BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
B. Hasil Penelitian
Bangunan liar merupakan bangunan yang didirikan secara tidak sah atau ilegal, karena tidak memiliki izin membangun atau mendirikan di atas tanah yang bukan milik sendiri. Kondisi seperti ini diakibatkan Jumlah penduduk yang banyak setiap tahun sehingga berkurangnya lahan untuk tinggal yang mana
membuat masyarakat mendirikan bangunan bangunan tanpa izin dan tidak pada tempatnya.
Adapun maksud dari garis sempadan sungai sebagai upaya agar kegiatan perlindungan, pengembangan pemanfaatan dan pengendalian sumber daya air yang ada pada sungai serta penataan di pinggir sungai, perlindungan masyarakat dari daya rusak air, penataan lingkungan dan pengembangan potensi ekonomi agar dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuanya. Sedangkan tujuan penetapan garis sempadan yaitu:
1. agar fungsi sungai tidak terganggu oleh aktivitas yang berkembang disekitarnya
2. kegiatan pemanfaatan dan upaya peningkatan nilai manfaat sumber daya yang ada di sungai dapat memberikan hasil secara optimal sekaligus menjaga kelestarian fungsi sungai
3. Daya rusak air sungai terhadap lingkunganya dapat dibatasi dan dikendalikan
4. Pembangunan atau bangunan di pinggir sungai wajib memperhatikan kaidah/norma ketertiban, keamanan, keserasian, kebersihan, dan keindahan daerah sempadan sungai.
Pemerintah Toraja Utara dalam menanggulangi fenomena banyaknya bangunan yang berdiri di sepanjang garis sempadan sungai telah mengeluarkan kebijakan dengan membuat Peraturan Daerah no.6 tahun 2018 yang berisikan perangkat aturan baru terkait jarak pendirian bangunan dengan garis sempadan jalan dan garis sempadan sungai. Pemerintah Toraja Utara dalam rangka
mengimplementasikan Perda tersebut melakukan kerja sama dengan pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat , dimana pemerintaah Toraja Utara memberikan tanggung jawab penuh kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk melakukan sosialisasi terkait Perda no.6 tahun 2018 ke masyarakat terkhusus masyarakat yang mendirikan bangunan di sepanjang garis sempadan sungai.
Kemudian penulis melakukan wawancara mengenai dasar pembentukan perda nomor 6 tahun 2018 dengan WB Kasubag Program dan Anggaran pada Dinas Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat mengtakan bahwa:
“pembentuk perda no.6 tahun 2018 oleh pemda torut karena melihat banyaknya bangunan yang berdiri di sepanjang garis sempadan sungai kecamatan Rantepao yang memberikan dampak buruk untuk lingkungan , adanya bangunan liar tersebut akan mengurangi nilai ekstetika kota, sedangkan kita ketahui Toraja Utara merupakan daerah wisata yang banyak di kunjungi para wisatawan dalam negeri maupun luar negeri,”
Berdasarkan hasil dari pernyataan diatas maka dapat dipahami bahwa Perda no.6 tahun 2018 yang berisikan seperangkat aturan baru terkait jarak pendirian bangunan dengan garis sempadan jalan dan sempadan sungai, telah di sosialisasikan ke masyarakat pada tanggal 26 maret 2019, dimana Dinas Pekerjaan Umun dan Perumahan Rakyat menjelaskan ke masyarakat mengenai segala aturan dan sanksi tegas yang akan di berikan jika tidak mentaati Perda tersebut. Ini merupakan tindakan tegas dari pemerintah toraja utara untuk menangani fenomena banyaknya bangunan liar yang berdiri di sepanjang garis sempadan sungai, serta untuk melestarikan keberlangsungan fungsi sungai secara berkelanjutan.
