pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya. Berikut adalah contohnya.

Orang yang meninggal itu menutup mata buat selama-lamanya Kegembiraan menyenangkan hatiku

h. Perifrasis

Perifrasis adalah sejenis gaya bahasa yang mirip dengan pleonasme. Keduanya menggunakan kata-kata yang lebih banyak dari pada yang dibutuhkan namun yang membedakan keduanya yaitu perifrasis kata-kata yang berlebihan itu pada prinsipnya diganti dengan sebuah kata Keraf dalam (Tarigan, 2013:31). Secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa perifrasis adalah ungkapan panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek. Berikut adalah contohnya.

Kemana pun ia pergi, besi tua bermerek Yamaha produksi tahun 1970 selalu menemaninya (pengganti kendaraan)

i. Antisipasi atau Prolepsis

Antisipasi adalah penempatan kata-kata yang mendahului sesuatu yang masih akan dikerjakan atau akan terjadi (Tarigan, 2013:33). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa antisipasi atau prolepsis adalah jenis majas perbandingan yang kata-katanya mendahului sesuatu yang masih terjadi atau yang akan terjadi. Berikut adalah contohnya.

Kami sangat gembira, minggu depan kami memperoleh hadiah dari Bapak Bupati.

Jelas seluruh kerabat merasa sedih dan malu, lusa si Dogol dijebloskan ke dalam penjara karena terlibat penjualan ganja.

j. Koreksi atau Epanortosis

Koreksi adalah sesuatu yang ingin ditegaskan kembali dengan memeriksa dan memperbaiki atau mengoreksi mana-mana yang salah (Tarigan, 2013:34-35). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa koreksi adalah ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya. Berikut adalah contohnya:

Silahkan pulang saudara-saudara, eh maaf, silahkan makan Pak Tarigan memang orang Bali, ah bukan, orang Batak 2. Majas Pertautan

Laksana (2010:89) menjelaskan bahwa majas pertautan adalah menggunakan istilah “teracu” dan “mengacu”. Teracu adalah apa yang diacu oleh pengacu, sedangkan mengacu ialah ungkapan yang dipakai dalam proses pengacuan. Majas pertautan adalah kata-kata kiasan yang berhubungan atau bertautan dengan sesuatu yang ingin disampaikan. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa majas pertautan adalah majas yang mempertautkan atau menghubungkan sesuatu dengan kata-kata kiasan. Tarigan (2011:122) berpendapat bahwa majas pertautan dibagi menjadi tiga belas gaya bahasa, yaitu: metonimia, sinekdoke, alusi, eufemisme, eponim, epitet, etonomasia, erotesis, paralelisme, gradasi asindeton, dan polisindeton. Berikut adalah masing-masing uraian dan pembahasannya.

a. Metonimia

Metonimia adalah jenis majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan nama orang, barang, atau hal lainnya sebagai pengganti (Ngatiyem, 2017:35). Tarigan (2011:122) berpendapat bahwa metonimia adalah sejenis gaya bahasa yang mempergunakan nama sesuatu barang bagi sesuatu yang berkaitan erat dengannya. Berdasarkan pendapat kedua pakar tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa metonimia adalah kiasan pengganti nama atau ciri tertentu. Berikut adalah contohnya.

Aku selalu minum aqua (pengganti air putih atau air mineral) b. Sinekdoke

Sinekdoke adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya (Ngatiyem, 2017:35). Tarigan (2013:124-125) mengungkapkan bahwa majas sinekdoke dibagi menjadi dua macam yaitu: pertama majas sinekdoke pars pro toto digunakan untuk menyatakan keseluruhan suatu objek tetapi hanya menyebutkan sebagian dari objek tersebut. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa majas sinekdoke pars pro toto adalah pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukan keseluruhan objek. Berikut adalah contohnya.

