• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Hasil Penelitian

Pada Bab Hasil akan diuraikan hasil temuan di lapangan yang didapatkan dengan tekhnik pengamatan langsung maupun tidak langsung dan kata – kata hasil wawancara dengan key person maupun informan juga data – data sekunder dari arsip – arsip yang ada di Puskesmas. Hasil temuan akan diuraikan sesuai dengan fokus penelitian sebagai berikut.

Adapaun data yang peneliti peroleh dari Puskesmas mengenai Laporan Pemeriksaan Jentik Berkala yang dilakukan oleh Jumantik adalah sebagai berikut.

Tabel 4.24

Laporan Pemeriksaan Jentik Berkala Puskesmas Taman Periode : Januari – Juni 2010

NO NAMA DESA JUMLAH RUMAH ATAU BANGUNAN

YANG ADA YANG DIPERIKSA POSITIF JENTIK

1 TAMAN 1.558 284 42 2 KEDUNGTURI 2.790 308 41 3 KETEGAN 1.365 265 34 4 SEPANJANG 2.773 300 28 5 WONOCOLO 1.480 300 54 6 BEBEKAN 1.500 270 57 7 NGELOM 1.082 300 31 8 KALIJATEN 1.940 307 54 9 KLETEK 2.029 365 58 10 GELURAN 3.750 258 5 11 JEMUNDO 1.584 300 44 12 SADANG 900 182 20 13 TAWANGSARI 2.132 181 17 14 BOHAR 1.094 185 21 15 WAGE 4599 388 49 JUMLAH 30.576 4.193 555

Berdasarkan data Tabel Laporan Pemeriksaan Jentik Berkala Puskesmas Taman dapat dilihat bahwa kader Jumantik belum melakukan pemeriksaan secara total, yaitu mereka hanya memeriksa rata – rata 20 – 30 % dari jumlah keseluruhan rumah atau bangunan yang ada.

Peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana partisipasi masyarakat di Kecamatan Taman pada pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Taman Sidoarjo, dan hasil yang di dapat adalah sebagai berikut.

1. Partisipasi Masyarakat berupa Partisipasi Tenaga

Fokus pertama dalam penelitian ini adalah wujud partisipasi tenaga masyarakat dalam pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Taman Sidoarjo.

Berdasar pada hal di atas, peneliti melakukan pengumpulan data tentang fokus penelitian ini dengan wawancara pada informan yang dapat menunjukkan bagaimana wujud partisipasi tenaga masyarakat dalam pelasksanaan Program Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Taman Sidoarjo.

Hasil wawancara dengan Informan yaitu Ibu Fatimah selaku Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Kalijaten Kecamatan Taman Sidoarjo, menjawab pertanyaan peneliti sebagai berikut :

“Mereka sudah tau kok tentang Program Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah (DBD) itu, malahan mereka juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk merealisasikan 3M. Kami sendiri selama ini juga melaksanakan kerja bakti rutin 1

bulan sekali untuk menjaga kebersihan lingkungan kita”. (wawancara tanggal 7 Oktober 2010)

Senada dengan hal itu, Ibu Ratna Galih selaku informan, yang mana sebagai pegawai Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Kalijaten Kecamatan Taman Sidoarjo menjelaskan sebagai berikut :

“Iya mas, bahkan kita dari pihak Kelurahan juga sengaja ngadain lomba PSN DBD setiap hari libur nasional, bagi warga atau rumah yang paling sedikit jentiknya, maka dia berhak dapet doorprise. Lomba tersebut kita adain per-RT”. (wawancara tanggal 7 Oktober 2010)

Ibu Fatimah selaku Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Kalijaten Kecamatan Taman kembali memberikan penjelasannya sebagai berikut :

“Yang kayak gitu emang sengaja diadakan buat meningkatkan semangat masyarakat, soalnya kesehatan harganya emang mahal mas. Kerja bakti itupun sifatnya juga wajib diikuti”. (wawancara tanggal 7 Oktober 2010)