Tabel 4.3
Daftar Bangunan Liar Kecamatan Rantepao
NO NAMA KECAMATAN JUMLAH BANGUNAN LIAR 1 Tallunglipu 23 2 Rantepao 34 3 Tikala 29 4 Bua Tallulolo’ 14
(Sumber: Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Toraja Utara 2019)
Berdasarkan data yang saya dapat pada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dapat dilihat bahwa jumlah bangunan liar yang berada di kecamatan Rantepao sebanyak 34 bangunan. Adapun kriteria bangunan liar yaitu tidak memiliki IMB, bangunan yang telah masuk pada wilayah sempadan sungai yang mana wilayah sempadan sungai telah ditetapkan pada perda no 6 tahun 2018 sebagai wilayah yang tidak diperbolehkan berdirinya bangunan dan juga dianggap dari pihak Dinas pekerjaan umum dan perumahan rakyat konstruksinya lemah sehingga rawan ambruk atau roboh. Apabila sebuah bangunan memenuhi kriteria tersebut maka banguna tersebut dikatakan banguna liar, meskipun demikian ada beberapa bangunan di sepanjang garis sempadan sungai yang memiliki IMB yang telah berdiri sebelum Perda nomor 6 tahun 2018 dikeluarkan, akan tetapi
dikatakan bangunan liar sebab lokasi pendirian bangunan tersebut berada di sepanjang garis sempadan sungai. Akan tetapi pada proses penertibanya antara bangunan berIMB dan tidak berIMB sekidit berbeda, dimana bangunan yang berIMB yang telah berdiri sebelum dikeluarkanya Perda nomor 6 tahun 2018 diberikan keringanan atau masa tangguhan pembongkaran selama 5 tahun sebelum pembongkaran, sedangkan bangunan yang tidak memiliki izin mendirikan bangunan akan dilakukan pembongkaran sesuai prosedur yang telah ditetapkan dari pemerintah Daerah.
Untuk mengetahui bagaimana pengawasan pemerintahan terhadap bangunan liar sepanjang garis sempadan sungai, peneliti menggunakan dua teori pengawasan yang dikemukana oleh Siagian (2008) yaitu pengawasan langsung dan pengawasan tidak langsung. Pengumpulan data yang diperlukan dalam menjawab permasalahan secara mendalam beberapa tahapan yang dilakukan penulis diantaranya:
Pertama, penelitian diawali dengan pengumpulan data serta gambar dan berbagai hal yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dijawab. Kedua, penulis melakukan wawancara dengan 7 orang informan penelitian yang terdiri dari kasubag program anggaran Dinas PUPR, kabid pengawasan dan pengendalian bangunan Dinas PUPR , dan Pemilik bangunan yang berada di bantaran sungai.
1. Pengawasan Langsung
a. Inspeksi langsung yang di lakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Toraja Utara yakni melaksanakan pengawasan terhadap
masyarakat yang mendirikan bangunan di sepanjang garis sempadan sungai kecamatan Rantepao dengan melakukan pemeriksaan secara langsung di sepanjang garis sempadan sungai, diantaranya melakukan pengukuran area yang di tertibkan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Berdasarkan hasil pengawasan langsung melalui inspeksi langsung di sekitar garis sempadan sungai, terdapat bangunan yang berdiri tepat diatas garis sempadan sungai dan menimbulkan berbagai masalah maka dalam hal ini pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan melakukan pengukuran tersebut dilakukan sesuai dengan prosedur penertiban yang tertera pada Perda no.6 tahun 2018.
Kemudian penulis melakukan wawancara mengenai pengawasan awal yang dilakukan pihak dinas PUPR dengan Kasubag Program dan Anggaran pada Dinas Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat mengatakan bahwa:
“peninjauan awal dilakukan dengan pengukuran jarak bangunan dengan garis sempadan sungai, serta pemaparan kembali ke masyarakat mengenai ketentuan-ketentuan yang di atur pada Perda nomor 6 tahun 2018.”
Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa Dinas pekerjaan umum dan perumahan rakyat telah melakukan sosialisasi awal ke masyarakat dan melakukan pengawasan awal inspeksi langsung dengan melakukan pengukuran jarak antara garis sempadan sungai dengan jarak bangunan masyarakat di sepanjang garis sempadan sungai di kecamatan Rantepao.
Dalam penerapan Peraturan Daerah nomor 6 tahun 2018 tentang seperangkat aturan baru terkait jarak pendirian bangunan dengan garis sempadan sungai dan sempadan jalan tidak terlepas dari penolakan yang di lakukan oleh
masyarakat sehingga pihak Dinas PUPR memperlihankan kembali aturan dan sanksi yang berlaku jika tidak mengikuti kebijakan tersebut.