Sejak kemarin belum kelihatan batang hidungnya (batang hidungnya mewakili seluruh tubuh)

Macam majas sinekdoke yang kedua adalah sinekdoke totem proparte yang merupakan kebalikan dari totum pro toto yakni menyatakan keseluruhan objek untuk sebagian. Berikut adalah contohnya.

Indonesia bertanding bola basket melawan Thailand (hanya perwakilan saja yang bertanding bukan seluruh rakyat Indonesia)

c. Alusi

Alusi atau alusio adalah majas yang menunjukan secara tidak langsung suatu tokoh atau peristiwa yang sudah diketahui bersama ((Ngatiyem, 2017:35). Sementara itu, Tarigan (2013:126-127) mengungkapkan bahwa alusi adalah gaya bahasa yang menunjuk secara langsung ke suatu peristiwa atau tokoh berdasarkan anggapan adanya pengetahuan bersama yang dimiliki oleh pengarang dan pembaca serta adanya kemampuan para pembaca untuk menangkap pengacuan itu. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa alusi adalah pemakaian ungkapan yang tidak terelesaikan pada sesuatu yang dimaksud sebab telah diketahui apa yang dimaksudkan. Berikut adalah contohnya.

Tugu ini mengingatkan kembali ke peristiwa Bandung Selatan d. Eufesmisme

Eufemisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasa kasar atau tidak menyenangkan (Tarigan, 2013:128-129). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa eufemisme adalah ungkapan pengganti kata atau kalimat yang dirasa kasar dengan ungkapan yang lebih sopan atau halus. Berikut beberapa contoh eufemisme.

Tunaaksara pengganti buta huruf

Tunakarya pengganti tidak mempunyai pekerjaan Tunawicara pengganti tidak dapat bicara

Eponim adalah semacam gaya bahasa yang mengandung nama seseorang yang begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat (Tarigan, 2013:130). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa eponim adalah ungkapan yang menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata. Berikut beberapa contoh eponim.

Hercules menyatakan kekuatan Vera menyatakan kebenaran Dewi Sri menyatakan kesuburan f. Epitet

Epitet adalah gaya bahasa yang mengandung acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khas dari seseorang atau suatu hal (Tarigan, 2013:131). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa epitet adalah ungkapan yang mengandung ciri atau sifat tertentu yang mewakili suatu hal. Berikut adalah contoh epitet.

Putri malam menyambut kedatangan remaja yang sedang dimabuk asmara. (puri malam = bulan)

g. Antonomasia

Antonomasia adalah gaya bahasa yang merupakan penggunaan gelar resmi atau jabatan sebagai pengganti nama diri (Tarigan, 2013:131). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa antonomasia adalah ungkapan yang digunakan untuk menyebut suatu objek bukan dengan nama aslinya melainkan dengan gelar atau jabatan sebagai pengganti nama asli. Berikut adalah beberapa contoh antonomasia.

Rakyat mengharapkan agar Yang Mulia dapat menghadiri upacara itu. Pangeran menandatangani surat penghargaan itu.

Pendeta mengukuhkan perkawinan anak kami di Gereja Bethel. h. Erotesis

Erotesis adalah sejenis gaya bahasa yang berupa pertanyaan yang digunakan dalam tulisan atau pidato untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar dan sama sekali tidak menuntut suatu jawaban (Tarigan, 2013:134). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa erotesis adalah ungkapan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban dengan tujuan memberikan penekanan yang wajar. Berikut adalah beberapa contoh erotesis.

Apakah sudah wajar bila kesalahan atau kegagalan itu ditimpakan seluruhnya kepada para guru?

Para gurukah yang menanggung akibat semua kegagalan dan kemerosotan pendidikan?

i. Paralelisme

Paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frase-frase yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama (Tarigan, 2013:136). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa paralelisme adalah pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar. Berikut contoh paralelisme.