Kemudian Ibu Ratna Galih sebagai pegawai Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Kalijaten menambahkan :

“Intinya, untuk mengatasi wabah penyakit, kami udah berusaha seoptimal mungkin mas, pemeriksaan jentik berkala oleh Jumantik pun juga udah berjalan dengan baik dengan tempo waktu 1 bulan sekali”. (wawancara tanggal 7 Oktober 2010) Selanjutnya peneliti mengajukan beberapa pertanyaan mengenai Partisipasi Tenaga yang dilakukan masyarakat dalam pelasksanaan Program Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Taman Sidoarjo kepada masyarakat Kecamatan Taman khususnya masyarakat Kelurahan Kalijaten.

Hasil wawancara dengan Bapak Karno sebagai Informan, yaitu salah satu kader Jumantik, beliau memberikan penjelasan sebagai berikut :

“Kami sudah berjalan sebagaimana mestinya kok mas. Kami juga rajin memeriksa keadaan rumah – rumah warga, bahkan setiap bulannya kita selalu memberi laporan ABJ kepada Puskesmas”. (wawancara tanggal 7 Oktober 2010)

Gambar 5

Pemeriksaan Jentik Berkala oleh Jumantik

Peneliti melanjutkan wawancra dengan Bapak Lamidi selaku ketua RW 03 Kelurahan Kalijaten, beliau menjawab pertanyaan – pertanyaan dari peneliti sebagai berikut :

“Gini mas, pada dasarnya masyarakat itu sudah tau apa yang harus mereka lakukan untuk lingkungannya, karena kampung kami memang terkenal memiliki wabah – wabah penyakit berbahaya, bahkan selain DBD, penyakit Cikungunyah juga meresahkan kita, dan itu juga sudah terjadi selama bertahun – tahun. Banyak faktor sih yang menyebabkan ini terjadi, salah satunya karena kampung kita ini memang kampung sungai, alias kampung yang dikelilingi sungai”. (wawancara tanggal 8 Oktober 2010)

Hal itu juga di dukung oleh Bapak Inung sebagai Informan, selaku warga RT 07 RW 03 Kelurahan Kalijaten, yang juga merupakan

warga yang paling aktif menyuarakan pendapat warga dalam hal kebersihan sungai.

“Waduh kalo ngomong DBD, banyak yang harus saya ceritakan mas. Pertama, kondisi sungai disini yang memang sangat kotor, kedua sungai disini memang memiliki ketinggian paling rendah dibanding sungai lainnya dan Kalijaten kan Desa yang terletak di sebelah timur, jadi aliran – aliran dari sungai yang dari barat pasti kesini. Itupun kalo sungai dari desa lain ada yang membawa kotoran, akhirnya kita juga yang kena imbasnya, nah giliran terjadi banjir, kita yang disalahkan karena dikiranya kita mbuntu sungai, padahal mereka sendiri (masyarakat dari Desa lain yang aliran sungainya mengalir ke sungai Kelurahan Kalijaten) kalo diajak kerja bakti barengan nggak pernah mau, masak kita sendiri yang mbersihkan sungai segini panjangnya ?, kan nggak mungkin”. (wawancara tanggal 8 Oktober 2010) Hal tersebut juga ditambah dengan pernyataan dari Informan lainnya, yakni Mas Agung selaku warga RW 04 Kelurahan Kalijaten sebagai berikut :

“Kalo soal Program Pemberantasan DBD itu rata – rata orang disini sudah tau kok mas, bahkan kerja bakti secara rutin pun memang telah berjalan. Tapi kalo masalah ada doorprise buat rumah yang paling sedikit nyamuknya itu kok saya nggak pernah denger ya. Para kader pemeriksa jentik (Jumantik) itu kalo memeriksa jarang – jarang, palingan setiap 3 bulan sekali. Itupun disini kalo ada banyak penderita baru disemprot (fogging)”. (wawancara tanggal 8 Oktober 2010)