Menurut salah seorang masyarakat yang bernama RT yang mengemukakan pendapat pada saat peneliti melakukan wawancara mengenai Sosialisasi awal:
“sosialisasi awal yang dilakukan pihak dinas pupr menimbulka kontra, masyarakat merasa kebijakan tersebut kurang tepat dan cenderung merugikan sebab dengan dialihkannya area yang tidak di perbolehkan untuk membangun tempat tinggal serta berjualan yang berdampak pada pendapatan mereka yang menurun karena adanya penertiban tersebut, tapi dengan penjelasan yang jelas dari pihak dinas pupr masyarakat bisa menerima kebijakan tersebut demi kebaikan kita semua”
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa dalam proses pelaksanaan penertiban bangunan liar terjadi pro dan kontra dari masyarakat, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dari masyarakat akan tetapi dengan adanya sosialisasi dari pihak Dinas PUPR masyarakat mengerti dan dapat menerima dengan adanya penertiban bangunan liar.
Selain itu Y salah satu masyarakat yang memiliki bangunan yang memiliki surat IMB di sepanjang garis sempadan sungai mengatakan bahwa:
“kebijakan pemerintah mengenai penertiban bangunan sebenarnya memiliki sisi baik dan sisi buruk, sisi baik kebijakan ini akan tercipta lingkungan dan perkotaan yang bersih, indah dan sejuk, sisi buruknya masyarakat akan kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, bagi masyarakat dengan surat IMB mendapat kebijakan kurun waktu 5 tahun sebelum bangunan dirobohkan, berbeda dengan masyarakat yang tidak memilki surat IMB yang tidak mendapatkan kebijakan khusus”
Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa sebenarnya masyarakat juga menyadari bahwa kebijakan tersebut dibuat demi kepentingan dan kebaikan bersama, hanya saja yang mereka keluhkan yaitu mencari tempat
mereka nantinya untuk tinggal dan memulai kembali usaha bagi mereka yang tidak memiliki surat IMB.
Pendapat yang serupa juga dikatakan oleh AR selaku Kabid. Pengawasan dan Pengendalian Bangunan mengatakan bahwa:
“bangunan dengan IMB yang berdiri di sepanjang garis sempadan sungai mendapat kebijakan khusus yakni pemberian kurun waktu 5 tahun untuk membongkar bangunan tersebut, berbedaa dengan bangunan tanpa IMB yang harus segera merobohkan bangunan ”.
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat dipahami bahwa tidak ada ganti rugi terhadap bangunan yang tidak memiliki surat IMB yang berdiri di sepanjang garis sempadan sungai, sedangkan untuk bangunan yang memiliki IMB di berikan kebijakan khusus yakni pemberian kurun waktu pembongkaran bangunan selama 5 tahun.
Pemberian kebijakan tersebut merupakan bukti sanksi tegas yang diberikan pemerintah daerah bagi masyarakat yang membangun bukan pada lokasi yang ditujukan untuk mendirikan bangunan. Penetapan garis sempadan sungai dimaksudkan sebagai upaya agar kegiatan perlindungan, pengembangan pemanfaatan dan pengendalian sumber daya air yang ada pada sungai dan penataan di pinggir sungai serta pemanfaatan lahan di daerah sempadan sungai dapat dilakukan untuk kegiatan seperti pemasangan jaringan kabel dan jaringan perpipaan baik atas maupun bawah tanah serta pemasangan reklame dan papan peringatan.
Tabel 4.4
Jarak Garis Sempadan Sungai
Penetapan garis sempadan sungai dimaksudkan sebagai upaya kegiatan perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pengendalian sumber daya air yang ada di sungai serta penataaan di pinggir sungai, garis sempadan sungai NO
Jenis Sungai
Letak Sungai
Garis Sempadan Sungai Sungai
Bertanggul
Sungai Tidak Bertanggul
1 Sungai Besar (Luas DAS > 500 km2 Dalam Kawasan Perkotaan 5 Meter
10 Meter Kedalaman ≤ 5 Meter 15 Meter Kedalaman 5 Meter -20 Meter 30 Meter Kedalaman > 200
Meter Luar Kawasan Perkotaan 3 Meter 100 Meter 2 Sungai Kecil (Luas DAS ≤ 500 km2 Dalam Kawasan Perkotaan 5Meter
10 Meter Kedalaman ≤ 5 Meter 15 Meter Kedalaman 5 Meter -20 Meter 30 Meter Kedalaman > 20
Meter Luas Kawasan Perkotaan 3Meter 50 Meter
bertanggul dalam kawasan perkotaan ditentukan berjarak 5 meter dari tepi luar kaki tanggul sepanjang alur sungai.