Segala kulihat segala membayang. Segala kupegang segala mengenang. j. Elipsis

Elipsis adalah majas yang di dalamnya terdapat penghilangan kata atau bagian kalimat (Ngatiyem, 2017:36). Hal ini senada dengan pendapat Tarigan yang

mengungkapkan bahwa elipsis adalah gaya bahasa yang di dalamnya dilaksanakan penanggalan atau penghilangan kata atau kata-kata yang memenuhi bentuk kalimat berdasarkan tata bahasa (Tarigan, 2013:138). Berpijak pada kedua pendapat tersebut secara sederhana dapat disimpulkan bahwa elipsis adalah penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat dalam suatu susunan kalimat. Berikut contoh elipsis.

Mereka ke Jakarta minggu lalu. (penghilangan predikat: pergi atau berangkat) Pulang membawa barang dan perabot berharga. (penghilangan subjek: saya, dia, kami, dan lain-lain).

k. Gradasi

Gradasi adalah gaya bahasa yang mengandung suatu rangkaian atau urutan kata atau istilah secara sintaksis bersamaan yang mempunyai satu atau beberapa ciri-ciri semantik umum dan ada diantaranya paling sedikit atu ciri ulang-ulang dengan perubahan-perubahan bersifat kuantitatif (Tarigan, 2013:140). Berpijak pada pendapat pakar tersebut secara sederhana dapat disimpulkan bahwa gradasi adalah ungkapan yang memiliki rangkaian atau urutan sedikitnya tiga kata atau istilah yang secara sintaksis kata atau istilah tersebut memiliki satu ciri semantik atau lebih. Berikut contoh gradasi.

Kami berjuang dengan tekad; tekad harus maju; maju dalam kehidupan; kehidupan yang layak dan baik; baik secara jasmani dan rohani; jasmani yang diridoi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih.

Asindeton adalah semacam gaya bahasa yang berupa acuan padat dan mampat dimana beberapa kata, frase, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung (Tarigan, 2013:142). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa asindeton pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa pemakaian kata penghubung. Berikut beberapa contoh asindeton.

Ayah, ibu, anak, merupakan satu keluarga.

Hasil utama Tanah Karo adalah jeruk, nanas, kentang, jagung, padi. m. Polisindeton

Polisindeton adalah kebalikan dari asindeton (Tarigan, 2013:143-144). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa polisindeton pengungkapan suatu kalimat atau wacana yang dihubungkan dengan kata penghubung. Berikut beberapa contoh polisindeton.

Polisi menangkap Pak Ogah beserta istrinya beserta anak-anaknya beserta pembantunya dan membawanya ke penjara.

Dia itu orang kaya tetapi kikir tetapi sombong tetapi pelit. 3. Majas Pertentangan

Majas pertentangan adalah sesuatu yang memiliki makna bertentangan dengan makna sesungguhnya. Berpijak pada pendapat pakar tersebut secara sederhana dapat disimpulkan bahwa majas pertentangan adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan cara mempertentangkan suatu hal dengan hal lainnya (Tarigan, 2013:55). Lebih lanjut, Tarigan memaparkan bahwa majas pertentangan memiliki dua puluh gaya bahasa, yaitu: hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, paronomasia, paralipsis, zeugma (silepsis), satire, inuendo, antifrasis, paradoks, klimaks,

antiklimaks, apostrof, anastrof, apofasis, histeron proteron, hipalase, sinisme, dan sarkasme. Berikut adalah masing-masing uraian dan pembahasannya.

a. Hiperbola

Majas hiperbola adalah majas yang mengandung pernyataan yang berlebihan dengan maksud memperhebat kesan dan pengaruhnya (Ngatiyem, 2017:34). Tarigan (2013:55) menjelaskan bahwa hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan berlebihan jumlahnya, ukurannya, sifatnya dengan maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya. Gaya bahasa melibatkan kata-kata, frase, atau kalimat. Berpijak pada kedua pendapat pakar tersebut secara sederhana dapat disimpulkan bahwa hiperbola adalah majas yang menyatakan sesuatu secara berlebihan guna memberikan kesan atau penekanan tertentu. Berikut adalah contoh hiperbola.