Gambar 6

Kerja bakti rutin warga di Kecamatan Taman

Sependapat dengan Mas Agung, Bapak Mispan sebagai warga RW 02 yang juga pemilik toko dan rental PS (Play Station) mempersilahkan peneliti duduk di teras toko milik beliau. Beliau memberikan pendapatnya:

“Oo tau mas, saya dan keluarga tau kok soal 3M, kami taunya dari TV. Itupun kami juga berusaha menjalankannya semaksimal mungkin. Walaupun sebenarnya sebersih – bersihnya rumah kita tapi kalau keadaan sungai seperti itu ya percuma juga mas. Tapi ndak apa – apa lah yang penting kita sudah berusaha”. (wawancara tanggal 8 Oktober 2010)

Setelah itu peneliti mengamati keadaan sungai di depan toko Bapak Mispan. Dan ternyata sungai yang selama ini dieluh – eluhkan oleh warga sekitar keadaannya memang merisaukan karena adanya sampah – sampah berserakan, warna air sungai juga sangatlah kotor yang kemungkinan besar diakibatkan oleh pembuangan limbah pabrik – pabrik yang terletak di Desa – Desa sebelah barat.

Dari hasil penemuan tentang fokus pertama, dapat dinyatakan bahwa kebanyakan masyarakat memang telah berpartisipasi dalam

pelaksaan Program Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Taman (khusunya PSN DBD), yang berupa kerja bakti rutin 1 bulan sekali untuk membersihkan lingkungan, mereka rata – rata juga peduli terhadap kebersihan rumah serta menjalankan 3M dengan baik. Namun dikarenakan faktor geografis, yaitu Kelurahan Kalijaten adalah Kelurahan yang dilewati oleh sungai. Hampir semua sungai yang dari arah barat mengalir ke sungai Kelurahan Kallijaten yang mana Kelurahan Kalijaten adalah Kelurahan yang terletak di sebelah timur, sehingga jika sungai – sungai yang dari barat membawa kotoran maka Kelurahan Kalijaten terkena imbasnya, sehingga bila musim hujan tiba, risiko terjadi banjir sangatlah besar karena aliran sungai terganggu dan hal tersebut juga sangatlah mudah membawa wabah – wabah penyakit.

Selain itu kinerja para Jumantik juga perlu dipertanyakan, karena baik dari pihak Puskesmas Taman maupun Kantor Kelurahan Kalijaten menyatakan bahwa mereka telah melaksankan tugas sebagaimana mestinya, tetapi masyarakat sendiri mengetahui bentuk 3M itu sendiri dari iklan televisi, dan tidak merasa diberi informasi oleh Jumantik.

Jumantik sendiri yang memberikan keterangan bahwa setiap bulannya (sehinga sesuai dengan tugas) mereka tidak pernah telat dalam memberikan pelaporan tentang ABJ, ternyata menurut masyarakat mereka jarang sekali memeriksa rumah – rumah, kurang lebih hanya 3 bulan sekali.

Adapun hal lain yang perlu diperhatikan disini adalah seperti halnya yang muncul dalam fokus penelitian, yaitu tugas – tugas yang dilakukan oleh Jumantik sebagai masyarakat khusus dan Puskesmas tetap membutuhkan bantuan atau partisipasi masyarakat dalam pelaksanaannya, antara lain adalah :

1. Puskesmas a. Larvasidasi

Hal ini dikarenakan Puskesmas tidak akan menaburkan bubuk larvasida ke dalam TPA (Tempat Penampungan Air) para penduduk jika tanpa pemberitahuan masyarakat, larvasidasi-pun juga dilakukan dengan sepengetahuan dan atau ijin dari masyarakat yang bersangkutan. Dan hasil yang di dapat adalah jika pelaksanaan Larvasidasi tersebut atas inisiatif pihak Puskesmas maka masyarakat menyambut dengan baik kehadiran kader Puskesmas di rumah mereka, tetapi di satu sisi, dikarenakan masyarakat di saat mendapati penderita DBD hampir tidak pernah melaporkan hal tersebut ke Puskesmas, maka masyarakat juga hampir tidak pernah meminta pelaksanaan Larvasidasi ke daerah mereka.