b. On The Spot Observation, pengawasan langsung dengan On The Spot
Observation yang di lakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat, badanya bangunan liar yang ada di sepanjang garis sempadan sungai kecamatan Rantepao menimbulkan kemacetan di sepanjang jalan tersebut, lingkungan jalan terlihat kumuh dan kotor, dapat menyebabkan banjir atau erosi, menyebabkan pencemaran sungai dan merusak fungsi sungai, hal ini tentunya menjadi salah satu perhatian yang harus di tertibkan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di sepanjang garis sempadan sungai kecamatan Rantepao. Pemilik bangunan di sepanjang garis sempadan sungai di kecamatan Rantepao, ternyata tidak semua yang benar-benar memelihara tempat tinggal dan tempat berjualan, banyak dari masyarakat pemilik bangunan yang membuang sampahnya langsung ke sungai dan membuat tempat penampungan sampah di sudut jalan yang secara otomatis lingkungan tersebut menjadi kumuh dan kotor.
Kemudian penulis melakukan wawancara mengenai sejauh mana proses pengawasan bangunan liar dengan AR selaku Kabid. Pengawasan dan Pengendalian Bangunan pada Dinas Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat mengatakan bahwa:
“proses pengawasan sampai saat ini masih berjalan, dengan penindakan tegas bagi masyarakat yang tidak menaati Perda no 6 tahun 2018. Sanksi tegas yang diberikan bagi masyarakat yang masih nekat mempertahankan bangunan mereka yaitu akan dilakukan perobohan paksa bangunan terkecuali bagi mereka yang memiliki surat izin mendirikan bangunan”.
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa pihak Dinas pekerjaan umum dan perumahan rakyat sampai saat ini masih melakukan pengawasan di sepanjang garis sempadan sungai, dan memberikan sanksi yang tegas bagi masyarakat yang tidak mengindahkan setiap peringatan yang diberikan.
Bangunan di sepanjang garis sempadan sungai di kecamatan Rantepao dapat menimbulkan kemacetan sebab mengingat sempitnya area jalan yang di penuhi bangunan tempat tinggal warga maupun usaha para warga sekitar yang memanfaatkan keramaian jalan untuk mencari penghasilan, sebagian badan jalan juga dijadikan lahan parkir kendaraan, sehingga badan jalan umum menjadi sempit dan menimbulkan kemacetan. Dampak lain yang ditimbulkan yaitu pencemaran sungai karena sampah dan pencemaran karena limbah dari masyarakat sekitar.
Dalam wawancara mengenai penertiban yang dilakukan peneliti dengan WB kasubag Program dan Anggaran pada Dinas Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat mengatakan bahwa:
“penertiban tersebut dilakukan dengan mengacu pada peraturan Bupati Toraja Utara, ini merupakan bentuk kesadaran dan salah satu upaya pemerintah untuk memajukan pembangunan di Toraja Utara khususnya pada upaya pengembangan pariwisata, dengan melakukan penataan ruang untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan, kebersihan dan keamanan masyarakat setempat dan para wisatawan”.
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat dipahami bahwa kebijkan yang dikeluarkan oleh Pemerintah daerah yang dituangankan dalam Perda nomor 6 tahun 2018 merupaka bentuk kesadaran dan salah satu upaya pemerintah untuk memajukan pembangunan di Toraja Utara.