Ayah bekerja jungkir balik dari pagi hingga malam. b. Litotes

Majas litotes adalah majas yang ditujukan untuk mengurangi atau mengecilkan kenyataan sebenarnya dengan tujuan merendahkan diri (Ngatiyem, 2017:35). Sementara itu, Moeliono dalam Tarigan (2013:58-59) mengungkapkan bahwa litotes adalah ungkapan menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif atau bentuk yang bertentangan. Litotes mengurangi atau melemahkan kekuatan pernyataan sebenarnya. Berpijak pada kedua pendapat pakar tersebut secara sederhana dapat disimpulkan bahwa litotes adalah ungkapan yang

mengecilkan, mengurangi, dan melemahkan makna yang sebenarnya. Berikut adalah contoh litotes.

Hasil usahanya tidaklah mengecewakan. Dia cantik tetapi sombong.

c. Ironi

Majas ironi adalah adalah majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud untuk menyindir dan mengolok-olok (Ngatiyem, 2017:35). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa ironi adalah majas yang mengungkapkan suatu hal yang secara makna berlawanan atau bertentangan guna menyatakan sindiran atau olokan. Berikut adalah contoh ironi.

Bukan main rajinmu, sudah lima hari kamu bolos dalam dua minggu ini. Kota Jakarta sangat indah dengan sampah-sampahnya.

d. Oksimoron

Majas oksimoron adalah majas yang menyatakan sesuatu yang bertentangan antar bagiannya (Ngatiyem, 2017:25). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa oksimoron adalah ungkapan yang memiliki makna yang berlawanan atau bertentangan antar bagiannya. Berikut adalah contoh oksimoron.

Olahraga mendaki gunung memang menarik hati walaupun sangat berbahaya.

Bahan nuklir dapat dipakai untuk kesejahteraan umat manusia tetapi juga memusnakannya.

Ducrot & Tororov dalam Dewi (2019:24) berpendapat bahwa paronomasia adalah gaya bahasa yang berisi penjajaran kata-kata yang berbunyi sama tetapi bermakna lain. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa paronomasia adalah ungkapan yang berisi kata-kata yang secara bunyi sama tetapi memiliki arti dan makna yang berbeda. Berikut adalah contoh paronomasia.

Pohon paku di rumah kami tertancap beberapa paku. Tingkahnya menarik saat menarik mobil.

f. Paralipsis

Ducrot & Tororov dalam Dewi (2019:24) berpendapat bahwa paralipsis adalah gaya bahasa yang merupakan suatu formula yang digunakan sebagai sarana untuk menerangkan bahwa seseorang tidak mengatakan apa yang tersirat. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa paralipsis adalah sarana menerangkan apa yang tersirat dalam kalimat itu sendiri. Berikut adalah contoh paralipsis.

Semoga Yang Maha Kuasa menolak doa kita ini, (maaf) bukan, maksud saya mengabulkan.

Tidak ada orang yang menyenangi kamu, (maaf) yang saya maksud membenci kamu di desa ini.

g. Zeugma dan Silepsis

Ducrot & Tororov dalam (Dewi, 2019:24) memaparkan zeugma dan silepsis adalah gaya bahasa yang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan cara menghubungkan sebuah kata dengan dua atau lebih kata lain yang pada hakikatnya hanya sebuah saja yang mempunyai hubungan dengan kata yang pertama. Walaupun begitu, terdapat perbedaan antara zeugma dan silepsis. Dalam zeugma

terdapat gabungan gramatikal dua buah kata yang mengandung ciri-ciri semantik yang bertentangan. Dengan kata lain dapat dirumuskan bahwa dalam zeugma kata yang dipakai untuk membawahi kedua kata berikutnya, sebenarnya hanya cocok untuk salah satu dari padanya, baik secara logis maupun secara gramatikal. Berikut ini merupakan contoh zeugma.