b. Fogging Fokus, fogging fokus juga tidak mungkin terlaksana tanpa ijin dan dukungan dari masyarakat seperti mempersilahkan kader Puskesmas untuk melakukan fogging, dan lain sebagainya. Hasil yang di dapat menunjukkan masyarakat sangat support selama pelaksanaan fogging tersebut

berlangsung, mereka langsung mempersilahkan para kader pelaksana fogging untuk melakukan tugasnya dan mereka juga langsung keluar rumah sehingga pelaksanaan fogging bisa berjalan dengan optimal.

c. Fogging Swadaya, sama halnya dengan fogging fokus, tetapi yang membedakan adalah fogging swadaya akan dillaksanakan jika ada permintaan dari masyarakat. Hasil yang di dapat adalah masyarakat sangat jarang sekali meminta kepada kader Puskesmas atau Jumantik untuk melakukan fogging swadaya. d. Penyuluhan, akan terlaksana jika masyarakat memberi dukungan

terhadap terlaksananya penyuluhan dan merespon dengan baik maksud atau tujuan dari penyuluhan tersebut. Hasil disini menunjukkan bahwa masyarakat sangat merespon dengan baik proses penyuluhan yang dilakukan, terbukti mereka telah merealisasikan PSN DBD (Pemberantasan Sarang Nyamuk) melalui 3M sebagai obyek dasar penyuluhan dengan cukup baik. 2. Jumantik

a. PJB (Pemeriksaan Jentik Berkala), fungsi ’masyarakat umum’ disini adalah mempersilahkan dan menyambut dengan baik kader Jumantik yang melakukan pemeriksaan jentik dan memberi tahukan kondisi TPA yang ada dirumahnya. Hasil selama observasi menunjukkan masyarakat sangat membantu pelaksanaan PJB dengan cukup baik. Mereka juga

memberitahukan bahwa mereka juga sudah berusaha merealisasikan 3M dengan semakismal mungkin.

Sementara itu, ada hal lain yang juga perlu diperhatikan, yaitu Jumantik yang anggotanya adalah para masyarakat, berdasar pada hasil observasi, selama ini mereka telah berpartisipasi dengan baik dalam membantu Puskesmas dalam melaksanakan fungsinya.

2. Partisipasi Masyarakat berupa Partisipasi Pendapat

Fokus kedua adalah bahwa partisipasi masyarakat yang berupa Partisipasi Pendapat dalam pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah (DBD) cukup beragam. Walaupun diantara mereka masih ada yang terkesan bersifat pasif, dalam artian kurang seberapa mengerti tentang apa yang harus dilakukan untuk kebersihan lingkungannya, tetapi sebagian besar masyarakat sangatlah kompak dalam memberikan masukan baik kepada Jumantik maupun kader – kader Kelurahan Kalijaten untuk lekas melakukan upaya inovatif dalam mengatasi keadaan sungai yang memprihatinkan. Hal tersebut tidak lain adalah karena kondisi sungai yang kotor pada akhirnya akan selalu mendatangkan wabah penyakit.

Berikut ini temuan hasil wawancara peneliti dengan pihak Kelurahan Kalijaten. Ibu Fatmawati sebagai informan, yang juga selaku Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Kalijaten menyatakan :

“Oo itu. Mereka bagus kok selama ini dalam memberikan masukan – masukan atau pendapatnya. Bahkan mereka sangat peduli terhadap kondisi kebersihan lingkungannya”. (wawancara tanggal 7 Oktober 2010)

Senada dengan hal itu, Ibu Ratna Galih sebagai Pegawai Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Kalijaten mengungkapkan :

“Iya bener mas, bahkan mereka sendiri yang langsung berbicara dengan kami dan menyarankan agar kinerja Jumantik lebih ditingkatkan. Mereka juga sudah paham bahwa pada umunya penyampaian saran itu melalui Jumantik”. (wawancara tanggal 7 Oktober 2010)