Selain dari permasalahan kemacetan yang ditimbulkan dari bangunan yang berdiri di sepanjang garis sempadan sungai di kecamatan Rantepao, tumpukan sampah, penyebab banjir atau erosi, menyebabkan pencemaran sungai dan merusak fungsi sungai merupakan dampak nyata yang timbul dari fenomena ini . Semestinya pemandangan seperti ini tidak terjadi di daerah tengah-tengah kota Toraja Utara, bangunan seperti warung kopi, toko, rumah makan, salon, serta bangunan yang memadati area jalan, maka dengan adanya bangunan liar ini timbul berbagai masalah yang membuat jalan menjadi sangat tidak nyaman. Maka dari itu Pemerintah Toraja Utara melalu Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat benar-benar melarang kehadiran bangunan liar di sepanjang garis sempadan sungai kecamatan Rantepao.
c. On The Spot Report, pengawasan melalui On The Spot Report sudah dilaksanakan, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyampaikan pesan (laporan) kepada masyarakat dalam bentuk sosialisasi bahwa akan di lakukan penertibkan bangunan liar yang berada di sepanjang garis sempadan sungai kecamatan Rantepao yang melanggar Peraturan Daerah No.6 Tahun 2018.
Kemudian penulis kembali melakukan wawancara mengenai mulai kapan sosialisasi perda nomor 6 dilaksankan dengan AR selaku Kabid Pengawasan dan Pengendalian Bangunan pada Dinas Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat mengtakan bahwa:
“sosialisasi mengenai Perda nomor 6 tahun 2018 telah terlaksana pada tanggal 26 maret 2019 tepat pada satu tahun di keluarkanya perda tersebut, dimana pihak dinas pupr memaparkan secara jelas ke masyarakat mengenai
segala aturan dan sanksi tegas yang akan di berikan jika tidak mentaati Perda tersebut”
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa pihak dari Dinas pekerjaan umum dan perumahan rakyat telah melaksanakan sosialisasi mengenai Perda nomor 6 tahun 2018 dimana pihak Dinas pupr telah memaparkan secara jelas mengenai segala aturan dan sanksi tegas yang telah di atur di dalam perda tersebut.
Di dalam pelaksanaan penegakan Perda No 6 tahun 2018, pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan sosialisasi sebanyak 3 kali kepada masyarakat, dan di bantu oleh pihak dari Kecamatan serta Kelurahan Rantepao. Tempat sosialisasi ini di tempatkan di kantor kecamatan Rantepao dan juga di lakukan sosialisasi dengan mendatangi langsung setiap bangunan-bangunan yang ada di sepanjang sungai untuk memastikan bahwa setiap warga mendapatkan informasi yang jelas terkait dengan penertiban yang akan di lakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Menurut salah seorang masyarakat yang bernama AR yang mengemukakan pendapat pada saat peneliti melakukan wawancara:
“Pihak dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada saat sosialisasi Perda no.6 tahun 2018 dalam rangka memberikan informasi mengenai segala aturan dan sanksi cukup baik, sampai saat ini hampir semua bangunan yang tidak memiliki surat izin mendirikan bangunan telah di robohkan baik itu dirobohkan sendiri oleh pemilik bangunan maupun yang dirobohkan oleh pihak dinas”.
Dari hasil wawancara diatas dapat di simpulkan bahwa pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah melakukan tugas secara optimal,
sehingga masyarakat juga sudah memahami segala aturan dan sansksi yang akan berlaku jika mereka tidak mengikuti aturan pemerintah tersebut.
EP salah satu masyarakat yang memiliki bangunan di sepanjang garis sempadang sungai juga menambahkan:
“terkait sosialisasi dan penyampaian akan dilakukan penertiban kami telah mengetahui sebulan sebelum dilakukanya penertiban, sehingga sebagian dari masyarakat telah merobohkan bangunan, adapun yang menunggu bantuan penertiban”.
Sosialisasi ini berlangsung 2 sampai 3 kali sudah lakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat kecamtan Rantepao, hal ini sudah cukup optimal sehingga informasi terkait akan dilakukanya penertiban tersebut dapat dipahami oleh masyarakat, sehingga kurang meratanya informasi ke masyarakat dapat di minimalisir.
2. Pengawasan Tidak Langsung Tertulis
Kasus bangunan liar yang ada di sepanjang garis sempadan sungai, pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sudah memberikan informasi langsung kepada masyarakat mengenai penertiban yang akan di lakukan. Proses pemberitahuan tertulis dalam bentuk surat yaitu surat Panggilan dan Peringatan, yang akan di berikan kepada masyarakat yang memiliki bangunan di sepanjang garis sempadan sungai di kecamatan Rantepao. Surat tersebut yang di buat secara tertulis sesuai dengan prosedur penertiban yang di lakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat berkoordinasi dengan pihak kecamatan, kelurahan serta RT setempat.