Anak itu memang rajin dan malas di sekolah. Nenek saya peramah dan pemarah.

Gorys Keras dalam Tarigan (2013:68-69) mengungkapkan bahwa dalam silepsis, kontruksi yang digunakan itu secara gramatikal benar, tetapi secara semantik salah. Berikut ini merupakan contoh silepsis.

Wanita itu kehilangan harta dan kehormatannnya. Kakanya menerima uang dan penghargaan.

Berdasarkan uraian dan pendapat pakar di atas dapat disimpulkan bahwa zeugma adalah silepsis dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk kontruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu. Sementara silepsis adalah penggunaan kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.

h. Satire

Tarigan (2013:70) mengungkapkan bahwa satire merupakan sejenis argumen yang beraksi secara tidak langsung, terkadang secara aneh bahkan ada kalanya dengan cara yang cukup lucu yang menimbulkan tertawaan. Pada umumnya, orang mengenal satire sebagai suatu bentuk serangan, orang mengharapkan satire menertawakan ketololan orang lain, masyarakat, praktik-praktik

kebiasaan-kebiasaan serta lembaga adat. Berpijak pada pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa satire adalah bentuk ungkapan yang dibungkus dengan aneh dan lucu dengan tujuan menyerang dan menertawakan suatu hal.

Indonesia negeri yang kaya Bertumpuk-tumpuk hutangnya Emas minyak dijual

Tapi untungnya entah kemana i. Inuendo

Keraf dalam Tarigan (2013:74) berpendapat bahwa inuendo adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Gaya bahasa ini menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung, dan tampaknya tidak menyakitkan hati kalau ditinjau sekilas. Secara sederhana dapa disimpulkan bahwa inuendo adalah sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya. Berikut contoh inuendo.

Saya tidak pandai, hanya sedikit lebih bekerja keras dari yang lain saja. Abangku sedikit gemuk karena mengonsumsi daging berlemak dalam jumlah yang banyak.

j. Antifrasis

Tarigan (2013:76) memaparkan bahwa antifrasis adalah gaya bahasa yang berupa penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya. Perlu diingat benar-benar bahwa antifrasis akan dapat diketahui dan dipahami dengan jelas bila pembaca atau penyimak dihadapkan pada kenyataan bahwa yang dikatakan itu adalah kebalikannya. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa antifrasis adalah

ungkapan yang menggunakan sebuah kata dengan makna yang berlawanan atau bertentangan. Berikut adalah contoh antifrasis.

Hadirin harap berdiri, mahasiswa teladan memasuki ruangan. (dalam konteks atau situasi seorang mahasiswa terlambat memasuki ruangan). Ia menerima pujian dari masyarakat sekelilingnya. (dalam konteks atau situasi seorang pemimpin daerah yang korupsi).

k. Paradoks

Menurut Keraf dalam Tarigan (2013:77-78) paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa paradoks adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara berlawanan atau bertentangan. Berikut adalah contoh paradoks.

Aku kesepian di tengah keramaian. Dia besar tetapi nyalinya kecil. l. Klimaks

Shadily dalam Tarigan (2013:79) berpendapat bahwa kata klimaks berasal dari kata bahasa yunani klimax yang berarti tangga. Klimaks adalah sejenis gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang semakin lama semakin mengandung penekanan. Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya (Keraf dalam (Tarigan, 2013:79). Berpijak pada kedua pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa klimaks adalah pemaparan pikiran atau hal

secara berturut-turut dari yang sederhana sampai pada hal yang kompleks. Berikut contoh klimaks:

Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.

m. Antiklimaks

Tarigan (2013:81) mendefenisiskan antiklimaks adalah kebalikan dari gaya bahasa klimaks. Jika klimaks memaparkan pikiran dari hal yang sederhana sampai pada hal yang kompleks maka antiklimaks sebaliknya yakni memaparkan pikiran dari hal yang kompleks sampai pada hal yang sederhana. Secara sederhana dapat