Setelah itu, peneliti kembali malakukan wawancara di rumah Bapak Karno selaku kader Jumantik. Mengenai hal ini beliau memberikan penjelasan :

“Masyarakat disini memang paling aktif mas kalo disuruh memberi pendapat atau bahkan mengkritik. Mereka selalu mendorong – dorong para kader untuk mengusahakan pembersihan sungai secara lebih inovatif lagi, seperti dibangun bendungan, juga meminta para kader untuk menyampaikan keluhan pada Desa tetangga yang membuang sampah sembarangan di sungai karena Desa sini akhirnya terkena imbasnya”. (wawancara tanggal 8 Oktober 2010)

Kemudian peneliti kembali mendatangi rumah Mas Agung selaku warga RW 04 Kelurahan Kalijaten yang kebetulan waktu itu beliau sedang di rumah berdua dengan adik bungsunya karena anggota keluarganya yang lain sedang pergi. Beliau mempersilahkan peneliti mengunjungi rumahnya. Beliau lalu memberikan penejelasan :

“Ehmm, hampir semua warga setau saya berhak mas memberi saran kepada kader – kader, tapi biasanya ada perwakilan dari warga kami, tapi saya kurang tau ya perkembangannya bagaimana”. (wawancara tanggal 8 Oktober 2010)

Setelah itu peneliti meminta izin kepada Mas Agung ke kamar mandi dan melakukan pengamatan tanpa sepengetahuan pemilik rumah.

Hasil pengaamatan, peneliti mendapatkan temuan bahwa kamar mandi pemilik rumah bersih dan kecil. Kemudian peneliti mengaduk – aduk bak mandi dan ternyata bak mandi tidak kotor.

Kemudian peneliti juga melakukan wawancara dengan informan yang lain, yakni Bapak Inung sebagai warga RT 07 RW 03. Beliau memberikan keterangan :

“Nah, kebetulan sampean ngomong masalah ini sama saya mas. Karena emang saya yang paling aktif memberi saran dan ngritik kader – kader Kelurahan, akhirnya masyarakat yang lain ngikut. Kalo urusan kebersihan lingkungan, khusunya sungai, warga sendiri itu sudah kompak meminta perbaikan kondisi dan perawatan sungai, seperti pengentasan lumpur dengan mesin katrol, dan lain – lain, tapi sampe sekarang ya belum ada respon”. (wawancara tanggal 8 Oktober 2010)

Gambar 7

Keadaan sungai di Kelurahan Kalijaten Kecamatan Taman

Kemudian, Mas Agung sebagai warga RW 04 kembali menambahkan:

“Biasanya saran itu berupa permintaan dari warga kepada para kader untuk lebih memberikan sumbangsih pada kebersihan sungai mas. Tapi ndak tau kok kayaknya sampe sekarang gak ditanggapi. Sungai ini memang fatal lo, padahal ini dulu tinggi dan lebar, pada akhirnya rendah dan mengecil. Salah satu faktor

setau saya memang ada yang pihak mengubur bagian tepi sungai untuk kepentingan pribadi, seperti untuk membangun teras rumah”. (wawancara tanggal 8 Oktober 2010.

Gambar 8

Rapat Warga mengenai perbaikan sungai di Kelurahan Kalijaten

Lalu peneliti mendapatkan hasil observasi tentang keadaan jalan di Kelurahan Kalijaten. Pada dasarnya memang tampak bahwa kondisi jalan cukup tertata dengan rapi dan bersih, tetapi tidak dapat dipungkiri yang paling mencolok adalah kondisi sungai yang sangat memprihatinkan.

Dari hasil temuan tentang fokus kedua, dapat dinyatakan bahwa sebagian warga memang aktif dan peduli terhadap kebersihan lingkungaanya, sehingga hal itulah yang mendasari mereka untuk memberikan saran – saran kepada para kader Kelurahan secara terus menerus untuk ikut memberikan sumbangsih berupa penydiaan sarana pembersihan dan peraawatan sungai, tetapi mereka belum ada respon sama sekali.