Dalam wawancara mengenai surat pemberitahuan penertiban yang dilakukan peneliti dengan WB Kasubag Program dan Anggaran pada Dinas Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat mengtakan bahwa:
“terkait penertiban yang akan dilakukan, sebulan sebelumnya pihak dinas pupr telah menginformasikan dalam bentuk surat pemberitahuan ke masyarakat, pihak kami telah memaparkan isi dari Perda tersebut, melakukan komunikasi langsung dengan pemilik bangunan agar membongkar sendiri bangunanya, hingga akan dilakukan penindakan (pembongkaran) jika tidak mematuhi perda tersebut setelah pemberian surat peringatan”.
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat dipahami bahwa pemberian informasi mengenai penertiban bangunan telah dilaksanakan oleh Dinas pekerjaan umum dan perumahan rakyat, dimana pemberian surat informasi ke masyarakat mengenai akan dilakukanya penertiban telah dilakukan 1 bulan sebelum pelaksanaan penertiban tersebut.
Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat memberikan surat pemberitahuan kepada masyarakat di sepanjang garis sempadan sungai sebagai alat bukti resmi secara tertulis di lakukan penertiban bangunan. Surat yang di berikan Dinas PUPR ini di berikan secara langsung, mendatangi satu persatu warga sekaligus menjelaskan kembali maksud dan tujuan dari Dinas PUPR menertibkan bangunan liar tersebut. Surat pemberitahuan di berikan jauh sebelum penertiban di lakukan yakni 1 bulan sebelumnya. Hal ini di lakukan agar masyarakat tidak terkejut mendengar Pemerintah kota yang berkoordinasi dengan Dinas yang terkait melakukan penertiban bangunan liar. Surat pemberitahuan ini terdiri dari satu kali surat panggilan, satu kali surat peringatan.
Berkaitan dengan informasi penertiban bangunan, IM selaku pemilik bangunan yang peneliti wawancarai mengatakan:
“pemberian informasi dari Dinas PUPR sendiri telah dilakukan kurang lebih sebulan yang lalu, sehingga sudah sebagian masyarakat yang telah merobohkan bangunan tempat tinggal maupun tempat usaha mereka , kecuali masyarakat yang memiliki surat IMB yang mendapat kebijakan waktu berbenah selama 5 tahun”.
Sementara masyarakat mencoba menerima penjelasan yang di sampaikan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, karena masyarakat sendiri tidak mempunyai bukti yang jelas atas kepemilikan lahan yang di huni karena lahan tersebut merupakan aset pemerintah kota Toraja Utara.
Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah memberikan sanksi yang tegas kepada masyarakat yang tetap mendirikan bangunan dan lahan usaha di sepanjang garis sempadan sungai. Sanksi yang di berikan ke masyarakat yang mendirikan bangunan dan terbukti melanggar aturan serta tidak mengindahkan beberapa kali teguran maka akan dilakukan pembongkaran secara paksa.
Berkaitan saksi yang di berikan kepada masyarakat yang terbukti melanggar, AR selaku Kabid. Pengawasan dan Pengendalian Bangunan pada Dinas Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat mengatakan bahwa:
“pihak kami menindaki tegas masyarakat yang tidak mengindahkan setiap peringatakan yang di berikan oleh petugas, pemberitahuan ini terdiri dari satu kali surat panggilan dan satu kali surat peringatan. dan terakhir akan dilakukan pembongkaran secara paksa”.
Berdasarkan wawancara tersebut dalam penertibanya jika masyarakat tidak dapat bekerjasama dengan baik maka akan mendapatkan sanksi yang tegas dari Dinas PUPR, hal ini tidak lain bertujuan untuk terlaksananya Perda No. 6 tahun 2018 tentang garis sempadan sungai dan garis sempadan jalan.
Menurut WB Kasubag Program dan Anggaran pada Dinas Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat pada saat ditanya mengenai sanksi tegas mengatakan