Sehingga peneliti kembali mendatangi Kantor Kalurahan Kalijaten untuk melakukan kroscek tentang kebenaran pendapat masyarakat yang meminta kader Kelurahan untuk melakukan upaya inovatif terhadap perbaikan keadaan sungai tersebut.

Lalu Ibu Fatmawati sebagai informan, yang juga sebagai Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Kalijaten memberikan penjelasan :

“Ehmm, masalah itu, emang sih, warga disini emang selalu mempertanyakan soal itu, tapi pihakKelurahan sudah mengupayakan kok, kita udah mintain dana ke Pemkab. Kita pernah rapat bareng di Kantor Kecamatan, disitu ada kami kader Kelurahan, pihak Kecamatan, dan juga Pememerintah Dati II Sidoarjo, hampir seluruh Ketua RT di Kalijaten juga hadir, perwakilan warga juga ada. Kan rapat waktu itu tujuannya emang membahas masalah pengerukan sungai Kalijaten, dan usaha – usaha lain yang ada sangkut pautnya. Makanya jujur aja, saya heran kalo sampe ada warga atau bahkan Ketua RW atau RT yang nggak tau”. (wawancara tanggal 13 Oktober 2010) Dengan hasil observasi yang penulis dapatkan, terdapat ambiguitas antara warga dengan para kader Kelurahan karena saran atau pendapat yang diajukan oleh warga kepada kader Kelurahan menurut sebagian warga tidak direspon, tetapi dari sisi kader Kelurahan, semua pendapat sudah disampaiakan kepada Pemerintah Dati II Sidoarjo yang juga diketahui oleh perwakilan dari masyarakat.

Di sisi lain, partisipasi pendapat ’masyarakat umum’ terhadap tugas Puskesmas dan Jumantik menunjukkan masyarakat lebih sering meminta supaya kader Puskesmas lebih teratur dalam pelaksanaan fogging, dan menyarankan pada Jumantik supaya melaksanakan PJB (Pemeriksaan Jentik Berkala) secara teratur. Adapun mengenai

Larvasidasi dan Penyuluhan mereka tidak pernah memberi saran atau pendapat.

Jumantik sendiri sebagai ’masyarakat khusus’ tidak pernah memberikan saran apapun dikarenakan mereka lebih berfungsi sebagai ’tangan kanan’ Puskesmas sehingga tidak bisa melakukan apapun terhadap Puskesmas.

3. Partisipasi Masyarakat berupa Partisipasi berdasarkan Kesadaran, Takut atau Terpaksa, dan Ikut - Ikutan.

Fokus ketiga dalam penelitian adalah Partisipasi Masyarakat berupa Partisipasi yang didasarkan pada Kesadaran adalah sebagai berikut.

Temuan untuk fokus ketiga adalah partisipasi masyarakat yang didasarkan kesadaran adalah cukup beragam, ada yang didasari oleh perasaan ingin hidup sehat, ada yang memang benar – benar melakukan partisipasi dengan kesadaran tinggi, dan ada pula yang hanya sekedar ikut – ikutan, bahkan ada yang merasa terpaksa karena takut terkena penyakit.

Hasil wawancara dengan Informan yaitu Bapak Iswadi selaku Sekretaris Camat Kecamatan Taman, baliau menjelaskan sebagai berikut :

“Waduh, kalo secara detailnya saya kurang tau mas, karena program ini kan mutlak pelaksananya adalah Puskesmas. Tapi mungkin kalo secara global, setau saya memang menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup sehat itu susah, yang pada akhirnya penyakit semacam DBD itu gampang menyebar”.

Kemudian Bapak Samsul yang juga sebagai Informan, yaitu Kepala Puskesmas Taman menambahkan :

“Memang mas ya, selama ini faktor terbesar penyebab wabah – wabah penyakit itu gampang menyebar adalah karena kesadaran masyarakat dalam berpola hidup sehat. Itu memang susah. Sekalipun kita dari Puskesmas sudah memberi bantuan apapun, baik upaya – upaya promotif maupun upaya – upaya preventif, tetep aja nggak ngefek selama pola hidup masyrakatnya kayak gitu”.

Senada dengan Bapak Samsul, Mas Imam Soleh sebagai Pengelola Program Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Puskesmas Taman mengatakan :

“Iya bener, selama ini kami memang sudah mengupayakan perlawanan penyakit dan perlindungan kepada masyarakat dari wabah – wabah penyakit semacam DBD, tapi tetep, ujung – ujungnya juga kembali pada kesadaran masyarakat, Walaupun selama ini pemantauan saya tentang Jumantik memang bagus.” Lain dari pada itu, Ibu Fatmawati sebagai Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat menjelaskan :

“Kesadaran mereka rata – rata sudah bagus kok. Itu bisa terbukti saat pelasksanaan kerja bakti, mereka selalu semangat”.

Gambar 9

Partisipasi Masyarakat berdasarkan kesadaran Di Kecamatan Taman

Hasil disini bisa menghasilkan suatu ambiguitas mengenai fokus yang ketiga, dikarenakan jawaban yang diberikan oleh Pihak Puskesmas Taman sebagai pelaksana dan pemantau Program dengan Pihak Kelurahan Kalijaten sangatah berbeda. Pihak Puskesmas mengatakan bahwa masyarakat selalu sulit untuk meningkatkan kesadaran dalam berpola hidup sehat, yaitu dengan menjaga dan merawat kebersihan lingkungannya, sedangkan pihak Kelurahan Kalijaten mengatakan bahwa kesadaran masyarakat dalam menjaga dan merawat lingkungannya sudah sangat bagus.

Kemudian peneliti melanjutkan wawancara dengan beberapa masyarakat. Salah satunya adalah dengan Bapak Lamidi, ketua RW 03, beliau menerangkan :

“Kesadaran masyarakat pada umumnya emang sudah bagus mas, kita lo tiap bulannya kerja bakti. Itu kan juga karena kita semua takut terkena apa – apa kalo nggak bersih – bersih, masnya kan tau sendiri keadaan sungainya gimana.”.

Setelah itu peneliti meminta izin kepada Bapak Lamidi ke kamar mandi dan melakukan pengamatan tanpa sepengetahuan pemilik rumah, hasil pengaamatan yang di dapat yaitu peneliti mendapatkan temuan bahwa kamar mandi pemilik rumah cukup bersih. Kemudian peneliti mengaduk – aduk bak mandi dan ternyata bak mandi tidak kotor.

Selanjutnya peneliti mengajukan pertanyaan yang sama dengan beberapa informan yaitu para masyarakat yang lain, salah satunya adalah Bapak Inung, warga RT 07 RW 01, beliau memberikan argumennya sebagai berikut :

“Sebetulnya orang sini sudah paham kok tentang apa yang harus mereka lakukan terhadap lingkungannya, termasuk untuk menjaga kebersihan, -mereka pasti ingin hidup sehat. Tapi semua juga sudah tau, kalo sungai – sungai ini tidak direken, ya mas pasti tau sendiri resikonya bagaimana. Akhirnya nggak salah juga kalo pada akhirnya ada orang yang jadi malas mengurus kebersihan”.

Seperti sebelumnya, peneliti meminta izin kepada Bapak Inung ke kamar mandi dan melakukan pengamatan tanpa sepengetahuan pemilik rumah, hasil pengaamatan yang di dapat yaitu peneliti mendapatkan temuan bahwa kamar mandi pemilik rumah serta kondisi kebersihan rumah secara keseluruhan cukup baik.

Lain halnya dengan Mbak Nita, tetangga Bapak Inung, beliau memberikan keterangan :

“Halah kalo saya ikut aja mas. Kalo yang lain bersih – bersih atau kerja bakti, ya saya sama Bapak dan Mak ya ikut, tapi kalo nggak ada ya nggak ikut”.

Dokumen terkait